BAB II LANDASAN TEORI
C. Pengadopsian Sistem Informasi yang baru
XBRL merupakan sistem yang sedang dipromosikan sebagai bahasa pelaporan bisnis dan keuangan masa depan, yang akan memberikan informasi keuangan dan non keungan yang akurat, andal dan tepat waktu kepada para pemangku kepentingan internal dan eksternal (Debreceny dan Gray, 2001). Kepanjangan XBRL adalah Extensible Business Reporting Language, merupakan sistem yang kompleks dan memiliki konteks yang spesifik. Organisasi atau perusahaan dapat mengadopsi XBRL ini untuk mengurangi pengeluaran biaya dan mendapatkan keunggulan yang kompetitif dengan para investor yang memiliki potensi. XBRL berasal dari XML, sistem ini memfasilitasi produksi data keuangan otomatis yang lebih mudah dan proyek ini adalah kolaborasi diseluruh dunia antara akuntansi profesional, para regulator dan bisnis. Pengembangan XBRL ini didukung
oleh lebih dari 200 entitas, termasuk perusahaan multi nasional, penentu standar akuntansi, para regulator keuangan pasar, lembaga pemerintah lainnya dan vendor perangkat lunak lainnya. Lebih dari 20 negara telah membentuk kelompok kerja XBRL dan bergabung dengan salah satu kelompok yuridiksi internasional dari sistem XBRL tersebut.
Keuskupan Agung Semarang saat ini sedang merekomendasikan untuk menggunakan Sistem Informasi Akuntansi berbasis Microsoft Access kepada seluruh Paroki yang berada di Kevikepan Yogyakarta dalam melakukan pelaporan keuangan Paroki. Dengan adanya Microsoft Access ini bisa membuat Paroki melakukan pelaporan keuangan dengan seragam. Selain itu juga paroki mendapatkan informasi yang lebih akurat, andal, tepat waktu dan lebih dapat di percaya.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi teknologi
Menurut Doolin dan Troshani (2007: 201), terdapat tiga konteks yang mempengaruhi suatu organisasi untuk mengadopsi teknologi yang baru berupa konteks teknologi, konteks organisasi, dan konteks lingkungan. Yang dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1: Model adopsi teknologi Sumber: Doolin and Throshani (2007: 201) a. Technological Context (Konteks Teknologi)
Konteks teknologi ini adalah konteks yang mempengaruhi penerapan sistem informasi yang baru. Di dalam konteks teknologi ini membahas mengenai manfaat relatif, kompatibilitas, kompleksitas dan kemampuan uji coba.
1) Manfaat relatif
Doolin dan Troshani, 2010; Oliver dan Whymark, 2005; Premkumar et al., 1994 dalam Cordery et al (2011:74) mengatakan pengadopsian potensial biasanya akan melakukan evaluasi antara manfaat dari teknologi baru terhadap biaya yang dirasakan. Di suatu organisasi, sebuah sistem informasi yang baru harus memberikan manfaat yang besar kepada organisasi tersebut. Dengan mendapatkan manfaat yang besar dan dirasa itu positif maka organisasi akan menerapkan sistem informasi yang baru. Paroki dalam melakukan penerapan Sistem Informasi Akuntansi berbasis Microsoft Access Technological Context Decision To Adopth Technology Evironmental Context Organizational Context
perlu memperhatikan manfaat yang akan di dapatkan dan Paroki memperhatikan biaya yang dikeluarkan dalam menerapkan Sistem Informasi Akuntansi berbasis Microsoft Access.
2) Kompatibilitas
Menurut Rogers (2003: 240) faktor kompatibilitas yaitu sejauh mana suatu inovasi dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalam dari masa lalu dan kebutuhan para pengadopsi. Maksudnya dalam organisasi menerpakan sistem baru harus memiliki konsisten yang sesuai dengan standart yang sudah ada atau yang berlaku. Semakin tinggi kompatibilitas teknologi, maka peluang suatu organisasi untuk mengadopsinya semakin tinggi. Dalam hal ini, Paroki menerapkan Sistem Informasi Akuntansi berbasis Microsoft Access harus memperhatikan dan mengikuti pedoman yang sudah di tetapkan oleh Keuskupan Agung Semarang. Pedoman yang di buat oleh Keuskupan Agung Semarang yaitu Pedoman Pelaksanaan Akuntansi Paroki (PPAP).
