UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM S-1 EKSTENSI MEDAN
SKRIPSI
PENGAKUAN PENDAPATAN DAN BEBAN PADA RUMAH SAKIT UMUM Dr. PIRNGADI MEDAN
OLEH
NAMA : KAROLINA NAPITUPULU
NIM : 080522183
DEPARTEMEN : AKUNTANSI
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
PERNYATAAN
Dengan ini penulis menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “ Pengakuan
Pendapatan dan Beban pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan” adalah
benar hasil karya penulis. Judul yang dimaksud belum pernah dibuat,
dipublikasikan atau diteliti oleh mahasiswa lain dalam konteks penulisan skripsi
level Program S-1 Ekstensi Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas
Sumatera Utara. Semua sumber data yang diperoleh, telah dinyatakan dengan
jelas, benar apa adanya. Apabila di kemudian hari pernyataan ini tidak benar,
penulis bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Program S-1 Ekstensi
Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Medan, 07 Januari 2011
Penulis,
KATA PENGANTAR
Segala hormat, puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang
Maha Kuasa, untuk setiap kasih dan kebaikannya yang telah menyertai dan
memampukan Penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
Penulis skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat dalam
menyelesaikan pendidikan pada Universitas Sumatera Utara untuk memperoleh
gelar Sarjana Ekonomi. Adapun skripsi ini berjudul “ Pengakuan Pendapatan dan
Beban pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan”.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis menerima saran yang
membangun dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini.
Dalam penulisan skripsi ini Penulis mendapatkan banyak bimbingan,
bantuan serta dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini
penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec., selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Hasan Sakti Siregar, M.Si, Ak., selaku Ketua Departemen
Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara dan Ibu Dra.
Mutia Ismail, M.M, Ak., selaku Sekretaris Departemen Akuntansi Fakultas
3. Bapak Drs. Sucipto, MM, Ak., selaku Dosen Pembimbing yang telah
memberikan banyak bimbingan dan mengarahkan dalam penyusunan serta
penyelesaian skripsi ini.
4. Ibu Dra. Salbiah, M.Si, Ak., selaku Dosen Pembanding/ Penguji I dan
Bapak Drs. Chairul Nazwar, M.Si, Ak., selaku Dosen Pembanding/ Penguji
II yang telah memberikan banyak arahan dalam penyusunan skripsi ini.
5. Bapak Pimpinan serta seluruh staff Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan
yang telah banyak membantu Penulis khususnya dalam penyediaan data.
6. Kedua orang tua saya tercinta, Bapak A. Napitupulu dan Ibu M. Sembiring
serta abang-abang saya untuk semua perhatian dan dukungan doanya.
7. Kepada teman-temanku, khususnya buat JonSmith yang banyak membantu,
meluangkan waktu dan memberi dukungan, buat sahabatku Lilis, Panahatan,
Maya, Dian, Hermini untuk semua perhatian dan dukungan doanya.
8. Kepada semua pihak yang telah membantu Penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat
Penulis sebutkan satu persatu.
Medan, 07 Januari 2011
Penulis,
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Pengakuan Pendapatan dan Beban yang diterapkan oleh Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan sudah sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yang menggunakan data primer seperti hasil wawancara dengan pihak rumah sakit dan data sekunder seperti struktur organisasi serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan pendapatan dan beban. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengakuan pendapatan dan beban pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan menggunakan cash basis. Berdasarkan hasil penelitian ini pengakuan pendapatan dan beban pada rumah sakit ini belum tepat dan prosedur yang diterapkan belum sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan.
Kata Kunci: Pengakuan Pendapatan dan Beban
ABSTRACT
Purpose of this study was determine whether the recognition of revenues and expenses implementation by Dr. Pirngadi General Hospital Medan are in accordance with Financial Accounting Standards. Descriptive type of research conducted using primary data like the results of interviews with the hospital and secondary data such as organizational structure and documents relating to revenue and expenses. Data collection techniques used were interview techniques, observation, and documentation. Data analysis methods used were descriptive and comparative methods. The result showed that the recognition of revenues and expenses at the Dr. Pirngadi General Hospital Medan using the cash basis. Based on the results of this study the recognition of revenues and expenses at the hospital was not appropriate and the procedure is not applied according to The Statement of Financial Accounting Standards.
DAFTAR ISI
PERNYATAAN………..i
KATA PENGANTAR………ii
ABSTRAK……….iv
ABSTRACT………v
DAFTAR ISI………..vi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Perumusan Masalah ... 4
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 4
D. Metode Penelitian ... 5
BAB II URAIAN TEORITIS A. Pengertian Pendapatan ... 7
B. Jenis – jenis Pendapatan ... 8
C. Pengertian Beban ... 10
D. Jenis jenis Beban ... 12
E. Pengakuan Pendapatan dan Beban ... 20
BAB III RUMAH SAKIT UMUM Dr. PIRNGADI MEDAN A. Gambaran Umum Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan ... 26
2. Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum
Dr. Pirngadi Medan ... 31
3. Tugas dan Fungsi Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan……. 33
4. Visi dan Misi Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan ... 34
B. Jenis-jenis Pendapatan pada Rumah Sakit Umum
Dr. Pirngadi Medan ... 36
C. Jenis-jenis Beban pada Rumah Sakit Umum
Dr. Pirngadi Medan ... 38
D. Pengakuan Pendapatan dan Beban pada Rumah Sakit Umum
Dr. Pirngadi Medan ... 40
BAB IV ANALISIS HASIL DAN EVALUASI
A. Analisis dan Evaluasi Jenis-jenis Pendapatan dan Beban pada
Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan ... 43
B. Analisis dan Evaluasi Pengakuan Pendapatan dan Beban pada
Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan ... 44
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... 48
B. Saran ... 49
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Pengakuan Pendapatan dan Beban yang diterapkan oleh Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan sudah sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yang menggunakan data primer seperti hasil wawancara dengan pihak rumah sakit dan data sekunder seperti struktur organisasi serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan pendapatan dan beban. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengakuan pendapatan dan beban pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan menggunakan cash basis. Berdasarkan hasil penelitian ini pengakuan pendapatan dan beban pada rumah sakit ini belum tepat dan prosedur yang diterapkan belum sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan.
Kata Kunci: Pengakuan Pendapatan dan Beban
ABSTRACT
Purpose of this study was determine whether the recognition of revenues and expenses implementation by Dr. Pirngadi General Hospital Medan are in accordance with Financial Accounting Standards. Descriptive type of research conducted using primary data like the results of interviews with the hospital and secondary data such as organizational structure and documents relating to revenue and expenses. Data collection techniques used were interview techniques, observation, and documentation. Data analysis methods used were descriptive and comparative methods. The result showed that the recognition of revenues and expenses at the Dr. Pirngadi General Hospital Medan using the cash basis. Based on the results of this study the recognition of revenues and expenses at the hospital was not appropriate and the procedure is not applied according to The Statement of Financial Accounting Standards.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejalan dengan perkembangan perekonomian yang sangat pesat, maka
peranan akuntansi sebagai alat bantu untuk mengkomunikasikan informasi
mengenai transaksi keuangan yang terjadi dewasa ini menjadi semakin besar.
Telah kita ketahui bahwa setiap perusahaan harus menyusun laporan keuangan,
karena laporan keuangan yang disusun oleh setiap perusahaan memberikan
informasi keuangan yang dibutuhkan oleh pemakai, yaitu pihak intern maupun
ekstern perusahaan.
Setiap individu maupun organisasi memiliki tujuan yang mendasar.
Secara umum yang dimaksudkan dengan tujuan adalah segala sesuatu yang dicari
diinginkan, serta yang dibutuhkan untuk dicapai baik individu maupun organisasi.
Perkembangan perusahaan saat ini sangat pesat. Hal ini dapat dilihat dari semakin
banyaknya perusahaan yang baru muncul dan adanya peningkatan dari usaha yang
dulunya kecil dan sekarang semakin besar. Pada dasarnya usaha yang dijalankan
ini bertujuan mendapatkan laba semaksimal mungkin agar kelangsungan usahanya
dapat berjalan terus.
Demikian pula halnya dengan perusahaan jasa yang memberikan
pelayanan dalam bentuk jasa. Laba yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh
karena pendapatan merupakan hasil yang diperoleh dari kegiatan usaha,
sedangkan beban merupakan suatu alat yang digunakan untuk memperoleh
pendapatan. Pada prinsipnya besarnya pendapatan yang diperoleh dan banyaknya
beban antara suatu perusahaan dengan perusahaan lain adalah berbeda-beda.
