BAB II MIMPI DAN LUPA NAMA DALAM NOVEL
2.1 Pengantar
Melalui bab ini, penulis akan menjawab rumusan masalah pertama yang
telah disebutkan dalam bab sebelumnya, yakni mengenai mimpi dan lupa nama
dalam novel 3C1P karya Arswendo. Pembahasan dalam bab ini akan
memfokuskan kepribadian yang dialami tokoh utama laki- laki dan tokoh utama
perempuan yaitu tokoh Bong dan tokoh Keka yang mengalami mimpi dan lupa
nama. Selain itu, tokoh Bong dan Keka merupakan tokoh yang dinarasikan
mengalami dinamika kepribadian dengan porsi yang paling besar. Oleh karena itu,
analisis terhadap mimpi dan lupa nama yang dialami tokoh Bong dan tokoh Keka
diasumsikan akan memberikan pengaruh pada analisis mengenai dinamika
kepribadian dalam novel 3C1P. Analisis mimpi dan lupa nama dalam penelitian
ini dilakukan untuk membongkar ketidaksadaran tokoh yang dimunculkan melalui
mimpi dan lupa.
Adapun pada bagian selanjutnya, akan diuraikan mengenai pengalihan
keinginan Arswendo sebagai pengarang melalui penafsiran mimpi dan lupa nama
dalam ketidaksadarannya melalui teks. Proses tersebut merupakan bagian dari
anggapan Freud bahwa teks sastra merupakan bagian dari mimpi dengan mata
terbuka (Milner, 1992 : 97). Pengalihan tersebut merupakan bagian dari
ketidaksadaran Arswendo atau mimpi Arswendo dengan mata terbuka.
2.2Mimpi
“Misteri jiwa manusia, terletak dalam drama-drama psikis masa kecil
mereka. Singkapkanlah itu, maka penyembuhan pun tampak pasti (Freud dalam
Osborne, 2000 : 35). Mengutip kata-kata Freud tadi dari buku pertamanya yang
berjudul Interpretation of Dreams (penafsiran mimpi- mimpi) telah
menghantarkan penulis dalam proses analisis memposisikan diri sebagai seorang
psikiater yang mempunyai keharusan untuk mendeskripsikan persoalan
kepribadian yang dialami para tokoh dalam teks novel 3C1P karya Arswendo,
karena tokoh-tokoh di dalam teks sastra sebagai pasien yang berbicara mengenai
kehidupannya.
Freud memandang mimpi sebagai jalan utama menuju ke alam tak sadar
karena dia melihat isi mimpi sebagai ditentukan oleh keinginan-keinginan yang
direpres (ditekan). Karenanya mimpi juga bisa ditafsirkan sebagai pemuasan
simbolis dari keinginan-keinginan, dan isinya sebagian merefleksikan
pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak awal (Koeswara, 1991 : 66).
Menurut Freud (2002 : 145), mimpi adalah keinginan yang tersensor.
Sensor etika dan moralitas menyebabkan kemungkinan adanya distorsi dalam
mimpi sebagai ekspresi dari keinginan. Ego orang yang bermimpi selalu muncul
dalam setiap mimpi dan memainkan peran utama, meskipun ego tersebut
menyamarkan diri dalam mimpi terbuka. Hal itu berkaitan dengan arah pikiran
utama selama tidur, yaitu menarik diri dari dunia luar. Ego yang melepaskan diri
dari semua ikatan etika menuntut pemenuhan dorongan seksual yang berlawanan
Freud memahami mimpi sebagai gejala neurosis yang merupakan sisa-sisa
aktivitas mental dari kehidupan ketika individu dalam kondisi sadar sepenuhnya
(Freud, 2002 : 79). Psikoanalisis menguraikan makna mimpi dengan cara
membuka paksa (Milner, 1992 : 40), karena mimpi, seperti halnya tulisan, selalu
menunjuk pada sesuatu yang berbeda dengan tanda-tanda itu sendiri (Milner, 1992
: 37). Upaya pembongkaran paksa terhadap mimpi ditujukan untuk mengetahui
simbolisasi dari keinginan-keinginan yang direpresi sedemikian rupa sehingga
hanya muncul dalam mimpi. Hal itu berkaitan dengan fungsi psikoanalisis yang
lebih cocok untuk mene rangkan kejadian-kejadian yang dialami individu di masa
lampau (Koeswara, 1991 : 56).
