BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Infeksi Saluran Kemih
Infeksi adalah invasi tubuh patogen atau mikroorganisme yang mampu menyebabkan sakit (Perry & Potter, 2005).
Infeksi adalah peristiwa masuk dan penggandaan mikroorganisme didalam tubuh penjamu (Linda Tietjen, 2004).
Infeksi merupakan interaksi antara mikroorganisme dengan penjamu yang terjadi melalui kode transmisi kuman tertentu. Cara transmisi mikroorganisme dapat terjadi melalui darah, udara, dan dengan kontak langsung.
ISK merupakan respon inflamasi dari urotheliumterhadap invasi bakteri yang biasanya berhubungan denganbakteriuriadanpiuria.
Bakteriuria adalah adanya bakteri dalam urin, yang biasanya bebas dari bakteri. Bakteriuria dapat bergejala dan tidak bergejala. Sedangkan piuria adalah, adanya sel-sel darah putih (leukosit) dalam urin, umumnya menunjukkan infeksi dan respon inflamasi dari urothelium untuk bakteri. Bakteriuria tanpa piuria umumnya menunjukkan kolonisasi bakteri tanpa infeksi saluran kemih. Sedangkan piuria tanpa bakteriuria bisa dicurigai suatu tuberculosis, batu, atau kanker.
ISK adalah hasil dari interaksi antara pathogen dari saluran kemih dan host. Infeksi saluran kemih ditentukan oleh faktor-faktor virulensi bakteri, ukuran inokulum, dan ketidak cukupan mekanisme pertahanan host. Faktor-faktor ini juga berperan dalam menentukan tingkat akhir dari kerusakan pada saluran kemih. Rute infeksi saluran kemih dapat secara asending, limfatik, dan hematogen.
Manifestasi klinisdapat berupa gejala asimtomatik yang merupakan kolonisasi bakteri dari kandung kemih berupa gejala iritasi seperti frekuensi dan urgensi yang terkait dengan infeksi bakteri yang berhubungan dengan adanya demam, menggigil, dan nyeri pinggang, dan bakteremiaterkait denganmorbiditas berat, termasuksepsis
Pada penderita BPH awalnya dinding otot kandung kemih menjadi hipertrofi dan menebal pada fase kompensasi. Pada fase ini otot detrusor akan berkontraksi lebih kuat. Kontraksi detrusor yang terus-menerus akan mengakibatkan penebalan dan penonjolan serat detrusor ke dalam buli-buli yang disebut pula trabekulasi, bentuknya serupa balok-balok. Mukosa vesika dapat menerobos antara serat detrusor sehingga membentuk sakula dan bila semakin membesar disebut divertikel. Detrusor yang terus-menerus mengkompensasi pada suatu saat akan jatuh pada fase dekompensasi dimana otot detrusor tidak mampu berkontraksi lagi dan terjadi retesi urin total.
refluks vesikouretral, yang semakin diteruskan ke atas mengakibatkan dilatasi ureter (hidroureter) dan sistem pelviokalises ginjal (hidronefrosis). Sisa urin dalam vesika dapat meningkatkan risiko terjadinya batu endapan dan infeksi. Pada umumnya, organisme patogen tidak akan berkembang biak dalam urin dan jarang menyebabkan ISK (Cattell et al, 1974). Namun, flora normal pada urin akan berkembang biak dengan baik (Asscher et al, 1968). Faktor yang menentukan pertumbuhan bakteri pada urin adalah osmolalitas, konsentrasi urea, konsentrasi asam organik, dan pH.
2.3.1 Epidemiologi
Epidemiologi ISK dikelompokkan berdasarkan usia dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 2.3. Pada bayi baru lahir sampai usia 1 tahun, bakteriuria dijumpai dalam 2,7% dari anak laki-laki dan 0,7% pada anak perempuan (Wettergren, Jodal, dan Jonasson, 1985). Kejadian ISK pada laki-laki yang tidak disunat lebih tinggi dari pada laki-laki yang disunat (1,12 % dibandingkan dengan 0,11 % ) (Wiswell dan Roscelli, 1986). Pada anak-anak usia 1 sampai 5 tahun, kejadian bakteriuria pada anak perempuan meningkat menjadi 4,5 %, sementara itu penurunan pada anak laki-laki menjadi 0,5 % (Randolph dan Greenfield, 1964). Sebagian besar ISK pada anak kurang dari 5 tahun biasanya berhubungan dengan kelainan congenital pada saluran kemih, seperti refluks vesicoureteral atau obstruksi. Insiden bakteriuria tetap relatif konstan pada anak usia 6-15 tahun . Namun, ISK pada anak-anak lebih mungkin dihubungkan dengan kelainan fungsional saluran kemih, seperti gangguan berkemih. Selama masa remaja, kejadian ISK meningkat secara signifikan ( 20% ) pada wanita muda, dan tetap konstan pada pria muda ( Sanford, 1975).
