METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat
2. Pengambilan data Lapangan
berfungsi sebagai data attribute antara lain data kapasitas gedung, fasilitas yang dimiliki gedung, lapangan dan kondisi fisik bangunan. Data tersebut selanjutnya dibuat dalam bentuk tabulasi seperti tabel berikut.
Tabel 1. Fasilitas Sarana dan Prasarana Stadion Segiri Samarinda.
No Bangunan X Y Z Luas M² Kapasitas Fasilitas Ruangan
2. Pengambilan data Lapangan
Cara pengambilan data menggunakan GPS navigasi Garmin 60 CSX (Suryowidiyanto, 2008) adalah sebagai berikut :
a. Menentukan posisi berdiri pengambilan titik awal point b. Memegang GPS dengan benar
c. Memeriksa baterai d. Menekan tombol On (I/O)
e. Menunggu sebentar hingga GPS akan terhubung via satelit, minimal terlihat 4 signal satelit.
f. Saat masuk ke fitur map maka akan ada tanda panah bergerak-gerak, itu tanda kedudukan sekarang, bila garmin belum ada petanya maka GPS masih kosong alias belum diinstal peta, GPS bisa terkoneksi dengan software ArcGis, bila GPS masih kosong bisa untuk memasukkan koordinat-koordinat yang bisa dimengerti.
g. Dalam penelitian ini titik pada gedung diambil dibagian depan pintu, untuk pengambilan titik lapangan dibagian setiap sudut lapangan.
26
h. Lalu menekan “MARK”, untuk menyimpan koordinat saat ini, jika sudah rename point tersebut dengan nama yang diingankan.
i. Lalu tekan menekan tombol “SAVE” 3. Pengolahan Data
Data yang sudah diambil dari lapangan dibawa ke ruang laboratorium SIG Program Studi Geoinformatika Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Diolah dengan menggunakan komputer dengan aplikasi software Arc Gis. Dipadukan dengan peta administrasi Samarinda hingga mendapatkan hasil yang akurat. Pengolahan data terdiri dari identifikasi failitas umum, hasil pengukuran lapangan, pemetaan, input data atribut. Hasil akhir yang diperoleh berupa peta informasi komplek Stadion Segiri Samarinda.
a. Download Data GPS
Download data hasil survei lapangan menggunakan GPS biasanya berupa titik-titik (waypoint) dan garis (Track). Data-data ini biasanya langsung bisa ditransfer ke komputer dengan menggunakan software Map Source.
1) Membuka program Map Source
2) Memilih Receive From Device (Pastikan GPS telah terhubung) 3) Kemudian memilih tipe GPS> Receive
4) Menyeleksi file (point maupun track) yang akan di download dari GPS 5) Menyimpan file dalam format GPX. Untuk mengkonversi gpx ke
shapefile sehingga bisa terbaca oleh ArcGis,maka langkahnya sebagai berikut :
27
a. Membuka software Global Mapper > Open Your Own Data File
b. Mengeksport file gpx ke dalam format gpx ke dalam format shp dengan klik File > Export Vector Data > Export Shapefile
c. Mengklik tombol OK.
ArcGis juga dapat membaca data dari GPS dengan format DXF. 1) Membuka program Map Source
2) Memilih Receiver From Device (Pastikan GPS telah terhubung) 3) Memilih tipe GPS > Receiver
4) Menyeleksi data yang akan di download
5) File > Save As > Memilih lokasi penyimpanan > Mengisi File Name > Mengklik tombol Save As Type kemudian memilih DXF ( dxf) > Save b. Georeferencing
Georeferencing merupakan proses penempatan objek berupa penempatan objek raster atau image yang belum mempunyai acuan sistem koordinat ke dalam suatu sitstem koordinat dan proyeksi tertentu. Georeferencing dilakukan dengan membuat minimal 4 titik ikat yang tersebar.
