8 STRATEGI KONSERVASI ROTAN JERNANG
2. Pengadaan benih
Benih rotan jernang idealnya berasal dari rotan jernang induk pada hutan alam dan berasal dari buah yang masak secara alami. Ciri-ciri buah yang masak secara alami, yakni: buah pada tandan telah ada yang jatuh di tanah (buah berondol) atau buah telah dimakan satwaliar (monyet, tupai atau kalong), diketahui dari sisa kulit buah yang berserakan di bawah batang rotan jernang. Buah yang telah dipanen di simpan dalam karung goni. Agar kulit dan daging buah mudah dibersihkan, diberi perlakuan: diperam 5-7 hari, direndam dalam bak dengan pengantian air rendaman setiap hari selama 7 hari. Setelah daging buah lunak, kulit dan daging buah dibersihkan. Selanjutnya biji rotan jernang ditebar dalam bedeng benih dengan media kompos organik dan sekam padi dengan perbandingan 2:1. Setelah 30-45 hari biji rotan jernang akan berkecambah. Kecambah rotan jernang kemudian direndam pada air tanah yang jernih selama 2X24 jam lalu ditiriskan.
3. Persemaian
Kecambah yang telah memiliki tunas dan akar, dapat dipindahkan ke polybag yang berisi media tanah dan kompos organik dengan perbandingan 1:1. Polybag yang telah ditanami kecambah rotan jernang dipindah ke bedeng kecambah. Agar penguapan pada kecambah tidak terlalu tinggi maka daun kecambah dipotong 1/3 bagian, untuk menjaga kelembaban media dan untuk memenuhi kebutuhan air, dilakukan penyiraman minimal 2-3 hari sekali, untuk memenuhi kebutuhan unsur hara dilakukan penyemprotan pupuk cair dan untuk mencegahan hama & penyakit, kecambah disemprot dengan fungisida dan insektisida. Bibit rotan jernang siap untuk ditanam di lokasi penanaman ketika telah memiliki tinggi 30-40 cm atau telah berumur 6-9 bulan.
4. Penanaman
Satu bulan sebelum penanaman bibit dipindahkan ke lokasi tanam agar bibit beradaptasi dengan lingkungan. Penanaman bibit rotan jernang sebaiknya dilakukan pada musim hujan. Saat penanaman polybag dilepaskan terlebih dahulu tetapi media tanahnya tidak hancur.
5. Pemeliharaan
Agar tingkat hidup tanaman rotan jernang di lokasi tanam tetap tinggi maka bibit rotan jernang sebaiknya dilindungi dengan karung plastik untuk menghidari gangguan babi hutan (Sus barbatus). Setelah berumur 6-7 tahun diharapkan rotan jernang akan berbuah.
Adapun perkiraan tambahan pendapatan dari usahatani budidaya rotan jernang adalah sebesar Rp. 56.250.000/ha/tahun. Perkiraan ini berdasarkan hasil analisis usahatani budidaya rotan jernang yang dilakukan oleh Weinarifin (2008). Budidaya rotan jernang dengan teknik monokultur, harga jernang Rp. 800.000. Satu hektar lahan ditanam 500 bibit tanaman rotang jernang dengan jarak tanam 4 m x 5 m, dengan asumsi dari 500 bibit rotan jernang tersebut 60% adalah betina. Satu rumpun rotan jernang betina, pada umur 6 tahun diharapkan tumbuh sebanyak 5 batang sehingga diperoleh 1.500 batang rotan jernang yang akan berbuah. Apabila 70% rotan jernang berbuah maka akan diperoleh 1.050 tandan. Satu kilogram jernang diperoleh dari ekstraksi rata-rata 5 tandan, maka diperoleh 210 kg/ha/tahun atau Rp. 84.000.000. Setelah dikurangi biaya pengeluaran usahatani selama 6 tahun sebesar Rp. 27.750.000, maka diperoleh keuntungan sebesar Rp. 56.250.000/ha/tahun. Apabila perolehan keuntungan usaha tani rotan
jernang ini dapat diwujudkan diharapkan kebutuhan hidup SAD yang meningkat akibat perubahan pola hidup mereka dapat dipenuhi, dengan demikian diharapkan laju konversi kawasan hutan TNBD oleh SAD menjadi kebun karet dan sawit dapat dihentikan.
