• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

3. Penetapan lama pemejanan infusa daun ceplikan

Data serum ALT dianalisis dengan uji Kolmogorov Smirnov untuk melihat distribusi data tiap kelompok. Jika didapat distribusi data yang normal maka analisis dilanjutkan dengan analisis pola searah (One Way ANOVA) dengan taraf kepercayaan 95% yang dilanjutkan dengan uji LSD untuk mengetahui perbedaan masing-masing kelompok. Tetapi jika didapat distribusi data yang tidak normal, analisis dilanjutkan dengan analisis non parametrik yaitu uji Kruskal Wallis untuk melihat perbedaan aktivitas serum ALT antar kelompok. Selanjutnya diuji dengan uji Mann Whitney untuk melihat perbedaan tiap kelompok.

4. Perlakuan hewan uji

Data serum ALT dianalisis dengan uji Kolmogorov Smirnov untuk melihat distribusi data tiap kelompok. Jika didapat distribusi data yang normal maka analisis dilanjutkan dengan analisis pola searah (One Way ANOVA) dengan taraf kepercayaan 95% yang dilanjutkan dengan uji LSD untuk mengetahui perbedaan masing-masing kelompok. Tetapi jika didapat distribusi data yang tidak normal, analisis dilanjutkan

dengan analisis non parametrik yaitu uji Kruskal Wallis untuk melihat perbedaan aktivitas serum ALT antar kelompok. Selanjutnya diuji dengan uji Mann Whitney untuk melihat perbedaan tiap kelompok.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Determinasi Tanaman Ceplikan (Ruellia tuberosa Linn.)

Hasil determinasi menunjukkan bahwa tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ruellia tuberosa Linn. Hasilnya adalah sebagai berikut:

1b – 2b – 3b – 4b – 6b – 7b – 9b – 10b – 11b – 12b – 13b – 14b – 16a (golongan 10) 239b – 243b – 244b – 248b – 249b – 250b – 266b – 267b – 273b – 276b – 278b – 279b – 282b – 283b – 284b – 285b - ...115. Achantaceae 1a – 2b – 7a – 8b – 10a – 11b – 13b – 14b – 16a - ...10. Ruellia 1... Ruellia tuberosa Linn. Surat pengesahan determinasi dapat dilihat pada lampiran 1. Foto tanaman ceplikan dapat dilihat pada lampiran 2.

B. Uji Pendahuluan

1. Penetapan dosis hepatotoksik parasetamol

Penetapan dosis hepatotoksik parasetamol ini mempunyai tujuan yaitu untuk mengetahui besar kisaran dosis parasetamol yang dapat menyebabkan derajat kerusakan hati yang tertinggi dilihat dari peningkatan aktivitas serum ALT. Peringkat dosis yang digunakan dalam penetapan dosis hepatotoksik ini adalah 225; 230; 237,5; dan 250 mg/kgBB. Peringkat dosis ini ditentukan berdasarkan dosis hepatotoksik parasetamol adalah 200 – 300 mg/kgBB (Donatus, 1994). Data aktivitas serum ALT akibat pemberian parasetamol dapat dilihat pada tabel II.

Tabel II. Data aktivitas serum ALT akibat pemberian parasetamol dosis 225; 230; 237,5; 250 mg/kgBB pada jam ke 24

Nilai Aktivitas Serum ALT mencit

ke-Dosis Hepatotoksik Parasetamol

1 2 3

Dosis 225 mg/kgBB 250 u/l 110 u/l 110 u/l Dosis 230 mg/kgBB 180 u/l 650 u/l 440 u/l Dosis 237,5 mg/kgBB 4670 u/l 5690 u/l 4150 u/l Dosis 250 mg/kgBB 14030 u/l 10100 u/l Mati

Berdasarkan hasil yang didapatkan, tampak bahwa peningkatan aktivitas serum ALT dosis 250 mg/kgBB paling tinggi, namun pada dosis tersebut juga terjadi kematian hewan uji sehingga dosis ini tidak disertakan pada analisis selanjutnya. Data yang didapatkan diuji dengan uji Kolmogorov Smirnov untuk melihat distribusi data pada tiap kelompok. Dan didapatkan distribusi data yang normal sehingga analisis dilanjutkan dengan uji One Way ANOVA tapi ternyata varian data tidak homogen, padahal salah satu syarat untuk analisis dengan uji One Way ANOVA adalah varian data harus homogen. Oleh sebab itu, analisis dilanjutkan dengan uji Kruskal Wallis untuk melihat perbedaan pada semua kelompok dan kemudian untuk melihat perbedaan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya dilakukan analisis dengan uji Mann Whitney. Rangkuman hasil analisis statistik dapat dilihat pada tabel III dan analisis statistiknya dapat dilihat pada lampiran 12.