Pandangan Freud mengenai mimpi, bahwa di dalam mimpi terdapat
keinginan yang tidak disadari yang berasal dari ingatan- ingatan di masa kecil.
Dari pandangan ini, Freud berkesimpulan bahwa alam tak sadar orang dewasa
sebagian besar diciptakan oleh si anak yang ada di dalam dirinya. Seperti rasa
cinta kepada si ibu, persaingan dengan ayah, rasa takut terkebiri, penyelesaian
perasaan-perasaan ini ketika memasuki usia dewasa, dan akibat-akibatnya terus
berlangsung dalam mimpi- mimpi dan di alam tak sadar (Osborne, 2000 : 34).
Menurut Freud keinginan tersembunyi dalam mimpi orang dewasa kerap
kali bersifat seksual, karena pikiran-pikiran yang tertekan masih harus lulus sensor
sebelum dapat masuk ke dalam alam mimpi yang aneh. Hal tersebut yang
mendukung dengan fungsi mimpi bahwa fungsi mimpi adalah proses melepaskan
ketegangan keinginan-keinginan yang tertekan dan terlarang (Osborne, 2000 : 51).
2.2.1 Mimpi yang Dialami Tokoh Bong
Tokoh Bong mengalami mimpi sebanyak dua kali, mimpi pertamanya
berhubungan dengan masa lalunya pada waktu kecil yang kemudian menjadi
represi keinginan tokoh Bong setelah dewasa.
Cukup lama Bong mengenali dan hidup begitu, dan bukan karena jenuh kalau kemudian ikut dalam kegiatan sanggar yang agak di tengah kota. Ia sering mimpi perempuan yang meneteki, yang pahanya menggeser- geser tubuhnya. Di sanggar kesenian atau gelanggang remaja, Bong masih memimpikannya tapi menjadi tenang (Atmowiloto, 2008:43).
Mimpi pertama tokoh Bong, perempuan yang meneteki yang pahanya
menggeser- geser tubuhnya. Mimpi tersebut dapat ditafsirkan sebagai represi
keinginan masa lalu tokoh Bong yang untuk pertama kalinya, tokoh Bong
merasakan bagaimana rasanya meneteki payudara seorang perempuan.
Pengalaman pertama tokoh Bong meneteki payudara seorang perempuan, yang
tidak pernah ia rasakan sejak bayi terjadi pada saat ia yang masih umur belasan
tinggal bersama dengan seorang perempuan tua yang penglihatannya sudah rabun
(Atmowiloto, 2008 : 42).
Bong berbaring, mengangkat dirinya ke atas perempuan yang pandangannya rabun itu. Kepalanya ditenggelamkan ke dada perempuan itu. Tapi merasa tidak enak karena penutup dada perempuan itu banyak sekali kancingnya, mengenai matanya. Perempuan itu membiarkan Bong membukai kancing yang warna-warni, memegangi payudaranya, berdebar. Perempuan itu menyodorkan payudaranya ke bibir Bong. “Kamu tak pernah netek sejak bayi, sekarang rasakan”. Bong senang sekali. Tapi tak bisa menggerakkan badan untuk menindih, karena paha perempuan itu kuat. Juga tak kuat untuk ganti menindihnya (Atmowiloto, 2008:42).