Tujuan pendirian perusahaan yang paling mendasar pada umumnya
diklasifikasikan dalam tiga kelompok besar yaitu: memperoleh laba, pertumbuhan
dan kelangsungan hidup, serta keharmonisan terhadap lingkungan dan masyarakat
dalam arti luas. Pendapatan maksimal merupakan tujuan yang sangat penting dan
harus dicapai. Hal ini disebabkan pendapatan yang mendorong aktivitas dari
kegiatan di perusahaan dan dengan perantaraannya kelangsungan hidup dan
pertumbuhan perusahaan akan dicapai. Untuk mencapai tujuan tersebut
perusahaan akan mendayagunakan seluruh sumber daya yang dimiliki perusahaan
secara efektif dan efisien.
Pada perusahaan dagang kegiatan utamanya untuk menjual barang
dagangan, sedangkan pada perusahaan jasa kegiatan utamanya untuk menjual
berbagai kemudahan-kemudahan bagi pemakai. Kemudahan yang dimaksudkan
adalah sesuatu yang dinikmati oleh pemakai sebagai ganti dari pekerjaan yang
seharusnya dilakukan sendiri. Kemudahan tersebut dapat berupa fasilitas
perlengkapan dan tenaga kerja yang memudahkan perkerjaan yang akan
dilaksanakan. Pada masa sekarang ini perusahaan yang bergerak dibidang jasa
Secara umum, laba merupakan selisih antara keseluruhan pendapatan
dan beban suatu perusahaan dalam periode tertentu. Dengan kata lain, pendapatan
dan beban merupakan unsur penting dalam menyajikan informasi laporan laba
rugi. Oleh sebab itu diperlukan adanya pengakuan yang tepat dalam unsur
pendapatan dan beban.
Dalam menentukan pengakuan pendapatan dan beban sering menjadi
masalah. Pengakuan dilakukan dengan mencatat dan mencantumkan pendapatan
dan beban dalam laporan laba rugi. Pengakuan perlu dilakukan pada saat yang
tepat atas suatu kejadian ekonomi yang menghasilkan pendapatan dan beban. Bila
pendapatan maupun beban yang diakui tidak sama dengan yang seharusnya, maka
informasi yang disajikan dalam laporan laba rugi menjadi tidak tepat dan dapat
menyebabkan kesalahan dalam pengambilan keputusan oleh para pemakainya.
Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan adalah salah satu contoh
perusahaan yang bergerak di bidang jasa yaitu pelayanan di bidang medis yang
dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Adapun yang menjadi sumber
pendapatan pada rumah sakit ini adalah pendapatan dari rawat jalan, pendapatan
dari rawat inap dan pendapatan lain – lain. Pengakuan pendapatan dilakukan
setelah rumah sakit memberikan pelayanan jasa kepada pasiennya dengan
memandang saat penerimaan kas, jadi bersifat cash basic dimana tidak terdapat
pisah batas (cut off) pendapatan pada akhir tahun. Tentu hal ini dapat
mengakibatkan terjadinya under / over state laba, sehingga informasi yang
disajikan dalam laporannya tidak wajar dan dapat menyebabkan kesalahan dalam
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk membahas dan
memilih judul "Pengakuan Pendapatan dan Beban Pada Rumah Sakit Umum
Dr. Pirngadi Medan".
B. Perumusan Masalah
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, setiap perusahaan pastilah
menghadapi berbagai masalah ataupun hambatan, dan permasalahan itu selalu
berbeda antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya. Hal ini
tergantung pada kegiatan dan jenis usaha yang dijalankan oleh suatu perusahaan.
Berdasarkan penelitian pendahuluan yang telah dilakukan sebelumnya,
maka penulis mencoba merumuskan masalah pada Rumah Sakit Umum Dr.
Pirngadi yaitu "Apakah Pengakuan Pendapatan dan Beban pada Rumah Sakit
Umum Dr. Pirngadi Medan telah sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan?".
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penulis dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah
pengakuan pendapatan dan beban pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan
telah sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang ingin diperoleh dari penelitian ini ditujukan bagi:
1. Penulis, melalui penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman
2. Rumah Sakit Dr. Pirngadi Medan, sebagai bahan pertimbangan atau
masukan atas praktek yang telah dilaksanakan perusahaan selama ini
dengan teori-teori dan perkembangan ilmu pengetahuan yang ada,
khususnya mengenai pengakuan pendapatan dan beban.
3. Lingkungan akademis, sebagai bahan referensi bagi yang berminat
melakukan penelitian menyangkut masalah pengakuan pendapatan dan
beban.
D. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian yang dilakukan berupa studi deskriptif yang menguraikan
tentang sifat – sifat dan keadaan yang sebenarnya dari suatu objek penelitian
pada saat penelitian sedang dilakukan.
2. Jenis Data
a. Data primer, merupakan data yang secara langsung diperoleh dari
perusahaan, baik melalui teknik wawancara maupun observasi yang
kemudian akan diolah lebih lanjut oleh penulis. Misalnya melakukan
tanya jawab langsung kepada pihak perusahaan.
b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari perusahaan sebagai
objek penelitian yang sudah diolah dan terdokumentasi di
3. Teknik dan Pengumpulan Data
a. Teknik observasi, yaitu dilakukan dengan pengamatan langsung
terhadap objek penelitian, dalam hal ini pengakuan pendapatan dan
beban pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan.
b. Teknik wawancara, yaitu melakukan tanya jawab dan diskusi secara
langsung dengan beberapa pihak yang berkompeten dan berwenang
dalam memberikan data yang dibutuhkan.
c. Teknik dokumentasi, yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari
dokumen – dokumen internal perusahaan yang terkait dengan
lingkup penelitian ini.
4. Metode Analisis Data
Penulis melakukan analisis data dengan metode deskriptif dan metode
komparatif:
a. Metode analisis data yang dikumpulkan penulis menggunakan
metode deskriptif analisis yakni metode dimana data dikumpulkan,
disusun, diinterpretasikan, dianalisis, sehingga memberikan
keterangan yang lengkap bagi pemecahan masalah yang dihadapi.
b. Metode komparatif merupakan metode analitis data yang dilakukan
dengan membandingkan metode yang diterapkan perusahaan
dengan Standar Akuntansi Keuangan kemudian mengambil
kesimpulan-kesimpulan untuk selanjutnya memberikan saran-saran
BAB II URAIAN TEORITIS
A. Pengertian Pendapatan
Menurut Warren (2005 : 63) pendapatan (revenue) adalah “peningkatan
ekuitas pemilik yang diakibatkan oleh proses penjualan barang atau jasa kepada
pembeli”. Contoh pendapatan adalah pendapatan jasa atau fee, pendapatan sewa,
dan pendapatan komisi”
Menurut Skousen, dkk (2001 : 206):
”Pendapatan (revenue) merupakan arus masuk atau peningkatan aktiva lainnya
sebuah entitas atau pembentukan utangnya atau sebuah kombinasi dari keduanya
dari pengantaran barang atau penghasilan barang, memberikan pelayanan atau
melakukan aktivitas lain yang membentuk operasi pokok atau sentral entitas yang
terus berlangsung”.
Menurut Soemarsono (2004 : 230) pendapatan adalah:
Peningkatan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi tertentu dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal. Peningkatan jumlah aktiva atau penurunan kewajiban dapat berasal dari penyerahan barang / jasa atau aktivitas usaha lainnya dalam satu periode.
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam Standar Akuntansi Keuangan
(2007 : 23.6) pendapatan adalah :
“Arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal
perusahaan selama satu periode bila arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan
ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal”.
Berdasarkan kutipan di atas diketahui bahwa pendapatan terdiri dari
arus masuk bruto dan manfaat ekonomi yang diterima dan bukan berasal dari
pinjaman atau pertambahan ekuitas. Dengan demikian jumlah yang dapat ditagih
atas nama pihak ketiga, seperti PPN bukan merupakan manfaat ekonomi yang
mengalir ke perusahaan dan tidak mengakibatkan kenaikan ekuitas atau jumlah
kepemilikan atas perusahaan tersebut dan oleh karena itu harus dikeluarkan dari
perkiraan pendapatan. Pendapatan yang diperoleh akan mengakibatkan aktiva
bertambah atau hutang berkurang. Pertambahan pendapatan mengakibatkan
pertambahan aktiva akan tetapi bukan mengakibatkan pertambahan modal.
B. Jenis - jenis Pendapatan
Pada dasarnya pendapatan itu timbul dari penjualan barang atau
penyerahan jasa kepada pihak lain dalam periode akuntansi tertentu. Pendapatan
dapat timbul dari penjualan, proses produksi, pemberian jasa, termasuk
pengangkutan dan proses penyimpanan (earning process). Dalam perusahaan
dagang, pendapatan timbul dari penjualan barang dagang. Pada perusahaan
Sedangkan untuk perusahaan jasa, pendapatan diperoleh dari penyerahan jasa
kepada pihak lain.