Tabel III. Perbedaan nilai aktivitas serum ALT setelah pemberian parasetamol dosis 225; 230; dan 237,5 mg/kgBB pada jam ke 24 berdasarkan uji Mann

Whitney

% perbedaan terhadap kelompok Kel Dosis Hepatotoksik Parasetamol Nilai rata-rata aktivitas serum ALT ± SE (u/l) 1 2 3 1 225 mg/kgBB 156,7 ± 46,7 - (-) 63,0 (bt) (-) 90,8 (b) 2 230 mg/kgBB 423,3 ± 135,9 (+) 170,1 (bt) - (-) 91,2 (b) 3 237,5 mg/kgBB 4836,7 ± 510,0 (+) 96,8 (b) (+) 1042,6 (b) -

Keterangan :

(b) = berbeda bermakna (p < 0,05) (bt) = berbeda tidak bermakna (p > 0,05) (-) = mengalami penurunan (+) = mengalami peningkatan 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 aktivitas serum ALT (U/l) 225 230 237,5 dosis (mg/kgBB)

Gambar 6. Diagram Batang Aktivitas Serum ALT setelah Pemberian Parasetamol dosis 225; 230; dan 237,5 mg/kgBB pada jam ke 24

Dari tabel III dan gambar 6 tampak bahwa kelompok dosis 237,5 mg/kgBB mengalami peningkatan aktivitas serum ALT yang lebih tinggi (4836,7 ± 510,0 u/l) dibanding kelompok dosis 225 mg/kgBB (156,7 ± 46,7 u/l) maupun kelompok dosis 230 mg/kgBB (423,3 ± 135,9 u/l). Menurut Zimmerman (1978), jika hati mengalami nekrosis maka akan terjadi peningkatan aktivitas serum ALT mencapai 10 – 100 kali lipat. Berdasarkan tolok ukur tersebut, aktivitas serum ALT kelompok dosis 237,5 mg/kgBB mengalami peningkatan hingga lebih dari 30 kali lipat bila dibandingkan dengan kontrol negatif CMC-Na (153,3 ± 4,0 u/l) dan merupakan peningkatan aktivitas serum ALT yang paling tinggi dibandingkan mencit pada kelompok dosis yang lain. Disamping itu, berdasarkan tolok ukur tersebut juga bisa disimpulkan

bahwa tingkat kerusakan hati yang terjadi pada mencit yang telah diberi parasetamol dosis 237,5 mg/kgBB mengalami nekrosis hati. Dan berdasarkan analisis statistik, perbedaan kelompok parasetamol dosis 237,5 mg/kgBB terhadap kelompok parasetamol dosis 225 dan 230 mg/kgBB adalah berbeda bermakna. Oleh sebab itu, dosis hepatotoksin yang digunakan dalam penelitian ini adalah 237,5 mg/kgBB.

2. Penetapan waktu pencuplikan darah

Setelah didapatkan dosis hepatotoksik parasetamol yang akan digunakan dilakukan penetapan waktu pencuplikan darah. Penetapan waktu pencuplikan darah mempunyai tujuan yaitu untuk menentukan waktu pencuplikan darah yang menunjukkan selang waktu yang dibutuhkan untuk mencapai peningkatan aktivitas serum ALT yang paling optimal. Dosis hepatotoksin yang digunakan adalah 237,5 mg/kgBB. Waktu pencuplikan yang digunakan adalah 24 dan 48 jam. Data aktivitas serum yang didapatkan dapat dilihat pada tabel IV.

