Tabel 7. Rata-Rata Jumlah Daun Yang Mendapatkan Pupuk Organik Cair TOP G2
Pupuk Organik Cair Dosis Jumlah Daun
TOP G2
3 cc/polybag 11,85
5 cc/polybag 12,22
7 cc/polybag 12,44
Jumlah 36,51
Rata-rata 12,17
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2014
Tabel 7 terlihat bahwa bibit yang mendapatkan perlakuan pupuk organik cair TOP G2 yang berbeda-beda dosis mendapatkan hasil rata-rata 12,17 pertumbuhan jumlah daun bibit Gmelina.
33 Tabel 8. Rata-Rata Jumlah Daun Yang Mendapatkan Pupuk Organik Cair Super A1
Pupuk Organik Cair Dosis Jumlah Daun
SUPER A1
3 cc/polybag 12,74
5 cc/polybag 12,82
7 cc/polybag 13,04
Jumlah 38,6
Rata-rata 12,87
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2014
Tabel 8 terlihat bahwa bibit yang mendapatkan perlakuan pupuk organik cair SUPER A1 yang berbeda-beda dosis mendapatkan hasil rata-rata 12,87 pertumbuhan jumlah daun Gmelina.
34 Tabel 9. Rata-Rata Jumlah Daun Yang Mendapatkan Kombinasi Perlakuan Antara
Pupuk Organik Cair Top G2 Dan Pupuk Organik Cair Super A1.
Jenis Pupuk Organik Dosis Pupuk Jumlah Daun
Kombinasi Pupuk
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2014.
Tabel 9 yang membandingkan antara respon pertumbuhan bibit Gmelina terhadap kombinasi perlakuan antara pupuk organik cair TOP G2 dengan pupuk organik cair SUPER A1 menunjukkan bahwa kombinasi pupuk organik cair TOP G2 dengan dosis 7 cc dan pupuk organik cair SUPER A1 dengan dosis 3cc, 5cc, dan 7 cc/polybag memiliki rata-rata pertumbuhan jumlah daun yang paling paling baik.
35 Perlakuan Pemberian POC TOP G2 5 cc + Super A1 7 cc/polybag (M2P3) dan Perlakuan Pemberian POC TOP G2 7 cc + Super A1 7 cc/polybag (M3P3) memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lain pada parameter pengamatan jumlah daun bibit Gmelina. Hal ini disajikan pada Gambar 3.
Gambar 4. Diangram Batang Rata-Rata Jumlah Daun Bibit Gmelina Pada Pemberian Pupuk Organik Cair.
Berdasarkan pada Gambar 4 memperlihatkan bahwa perlakuan tanpa pemberian pupuk organik cair (M0) adalah merupakan perlakuan yang memberikan respon pertumbuhan terendah terhadap pertambahan jumlah daun pada bibit Gmelina.
Pertambahan jumlah daun bibit Gmelina ini diduga bahwa pemberian pupuk organik cair dapat menyebabkan terdorongnya atau terpacunya sel di ujung batang untuk segera mengadakan pembelahan dan perbesaran sel terutama di daerah meristematis.
Hal ini sesuai dengan pendapat (Bonner & Galston 1951) yang mengatakan bahwa pembelahan secara antiklinal dan periklinal dan perbesaran sel meristematis di ujung batang, meskipun laju kecepatannya tidak sama. Oleh penulis yang sama dan
36 Salisbury & Ross (1995) mengatakan bahwa pupuk organik cair selain mengandung nitrogen yang menyusun dari semua protein, asam nukleat dan klorofil juga mengandung unsur hara mikro antara lain unsur Mn, Zn, Fe, S, B, Ca dan Mg. Unsur hara mikro tersebut berperan sebagai katalisator dalam proses sintesis protein dan pembentukan klorofil.
Poerwowidodo (1992) menyatakan bahwa protein merupakan penyusun utama protoplasma yang berfungsi sebagai pusat proses metabolisme dalam tanaman yang selanjutnya akan memacu pembelahan dan pemanjangan sel. Unsur hara nitrogen dan unsur hara mikro tersebut berperan sebagai penyusun klorofil sehingga meningkatkan aktivitas fotosintesis tersebut akan menghasilkan fotosintat yang mengakibatkan perkembangan pada jaringan meristematis daun.