Menurut Suwardjono (2007 : 81) dalam kaitannya dengan operasi
perusahaan yang utama, pendapatan diklasifikasikan menjadi
komponen sebagai berikut:
1. Pendapatan Operasi
Pendapatan operasi adalah pendapatan yang diperoleh perusahaan dari kegiatan utama atau yang menjadi tujuan utama perusahaan. Nama pendapatan operasi ini dipengaruhi oleh jenis usaha perusahaan. Untuk perusahaan jasa nama pendapatan disesuaikan dengan bidang usaha perusahaan tersebut. Misalnya, perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa angkutan akan menamakan pendapatannya dengan pendapatan angkutan. Untuk perusahaan perdangangan atau pemanufakturan, yang memperoleh pendapatannya dari menjual barang atau produk, pendapatan operasinya disebut dengan penjualan (sales revenues).
2. Pendapatan Nonoperasi
Pendapatan nonoperasi adalah pendapatan selain yang diperoleh dari kegiatan utama perusahaan yang sifatnya incidental atau yang tidak secara langsung berkaitan dengan kegiatan utama perusahaan. Pendapatan ini sering disebut dengan pendapatan lain-lain dan untung (other revenues and gains). Contoh pos yang termasuk dalam pendapatan nonoperasi antara lain: pendapatan bunga, pendapatan dividen, untung penjualan aktiva tetap, dan untung penjualan aktiva investasi.
3. Untung Luar Biasa
C. Pengertian Beban
Menurut Warren (2005 : 63) beban (expenses) dapat diartikan sebagai
"aktiva atau jasa yang digunakan dalam menghasilkan pendapatan".
Contoh-contoh beban melipiti beban upah, beban sewa, beban perlengkapan, beban
utilitas, dan beban rupa-rupa”.
Menurut Dyckman, dkk (2000 : 234) beban (expenses) adalah:
“Arus keluar atau penggunaan aktiva lainnya atau terjadinya suatu kewajiban
atau kombinasi keduanya selama satu periode dari pengiriman atau prosuksi
barang, pemberian jasa, atau pelaksanaan kegiatan lainnya yang merupakan
operasi utama atau sentral entitas yang sedang berlangsung”.
Beban menyatakan adanya arus kas keluar atau berkurangnya aktiva
seperti kas atau setara kas, persediaan, dan aktiva tetap yang terjadi sebagai akibat
dari operasi yang berkesinambungan dari perusahaan. Aktiva yang keluar dan
timbulnya hutang terjadi disebabkan berbagai sebab, misalnya penyerahan unit
produksi, penggunaan jasa tenaga kerja, pemakaian listrik, dan sebagainya.
Pada intinya beban merupakan arus keluar sumber daya yang berasal
dari kegiatan operasi perusahaan yang umumnya diakibatkan penyelesaian
pertukaran ekonomi. Pengeluaran beban mengakibatkan ekuitas pemilik menurun.
Dari sisi persamaan akuntansi, dengan asumsi bahwa kewajiban tidak mengalami
peningkatan, maka ekuitas pemilik akan menurun untuk mengimbangi penurunan
Menurut Soemarsono (2004 : 234):
Beban adalah penurunan modal bruto, sehubungan dengan kegiatan usaha perusahaan. Penurunan modal bruto dapat terjadi melalui penurunan aktiva atau kenaikan kewajiban. Penentuan beban-beban mana yang harus dimasukkan dan dicatat dalam suatu periode harus didasarkan atas konsep bahwa beban dikeluarkan atau terjadi dalam rangka memperoleh pendapatan. Konsep lain, beban terjadi karena suatu pengeluaran sudah tidak memberikan manfaat ekonomus untuk kegiatan masa berikutnya. Dengan kata lain beban harus dihubungkan dengan usaha memperoleh pendapatan.
Berdasarkan defenisinya, suatu beban akan dicatat dan dilaporkan pada
saat barang atau jasa yang bersangkutan dipakai atau digunakan dalam proses
memperoleh pendapatan.
Menurut Soemarsono (2004 : 235) terdapat dua macam cara untuk
mencatat dan melaporkan beban yang terjadi yaitu:
1. Menghubungkan dengan barang atau jasa yang merupakan sumber
pendapatan
Beberapa beban tertentu mempunyai hubungan langsung dengan barang atau jasa yang merupakan sumber pendapatan. Contoh beban macam ini adalah Harga Pokok Penjualan.
2. Menghubungkan dengan berlalunya waktu
Kadang-kadang suatu beban tidak dapat dihubungkan langsung dengan barang atau jasa yang merupakan sumber pendapatan. Sebagian besar beban administrasi dan umum serta beban-beban penjualan termasuk dalam kategori ini. Dalam keadaan demikian pencatatan beban dihubungakan dengan berlalunya waktu.
Pencatatan beban berdasarkan berlalunya waktu dapat dilakukan:
a. Langsung pada saat terjadinya atau
b. Melalui alokasi tertentu.
Beban sering kali disamakan dengan biaya (cost). Namun sebenarnya
terdapat perbedaan diantara keduanya. Biaya adalah pengeluaran yang belum
Sedangkan beban adalah pengeluaran yang sudah habis masa manfaatnya dan
sudah seluruhnya dibebankan pada periode berjalan.
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2007 : 14,78)
Defenisi beban mencakup baik kerugian maupun beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa. Beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang bisa meliputi, misalnya, beban pokok penjualan, gaji dan penyusutan. Beban tersebut biasanya berbentuk arus keluar atau berkurangnya aset seperti kas dan setara kas. persediaan, dan aset tetap.
D. Jenis – jenis Beban
Beban merupakan arus keluar atau berkurangnya harta perusahaan,
tetapi penurunan itu bukan disebabkan oleh pembagian kepada pemilik modal.
Beban umumnya muncul dari penjualan, proses produksi, penyerahan jasa
ataupun kegiatan lainnya yang merupakan operasi normal perusahaan dalam
periode tertentu.
Menurut Dyckman, dkk (2000 : 272) beban dapat diklasifikasikan
dalam tiga kategori:
1. Beban langsung adalah beban, seperti harga pokok penjualan, yang
dikaitkan langsung dengan pendapatan. Beban ini diakui berdasarkan pengakuan pendapatan yang dihasilkan secara langsung dan bersama-sama dari transaksi atau kejadian serupa lainnya sebagai beban.
2. Beban periodik adalah beban seperti beban gaji bagian penjualan
dan administrasi, yang tidak dikaitkan secara langsung terhadap pendapatan. Beban-beban ini diakui selama periode di mana kas dikeluarkan atau kewajiban terjadi untuk barang dan jasa yang digunakan secara serentak pada perolehan atau kemudian
3. Beban alokasi adalah beban seperti penyusutan dan asuransi.
Menurut Dyckman, dkk (2000 : 272) beban yang secara langsung
berkaitan dengan penjualan produk selama periode berjalan biasanya
termasuk:
1. Biaya bahan dan tenaga kerja untuk pabrikan, atau biaya untuk
membeli persediaan yang dijual selama periode tersebut misalnya, harga pokok penjualan.
2. Beban penjualan, seperti komisi penjualan, gaji, sewa, dan biaya
pengiriman.
3. Beban garansi atas produk-produk yang terjual.
Menurut prinsip penandingan, biaya- biaya ini harus diakui sebagai
beban selama periode pelaporan di mana pendapatan penjualan yang terkait
diakui. Beberapa beban memiliki hubungan dengan pendapatan penjualan yang
kurang jelas. Misalnya, pengeluaran iklan serta penelitian dan pengembangan
dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pemasaran produk perusahaan, tetapi
sulit untuk menentukan hubungan sebab akibat yang langsung antara beban
tersebut dan pendapatan tertentu. Alokasi biaya seperti ini adalah subyektif
sehingga mewajibkan biaya – biaya ini dibebankan ketika terjadi.
Menurut Dyckman, dkk (2000 : 273) beban yang secara langsung
berkaitan dengan penjualan jasa secara langsung dapat diklasifikasikan:
1. Biaya langsung awal adalah terkait langsung dengan transaksi jasa
negosiasi dan penyempurnaan. Biaya – biaya ini termasuk komisi, honorarium hukum, kompensasi tenaga penjualan di samping komisi, dan kompensasi karyawan nonpenjualan yang dapat diterapkan pada transaksi jasa negosiasi dan penyempurnaan.
2. Biaya langsung memiliki sebab akibat yang dapat diidentifikasikan
Semua biaya langsung awal dan biaya langsung harus diakui sebagai
beban selama periode di mana pendapatan jasa terkait diakui dengan metode
kinerja khusus dan kinerja selesai untuk penandingan yang sesuai antara
pendapatan dan beban. Demikian juga biaya langsung awal dan biaya langsung
yang terjadi sebelum pengakuan pendapatan dari kinerja jasa harus ditangguhkan
sebagai pembayaran di muka dan dibebankan ketika pendapatan jasa terkait
diakui.
