• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TOKOH DAN PENOKOHAN DALAM CERPEN

2.1 Pengantar

Pada bagian ini dikaji beberapa tokoh yang terdapat dalam cerpen “Ayahmu Bulan Engkau Matahari”, “Maiasaura”, dan “Dapur” karya Lily Yulianti Farid.

Unsur tokoh terbagi menjadi dua bagian, yaitu tokoh utama dan tokoh tambahan.

Hal ini dikarenakan kedua bagian tokoh ini sangat berpengaruh dalam jalannya cerita.

Istilah “tokoh” ialah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita (Sudjiman, 1988: 16). Menurut Nurgiyantoro (2010:165) tokoh cerita (character) adalah orang (people) yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.

Tokoh utama atau tokoh sentral adalah tokoh yang mendominasi jalannya cerita rekaan. Tokoh ini terdiri atas tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh sentral atau tokoh yang mendukung jalannya cerita,

sedangkan tokoh antagonis adalah konflik dengan tokoh protagonis (Waluyo, 1994:

168).

Tokoh tambahan adalah tokoh-tokoh yang hanya menjadi latar belakang cerita. Misalnya, dalam hikayat kita jumpai tokoh-tokoh menteri, hulubalang, opsir, tentara, dan sebagainya. Tokoh tersebut seringkali tidak berperan dan hanya melatarbelakangi suatu adegan (Waluyo, 1994: 16).2.2 Tokoh dan Penokohan Cerpen “Ayahmu Bulan, Engkau Matahari”

Pada cerpen ini tokoh memiliki peran penting dalam jalannya cerita yaitu, tokoh utama bernama Janah dan tokoh tambahan adalah Nenek. Kedua tokoh ini memiliki struktur kepribadian yang akan dibahas dalam pembahasan berikut.

2.2.1 Jannah

Jannah adalah sebuah nama sementara yang diberikan Nenek pada seorang gadis kecil yang lahir saat terjadi pemberontakan di kampungnya. Pada saat peristiwa itu, sang ayah menghilang, hingga akhirnya ayah Jannah diabadikan dalam sebuah nisan di belakang rumah mereka. Awal mula permasalahan tersebut terlihat dalam kutipan berikut.

(1) Aku lahir saat sebuah pemberontakan meletus di kampung…Aku kehilangan ayahku di hari itu (hlm. 9).

(2) Tapi ia lelaki yang tak pernah beruntung mendapat kesempatan pulang setelah kerusuhan itu. “Panggil saja dia untuk sementara; Jannah. Ia surga yang sebenar-benarnya” (hlm. 3).

(3) Setelah berbulan-bulan berlalu, kekacauan gerombolan pemberontak yang hanya sekejap itu ternyata membawa pergi ayahmu untuk selama-lamanya. Ayahmu, lelaki kebun yang sederhana itu, akhirnya diabadikan dalam sebuah batu nisan di halaman belakang rumah (hlm.

4).

Sejak kabar kematian ayahnya (3), sang ibu menjadi sangat pendiam dan hanya ada Nenek yang selalu mendukung Jannah. Ternyata sikap diam ibu Jannah membuatnya kurang diperhatikan.

(4) “Tapi di rumahmu, ibumu menjadi lebih banyak diam setelah melahirkanmu. Orang-orang kampung malah percaya, ibumu menjadi bisu setelah kelahiranmu” (hlm. 5).

Neneklah yang tegar mengajari Jannah tersenyum dan merawat dengan cara terbaiknya. Bahkan Nenek juga yang menyakinkan Jannah bahwa ayahnya sangat menyayanginya. Pada kutipan (5) akan dijelaskan bagaimana keinginan Nenek untuk mulai mendorong Jannah melakukan segala keinginannya.

(5) Hanya Nenek yang tegar mengajarimu tersenyum. Ia mengajakmu memandang bulan dan matahari, kemudian bercerita bahwa seperti dua bola langit itu, kau dan ayahmu tidak pernah bertemu. Tapi kalian saling mencari, saling merindukan, saling menjaga (hlm. 5-6).