Tabel 10. Analisis Jumlah Daun Bibit Gmelina. Sumber
= ** Terdapat salah satu perlakuan yang memberikan pengaruh sangat nyata pada taraf kepercayaan 0,05 dan 0,01.
Hasil analisis data jumlah daun pada bibit Gmelina seperti yang tercantum pada tabel 10 sidik ragam, terlihat bahwa nilai F Hitung lebih besar daripada F Tabel pada taraf kepercayaan 0,05 dan 0,01 yang berarti bahwa terdapat salah satu perlakuan yang memberikan pengaruh berbeda sangat nyata pada pertumbuhan
37 jumlah daun bibit Gmelina. Karena pada tabel 10 menunjukkan hasil perbedaan yang sangat nyata (signifikan), maka kesimpulan harus diambil berdasarkan hasil Uji lanjut yang bertujuan untuk menguji perbedaan antar perlakuan dari hasil penelitian.
38 Tabel 11. Analisis Uji BNT Terhadap Jumlah Daun Bibit Gmelina.
Perlakuan Pemberian POC TOP G2 3
cc/polybag
11,78 11,78 12 35,56
11,85ab Pemberian POC TOP G2 5
cc/polybag
12,67 12 12 36,67
12,22bc Pemberian POC TOP G2 7
cc/polybag
12,22 12,89 12,22 37,33
12,44cd Pemberian POC Super A1 3
cc/polybag
12,67 13,11 12,44 38,22
12,74 d Pemberian POC Super A1 5
cc/polybag
12,89 12,67 12,89 38,45
12,82 d Pemberian POC Super A1 7
cc/polybag
yang berbeda nyata berdasarkan uji bnt pada selang kepercayaan 0,05.
39 Hasil uji BNT yang menunjukkan bahwa perlakuan pemberian Pupuk Organik Cair TOP G2 5 cc + Super A1 7 cc/polybag dan pemberian POC TOP G2 7 cc + Super A1 7 cc/polybag, merupakan perlakuan yang tidak saling berbeda nyata, namun berbeda nyata dengan perlakuan lain dan dari perlakuan ini masing-masing memberikan pengaruh yang terbaik terhadap jumlah daun bibit Gmelina.
Gambar 5. Perbandingan Rata-Rata Tinggi Bibit Dengan Jumlah Daun
Apabila dilihat rata-rata tinggi bibit Gmelina dan rata-rata jumlah daun pada Gambar 5 maka dapat disimpulkan bahwa antara pertambahan tinggi bibit dapat mempengaruhi penambahan jumlah daun, hal ini Menurut Heddy (1996), giberelin ditemukan di seluruh bagian tanaman, konsentrasi terbesar ditemukan di ujung batang dan daun muda. Ini artinya giberelin sangat berperan dalam peningkatan tinggi batang dan jumlah daun. Peningkatan jumlah daun ini sejalan dengan peningkatan tinggi bibit. Hal ini sesuai dengan pernyataan Golsworthy dan Fisher (1992), bahwa jumlah daun akan dipengaruhi oleh tinggi tanaman, dengan bertambahnya tinggi tanaman maka jumlah nodus
0 5 10 15 20 25 30
20,51 21,6 21,78 22,2 22,58 22,68 23,69 22,95 24,27 23,56 22,64 23,09 24,59 24,34 24,77 25,37
11,71 11,85 12,22 12,44 12,74 12,82 13,04 12,96 13,41 13,11 12,59 12,74 13,63 13,18 13,33 13,63 Tinggi Bibit Jumlah Daun
40 akan bertambah sehingga jumlah daun pun bertambah sebab daun keluar dari nodus tersebut.
Berdasarkan pada Tabel 7 dan 8 perlakuan pemberian pupuk organik cair TOP G2 dengan pemberian pupuk organik cair SUPER A1 diketahui bahwa respon yang di hasilkan oleh pupuk organik cair SUPER A1 lebih besar dari pada respon yang dihasilkan oleh pupuk organik cair TOP G2, ini artinya bahwa pemberian SUPER A1 menghasilkan rata-rata jumlah daun yang lebih baik. Sementara pada kombinasi perlakuan antara pupuk organik cair TOP G2 dengan SUPER A1 pada Tabel 9 terlihat bahwa interaksi perlakuan dengan dosis pupuk organik cair TOP G2 7cc/polybag dan SUPER A1 dengan dosis 3cc/polybag, 5cc/polybag dan 7cc/polybag memberikan rata-rata jumlah daun yang paling baik pada parameter pengamatan jumlah daun bibit Gmelina.