Pada awal cerita masa kecilnya, Bong ikut disertakan sunat bersama
dengan seorang anak majikan tempat ia bekerja mengadakan hajatan besar
anak majikannya tempat Bong bekerja, muncullah seseorang wanita tua yang
menderita katarak memberikan Bong selembar uang yang dimasukkan ke dalam
amplop. Bong terharu dan kemudian pindah ke rumah perempuan itu.
Bong yang kemudian pindah ke rumah perempuan tua, adalah simbol dari
rumah itu sendiri. Hal itu karena rumah adalah simbol dari tempat menyatunya
hubungan dalam keluarga. Dari ingatan masa kecil Bong ini, penulis asumsikan
dengan pandangan Freud, bahwa mimpi pertama Bong adalah Bong kecil yang
menganggap perempuan tua yang menyodorkan payudaranya untuk diteteki Bong
merupakan simbol dari rasa cinta kepada si ibu. Selain itu, mimpi pertama ini
mendukung hipotesis mengenai kemungkinan refleksitas dari perilaku seksual
Bong yang berpacaran dengan Keka yang dalam agresi seksualnya selalu
mengarah ke bagian payudara Keka. Hal ini juga memperkuat asumsi dari
pengalaman dan ingatan masa kecil Bong sebagai keinginan yang terpresi selama
puluhan tahun sebelumnya. Hal itu karena psikoanalisis juga memandang mimpi
sebagai endapan memori yang berasal dari peristiwa yang terjadi puluhan tahun
sebelumnya.
Tokoh Bong yang sering bermimpi perempuan meneteki adalah refleksi
dari keinginan tokoh Bong menetek seorang wanita. Meneteki, atau menyusui
adalah simbol kesenangan pada bagian mulut dan memunculkan rasa kebutuhan
untuk mengulangi perasaan senang itu. Menyusu buah dada ibu merupakan titik
awal seluruh kehidupan seksual, karena buah dada adalah objek cinta yang
pertama. Yang kemudian dalam psikoanalisis Freud disebut fase oral (Osborne,
Berdasarkan keterangan tersebut, tokoh Bong diperlakukan bagai seorang
bayi yang sedang meneteki ibunya. Inilah cinta pertama tokoh Bong, yaitu jatuh
cinta pada buah dada wanita. Yang kemudian berpengaruh pada hasrat seksual
tokoh Bong di kehidupan dewasanya. Inilah yang disebut penulis sebagai id-nya
tokoh Bong, yaitu naluri primitifnya si Bong yang dalam segala tindakannya
sebagai pemenuhan keinginan untuk kesenangan.
Sewaktu orang tidur, tenaga sensor menjadi kendor; sehingga
memungkinkan dorongan, harapan, dan nafsu-nafsu yang didorongkan dalam
ketidaksadaran itu menyelinap ke dalam kesadaran, dalam bentuk mimpi. Maka
mimpi ini merupakan bentuk pemuasan yang semu. Mimpi itu merupakan simbol
atau topeng dari isi ketidaksadaran (Kartono, 1984 : 164-165).
Masih ada beberapa kejap, sebelum kemudian Bong terbangun, dan bertanya apakah tadi ia tertidur. U-15 menjawab tidak. Bong berkata ia memang tertidur, tapi tahu bahwa U-15 menunggu dan memberi kesempatan tertidur (Atmowiloto, 2008:266).
Dalam kutipan di atas, tokoh Bong mengalami mimpi. Dalam mimpinya,
Bong tertidur dan mengetahui U-15 menunggu dan membiarkan Bong tertidur.