Membangun Pasar Jernang Nasional
Jernang adalah komuniti ekspor yang dalam istilah perdagangan internasional dikenal dengan nama Dragon Bloods (Darah Naga). Jernang dibandingkan HHBK lainnya memiliki harga yang cukup tinggi. Harga jernang di tingkat pengumpul (SAD) saja, sudah mencapai harga, berkisar antara Rp. 2.800.000 sampai dengan Rp. 3.000.000. Tingginya harga jernang ini diduga karena jernang merupakan komoditi ekspor yang memiliki khasiat obat dan memiliki banyak manfaat.
Darah naga (Dracaena cochinchinensis) dalam pengobatan tradisional Cina digunakan untuk pengobatan: luka, keputihan, patah tulang, diare, tukak lambung & perut, merangsang sirkulasi darah, meningkatkan regenerasi jaringan, membantu penyembuhan patah tulang, keseleo, bisul, mengontrol perdarahan dan nyeri. Selain itu darah naga di China digunakan sebagai pernis merah untuk furnitur kayu. Resin ini digunakan untuk mewarnai permukaan menulis kertas untuk spanduk dan poster, terutama untuk pernikahan dan untuk Tahun Baru Cina. Resin daemonorops juga ditambahkan pada tinta merah untuk membuat "Tinta Darah Naga," yang digunakan untuk menuliskan segel magis pada jimat. (Cai dan Xu, 1979).
Darah naga di India digunakan dalam upacara keagamaan. Kadang-kadang resin Dracaena, tetapi lebih sering resin Daemonorops. Darah naga (Daemonorops) dalam pengobatan tradisional India digunakan untuk terapeutik, seperti: homeostatik, antidiarrhetic, antiulcer (antibisul), antimikroba, antivirus, penyembuhan luka, antitumor, anti inflamasi (radang) dan antioksidan. Selain untuk pengobatan tradisional, resin Daemonorops digunakan juga sebagai bahan pewarna dan pernis (Pankow, 1988).
Fulling (1953) melaporkan resin Daemonorops digunakan sebagai pigmen dalam cat, dupa dan parfum serta meningkatkan warna; batu mulia, kaca, marmer dan kayu untuk biola Italia. Selain itu resin daemonorops digunakan secara luas dalam proses percetakan photo, bubuk resin daemonorops digunakan sebagai bahan menolak reaksi zat asam saat mencetak photo. Menurut Grieve (2006) masyarakat memanfaatkan jernang sebagai bahan obat tradisional, seperti untuk obat: diare, disentri dan untuk menghentikan pendarahan akibat luka. Menurut Soemarna (2009) jernang dimanfaatkan sebagai bahan baku industri untuk; campuran kosmetik, bahan obat sariawan dan bahan obat sakit perut, selain itu jernang juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan astringen dan bahan pasta gigi. Gupta et al., (2008) merangkum beberapa hasil penelitian tentang khasiat jernang, diperoleh informasi bahwa jernang memiliki khasiat; aktifitas apoptic, antiplatelet effects, anticoagulant, antiviral activity, anti-inflammatory, aktifitas cytotoxic.
Selain itu terkait perdagangan jernang diperoleh data mengenai ekspor jernang Indonesia menurut FAO (1995), sebagai berikut; sumber utama jernang pada perdagangan Internasional tahun 1988-1993 berasal dari Indonesia dan
68
Pakistan. Semua ekspor jernang tercatat ke Singapura dan Hongkong, dengan dugaan sebagian besar diekspor kembali, tetapi tujuan akhir tidak diketahui. Ekspor Indonesia, mungkin berasal dari Sumatera, rata-rata lebih dari 50 ton/tahun selama 1988-1993, dengan puncaknya hampir 90 ton pada tahun 1991. Namun skala konsumsi domestik tidak diketahui sehingga tidak dapat untuk mengatakan berapa banyak produksi mungkin melampaui tingkat ekspor. Harga jernang Indonesia, berdasarkan informasi dari salah satu dealer di London, pada tahun 1992; US $ 42/kg, pada pertengahan tahun 1995; US $ 60/kg.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah membuktikan jernang sebagai bahan baku obat, jernang sebagai bahan baku industri. Harga jernang yang tinggi di pasar Internasional dan potensi jernang sebagai sumber pendapatan masyarakat sekitar hutan hendaknya mendorong BTNBD, Pemerintah Daerah dan Badan Usaha Milik Daerah, merangkul Perusahaan Swasta Nasional untuk mengembangan industri obat dan industri produk lainnya yang menggunakan bahan baku jernang. Hal ini sebagai upaya membangun pasar jernang nasional dan upaya membangun kemandirian, khususnya dalam industri yang mengunakan jernang. Apabila pasar jernang nasional ini dapat diwujudkan, maka upaya konservasi Rotan Jernang melalui budidaya Rotan Jernang oleh masyarakat tradisional dan lokal sekitar kawasan hutan dapat digalakkan untuk skala yang lebih luas dan lebih besar. Apabila masyarakat tradisional dan lokal sekitar kawasan hutan memperoleh manfaat sosial ekonomi dari Rotan Jernang dan TNBD maka upaya konservasi TNBD melalui konservasi Rotan Jernang, niscaya dapat diwujudkan.
