• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Karakteristik Petani Padi

4.1.4 Pengalaman Usahatani

Keberhasilan suatu usahatani petani responden tidak terlepas dari pengalamannya dalam mengelola lahan pertaniannya. Semakin lama seorang petani berusaha dalam bidang usahatani, maka semakin banyak pula pengalaman usahatani yang dimiliki oleh petani dalam mengelola lahan pertaniannya agar menjadi lebih baik.

23 Tabel 4. Jumlah Petani Anggota Jitut Berdasarkan Pengalaman Usahatani

Padi di Kec.Meureubo Kab.Aceh Barat 2015.

No Gampong Pengalaman Usahatani (Tahun)

1-12 13-23 24-34 35-45 46-65

1 Ujong Tanoh Darat 24 10 24 17 1 2 Ujong Tanjong 11 12 29 8 2 3 Ranto Panyang Timur 13 20 13 12 1

Jumlah 47 42 66 37 4

Sumber : Hasil olah Data (2015)

Pengalaman usahatani petani jitut Gampong Ujong Tanoh Darat beragam, dengan pengalaman paling rendah yaitu 2 tahun dan pengalaman paling lama yaitu 65 tahun. Begitupun pengalaman usahatani petani Jitut Gampong Ujong Tanjong dan Ranto Panyang Timur dengan rata-rata lamanya 23-34 tahun, pengalaman usaha tani paling rendah yaitu 2 tahun dan pengalaman paling lama itu 51 tahun. Tabel 4 menunjukkan bahwa pengalaman usahatani petani jitut Gampong Ujong Tajong sebagian besar (28%) berkisar pada 2-12 tahun, sedangkan petani dengan pengalaman usahatani 46-65 tahun merupakan range pengalaman usahatani terendah (12%). Berbeda dengan Gampong Ujong Tanoh Darat, sebahagian besar petaninya telah berpengalaman dalam usahatani selama 32-41 tahun, sedangkan petani dengan pengalaman 42-51 tahun menjadi range pengalaman usahatani terendah begitu pula dengan gampong Ranto Panyang Timur yang petaninya sudah sangat berpengalaman dalam mengelola usaha tani. Pengalaman usahatani merupakan salah satu indikator keberhasilah pengelolaan lahan pertanian, dimana dengan semakin lama pengalaman seorang petani dalam mengelola lahan pertanian, maka diharapkan prooduksi padi dari suatu lahan tersebut akan meningkat. Hal ini dikarenakan petani sangat mengerti bagaimana lahannya harus dikelola agar menjadi lebih baik dari pengalaman-pengalaman sebelumnya.

24 4.1.5 Teknik Budidaya Padi

Keberadaan sistem irigasi jitut memberikan dampak positif yang secara langsung dapat dirasakan berupa perubahan masa tanam padi dalam satu tahun dan hal lain yang sangat dirasakan adalah meningkatnya produksi dan kualitas produk pertanian serta berpengaruh langsung terhadap tingkat pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tani di daerah penelitian. Lokasi lahan pertanian yang teraliri saluran jitut tidak pernah Mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan air, baik ketika musim hujan ataupun musim kemarau, kebutuhan air untuk sarana pengairan lahan pertanian selalu terpenuhi. Ketersediaan air yang melimpah dan keberadaan kelembagaan perkumpulan petani jitut mengakibatkan pola tanam petani jitut miliki dua kali masa tanam dalam satu tahun.

Sumber air yang digunakan untuk usahatani yaitu mulai dari pengolahan tanah seperti membajak tanah dengan Mesin hand traktor hingga beberapa hari menjelang panen cukup tersedia. Air yang digunakan pada setiap aktivitas pertanian disesuaikan dengan kebutuhan. Satu kali musim tanam tanaman padi memiliki waktu kurang lebih 100 hari mulai dari menanam benih (tandur) hingga panen. Selama penanaman benih di hingga tumbuh dewasa, padi digenangi dengan air setinggi 3-5 cm dari perrmukaan lahan. Sebelum pemupukan, lahan dikeringkan hingga 7 hari dan kembali dialiri air untuk menggenangi padi setelah dilakukan pemupukan hingga panen. Ketika panen telah dilakukan, persiapan pengolahan lahan sebelum memasuki musim tanam kedua dilakukan selama 20 hari. Persiapan pengolahan lahan ini tidak membutuhkan waktu yang banyak jika ketersediaan air selalu tersedia setiap saat.