Dengan kata lain, tokoh Bong bermimpi tertidur dan U-15 berada di sebelahnya
atau disampingnya menunggu dan menjaga Bong yang sedang tertidur. Mimpi
tidur dengan ditemani seorang wanita, terlihat bahwa mimpinya tokoh Bong itu
merupakan refleksi dari keinginan akan kerinduan tokoh Bong terhadap sosok
seorang wanita yang bisa menemaninya setiap saat, yang telah lama direpres oleh
tokoh Bong, yang diaktifkan kembali oleh kejadian U-15 yakni Kesia yang ingin
Adapun mimpi kedua tokoh Bong, tokoh U-15 memberi kesempatan Bong
tertidur dan menunggui Bong yang tertidur. Mimpi kedua tersebut dapat
ditafsirkan sebagai keragu-raguan tokoh Bong menerima ajakan U-15 untuk
menikah dengan U-15 terkait dengan sangat jauhnya perbedaan umur mereka
yang juga merupakan cucu dari Keka. Hal itu karena cucu dan nenek adalah
simbol dari satu garis keturunan atau satu klen dari hubungan sedarah dalam
keluarga.
Sangat mungkin tokoh Bong, berpikir pelik karena mempertimbangkan
pernikahan yang sangat beda jauh umur, seorang kakek-kakek menikahi seorang
gadis remaja yang masih bau kencur adalah hal yang sangat tabu untuk dilakukan,
tetapi dalam ketidaksadaran tokoh Bong mungkin juga terdapat suatu harapan
untuk mendapatkan pendamping hidup di usia senjanya kini. Mimpi kedua tokoh
Bong ini juga merupakan endapan memori dari usaha tokoh Bong merepresi
setiap ketakutannya pada tokoh Keka. Ketakutan berlebih bila Keka mati
meninggalkannya untuk selama-lamanya. Hal itu karena usia tokoh U-15 yang
masih remaja menyebabkan kemungkinan tokoh Bong kalah apabila tidak bisa
memuaskan U-15 dalam bercinta.
Ketakutan tersebut dialami Bong puluhan tahun silam saat Keka divonis
menderita kangker melalui mekanisme penyensoran ingatan. Kemunculan U-15,
dan keduanya berpacaran, terjadi juga pada Keka dan Bong pacaran di masa
lampau, secara berulang dan secara tidak sadar tokoh Bong mengasosiasikan
dengan kejadian yang terjadi di masa lampau. Selain itu, mimpi tokoh Bong
mendukung hipotesis mengenai tokoh Keka yang pernah mempunyai hubungan
intim dengan tokoh Bong, mengajak Bong mengawininya tetapi Bong tidak juga
menikahinya, sampai akhirnya Keka menikah dengan laki- laki pilihan ayahnya.
Mimpi kedua tokoh Bong tersebut dengan demikian dapat ditafsirkan sebagai
represi masa lalu tokoh Bong, yakni kenyataan bahwa tokoh U-15 mengajak Bong
untuk kawin dengannya adalah pengaktifan kembali ingatan Bong di masa
lampau.
Mimpi kedua tokoh Bong ini juga mendukung hipotesis mengenai tokoh
Bong yang sewaktu masih muda saat berpacaran dengan tokoh Keka. Tokoh Keka
mengajak tokoh Bong untuk kawin lari (Atmowiloto, 2008 : 53). Alam bawah
sadarnya ingin menyembunyikan sesuatu di balik mimpinya dalam bentuk sensor.
Hal itu karena psikoanalisis juga memandang mimpi sebagai endapan memori
yang berasal dari peristiwa yang terjadi pada puluhan tahun sebelumnya.
Kutipan diatas berkaitan dengan pernyataan Freud (2002 : 114), bahwa
sesuatu yang disembunyikan dari mimpi merupakan kausalitas penting. Hal itu
karena persembunyian tersebut menurut Freud merupakan penentu untuk
menemukan pikiran bawah sadar yang ditutupi. Oleh sebab itu,
hubungan-hubungan yang dengan sengaja ditutupi perlu mendapat perhatian khusus.