Konservasi Insitu dan Konservasi Exsitu
Konservasi spesies adalah upaya untuk menjaga spesies target dan variasi genetiknya tidak punah baik di dalam maupun di luar habitatnya. Tujuan konservasi spesies adalah menghindarkan spesies target dan variasi genetiknya dari bahaya kepunahan; menjaga kemurnian genetiknya; menjaga keaslian ekosistemnya sebagai tempat berlangsungnya proses evolusi alami spesies target dan pemanfaatan spesies target untuk kesejahteraan manusia secara berkelanjutan. Menurut Wilcove (2000) proses konservasi spesies yang terancam punah dapat dibagi menjadi tiga tahap: (i) identifikasi dan inventarisasi; identifikasi adalah upaya untuk mengenal spesies (keanekaragaman genetik, taksonomi dan morfologi) sedangkan inventarisasi adalah upaya untuk mengetahui kondisi dan status populasi secara lebih rinci serta daerah penyebarannya; (ii) perlindungan; menentukan dan melaksanakan langkah-langkah jangka pendek yang diperlukan untuk menghentikan ancaman penyebab spesies terancam punah; dan (iii) pemulihan; menentukan dan melaksanakan langkah-langkah jangka panjang yang diperlukan untuk membangun kembali populasi spesies ke tempat yang tidak lagi dalam bahaya kepunahan. David S. Wilcove (2000) Endangered Species Management; the US experience. Oxford University Press.
Pendekatan konservasi spesies ada dua, yakni; konservasi insitu dan konservasi eksitu. Adapun penjelasan mengenai konservasi insitu dan eksitu, seperti diuraikan berikut ini; A) Konservasi insitu adalah konservasi dari spesies target di tapak atau pada tapak yang sebelumnya di tempati oleh spesies target pada ekosistem alaminya. Khusus untuk tumbuhan meskipun berlaku untuk
populasi yang dibiakkan secara alami, konservasi insitu tumbuhan termasuk regenerasi buatan bila penanaman dilakukan tanpa seleksi yang disengaja dan pada areal yang sama dan bibit atau benih atau materi reproduktif lainnya dikumpulkan secara acak. Secara umum, konservasi in situ pada tumbuh-tumbuhan memiliki enam syarat; 1) Fase pertumbuh-tumbuhan dari spesies target dijaga di dalam ekosistem dimana spesies tersebut terdapat secara alami; 2) Tataguna lahan dari tapak terbatas pada kegiatan yang tidak memberikan dampak merugikan pada tujuan konservasi habitat; 3) Regenerasi spesies target terjadi tanpa intervensi manusia; 4) Perlu perkiraan dan rancangan ukuran populasi minimum viable; 5) Untuk menjamin diversitas genetik pada spesies target, diperlukan beberapa area konservasi, jumlah dan ukuran area konservasi yang tepat tergantung kepada distribusi diversitas genetik dari spesies target; dan 6) Upaya konservasi insitu tergantung pada data dan pengetahuan tentang interaksi simbiotik ekologis spesies target dengan tumbuh-tumbuhan baik internal maupun eksternal, interaksi dengan satwaliar dan serangga dan interaksi dengan mikroorganisme; dan B) Konservasi exsitu adalah konservasi spesies target di luar sebaran alami dari populasi tetuanya. Konservasi exsitu tumbuhan merupakan proses melindungi spesies tumbuhan dengan mengambil tumbuhan dari habitat yang terancam dan menempatkan spesies atau bagian tumbuhan tersebut dalam perlindungan manusia. Perlindungan dan pemeliharaan tumbuhan di luar habitat aslinya dapat dilakukan pada; 1) Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Purwodadi Jawa Timur; 2) Kebun Koleksi, kebun yang berisi berbagai jenis nutfah tanaman yang akan dipertahankan dan dikembangkan dalam bentuk hidup; 3) Kebun Plasma Nutfah, mirip kebun koleksi tetapi tidak hanya mengembangkan plasma nutfah yang unggul, mencakup bibit tradisional serta kerabat liarnya; 4) Penangkaran tumbuhan yakni upaya perbanyakan tumbuhan melalui pengembangbiakan dan pembesaran benih atau bibit atau anakan dari tumbuhan liar, baik yang dilakukan di habitatnya maupun di luar habitatnya, dengan tetap memperhatikan dan mempertahankan kemurnian genetik; dan 5) Penyimpanan benih atau bahan reproduktif tumbuhan pada lingkungan terkendali, seperti; penyimpanan spesimen secara kriogenik. Penyimpanan spesimen pada lingkungan terkendali merupakan penyimpanan bahan untuk waktu yang lama tetapi tetap viable (mampu hidup).