25 Hal inilah yang menyebabkan masa tanam padi petani jitut Gampong Ujong Tanoh darat, Ujong Tanjong dan Ranto Panyang Timur memiliki dua kali masa tanam dalam satu tahun dibandingkan dengan petani-petani lain yang tidak mendapatkan air jitut yang hanya memiliki masa tanam dua kali dalam satu tahun.

Petani non jitut disekitar ketiga gampong tersebut juga memiliki masa tanam dua kali dalam satu tahun. Sarana pengairan petani non jitut disekitar gampong tersebut hanya mengandalkan ketersediaan air pada musim penghujan. Perbedaan kebutuhan air yang digunakan untuk pengelolaan usahatani di petani jitut dan non jitut yaitu ketika pengairan untuk menggenangi tanaman di mulai dari mulai tandur hingga tanaman padi dewasa. Jika petani jitut menggenangi padi dengan ketinggian 3-5 cm dari permukaan lahan maka petani non jitut menggenangi lahan sesuai dengan ketersediaan air pada saat tersebut. 4.2 Biaya Usahatani

Biaya produksi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mencakup keseluruhan modal yang dioperasikan sebagai biaya produksi selama proses produksi berlangsung baik yang dibayar tunai maupun yang tidak dibayar tunai, tetapi diperhitungkan. Biaya produksi yang digunakan dalam uasahatani petani meliputi penggunaan biaya tetap dan biaya tidak tetap.

4.1.2 Biaya Tetap

Biaya tetap adalah yang dikeluarkan selama satu periode tertentu, jumlahnya tetap dan tidak habis dipakai dalam satu kali proses produksi serta besar kecilnya biaya yang dikeluarkan tidak berpengaruh terhadap hasil produksi.

26 Adapun penggunaan biaya tetap yang meliputi pengadaan peralatan pada proses kegiatan usahatani padi dikecamatan Meureubo Kabupaten Aceh Barat dapat dilihat pada Tabel 5. berikut :

Tabel 5.Perincian Penggunaan Peralatan pada Usahatani Sebelum Jitut dan Sesudah Jitut di Kec.Meureubo Kab.Aceh Barat,Tahun 2015.

No. Uraian Jumlah (Unit) Harga satuan (Rp/Unit) Total Biaya (Rp/Ha) 1 Cangkul 2 52.500 84.000 2 Sabit 2 52.500 84.000 3 Parang 2 52.500 84.000 4 Hand Spayer 1 285.000 285.000 5 Karung 20 2.750 54.389 Jumlah 591.389

Sumber : Data Diolah 2015

Berdasarkan Tabel diatas menunjukkan bahwa Penggunaan Biaya tetap sebelum Jitut dan sesudah Jitu adalah sama rata-rata sebesar Rp.591.389,- adapun peralatan tersebut adalah cangkul,arit/sabit, parang,karung dan alat semprot hama. Cangkul digunakan untuk untuk mengemburkan tanah,arit/sabit digunakan untuk menyiangi ilalang yang ada disekitar lahan sawah,alat semprot hama digunakan sebagai wadah penyemprotan pestisida untuk memberantas hama yang menganggu tanaman. Sementara itu goni digunakan sebagai media untuk mengumpulkan hasil panen. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani di lokasi penelitian, diketahui bahwa peralatan yang digunakan oleh petani rata-rata merupakan milik pribadi. Walaupun demikian, dalam hal penelitian usahatani ini, biaya peralatan tersebut tetap dimasukkan dalam perhitungan.

Metode perhitungannya adalah dengan cara menjumlahkan harga masing-masing peralatan di kalikan dengan jumlah yang dimiliki oleh masing-masing-masing-masing petani lalu dikurangi dengan nilai penyusutan peralatan tersebut pengurangan nilai penyusutan ini perlu dilakukan karena dengan bertambahnya umur peralatan,

27 maka nilai peralatan tersebut semakin berkurang. Untuk lebih jelasnya mengenai biaya penyusutan dapat dilihat pada Tabel 6. berikut ini :

Tabel 6. Perincian Biaya Penyusutan pada Usahatani Padi Sebelum Jitut dan Sesudah Jitut Dikecamatan Meureubo Kabupaten Aceh Barat, 2015.