2.2.2 Mimpi yang Dialami Tokoh Keka
Sama pada seperti tokoh Bong pada sub bab sebelumnya, tokoh Keka juga
mengalami mimpi sebanyak dua kali, akan tetapi pada mimpi pertama tokoh Keka
adalah mimpi hasrat seksual tokoh Keka yang sangat jelas tergambar yang pada
fungsi dari mimpi yaitu melepaskan ketegangan keinginan-keinginan yang
tertekan dan terlarang (Osborne, 2000 : 51), juga menerangkan bahwa cara orang
menekan pengalaman seksual menyulitkan penyingkapan represi dan resistensi
karena proses tersebut adalah proses mental yang tidak disadari (Osborne, 2000 :
27). Sekaligus menyamakan dengan pandangan sederhana Freud tentang seks,
bahwa seks sebagai sesuatu yang menjadi inti pusat segala sesuatu (Osborne, 2000
: 111).
Antara terlelap, Keka berucap, “Kamu belum, Bong?” (Atmowiloto, 2008:91).
Mimpi pertama tokoh Keka, pada kutipan di atas, kamu belum Bong,
dapat ditafsirkan sebagai terpuaskannya keinginan hasrat seksual dari tokoh Keka
yang pada waktu sebelumnya sedang bercinta dengan tokoh Bong. Terlelap dalam
KBBI (2008 : 806), diartikan sudah tertidur nyenyak dan dalam kondisi tidak
sadarkan diri. Hal ini yang mendukung hipotesis bahwa tokoh Keka sedang
mengalami mimpi di alam tak sadarnya.
Mimpi pertama tokoh Keka tersebut diasumsikan sebagai refleksitas
segala tuntutan tokoh Keka agar terpenuhinya dan tercapainya dorongan hasrat
seksualnya sebagai ekspresi keinginan tokoh Keka. Hal ini yang mendukung
hipotesis pandangan Freud bahwa mimpi adalah keinginan yang tersensor sebagai
simbol dari ekspresi keinginan yang terpendam yang ingin melepaskan diri dari
semua ikatan etika dan berlawanan dengan moralitas. Ekspresi keinginan tokoh
Keka ini adalah simbol representasi dari asumsi resistensi atau perlawanan akibat
Sejak kecil Keka sadar dirinya adalah bintang perhatian, sebagai anak manis, pintar main piano, bisa menari tradisional, tak pernah membuat kuatir orang tua, karena pergaulannya baik dan benar (Atmowiloto, 2008:15).
Masa kecil Keka dalam kutipan tersebut, adalah kisah hidup seorang anak
perempuan yang begitu sempurna. Apalagi di tambah dengan perkembangan di
masa dewasanya sosok Keka adalah seorang wanita yang tumbuh sempurna
dengan wajah cantik dan bekerja di kantor atau sebagai wanita karier yang bekerja
di perusahaan ayahnya dan sudah bertunangan. Akan tetapi setelah pertemuannya
dengan Bong segala sesuatunya berubah dari diri Keka. Hal ini ditunjukkan
dengan perilakunya yang tanpa sebab memutuskan hubungannya dengan
tunangannya dan memilih Bong sebagai laki- laki pilihan hatinya (Atmowiloto,
2008 : 15-16). Akibat tekanan dari sang ayah dari semasa kecil, tokoh Keka
diasumsikan melakukan mekanisme pertahanan ego displacement, yaitu
pengungkapan dorongan yang menimbulkan kecemasan kepada objek atau
individu yang kurang berbahaya atau kurang mengancam dibanding dengan objek
atau individu semula (Koeswara, 1991 : 47). Hal ini ditunjukkan dengan
pelampiasan Keka yang memutuskan hubungan dengan tunangannya dan
kemudian memilih berpacaran dengan Bong.
Ayahnya mengatakan tidak setuju, karena selama ini tak ada kejelasannya. Ibunya diam saja. “Kamu memilih lelaki itu, itu pilihanmu. Ayah tak bisa melarang, tapi juga tak mau tahu apa yang terjadi denganmu. Semua tanggung jawabmu. Jangan mengeluh dan menyalahkan kami di belakang hari (Atmowiloto, 2008:33-34).
