• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III

PENGAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, khususnya pada Bab II, menjelaskan bahwa Pendidikan Agama Islam termasuk dalam kelompok mata pelajaran Agama dan Akhak Mulia. Kelompok mata pelajaran Agama dan Akhlak Mulia ini memiliki cakupan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.

Masih dalam Permendiknas No. 22 tahun 2006 tersebut, pelaksanaan kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.1

Hal ini dikuatkan Pasal 3 UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 yang menjelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang

1

Diah Harianti, “Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Pendidikan Agama, bagian D. Prinsip Pelaksanaan Kurikulum, poin 1”, (Puslitbang Pusat Kurikulum Depdiknas, 2007), 13. Baca pula M. Subandowo, “Peningkatan Produktivitas Guru dan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan pada Era Global”,(Khazanah Pendidik ; Jurnal Ilmiah Kependidikan, Vol 1, No. 2 Maret 2009), 114.

69

Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dari uraian ini penulis berkesimpulan bahwa pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki muatan afektif sebagai tujuan utama dari pendidikan agama. Yaitu melahirkan anak didik yang beriman, berakhlak mulia, memiliki sikap toleransi dalam kerangka besar multikultur dengan tetap memiliki jati diri sebagai pribadi. Dan pelajaran agama ini disampaikan dalam proses pembelajaran yang menyenangkan.

Ahmad Tafsir menegaskan tujuan pendidikan agama Islam di sekolah umum adalah untuk meningkatkan pemahaman, keterampilan melakukan, dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan utama pendidikan agama Islam di sekolah ialah keberagamaan, yaitu menjadi Muslim yang sebenarnya. Keberagamaan inilah yang selama ini kurang di perhatikan.2

Pesan-pesan moral yang eksplisit nampak diinginkan negara dari mata pelajaran PAI ini. Hal ini sejalan dengan tujuan Pendidikan Nasional Indonesia,3 mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Tujuan nasional tersebut kemudian dijabarkan lagi dalam operasional kebijakan dengan keluarnya berbagai macam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional atau Permendiknas menyangkut persoalan pembenahan pendidikan. Pemerintah mengeluarkan delapan standar nasional menyangkut pendidikan yang

2

Ahmad Tafsir, Makalah “Pendidikan Agama Islam di Sekolah”, tanpa keterangan tempat dan tahun.

3

70

dikemas dalam Permendiknas.4 Pada tataran praksis di lapangan, baru beberapa standar yang bisa dilaksanakan. Di antaranya Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Permendiknas No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses, Permendiknas tentang Standar Penilaian. Sementara Standar Sarana dan Prasarana, termasuk standar pembiayaan walaupun sudah keluar, namun belum sepenuhnya bisa dilaksanakan. Hal ini menyangkut persoalan anggaran dana pemerintah baik pusat maupun daerah. Padahal delapan standar tersebut wajib dipenuhi oleh pemerintah.

A. Pengajaran PAI Selama ini

PAI dan seluruh mata pelajaran yang diajarkan di sekolah untuk semua jenjang dalam pelaksanaan kurikulumnya mengacu kepada Permendiknas tentang Standar Isi, Standar Proses dan Standar Penilaian, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Kepala Sekolah, Standar Pengawas, dan standar-standar pendidikan lainnya.

Merujuk pada Standar Nasional khususnya Standar Isi, Standar Proses dan Standar Penilaian inilah, mata pelajaran PAI di ajarkan. Mata pelajaran PAI ini kemudian diuraikan menjadi materi dan bahan ajar yang didasarkan kepada Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang harus dipelajari dan dikuasai sebagai sebuah kompetensi oleh siswa dalam setiap semester untuk semua jenjang dan kelas.

Dalam hubungannya dengan tujuan dan cita-cita pendidikan nasional, sejak kurikulum 1977 sampai sekarang PAI dianggap belum bisa seratus persen mewujudkan manusia Indonesia yang bertaqwa, berahlak mulia, memiliki sikap toleran terhadap perbedaan. Justru PAI diangap gagal dalam melahirkan generasi Indonesia yang diharapkan.