(6) Dari tahun ke tahun, perempuan tua itu merawatmu dengan cara terbaik yang dipahaminya (hlm. 6).

Perempuan bertubuh mungil dan berbulu mata lentik itu tumbuh menjadi perempuan dewasa. Kini dia bekerja di belahan bumi Utara, menghabiskan hidup bekerja sebagai seorang relawan Palang Merah Internasional. Seperti harapan sang Nenek agar Jannah terbang ke belahan dunia untuk melupakan kesedihannya.

(7) Begitulah engkau selalu mengulang-ulang penjelasan kepada banyak pengungsi dari Afrika, Eropa Timur, hingga ke Asia Selatan, yang menanyakan, apa gerangan yang membuat seorang perempuan bertubuh mungil dengan mata berbulu lentik sepertimu selalu hadir di antara mereka (hlm. 10).

Meskipun telah bertugas jauh dari kampung halaman, Jannah tidak pernah melupakan tiga buah nisan di halaman belakang rumahnya. Terutama ayahnya.

(8) “Engkau selalu mengenang tiga nisan di halaman belakang, bertulis nama ayah, ibu, dan nenekmu” (hlm. 9).

Dalam perjalanannya bertugas, Jannah selalu menatap langit yang bercahayakan bulan. Saat itulah, dia selalu beranggapan ayah selalu hadir memberikan senyuman padanya. Jannah sering menghabiskan banyak waktu untuk menatap bulan seolah mengadu setiap tangis dan tawanya. Cara tersebut dilakukan untuk melepaskan kerinduannya terhadap ayahnya.

(9) Dalam penugasanmu ke tenda-tenda korban gempa di Kashmir, kau menunjuk-nunjuk riang ke arah bulan dan menjulukinya sebagai benda langit yang lupa pulang, di kala langit telah terang. Kau tersenyum senang, ketika bulan memang menjadi “keras kepala” tidak juga mau tenggelam, ketika matahari bersiap menjalankan tugas memancarkan jelujur sinarnya. Kau temui kegirangan yang luar biasa. Di waktu-waktu tertentu di musim dingin, perasaanmu membucah, membayangkan bahwa ayahmu, bulan yang lembut keperakan itu, menemuimu, Janah, sang matahari yang tegar (hlm. 8).

Perempuan yang berkarakter tegar ini lebih memilih menghabiskan waktu berkeliling dunia untuk menjalankan misi kemanusian. Di sinilah penulis menemukan ego Jannah sudah mengalami peningkatan.

(10) “Engkau menghabiskan waktu di belahan bumi yang jauh dari kampung agar kau lupakan semua cerita sedih kelahiranmu. Engkau tumbuh tegar dan tidak pernah terkalahkan. Kukuh dalam kepungan keterasingan dan rasa sepi” (hlm.11-12).

Dengan segala pertimbangan, perempuan tegar itu memutuskan untuk membantu orang lain dan merelakan kebahagiannya. Baginya, bukanlah hal yang pantas lagi untuk memikirkan kesenangan. Sementara di dunia, banyak orang yang mati kelaparan atau tewas percuma dalam konflik. Meskipun, hati kecilnya sering mengajak untuk keluar dari peta konflik dan menikmati kehidupan seperti wanita kebanyakan.

(11) “Engkau mematikan keinginan-keinginan, yang sebenarnya sangat wajar dan dimiliki banyak perempuan mana pun di dunia ini. Tapi kau

membentakku, mengatakan bahwa aku tak pantas memikirkan kesenangan lagi di saat di bagian di dunia ini banyak orang yang mati kelaparan atau tewas percuma dalam konflik” (hlm. 11).

Beberapa kutipan di atas menunjukkan struktur kepribadian Jannah terdapat pada konflik yang sudah timbul sejak kelahirannya. Begitu juga dengan hadirnya sang Nenek sebagai peran penting dalam membentuk karakter Jannah yang tidak bisa merasakan peran ayah dan ibu.

