• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TOKOH DAN PENOKOHAN DALAM CERPEN

2.5 Rangkuman

Analisis dalam bab ii ini mengungkapkan tokoh dan penokohan ketiga cerpen karya Liliy Yulianti Farid. Pada cerpen pertama yang berjudul “Ayahmu Bulan, Engkau Matahari” terdapat dua tokoh penting yang memiliki pandangan, karakter, dan segi usia yang berbeda. Berdasarkan keseluruhan uraian 2.2.1, Tokoh Jannah memiliki karakter yang kuat, pandai, mandiri, dan tegar dalam menjalankan kehidupannya. Perjuangan Nenek dalam membesarkan dan mendidiknya, menjadikan Jannah sebagai sosok yang penuh kasih sayang. Gadis berbulu mata lentik itu memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Dia memilih membantu para korban perang dibandingkan menikmati kehidupan seperti perempuan pada umumnya. Sementara pada hasil pengamatan 2.2.2, peneliti menyimpulkan bahwa

tokoh Nenek merupakan sosok penyayang dan perempuan tua yang hebat. Dia adalah seorang pengusaha tembakau yang rajin, humoris, dan pekerja keras.

Cerpen yang kedua, berjudul “Maiasaura” memilki dua tokoh orang dewasa dan satu anak-anak. Dalam penelitian 2.3 terdapat tiga tokoh yang diteliti.

Berdasarkan 2.3.1 tokoh Ibu adalah seorang penyayang dan sangat berambisi dalam karirnya. Namun, setelah bekerja di daerah konflik dirinya merasa terpukul dan diselimuti rasa bersalah pada sang buah hati. Kejadian tersebut menjadikan Ibu sosok yang terperangkap dalam janji, trauma, dan kebohongan.

Pada penjelasan 2.3.2 terdapat tokoh yang mendukung penokohan cerpen

“Maiasaura” yaitu Fahd. Pria ini merupakan narasumber Ibu Sora yang kehilangan kakak perempuannya saat sedang mengandung. Fahd digambarkan sebagai karakter yang sangat menyayangi keluarga dan penuh amarah. Akan tetapi setelah menjadi narasumber tokoh Fahd mengalami perubahan karakter. Dirinya berubah menjadi karkter yang tegar dalam mengahadapi masalah. Kemudian pada hasil pengamatan 2.3.3 terdapat tokoh anak-anak bernama Sora. Seorang anak berusia delapan tahun yang penuh imajinatif. Anak yang memiliki hobi membaca Ensiklopedia Dinosaurus ini, memilki karakter yang polos. Namun, dalam menanti sang ibu

pulang, Sora digambarkan sebagai karakter yang setia dan memiliki tekad yang tinggi.

Berdasarkan penjelasan 2.4, cerpen “Dapur” terdapat tiga tokoh dan penokohan yang dilakoni oleh tiga orang wanita yang berbeda usia, status, dan sangat mencintai dapur. Seperti yang telah dijelaskan dalam 2.4.1, tokoh utama adalah seorang gadis bernama Kalyla. Sejak kecil Kayla tumbuh dalam asuhan ibu

dan pengasuhnya bernama Ruth. Di masa kecil, Kalyla memiliki karakter yang cenderung periang. Beranjak remaja, gadis ini berubah menjadi sosok yang pendiam. Dirinya berubah lantaran penasaran pada rahasia yang disembunyikan ibunya. Setelah beranjak dewasa dirinya mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Gadis cantik itu tumbuh menjadi perempuan yang tegas dan pemberani.

Tokoh Ibu, seperti pada penjelasan 2.4.2 bernama Bu Andis, dia adalah seorang Ibu tunggal yang memiliki usaha katering, pandai memasak, dan berpenampilan cantik. Awalnya Bu Andis adalah karakter ibu yang sabar dan penyayang. Setelah timbulnya konflik cerita dia memiliki karakter yang sering memendam rahasia, suasana hatinya sering berubah, dan cukup tertutup.

Tokoh ketiga tambahan diperankan oleh seorang pengasuh dari Ambon.

Berdasarkan penjelasan 2.4.3 telah dijelaskan bahwa Ruth berambut keriting, berbadan hitam, dan kekar. Dia memilki karakter yang jenaka, setia, dan penyayang. Saat marah dirinya selalu melampiaskan amarahnya pada adonan di dapur. Perempuan tua ini memiliki cita-cita ke Pulau Jawa. Dalam kesetiannya pada keluarga Kalyla, Ruth meninggal di usia tua setelah liburan mereka bertiga dari Pulau Jawa.