Bagi Freud, memusatkan perhatian pada usaha untuk menerangkan
mengapa orang-orang bertindak dengan cara yang tampaknya tidak rasional, tetapi
kutipan tersebut, tampak jelas tekanan dari seorang ayah terhadap anaknya. Hal
ini yang diasumsikan bahwa dari kecil kisah hidup Keka yang begitu sempurna
adalah semata- mata berasal dari represi sang ayah yang menjadi sebuah
perlawanan dari Keka. Adanya kausalitas pada tokoh Keka ini, mendukung suatu
hipotesis dari psikoanalisis Freud bahwa tokoh Keka telah mengalami apa yang
disebut dengan kompleks Oedipus. Akan tetapi kompleks Oedipus yang diyakini
Freud ini bersifat universal, karena yang dialami tokoh Keka adalah kebencian
terhadap orang tua yang menjadi penghalang keinginannya (Osborne, 2000 : 80).
Selanjutnya, kasus mimpi kedua yang dialami tokoh Keka adalah mimpi
tokoh Keka yang tertidur di ranjang rumah sakit dan di sebelahnya tokoh Bong
menemaninya yang terlihat tua dan mengetahui dokternya Keka datang.
Keka terbangun tapi belum mengubah duduknya yang masih sepenuhnya menyandar di kursi, dan bisa bercerita bahwa ia tahu tadi dokternya datang, bahwa ia tertidur, bahwa Bong terlihat tua (Atmowiloto, 2008:184).
Bercerita oleh Freud dipahami sebagai proses menuju kesembuhan dan
keseimbangan energi psikis. Mimpi juga dipahami sebagai peristiwa yang terjadi
sebelumnya hingga terbawa tidur. Mimpi kedua tokoh Keka pada kutipan di atas,
adalah refleksitas dari pertemuannya Keka dengan Bong untuk kesekian kali.
Kedatangan Bong yang menjenguk Keka di rumah sakit, menjadi obat kerinduan
Keka dalam berjuang menghadapi penyakitnya, untuk terus hidup. Di usianya
yang sudah renta melihat kekasihnya dulu yang juga sama-sama renta adalah
simbol perjuangan hidup Keka untuk tetap hidup meski didera sakit. Bong dan
2.3Lupa Nama
Analisis terhadap lupa disandarkan pada penelitian yang dilakukan Freud
yang menunjukkan bahwa setiap kesalahan, termasuk di dalamnya kasus lupa
nama, yang dilakukan individu mengandung makna di balik tindakan tersebut
(Freud, 2002 : 53). Dengan demikian, Freud memahami seseorang yang
mengalami lupa pada sesuatu secara tidak sadar telah mengalami kompromi
mental sehingga membentuk gangguan yang mencegah kemunculan ingatan.
Freud (2002 : 57) membagi kasus lupa, sebagai varian lain dari kasus salah
ucap, pada tiga kecenderungan. Pertama, kecenderungan pengganggu ingatan
yang diketahui oleh orang yang sedang berbicara, dan orang tersebut
merasakannya sebelum melakukan kesalahan. Kedua, kecenderungan pengganggu
ingatan yang dikenal pembicara, tetapi orang tersebut tidak merasakan
kecenderungan tersebut sebelum dia melakukan kesalahan. Ketiga, kecenderungan
pengganggu ingatan yang tidak diakui sebagai kesalahan oleh pembicara. Hal itu
disebabkan oleh pembicara yang tidak mengenal dan merasakan keberadaan
pengganggu ingatan.
Menurut Freud (2002 : 44), kasus lupa nama orang secara umum
disebabkan oleh perasaan untuk menentang segala ingatan yang berhubungan
dengan nama yang bersangkutan. Perasaan menentang tersebut disebabkan oleh
adanya kenangan buruk atau sesuatu yang intim yang berhubungan dengan nama
seseorang secara langsung maupun tidak. Hal itu didasarkan pada sistem memori
manusia yang diyakini Freud terbagi menjadi dua kecenderungan, untuk
2.3.1 Lupa Nama yang Dialami Tokoh Bong
Tokoh Bong dalam teks 3C1P diasumsikan mengala mi lupa nama pada
seorang perempuan yang telah lama dikenalnya di sanggar kesenian sebagai
akibat dari represi tokoh Bong yang sering bermimpi perempuan yang meneteki di
tempat tersebut. Berawal dari pikiran-pikiran tokoh Bong yang kemudian menjadi
harapan-harapan tokoh Bong. Tokoh tersebut adalah seorang perempuan yang
kemudian oleh tokoh Bong dipanggilnya dengan nama Keka.
