• Tidak ada hasil yang ditemukan

AGAMA DAN BIROKRAS

C. Praktek Keberagamaan dan Implikasinya dalam Kinerja Para Pejabat Birokras

5. Pengaruh Agama dalam Etos Kerja dan Kehidupan sehari-har

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk bekerja demi bekalnya hidup di dunia dan beribadah untuk bekalnya di akhirat. Antara dunia dan akhirat harus terjadi keseimbangan di antara keduanya. Dengan demikian seorang muslim diharapkan dapat menjalani kehidupan dunia dengan selamat dan mendapatkan balasan dari Tuhan dari kehidupan akhirat berupa surga.

Pekerjaan adalah salah satu cara manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dari sisi jasmani. Dengan bekerja manusia mendapatkan upah berupa uang yang dapat dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Profesi masyarakat dalam bekerja cukup beragama. Mereka melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang mereka miliki. Meskipun demikian banyak juga masyarakat yang bekerja tidak sesuai dengan jenjang pendidikan yang ditempuhnya.

Sebagai pejabat di lingkungan Suku Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Jakarta Barat, para pegawai memahami bahwa mereka bekerja untuk pemerintah tidak lain adalah sebagai salah satu bentuk usaha mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun demikian, keberagaman yang mereka pahami dan kerjakan setidaknya memberikan pengaruh dalam pekerjaan mereka.

Informan A menganggap bahwa agama memberikan rambu-rambu atau pijakan dalam bekerja. Seperti yang diungkapkannya:

“Agama memberikan rambu-rambu atau pijakan agar tetap melaksanakan kewajiban sebagai bentuk tanggung jawab terhadap pekerjaan.”49

49

Hal ini diperkuat oleh pendapat informan EW yang mengatakan bahwa agama dapat menjaga seseorang dari perbuatan yagn dilarang di kantor. Sebagaimana yang diungkapkannya:

“Peran agama saat bekerja adalah kita menjadi lebih berhati-hati dalam menjalankan tugas juga dalam pergaulan di lingkungan kantor.”50 Pendapat ini diperkuat oleh informan J yang mengatakan bahwa agama menjaga manusia agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh agama. Sebagaimana yang diungkapkannya:

“Agama sebagai pegangan agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diperbolehkan dalam agama, entah itu berbentuk penyelewengan, korupsi, ataupun disiplin waktu.”51

Peran agama dalam pekerjaan sangat dirasakan oleh para informan. Mereka menyatakan bahwa agama dapat menjaga mereka dari perbuatan yang dilarang oleh agama.

Peran agama dalam bekerja bagi para pejabat di lingkungan Suku Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Jakarata Barat menimbulkan kesan yang baik bagi masyarakat. Pandangan masyarakat bagi para pejabat di Sudin Dikmenti Jakarta Barat cukup beragam. Seperti yang diungkapkan oleh informan IS:

“Menurut saya masyarakat menilai kita cukup baik. Karena selama ini belum ada keluhan dari masyarakat mengenai pelayanan yang diberikan oleh Sudin Dikmenti Jakarta Barat. Dan ini merupakan komitmen kita untuk memberikan yang terbaik untuk masyarakat.”52 Sedangkan menurut informan SU, pandangan masyarakat tergantung kepada pejabat itu sendiri. Bila pejabat tersebut tidak korupsi, maka pandangan masyarakat akan baik. Namun sebaliknya, jika praktek korupsi

50

Wawancara pribadi dengan EW, Jakarta, tanggal 6 Juli 2007

51

Wawancara pribadi dengan J, Jakarta, tanggal 6 Juli 2007

52

masih terus berlangsung maka masyarakat akan melihat para pejabat semuanya koruptor. Sebagaimana yang diungkapkan oleh SU:

“Pandangan masyarakat baik bagi pejabat yang jujur, namun pandangan masyarakat akan tidak baik apabila pejabat tersebut melakukan KKN (Korupsi Kolusi Nepotisem).”53

Pendapat yang agak menggelitik disampaikan oleh informan S, menurutnya masyarakat dalam memandang para pejabat terbagi ke dalam beberapa kelompok. Seperti yang diungkapkan oleh S:

“Menurut saya pandangan masyarakat terhadap pejabat beraneka ragam. Namun saya bisa menerangkannya dengan tiga poin:

- Kadang-kadang masyarakat memandang pejabat dengan sebelah mata.