2.2.2 Nenek

Nenek digambarkan sebagai seorang perempuan tua yang mengalami manis dan pahitnya hidup di waktu yang sama. Situasi kampung saat itu ternyata membuatnya kehilangan ayah Jannah dan kelahiran cucu yang tidak terduga di tengah pemberontakan.

(12) “Kabar kelahiranmu datang bersama sebuah kabar buruk: jembatan penghubung satu-satunya di kampungmu telah digergaji gerombolan pemberontak, membuat dukun beranak dari kampung sebelah tak mungkin mencapai rumah” (hlm. 1).

(13) “Setelah berbulan-bulan berlalu, kekacauan gerombolan pemberontak yang hanya sekejap itu ternyata membawa ayahmu untuk selama-lamanya” (hlm. 4).

Meskipun pada masa pemberontakan, Nenek tidak bisa menahan rasa gembira atas kelahiran cucu yang disayanginya. Saat itu juga ia mengadakan sebuah pesta untuk sang cucu dan memberikan nama sementara.

(14) “Panggil saja dia untuk sementara: Jannah. Ia surga yang sebenar-benarnya,” Nenek mengumumkan sebuah “nama sementara” kepada orang-orang kampung yang datang satu per satu mendoakan kelahiranmu, dua hari setelah gerombolan pergi (hlm. 3).

(15) Sebuah pesta sederhana yang diliputi rasa was-was, dengan doa-doa yang mendetam, memantu-mantul di tiang-tiang kayu jati berkilat, kemudian ditiupkan ke ubun-ubunmu” (hlm. 3).

Walupun tanpa ada sosok seorang ayah, Jannah tidak pernah lelah diberikan kasih sayang oleh Nenek. Perempuan tua yang tegar itu menghibur Jannah dengan cara terbaiknya.

(16) Hanya Nenek yang tegar mengajarimu tersenyum. Ia mengajakmu memandang bulan dan matahari, kemudian bercerita bahwa seperti dua bola langit itu, kau dan ayahmu tidak pernah bertemu. Tapi kalian saling mencari, saling merindukan, saling menjaga” (hlm. 5-6).

Dari tahun ke tahun, dia selalu mendoakan dan merawat Jannah dengan penuh cinta. Perempuan tua pengusaha tembakau itu selalu memperhatikan setiap kebutuhan cucu kesayangannya, seperti perawatan tubuh hingga kebutuhan sekolah Jannah.

(17) Dari tahun ke tahun, perempuan tua itu merawatmu dengan cara terbaik yang dipahaminya. Diguntingnya bulu matamu di usia tiga bulan, agar kelak tumbuh lentik. Dimandikanya tubuhmu dengan berbagai rempah dan dedaunan, agar bau tubuhmu hingga dewasa kelak adalah ruah aroma perempuan yang wangi dan terawat (hlm. 6).

(18) Di pekan ketiga setiap bulan ia berangkat ke ibu kota provinsi, mengawal kardus-kardus rokok tembakaunya. Sepulanganya dari kota, ia membelikanmu buku-buku terbaik di satu-satunya toko buku yang ada di sana (hlm. 6).

Meskipun Jannah belum menginjakkan kaki di sekolah, sebagai seorang Nenek, pada bagian (16) terlihat id Nenek cukup kuat akan perannya. Nenek dengan selera humor yang baik itu meminta seorang biarawati untuk mengajari Jannah di akhir pekan.

(19) Kau telah melewati akhir pekan dengan melafal abjad dan angka. Di hari Jumat, Nenek membawamu ke ibu kota kabupaten, meminta tolong kepada biarawati Belanda yang bertugas di gereja Katolik di kota kecil itu untuk mengajarimu baca-tulis, melukis, dan bahasa Inggris (hlm. 6).

(20) Yang penting, jangan kau ajarkan cucuku pindah agama, Sus…,”

begitu ia selalu mencandai Suster Juliana yang bermata hijau-kebiruan itu (hlm. 6).