Strategi terbaik bagi konservasi Rotan Jernang adalah perlindungan populasi Rotan Jernang di habitat alami _konservasi in situ. Namun konservasi in situ menjadi tidak efektif jika populasi Rotan Jernang terus menyusut jumlahnya. Masalah tersebut dapat diatasi dengan menempatkan Rotan Jernang ke dalam lingkungan yang dapat diawasi_konservasi ex situ, seperti; di Taman Hutan Raya (Tahura) Senami atau Taman Wisata Alam (TWA) Tebo di Provinsi Jambi. Konservasi in situ dan ex situ merupakan strategi yang saling melengkapi. Individu dari populasi ex situ secara berkala dapat dilepas ke hutan alam untuk mendukung upaya konservasi in situ. Menurut Asra (2013) budidaya rotan jernang di kebun karet SAD di dalam TNBD dan di kebun karet masyarakat lokal sekitar TNBD, merupakan salah satu alternatif upaya konservasi in situ dan konservasi ex situ rotan jernang. Ketika rotan jernang sudah berbuah maka SAD dan masyarakat lokal sekitar TNBD akan memperoleh getah karet dan buah rotan jernang. Hal ini dapat meningkatkan perolehan pendapatan SAD dan masyarakat lokal lokal sekitar TNBD.
70
Pembentukan Lembaga Sosial SAD Transisi
SAD adalah bagian dari kelompok masyarakat terasing yang berada di wilayah Propinsi Jambi tersebar di enam kabupaten, yakni; Kabupaten Bungo, Tebo, Merangin, Sarolangun, Batanghari dan Muaro Jambi. SAD untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dilakukan dengan cara berburu dan meramu. Sejak tahun 1994 Departemen Sosial berdasarkan Keputusan Menteri Sosial RI Nomor; 5/HUK/1994 tanggal 25 Januari 1994 tentang Program Pembinaan Kesejahteraan Sosial Masyarakat Terasing [PPKSMT] telah melaksanakan program permberdayaan SAD. Pertimbangan program ini adalah bahwa SAD bagian dari masyarakat Indonesia, memiliki berbagai masalah sosial sehingga perlu memperoleh pembinaan secara sistematik untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Adapun tujuan program ini adalah agar masyarakat terasing, tertinggal dan terbelakang dapat beradaptasi dengan kemajuan sosial dan hidup sejajar dengan masyarakat lain yang lebih maju dan menjadi masyarakat mandiri. Secara teknis salah satu program ini dilaksanakan melalui pola pendekatan pembangunan rumah pemukiman di luar di sekitar TNBD. Dalam konteks ini maka pada tahun 1994-2006, Pemerintah Daerah Provinsi Jambi, Kantor wilayah Departemen Sosial Propinsi Jambi dan instansi terkait melakukan program pembuatan rumah tinggal kepada SAD khususnya yang berada di Desa Pematang Kabau dan Desa Bukit Suban Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun. Program ini berhasil mengubah 62 kepala keluarga SAD atau 278 jiwa dari cara hidup nomaden menjadi menetap di lokasi pemukiman.
Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian, pemukiman SAD di luar kawasan hutan cukup berpengaruh mengubah sosial budaya Suku Anak Dalam yang memilih keluar dari hutan. Adanya sarana umum yang tersedia di lokasi pemukiman disertai bantuan pangan untuk kebutuhan hidup sehari-hari selama 24 bulan serta bantuan sarana produksi perkebunan karet dan sawit merupakan bagian yang terpenting dalam merubah sosial budaya SAD. Mereka telah mengenal hidup menetap; berkebun karet dan sawit, perubahan jenis makanan dan memasarkan hasil karet dan sawit pada toke dan telah dapat membeli televisi, telepon genggam, sepeda motor, pakaian dan peralatan rumah tangga, dibidang pendidikan ada yang telah menyekolahkan anak-anak mareka pada sekolah dasar, dibidang agama mereka telah memeluk salah satu agama dan di bidang kesehatan mereka telah memanfaatkan Puskesmas.