4

Standar Nasional tentang: Standar Isi, Standar Proses, Standar Pembiayaan, Standar Pengelolaan, Standar Kelulusan, Standar Penilaian, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana

71 reka.

Pandangan terhadap kegagalan PAI ini disampaikan oleh Muchtar Buchori. Menurutnya, sebagaimana dikutip oleh Muhaimin kegagalan PAI disebabkan karena praktek pengajaran PAI yang fokus kepada aspek kognitif dari ajaran agama. Pengajaran PAI di sekolah mengabaikan pembinaan aspek afektif dan konatif volutif, yakni kemauan dan tekad untuk mengamalkan nilai-nilai

ajaran agama.5 Akibatnya ada kesenjangan antara aspek pengetahuan agama

siswa dengan aspek pengamalan ajaran agama dalam keseharian me

Pendapat tersebut paralel dengan pendapat Harun Nasution yang menyatakan bahwa PAI menjadi pengajaran agama saja bukan menjadi

pendidikan agama.6 Pendapat senada disampaikan Azyumardi Azra dalam

bukunya Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru yang menyetakan bahwa pengajaran hanya sekedar transfer ilmu belaka. Sementara pendidikan merupakan proses transformasi nilai dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya.7

Terkait dengan pengertian Pendidikan Islam, Yusuf Qordhowi sebagaimana dikutip Azyumardi Azra menyatakan bahwa Pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya; akal dan hatinya; rohani dan jasmaninya; akhlak dan keterampilannya. Dalam hal ini, Azyumardi Azra menekankan konsep pendidikan dalam konteks Islami dengan istilah tarbiyah, ta’ li>m dan ta’di>b yang harus dipahami secara utuh. Menurutnya, di ketiga istilah ini mengandung makna dan sangat erat berhubungan dengan bagaimana manusia berhubungan dengan masyarakat sekitarnya, berhubungan dengan lingkungan dan terutama berhubungan dengan Tuhan. Istilah-istilah itu pula menjelaskan ruang lingkup pendidikan Islam baik secara informal, formal dan nonformal.8

5

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum PAI di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi (Jakarta: Raja Grafindo, 2009), 23.

6

Harun Nasution, Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran (Bandung: Mizan, 1995), 75

7

Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru

(Ciputat: Logos, 2002), 3.

8

72

B. Ruang Lingkup Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Berdasar pandangan di atas dan melihat UU Sisdiknas No 20 tahun 2003 serta Permendiknas tentang Standar Isi, ruang lingkup pembelajaran PAI menyangkut aspek-aspek: Tauhid/Aqidah, Akhlak, Tarikh atau SKI (Sejarah Kebudayaan Islam), Fiqih/Syariah, Al-Quran/Hadits. Aspek-aspek tersebut menjadi besaran dari mata pelajaran PAI atau menjadi tema-tema sentral dari PAI yang diajarkan di kelas untuk semua jenjang (SD, SMP, SMA dan SMK). Namun dalam pembelajarannya tema-tema besar tersebut dibreak down oleh Standar Isi9

menjadi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK-KD) ini merupakan acuan dasar untuk menjabarkan tema-tema besar tadi telah digariskan pemerintah. SK – KD inilah yang harus dikuasai oleh siswa dalam rangka menciptakan generasi yang memiliki kepribadian mulia (berakhlak) dan memiliki kemampuan akademik

yang membanggakan.10

Senada dengan hal di atas, ruang lingkup utama dari PAI menurut Zakiah Daradjat adalah meliputi: pengajaran keimanan, pengajaran akhlak, pengajaran ibadah, pengajaran fiqih, pengajaran usul fiqih, pengajaran qira’at Qur’an, pengajaran tafsir, pengajaran ilmu tafsir, pengajaran hadits, pengajaran ilmu hadits, pengajaran tarikh islam dan tarikh tashri’.11

Pendapat Zakiah Daradjat ini memang terlalu luas. Sementara dalam Standar Isi, ruang lingkup Pendidikan Agama Islam dipadatkan pada lima aspek : Aqidah/Tauhid, Al-Quran/ Hadits, Fiqih, Akhlak, dan Tarikh atau sejarah. Standar Isi yang menjadi acuan pembelajaran PAI di sekolah umum memang menekankan

9

Permendiknas No 20 tahun 2006.