Nenek meminta Suster Juliana mengajar Jannah agar imajinasi cucunya itu terbuka jauh. Harapannya saat Jannah dewasa, dia dapat melupakan kesedihannya.

(21) “Dimintanya Suster Juliana memperlihatkan kartu-kartu pos berbagai kota dunia kepadamu. Nenekmu ingin, agar imajinasimu terbang menembus awan, menjelajahi samudra, dan hinggap di kota-kota terbaik di lima benua, justru di saat kedua kaki kecilmu menjejak tanah kampung yang basah, yang sepanjang jalannya diteduhi pohon asam, dipagari kembang boungenville dan asoka” (hlm. 7).

Tokoh Nenek adalah salah satu tokoh yang sangat penting dalam perkembangan struktur kepribadian Jannah. Nenek juga tentunya memiliki ketiga struktur kepribadian tersebut. Namun, dalam cerita tersebut dirinyalah yang membuat Jannah dapat mengatasi desakan struktur kepribadiannya. Seperti beberapa kutipan tersebut.

2.3 Tokoh dan Penokohan Cerpen “Maiasaura”

Cerpen “Maiasaura” memiliki tokoh utama atau sentral seorang Ibu.

Kemudian ada tokoh tambahan yang dilakoni oleh Sora sang anak dan tokoh yang berperan penting dalam struktur kepribadian tokoh utama, yaitu seorang pria bernama Fahd.

2.3.1 Aku – Ibu (Maiasaura)

Tokoh “aku” atau Ibu merupakan seorang ibu penyayang yang memiliki anak bernama Sora. Ibu bekerja sebagai seorang wartawan yang bertugas di daerah konflik, perbatasan Ramallah dan Jerusalem.

(22) “Seharusnya kau menjadi baby Maiasaura, Sayang…, aku menggoda Sora sebelum membuka pagar” (hlm. 74).

(23) “Perjalanan kali ini menempuh jarak 5.739 mil dari rumah. Aku bertemu Fahd di kaki bukit, tak jauh dari pos pemerikasan Qalandiah yang memisahkan Ramallah dan Jerusalem” (hlm. 75).

Seperti biasa, sebelum berangkat kerja Ibu selalu menemani sang anak bermain. Akan tetapi, tokoh Ibu selalu diselimuti perasaan bersalah untuk meninggalkan anaknya. Kutipan (22) menjelaskan superego Ibu terlihat saat dia meninggalkan Sora. Lantaran Sora selalu berpesan agar saat pulang, Ibu dapat menceritakan tentang petualangannya.

(24) “Di mataku, lambaian itu selalu saja menjelma sapu tangan mungil yang berusaha membersihkan rasa bersalah setiap kali meninggalkan Sora dan menghentikan permainan demi permainan yang direka-rekanya” (hlm. 75).

Namun, saat bertugas ada berbagai kisah yang cukup mengoyak hatinya sebagai seorang ibu. Di hari pertama bertugas, Fahd bercerita sembari menunjuk tempat kejadian menyedihkan yang dialaminya. Hal itu tentu membuat Ibu tertarik untuk mencari tahu. Sepanjang perjalanan, dirinya pun langsung merasakan berbagai kejadian pilu yang dialami para korban. Dimulai dari mengerikannya sebuah antrean di perbatasan hingga serangan gas air mata. Hatinya rapuh, terlebih saat melihat para ibu dan bayi yang terjebak di sana.

(25) “Kami digiring bagai ternak di sana! Kuikuti ke mana telunjuk Fahd mengarah. Ke barisan orang-orang berwajah sedih bercampur marah, tapi tak berdaya di pos pemeriksaan yang dijaga tentara-tentara muda berseragam hijau tua dengan senjata M-16 yang siap siaga” (hlm. 77).

(26) “Tak lama, tubuh kami diguncang suara gelegar. Mataku perih terkena gas air mata yang ditembakan para tentara yang membala tangan-tangan bocah yang menyerbu dari kaki-kaki bukit dengan batu yang tidak lebih besar dari kepalan tangan mereka” (hlm. 77).