Namun walaupun PPKSMT telah menunjukkan hasil yang sesuai dengan harapan, pada sisi lain terjadi dampak negatif pada SAD transisi; SAD yang memilih keluar dari hutan, yakni; tidak adanya kontrol sosial baik oleh Penghulu maupun Pemerintah Desa. SAD transisi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka mengunakan cara yang tidak lagi sesuai dengan adat istiadat mereka yang dahulu, dalam hal ini terkait dengan penelitian ini, seperti; membuka kawasan hutan TNBD menjadi ladang, membuka kawasan hutan TNBD untuk dijual kepada Orang Terang, meningkatnya frekuensi bejernang sehingga panen buah Rotan Jernang dilakukan terus menerus tidak ada masa jeda dan panen buah Rotan Jernang muda. Selain itu terjadi pada remaja dewasa SAD transisi perilaku; balapan motor, judi, pemakaian narkoba, prostitusi dan terlibat aksi kriminalitas, seperti; penipuan, perampokan dan pemalakan. Hal-hal ini merupakan masalah yang berdampak langsung pada aspek konservasi baik konservasi rotan jernang
maupun konservasi TNBD. Salah satu solusi yang dirasa mendesak untuk segera diwujudkan adalah pembentukan lembaga sosial bagi SAD transisi dan merumuskan kesepakatan untuk mengatur kegiatan membuka kawasan TNBD untuk ladang, aturan melarang menjual lahan dan ladang dalam kawasan TNBD kepada Orang Terang serta aturan waktu panen buah rotan jernang dan larang panen buah rotan jernang muda.
Pendampingan dan Pemberdayaan SAD
SAD sebagai bagian salah satu pemangku kepentingan yang terkait langsung dengan kawasan hutan TNBD dan pengelolaan rotan jernang perlu mendapat perhatian berupa pendampingan dan pemberdayaan. Terlebih karena sekarang ini sosial budaya SAD mengalami perubahan yang cepat, akibat pengaruh faktor-faktor internal dan eksternal. Adapun faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi sosial budaya SAD, seperti: program pembangunan pemukiman untuk SAD oleh Pemerintah, konversi kawasan hutan menjadi; areal perkebunan, areal tanaman kehutanan dan areal pemukiman transmigrasi. Akibat hal-hal tersebut menyebabkan SAD terbagi menjadi tiga kelompok, yakni; 1) Kelompok SAD memilih tetap hidup di dalam hutan; 2) Kelompok transisi; dan 3) Kelompok yang memilih hidup seperti Orang Terang.
Perubahan sosial budaya yang terjadi pada masyarakat SAD tidak seluruhnya berdampak positif, ada juga perubahan yang berdampak negatif. Dampak perubahan negatif yang menjadi fokus perhatian dalam tesis ini adalah: pergeseran nilai-nilai, berkurangnya fungsi kontrol sosial Penghulu selaku lembaga adat terhadap kehidupan sosial budaya SAD dan perubahan sikap perilaku SAD, seperti: maraknya aktivitas membuka kawasan hutan menjadi kebun, meningkatnya intensitas panen buah rotan jernang serta panen buah rotan jernang muda. Oleh karena situasi ini pendampingan dan pemberdayaan terhadap SAD mendesak untuk dilakukan sebagai bagian dari strategi konservasi rotan jernang. Aspek-aspek pendampingan dan pemberdayaan yang perlu dilakukan adalah; a) Advokasi pengakuan hak politik sosial budaya SAD di hadapan pemerintah dan masyarakat; b) Pendidikan; c) Kesehatan; d) Penguatan Kelembagaan; dan e) Pengembangan ekonomi.
Program pendampingan dan pemberdayaan terhadap SAD seharusnya mengacu kepada sosial budaya mereka. Contoh: 1) Program pendidikan terhadap SAD seharusnya program pendidikan alam bukan program pendidikan formal seperti program pendidikan di kelas yang diterapkan terhadap Orang Terang. Program pendidikan alam, seperti: baca, tulis, matematika namun dikaitkan dengan alam sekitar mareka, contoh: inventarisasi & identifikasi jenis rotan jernang dan pemetaan sebaran rotan jernang; dan 2) Program kesehatan terhadap SAD seharusnya dicari relawan yang bersedia untuk mendatangi pemukiman SAD bukan SAD keluar pemukiman berobat ke Puskesmas. Selain itu program kesehatan seharusnya dapat mengali pengetahuan SAD mengenai jenis-jenis tumbuhan obat dan jenis-jenis-jenis-jenis satwaliar yang dimanfaatkan oleh SAD sebagai obat.