3) Kompleksitas
Kompleksitas dianggap sebagai sejauh mana inovasi dianggap relatif sulit untuk dipahami dan digunakan (Rogers, 2003: 257). Rogers (2003) lebih lanjut menyatakan bahwa meskipun kompleksitas mungkin tidak sepenting keuntungan relatif dan faktor kompatibilitas, ini berpotensi merupakan penghalang untuk adopsi teknologi. Kompleksitas teknologi mencakup pengetahuan dan keterampilan karyawan saat ini dalam organisasi. Keuskupan Agung Semarang
dalam melakukan penerapan Sistem Informasi Akuntansi berbasis Microsoft Access perlu memperhatikan keberadaan sumber daya manusia, supaya tidak menghambat Paroki dalam menggunakan Microsoft Access dalam membuat laporan keuangan.
4) Kemampuan Ujicoba
Doolin dan Troshani dalam Cordery (2011: 74) mengatakan Kemampuan ujicoba dan mengamati teknologi baru terkait dengan resiko dan ketidakpastian yang terkait dengan adopsi. Sebelum sistem informasi yang baru dipakai oleh paroki untuk jangka panjang, sebaiknya dilakukan uji coba terhadap Microsoft Access. Uji coba tersebut dilakukan untuk melihat apakah dalam penerapan Sistem Informasi Akuntansi berbasis Microsoft Access saat digunakan untuk jangka panjang memiliki resiko dan timbulnya ketidakpastian dalam penggunaannya.
b. Organizational Context (Konteks Organisasi)
Konteks organisasi adalah konteks yang juga mempengaruhi pengadopsian sistem informasi yang baru. Keputusan untuk mengadopsi teknologi seperti XBRL dapat dipengaruhi oleh manajemen puncak organisasi, seperti yang disarankan oleh Tarafdar dan Vaidya (2007), yang mempelajari adopsi teknologi di bank India. Karena manajemen puncak memiliki otoritas dan kontrol atas sumber daya organisasi, kegagalan untuk mendapatkan dukungan dari manajemen puncak dapat mengakibatkan adopsi teknologi yang gagal (Troshani dan Doolin, 2005).
1) Manajemen Tingkat Atas
Troshani dan Doolin dalam Cordery et al (2011: 73) mengatakan manajemen puncak memiliki otoritas dan kontrol atas sumber daya organisasi, kegagalan untuk mendapatkan dukungan dari manajemen puncak dapat mengakibatkan adopsi teknologi yang gagal. Manajemen tingkat atas atau yang mempunyai kedudukan yang paling tinggi di suatu organisasi ini sangat berpengaruh dalam menerapkan sistem informasi yang baru. Peran dari manajemen tingkat atas ini dapat memutuskan atas adanya pengadopsian sistem informasi baru yang harus diikuti oleh para pegawainya. Maka dari itu manajemen tingkat atas sangat memiliki peran aktif dalam menjalankan sistem informasi yang baru dalam organisasi tersebut. Dalam kaitannya dengan penelitian di Paroki, dukungan dari Romo Paroki menjadi pengaruh yang besar dalam penerapan Sistem Informasi Akuntansi berbasis Microsoft Access di dalam paroki.
2) Pihak yang Dipercaya
Neufeld dalam Cordery et al (2011: 74) mengatakan seseorang yang dipercaya dapat menampilkan kepemimpinan dalam suatu organisasi untuk memotivasi perilaku dalam mengadopsi teknologi. Dalam menjalankan prosesnya manajemen tingkat atas ini memiliki pihak yang di percaya. Pihak yang dipercaya ini memiliki peran dengan memberikan pertimbangan dan masukan kepada manajemen tingkat atas dalam pengadopsian sistem informasi yang baru. Dalam penelitian ini, Romo Paroki butuh seseorang yang dapat dipercaya
untuk menjalankan Sistem Informasi Akuntansi berbasis Microsoft Access.
3) Ukuran dan Sumber Daya Organisasi
Biasanya ukuran organisasi juga menjadi masalah. Organisasi besar mungkin memiliki lebih banyak sumber daya dari pada organisasi kecil untuk mengadopsi teknologi seperti XBRL (Janvrin et al., 2008). Sebaliknya, organisasi kecil ternyata kurang konservatif dan lebih terbuka terhadap ide dan teknologi inovatif dari pada organisasi yang lebih besar (Doolin dan Troshani, 2007). Dalam penelitian ini, Paroki perlu melihat ukuran dari Paroki itu sendiri dan melihat ketersediaan sumber daya baik itu sumber daya manusia dan peralatan yang dibutuhkan untuk menjalankan Sistem Informasi Akuntansi berbasis Microsoft Access.
