HASIL DAN PEMBAHASAN
3. Penetapan parameter akurasi dan presisi
y = 0.1307x + 0.0015 r = 0.99815 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 0 2 4 6 8 A bsorbansi Konsentrasi (µg/mL)
Kurva Baku Kurkumin dalam Medium Disolusi
y = 0.1591x - 0.006 r = 0.99863 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 0 2 4 6 A bsorbansi Konsentrasi (µg/mL)
8
Akurasi merupakan ukuran ketelitian suatu metode analisis atau kedekatan antara nilai yang didapat dengan nilai sebenarnya, yang biasanya diukur sebagai perolehan kembali analit dari metode spiking. Sedangkan presisi merupakan ukuran keterulangan metode analisis, biasanya ditunjukkan sebagai simpangan baku relatif dari sampel. (Gandjar and Rohman, 2012). Baik akurasi maupun presisi memiliki tolak ukur pengukuran setidaknya 9 kali penetapan kadar dengan 3 tingkat konsentrasi (ICH, 1996).
Hasil perhitungan yang tertera pada tabel I menunjukkan bahwa nilai perolehan kembali berkisar antara 98,84 % hingga 108,26 %. Nilai perolehan kembali ini masuk dalam rentang yang dipersyaratkan oleh Association of Official Analytical Chemist (AOAC) yaitu sebesar 80-110%. Dengan demikian, metode yang dilakukan sudah akurat. Tingkat presisi dilihat dari nilai koefisien variansi (CV). Nilai CV yang didapatkan untuk ketiga tingkatan konsentrasi ialah sebesar 0,83 % hingga 2,42 %. Nilai ini memenuhi persyaratan yang ditetapkan sebesar 11% (AOAC, 2016). Dari hasil perhitungan parameter linearitas, akurasi, dan presisi, metode yang dilakukan sudah valid sehingga dapat digunakan dalam penelitian ini.
Tabel I. Perhitungan Parameter Akurasi dan Presisi (n=3)
Keterangan Konsentrasi teoritis (µg/ml) Konsentrasi perhitungan (µg/ml) Perolehan kembali (%) CV (%) Rendah Rep 1 0,538 0,532 98,84 0,83 Rep II 0,538 0,539 100,26 Rep III 0,538 0,532 98,84 Sedang Rep 1 3,229 3,294 102,01 1,83 Rep II 3,229 3,347 103,67 Rep III 3,229 3,416 105,80 Tinggi Rep 1 5,382 5,581 103,71 2,42 Rep II 5,382 5,819 108,11 Rep III 5,382 5,826 108,26
9
Uji Penentuan Kadar Kurkumin dalam Sampel
Uji penentuan kadar kurkumin dalam sampel (uji drug load) bertujuan untuk mengetahui kandungan kurkumin sebenarnya dari sampel produk. Dari ketiga sampel, sampel B telah mencantumkan kandungan kurkumin pada setiap kapsulnya, yaitu 20 persen (100 mg kurkumin tiap 500 mg). Sementara sampel A dan C belum mencantumkan kandungan kurkomin pada tiap kapsul. Hasil uji kadar kurkumin yang telah dilakukan tercantum pada tabel II.
Tabel II. Hasil Uji Drug Load pada Sampel Uji(x±SD)
Uji n Sampel A (%) Sampel B (%) Sampel C (%)
Drug Load 6 unit 2,72±0,37 12,83±1,53 3,16±0,07
Hasil menunjukkan bahwa rata-rata kadar kurkumin pada sampel A,B,C secara berurutan ialah 2,72 persen; 12,83 persen; dan 3,16 persen, dengan nilai simpangan baku kurang dari 2 persen. Kandungan kurkumin sampel B yang diperoleh sekitar 7 persen lebih kecil dari yang tercantum pada label. Perbedaan antara klaim pada label dengan saat pengujian menunjukkan adanya kehilangan kurkumin selama proses produksi hingga distribusi kepada konsumen, maupun kandungan kurkumin yang bervariasi pada ekstrak kunyit.