42 BAB III

KAJIAN ID, EGO, DAN SUPEREGO DALAM TOKOH CERPEN

“AYAHMU BULAN, ENGKAU MATAHARI”,

“MAIASAURA”, DAN “DAPUR”

KARYA LILY YULIANTI FARID

3.1 Pengantar

Pada bab ii telah dianalisis tokoh dan penokohan pada tiga cerpen “Ayahmu Bulan, Engkau Matahari”, “Maiasaura”, dan “Dapur”. Maka dari itu, pada bab iii peneliti akan menganalisis id, ego, dan superego beberapa tokoh yang terdapat di tiga cerpen tersebut. Tahun 1923 Freud secara tegas dalam bukunya The Ego and The Id mengemukakan pandangannya mengenai struktur kepribadian manusia,

yaitu terdiri dari tiga ‘bagian’ yang tumbuh secara kronologis: Id, Ego dan Superego. Bila dikaitkan dengan pandangan topografis sebelumnya: Id sama sekali terletak dalam ketidaksadaran, Ego dan Superego meliputi ketiga tingkatan kesadaran manusia (Moesono, 2003: 3).

Id (terletak di alam bawah sadar) merupakan energi psikis dan naluri yang menekan manusia agar memenuhi kebutuhan dasar, seperti misalnya kebutuhan:

makan, seks, menolak rasa sakit atau tidak nyaman. Menurut Freud, id tidak ada kontak dengan realitas. Cara kerjanya berhubungan dengan kesenangan, yakni selalu mencari kenikmatan dan selalu menghindari ketidaknyamanan (Minderop, 2013: 21).

Berlawanan dengan id yang bekerja berdasarkan prinsip kesenangan, ego (berada di antara alam sadar dan alam bawah sadar) bekerja berdasarkan prinsip realitas (reality principle), artinya dia dapat menunda pemuasan diri atau mencari bentuk pemuasan lain yang lebih sesuai dengan batasan lingkungan (fisik maupun sosial) dan hati nurani. Tugas ego memberi tempat pada fungsi mental utama, misalnya: penalaran, penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan. Dengan demikian ego merupakan segi kepribadian yang dapat membedakan antara khayalan dan kenyataan serta mau menanggung ketegangan dalam batas tertentu (Moesono, 2003: 4).

Kemudian struktur kepribadian yang ketiga yaitu superego. Menurut Minderop (2013:22), superego ialah mengacu pada moralitas dalam kepribadian.

Superego sama halnya dengan ‘hati nurani’ yang mengenali nilai baik dan buruk (conscience). Sebagaimana id, superego tidak mempertimbangkan realitas karena

tidak bergumul dengan hal-hal realistik, kecuali ketika implus seksual dan agresivitas id dapat terpuaskan dalam pertimbangan moral. Berbeda juga dengan ego yang berpegang prinsip realitas, superego yang memungkinkan manusia memiliki pengendalian diri (self control) selalu akan menuntut kesempurnaan manusia dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Superego merupakan dasar moral seseorang, perwakilan dari berbagai nilai dan norma yang ada dalam masyarakat, di mana individu itu hidup (Moesono, 2003: 4).

Lebih jelasnya, sebagai berikut: misalnya seseorang ingin bertemu ayahnya yang sudah lama menghilang atau telah dinyatakan meninggal. Namun, id sang anak tidak mau larut dalam kesedihan, dia bekerja keras agar dapat pergi keliling

dunia untuk melupakan kesedihannya. Superegonya berpendapat bahwa sang ayah menghilang semenjak hari kelahirannya. Dirinya tidak pantas untuk merasa bahagia sementara sang ayah menghilang lantaran dirinya. Hal itu membuat dirinya dihantui rasa bersalah dengan penyebab kematian sang ayah. Kemudian ego anak tersebut timbul dan menengahi. Anak tersebut menghabiskan waktu membantu para korban perang, khususnya para ayah di daerah konflik untuk menebus rasa bersalahnya.

3.2 Kajian Id, Ego, dan Superego Cerpen “Ayahmu Bulan, Engkau