BAB II TINJAUAN LITERATUR
5. Pengadaan dan Pengembangan Koleks
Pengadaan atau akuisisi koleksi merupakan proses awal dalam mengisi perpustakaan dengan sumber-sumber informasi. Pengadaan koleksi adalah proses menghimpun bahan pustaka yang akan dijadikan koleksi perpustakaan. Koleksi yang diadakan suatu perpustakaan hendaknya relevan dengan minat dan kebutuhan, lengkap dan terbitan mutakhir agar tidak mengecewakan pemustaka.
37
Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007
Dalam buku Pedoman Umum Perpustakaan Perguruan Tinggi, cara pengadaan bahan perpustakaan dilaksanakan sebagai berikut:
1. Pembelian dan pelangganan 2. Hadiah/sumbangan
3. Pertukaran
4. Wajib simpan terbitan perguruan tinggi 5. Titipan38
Sedangkan dalam buku Pedoman Umum Pengelolaan Koleksi Perpustakaan Perguruan Tinggi (1999: 13), dinyatakan bahwa : Langkah awal dari pengadaan koleksi adalah melakukan penelitian mengenai kebutuhan pengguna. Untuk mengetahui kebutuhan pengguna tersebut, informasi yang perlu dikumpulkan adalah jenis fakultas, program studi, jenjang studi, mata kuliah yang ditawarkan, penelitian yang dilaksanakan secara periodik, mengingat kebutuhan masyarakat perguruan tinggi selalu berubah39.
Berdasarkan uraian tersebut di atas tergambar bahwa pengadaan koleksi perpustakaan harus dapat memenuhi kebutuhan informasi pengguna sehingga dalam pengadaan bahan pustaka harus mengalami seleksi yang melibatkan civitas akademika yaitu antara lain, staf perpustakaan, tenaga pengajar dan mahasiswa yang disesuaikan dengan kurikulum dan seluruh disiplin ilmu yang tersedia pada perguruan tinggi tersebut agar koleksi yang disediakan sesuai dengan kebutuhan pengguna.
b. Pengembangan koleksi perpustakaan pergruan tinggi
Pengembangan koleksi merupakan suatu proses universal untuk perpustakaan, karena setiap perpustakaan akan membangun koleksi yang kuat demi kepentingan pemustaka. Kegiatan membangun koleksi perpustakaan dikenal dengan istilah pengembangan koleksi.
Para pustakawan memiliki tanggung jawab untuk memberikan informasi yang sesuai dengan kurikulum serta kebutuhan pemustaka yang dilayani. Tapi sebelum pustakawan bisa melakukan tugas ini, perlu bagi mereka
38
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,Perpustakaan Perguruan Tinggi : Buku Pedoman Dikjen-Dikti(Jakarta : Depdiknas, 2004), h. 54.
39
Perpustakaan Nasional, Pedoman Umum Pengelolaan Koleksi Perpustakaan Perguruan Tinggi.Jakarta : Perpustakaan Nasional RI, 2006.
untuk mempelajari kebijakan pengembangan koleksi yang akan menjadi panduan dalam memilih, memperoleh, melestarikan, penyiangan, dan mengevaluasi koleksi40.
Menurut Siti, ada enam komponen yang mempengaruhi kegiatan pengembangan koleksi perpustakaan :
a. Community analysis, merupakan usaha untuk mengetahui bahan pustaka apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat pengguna perpustakaan(users).
b. Collection Development Policy (Kebijakan Pengembangan Koleksi), yakni merupakan rumusan atau dokumen tertulis yang memberi arah dan bimbingan mengenai koleksi yang akan dikembangkan.
c. Selection (seleksi), yakni kegiatan menyeleksi atau memilih bahan- bahan mana yang akan diadakan.
d. Acquisition (akuisisi/pengadaan). Ketika seleksi telah selesai dilaksanakan, maka kegiatan akuisisi dapat dimulai. Akuisisi merupakan proses memperoleh bahan-bahan untuk koleksi perpustakaan, baik dengan cara pembelian, hadiah maupun tukar- menukar.