10

Lihat Pasal 3 UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas.

11

Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 63-116.

73

pada lima aspek tersebut, tidak merambah pada pengajaran qira’at Qur’an, tafsir, ulumul hadits atau tarikh tash’ri seperti yang dinyatakan Zakiah Daradjat. Tetapi pelajaran-pelajaran yang disebut oleh Zakiah Daradjat tadi di ajarkan di madrasah yang bercirikan keislaman.

Ruang lingkup pembelajaran PAI sendiri sangat dipengaruhi oleh perkembangan kurikulum PAI sendiri. Dalam perkembangannya kurikulum PAI mengalami banyak perubahan paradigma. Awalnya seperti dijelaskan Muhaimin, pembelajaran PAI lebih menekankan kepada hafalan yang terpengaruh culture Timur Tengah. Paradigma ini menurut penulis banyak dilakukan oleh pesantren untuk mencapai tujuan pembelajaran. Perubahan berikutnya mengalami kemajuan cukup signifikan, dari cara berpikir tekstual, normatif, dan absolut kepada cara berpikir historis, empiris dan kontekstual dalam memahami dan menjelaskan ajaran-ajaran dan nilai-nilai agama Islam.

Dari sisi produk dan proses, perkembangan kurikulum PAI berubah dari awalnya menekankan pada produk pemikiran keagamaan tokoh-tokoh pendahulu menjadi lebih memperhatikan proses dan metodologi. Dan terakhir perubahan dari sisi keterlibatan proses penyusunan, awalnya kurikulum PAI disusun hanya oleh para pakar, namun saat ini melibatkan stake holder dan melibatkan kalangan yang lebih luas seperti para pakar, guru, peserta didik, dan masyarakat.12

C. Karakteristik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Karakteristik pembelajaran PAI akan sangat bergantung kepada aspek yang diajarkan seperti yang ditetapkan oleh UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003. Karakteristik pembelajaran PAI disesuaikan dengan tema-tema besar seperti

12

74

Tauhid/Aqidah, Akhlak, Tarikh, Fiqih/Syariah, Al-Quran/Hadits. Kesemua tema besar tersebut menurut penulis memiliki tujuan untuk menjaga lima hal atau maqa>s}id al-shari>‘ah 13 yaitu h}ifz} al-di>n (menjaga/melindungi agama), h}ifz} al-nafs (menjaga/melindungi jiwa), h}ifz} al-nasl (menjaga/melindungi keturunan), h}ifz} al-mal (menjaga/melindungi harta benda), h}ifz} al-‘aql

(menjaga/melindungi akal-intelektualitas)14 dan h}ifz} al-bi>ah

(menjaga/melingdungi lingkungan). Tegasnya maqa>s}id al-shari>‘ah mengacu kepada pemeliharaan agama, keberlangsungan hidup, menjaga kemurnian dan kejelasan keturunan, menjaga harta benda, akal sehat dan lingkungan hidup. Penulis sependapat dengan banyak kalangan seperti K.H. Ali Yafie dalam bukunya “Menggagas Fiqih Lingkungan” atau Fachruddin, M. Mangunwijaya:“Menanam Sebelum Kiamat: Islam, Ekologi dan Gerakan Lingkungan Hidup” pentingnya h}ifz} al-bi}>ah ini. Sebab tanpa adanya h}ifẓ al-bi>ah (memelihara lingkungan hidup) sama artinya kelima komponen kehidupan ini telah mati. “Kiamat sebelum kiamat”, menurut Fachrudin dalam bukunya. Tidak berlebihan jika kelimanya bergantung pada h}ifz} al-bi>ah .