Dengan metode kinerja proporsional, biaya langsung awal harus dicatat
sebagai beban ketika pendapatan jasa diakui. Namun, biaya langsung harus
dibebankan ketika terjadi karena korelasi yang tinggi antara jumlah biaya
langsung yang terjadi dan pendapatan jasa yang diakui dalam metode ini. Dengan
metode penagihan, semua biaya langsung awal dan biaya langsung harus
dibebankan ketika terjadi.
Beban yang tidak berhubungan secara langsung dengan penjualan
produk atau jasa adalah beban periode dan beban alokasi. Contohnya mencakup
jenis tertentu dari beban iklan, kompensasi atas waktu yang tersita dalam
menegosiasikan transaksi yang tidak disempurnakan, dan beban administrasi
umum, beban penyusutan, dan beban amortisasi. Dengan tidak ada dasar obyektif
untuk menghubungkan beban periode terhadap produk atau pendapatan penjualan
jasa periode tersebut, biaya – biaya ini harus dibebankan ketika mereka terjadi.
Hal yang sama juga benar untuk beban alokasi, yang dibebankan ke periode
Pada perusahaan jasa, perusahaan dagang dan perusahaan industri
terdapat beban yang berbeda-beda sesuai dengan jenis perusahaannya.
Beban yang terdapat pada perusahaan jasa seperti:
- Beban gaji
- Beban sewa
- Beban listrik, air, dan telepon
- Beban perlengkapan
- Beban penyusutan,
- Beban asuransi
- Beban iklan
- Beban bunga
- Beban lain-lain.
Beban yang terdapat pada perusahaan dagang seperti:
a. Beban penjualan
- Beban gaji bagian penjualan
- Beban penyusutan peralatan bagian penjualan
- Beban air, listrik, telepon bagian penjualan
b. Beban administrasi dan umum
- Beban gaji bagian kantor
- Beban penyusutan peralatan bagian kantor
c. Beban lain-lain.
- Beban bunga
- Rugi penjualan aktiva tetap.
Beban yang terdapat pada perusahaan industri seperti:
a. Biaya pablikasi, adalah jumlah dari tiga unsur biaya yaitu:
- Bahan langsung, yaitu
- Tenanga kerja langsung
- Overhead pabrik.
b. Biaya komersil
Bahan langsung + tenaga kerja langsung = biaya utama
Bahan tidak langsung + tenaga kerja tidak langsung + biaya tidak langsung
lainnya = biaya overhead pabrik
Biaya utama + biaya overhead pabrik = biaya pabrikasi
Bahan tidak langsung meliputi:
- Pembelian pabrik
- Miyak pelumas
Tenaga kerja langsung meliputi:
- Supervisor
- Pengawasan
- Pemeriksaan
- Hasil kerja yang rusak
Biaya tidak langsung lainnya meliputi:
- Sewa
- Asuransi kebakaran
- Penyusutan
- Pemeliharaan
- Penerangan
- Pemanasan
- Overhead pabrik lainnya.
Biaya pemasaran + biaya administrasi = biaya komersial
Biaya pemasaran meliputi:
- Gaji penjualan
- Komisi staf penjualan
- Iklan/reklame
- Ongkos pemasaran
- Beban pemasaran lainnya
Biaya admistrasi meliput i:
- Gaji pegawai admistrasi dan kantor
- Penyusutan
- Pajak bumi dan bangunan
- Piutang yang tak tertagih
- Biaya adminstrasi lainnya
Dalam Lingkungan Akuntansi Pemerintahan terdapat ciri-ciri utama
struktur pemerintahan dan pelayanan yang diberikan yaitu:
1. Bentuk umum pemerintahan dan pemisahan kekuasaan
2. Sistem pemerintahan otonomi dan transfer pendapatan antar pemerintah
3. Adanya pengaruh proses politik
4. Hubungan antara pembayaran pajak dengan pelayanan pemerintah
Ciri keuangan pemerintah yang penting bagi pengendalian dalam
lingkungan akuntansi pemerintah meliputi:
1. Anggaran sebagai pernyataan kebijakan publik, target fiskal, dan sebagai
alat pengendalian
2. Investasi dalam aset yang tidak langsung menghasilkan pendapatan
3. Kemungkinan penggunaan akuntansi dana untuk tujuan pengendalian.
Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan dalam Lingkungan
Akuntansi Pemerintahan yaitu:
1. Relevan
2. Andal
3. Dapat dibandingkan
4. Dapat dipahami.
Salah satu unsur laporan keuangan dalam Standar Akuntansi
Pemerintahan adalah laporan realisasi anggaran. Laporan realisasi anggaran
menyediakan informasi mengenai realisasi pendapatan, belanja, dan pembiayaan
Informasi Laporan Realisasi Anggaran digunakan dalam memprediksi sumber
daya ekonomi yang akan diterima untuk mendanai kegiatan pemerintah pusat dan
daerah. Informasi tambahan, termasuk informasi nonkeuangan, yang terkait
dengan Laporan Realisasi Anggaran disajikan dalam Nota Perhitungan
APBD/APBD yang merupakan bagian dari catatan atas laporan keuangan.
Komponen yang dicakup secara langsung oleh Laporan Realisasi Anggaran
meliputi unsur pendapatan, belanja, dan pembiayaan.
Pendapatan adalah semua penerimaan kas umum negara/kas daerah
yang menambah ekuitas dana dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang
menjadi hak pemerintah pusat/daerah, yang tidak perlu dibayar kembali oleh
pemerintah pusat/daerah.
Belanja adalah semua pengeluaran kas umum negara/kas daerah yang
mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang
tidak akan diperoleh kembali pembayarannya oleh pemerintah.
Pembiayaan (financing) adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah,
baik penerimaan maupun pengeluaran, yang perlu dibayar atau akan diterima
kembali, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk
menutup defisit dan atau memanfaatkan surplus anggaran.
Estimasi Pendapatan merupakan wewenang yang diberikan oleh DPRD
kepada Pemerintah Daerah melalui Perda APBD untuk menghasilkan pendapatan
dari sumber-sumber tertentu. Estimasi Pendapatan dinyatakan dalam nilai rupiah,
sebesar target pendapatan yang harus dicapai oleh pemerintah
akuntansi pemerintah, Estimasi Pendapatan tidak dinyatakan dalam valuta asing
sehingga tidak perlu dilakukan konversi. Besarnya Estimasi Pendapatan
diungkapkan pada Laporan Perhitungan APBD sisi anggaran, yang merupakan
target yang harus dicapai untuk membiayai kegiatan pemerintahan. Hal-hal yang
perlu diungkapkan terutama adalah rincian sumber pendapatan untuk
diperbandingkan dalam persentase pencapaian target dengan realisasi
pendapatannya.
E. Pengakuan Pendapatan dan Beban
Pengertian pengakuan menurut Harnanto (2002 : 26) adalah:
“Proses pencatatan secara formal suatu item yang untuk pada akhirnya akan
disajikan sebagai suatu elemen di dalam laporan keuangan. Pengakuan meliputi
baik pencatatan suatu item untuk pertama kalinya maupun setiap
perubahan-perubahan yang terjadi di kemudian hari”.
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam Standar Akuntansi Keuangan
(2007 : 15):
Menurut Warren (2005 : 124) dasar pengakuan pendapatan atau
revenue secara umum ada dua cara yaitu:
1. Dasar Kas (Cash Basis).
Pada dasar kas, pendapatan dan beban dilaporkan dalam laporan laba rugi pada periode dimana kas diterima atau dibayar. Misalnya, penghasilan dicatat ketika kas ditirima dari klien, dan upah dicatat ketika kas dibayarkan kepada karyawan. Laba (rugi) bersih merupakan selisih antara penerimaan kas (pendapatan) dan pengeluaran kas (beban).
2. Dasar Akrual (Accrual Basis).
Pasa dasar akrual, pendapatan dilaporkan dalam laporan laba rugi pada periode saat pendapatan tersebut dihasilkan (earned). Misalnya, pendapatan dilaporkan pada saat jasa diberikan kepada pelanggan tanpa melihat apakah kas telah diterima atau belum dari pelanggan selama periode ini.
Menurut Nafarin (2004 : 148) dasar akrual adalah "pendapatan diakui
pada waktu diperoleh dan beban diakui pada waktu terutang. Dasar kas adalah
pendapatan diakui pada waktu uang diterima dan beban diakui pada waktu
dibayar".
Konsep yang mendukung pelaporan pendapatan ini disebut konsep
pengakuan pendapatan (revenue recognition concept). Pada dasar akrual, beban
dan pendapatan yang saling terkait dilaporkan pada periode yang sama. Sebagai
contoh, upah karyawan dilaporkan sebagai beban pada periode dimana karyawan
memberikan jasa dan bukan pada saat upah dibayarkan.
