BAB II URAIAN TEORITIS
E. Pengakuan Pendapatan dan Beban
Pengertian pengakuan menurut Harnanto (2002 : 26) adalah:
“Proses pencatatan secara formal suatu item yang untuk pada akhirnya akan disajikan sebagai suatu elemen di dalam laporan keuangan. Pengakuan meliputi baik pencatatan suatu item untuk pertama kalinya maupun setiap perubahan-perubahan yang terjadi di kemudian hari”.
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam Standar Akuntansi Keuangan (2007 : 15):
Pengakuan (recognition) merupakan proses pembentukan suatu pos yang memenuhi defenisi unsur serta kriteria pengakuan dalam neraca dan laba rugi. Pengakuan dilakukan dengan menyatakan pos tersebut baik dalam kata-kata maupun dalam jumlah uang dan mencantumkannya ke dalam neraca atau laba rugi. Pos yang memenuhi kriteria tersebut harus diakui dalam neraca atau laporan laba rugi. Kelalaian untuk mengakui pos semacam itu tidak dapat diralat melalui pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan maupun melalui catatan atau materi penjelasan.
Menurut Warren (2005 : 124) dasar pengakuan pendapatan atau revenue secara umum ada dua cara yaitu:
1. Dasar Kas (Cash Basis).
Pada dasar kas, pendapatan dan beban dilaporkan dalam laporan laba rugi pada periode dimana kas diterima atau dibayar. Misalnya, penghasilan dicatat ketika kas ditirima dari klien, dan upah dicatat ketika kas dibayarkan kepada karyawan. Laba (rugi) bersih merupakan selisih antara penerimaan kas (pendapatan) dan pengeluaran kas (beban).
2. Dasar Akrual (Accrual Basis).
Pasa dasar akrual, pendapatan dilaporkan dalam laporan laba rugi pada periode saat pendapatan tersebut dihasilkan (earned). Misalnya, pendapatan dilaporkan pada saat jasa diberikan kepada pelanggan tanpa melihat apakah kas telah diterima atau belum dari pelanggan selama periode ini.
Menurut Nafarin (2004 : 148) dasar akrual adalah "pendapatan diakui pada waktu diperoleh dan beban diakui pada waktu terutang. Dasar kas adalah pendapatan diakui pada waktu uang diterima dan beban diakui pada waktu dibayar".
Konsep yang mendukung pelaporan pendapatan ini disebut konsep pengakuan pendapatan (revenue recognition concept). Pada dasar akrual, beban dan pendapatan yang saling terkait dilaporkan pada periode yang sama. Sebagai contoh, upah karyawan dilaporkan sebagai beban pada periode dimana karyawan memberikan jasa dan bukan pada saat upah dibayarkan.
Menurut Dyckman, dkk (2000 : 237) ada empat kriteria yang harus dipenuhi sebelum suatu item dapat diakui yakni:
1. Defenisi
Item atau kejadian dalam pernyataan harus memenuhi defenisi slah satu dari tujuh unsur laporan keuangan (aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan, beban, keuntungan, atau kerugian)
2. Dapat diukur
Item atau kejadian tersebut harus memiliki atribut relevan yang dapat diukur secara andal, yaitu, karakteristik, sifat, atau aspek yang dapat dikuantifikasi dan diukur. Contohnya adalah biaya historis, biaya sekarang, nilai pasar, nilai bersih yang dapat direalisasi, dan nilai sekarang bersih.
3. Relevansi
Informasi mengenai item atau kejadian tersebut mampu membuat suatu perbedaan dalam keputusan pemakai.
4. Reliabilitas
Informasi mengenai item tersebut dapat digambarkan secara wajar,
dapat diuji, dan netral.
Menurut Sofyan (2000 : 59):
Suatu penghasilan akan diakui sebagai penghasilan pada periode kapan kegiatan utama yang perlu untuk menciptakan dan menjual barang dan jasa itu telah selesai.
Dalam waktu yang dimaksud di sini ada empat alternatif:
1. Selama produksi
2. Pada saat proses prosuksi selesai
3. Pada saat penjualan
4. Pada saat penagihan kas.
Keempat alternatif ini sama – sama dipakai dalam pengakuan pendapatan. Pengakuan pendapatan selama saat produksi berlangsung diterapkan pada proyek pembangunan jangka panjang. Pada saat selesainya produksi dapat diterapkan pada kegiatan pertanian atau pertambangan, pada saat penjualan dipakai untuk barang perdagangan, pada saat penagihan diterapkan pada metode penjualan angsuran.
Menurut Skousen, dkk (2001 : 207):
Pengakuan pendapatan tidak perlu terjadi ketika kas diterima. Kerangka konseptual mengidentifikasikan dua faktor yang seharusnya dipertimbangkan di dalam memutuskan kapan pendapatan dan keuntungan seharusnya diakui: realisasi dan proses laba. Pendapatan (revenue) dan keuntungan (gain) umumnya diakui ketika:
1. Direalisasikan atau dapat direalisasikan, dan
2. Diperoleh melalui penyelesaian substansial berbagai aktivitas yang
terlibat di dalam proses keuntungan (earning).