Selain itu, pelajaran Pendidikan Agama Islam juga memiliki tanggungjawab terhadap penguatan nasionalisme. Hal ini menurut penulis termasuk dalam bagian maqa>s}id al-shari>‘ah. Jadi h}ifz} al-wat}an adalah bagian dari maqa>s}id al-shari>‘ah, termasuk h}ifz} al-bi>ah, menjadi karakter yang harus nampak dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Ini menjadi penting karena dalam Pendidikan Agama ada materi atau paling tidak kasus-kasus

13

Istilah ini dikenalkan pertamakali oleh Abu Ishak atau Imam Shatibi yang menjadi rujukan para pakar ketika berbicara maqa>s}id al-shari>‘ah, sebagai ulama dari Andalus yang hidup pada abad 8 Hijriah/abad 14 Masehi. Beliau menjelaskan secara rinci tentang maqa>s}id al-shari>‘ah dalam kitabnya Al-Muwa>faqa>t. Makalah Arwani Shaerazi: Para Pionir Kajian maqa>s}id al-shari>‘ah disampaikan pada forum Diskusi Digital Fahmina Institute Cirebon. Baca juga Abu Ishak Ibrahim bin Mu<sa, Ál-muwaffaqat, (Kairo, Da>r al-Fikr,790 H), 2-4{

14Maqa>s}id al-shari>‘ah,

tujuan utama syariah. Baca pula Abd. Fatah Wibisono dkk, Islam Rahmatan li al-‘Alami>n (Jakarta, Direktorat PAIS Kementerian Agama,2010), 68-126. Baca juga Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Mu<sa atau yang lebih dikenal dengan Imam Al-Shat}ibi< maqa<s}id al-shari<at} } Zuj 1, (Kairo, Da<r Al-Fikr, 790 H), 3-5

75

aktual tentang konsep jihad yang oleh sebagian pihak memiliki pemahaman berbeda dalam aplikasi di kehidupan. Dan hal tersebut perlu dijelaskan secara komprehensif kepada siswa oleh guru.

Menurut penulis Permendiknas No 22 tahun 2006 tentang Standar Isi yang berisi SK dan KD seluruh mata pelajaran termasuk mata pelajaran PAI, memiliki tujuan filosofis untuk mewujudkan tujuan Pendidikan Nasional. Standar Isi PAI semestinya menjabarkan dari maqa>s}id al-shari>‘ah ini. Sebagai contoh – penulis hanya mencontohkan SK-KD PAI untuk jenjang SMP, pada SK no 2: Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT melalui pemahaman sifat-sifat-Nya. SK ini diajarkan pada kelas VII semester I termasuk pada tema Aqidah. SK yang

memiliki empat KD15 yaitu: Pertama, membaca ayat-ayat Al-Quran yang

berkaitan dengan sifat-sifat Allah. Kedua, menyebutkan arti ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah SWT. Ketiga, menunjukkan tanda-tanda adanya Allah SWT dan Keempat, menampilkan perilaku sebagai cermin keyakinan akan sifat-sifat Allah SWT.

SK-KD tersebut memiliki nilai h}ifz} al-Di>n, karena berhubungan dengan memperkuat aqidah siswa. Penulis menyederhanakan pengertian h}ifz} al-di>n adalah menjaga agama dalam arti memahami pokok-pokok ajaran agama sehingga si penganut agama tersebut tidak akan terjebak dengan ajaran agama lain, namun tetap menghormati kepercayaan lain. SK – KD ini memiliki tujuan kompetensi yang harus di capai atau dikuasai oleh siswa adalah sebagai berikut: siswa bisa mengetahui dan membaca ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah sekaligus menyebut artinya, siswa juga bisa menunjukkan bukti adanya Allah. Dan bisa menampilkan perilaku seorang Muslim yang mencerminkan keimanan kepada Allah seperti memiliki keteguhan iman, memiliki sikap yang peduli terhadap lingkungan, tetangga dan berbagai perilaku terpuji lainnya.

15

Permendiknas No 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, khusus Mata pelajaran PAI untuk SMP.