Menurut Dyckman, dkk (2000 : 237) ada empat kriteria yang harus
dipenuhi sebelum suatu item dapat diakui yakni:
1. Defenisi
2. Dapat diukur
Item atau kejadian tersebut harus memiliki atribut relevan yang dapat diukur secara andal, yaitu, karakteristik, sifat, atau aspek yang dapat dikuantifikasi dan diukur. Contohnya adalah biaya historis, biaya sekarang, nilai pasar, nilai bersih yang dapat direalisasi, dan nilai sekarang bersih.
3. Relevansi
Informasi mengenai item atau kejadian tersebut mampu membuat suatu perbedaan dalam keputusan pemakai.
4. Reliabilitas
Informasi mengenai item tersebut dapat digambarkan secara wajar,
dapat diuji, dan netral.
Menurut Sofyan (2000 : 59):
Suatu penghasilan akan diakui sebagai penghasilan pada periode kapan kegiatan utama yang perlu untuk menciptakan dan menjual barang dan jasa itu telah selesai.
Dalam waktu yang dimaksud di sini ada empat alternatif:
1. Selama produksi
2. Pada saat proses prosuksi selesai
3. Pada saat penjualan
4. Pada saat penagihan kas.
Keempat alternatif ini sama – sama dipakai dalam pengakuan
pendapatan. Pengakuan pendapatan selama saat produksi berlangsung diterapkan
pada proyek pembangunan jangka panjang. Pada saat selesainya produksi dapat
diterapkan pada kegiatan pertanian atau pertambangan, pada saat penjualan
dipakai untuk barang perdagangan, pada saat penagihan diterapkan pada metode
penjualan angsuran.
Menurut Skousen, dkk (2001 : 207):
1. Direalisasikan atau dapat direalisasikan, dan
2. Diperoleh melalui penyelesaian substansial berbagai aktivitas yang
terlibat di dalam proses keuntungan (earning).
Pendapatan diakui apabila perusahaan yang menghasilkan pendapatan
telah meyerahkan barang atau jasa yang dijanjikan kepada pelanggan dan ketika
pelanggan telah melakukan pembayaran atau setidaknya memberikan janji
pembayaran yang pasti atau dapat direalisasikan kepada perusahaan. Jadi
perusahaan telah melaksanakan kesepakatan, dan konsumen mempunyai kemauan
untuk membayar.
Untuk perusahaan yang lebih banyak memberikan jasa daripada produk,
pengakuan pendapatan mengikuti prosedur yang sama dengan transaksi barang
berwujud.
Menurut Dyckman, dkk (2001 : 269) empat metode pengakuan
pendapatan untuk penjualan jasa adalah:
1. Metode kinerja khusus
Digunakan untuk pendapatan jasa yang dihasilkan dengan melakukan aksi tunggal. Sebagai contoh, makelar real estat menghasilkan pendapatan komisi penjualan atas penyelesaian suatu transaksi real estat; seorang dokter gigi menghasilkan pendapatan atau penyelesaian penambalan gigi.
2. Metode kinerja proporsional
Digunakan untuk mengakui pendapatan jasa yang dihasilkan oleh lebih dari aksi tunggal dan hanya ketika jasa melebihi satu periode akuntansi. Dalam metode ini pendapatan diakui berdasarkan kinerja propolsional setiap tindakan. Metode kinerja proporsional dari akuntansi untuk pendapatan jasa sama dengan metode persentase penyelesaian.
3. Metode kinerja selesai
menghasilkan pendapatan jasa hanya setelah pengiriman barang, meskipun pengepakan barang, dan transportasi mendahului pengiriman. Metode ini serupa dengan metode kontrak selesai, yang digunakan untuk kontrak jangka panjang.
4. Metode penagihan
Digunakan untuk pendapatan jasa ketika ketidakpastian penagihan sangat tinggi atau estimasi beban yang terkait dengan pendapatan tidak dapat dipercaya sehingga persyaratan reliabilitas tidak dipenuhi. Pendapatan diakui hanya ketika kas diperoleh. Metode ini serupa dengan metode pemulihan biaya yang digunakan untuk penjualan produk.
Menurut Skousen, dkk (2009 : 206) beban (expense) merupakan "arus
ke luar atau pemakaian aktiva sebuah entitas atau pengadaan utang atau
kombinasi dari keduanya dari pengantaran atau penghasilan barang, pemberian
pelayanan, atau melakukan aktivitas yang membentuk operasi pokok atau sentral
entitas yang terus berlangsung".
Setelah pendapatan dari periode akuntansi diakui sesuai dengan prinsip
pendapatan, prinsip penandingan diterapkan untuk mendukung pelaporan
pendapatan dan beban terkait pada periode yang sama.
Prinsip penandingan mewajibkan bahwa jika pendapatan ditentukan
sesuai dengan prinsip pendapatan untuk beberapa periode pelaporan, beban yang
terjadi dalam menghasilkan pendapatan harus diakui pada periode tersebut. Dasar
dari prinsip penandingan adalah ketika pendapatan dihasilkan, aktiva tertentu
dikonsumsi seperti perlengkapan atau dijual seperti persediaan, dan jasa
digunakan seperti usaha pekerja. Harga pokok aktiva dan jasa yang digunakan
harus diakui dan dilaporkan sebagai beban periode selama pendapatan terkait
Menurut Skousen, dkk (2001 : 210) pengakuan beban dibagi menjadi
tiga kategori:
1. Pencocokan langsung (direct matching)
Pembiayaan berhubungan dengan pendapatan khusus sering ditunjukkan sebagai proses pencocokan (matching). Sebagai contoh, harga pokok penjualan jelas merupakan biaya langsung yang dapat dicocokkan dengan pendapatan yang dihasilkan oleh penjualan barang dan dilaporkan di dalam periode waktu yang sama ketika pendapatan diakui. Sama halnya, biaya pengiriman dan komisi penjualan biasanya berhubungan secara langsung dengan pendapatan.
2. Alokasi sistematis dan rasional.
Kategori pengakuan beban umum kedua melibatkan aktiva yang menguntungkan dari satu periode akuntansi. Biaya aktiva semacam bangunan, peralatan, paten dan asuransi dibayar di muka tersebar sepanjang periode keuntungan yang diharapkan pada beberapa cara sistematik dan rasional. Pada umumnya, adalah sulit untuk menghubungkan biaya ini secara langsung dengan pendapatan khusu atau dengan periode khusus, namun jelas bahwa hal ini perlu jika pendapatan diperoleh. Contoh beban yang dimasukkan di dalam kategori ini adalah depresiasi dan amortisasi.
3. Pengakuan segera
BAB III
RUMAH SAKIT UMUM Dr. PIRNGADI MEDAN
A. Gambaran Umum Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan
Perkembangan Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan tidak terlepas
dari dimensi historis (sejarah) dan juga berfungsi sebagai pusat pelayanan
kesehatan di Kota Medan sebagai pusat pemerintahan provinsi Sumatera Utara
yang menjadi tempat kedudukan perwakilan/konsulat negara-negara sahabat,
perwakilan perusahaan, bisnis, pusat pertumbuhan ekonomi, perdagangan,
keuangan dan pintu gerbang regional, internasional, kepariwisataan dan sebagai
pusat rujukan kesehatan provinsi Sumatera Utara.
1. Sejarah Singkat Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Medan didirikan oleh
Pemerintah Kolonial Belanda dengan nama Gemente Zieken Huis. Peletakan batu
pertamanya dilakukan oleh Maria Constantia Macky pada tanggal 11 Agustus
1928 dan diresmikan pada tahun 1930. Sebagai pimpinan yang pertama adalah dr.
W. Bays, pada tahun 1939 pimpinan Rumah Sakit ini diserahkan kepada dr. A.A.
Messing.
Setelah masuknya Jepang ke Indonesia pada tahun 1942, Rumah Sakit ini
diambil alih oleh bangsa Jepang dan berganti nama menjadi Syuritsu Byusono
Ince dan pimpinannya dipercayakan kepada seorang putera Indonesia yaitu dr.
Pada masa negara Sumatera Timur pada tahun 1947 nama Rumah Sakit
ini diganti menjadi Rumah Sakit Kota Medan dan pimpinannya dijabat oleh dr.
Ahmad Sofyan. Semasa pimpinan beliau Rumah Sakit ini berubah menjadi
Rumah Sakit Umum Medan, yaitu pada tahun 1952. Tahun 1955 pimpinan
Rumah Sakit Umum Medan, diserahterimakan kepada dr. H. A. Darwis Dt. Batu
Besar. Tahun 1958 nama Rumah Sakit ini menjadi Rumah Sakit Pusat Besar,
pimpinannya dijabat oleh dr. Paruhum Daulay. Tahun 1969 Rumah Sakit Umum
Medan dipimpin oleh dr. Zainal Rasyid Siregar, SKM dan semasa kepemimpinan
beliau nama Rumah Sakit Umum Pusat Medan berubah nama lagi menjadi
Rumah Sakit Umum Pusat Propinsi Medan (Provincial Top Referal Hospital).