(27) “Ada yang beruntung, akhirnya bisa melahirkan di dalam mobil, di bawah hardikan tentara dan todongan senjata. Tapi bukankah setelah kelahiran itu, keselamatan ibu dan bayinya menjadi serapuh istana pasir? Aku hanya bisa menyumbang air mata di hari pertama bertugas di Ramallah” (hlm. 77-78).

Kejadian tersebut semakin menggangu pemikirannya. Dirinya pun selalu terbayang Sora. Secara tak sadar sebelum Sora lahir, naluri Ibu cukup tinggi. Dia teringat saat masa-masa mengandung Sora. Betapa egois dirinya saat itu. Saat Sora tidak lagi menyusui dan sudah diasuh, dirinya kembali berambisi untuk merencanakan penjelajahan.

(28) “Ah, betapa jahat aku sebenarnya, Sora! Belum lagi kau terlahir, sudah sedemikian rupa kubuat dirimu agar lahir sebagai langit dan memintamu maklum bahwa aku adalah perempuan penjelajah. Tapi setelah air susuku tak lagi mengalir dan Kim Hye Jin, seorang perempuan Korea yang ramah, bersedia datang ke rumah kita untuk mengasuhmu, kubuka kembali laci itu dan bergegas menyusun rencana demi rencana. (hlm.

78-79).

Sementara yang dihadapinya saat ini adalah sebuah perjuangan seorang ibu untuk mempertahankan bayinya. Setiap saat bayi-bayi yang masih terbungkus hangat dalam rahim itu, seketika tidak sempat lahir ke dunia. Dia membayangkan betapa menyakitkannya para ibu hamil itu meninggal di daerah perbatasan konflik.

(29) Betapa berbedanya masa-masa kehamilan yang aman, tenang, dan berbahagia yang kualami di bagian lain belahan bumi ini. Di Ramallah, mendengar kisah Fatimah Barghoutti, melihat daftar yang disodorkan teman-teman petugas kemanusiaan yang mengawasi semua kekejian di pos-pos penjagaan. Aku membayangkan bayi-bayi di tepi Barat, di jalur Gaza, dan tempat-tempat pengungsian Palestina telah menangis jauh sebelum mereka mencapai usia 30 minggu di rahim ibu (hlm. 80).

(30) Seorang ibu hamil digotong masuk ke rumah sakit dalam keadaan tak bernyawa. Kakiku rasanya melayang. (hlm. 81).

Namun, setelah melihat kejadian di Ramllah, Ibu mulai berpikir bahwa Sora sangat berharga. Setiap hari kejadian itu membuatnya perih. Dia terus memikirkan Sora dan menatap ke langit sebagai pelepas rindunya.

(31) “Anakku adalah langit, ke mana pun aku pergi ia tetap ada bersamaku!

Ia memayungiku, menawarkan cara terbaik melepas rindu: tengadah saja dan lihatlah! Dialah langit yang meminta awan berarak membuat

lengkungan senyum untuk menemani perjalanan-perjalanan jauhmu, wahai Ibu muda!” (hlm. 78).

(32) Tapi Sora, benar juga kata Si Cerdik di dalam diriku, membayangkan bahwa kau adalah langit, yang tenang dan lapang, senantiasa berhasil meredam rasa bersalah saat aku pergi jauh dari rumah (hlm. 79).

Ketika pulang, Ibu tidak dapat menepati janji Sora. Saat menatap Sora yang diingatnya hanya trauma dalam setiap kejadian. Dia pun berbohong dan bercerita dalam bahasa imajinasi Sora.

(33) Perjalanan ke Tepi Barat bukanlah penugasan yang mulus. Ia adalah mimpi buruk yang berbuah trauma sepanjang perjalanan (hlm. 83).

(34) “Ibu bertemu serombongan maiasaura yang tangguh, yang menjaga anak-anak, telur, dan sarang mereka. Mereka menyembunyikan telur-telur mereka, agar tidak dimakan dinosaurus lainnya” (hlm. 84).

