1.6 Metode Penelitian
1.6.5 Pengalaman Penelitian
Pada mulanya saya sudah lama mengetahui kesenian Jawa yang sering ditampilkan di kecamatan Bagan Sinembah seperti kesenian kuda kepang. Namun kalau kesenian reog, saya sama sekali belum pernah tahu kalau ternyata sering tampil di Bagan Batu yang merupakan kota kelahiran saya. Saya mengetahuinya dari salah satu abang dari teman saya yaitu Bang Parino yang selalu update kapan saja ada pertunjukan reog. Dia mengatakan bahwa grup kesenian yang beda dengan grup yang lain itu adalah grup Sri Karya Manunggal. Ini adalah grup yang unik kalau tampil karena penarinya banyak dan orang banyak yang suka ―kata
Bang Parino. Ia pun menyarankan saya agar melakukan penelitian pada grup tersebut karena dianggapnya grup tersebut juga grup yang paling lama dan sering tampil sampai ke luar daerah.
Esok harinya saya bersama teman saya mendatangi salah satu rumah dari anggota group Sri Karya Manunggal yaitu Bapak Tukijo atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Bolong dimana ia adalah seorang seniman yang paling tua di grup tersebut dan sampai sekarang masih mempertahankan keseniannya tersebut. Semua peralatan dan perlengkapan pemain disimpan dirumah Mbah Bolong. Pada tanggal 5 Mei 2015 ini pertama kalinya saya datang kerumah Mbah Bolong membawa buah-buahan bersama teman saya Aseng dengan menggunakan sepeda motor ke tempat lokasi tersebut dengan jarak tempuh sekitar 40 menit. Kedatangan kami disambut oleh seorang gadis dan ibu-ibu yang sudah tua. Mereka menanyakan kedatangan saya dan kebetulan Mbah Bolong tidak ada dirumahnya karena belum pulang dari kerjanya. Mbah Bolong bekerja sebagai petani perkebunan karet milik sendiri dan juga dikelolanya sendiri. Pada waktu itu pun saya memperkenalkan diri dan menceritakan tujuan kedatangan saya kepada ibu dan gadis tersebut. Lalu ia pun menyuruh kami untuk menunggu Mbah pulang karena tidak lama lagi akan segera pulang dari kerjanya.
Kemudian beberapa menit kemudian Mbah Bolong pun pulang dari kerjanya. Ia keliahatan sangat lelah namun diusianya yang sudah 63 tahun itu masih kuat untuk bertani demi mencari nafkah untuk keluarganya. Ia duduk sebentar untuk melepaskan rasa lelahnya itu kemudian dibuatkan teh oleh ibu yang sudah cukup tua tadi yang ternyata adalah isteri Mbah Bolong tersebut. Kemudian ibu itu datang lagi dengan membawakan minuman untuk saya dan
teman saya. Saya dan teman saya bersalaman dan memperkenalkan diri kepada Mbah Bolong. Lalu saya menceritakan maksud dan tujuan penulis datang kerumahnya dan ternyata ia sudah mengetahuinya. Ia tahu dari Bang Parino yang sudah terlebih dahulu menelfon Mbah Bolong bahwasanya ada yang ingin melakukan penelitian pada grup kesenian reognya tersebut. Kemudian saya pun mulai berbincang mengenai grup kesenian yang dikelolanya tersebut. Tak lama kemudian tetangga Mbah Bolong menghampiri kami. Walaupun ia tidak anggota dari pemain reog, ternyata ia juga paham mengenai kesenian reog. ia juga merupakan teman dekat Mbah Bolong di desa itu.
Mbah Bolong memperkenalkan kepada saya tentang satu persatu peralatan pemain kesenian reognya beserta maknanya . Mulai dari jaran kepang (eblek), topeng Hanoman, topeng Bujangganong, dan terakhir topeng Dhadhak Merak. Mbah Bolong mengatakan bahwa semenjak masuknya kesenian reog ini penanggap semakin sering datang dan penontonnya pun semakin ramai. Dan diitambah lagi dengan kesenian Hanomannya itu. Ini baru pertama kali saya mengetahui bentuk-bentuk asli topeng-topeng tersebut terutama topeng dhadhak merak yang besar itu dan ditutupi oleh kain berwarna merah. Setelah asik-asik mengobrol dengan Mbah Bolong dan temannya itu waktu pun sudah larut malam. Dan kami pun pamit pulang.