Untuk maksud tersebut maka pada tanggal 26 Januari 1972 Rumah Sakit
Paru-paru yang dahulunya berdiri sendiri masuk menjadi bagian Rumah Sakit
Umum Pusat Propinsi Medan, sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Kepala
Daerah Sumatera Utara No. 48/XII/GSU tahun 1972.
Pada tahun 1979 sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Sumatera
Utara No. 150 tahun 1979 sampai tanggal 25 Juni 1979, RSU Pusat Medan
ditetapkan menjadi Rumah Sakit Dr. Pirngadi Medan, berasal dari nama seorang
putra bangsa Indonesia pertama menjadi pimpinan Rumah Sakit ini.
Pada tahun 1983 pimpinan Rumah Sakit ini diserahterimakan kepada dr.
JE. Sudibyo. Pada tahun 1986 pimpinan Rumah Sakit Dr. Pirngadi Medan dijabat
oleh dr. Raharjo Slamet. Pada tahun 1990 sampai 20 Maret 1998 pimpinan Rumah
1998 RSU Dr. Pirngadi Medan dipimpin oleh Dr. Alogo Siregar, SpA sampai 5
Maret 2002.
Tidak diperoleh data yang pasti kapan Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi
ini diserahkan kepemilikannya dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Provinsi
Sumatera Utara. Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah, Rumah Sakit
Umum Dr. Pirngadi Medan pada tanggal 27 Desember 2001 diserahkan
kepemilikannya dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kepada Pemerintah
Kota Medan.
Setelah Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi milik Kota Medan, Pemerintah
Kota Medan mempunyai perhatian dan tekat yang besar untuk memajukan Rumah
Sakit Umum Dr. Pirngadi melalui pembenahan dan perbaikan di segala bidang.
Hal ini diwujudkan dengan Peraturan Daerah Kota Medan No. 30 tahun 2002
tanggal 6 September 2002 tentang Perubahan Kelembagaan RSU Dr. Pirngadi
menjadi Badan Pelayanan Kesehatan RSU Dr. Pirngadi Kota Medan, sehingga
terjadi retrukturisasi organisasi, personil dan manajemen. Sebagai pimpinan
diangkat dr. H. Sjahrial R. Anas, MHA. Beliau telah banyak mengadakan
pembenahan sarana dan prasarana serta pengadaan peralatan kedokteran canggih
sebagai pendukung pelayanan.
Pada tanggal 04 Maret 2004 dilakukan peletakan batu pertama
pembangunan gedung delapan tingkat yang dilengkapi dengan peralatan canggih.
Dan mulai dioperasionalkan pada tanggal 16 April 2005.
Seiring dengan kemajuan Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Kota Medan
Padang dan Lampung serta Akademi Keperawatan dan Akademi Kebidanan yang
mempercayakan pendidikan mahasiswanya kepada Rumah Sakit Umum Dr.
Pirngadi Kota Medan.
Berdasarkan kondisi tersebut dan mengingat bahwa sumber daya
manusia, sarana dan prasarana di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Kota Medan
lengkap, maka Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Kota Medan berkeinginan
meningkatkan statusnya dari Rumah Sakit Tempat Pendidikan menjadi Rumah
Sakit Pendidikan. Pada tanggal 13 Juli 2006, Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi
Kota Medan meminta rekomendasi persetujuan menjadi Rumah Sakit Pendidikan
dari Ikatan Rumah Sakit Pendidikan Indonesia (IRSPI).
Ketua Ikatan Rumah Sakit Pendidikan Indonesia Dr. dr. Sutoto, Mkes
memberikan rekomendasi persetujuan pada tanggal 17 Juli 2006. Selanjutnya
penilaian kelayakan Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Kota Medan menjadi
Rumah Sakit Pendidikan dilakukan pada tanggal 10 Januari 2010 oleh Tim
Visitasi yang terdiri dari Direktur Bina Pelayanan Medik Spesialistik, Ditjen Bina
Pelayanan, Kepala Biro Hukum dan Organisasi, Sekjen Depkes, Ketua Ikatan
Rumah Sakit Pendidikan Indonesia; Kepala Sub Dit Bina Pelayanan Medik
Spesialistik RSU Pendidikan serta Kepala Bagian Hukum dan Organisasi,
Sekretaris Ditjen Bina Pelayanan Medik.
Akhirnya pada tanggal 10 April 2007 Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi
Kota Medan resmi menjadi Rumah Sakit Pendidikan berdasarkan Keputusan
Sejak berdirinya Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Kota Medan sampai
sekarang telah mengalami pergantian pimpinan berkali-kali. Adapun yang pernah
menjabat sebagai Pimpinan Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Kota Medan adalah
sebagai berikut:
1. dr. W. Bays 1930 – 1939
2. dr. A. A. Messing 1939 – 1942
3. dr. Raden Pirngadi Gonggoputro 1942 – 1947
4. dr. Ahmad Sofyan 1947 – 1955
5. dr. H. A. Darwis Datu Batu Besar 1955 – 1958
6. dr. Mohammad Arifin 1958 – 1965
7. dr. Paruhum Daulay 1965 – 1969
8. dr. Zainal Rasyid Siregar 1969 – 1983
9. dr. J. E. Sudibyo, Sp. B 1983 – 1986
10. dr. Rahardjo Slamet, Sp. KJ 1986 – 1990
11. Prof. dr. Rizal Basjrah Lubis, Sp. THT 1990 – 1998
12. dr. Alogo Siregar, Sp. A 1998 – 2002
13. dr. H. Sjahrial R. Anas, MHA 2002 – April 2009
14. dr. Umar Zein, DTM&H, MHA, Sp. PD-KPTI April 2009
Didirikan : Pada tanggal 11 Agustus 1928
Pemilik : Pemerintah Kota Medan sejak 27 Desember 2001
Kualifikasi : Kelas B Pendidikan
Status : Rumah Sakit Swadana 11 Februari 1998
Penilaian : Akreditasi Dasar tanggal 14 April 2000 dan
Akreditasi Lengkap tanggal 16 Desember 2006
Alamat : Jl. Prof. H. M. Yamin SH No. 47 Medan.
2. Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan
Berdasarkan Perda No. 03 tahun 2009, Susunan Orgaisasi Rumah Sakit
Umum Dr. Pirngadi Kota Medan terdiri dari :
A. Dewan Penyantun
B. Direktur
C. Wakil Direktur Bid. Administrasi Umum
1. Bag. Umum
a. Subbag. Tata Usaha
b. Subbag. Kepegawaian
c. Subbag. Hukum/Humas
2. Bag. Keuangan
a. Subbag. Perbendaharaan
b. Subbag. Mobilisasi Dana
3. Bag. Perlengkapan Pemeliharaan
a. Subbag. Inventaris Rumah Sakit
b. Subbag. Pengadaan Barang
c. Subbag. Pergudangan
D. Wakil Direktur Bid. Pel. Medis & Keperawatan
1. Bid. Pelayanan Medis
a. Seksi Perencanaan dan Pengembangan
b. Seksi Monitoring dan Evaluasi Pel. Medis
2. Bid. Pelayanan Keperawatan
a. Seksi Perencanaan dan Pengembangan
b. Seksi Monitoring dan Evaluasi Pel. Keperwatan
3. Bid. Pelayanan Penunjang Medis
a. Seksi Pel. Penunjang Sarana Medis
b. Seksi Pelayanan Penunjang Sarana Non Medis
E. Wakil Direktur Bid SDM & Pendidikan
1. Bid. Pendidikan dan Pelatihan
a. Seksi Pendidikan & Pelatihan Pegawai
b. Seksi Pendidikan & Pelatihan Non Pegawai
2. Bid. Penelitian dan Pengembangan
a. Seksi Penelitian
3. Bid Pengolahan Data dan Rekam Medis
a. Seksi Pengolahan Data R. Jalan & R. Inap
b. Seksi Rekam Medik
F. Kelompok Jabatan Fungsional
3. Tugas dan Fungsi Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan
Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Medan No. 30 Tahun 2002 tentang
Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Kota
Medan dan Surat Keputusan walikota Medan Nomor : 20 Tahun 2003 tentang
Tugas Pokok dan Fungsi Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Kota Medan. Tugas
Pokok Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Kota Medan adalah melaksanakan upaya
kesehatan secara berdayaguna dan berhasilguna dengan mengutamakan upaya
penyembuhan, pemulihan yang dilaksanakan secara serasi, terpadu dengan upaya
peningkatan serta pencegahan dan melaksanakan upaya rujukan, sesuai dengan
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
Untuk melaksanakan Tugas Pokok tersebut, Rumah Sakit Umum Dr.
Pirngadi Medan mempunyai fungsi:
a. Menyelenggarakan pelayanan medis
b. Menyelenggarakan pelayanan, penunjang medis dan non medis
c. Menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan
d. Menyelenggarakan pelayanan rujukan
e. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
g. Mengelola Administrasi dan Keuangan
h. Melaksanakan seluruh kewenangan yang ada sesuai dengan bidang
tugasnya
i. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Daerah.