e. Deselection,, lawan dari selection, sering pula digunakan istilah
weeding. Dalam kegiatan weeding, pustakawan berusaha untuk mencabut dari rak koleksi-koleksi yang kurang, jarang, bahkan tak pernah digunakan, kemudian disimpan pada storage (gudang penyimpanan) bukan dibuang begitu saja.
f. Evaluation (evaluasi). Dalam beberapa hal weeding bisa juga merupakan satu kegiatan evaluasi, namun hanya menyangkut kegiatan operasional di perpustakaan saja, sedangkan evaluasi mempunyai tujuan-tujuan yang berbeda, yang meliputi eksternal dan internal perpustakaan41
Sedangkan menurut Sutarno, “Pengembangan koleksi perpustakaan mencakup (1) jumlah, mencakup judul, jenis dan eksemplar, (2) terbitan baru, (3) variasi, baik yang tercetak seperti buku, majalah, koran, maupun yang terekam, (4) sumber penerbitannya, makin banyak, (5) sumber asalnya, dalam negeri (Bahasa Indonesia dan bahasa daerah), dari luar negeri, terjemahan, saduran bahasa Inggris dan bahasa lainnya42
40
Cabonero, David A., and Liezl B. Mayrena. "The development of a collection development policy."Library Philosophy and Practice(2012). Diakses pada 12 May 2014 dari
http://go.galegroup.com/ps/i.do?id=GALE|A331807709&v=2.1&u=wash89460&it=r&p=AONE& sw=w&asid=cdea92498f8d800b2aa4e0c611d49cfd
41
Siti Maryam, “Upaya Mencari Solusi Pengembangan Koleksi di Perpustakaan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta,’’Al-Maktabah, Vol. 1, No. 2, Oktober 1999, h. 2.
42
Sutarno NS,Manajemen Perpustakaan Suatu Pendekatan Praktik(Jakarta : Sagung Seto, 2006), h. 114.
Sejalan dengan pendapat di atas, Buku Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi menyebutkan pengembangan koleksi didasari oleh asas berikut :
a. Kerelevanan. Koleksi hendaknya relevan dengan program pendidikan, pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat perguruan tinggi.karena itu perpustakaan perlu memperhatikan jenis dan jenjang program yang ada. Jenis program berhubungan dengan jumlah dan besar fakultas, jurusan, program studi, dan seterusnya. Jenjang program meliputi program diploma, sarjana (S1), pascasarjana (S2 dan S3).
b. Berorientasi kepada kebutuhan pengguna. Pengembangan koleksi harus ditujukan kepada pemenuhan kebutuhan pengguna. Pengguna perpustakaan perguruan tinggi adalah tenaga pengajar, tenaga peneliti, tenaga administrasi, mahasiswa, dan alumni yang kebutuhannya akan informasi berbeda-beda.
c. Kelengkapan. Koleksi hendaknya jangan hanya terdiri atas buku ajar yang langsung dipakai dalam perkuliahan, tetapi juga meliputi bidang ilmu yang berkaitan erat dengan program yang ada secara lengkap.
d. Kemutakhiran. Perpustakaan harus mengadakan dan memperbaharui bahan perpustakaan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
e. Kerja sama. Koleksi hendaknya merupakan hasil kerja sama semua pihak yang berkepentingan dalam pengembangan koleksi, yaitu antara pustakawan, tenaga pengajar, dan mahasiswa. Dengan kerja sama, diharapkan pengembangan koleksi dapat berdaya guna dan berhasil guna43
Dari pendapat di atas, penulis ingin menyimpulkan bahwa kegitan pengembangan koleksi di perpustakaan adalah pustakawan harus mengetahui betul tujuan perpustakaan yang dikelolanya serta pemustaka yang dilayaninya. Karena pengembangan koleksi merupakan kegiatan yang penting dalam perpustakaan yang mencakup semua kegiatan untuk memperluas koleksi yang ada di perpustakaaan, terutama kegiatan yang berkaitan dengan pemilihan dan evaluasi.
43
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,Perpustakaan Perguruan Tinggi : Buku Pedoman Dikjen-Dikti(Jakarta : Depdiknas, 2004), h. 43.
C. Kurikulum dan Silabus