76 Seorang guru PAI harus mengajarkan persoalan aqidah tersebut dalam kerangka menjaga agama/aqidah siswa. Dengan tetap memberikan ruang toleransi terhadap kepercayaan lain. Tidak mengembangkan faham yang salah dalam mengajarkan doktrin agama. SK-KD ini bersifat doktrinal, namun tetap harus disampaikan secara benar dan tepat, maksudnya bahwa aqidah Islam harus diakui sebagai basis ideologi keagamaan bagi umat Islam, namun tetap memberikan ruang dialog dengan siswa tentang persoalan yang krusial seperti makna jihad, konsepsi ketuhanan dan lainnya. Sebab materi aqidah ini menjadi dasar bagi siswa dalam menjalankan keimanannya. Keempat KD dari SK no. 2 di atas dalam pembelajarannya harus memperkuat h}ifz} al-di>n. Dan menanamkan perilaku keteguhan iman dan perilaku terpuji lainnya adalah menjadi bagian dari menjaga agama siswa.

Contoh lain pada SK 9 kelas IX tentang Memahami ajaran Hadits tentang

Kebersihan. Dengan tiga KD yang mengiringinya yaitu: Pertama, membaca

al-Hadits tentang kebersihan. Kedua, menyebutkan arti al-al-Hadits tentang kebersihan, dan ketiga, menampilkan perilaku bersih seperti dalam Al-Hadits.

SK-KD ini memiliki karakteristik untuk menjaga h}ifz} al-bi>ah (menjaga lingkungan hidup). Terkait dengan persoalan lingkungan, guru PAI tidak hanya mengajarkan hadits tentang kebersihan lalu siswa diminta menghafal hadits tersebut, namun KD-KD yang ada dalam SK tentang memahami ajaran hadits tentang kebersihan ini diarahkan kepada kesadaran lingkungan. Guru bisa meminta siswa untuk mencari problem lingkungan yang terjadi lalu dihubungkan dengan ajaran hadits tersebut.

Siswa bisa memotret problem bencana banjir, problem penanganan sampah, membandingkan kebersihan di pasar tradisional dengan supermarket dan problem-problem lainnya. Kemudian mereka menemukan akar masalah yang terjadi dan menemukan makna dari problem-problem tersebut. Ajaran Islam apa yang sebenarnya ditinggalkan oleh manusia sehingga terjadi bencana. Model pembelajaran ini adalah model pembelajaran masalah, dimana siswa menemukan

77 masalah atau kasus yang kemudian dihubungkan dengan SK-KD yang akan dicapai dalam pembelajaran. Jika dilakukan dengan cara ini, penanaman nilai tentang kesadaran lingkungan atau h}ifz} al-bi>ah bisa tertanam pada diri siswa. Selain itu dengan cara ini (problem based learning) siswa diajarkan bagaimana mereka melakukan komuniksai atau berhubungan dengan alam (habl min al- ‘Alam)

Dalam setiap SK dan KD memiliki kata kerja operasional yang jelas, seperti membaca hadits, menyebutkan arti hadits atau menampilkan perilaku yang sesuai dengan hadits. Kata kerja operasional ini sebagai ukuran untuk pencapaian kompetensi. Namun demikian, setiap SK dan KD memiliki karakteristik yang bisa dihubungkan dengan maqa>s}id al-shari>‘ah. Disinilah peran Guru PAI memahami Setiap SK dan KD untuk menghubungkannya dengan maqa>s}id al-shari>‘ah. Sehingga pembelajaran PAI benar-benar sebuah pembelajaran yang memberikan dampak perubahan karena adanya penanaman nilai melalui pemahaman terhadap maqa>s}id al-shari>‘ah ini.

Pendidikan Agama Islam memiliki basis tanggungjawab untuk menanamkan nilai. Penanaman nilai ini menjadi penting dalam kerangkan memberikan ruh kepada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai bagian untuk menjawab Permendikan No 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Permendiknas No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kelulusan dan Undang-Undang Sisdiknas No 20 tahun 2003. Penanaman nilai tersebut dilakukan selama proses pembelajaran di kelas dan di luar kelas oleh guru yang bersangkutan.