Pada pria dengan prostatic hipertrofi / obstruksi, kateterisasi, dan pembedahan merupakan faktor risiko yang berkaitan untuk terjadinya infeksi. Untuk pasien yang lebih tua dari 65 tahun, kejadian ISK biasanya terus meningkat. Pada usia kurang dari 1 tahun dan yang lebih tua dari 65 tahun, morbiditas dan mortalitas dari ISK adalah yang terbesar ( Shortliffe dan McCue, 2002) .
Tabel.2.3 Epidemiologi Genitourinarius
Pondei dkk melakukan penelitian terhadap pasien dengan infeksi saluran kemih di Nigeria. Didapatkan bahwa kejadian infeksi saluran kemih terjadi sebesar 41,6% pada pasien dengan gangguan patologi ginjal, 39% pada wanita hamil, 16% pada pasien dengan pembesaran prostat ( Pondei K et al., 2012 ).
Bakteriuria dapat terjadi pada penderita retensi urin karena BPH sebelum pemasangan kateter, hal ini dapat disebabkan karena terjadi urin statis yang berlarut-larut, apalagi pada penderita dengan riwayat pernah pakai kateter berulang. Furqan melaporkan bakteriuria sudah terjadi sebelum pakai kateter pada 12,12% dari kelompok yang baru pertama kali pakai keteter, dan 38,46% dari kelompok yang berulang pakai kateter. Peningkatan bakteriuria yang bermakna ditemukan setelah pemakaian kateter baik pada pemakaian kateter pertama kali atau berulang. Sesuai dengan literatur bahwa pertumbuhan bakteri sudah terjadi dalam 24 jam pemakaian kateter menetap, dan terjadi peningkatan bakteriuria 10% setiap harinya pada perawatan tertutup ( Furqan, 2003 ) Kuman penyebab bakteriuria karena pemakaian kateter menetap dari penelitian ini banyak disebabkan oleh E.coli, kemudian dikuti oleh Staphylococcus aureus, Klebsiella sp, Citrobacter sp, Enterococcus sp dan Proteus sp.
Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian ini yang mana ditemukan 100 % adalah gram negatif. E.Coli merupakan jenis bakteri yang sering dijumpai ( Pondei K et al., 2012 ). Hal yang sama juga didapatkan pada penelitian ini bakteri yang paling banyak adalah Escherichia Coli (46.2%) serta yang paling sedikit ditemukan adalah Klebsiella Pneumonia (23.1%). Hasil ini sama dengan hasil kepustakaan Barat, dimana di negara maju infeksi saluran kemih 48,6 % adalah E.coli, dan pada penelitian ini memperoleh hasil sekitar 46,2%. Dari penelitian lain sebelumnya ada yang melaporkan kuman penyebab bakteriuria terbanyak bukan oleh E. coli, ini mungkin perbedaan tempat dan perlakuan terhadap penderita misalnya penderita yang dirawat inap di rumah sakit penyebab bakteriuria sering oleh kuman nosokomial (pseudomonas) dan juga kerap kali berkaitan dengan hyegine dan sanitasi penderita dalam merawat kebersihan kateter ( Taiwo SS et al., 2006 ).
Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Taiwo SS dan Aderounmu AOA, meneliti kuman yang diakibatkan oleh pemasangan kateter. Dari total 122 pasien, sebanyak 76 (62,3%) diakibatkan oleh pembesaran prostat jinak. Kuman yang paling banyak ditemukan adalah E.Coli dan Pseudomonas Aerogenosa masing-masing 20,6%. Berdasarkan penelitian ini, pada pasien infeksi saluran kemih sebesar 82.05% sensitif terhadap Imipenem yang kemudian diikuti dengan Amikacin (74.35%). Namun pada penelitian yang dilakukan Pondei et al., anti mokroba yang sensitif dan tepat untuk diberikan adalah nitrofurantoin.