Tabel IV. Data aktivitas serum ALT setelah pemberian parasetamol dosis 237,5 mg/kgBB pada jam ke 24 dan 48

Nilai Aktivitas Serum ALT mencit ke- Jam ke-

1 2 3

24 4670 u/l 5690 u/l 4150 u/l

48 360 u/l 410 u/l 260 u/l

Data yang didapatkan diuji dengan uji Kolmogorov Smirnov untuk melihat distribusi data tiap kelompok. Didapatkan distribusi data yang normal, maka analisis dilanjutkan dengan uji T untuk mengetahui perbedaan kedua kelompok. Rangkuman hasil analisis statistik dapat dilihat pada tabel V dan analisis statistiknya dapat dilihat pada lampiran 13.

Tabel V. Perbedaan nilai aktivtas serum ALT setelah Pemberian Parasetamol dosis 237,5 mg/kgBB pada jam ke 24 dan 48 berdasarkan uji T

Keterangan :

(b) = berbeda bermakna (p < 0,05) (bt) = berbeda tidak bermakna (p > 0,05) (-) = mengalami penurunan (+) = mengalami peningkatan 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 24 48 jam ke-akt ivi tas ser u m A L T ( u /l )

Gambar 7. Grafik Aktivitas Serum ALT setelah Pemberian Parasetamol dosis 237,5 mg/kgBB pada jam ke 24 dan 48

Dari tabel V dan gambar 7, tampak bahwa peningkatan aktivitas serum ALT dengan waktu pencuplikan 24 jam (4836,7 ± 452,3 u/l) lebih tinggi dibanding aktivitas serum ALT dengan waktu pencuplikan 48 jam (343,3 ± 44,1 u/l) dan secara statistik perbedaan kedua kelompok adalah berbeda bermakna (p < 0,05). Jadi, waktu pencuplikan 24 maupun 48 jam menunjukkan bahwa waktu pencuplikan mempengaruhi peningkatan aktivitas serum ALT. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini digunakan waktu pencuplikan 24 jam.

% perbedaan terhadap kelompok

Kel Jam ke Nilai rata-rata aktivitas serum ALT ± SE (u/l) 1 2 1 24 4836,7 ± 452,3 - (+) 1308,9 (b) 2 48 343,3 ± 44,1 (-) 92,9 (b) -

3. Penetapan lama pemejanan infusa daun ceplikan

Penetapan lama pemejanan infusa daun ceplikan bertujuan untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan oleh infusa daun ceplikan untuk dapat menurunkan aktivitas serum ALT yang paling besar. Karena diharapkan dengan penurunan yang paling besar maka infusa akan mempunyai daya proteksi yang paling besar pula terhadap hati.

Adapun kelompok waktu yang digunakan untuk menentukan lama waktu pemejanan infusa daun ceplikan adalah 2, 4, 6, dan 8 hari, dan dosis infusa yang digunakan adalah 2222,2 mg/kgBB. Data aktivitas serum ALT setelah pemejanan infusa daun ceplikan selama 2, 4, 6, dan 8 hari dapat dilihat pada tabel VI.

Tabel VI. Data Aktivitas Serum ALT Setelah Pemejanan Infusa Daun Ceplikan selama 2, 4, 6, dan 8 hari

Nilai Aktivitas Serum ALT mencit ke-Lama pemejanan

1 2 3

2 hari 12250 U/L 10570 U/L 11650 U/L

4 hari 6990 U/L 8410 U/L 12310 U/L

6 hari 2540 U/L 2280 U/L 2440 U/L

8 hari 3490 U/L 4670 U/L 2720 U/L

Data yang didapatkan diuji dengan uji Kolmogorov Smirnov untuk melihat distribusi data pada tiap kelompok. Dan didapatkan distribusi data yang normal sehingga analisis dilanjutkan dengan uji One Way ANOVA tapi ternyata varian data tidak homogen, padahal salah satu syarat untuk analisis dengan uji One Way ANOVA adalah varian data harus homogen. Oleh sebab itu, analisis dilanjutkan dengan uji Kruskal Wallis untuk melihat perbedaan pada semua kelompok dan kemudian untuk melihat perbedaan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya dilakukan analisis

dengan uji Mann Whitney. Rangkuman hasil penurunan aktivitas serum ALT setelah pemejanan infusa daun ceplikan selama 2, 4, 6, dan 8 hari dapat dilihat pada tabel VII dan analisis statistiknya dapat dilihat pada lampiran 14.

