10. Staf Teknis Pengairan dan Staf Teknis Ketentraman dan Ketertiban
4.3. Pengangkatan dan Pemberhentian Perangkat Desa
Dalam Peraturan Pemerintah No. 43 tahun 2014 tentang Desa, pasal 61, Perangkat Desa terdiri atas:
a. sekretariat Desa;
b. pelaksana kewilayahan; dan c. pelaksana teknis.
Perangkat Desa berkedudukan sebagai unsur pembantu kepala Desa. Selanjutnya dalam Pasal 62 menjelaskan:
(1) Sekretariat Desa dipimpin oleh sekretaris Desa dibantu oleh unsur staf sekretariat yang bertugas membantu kepala Desa dalam bidang administrasi pemerintahan.
(2) Sekretariat Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling banyak terdiri atas 3 (tiga) bidang urusan.
118
(3) Ketentuan mengenai bidang urusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 63 menyebutkan bawa pelaksana kewilayahan merupakan unsur pembantu kepala Desa sebagai satuan tugas kewilayahan. Jumlah pelaksana kewilayahan ditentukan secara proporsional antara pelaksana kewilayahan yang dibutuhkan dan kemampuan keuangan Desa. Adapun dalam Pasal 64 dijelaskan tentang pelaksana teknis. Pelaksana teknis merupakan unsur pembantu kepala Desa sebagai pelaksana tugas operasional. Pelaksana teknis paling banyak terdiri atas 3 (tiga) seksi.
Pengangkatan Perangkat Desa (pasal 65): (1) Perangkat Desa diangkat dari warga Desa yang
memenuhi persyaratan:
a. berpendidikan paling rendah sekolah menengah umum atau yang sederajat; b. berusia 20 (dua puluh) tahun sampai
dengan 42 (empat puluh dua) tahun;
c. terdaftar sebagai penduduk Desa dan bertempat tinggal di Desa paling kurang 1 (satu) tahun sebelum pendaftaran; dan
1. Penyelenggaraan Pemerintahan Desa
119 d. syarat lain yang ditentukan dalam
peraturan daerah kabupaten/kota.
(2) Syarat lain pengangkatan perangkat Desa yang ditetapkan dalam peraturan daerah kabupaten/kota harus memperhatikan hak asal usul dan nilai sosial budaya masyarakat.
Pengangkatan perangkat Desa dilaksanakan dengan mekanisme sebagai berikut: (Pasal 66): a. kepala Desa melakukan penjaringan dan penyaringan atau seleksi calon perangkat Desa; b. kepala Desa melakukan konsultasi dengan camat atau sebutan lain mengenai pengangkatan perangkat Desa; c. camat atau sebutan lain memberikan rekomendasi tertulis yang memuat mengenai calon perangkat Desa yang telah dikonsultasikan dengan kepala Desa; dan d. rekomendasi tertulis camat atau sebutan lain dijadikan dasar oleh kepala Desa dalam pengangkatan perangkat Desa dengan keputusan kepala Desa.
Pegawai negeri sipil kabupaten/kota setempat yang akan diangkat menjadi perangkat Desa harus mendapatkan izin tertulis dari pejabat pembina kepegawaian. Dalam hal pegawai negeri
120
sipil kabupaten/kota setempat terpilih dan diangkat menjadi perangkat Desa, yang bersangkutan dibebaskan sementara dari jabatannya selama menjadi perangkat Desa tanpa kehilangan hak sebagai pegawai negeri sipil, sebagaimana terurai dalam pasal 67.
Peraturan Pemerintah tersebut ditindaklanjuti dalam Permendagri No. 83 Tahun 2015 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Perangkat Desa. Ada beberapa pasal penting menyangkut persyaratan pengangkatan dan mekanisme pengangkatan. Persyaratan Pengangkatan (pasal 2) mensyaratkan:
(1) Perangkat Desa diangkat oleh Kepala Desa dari warga Desa yang telah memenuhi persyaratan umum dan khusus.
(2) Persyaratan Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut:
a. Berpendidikan paling rendah sekolah menengah umum atau yang sederajat;
b. Berusia 20 (dua puluh) tahun sampai dengan 42 (empat puluh dua) tahun;
1. Penyelenggaraan Pemerintahan Desa
121 c. Terdaftar sebagai penduduk Desa dan
bertempat tinggal di Desa paling kurang 1 (satu) tahun sebelum pendaftaran; dan d. Memenuhi kelengkapan persyaratan
administrasi.