No. Uraian Umur

Ekonomis Total Biaya (Rp) Penyusutan /Produksi 1 Cangkul 2 84.000 42.000 2 Sabit 4 84.000 21.000 3 Parang 4 84.000 21.000 4 Hand Spayer 2 285.000 128.250 5 Karung 1 54.389 48.950 Jumlah 259.889

Sumber : Hasil Data Diolah 2015

Berdasarkan Tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah biaya penyusutan pada usahatani padi diperkirakan sebesar Rp. 259.889,- untuk setiap tahun.

4.1.3 Biaya Tidak Tetap

Biaya Tidak Tetap atau biaya variable adalah biaya yang habis dipakai dalam satu kali proses produksi dan besar kecilnya biaya yang dikeluarkan sangat mempergaruhi hasil produksi. Biaya tidak tetap yang digunakan dalam usaha tani padi yaitu biaya yang dikeluarkan untuk input produksi berupa Benih, Pupuk dan Pestisida dan lain-lain.

Untuk lebih jelah jelasnya mengenai pengunaan biaya tidak tetap langkah pertama yang dilakukan dalam mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi produksi padi yaitu dengan menganalisis terlebih dahulu faktor- faktor produksi yang digunakan dalam Produksi usahatani.

28 4.1.4 Biaya Sebelum Jitut

Pada penelitian ini faktor produksi yang dianalisis yaitu penggunaan benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja, dan air.

Benih merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting dalam usaha tani padi. Hasil produksi usahatani akan baik jika menggunakan benih yang unggul disertai dengan pola tanam yang teratur. Benih padi yang digunakan oleh usaha tani petani jitut umumnya menggunakan varietas Ciherang. Benih sebagai faktor produksi usaha tani petani di Gampoeng Ujung Tanoh Darat, Ujong Tanjong dan Ranto Panyang Timur.

Petani yang menjadi responden di Petani Gampong Ujong Tanoh Darat, Ujong Tanjong dan Ranto Panyang Timur. Sebahagian besar petani merupakan petani padi anorganik sehingga pupuk yang digunakan untuk pengolahan lahan pertaniannya adalah pupuk kimia, pupuk kimia yang digunakan yaitu Urea, SP36, dan pupuk NPK. Jika oleh petani dinilai tanaman padinya memerlukan pestisida, penyemprotan bias dilakukan empat kali dalam satu masa tanam. Jumlah rata-rata pestisida yang digunakan responden perhektar lahan adalah sebanyak 1 liter pestisida cair dengan harga pestisida cair sebesar Rp.16.000 merek Porpetan dan Decis. Rata-rata Penggunaan pestisida sebanyak Rp.3,6 Liter,- Rata-rata Biaya tidak Tetap yang digunakan petani jitut dapat dilihat pada tabel 7.

29 Tabel 7. Rata - rata Penggunaan Input Usahatani sebelum Jitut per Hektar Musim Tanam Gadu April 2014 September 2014

No Komponen Input

Penggunaan Input Sebelum Jitut/Ha Jumlah (kg) Harga (Rp) Jumlah (Rp)

1. Bibit 16 12.500 233.933 2. Pupuk Urea (kg) 58 1.800 198.000 SP 36 (kg) 15 2.000 73.333 NPK (kg) 73 2.300 168.667 Phonska 3 Pestisida 3,6 16.000 57.000 Cair (L) Jumlah 699.517 Sumber : Hasil olah Data (2015)

Berdasarkan Tabel diatas menunjukkan Penggunaan total rata-rata pupuk urea untuk petani jitut di Gampong Ujong Tanoh Darat, Ujong Tanjong dan Ranto Panyang Timur dengan rata-rata yaitu sebesar 699.517 kg/ha. Penggunaan total rata-rata untuk pupuk SP36 98 kg dan NPK 168.667 kg.