Selain karakter pembelajaran yang berbasis maqa>s}id al-shari>‘ah pembelajaran PAI juga harus melihat tujuan pembelajaran PAI yaitu menciptakan manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia. Secara aplikasi pembelajaran PAI memberikan tuntunan bagaimana melakukan hubungan dengan Allah (habl min Alla>h), bagaimana melakukan hubungan dengan manusia (habl min al-Na>s) dan bagaimana melakukan hubungan dengan alam sekitar (habl min

78

al-‘A<lam).16

Kualitas hubungan dengan tiga unsur ini menjadi ukuran keberhasilan Pendidikan Agama Islam.

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa Pendidikan Agama Islam secara obyektif memiliki tanggungjawab moral untuk menanamkan nilai atau akhlak karimah. Pendidikan Agama Islam menanamkan dua hal berkaitan dengan kehidupan manusia yaitu ”Iman dan Amal”.17 Menurut Zainuddin, agama terbagi menjadi dua: simbolik dan obyektif. Secara obyektif, agama memiliki peranan untuk membangun akhlakul karimah, yakni kontekstualisasi sikap dan perilaku kita pada tataran sosial dengan menyandarkan perilaku tersebut pada ajaran agama. Agama subyektif dan obyektif sama halnya dengan konsep iman dan amal. Iman bersifat personal tetapi amal merupakan aplikasi iman dalam kehidupan sosial. Iman menjadi landasan perilaku baik dalam konteks hubungan vertikal (habl min Alla>h) maupun hubungan horizontal (habl min al-Na>s wa habl min al-‘A<lam). Sementara yang dimaksud dengan agama simbolik adalah agama nisbi yang hadir karena tuntutan dari agama subyektif dan obyektif. Zainuddin mengibaratkan jika agama subyektif dan obyektif adalah ruh dan jiwa, maka agama simbolik adalah raganya. 18

Dari kerangka pemikiran hubungan vertikal (habl min Alla>h) maupun hubungan horisontal (habl min al-Na>s wa habl min al-‘A<lam) ini Pendidikan Agama Islam memiliki peran besar memperkuat maqa>s}id al-shari>‘ah dan

penanaman nilai akhlakul karimah.19 Artinya SK-KD pelajaran PAI diarahkan

tidak hanya untuk mencapai kompetensi yang diharuskan. Namun lebih jauh lagi 16

Baca juga Azyumardi Azra, Pendidikan Islam : Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, 4-5

17

M. Zainuddin MA, Kesalehan Normatif dan Kesalehan Sosial, (Jakarta: UIN Press, 2007), 60

18

M. Zainuddin MA, Kesalehan Normatif dan Kesalehan Sosial, 61.

19

Rumusan hasil keputusan seminar pendidikan Islam se Indonesia tanggal 07 sampai dengan 11 Mei 1960 di Cipayung, Bogor. “Tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan takwa dan akhlak serta menegakan kebenaran dalam rangka membentuk manusia berpribadi dan berbudi luhur menurut ajaran Islam.” Lihat juga Tujuan Pendidikan Nasional dalam UU Sisdiknas No 20 tahun 2003

79

kompetensi tersebut harus juga “meninggalkan jejak” perbaikan akhlak siswa. Dengan memperhatikan hubungan sosial - vertical dan horizontal menyangkut bagaimana membangun akhlak siswa dengan sesama manusia dan lingkungan, hubungan dengan Allah melalui SK-KD yang ada dalam pelajaran PAI.

Sebagai contoh SK-KD Kls VIII Semester I no 4 tentang: Menghindari perilaku tercela dengan KD-KD yang meliputi: Pertama, menjelaskan pengertian ana>niyah, ghad}ab, h}asad, ghi>bah, dan nami>mah. Kedua, menyebutkan contoh-contoh perilaku ana>niyah, ghad}ab, h}asad, ghi>bah, dan nami>mah. Ketiga, menghindari perilaku ana>niyah, ghad}ab, h}asad, ghi>bah, dan nami>mah dalam kehidupan sehari-hari.

SK-KD ini jelas mendasarkan kepada guru dan siswa bagaimana membangun sebuah komunikasi dengan sesama (habl min al-Na>s) yang baik. Inilah yang dimaksud PAI harus “meninggalkan jejak” perbaikan akhlak kepada

Dokumen terkait