(3) Persyaratan Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah persyaratan yang bersifat khusus dengan memperhatikan hak asal usul dan nilai sosial budaya masyarakat setempat dan syarat lainnya.
(4) Persyaratan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan dalam Peraturan Daerah.
Dalam Pasal 3 dijelaskan tentang kelengkapn persyarakat administrasi sebagai berikut:
a. Kartu Tanda Penduduk atau Surat Keterangan bertempat tinggal paling kurang 1 (satu) Tahun sebelum pendaftaran dari Rukun Tetangga atau Rukun Warga setempat;
b. Surat Pernyataan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dibuat oleh yang bersangkutan di atas kertas bermaterai;
122
c. Surat Pernyataan memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika, yang dibuat oleh yang bersangkutan diatas kertas segel atau bermaterai cukup;
d. Ijazah pendidikan dari tingkat dasar sampai dengan ijazah terakhir yang dilegalisasi oleh pejabat berwenang atau surat pernyataan dari pejabat yang berwenang;
e. Akte Kelahiran atau Surat Keterangan Kenal Lahir;
f. Surat Keterangan berbadan sehat dari Puskesmas atau aparat kesehatan yang berwenang; dan
g. Surat Permohonan menjadi Perangkat Desa yang dibuat oleh yang bersangkutan di atas kertas segel atau bermaterai cukup.
Mekanisme pengangkatan mencakup (pasal 4):
(1) Pengangkatan Perangkat Desa dilaksanakan melalui mekanisme sebagai berikut:
1. Penyelenggaraan Pemerintahan Desa
123 a. Kepala Desa dapat membentuk Tim yang
terdiri dari seorang ketua, seorang sekretaris dan minimal seorang anggota; b. Kepala Desa melakukan penjaringan dan
penyaringan calon Perangkat Desa yang dilakukan oleh Tim;
c. Pelaksanaan penjaringan dan penyaringan bakal calon Perangkat Desa dilaksanakan paling lama 2 (dua) bulan setelah jabatan perangkat desa kosong atau diberhentikan; d. Hasil penjaringan dan penyaringan bakal
calon Perangkat Desa sekurang-kurangnya 2 (dua) orang calon dikonsultasikan oleh Kepala Desa kepada Camat;
e. Camat memberikan rekomendasi tertulis terhadap calon Perangkat Desa selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja;
f. Rekomendasi yang diberikan Camat berupa persetujuan atau penolakan berdasarkan persyaratan yang ditentukan;
g. Dalam hal Camat memberikan persetujuan, Kepala Desa menerbitkan Keputusan Kepala Desa tentang Pengangkatan Perangkat Desa; dan
124
h. Dalam hal rekomendasi Camat berisi penolakan, Kepala Desa melakukan penjaringan dan penyaringan kembali calon Perangkat Desa.
(2) Pengaturan lebih lanjut mengenai tugas dan fungsi Tim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diatur dalam Peraturan Kepala Desa.
Kepala Desa dapat mengangkat unsur staf Perangkat Desa. (Pasal 8) Unsur staf adalah untuk membantu Kepala Urusan, Kepala Seksi, dan Kepala Kewilayahan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan keuangan desa.
Di Desa Lerep lurah sudah mengantisipasi atau lebih tanggap terhadap kemungkinan persoalan yang akan muncul, sehingga sudah melakukan pengisian perangkat desa sebelum Permendagri No. 83 Tahun 2015 tersebut lahir, sebagaimana diungkapkan oleh Lurah Lerep:
“saya menyiapkan lebih dahulu calon yang memiliki kriteria tertentu ,penduduk desa, dengan pendidikan D3 Teknik Sipil untuk mengisi Kaur Pembangunan, dan pendidikan
1. Penyelenggaraan Pemerintahan Desa
125 lulusan SMA Akuntasi untuk mengisi Kaur Keuangan/bendahara. Saya menabrak regulasi, saya melihat anak dengan potensi bagus, yang penting bukan anak atau saudara saya. Lalu saat musyawarah desa yang dihadiri ketua RT, RW, BPD, dan tokoh lembaga kemasyarakatan, dilakukan pemilihan perangkat desa. Di awal acara saya bilang ....Bapak Ibu....ini ada orang dengan potensi bagus, saya harap dia bisa membantu saya di pemerintah desa. Jika bapak/ibu setuju silakan menandatangani persetujuan. Jika bapak/ibu tidak setuju, ya silakan carikan orang lain dengan kapasitas setara orang tersebut untuk dijadikan kaur pemerintahan. Akhirnya forum setuju. Dengan dilampiri tanda tangan yang hadir”.