Pengendalian hama dan penyakit yang dilakukan oleh petani jitut yaitu dengan melakukan penyemprotan pestisida kimia. Pestisida yang digunakan yaitu berupa pestisida cair tergantung aplikasi penggunaan dari pestisida tersebut. Pestisida cair digunakan dengan cara melarutkan pestisida dengan air, kemudian dilakukan penyemprotan terhadap tanaman padi. Penyemprotan pestisida sebagai pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menggunakan handsprayer.

Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang sangat berpengaruh terhadap suatu kegiatan usahatani. Tenaga kerja yang digunakan sebelum jitut dapat berupa tenaga mekanik (hand traktor) dan tenaga kerja manusia.

30 Tenaga kerja mekanik (hand traktor) digunakan untuk melakukan pengolahan lahan karena dengan menggunakan tenaga hand traktor, mengolah lahan pertanian menjadi lebih cepat dan lebih efektif, sedangkan tenaga kerja manusia digunakan untuk melakukan pengelolaan lahan seperti mencangkul, penyemaian, penanaman benih padi, penyiangan, penyemprotan pestisida, pemupukan, dan panen. Kebutuhan tenaga kerja manusia yang digunakan petani dalam pengelolaan lahannya tidak hanya menggunakan tenaga kerja luar keluarga, namun juga menggunakan tenaga kerja dalam keluarga yang biasanya sering terabaikan dalam perhitungan struktur biaya usahatani. Kebutuhan tenaga kerja untuk setiap aktivitas usahatani berbeda antara satu petani dengan petani lainnya disesuaikan dengan luas lahan yang mereka garap, namun secara kongrit jumlah penggunaan tenaga kerja untuk petani Jitut setiap musim tanam tidak terlalu jauh berbeda. Tenaga kerja yang digunakan dalam semua kegiatan usahatani padi tersebut seluruhnya dikerjakan oleh tenaga kerja laki-laki. Cara pengupahan yang dilakukan responen pada umumnya dengan borongan, yaitu akan dibayar upah kepada tenaga kerja (TKLK) sesuai dengan luas lahan yang akan dikerjakan. Pada umumnya responden mengupahkan hampir semua jenis pekerjaan kepada orang lain berdasarkan jenis pekerjaannya yaitu mengolah tanah rata-rata sebesar Rp.917.333,- Penyemaian sebesar Rp.111.667,- Penanaman sebesar Rp.79.444,- Pemupukan sebesar Rp.75.000,- Penyiangan sebesar Rp.70.000,- Penyemprotan sebesar Rp.70.000,- dan Panen sebesar Rp.121.889,-Total rata-rata biaya yang dikeluarkan usahatani padi jitut adalah sebesar Rp.1.444.889,-.

31 4.2.2 Biaya Sesudah Jitut

Setelah berjalannya jitut, petani padi di ketiga daerah penelitian banyak mendapatkan masukan dari Dinas Pertanian setempat melalui penyuluh pertanian.

Penerapan teknologi pertanian sudah mulai diterapkan sesuai dengan anjuran dari penyuluh pertanian. Untuk meningkatkan hasil produksi secara maximal penggunaan sarana produksi pertanian sudah disesuaikan dengan anjuran yang diberikan oleh penyuluh, mulai dari pengolahan lahan sampai dengan penggunaan pupuk. Beberapa petani dari ketiga gampong tersebut juga menggunakan pupuk kandang sebagai faktor produksi usaha tani, namun dalam jumlah yang tidak banyak. Keputusan petani untuk lebih memilih menggunakan pupuk kimia dari pada pupuk kandang yaitu karena lahan yang mereka garap lebih cocok menggunakan pupuk kimia sebagai salah satu faktor produksi padinya. Selain itu ketersediaan pupuk kimia lebih mudah didapat dan lebih memberikan hasil yang lebih cepat daripada penggunaan pupuk kandang. Jumlah pupuk kimia yang digunakan petani sesudah jitut dapat dilihat pada tabel 9.

Tabel 9. Rata - rata Penggunaan Input Usahatani Sesudah Jitut per Hektar Musim Tanam Rendengan Bulan Oktober 2014 Maret 2015.