Setelah menyampaikan kebohongan tersebut, terlihat Ibu memiliki trauma setelah pergi bertugas. Dirinya bagai diterpa badai saat menyampaikan kebohongan tersebut. Padahal Sora menyikapi cerita dengan penuh semangat. Dia merasa terpukul dengan apa yang terjadi seseungguhnya.

(35) Wajah Sora mulai cerah. Ia menimpali ceritaku. (hlm. 84).

(36) “Pandanganku kosong. Ada badai di kepalaku. Aku tahu, ribuan mil dari rumah ini, ada sekawanan maiasaura, yang dimangsa tentara-tentara di pos pemeriksaan. Adakah orang-orang berseragam hijau itu bagian dari asteroid yang konon membuat punah dinaosaurus puluhan juta tahun silam? (hlm. 84).

(37) “Hei, Ibu mengapa menangis? Kan T-rex tidak menggangu maiasaura…” (hlm. 84).

Faktor dari perannya sebagai seorang ibu yang pergi bertugas di daerah konflik membentuk banyak superego. Hal inilah yang membuat Ibu dilema akan pengalamannya. Struktur kepribadiannya pun terbentuk saat dia selalu mengingat Sora. Sikap Ibu saat menghadapi Sora menjadi kunci utama bahwa ego seperti yang terdapat pada kutipan (33), (34) dan superegonya, pada kutipan (36) dapat seimbang.

2.3.2 Sora (Anak)

Di dalam cerpen “Maiasaura” sosok Sora adalah anak delapan tahun yang penuh dengan imajinasi. Dia selalu ingin mendengarkan cerita pengalaman ibunya setelah pergi bertugas. Terlihat dalam kutipan berikut.

(38) Kenangan yang berjarak delapan tahun itu dan kenyataan di pelupuk mata berseling-seling, terjalin seperti anyaman tikar pandan (hlm. 79).

(39) Bocah itu berusaha meyakinkanku, ini dunia ajaib rekaannya, segalanya menjadi mungkin. Pokoknya, Ibu bayangkan saja dan mencatatnya dengan baik (hlm. 74).

Sora merupakan anak yang pandai. Anak seusianya sudah cukup pandai merangkai imajinasi dalam setiap buku ensiklopedia yang dibacanya. Dalam imajinasinya, Sora berharap ibunya bagaikan seorang ibu dinosaurus yang selalu merawat dan mengasuh dengan baik.

(40) Bibirnya bergerak cepat mengeja pesan: jangan lupa cerita tentang maiasaura! Sora menyelipkan Ensiklopedia Dinosaurus ke dalam tas kerjaku, lalu mengulang pesan: Ibu jangan sampai lupa! (hlm. 74).

Soralah yang menjadi penguat dan penghibur ibunya dalam menjalankan tugas-tugas sulitnya. Dia juga selalu menjadi obat pelepas rasa bersalah sang Ibu saat hendak pergi bertugas.

(41) “Di mataku, lambaian itu selalu saja menjelma saputangan mungil yang berusaha membersihkan rasa bersalah setiap kali meninggalkan Sora dan menghentikan permainan demi permainan yang direka-rekanya”

(hlm. 75).

(42) “Anakku adalah langit, ke mana pun aku pergi ia tetap ada bersamaku!

Ia memayungiku, menawarkan cara terbaik melepas rindu: tengadah saja dan lihatlah! Dialah langit yang meminta awan berarak membuat lengkungan senyum untuk menemani perjalanan-perjalanan jauhmu, wahai Ibu muda!” (hlm. 78).

Sora selalu setia menanti dan memiliki tekad yang kuat untuk mendengarkan cerita ibunya. Bocah itu sangat berambisi agar seperti dinosaurus

terkuat. Di dalam imanjinasi Sora, cerita dinosaurus bagaikan cerita perjalanan sang ibu.

(43) T-rex kecil itu menyambutku di pintu pagar. “Ibu tidak lupa, bukan?

Ibu sudah menyiapkan cerita tentang maiasaura, bukan? (hlm. 82).