4. Visi dan Misi Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan
Visi adalah pandangan yang ideal masa depan yang ingin diwujudkan
Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan. Visi Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi
Medan diyakini mampu memacu pelaksanaan tugas, fungsi yang diemban,
termasuk merancang Rencana Strategis secara keseluruhan, pengelolaan sumber
daya, pengukuran kinerja, dan evaluasi bagi seluruh pelaku pelayanan kesehatan.
Dengan visi yang disepakati bersama ini maka seluruh upaya dari setiap pelaku
mempunyai arah dan tujuan yang jelas. Atas dasar kebutuhan itulah, dirumuskan
Visi sebagai berikut:
“RSPM MANTAP 2010”. RSPM adalah akronim dari Rumah Sakit Umum Dr.
Pirngadi Medan. MANTAP adalah akronim Mandiri, Tanggap dan Profesional.
Makna Visi
a. Mandiri adalah kemampuan para pelaku pada Rumah Sakit Umum
Dr. Pirngadi Medan untuk membiayai sendiri operasional Rumah
Sakit.
b. Tanggap adalah sikap mental (mind set) seluruh pelaku pada
Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan terhadap dinamika
c. Professional adalah etika dan perilaku dari para pelaku Rumah
Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan dalam memberikan pelayanan
kepada konsumen yang sesuai standard, efisien, efektif dan equity.
Misi adalah sesuatu yang harus dilaksanakan agar tujuan organisasi
dapat terlaksana dan berhasil sesuai dengan Visi yang ditetapkan. Dengan adanya
misi diharapkan seluruh pegawai dan pihak-pihak yang berkepentingan dapat
menyusun program dan kegiatan serta melaksanakannya agar dapat mencapai Visi
dan Misi.
Berdasarkan pemahaman tersebut, Misi Rumah Sakit Umum Dr.
Pirngadi Medan dirumuskan sebagai berikut:
a. Meningkatkan upaya kesehatan paripurna kepada semua golongan
masyarakat secara merata dan terjangkau, sesuai dengan tugas
pokok, fungsi serta peraturan yang berlaku.
b. Menigkatkan pelayanan kesehatan yang bersifat spesialistik dan
sub spesialistik yang bermutu.
c. Meningkatkan upaya pelayanan kesehatan secara professional dan
etis agar timbul kepercayaan dan harapan serta rasa aman dan
kenyamanan bagi penderita.
d. Meningkatkan peran Rumah Sakit sebagai tempat pendidikan,
B. Jenis – jenis Pendapatan pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan
Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan memperoleh pendapatan dari
penggunaan aktiva atau sumber ekenomi perusahaan yang diperoleh dari
masyarakat yang menggunakan jasa kesehatan yang ada di rumah sakit tersebut.
Pendapatan dari tiap-tiap bagian berbeda-beda sesuai dengan jenis pelayanan jasa
kesehatan yang diterima dari tiap-tiap bagian dan sub bagian yang ada dan dalam
waktu penggunaan pelayanan jasa kesehatan dari rumah sakit tersebut.
Jenis-jenis pendapatan yang ada pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi
Medan dan jumlah realisasi penerimaan tahun 2009 adalah sebagai berikut:
a. Pendapatan Medis Rp.53.817.457.036,59
Pendapatan medis pada Rumah Sakit Dr. Pirngadi Medan terdiri dari:
1. Pendapatan Rawat Inap Rp. 48.217.571.836,59
Pendapatan rawat inap diperoleh rumah sakit dari pasien yang harus
diopname karena kesehatannya yang belum memungkinkan untuk
pulang.
2. Pendapatan Rawat Jalan Rp. 5.599.885.200,00
Pendapatan rawat jalan diperoleh rumah sakit dari pasien yang melakukan
pemeriksaan kesehatan dan rumah sakit melakukan tindakan pelayanan
kesehatan serta sipasien tidak perlu dirawat inap.
b. Pendapatan Non Medis Rp. 14.939.969.999
1. Pendapatan karcis Rp. 615.454.000,00
Yaitu pendapatan yang diperoleh dari pasien yang mengurus karcis untuk
melakukan pemeriksaan dan pengobatan pada bagian/spesialis yang
dituju.
2. Pendapatan surat keterangan Rp. 87.896.000,00
Pendapatan yang diperoleh dari pihak luar yang membutuhkan
pengesahan dari rumah sakit seperti Legalisir, Pernyataan Keterangan
Surat Sehat, Surat Cuti, Surat Keterangan Dokter, dll.
3. Pendapatan Diklit/kopitekes Rp. 3.639.500.000,00
4. Pendapatan Loundry Rp. 1.537.500,00
Pendapatan yang diperoleh dari jasa loundry yang diberikan kepada
pasien yang ada dirumah sakit.
5. Pendapatan Kemotoran R p. 175.460.000,00
Pendapatan yang diperoleh dari pasien atau pengunjung yang
memarkirkan kendaraannya di daerah rumah sakit.
6. Pendapatan IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah)
Rp. 180.500.000,00
Pendapatan yang diperoleh dari dari jasa pengelolaan limbah medis yang
masuk ke IPAL milik Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan.
7. Pendapatan Gizi Rp. 890.000,00
Pendapatan yang diperoleh dari gizi yang telah diberikan kepada pasien
Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan.
Pendapatan yang diperoleh dari farmasi, sewa tempat dan pendapatan
rupa-rupa.
- Farmasi Rp. 697.676.609,00
- Sewa tempat Rp. 229.225.000,00
- Rupa-rupa Rp.9.311.830.890,00
c. Pendapatan Transfer Rp. 60.078.133.793,00
Pendapatan transfer diperoleh dari:
1. Transfer APBN -
2. Transfer APBD Rp. 60.078.133.793,00
C. Jenis – jenis Beban pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan Hingga kini RSU dr Pirngadi Medan belum ditetapkan menjadi Badan
Layanan Umum (BLU). Padahal, berdasarkan Undang-Undang (UU) Rumah
Sakit No 44 tahun 2009, dalam waktu 2 tahun paling lama seharusnya sebuah
rumah sudah menjadi BLU. Karena Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan
masih swadana yaitu semua pengeluaran atau penggunaan dana harus melalui
persetujuan DPRD maka beban pada rumah sakit ini disebut sebagai belanja.
Belanja adalah semua pengeluaran kas umum negara/kas daerah yang mengurangi
ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan
Jenis jenis belanja pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan dibagi atas:
a. Belanja Operasi Rp. 110.208.925.280
Belanja operasi adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan sehari-hari
pemerintah yang memberi manfaat jangka pendek. Belanja operasi pada
Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan terdiri dari:
1. Belanja pegawai Rp. 75.091.758.947
- Gaji dan tunjangan Rp. 45.433.978.133
- Tambahan penghasilan PNS Rp. 2.834.700.000
- Honorarium PNS Rp. 17.932.980.274
- Honorarium Non PNS Rp. 5.085.312.000
- Uang Lembur Rp. 281.902.000
- Belanja Kursus, Pelatihan, Sosialisasi dan Bimbingan Tekhnis PNS
Rp. 3.522.886.540
2. Belanja Barang dan Jasa Rp. 35.117.166.333
- Belanja bahan pakai habis kantor Rp. 1.967.944.534
- Belanja Bahan/Material Rp. 14.676.840.402
- Belanja Jasa Kantor Rp. 13.249.731.627
- Belanja Perawatan Kendaraan Bermotor
Rp. 1.189.241.800
- Belanja Cetak dan Penggandaan Rp. 1.293.110.855
- Belanja Makanan dan Minuman Rp. 26.434.900
- Belanja Pakaian Dinas dan Atributnya Rp. 366.722.400
- Belanja Perjalanan Dinas Rp. 116. 853.600
- Belanja Pemeliharaan Rp. 2.195.173.215
b. Belanja Modal Rp. 9.820.632.760,00
Belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan asset tetap
dan asset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
Belanja modal pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan terdiri dari:
- Belanja Peralatan dan Mesin Rp. 5.354.746.760,00
- Belanja Bangunan dan Gedung Rp. 4.458.524.000,00
- Belanja Aset Tetap Lainnya Rp. 7.362.000,00
D. Pengakuan Pendapatan dan Beban Pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan
Pendapatan pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan diperoleh
dari:
1. Pendapatan Medis
Pendapatan medis adalah pendapatan yang diperoleh dari kegiatan medis
yang terjadi pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan.
2. Pendapatan Non Medis
Pendapatan non medis adalah pendapatan yang diperoleh dari diluar
kegiatan medis pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan.