No Komponen Input

Penggunaan Input Sesudah Jitut Jumlah (kg) Harga (Rp) Jumlah (Rp)

1. Bibit 16 12.500 233.933 2. Pupuk Urea (kg) 58 1.800 198.000 SP 36 (kg) 15 2.000 73.333 NPK (kg) 73 2.300 168.667 Phonska 3 Pestisida 3,6 16.000 57.000 Cair (L) Jumlah 699.517 Jumlah Sumber : Hasil olah Data (2015)

32 Berdasarkan Tabel diatas menunjukkan bahwa sesudah adanya Jitut petani penggunaan input usaha tani sama dengan penggunaaan sebelum Jitut seperti Pupuk urea yaitu kisaran sebesar 198.000 kg/ha.

Penggunaan total rata-rata pupuk SP36 sebesar 98.917 kg, dan NPK 168.667 kg dengan total pengeluaran input usahatani sebesar Rp.699.517,- tidak terjadi peningkatan dari sebelum penggunaan jaringan jitut yang mana biaya yang diluarkan sama dengan sebelum Jitut.

Pengendalian hama dan penyakit yang dilakukan oleh petani Jitut yaitu dengan melakukan penyemprotan pestisida kimia. Pestisida yang digunakan yaitu berupa pestisida cair, tergantung aplikasi penggunaan dari pestisida tersebut. Pestisida cair digunakan dengan cara melarutkan pestisida dengan air, kemudian dilakukan penyemprotan terhadap tanaman padi, sedangkan pestisida padat digunakan dengan cara mencampurkan pestisida dengan pupuk urea, NPK yang kemudian ditaburkan dilahan sawah. Penyemprotan pestisida sebagai pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menggunakan handsprayer.

Pengunaan sarana pengolahan tanah sepenuhnya menggunakan sarana mekanisasi pertanian yaitu dengan tenaga kerja mekanik (hand traktor). Kebutuhan tenaga kerja manusia yang digunakan petani dalam pengelolaan lahannya sudah banyak menggunakan tenaga kerja luar dengan system borongan. Kebutuhan tenaga kerja untuk setiap aktivitas usahatani berbeda antara satu petani dengan petani lainnya disesuaikan dengan luas lahan yang mereka garap, namun secara kongrit jumlah penggunaan tenaga kerja untuk petani Jitut setiap musim tanam tidak terlalu jauh berbeda.

33 4.3 Produksi dan Nilai Produksi

Produksi merupakan aktivitas yang menghasilkan barang dan jasa atau suatu proses menstransformasikan input-input menjadi output-output yang bermanfaat dan dengan demikian menambah nilai pada usaha dalam menghasilkan produksi yaitu besarnya hasil panen pada usahatani padi. Sedang kan nilai produksi adalah penerimaan kotor yang diperoleh dari rata-rata hasil produksi perhektar, yang dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp).

Besar kecilnya nilai produksi yang diperoleh perhektar dari usahataninya sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya produksi dan tingkat harga produksi yang akan mencermikan besarnya pendapatan. Rata-rata produksi dan nilai produksi perhektar perproduksi, pada Tabel 9. berikut :

Tabel 9. Rata-rata Jumlah Produksi, Harga dan Nilai Produksi pada Usahatani Padi Sebelum Jitut dan sesudah Jitut,Tahun 2014 – 2015.

Uraian Harga (Rp) Jumlah Produksi (Rp) Nilai Produksi (Rp) Sebelum Jitut Sesudah Jitut 4.300 4.300 4.038 5.596 17.364.356 21.763.363 Sumber : Hasil Olah Data (2015)

Tabel diatas 11 menunjukkan bahwa rata-rata jumlah produksi usahatani Sebelum jitut perhektar sebanyak Rp.4.038,- kg per musim tanam, dengan harga 4.300,- per kg. untuk maka penghasilan sebesar Rp. 17.364.356,-per produksi. Sedangkan usahatani sesudah jitut produksi mencapai Rp.5.596,- per produksi dengan harga 4.300,- per kg serta nilai produksi sebesar Rp.21.763.363,- per proses produksi.

34 4.4 Pendapatan Usaha tani

Tujuan utama suatu aktivitas ekonomi yaitu untuk memperoleh keuntungan yang maksimum.

Suatu usahatani dikatakan menguntungkan jika selisih antara penerimaan dengan pengeluaran bersifat positif.