Proses pertumbuhan pada daun tidak terlepas dari pengaruh yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan faktor dari dalam, namun pada penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh lingkungan berupa pengaruh unsur hara yang terkandung dalam Pupuk organik Cair TOP G2 Dengan SUPER A1 telah memberikan pengaruh yang nyata pada pertumbuhan jumlah daun bibit Gmelina.
Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa dari dua (2) parameter pertumbuhan yang diamati, pemberian pupuk organik cair berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi dan jumlah daun. Dari keenam belas perlakuan pemberian pupuk organik cair TOP G2 dan pupuk organik cair Super A1 dengan dosis yaitu ; Tanpa pemberian pupuk organik Cair, pemberian POC TOP G2 3
41 cc/polybag, pemberian POC TOP G2 5 cc/polybag, pemberian POC TOP G2 7 cc/polybag, pemberian POC Super A1 3 cc/polybag, pemberian POC Super A1 5 cc/polybag, pemberian POC Super A1 7 cc/polybag, pemberian POC TOP G2 3 cc + Super A1 3 cc/polybag, pemberian POC TOP G2 3 cc + Super A1 5 cc/polybag, pemberian POC TOP G2 3 cc + Super A1 7 cc/polybag, pemberian POC TOP G2 5 cc + Super A1 3 cc/polybag, pemberian POC TOP G2 5 cc + Super A1 5 cc/polybag, pemberian POC TOP G2 5 cc + Super A1 7 cc/polybag, pemberian POC TOP G2 7 cc + Super A1 3 cc/polybag, pemberian POC TOP G2 7 cc + Super A1 5 cc/polybag, dan pemberian POC TOP G2 7 cc + Super A1 7 cc/polybag. tersebut memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap tinggi maupun jumlah daun.
42 VI. PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Pada perlakuan M3P3 (pemberian pupuk organik cair TOP G2 dengan dosis 7 cc + pupuk organik cair SUPER A1 dengan dosis 7 cc/polybag + 90 cc air) memiliki rata-rata tinggi bibit sebesar 25, 37 cm, perlakuan ini memberikan pengaruh yang lebih baik dan berbeda sangat nyata dengan perlakuan lainnya bagi pertumbuhan tinggi bibit Gmelina, dibuktikan dengan parameter pengamatan tinggi bibit Gmelina.
2. Kombinasi Perlakuan POC TOP G2 3 cc + Super A1 5 cc/polybag + 90 cc air (M1P2), serta kombinasi perlakuan POC TOP G2 5 cc + Super A1 7 cc/polybag + 90 cc air (M2P3) adalah merupakan perlakuan yang tidak berbeda nyata namun masing-masing memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan jumlah daun bibit Gmelina.
3. Hasil perbandingan antara pemberian pupuk organik cair TOP G2 dengan pupuk organik cair SUPER A1 menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik cair SUPER A1 memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan bibit Gmelina. Karena Pada rata-rata tinggi bibit yang mendapatkan pupuk organik cair SUPER A1 memiliki rata-rata tinggi sebesar 22,98 cm dan rata-rata jumlah daun yang mendapatkan pupuk organik cair SUPER A1 memiliki jumlah rata-rata sebesar 12,87
43 6.2 Saran
Adapun saran dari penelitian ini adalah
1. Untuk mendapatkan bibit Gmelina yang baik maka perlu dilakukan pemberian pupuk organik cair dengan kombinasi dosis M3P3 (pupuk organik cair Top G2 dengan dosis 7 cc + pupuk organik cair SUPER A1 dengan dosis 7 cc/polybag).
2. Untuk mengembangkan tanaman kehutanan Gmelina, maka perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai faktor-faktor yang menyebabkan pertumbuhan tanaman Gmelina yang memiliki batang yang tinggi, lurus, dan kokoh.