Uji Keseragaman Sediaan
Uji keseragaman sediaan bertujuan untuk melihat konsistensi bobot atau kandungan zat aktif pada tiap unit sediaan. Unit sediaan yang baik hendaknya memiliki kandungan zat aktif yang mendekati kadar yang tercantum pada etiket dan memiliki rentang variasi yang sempit (Kementerian Kesehatan RI, 2013). Oleh karena ketiga produk memiliki kandungan kurkumin <25 % atau <25 mg, maka dalam Farmakope Indonesia edisi V uji keseragaman kandungan merupakan uji yang dipersyaratkan untuk melihat keseragaman sediaan. Dalam penelitian ini, uji keseragaman kandungan dilakukan pada 10 unit sediaan. Hasil uji dapat dilihat pada tabel II
10
Dari ketiga sampel, hanya sampel B saja yang dapat dihitung nilai penerimaannya oleh karena mencantumkan kandungan kurkumin pada etiket. Nilai Penerimaan dihitung sesuai dengan ketentuan yang tercantum pada Farmakope Indonesia Edisi V (2013). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai penerimaan sampel B ialah 33,884. Nilai tersebut melebihi ketentuan maksimum nilai penerimaan pada tahap pertama (NP=15).
Uji Disolusi
Tujuan dari uji disolusi ialah untuk mengetahui jumlah zat aktif yang terlarut dalam medium pada rentang waktu tertentu. Uji disolusi paska produksi mampu memberikan jaminan absorbsi obat, terutama untuk obat dalam kategori BCS kelas II secara in vivo (Fudholi, 2013). Dalam penelitian ini, uji dilakukan pada ketiga produk dengan menggunakan alat uji disolusi tipe dayung (USP apparatus II). Medium yang digunakan ialah larutan penyangga fosfat pH 6,0 dengan penambahan 0,5% SLS. Wang et al. (1997) melakukan studi terkait pengaruh nilai derajat keasaman (pH) terhadap stabilitas kurkumin, dan didapati bahwa kurkumin stabil dalam kondisi pH 6,0. Pemilihan medium didasarkan pada stabilitas dan kelarutan kurkumin. Untuk obat dengan kelarutan dalam air yang rendah, penambahan surfaktan diperkenankan untuk meningkatkan kelarutannya (British Pharmacopoeia Commission Office, 2011).
Uji disolusi dilakukan hingga menit ke 120, disertai dengan pengambilan cuplikan pada waktu yang telah ditentukan. Gambar 2 menunjukkan bahwa sampel C memiliki profil disolusi yang paling baik, kemudian diikuti dengan sampel A dan sampel B. Dengan nilai Q60 yang dipersyaratkan sebesar 75%, semua sampel belum lulus uji disolusi tahap S1 sesuai persyaratan pada Farmakope Indonesia edisi V.
Interpretasi uji disolusi lain yang dapat dilakukan ialah dengan menghitung Dissolution Efficiency (DE), yang merupakan perbandingan luas daerah yang berada di bawah kurva dengan luas segiempat seratus persen zat aktif pada saat tertentu. Penggunaan DE memberikan banyak keuntungan. Selain mampu membandingkan hasil uji disolusi antar sampel, DE mampu
11
menggambarkan hasil yang identik dengan penggambaran data secara in vivo. Jika ingin membandingkan hasil disolusi antar sampel, maka digunakan nilai DE pada waktu yang sama (Fudholi, 2013). Pada penelitian ini, digunakan nilai DE pada menit ke 120 (DE120). Perhitungan nilai DE120 dapat dilihat pada gambar 3. Kemudian uji statistik dilakukan untuk mengetahui signifikansi perbedaan nilai DE dari ketiga sampel. Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (p value < 0,05).
Nilai Q60 yang belum memenuhi ketentuan kompendial serta perbedaan nilai DE120 yang signifikan dari ketiga sampel diduga erat kaitannya dengan waktu hancur dari kapsul. Uji waktu hancur lalu dilakukan pada 6 unit sediaan dalam medium disolusi. Hasil uji waktu hancur pada masing-masing sampel, seperti yang tertera pada gambar 4 menunjukkan perbedaan yang signifikan melalui uji Kruskall-Wallis (p value < 0,05). Ada pola urutan yang sama antara sampel yang paling cepat hancur dalam medium dengan sampel dengan nilai DE120 yang paling besar. Perbedaan waktu hancur turut memberikan variasi yang besar dari pengujian disolusi. Perbedaan ini diduga disebabkan karena perbedaan tipe cangkang kapsul yang digunakan. Pengujian waktu hancur pada kapsul kosong yang digunakan untuk ketiga sampel sediaan juga dilakukan pada 6 cangkang kapsul untuk memastikan variasi nilai Q60 serta DE120. Hasil pengujian menunjukkan variasi waktu hancur yang besar seperti pada gambar 5, yang berkorelasi linear dengan waktu hancur sediaan.