Pondei dkk melaporkan bahwa bakteri gram negatif lebih resisten terhadap cloxacilin dan amoxicillin-clavulanat. E. Coli, K. Pneumoniae, dan P. Mirabilis lebih sensitive terhadap nitrofurantoin dan kurang sensitive terhadap cloxacilin dan amoxicillin-clavulanat. Staphilokokus lebih sensitive terhadap ceftazidim dan kurang sensitive terhadap cloxacilin, lincomicin dan oxacilin. Selain itu pondei dkk juga melaporkan bahwa tidak ada pengaruh antara usia dan jenis kelamin terhadap sensitivitas antibiotika pada infeksi saluran kemih (Pondei K et al., 2012).
2.3.2 Cara Pengambilan Sampel
Dalam keadaan normal urine bersifat steril. Pada keadaan infeksi saluran kemih (ISK), akan ditemukan bakteri dalam jumlah bermakna di dalam urine. Penyebab terbanyak ISK adalah bakteri enterik terutama Escherichia coli. Pada ± 10 % penderita
ISK dapat ditemukan 2 jenis bakteri yang keduanya mungkin merupakan penyebab. Jika ditemukan 3 jenis bakteri atau lebih, hal ini mungkin disebabkan oleh cara pengambilan dan pengolahan bahan urine yang tidak sempurna. Walaupun demikian hal ini dapat terjadi pada penderita ISK yang menggunakan kateter menetap. Pemeriksaan bakteriologik terhadap urine bertujuan untuk menentukan diagnosis bakteriologik ISK.
Bahan urin utuk pemeriksaan harus segar dan sebaiknya diambil pada pagi hari. Bahan urin dapat diambil dengan cara punksi supra pubik (suprapubic puncture=SPP), dari kateter dan urin porsi tengah (midstream urine). Bahan urin yang paling mudah diperoleh adalah urin porsi tengah dan ditampung dengan wadah bermulut lebar dan steril (Roehrborn CG et al., 2010).
Sampel yang diambil adalah urin porsi tengah. Pria yang tidak dikhitan harus menarik prepusiumnya, membersihkan ujung penis dengan larutan antiseptik, dan tetap menarik prepusiumnya selama berkemih. Pasien pria mulai berkemih ke dalam toilet, kemudian menempatkan wadah steril dengan mulut lebar di bawah penisnya untuk mengumpulkan sampel urin porsi tengah. Cara ini mencegah kontaminasi spesimen urin dari organisme kulit dan urethra.
Bila perlu semua sampel urin harus diperiksa dalam kurun waktu 1 jam setelah pengumpulan dan ditempatkan untuk kultur dan sensitivitas jika ada indikasi. Jika urin dibiarkan pada suhu kamar dalam waktu yang lebih lama, bakteri yang muncul akan tumbuh lebih cepat, pH dapat berubah, dan sel-sel darah merah dan putih dapat tidak terindikasi. Jika tidak mungkin untuk memeriksa urin dengan segera, sampel harus diletakkan di dalam pendingin pada suhu 5OC.
2.3.3 Pengambilan, Penyimpanan Dan Pengiriman Spesimen A. Tujuan
Mendapatkan spesimen urine yang memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan bakteriologik.
B. Waktu Pengambilan
Disarankan urine pagi pertama ( pada malam hari tidak buang air kecil ). Bila hal ini tidak memungkinkan maka urine diambil 2 jam setelah buang air kecil terakhir (Roehrborn CG et al., 2010).
C. Peralatan dan Bahan 1. Peralatan
a. Semprit
b. Wadah steril dari gelas atau plastik bermulut lebar bertutup rapat, volume lebih kurang 50 ml.
2. Bahan a. Air hangat b. Alkohol 70 % c. Handuk d. Kasa steril e. Povidon Iodine 10 % f. Sabun D. Prosedur Pengambilan 1. Urine Porsi Tengah
a. Penderita harus mencuci tangan memakai sabun
b. Jika tidak disunat tarik kulit preputium kebelakang, keluarkan urin, aliran yang pertama dibuang, aliran urin selanjutnya ditampung dalam wadah yang sudah disediakan.
c. Wadah ditutup Wadah ditutup rapat dan segera dikirimkan ke laboratorium.
Pada penderita yang tidak mampu melakukan sendiri, hal ini dilakukan dengan bantuan perawat.