1) Membuka program ArcMap star menu > program > ArcGis > ArcMap10 2) Untuk menampilkan peta yang akan di Georeferencing, browse dari
data direktorinya melalui icon add data
3) Memberi koordinat pada layer dengan cara mengklik kanan pada layer > properties > coordinat system. Kemudian memilih predefined >
28
projected coordinate system (Karena layer berupa UTM) > UTM >WGD 1984 > Southern Hemisphere > WGS 1984 UTM Zone 50S > OK 4) Mengaktifkan Georeferencing tool pada toolbars dari view > toolbar >
Georeferencing, atau mengklik kanan pada tools bar, lalu memberi tanda cek Georeferencing
5) Memilih add control point pada Georeferencing tool. X (hijau) merupukan Source (koordinat gambar), dan x (Merah) merupakan destination (koordinat sebenarnya)
6) Kemudian mengklik zoom pada gambar koordinat yang berpotongan untuk mempermudah pembuatan titik.
7) Mengklik kiri titik perpotongan > lalu memilih kanan > input X dan Y. 8) Titik ikat atau control point yang digunakan minimal 4 titik pada sudut
yang berbeda. Buka Link Table pada georeferencing tools untuk melihat RMS Error. Jika terdapat residual yang terlalu besar, bisa menghapusnya dengan klik icon yang bertanda X dan mengganti dengan control point baru yang lebih akurat.
9) Kemudian menekan tombol save untuk menyimpan titik ikat tersebut (format txt)
10) Georeferencing > Rectify. Memilih folder output dan mengatur nama filenya (format option)
c. Digitasi
Digitasi (Digitazing) adalah proses konversi feature ke dalam format digital, merupakan salah satu cara untuk membuat data fitur (feature data )
29
digital. Ada beberapa cara untuk mendigitalkan feature baru yaitu digitasi pada layar, digitasi hardcopy dari papan digitasi (digitizer tablet), atau menggunakan tools digitasi otomatis. Dalam digitasi kali ini menggunakan metode Digitazing on Screen (digitasi langsung pada layar komputer). Dalam metode ini, terlebih dahulu menampilkan peta dasar (basecamp) yang telah dilakukan Georeferencing sebelumnya.
ArcGis dapat melakukan digitalisasi dengan beberapa tipe format data. Untuk data vektor, software keluaran vektor ESRI ini memiliki kemampuan membuat dan menyimpan data feature dalam format Shapefile (SHP) yang familiar dengan produk pendahulunya, Arcview. Format shapefile setidaknya memiliki 3 tipe file untuk membangun suatu data yaitu dbf. Shx, dan shp. Format dbf yang merupakan file database IV shx merupakan file index spatial, sedangkan shp menyimpan file grafis.
1) Pembuatan shapefile melalui ArcCatalog di folder penyimpanan data feature. Folder telah dibuat sebelumnya pada ArcCatalog > klik kanan folder >conection >conect folder>tentukan folder>Ok
2) Mengklik kanan folder penyimpanan lalu pilih new,kemudian pilih shapefile.
3) Kemudian menyesuaikan name, feature type, dan spatial reference. Untuk Spatial Reference >description system> Edit > project coordinate system > UTM >WGS 1984> Southern Hemisphere> WGS 1984 UTM Zone 50S > Ok
30
5) Mengklik Eidtor> lalu start editing
6) Saat kondisi Editor Tools dalam keadaan aktif, kotak Create Feature akan muncul secara otomatis
7) Untuk digitazing batas maka menggunakan feature poligon, lalu memulai mendigitasi.
8) Mengklik dua kali jika digitasi telah selesai.
9) Kemudian mengedit vertex jika ingin menambah atau mengurangi vertex berdasarkan titik-titik koordinat feature yang telah dibuat. Edit vertex dilakukan dalam sketch Properties mengklik icon sketch properties kemudian mengklik feature yang telah dibuat.
10) Mengklik Editor > Stop editing > “Do you want to save project?” >kemudian memilih Yes.
31