Pendapatan usahatani dianalisis berdasarkan pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total. Pendapatan atas biaya tunai diperoleh dari selisih antara penerimaan dengan biaya tunai, sedangkan pendapatan atas biaya total diperoleh dari selisih antara penerimaan dengan biaya total. Pendapatan atas biaya total akan lebih rendah dari pada pendapatan atas biaya tunai, karena dalam analisis pendapatan biaya total memperhitungkan biaya tenaga kerja dalam rumah tangga, sedangkan pada analisis pendapatan atas biaya tunai tidak memperhitungkan hal sebut. Secara rinci pendapatan usahatani petani anggota jitut dan dapat dilihat pada Tabel 10 berikut.

Tabel 10. Pendapatan Usaha tani Petani Gampong Ujong Tanoh Darat, Ujong Tanjong dan Gampong Ranto Panyang Timur Tahun 2015.

No Uraian Rupiah/ha/tahun

Sebelum (Rp) Sesudah (Rp) 1 Nilai Produksi (Rp) 17.364.356 24.060.889

2 Biaya Produksi

a. Total Biaya Tetap 233.900 233.900 b. Total Biaya Tidak Tetap 594.081 594.081 c. Total Biaya (a+b) 827.981 827.981

3 Biaya Tenaga Kerja 1.441.889 1.441.889

4 Pendapatan Atas Biaya Total (1-2c) 15.066.830 21.763.363 Sumber: Hasil Analisis Data (2015)

Berdasarkan data yang diperoleh dari Tabel 10, penerimaan total usahatani sebelum jitut yaitu sebesar Rp 15.066.830,- per musim tanam dan Biaya Total Sesudah sebesar Rp.21.763.363,- dalam satu musim tanam. Biaya tersebut merupakan jumlah total dari rata-rata biaya tunai dan biaya non

35 tunai. Biaya tunai terdiri atas pengeluaran biaya untuk pembelian input produksi berupa benih, pupuk, pestisida, pemberian upah terhadap tenaga kerja, yaitu pemenuhan air untuk irigasi, sewa lahan, dan penyusutan alat-alat pertanian.

Biaya non tunai yang harus diperhitungkan dalam struktur biaya usahatani yaitu berupa pemberian upah terhadap tenaga kerja dalam keluarga.

4.5 Pengaruh Pendapatan Usahatani Padi Sebelum Jitut dan sesudah Jitut Pendapatan merupakan tujuan pokok dan motivasi petani dalam melakukan kegiatan usahatani. Peningkatan pendapatan merupakan salah satu usaha petani untuk menuju arah peningkatan kesejahteraan petani dan keluarganya, sekaligus meningkatkan perkapita.

Petani sebelum Jitut adalah merupakan petani yang dulunya belum adanya prasarana irigasi dalam proses Budidaya Padi mengalami kendala kekurangan air pada proses budidaya padi. Sedangkan usahatani sesudah jitut dalam proses budidaya padi tidak lagi mengalami kendala seperti kekurangan air.

Terjadi perbedaaan pendapatan antara petani sebelum jitut dengan petani sesudah jitut banyak hal, diantaranya jumlah produksi, yang dihasilkan dari usaha tani padi sesudah jitut lebih besar dibandingkan usahatani sebelum jitut.

Berdasarkan analisis komperatis uji t sampel tidak berhubungan dapat dilihat pada tabel 11 berikut :

36 Tabel 11. Rata-rata Perbandingan Antara Pendapatan Usatani Padi sebelum Jitut dan Sesudah Jitut di kecamatan Meureubo Kabupaten Aceh Barat Tahun 2015.

No Uraian Jumlah

Responden

Pendapatan Bersih (Rp) 1 Pendapatan Petani Sebelum Jitut 45 15.066.852 2 Pendapatan Petani Sesudah Jitut 45 21.763.363

tcari = 4,72 t.tabel 0,05 = 1,81 Sumber : Data Primer diolah tahun 2015

Berdasarkan Tabel diatas dapat dilihat kondisi pendapatan rata-rata petani sebelum Jitut baik sesudah jitut di Gampong Ujong Tanjong, Ujong Tanoh Darat dan Rantau panyang Timur Kecamatan Meureubo Kabupaten Aceh Barat. Adapun besarnya pendapatan yang diterima oleh petani sebelum Rp. 15.066.852,- per produksi, sedangkan untuk usahatani sesudah jitut sebesar Rp. 21.763.363,- per produksi.