Keka sendiri sebenarnya kadang merasa tidak percaya bahwa ia diberi nama Keka, bahwa ia belum lama mengetahui keberadaan Bong di tempat ini (Atmowiloto, 2008:14-15).
Padahal jujur saya rasakan, saya tak tahu betul siapa kamu. Hanya sepotong nama, Keka. Yang bukan nama kamu yang sebenarnya (Atmowiloto, 2008:93).
Kutipan di atas, diasumsikan bahwa tokoh Bong memang telah melakukan
kesalahan dengan melupakan nama. Perempuan dalam tokoh 3C1P ini yang
dipanggil dengan nama Keka, bukanlah nama sebenarnya dari keseluruhan cerita
dalam novel 3C1P. Setelah ditelusuri dengan cermat dan seksama, penulis
memang tidak menemukan siapa nama asli dari pemilik nama yang dipanggil
Keka ini. Hal ini yang mengindikasikan adanya kausalitas dari kasus mimpi dan
kasus lupa nama yang mendukung hipotesis adanya pengalihan keinginan
pengarang pada sub-bab berikutnya terkait dengan mimpi dan melupakan nama.
Freud menganggap kasus lupa dan kesalahan lainnya sebagai hasil dari
kompromi (Freud, 2002 : 60). Kompromi tersebut seringkali terjadi pada proses
mental pada unsur bawah sadar manusia. Hal tersebut disebabkan oleh definisi
perbandingan proses merasakan, berpikir, dan harapan-harapan yang tidak
disadari individu (Freud, 2002 : 11).
Tokoh Bong yang memanggil seorang perempuan dengan nama Keka,
berawal dari kesalahan Bong yang salah tuduh, yakni ketika diadakan pameran
lukisan, lukisannya Bong terjual. Tetapi yang diterima Bong bukan hanya pujian
tapi juga ledekan karena orang-orang mengira yang membeli lukisannya adalah ia
sendiri atau paling tidak keluarganya. Bong menjadi merasa terhina dan
memperjuangkan harga dirinya, dan bertemu dengan seorang perempuan yang
dikenalinya yang dianggapnya telah membeli lukisannya.
“Saya tak punya apa-apa selain harga diri. Dan itu tak saya jual, meskipun kamu lebih cantik lagi.” (Atmowiloto, 2008:23).
Setelah pertemuan tatap muka tokoh Bong pada tokoh perempuan pada
kutipan di atas, tokoh perempuan tersebut jadi ingin lebih mengenal dekat dengan
sosok Bong. Menemani Bong siapa orang yang sebenarnya yang telah membeli
lukisannya Bong, yang ternyata adalah seorang lelaki paruh baya yang membeli
lukisan itu untuk istrinya sebagai hadiah ulang tahun perkawinan (Atmowiloto,
2008 : 24).
Menurut Freud, kesalahan-kesalahan termasuk di dalamnya lupa nama
adalah penyingkapan tipu daya alam tak sadar (Osborne, 2000 : 61).
Kesalahan-kesalahan tersebut bagi Freud adalah bagian dari sebuah teknik lelucon. Lelucon
dalam melayani tujuannya, memungkinkan terpuaskannya suatu naluri yaitu naluri
seks atau bermusuhan dalam menghadapi rintangan yang melintang di jalan, yakni
dengan cara menghindari rintangan ini dengan tujuan menimba kesenangan dari