Adapun di Desa Kemiri, lurah merespon peraturan baru dengan ambigu, satu sisi tetap mengakomodasi para perangkat desa yang saat ini masih berpendidikan SLTP, satu-satunya yang lulusan SLTA adalah sekretaris desa, tetapi di sisi lain melakukan pemilihan bau (kepala dusun) 1
126
(Kemiri Lor atau Kopak Kopyah,yang mencakup 12 RT) dan bau 2 (Kemiri Tengah atau Kopak Jambu yang mencakup 7 RT) yang kosong karena memasuki usia 60 tahun. Kepala Desa membentuk Tim yang terdiri dari seorang ketua, seorang sekretaris dan minimal seorang anggota. Setelah itu Kepala Desa melakukan penjaringan dan penyaringan calon Perangkat Desa yang dilakukan oleh Tim. Saat dibuka penjaringan bakal calon Kadus yang mencalonkan diri menjadi di Dusun 1 sejumlah 15 orang, dan Dusun 2 ada 13 calon. Menurut Lurah Kemiri:
“Tim menyusun soal, karena yang berminat cukup banyak. Tim dikarantina di suatu tempat, begitu soal jadi langsung ke kelurahan untuk diujikan. Begitu selesai tes, langsung dikoreksi, lalu diranking. Setelah itu nilai digabungkan dengan nilai dedikasi dan pengalaman”.
Hasil penjaringan dan penyaringan bakal calon Perangkat Desa sekurang-kurangnya 2 (dua) orang calon dikonsultasikan oleh Kepala Desa
1. Penyelenggaraan Pemerintahan Desa
127 kepada Camat. Camat memberikan rekomendasi tertulis terhadap calon Perangkat Desa selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja. Rekomendasi yang diberikan Camat berupa persetujuan atau penolakan berdasarkan persyaratan yang ditentukan. Dalam hal Camat memberikan persetujuan, Kepala Desa menerbitkan Keputusan Kepala Desa tentang Pengangkatan Perangkat Desa; dan dalam hal rekomendasi Camat berisi penolakan, Kepala Desa melakukan penjaringan dan penyaringan kembali calon Perangkat Desa (Permendagri No. 83 Tahun 2015 pasal 4).
Dilihat dari peraturan yang ada pasal 2-4, sebenarnya terjadi pertentangan pada kewenangan kepala desa dalam mengangkat perangkat desa. Di satu sisi memberikan kewenangan luas bagi kepala desa untuk mengangkat perangkat desa, namun dengan syarat umum yang ditentukan oleh Pemerintah Pusat dan syarat khusus diberikan oleh Pemerintah Kabupaten melalui Peraturan Daerah.
Dengan demikian pada dasarnya kehadiran UU No. 6 tahun 2014 tentang Desa direspon sangat baik oleh pemerintah desa. Tidak ada
128
konflik yang membuat pelayanan pada masyarakat desa terabaikan. Kemampuan mengadaptasi perubahan dapat juga dilihat saat ada perubahan syarat menjadi perangkat desa, sebagaimana yang tertuang pada Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 83 Tahun 2015 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Perangkat Desa. Di massa lalu, menilik nilai tradisional yang ada, untuk menjadi pamong desa tidak dituntut persyaratan yang rumit, yang paling penting adalah niat dan kemauan untuk mengabdi dan ngemong masyarakat desa. Saat ini, dengan adanya aturan pelaksana yang menyangkut pengangkatan dan pemberhentian perangkat desa (Permendagri No. 83 tahun 2015), maka dilakukan penyesuaian-penyesuaian.
4.4. Posisi dan Peran Badan Permusyawaratan