E. Pemberian Identitas
1. Formulir permintaan pemeriksaan surat pengantar / formulir permintaan pemeriksaan laboratorium sebaiknya memuat secara lengkap :
a. Tanggal permintaan
b.Tanggal dan jam pengambilan spesimen
c. Identitas pasien ( nama, umur, jenis kelamin, alamat, nomor rekam medik )
d.Identitas pengirim (nama, alamat/ruangan, nomor telpon) e. Identitas spesimen ( jenis, volume, lokasi pengambilan ) f. Pemeriksaan laboratorium yang diminta
g.Nama pengambil spesimen h.
i.
Transpor medial pengawet yang digunakan
2. Label
Keterangan klinis : diagnosis atau rawatan singkat penyakit, riwayat pengobatan
Wadah urine diberi lebel yang memuat : a. Tanggal pengambilan spesimen
b Identitas pasien ( nama, umur, jenis kelamin, nomor rekam medik ).
c. Jenis spesimen
F. Penyimpanan Spesimen
Semua spesimen urine harus sudah sampai di laboratorium dalam waktu 1 jam setelah pengambilan. Jika hal ini tidak mungkin dilaksanakan, spesimen harus disimpan di lemari es ( 2°-8°C ) segera setelah pengambilan, selanjutnya harus sudah diproses di laboratorium dalam waktu 18 jam.
G. Pengiriman Spesimen
Pengiriman spesimen dilakukan dengan menggunakan "cool box" ( 2-8°C ) Kecuali jika waktu perjalanan yang diperlukan kurang dari 1 jam.
2.3.4 Hitung Kuman, Isolasi dan Identifikasi A.
Hitung kuman bertujuan untuk menilai apakah jumlah kuman yang tumbuh bermakna atau tidak untuk ISK. Sedangkan isolasi dan identifikasi bertujuan untuk mengetahui bakteri penyebab ISK.
Tujuan B. Peralatan 1. Bunsen burner 2. Cawan petri 3. Inkubator 4. Kaca Objek 5. Kaca Penutup 6. Mikroskop binokuler 7. Penghitung koloni 8. Sengkelit 10-3
C. Media dan Reagen 1. Agar Darah (AD)
2. Agar Mac Conkey (MC) 3. Antesera spesifik
4. Brain Heart Infusion (BHI) Agar 5. NaCl fisiologis
6. Pewarnaan gram 7. Reagen uji biokimia
D. Prosedur pemeriksaan 1. Mikroskopik
a.
b. Supernatan dibuang
Urine disentrifugasi 3000 rpm selama 5 - 10 menit
c. Teteskan endapan pada 2 kaca objek d. Tutup kaca objek 1 dengan kaca penutup e.
f.
Lihat di bawah mikroskop dengan pembesaran 400 kali Hitung jumlah leukosit per lapang pandang
2. Isolasi, hitung koloni dan identifikasi
g. Terhadap sedimen pada kaca objek 2, lakukan pewarnaan gram
Spesimen urine yang tidak disentrifuge :
a. Masukkan dalarn Brain Heart Infusion (BHI) dengan perbandingan 1: 9.
b. Lakukan isolasi pada Agar Darah dan Agar Mac Conkey dengan cara 1 / cara 2.
1.
1. Dengan menggunakan sengkelit (volume 10 Cara I
-3
2. Khusus inokulasi pada Agar Darah dilakukan dengan cara : ), spesimen urine yang tidak disentrifuge. diinokulasikan pada Agar Darah dan Agar Mac Conkey.
a. Ambil satu sengkelit (volume 10-3
b. Goreskan secara menyilang di bagian tengah media Agar Darah.
ml) urine yang tidak disentrifus.
c. Selanjutnya dibuat goresan sepanjang goresan pertama, dengan arah tegak lurus terhadap goresan pertama. Kemudian buat goresan tegak lurus terhadap goresan terakhir sampai media penanaman penuh.
3. Inkubasi Agar Darah dan Agar Mac Conkey pada suhu 35 - 37°
4. Hitung koloni yang tumbuh pada Agar C selama 24 jam
5.Dari koloni yang tumbuh pada Agar Darah (setelah hitung koloni) dan Agar Mac Conkey dilakukan pewarnaan Gram. 6. Kuman Gram (+) kokus dan koloni Gram(-) yang tumbuh
pada Agar Darah dilanjutkan dengan uji identifikasi. 2.