Pendapatan diakui apabila perusahaan yang menghasilkan pendapatan telah meyerahkan barang atau jasa yang dijanjikan kepada pelanggan dan ketika pelanggan telah melakukan pembayaran atau setidaknya memberikan janji pembayaran yang pasti atau dapat direalisasikan kepada perusahaan. Jadi perusahaan telah melaksanakan kesepakatan, dan konsumen mempunyai kemauan untuk membayar.
Untuk perusahaan yang lebih banyak memberikan jasa daripada produk, pengakuan pendapatan mengikuti prosedur yang sama dengan transaksi barang berwujud.
Menurut Dyckman, dkk (2001 : 269) empat metode pengakuan pendapatan untuk penjualan jasa adalah:
1. Metode kinerja khusus
Digunakan untuk pendapatan jasa yang dihasilkan dengan melakukan aksi tunggal. Sebagai contoh, makelar real estat menghasilkan pendapatan komisi penjualan atas penyelesaian suatu transaksi real estat; seorang dokter gigi menghasilkan pendapatan atau penyelesaian penambalan gigi.
2. Metode kinerja proporsional
Digunakan untuk mengakui pendapatan jasa yang dihasilkan oleh lebih dari aksi tunggal dan hanya ketika jasa melebihi satu periode akuntansi. Dalam metode ini pendapatan diakui berdasarkan kinerja propolsional setiap tindakan. Metode kinerja proporsional dari akuntansi untuk pendapatan jasa sama dengan metode persentase penyelesaian.
3. Metode kinerja selesai
Digunakan untuk mengakui pendapatan jasa yang dihasilkan dengan melakukan serangkaian tindakan di mana yang terakhir sangat penting dalam hubungannya dengan total transaksi jasa di mana pendapatan jasa dianggap telah dihasilkan hanya setelah tindakan terakhir terjadi. Misalnya, perusahaan ekspedisi
menghasilkan pendapatan jasa hanya setelah pengiriman barang, meskipun pengepakan barang, dan transportasi mendahului pengiriman. Metode ini serupa dengan metode kontrak selesai, yang digunakan untuk kontrak jangka panjang.
4. Metode penagihan
Digunakan untuk pendapatan jasa ketika ketidakpastian penagihan sangat tinggi atau estimasi beban yang terkait dengan pendapatan tidak dapat dipercaya sehingga persyaratan reliabilitas tidak dipenuhi. Pendapatan diakui hanya ketika kas diperoleh. Metode ini serupa dengan metode pemulihan biaya yang digunakan untuk penjualan produk.
Menurut Skousen, dkk (2009 : 206) beban (expense) merupakan "arus ke luar atau pemakaian aktiva sebuah entitas atau pengadaan utang atau kombinasi dari keduanya dari pengantaran atau penghasilan barang, pemberian pelayanan, atau melakukan aktivitas yang membentuk operasi pokok atau sentral entitas yang terus berlangsung".
Setelah pendapatan dari periode akuntansi diakui sesuai dengan prinsip pendapatan, prinsip penandingan diterapkan untuk mendukung pelaporan pendapatan dan beban terkait pada periode yang sama.
Prinsip penandingan mewajibkan bahwa jika pendapatan ditentukan sesuai dengan prinsip pendapatan untuk beberapa periode pelaporan, beban yang terjadi dalam menghasilkan pendapatan harus diakui pada periode tersebut. Dasar dari prinsip penandingan adalah ketika pendapatan dihasilkan, aktiva tertentu dikonsumsi seperti perlengkapan atau dijual seperti persediaan, dan jasa digunakan seperti usaha pekerja. Harga pokok aktiva dan jasa yang digunakan harus diakui dan dilaporkan sebagai beban periode selama pendapatan terkait diakui.
Menurut Skousen, dkk (2001 : 210) pengakuan beban dibagi menjadi tiga kategori:
1. Pencocokan langsung (direct matching)
Pembiayaan berhubungan dengan pendapatan khusus sering ditunjukkan sebagai proses pencocokan (matching). Sebagai contoh, harga pokok penjualan jelas merupakan biaya langsung yang dapat dicocokkan dengan pendapatan yang dihasilkan oleh penjualan barang dan dilaporkan di dalam periode waktu yang sama ketika pendapatan diakui. Sama halnya, biaya pengiriman dan komisi penjualan biasanya berhubungan secara langsung dengan pendapatan.
2. Alokasi sistematis dan rasional.
Kategori pengakuan beban umum kedua melibatkan aktiva yang menguntungkan dari satu periode akuntansi. Biaya aktiva semacam bangunan, peralatan, paten dan asuransi dibayar di muka tersebar sepanjang periode keuntungan yang diharapkan pada beberapa cara sistematik dan rasional. Pada umumnya, adalah sulit untuk menghubungkan biaya ini secara langsung dengan pendapatan khusu atau dengan periode khusus, namun jelas bahwa hal ini perlu jika pendapatan diperoleh. Contoh beban yang dimasukkan di dalam kategori ini adalah depresiasi dan amortisasi.
3. Pengakuan segera
Banyak biaya yang tidak berhubugan dengan pendapatan khusus namun terjadi untuk mendapatkan barang dan jasa yang secara tidak langsung membantu menghasilkan pendapatan. Karena barang dan jasa ini digunakan sangat segera, biaya diakui sebagai beban di dalam periode akuisisi. Contoh meliputi sebagian besar biaya administrasi seperti gaji kantor, utilitas dan periklanan umum serta biaya penjualan.