Terdapat perbedaan pendapatan antara petani sebelum jitut dan sesudah

jitut. Hal ini juga diperkuat oleh hasil analisis menggunakan analisis uji “t”

sampel tidak berhubungan. Berdasarkan hasil analisis diperoleh tcari = 4,72 > t tabel = 1,81 maka hipotesis terima Ha tolak Ho. Hal ini disebabkan usahatani padi sesudah jitut mempunyai jumlah pendapatan yang lebih besar.

37 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Berdasarkan tujuan dari penelitian yaitu melihat Pengaruh pendapatan antara usahatani padi sebelum jitut dan sesudah jitut di Gampong Ujong Tanjong, Ujong Tanoh Darat dan Rantau Panyang Timur Kecamatan Meureubo Kabupaten Aceh Barat. Hasil penelitian diperoleh kesimpulan yaitu Jitut berpengaruh secara nyata dalam meningkatkan pendapatan Petani. Adapun perbedaan rata-rata pendapatan per proses produksi usahatani sebelum jitut sebesar Rp.15.066.830,- dan sesudah jitut mencapai sebesar 21.763.363,- per produksi.

2. Saran – saran

Adapun beberapa saran yang dapat penulis berikan terhadap kesimpulan yang telah diperoleh diantaranya sebagai berikut :

1. Guna mencapai hasil produksi padi yang lebih baik, maka perlu dikembangkan kelembagaan organisasi Perkumpulan Petani Pemakai air (jitut) agar segala urusan keirigasikan dapat dioptimalkan.

2. Selain itu, perlu juga ditingkatkan peran penyuluhan di bidang pertanian agar kualitas dan kualitas hasil produksi padi menjadi lebih baik. Guna meningkatkan akses aliran irigasi kepada lahan-lahan sawah petani, maka Pemerintah Daerah perlu melakukan perluasan aliran proyek irigasi ke beberapa lokasi lahan pertanian yang belum teraliri air irigasi agar dapat teraliri dengan baik.

38

DAFTAR PUSTAKA

Assauri, 2003. Seuntai Pengetahuan Usaha Tani Indonesia. Penerbit Renika Cipta.

Cooper, 2009 Production Economics Theory With Applications. John Wiley & Sons, Inc. United States of America.

Direktorat Jenderal Pengairan, 2006. Standar Perencanaan Irigasi (KP. 01.05). Dinas Pertanian Aceh Barat, 2013

Fuad Bustomi, 2002. Sistem Irigasi : Suatu Pengantar Pemahaman, Tugas Kuliah Sistem Irigasi. Program Pascasarjana Program Studi Teknik Sipil UGM, Yogyakarta .

Fuad Bustomi, 2004. Simulasi Tujuh Teknik Pemberian Air Irigasi Untuk Padi di Sawah dan Konsekuensi Kebutuhan Air Satu Masa Tanam. Tesis Program Pascasarjana Program Studi Teknik Sipil UGM, Yogyakarta.

Kadarsan , 2003 Mengatasi Permasalahan Budidaya Padi. Jakarta. 13-22 hlm. Mosher, A. T, 2001. Menggerakkan dan Membangun Pertanian. Yasaguna.

Jakarta.

Noor, Henry Fayzal. 2007. Ekononomi Manajerial. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Mubyarto, 2004 Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES, Jakarta.

Soekartawi, 2005 Analisis Usahatani. Universitas Indonesia (UI-Press). Jakarta. Sukirno, 2000. Analisis Perbandingan Usahatani Padi Oganik Metode System

of Rice Intensification (SRI) dengan Padi Konvensional. Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Su’ud, Hasan. 2007. Pengantar Ilmu Pertanian. Yayasan PENA. Banda Aceh

Sudjarwadi, 2007. Teknik Sumberdaya Air. Diktat kuliah Jurusan Teknik Sipil UGM, Yogyakarta.

Sudarman, 2011 dalam Kurnia Sari Paradigma Baru Pembangunan Pertanian. Yogyakarta:Kanisius.

Sudjarwadi 2005, Pengembangan Wilayah Sungai (Wawasan dan Konsep), Teknik Sipil UGM, Yogyakarta.

Dokumen terkait