72
Pembentukan Forum Komunitas SAD
Masyarakat SAD hidup dalam ikatan kelompok-kelompok keluarga atau mereka sebut rombong. Setiap rombong memiliki pemimpinan rombong masing-masing, yang mereka sebut Temenggung. Posisi Tumenggung merupakan hak lahir dari orang tuanya, namun jika kepemimpinan Tumenggung tidak disukai oleh anggota rombong, Temenggung bisa diganti melalui sidang adat, Penghulu dengan seluruh anggota rombong.
Penghulu adalah lembaga adat yang mengatur kehidupan sosial SAD. Kepemimpinan dalam kehidupan sosial SAD dilaksanakan secara kolegial. Tumenggung sebagai pemimpin rombong tidak boleh membuat keputusan sendiri. Sebelum membuat keputusan, Tumenggung harus berunding terlebih dahulu bersama-sama dengan lembaga adat; Penghulu.
Menurut Temenggung Betaring, struktur masyarakat SAD terdiri dari: Temenggung sebagai kepala rombong. Wakil Tumenggung mewakili Temenggung apabila Tumenggung sedang tidak ada di pemukiman. Depati bertugas mengatur dan menyelesaikan hal-hal yang terkait dengan aturan adat. Manti bertugas menyampaikan pesan, berita dan memanggil anggota rombong dan Penghulu apabila ada sidang adat. Debalang bertugas terkait keamanan rombong. Selain itu diluar lembaga adat, ada Tengganai dan Dukun yang memberi nasehat apabila ada perselisihan dalam keluarga dan melayani SAD dalam hal; spiritual dan pengobatan penyakit.
Selain lembaga adat Penghulu, SAD memiliki tatanan struktur sosial yang mengatur hubungan antara SAD dan Orang Melayu, yakni; Waris dan Jenang. Tatanan struktur sosial ini didasarkan atas aturan serah naik jajah turun Kerajaan Melayu Jambi dan dilanjutkan Kesultanan Jambi. Jenang bertugas untuk menjamin kelancaran penarikan pajak (jajah ) dari SAD kepada pihak Kesultanan Jambi dan sebagai Pejabat yang mengurusi hubungan antara Kesultanan Jambi dan SAD. Sedangkan Waris adalah orang yang dahulu adalah keluarga SAD yang memilih hidup di kampung berfungsi sebagai perantara perdagangan barang-barang yang dibutuhkan SAD yang tidak dapat mereka peroleh dari hutan, contoh seperti; kain, alat-alat rumah tangga yang terbuat dari logam, tembakau, rokok dan garam dan barang-barang yang akan dijual oleh SAD kepada Orang Terang. Sekarang ini akibat perubahan sosial politik Indonesia, Jenang berubah fungsi menjadi penghubung antara SAD dan Pemerintah sedangkan posisi Waris tidak ada lagi karena SAD telah berdagang dengan Orang Terang secara langsung tanpa melalui perantara.
Sementara itu pada sisi yang lain akibat perubahan sosial budaya yang terjadi pada SAD, bagi warga SAD yang keluar dari hutan, peranan Penghulu semakin lemah. Kehidupan SAD yang keluar dari hutan tidak lagi dapat dikontrol oleh tata nilai, lembaga dan aturan adat yang dulu mengatur kehidupan mereka. Sistem kepercayaan, aturan adat dan struktur sosial yang selama ini mengatur hubungan mereka dengan halom (alam) telah mereka tinggalkan. Sementara struktur sosial desa dan hukum nasional belum dapat menganti peranan; nilai-nilai kepercayaan, aturan adat dan Penghulu. Hal ini berdampak pada, sikap perilaku SAD terhadap halom, diantaranya yang menjadi perhatian dalam penelitian ini, maraknya kegiatan SAD membuka kawasan hutan untuk dijadikan kebun dan panen buah Rotan Jernang muda.
Nilai-nilai dan norma SAD mulai bergeser. Prinsip tidak merubah halom mulai mereka tinggalkan. Sekarang ini marak SAD yang membuka hutan menjadi kebun karet dan sawit serta panen buah Rotan Jernang muda. SAD