3. Pendapatan Transfer
Pendapatan transfer adalah pendapatan yang diperoleh dari APBN dan
Disamping pendapatan yang diperoleh dari pelayanan jasa kesehatan
yang diberikan kepada pemakai jasa dengan balas jasa yang telah ditentukan oleh
pihak rumah sakit, Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan mengakui bahwa
pendapatan yang diterima tersebut sah sebagai pendapatan saat pihak rumah sakit
telah menerima manfaat ekonomi dalam bentuk uang yang dapat diukur dari
pasien. Hal ini disebabkan karena pihak rumah sakit telah mengeluarkan sejumlah
biaya yang dapat diukur juga dalam bentuk materi seperti obat-obatan ataupun
makanan dan minuman sebagai konsumsi pasien yang diopname serta adanya
tindakan dari dokter seperti pemeriksaan yang dilakukan oleh para dokter.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis pada rumah sakit maka
metode yang dipergunakan untuk pengakuan seluruh pendapatan yang diperoleh
adalah metode cash basis. Hal ini disebabkan karena pendapatan tersebut hanya
dapat diakui setelah pihak rumah sakit menerima sejumlah kas sebagai pelunasan
dari tindakan yang telah diberikan.
Pengakuan beban pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan diakui
dengan cash basis, artinya rumah sakit mencatat beban ketika kas dikeluarkan
atau dibayarkan. Didalam metode cash basis beban tidak diakui sampai uang
dibayarkan walaupun beban terjadi terjadi pada bulan itu. Metode cash basis tidak
mencerminkan besarnya uang yang ada sebenarnya.
Beban disebut sebagai belanja pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi
Medan karena rumah sakit ini masih swadaya karena belum ditetapkan menjadi
Badan Layanan Umum (BLU) dan semua pengeluaran dan penggunaan dana
Belanja yang terjadi pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan
dapat dibagi atas:
1. Belanja Operasi
Belanja operasi adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan sehari-hari
pemerintah yang memberi manfaat jangka pendek. Belanja operasi antara lain
meliputi belanja pegawai dan belanja barang dan jasa. Belanja operasi ini
diakui dengan metode cash basis yaitu pada saat terjadi atau pada saat kas
dikeluarkan untuk belanja operasi tersebut.
2. Belanja Modal
Belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan asset tetap dan
asset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
Belanja modal meliputi belanja peralatan dan mesin, belanja bangunan dan
gedung dan belanja aset tetap lainnya. Belanja modal diakui dengan metode
cash basis dimana beban ini diakui pada saat telah terjadi atau kas sudah
dikeluarkan untuk belanja tersebut.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis pada rumah sakit maka
metode yang dipergunakan untuk pengakuan seluruh beban adalah metode cash
basis. Dimana beban diakui pada saat kas dikeluarkan atau pada saat terjadi
BAB IV
ANALISA DAN EVALUASI
Pada Bab II telah dijelaskan mengenai jenis-jenis pendapatan dan
beban, pengertian pengakuan pendapatan dan beban secara teoritis. Sedangkan
pada Bab III berdasarkan data informasi yang penulis peroleh dari Rumah Sakit
Umum Dr. Pirngadi Medan mengenai gambaran umum dari jenis-jenis
pendapatan dan beban, pengakuan pendapatan dan beban yang berhubungan
dengan kegiatan pelayanan jasa kesehatan.
A. Analisis dan Evaluasi Jenis-jenis Pendapatan dan Beban pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan
Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan memperoleh pendapatan dari
penggunaan aktiva atau sumber ekenomi perusahaan yang diperoleh dari
masyarakat yang menggunakan jasa kesehatan yang ada di rumah sakit tersebut.
Pendapatan dari tiap-tiap bagian berbeda-beda sesuai dengan jenis pelayanan jasa
kesehatan yang diterima dari tiap-tiap bagian dan sub bagian yang ada dan dalam
waktu penggunaan pelayanan jasa kesehatan dari rumah sakit tersebut.
Pencatatan dari semua jenis-jenis pendapatan yang terdapat pada
Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan diakui dengan menggunakan metode
cash basis. Pendapatan yang diperoleh diakui setelah pihak Rumah Sakit Umum
Dr. Pirngadi Medan menerima sejumlah kas sebagai pelunasan dari tindakan atau
Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan merupakan Rumah Sakit
Pemerintah. Semua pengeluaran dan penggunaan dana harus melalui persetujuan
DPRD sehingga beban pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan disebut
sebagai belanja. Dalam pencatatan beban, semua pengeluaran dan penggunaan
dana pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan dengan menggunakan metode
cash basis. Belanja yang digunakan oleh Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan
diakui setelah kas dikeluarkan untuk belanja tersebut
B. Analisis dan Evaluasi Pengakuan Pendapatan dan Beban pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan
Dalam mengakui pendapatannya Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi
Medan mengakui dengan metode cash basis dimana pendapatan diakui pada saat
terjadi pembayaran. Konsep cash basis secara umum dapat digambarkan sebagai
konsep pelaporan pendapatan bila terjadi pelayanan kesehatan dari Rumah Sakit
Umum Dr. Pirngadi Medan kepada pasiennya. Kemudian dari hasil penjualan jasa
tersebut diharapkan akan mendatangkan kas atau setara kas yang biasanya
diterima oleh rumah sakit dalam bentuk uang kas.
Secara teknis pencatatan pendapatan tersebut akan diakui dan dicatat
bukan pada saat pendapatan tersebut terjadi atau terbentuk, sehingga dapat
dijadikan data akuntansi yang objektif dan menyediakan informasi keuangan bagi
Konsep cash basis mengharuskan pendapatan baru diterima saat
pelayanan jasa diterima oleh pasien atas dasar ketentuan rumah sakit. Bagi rumah
sakit yang merupakan pelayanan jasa kesehatan tentu tidak terdapat proses
produksi selesai, seperti Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan hanya melalui
kegiatan pelayanan kesehatan kepada pasien. Dari uraian sebelumnya dapat
disimpulkan bahwa bobot penting pengakuan pendapatan dalam kaitannya dengan
jasa kesehatan rumah sakit terletak pada konsep metode cash basis bukan pada
konsep perhimpunan dan terbentuknya pendapatan.
Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan bergerak dalam pelayanan
jasa kesehatan. Saat pengakuan pendapatan merupakan saat yang paling jelas dan
objektif mengingat rumah sakit tersebut dapat memberikan pelayanan jasa
kesehatan bagi pasien dan juga sekaligus merupakan tugas akhir yang
mengarahkan upaya yang dilakukan Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan
untuk memperoleh pendapatan.
Nota debet kepada pasien dibuat setelah rumah sakit memberikan
pelayanan jasa kesehatan kepada pasien dan setelah pasien sudah sembuh sesuai
dengan keterangan dokter atau perawat yang menanganinya. Pasien akan
melakukan pembayaran kas kepada rumah sakit dan rumah sakit akan
mencantumkan penerimaan tersebut dalam formulir penerimaan rumah sakit
sebagai bukti bahwa rumah sakit telah menerima uang tunai. Kemudian rumah
sakit akan menyerahkan kwitansi sebagai tanda bukti pembayaran kepada pasien.
Para pemakai jasa akan memberikan balas jasa kepada rumah sakit pada saat para
dilakukan, maka pendapatan diakui. Pendapatan diakui dan dicatat apabila rumah
sakit sudah benar-benar menerima uang tunai dari pasien.
Beban yang disebut belanja pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi
Medan diakui dalam laporan realisasi anggaran kalau penurunan manfaat ekonomi
masa depan yang berkaitan dengan penurunan aktiva atau peningkatan kewajiban
yang terjadi dan dapat diukur dengan andal. Ini berarti pengakuan beban terjadi
bersamaan dengan pengakuan kenaikan kewajiban atau penurunan aktiva.
Beban yang terdapat pada Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan meliput i
belanja operasi dan belanja modal. Saat pengakuan pengeluaran beban oleh rumah
sakit berbeda untuk masing-masing komponen biaya.
Dari laporan realisasi anggaran dapat dilihat bahwa belanja operasi
merupakan unsur beban yang memiliki jumlah terbesar dari total beban rumah
sakit secara keseluruhan. Belanja operasi adalah pengeluaran anggaran untuk
kegiatan sehari-hari rumah sakit yang memberi manfaat jangka pendek. Belanja
operasi antara lain meliputi belanja pegawai, belanja barang dan jasa.
Proses pengakuan belanja operasi oleh Rumah Sakit Umum Dr.
Pirngadi Medan diakui dengan metode cash basis yaitu pada saat kas dikeluarkan
dari Rekening Kas Umum Daerah atau oleh entitas pelaporan. Belanja modal
meliputi belanja peralatan dan mesin, belanja bangunan dan gedung dan belanja
aset tetap lainnya. Belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan
asset tetap dan asset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode
akuntansi. Belanja modal diakui dengan metode cash basis dimana beban ini
Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis pada Rumah Sakit
Umum Dr. Pirngadi Medan Pengakuan dan pencatatan transaksi keuangan pada
Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan berdasarkan Standar Akuntansi
Pemerintah. Menurut Standar Akuntansi Keuangan pengakuan pendapatan dan
beban