Dua hari kemudian saya datang lagi kerumah Mbah Bolong lagi dan ternyata rumahnya sudah ada Bapak Ebdi Irwanto dan Bang Beni Ilham yang merupakan kepengurusan grup Sri Karya Manunggal yang sering bermain kerumah Mbah Bolong. Saya pun memperkenalkan diri lagi kepada mereka dan seperti biasanya menceritakan tentang maksud dan tujuan kedangan saya ke Desa
Bangko Lestari. Mereka tampak sangat ramah dan tamah. Tanpa saya bertanya mereka asik bercerita tentang seni yang mereka bina itu dan saya pun tidak merasa canggung lagi untuk bertanya kepada mereka. Ketika berbicara tentang reog, wajah mereka terlihat sangat serius dan sepertinya suka jika saya bertanya tentang kesenian merekadan juga menjadi kebanggan tersendiri bagi mereka. Kesenian reog mereka dianggap sakral bagi mereka. Saya berkali-kali mendengar ―Gembong Bawono‖ dari ucapan mereka. Ternyata mereka sangat bangga punya kesenianreog yang di beri nama Gembong Bawono yang artinya preman alas (penguasa hutan) itu.
Cerita demi cerita waktupun sudah menunjukkan pukul 17:00 Wib dan akhirnya pamit pulang. Sebelum saya pamit mereka memberitahu kepada saya bahwa tanggal 29 Mei 2015 nanti akan ada pertunjukan reogdi desa tersebut dalam acara mengayunkan (memberi nama pada bayi).
Pada tanggal 29 Mei 2015 saya kembali lagi ke desa Bangko Lestari untuk menyaksikan pertunjukan reog yang dilaksanakan pada malam hari. Saya berangkat dari rumah bersama teman saya Aseng. Ketika pertunjukan belum dimulai, saya pun mewawancarai orang disekitar saya terutama yang menanggap kesenian reog ini. Alasan ia menanggap kesenian ini adalah bahwa seni reog ini sudah menjadi tradisi di desa mereka. Jika tidak nanggap kesenian ini rasanya ada yang kurang. Kesenian ini juga sebagai bertujuan untuk slametan atas kelahiran anaknya.
Pertunjukan pun akhirnya dimulai dan akhirnya saya pun mengambil tempat yang berdekatan dengan penonton. Pemain musik Gamelan mulai memainkan musiknya. Penonton pun semakin ramai memasuki area pertunjukan.
Penari Hanoman mulai memasuki lapangan pertunjukan. Setelah penari Hanoman selesai dilanjutkan dengan penari Bujangganong yang bergaya salto dan cerdik. Kemudian masuklah penari topeng Dhadhak Merak yang menari bersama Bujangganong. Kemudian dilsusul dengan penari Jathil laki-laki. Berbagai kalangan ikut meramaikan pertunjukan itu, mulai dari anak-anak hingga yang dewasa turut menikmati pertunjukan itu. Dan ketika semua penari selesai maka seperti tradisi biasanya yang dilakukan grup ini adalah beraksi dengan bermain api. Sebelumnya keadaan para pemain hampir semua5 dalam keadaan mabuk. Setelah itu barulah mereka melakukan aksi bermain dengan api.
Penonton masih begitu ramai padahal waktu sudah menunjukkan pukul 23:30 WIB dan masih ada juga yang ikut mabuk dan memasuki area pertunjukan. Jumlah yang mabuk tidaklah sedikit sehingga gambuhsedikit kewalahan untuk membuat mereka sadar. Dan ketika semua pemain dan penonton yang dalam keadaan mabuk tersebut dapat disadarkan kembali barulah penonton satu persatu mulai bubar.
Pengalaman yang saya rasakan pada saat penelitian ini merupakan sebuah pengalaman yang baru karena saya belum pernah sama sekali menonton pertunjukanreog secara langsung melainkan pernah menonton hanya dari televisi saja. Walaupun kesenian reog yang ada di Desa Bangko Lestari pertunjukannya tidak begitu lengkap seperti yang ada di Jawa namun peneliti sebagai orang Jawa sangat salut dan bangga kepada mereka yang masih melestarikan dan mampu mempertahankan kebudayaan Jawa di zaman modernisasi ini.