1. Buat pengenceran urine, dengan mencampur 0,2 ml urine Cara II
3. Aduk rata dengan cara menggoyangkan ke kanan dan ke kiri supaya urine tercampur rata dengan perbenihan
4. Inkubasi pada suhu 35°C - 37°C selama 24 jam 5. Hitung koloni yang tumbuh pada Agar
6. Buat sediaan Gram dari koloni yang tumbuh pada Agar Darah (setelah hitung koloni) dan Agar Mac Conkey
7. Lanjutkan dengan uji identifikasi seperti cara I 3. Pembacaan dan interpretasi hasil
a. Mikroskopis
Hitung jumlah lekosit yang ditemukan. Untuk laki-laki laporkan bila ditemukan lekosit > 2/LPB, sedangkan untuk wanita bila > 5/LPB, denaan catatan hasil lengkap hitung kuman isolasi dan identifikasi menyusul.
b. Hitung Kuman 1. Pembacaan hasil :
Jumlah kuman dalam 1 ml urine adalah jumlah koloni yang tumbuh dikalikan 1000 (karena volume ose yang dipakai 10 Untuk cara I
-3
ml).
Jumlah kuman dalam 50 µ l urine adalah jumlah Y koloni yang turnbuh dikalikan dengan pengenceran ( 50 X). Dengan demikian jumlah kuman dalam 1 ml urine = 20 Y.
Untuk cara II
2. Intepretasi Hitung Kuman a. Kategori 1 :
Jika didapatkan jumlah kuman kurang dari 104
o Pada urine porsi tengah diinterpretasikan kemungkinan tidak ada infeksi saluran kemih.
per ml urine :
o Pada urine pungsi suprapubik atau kateter, pemeriksaan dilanjutkan dengan isolasi dan identifikasi serta uji kepekaan.
b. Kategori 2 :
Jika jumlah kuman antara 104 - 105
Jika pasien menunjukkan gejala infeksi saluran kemih, pemeriksaan dilanjutkan dengan identifikasi dan uji kepekaan. Jumlah kuman pada batas ini, disertai dengan lekosituri, sangat dicurigai adanya infeksi. Jika meragukan, mintakan urine kedua untuk pemeriksaan ulang.
per ml urine dan pasien tidak menunjukkan keluhan, mintakan urine kedua dan hitung kuman diulangi.
c. Kategori 3 :
Pada urine porsi tengah, jika jumlah kuman lebih dari 105
Kategori ini tidak berlaku bagi urine kateter dan urine pungsi supra- pubik.
per ml urine, pemeriksaan dilanjutkan dengan isolasi dan identifikasi serta uji kepekaan, meskipun penderita tidak menunjukkan gejala.
4. Pencatatan dan pelaporan
Setelah hasil ditemukan lengkap, dicatat dalam buku registrasi laboratorium dan dilaporkan pada pengiriman dalam formulir hasil pemeriksaan.
Rekomendasi umum untuk pelaporan hitung kuman pada urine porsi tengah :
Jika jumlah kuman kurang dari a. Kategori 1 :
104 per ml urine dilaporkan kemungkinan tidak ada infeksi suprapubik atau kateter, jumlah kuman ini harus dilaporkan bersama hasil identifikasi dan uji kepekaan.
b. Kategori 2 :
c.
Jika jumlah lebih dari 10 Kategori 3 :
5
per ml urine, dilaporkan bersama hasil identifikasi dan uji kepekaan.
2.3.5
Untuk pasien dengan gejala pemeriksaan urinalisis mikroskopik untuk bakteriuria, piuria, dan hematuria harus dilakukan. Urinalisis dilakukan untuk mengidentifikasi bakteri dan leukosit dan sebagai diagnosis dugaan ISK.Biasanya ISK, ditemukan leukosit urin dengan sedimen > 5 / LPB.
Urinalisa
2.3.6 Kultur Urin
Standar baku untuk diagnosa ISK adalah kultur urin secara kuantitatif. Urin harus dikumpulkan dalam wadahsteril dan segera dikultur. Bila tidak langsung dikultur, urin dapat disimpan dalam lemari essampai 24jam. Sampel tersebut kemudiandiencerkandan disebardi piring kultur. Setiap bakteri akan membentuk koloni tunggal pada piring. Jumlah koloni dihitungdandisesuaikanper mililiterurin(CFU/mL) (Stamm etal, 1982). Bakteriuria mikroskopis ditemukan lebih dari 90% dari infeksi dengan jumlah > 105 koloni (CFU) /mililiter urin dan ini merupakan temuan yang sangat spesifik (Stamm, 1982; Jenkins et al,1986).
BAB 3
METODE PENELITIAN