-20.00 0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 0 20 40 60 80 100 120 Q ( %) Waktu (menit)
Kurva rata-rata persen terdisolusi/Q (%) vs waktu (menit)
12
Gambar 2. Grafik persentase kurkumin terdisolusi sampel terhadap waktu (n=6)
Gambar 3. Grafik rata-rata nilai DE120 pada tiap sampel (n=6)
Gambar 4. Grafik rata-rata waktu hancur pada tiap sampel (n=6)
55.44 11.23 83.25 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 A B C DE ( %) Sampel
Grafik Rata-Rata Nilai DE120 pada Tiap Sampel
7.4 13.2 3.1 0.0 2.0 4.0 6.0 8.0 10.0 12.0 14.0 16.0 18.0 20.0 A B C W ak tu ( Me n it) Sampel
13
Gambar 5. Grafik rata-rata waktu hancur pada kapsul kosong (n=6)
El-Malah et al (2007) dalam penelitiannya membandingkan dua tipe cangkang kapsul keras yang saat ini paling sering digunakan, yaitu kapsul gelatin dan kapsul HPMC dan menemukan bahwa dalam dapar fosfat kapsul HPMC memiliki waktu hancur yang lebih lama dibandingkan dengan kapsul gelatin. Hal ini dikarenakan terjadinya peristiwa salting out dari polimer HPMC oleh ion anorganik dalam medium, salah satunya ialah ion fosfat.
Selain karena adanya perbedaan waktu hancur, perbedaan nilai DE120
dapat disebabkan adanya perbedaan drug load dari ketiga sampel uji. Dalam penelitian ini, hasil uji drug load hampir serupa dengan DE120. Dalam penelitian, sampel A yang merupakan sampel dengan drug load terkecil, justru mempunyai nilai DE120 yang lebih kecil daripada sampel C. Dalam pengujian statistik dengan uji Kruskall-Wallis, nilai drug load antara sampel A dan sampel C tidak berbeda signifikan (p value >0,05). Semakin kecil nilai drug load menunjukkan bahwa semakin banyak drug carrier yang melingkupi partikel obat. Dengan drug carrier
0.0 2.0 4.0 6.0 8.0 10.0 12.0 14.0 16.0 18.0 A B C W ak tu ( Me n it) Sampel
14
hidrofilik yang dominan, akan muncul efek pelarutan pada lapisan difusi dan mendorong terjadinya pembasahan partikel obat yang lebih kuat sehingga akan turut meningkatkan laju disolusi (Chiou and Riegelman, 1971). Penelitian Srinarong et al. (2010) mendukung hal tersebut dimana terjadi tren penurunan kecepatan disolusi seiring peningkatan drug load dari obat yang termasuk dalam golongan BCS kelas II. Faktor lain yang berpengaruh terhadap disolusi bisa berasal dari kondisi penyimpanan sediaan selama di pasaran, yang menjadi variabel tidak terkendali dalam penelitian ini.
Tidak dicantumkannya drug carrier yang digunakan dalam formulasi pada ketiga sampel merupakan kelemahan tersendiri untuk memastikan terjadinya perbedaan lebih lanjut akibat zat pembawa. Melihat bahwa variasi profil disolusi dari kapsul ekstrak kunyit yang beredar di pasaran sangatlah besar, maka menjadi suatu keharusan bagi industri obat tradisional terkait untuk melakukan standarisasi dari bahan baku sampai sediaan untuk menjamin kualitas produk, serta bagi pemerintah untuk membuat monograf tentang kurkumin dan kapsul ekstrak kunyit sebagai dukungan untuk memajukan obat tradisional Indonesia.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan profil disolusi kurkumin serta waktu hancur yang signifikan dari produk kapsul ekstrak kunyit yang beredar di pasaran (p value <0,05). Interpretasi dengan nilai Q memperlihatkan bahwa beberapa produk masih belum mampu mengikuti ketentuan dalam Farmakope Indonesia edisi V. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas produk tersebut masih membutuhkan banyak perbaikan agar sesuai dengan aturan pada kompendial. Penelitian ini menunjukkan adanya suatu urgensi dilakukannya standarisasi produk kapsul ekstrak kunyit yang beredar di pasaran maupun pembuatan monograf tentang kurkumin dan kapsul ekstrak kunyit di Indonesia.
15
Untuk penelitian selanjutnya, pengkajian kualitas terhadap produk kapsul ekstrak kunyit lainnya yang beredar di pasaran akan memberikan gambaran lebih luas tentang kualitas produk kapsul ekstrak kunyit di Indonesia. Selain itu, dapat dilakukan pengkajian terhadap bentuk sediaan lain seperti tablet dan sirup ekstrak kunyit.