Tabel VII. Persen perbedaan nilai aktivitas serum ALT mencit terinduksi parasetamol dengan praperlakuan infusa daun ceplikan selama 2, 4, 6, dan 8

hari berdasarkan uji Mann Whitbney

% perbedaan terhadap kelompok Kel Lama pemejanan infusa Nilai rata-rata aktivitas serum ALT ± SE (u/l) I II III IV I 2 hari 11490 ± 491,5 - (+) 24,4 (bt) (+) 374,8 (b) (+) 216,8 (b) II 4 hari 9236,7 ± 1590,4 (-) 19,6 (bt) - (+) 281,6 (b) (+) 154,7 (b) III 6 hari 2420 ± 75,7 (-) 78,9 (b) (-) 73,8 (b) - (-) 33,3 (b) IV 8 hari 3626,7 ± 567,0 (-) 68,4 (b) (-) 60,7 (b) (+) 49,7 (b) - Keterangan : (b) = berbeda bermakna (p < 0,05) (bt) = berbeda tidak bermakna (p > 0,05) (-) = mengalami penurunan

(+) = mengalami peningkatan

Tabel VIII. Persen proteksi setelah praperlakuan infusa daun ceplikan dosis 2222,2 mg/kgBB selama 2, 4, 6, dan 8 hari pada mencit jantan terinduksi

parasetamol Kelompok

(hari)

n Nilai rata-rata aktivitas serum ALT ± SE (U/L)

% Efek Proteksi

2 3 11490 ± 491,5 (-) 137,7

4 3 9236,7 ± 1590,4 (-) 91,0

6 3 2420 ± 75,7 (+) 50,0

8 3 3626,7 ± 567,0 (+) 25,0

Berdasarkan data yang didapatkan (tabel VIII), pada lama pemejanan infusa selama 2 hari (11490 ± 491,5 u/l) dan 4 hari (9236,7 ± 1590,4 u/l) tampak terjadi peningkatan aktivitas serum ALT bila dibandingkan dengan kontrol hepatotoksin (4836,7 ± 510,0 u/l). Penyebab terjadinya peningkatan serum ALT ini kemungkinan

pada pemakaian jangka pendek infusa daun ceplikan belum dapat memberikan proteksi terhadap kerusakan hati akibat pemberian parasetamol. Pada lama pemejanan infusa selama 6 hari (2420 ± 75,7 u/l) dan 8 hari (3626,7 ± 567,0 u/l) terjadi penurunan aktivitas serum ALT bila dibandingkan dengan kontrol hepatotoksin (4836,7 ± 510,0 u/l), berarti pada pemakaian selama 6 dan 8 hari infusa daun ceplikan sudah dapat memberikan proteksi terhadap kerusakan hati akibat pemberian parasetamol.

Pada tabel VIII tampak bahwa pemejanan infusa selama 6 hari dapat menurunkan aktivitas serum ALT hingga 50% dan pemejanan infusa selama 8 hari dapat menurunkan aktivitas serum ALT hingga 25%. Dan berdasarkan analisis statistik juga terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok pemejanan infusa selama 6 hari dan 8 hari, jadi lama pemejanan memberikan pengaruh yang berarti pada penurunan aktivitas serum ALT. Lama waktu pemejanan infusa daun ceplikan untuk dapat memberikan proteksi paling besar diantara kelompok hari pemejanan yang lain terhadap kerusakan hati akibat pemberian parasetamol dengan maksimal adalah 6 hari. Grafik perbedaan lama pemejanan infusa terhadap kemampuan menurunkan aktivitas serum ALT dapat dilihat pada gambar 8.

-150 -100 -50 0 50 100

2 hari 4 hari 6 hari 8 hari

lama pemejanan infusa

%

p

ro

te

ksi

Gambar 8. Grafik Aktivitas Serum ALT setelah Pemejanan Infusa Daun Ceplikan Selama 2, 4, 6, dan 8 hari

Dokumen terkait