(44) Sora adalah tyrannosaurus rex, sang Raja Dinosaurus. Ia ingin menjadi yang terkuat dan selalu ingin menang bertarung. Menurut para paleontologist, Maiasaura adalah ibu yang baik. Ia adalah dinosaurus pertama yang ditemukan bersama dengan anak-anak, telur, dan sarangnya yang terawat rapi (hlm. 82).

Baginya pengalaman itu adalah sebuah cerita yang menakjubkan. Bocah polos itu membayangkan perjalanan ibu betapa hebatnya dengan cerita dinosaurus dalam ensiklopedia bacaannya. Meskipun sebenarnya sang Ibu berbohong demi menyenangkan sang buah hati.

(45) “Coba lihat cerita yang kutulis, Ibu… ini tentang T-rex yang berebut mangsa dengan dua ekor triceratops” (hlm. 82).

(46) “Ya, Ibu… dan tiba-tiba datanglah T-rex, dum…dum…dum…! T-rex lapar, ingin mencari mangsa. Tapi T-rex tidak mengganggu maiasaura, karena T-rex sayang sama maiasaura. Dum…dum…dum…!” (hlm.

84).

Sebagai anak, karakter Sora menjadi pendorong utama kepribadian sang ibu. Sora menjadi sosok yang selalu hadir dalam setiap ingatan Ibu. Terutama yang menjadi alasan Ibu tersentuh saat berada di daerah konflik. Saat itulah struktur kepribadiannya berkembang. Akan tetapi id Sora pada kutipan (43) yang menjadi pengontrol struktur kepribadian Ibu. Sebagai seorang anak berusia delapan tahun perkembangan struktur kepribadian Sora belum cukup stabil.

2.3.3 Fahd

Fahd adalah narasumber Ibu Sora, teman, salah satu korban perang, dan seorang pria yang kehilangan Kakak perempuannya di daerah konflik perbatasan.

Di hari pertama Ibu Sora bekerja, Fahd berbagi cerita tentang kakak perempuanya bernama Fatimah Barghouti yang menjadi korban di perbatasan.

(47) “Seorang teman bercerita tentang bayi-bayi yang menangis di dalam perut ibu mereka” (hlm. 75).

(48) “Kakakku di sana! Di sebelah sana! Fahd mulai mengais-ngais kenangannya. Kakaknya, Fatimah Barghouti mati kehabisan napas di tengah antrean panjang” (hlm. 75).

Kematian Fatimah dan konflik di daerah itu meninggalkan luka serta amarah bagi Fahd. Baginya mereka tidak dilakukan secara tidak manusiawi di tanah sendiri.

(49) “Mereka ingin melintas, pergi berdagang, berbelanja, mengunjungi sanak keluarga, mengantar anak dan istri ke rumah sakit. Bayangkan, untuk melintasi tanah sendiri mereka harus tunduk, merayap, dan dibentak!” (hlm. 77).

Mendengar cerita Fahd, Ibu Sora tidak bisa menahan air matanya saat melihat tempat kejadian tersebut. Sebagai seorang teman yang baik, Fahd menguatkan Ibu Sora. Baginya, hal yang wajar untuk seorang wartawan begitu emosional saat menyaksikan langsung setiap kejadian tersebut.

(50) Fahd menenangkan. Katanya, banyak wartawan juga petugas kemanusiaan yang lunglai dan hanya bisa menangis di hari-hari pertama bertugas di Tepi Barat dan Jalur Gaza (hlm. 81).

Sambil menghibur Ibu Sora, Fahd mencurahkan perasaannya, bahwa yang terjadi pada mereka itu lebih menyakitkan dibanding dengan kejadian diberitakan televisi.

(51) “Yang Anda saksikan di televisi dan koran, hanya seujung kuku dari neraka yang kami alami di sini! Fahd terus menghiburku. Ia menungguku selesai menangis” (hlm. 81).

Sebagai sesama tokoh orang dewasa, Fahd adalah tokoh yang cukup

Sebagai sesama tokoh orang dewasa, Fahd adalah tokoh yang cukup