c. Evironmental Context (Konteks Lingkungan)
Doolin dan Throsani dalam Cordery et al (2011:73) konteks lingkungan merupakan konteks yang muncul dari lingkungan bisnis eksternal dan karakteristik industri, infrastruktur pendukung dan pemerintah. Karakteristik industri mencangkup tingkat persaingan dan pengaruh atau tekanan dari mitra dagang organisasi dan/atau peraturan dan agenda pemerintah. Konteks lingkungan dalam penelitian ini yaitu Paroki, memiliki tuntutan lingkungan dalam melakukan penerapan Sistem Informasi Akuntansi berbasis Microsoft Access. Paroki sendiri tidak memiliki partner dagang dan antar Paroki tidak memiliki persaingan untuk mencari keuntungan. Hubungan Paroki dengan
mitranya yaitu Keuskupan. Keuskupan disini menjadi pengaruh dalam menerapkan Sistem Informasi Akuntansi berbasis Microsoft Access. Hal-hal yang terdapat pada konteks lingkungan antara lain :
1) Pasar Kompetitif
Dalam pasar yang kompetitif, organisasi akan mengadopsi teknologi yang memungkinkan mereka untuk mendapatkan atau mempertahankan keunggulan kompetitif mereka (Doolin and Troshani, 2007). Dapat diartikan, bahwa jika semakin tinggi tingkat kompetisi yang dihadapi oleh organisasi maka akan semakin tinggi juga organisasi akan menerapkan Sistem Informasi Akuntansi. Dalam kaitannya dengan penelitian ini, Paroki mulai melakukan penerapan Sistem Informasi Akuntansi berbasis Microsoft Access. Paroki dalam penerapan Sistem Informasi Akuntansi Sistem Informasi Akuntansi berbasis Microsoft Access bukan untuk melakukan persaingan dengan Paroki yang lain. Keuskupan sebagai salah satu organisasi ingin mengembangkan kondisi yang baru ini supaya data, khususnya pada keuangan yang dibuat menjadi lebih transparan, mudah, dan lebih praktis dalam penggunaannya.
2) Mitra
Tekanan dari mitra kerja organisasi juga dapat memengaruhi adopsi teknologi. Mitra kerja mencakup pihak-pihak dalam rantai pasokan organisasi seperti pelanggan, pemasok, mitra, dan vendor (Cordery at al, 2011: 73). Paroki tidak memiliki partner dagang dan tidak melakukan kegiatan bisnis. Hubungan Paroki dengan mitranya
yaitu pada Keuskupan yang memberikan rekomendasi dan pengaruh dalam menerapkan Sistem Informasi Akuntansi berbasis Microsoft Access (Simatupang, 2019: 19).
3) Regulator
Regulator dapat mempengaruhi organisasi dalam mengadopsi teknologi. Dengan adanya dorongan dari regulator, organisasi diwajibkan untuk mengadopsi sistem teknologi yang baru. Namun, peraturan dan / atau "dorongan" regulator untuk menggunakan XBRL dapat meningkatkan biaya kepatuhan suatu organisasi, karena memerlukan perangkat lunak akuntansi dan sistem informasi lainnya, cara pengorganisasian yang berbeda, dan mendorong lebih banyak transparansi organisasi (Cordery et al, 2011: 73). Dalam penelitian ini, Keuskupan Agung Semarang sebagai regulator memiliki peran penting dalam memberikan dorongan dalam penerapan Sistem Informasi Akuntansi berbasis Microsoft Access kepada Paroki (Simatupang, 2019:20). Salah satu cara agar Microsoft Access dapat di terapkan secara menyeluruh yaitu dengan Keuskupan Agung Semarang menggunakan dan mewajibkan Microsoft Access dalam melaporkan keuangan di setiap Paroki yang ada di Kevikepan Yogyakarta.
4) Ketersediaan Dukungan dan Informasi
Dalam mengembangkan sistem informasi yang baru suatu organisasi perlu memperhatikan ketersediaan dukungan yang diberikan dari sistem yang baru tersebut. Dengan adanya informasi
yang memadai dan mendukung memberikan kemudahan kepada organisasi dalam menjalankan operasinya. Dengan demikian, perlu ada dukungan yang cukup dari vendor dan spesialis lain untuk mendorong organisasi untuk mengadopsi sistem yang baru. Dalam penelitian ini, Paroki dalam menerapkan Sistem Informasi Akuntansi Berbasis Microsoft Access harus melihat seberapa memadai informasi yang disajikan oleh Microsoft Access. Kemudian melihat seberapa besar dukungan yang diberikan untuk penerapan Sistem Informasi Akuntansi berbasis Microsoft Access.