- Terkadang juga masyarakat cukup obyektif dalam memandang pejabat.

- Bahkan tak jarang masyarakat memandang pejabat dengan empat mata.”54

Pendapat informan di atas sedikit mengandung lelucon, seperti yang sedang tren saat ini, yaitu sebuah acara talk show ringan yang ditayang di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Maksud dari informan tersebut adalah dalam memandang profesi seseorang, dalam hal ini adalah mereka yang bekerja di sektor formal harus obyektif.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pandangan masyarakat terhadap para pejabat tergantung kepada perilaku pejabat itu sendiri. Jika seorang pejabat tidak melakukan hal-hal yang dilarang, seperti kolusi, korupsi dan nepotisme, maka otomatis masyarakat pun akan memandangnya sebagai abdi Negara yang baik. Namun sebaliknya, jika para pejabat tersebut tidak dapat memegang amanat dengan baik, maka masyarakat akan menilainya sebagai aparatur Negara yang hanya menghabiskan uang rakyat saja.

53

Wawancara pribadi dengan SU, Jakarta, tanggal 13 Juli 2007

54

Dalam kehidupan sehari-hari, para pegawai di lingkungan Suku Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi ini, tidak berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Mereka banyak menghabiskan waktu berkumpul dengan keluarga, bersosialisasi dengan masyarakat dengan terlibat aktif di berbagai kegiatan kemasyarakatan, dan lain sebagainya. Seperti yang diungkapkan oleh informan SU:

“Setelah pulang kerja, saya sering bercengkrama dengan anak istri. Karena bagi saya untuk merekalah saya bekerja. Selain itu juga saya sempatkan untuk berkumpul dengan masyarakat, baik melalui kegiatan forman seperti rapat tingkat RT, maupun kegiatan-kegiatan keagamaan seperti pengajian di masjid, yasinan dan lain sebagainya. Hal ini saya lakukan karena sebagai makhluk hidup memang harus demikian.”55 Pandangan masyarakat bahwa menjadi seorang PNS merupakan suatu kebanggaan memang masih susah untuk dihilangkan. Kenyataan bahwa PNS mendapatkan gaji rutin setiap bulan dan berbagai tunjangan hingga uang pensiun semakin memperkuat citra PNS di masyarakat. Saat mereka ditanyakan mengenai pengaruh agama dalam kehidupan sehari-hari, mereka menjawab bahwa agama juga memberikan tuntunan bagaimana cara memperlakukan tetangga, atau masyarakat. Salah satunya adalah dengan memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan. Sebagaimana diungkapkan oleh informan J:

“Agama memberikan tuntunan kepada kita bagaimana hidup bermasyarakat. Salah satu contohnya ya kalau ada tetangga kita yang membutuhkan pertolongan, entah itu karena terkena musibah atau memang dalam kondisi yang membutuhkan sesuatu, kita hendaknya memberikan pertolongan sesuai dengan kemampuan kita. Karena suatu saat nanti, kita pasti akan membutuhkan pertolongan orang lain. Kalau kita tidak pernah memberikan pertolongan kepada orang lain, gimana Tuhan mau menolong kita?”56

55

Wawancara pribadi dengan SU, Jakarta, tanggal 13 Juli 2007

56

Jawaban yang hampir serupa diberikan oleh informan IS. Menurutnya dalam kehidupan sehari-hari hendaknya agama dijadikan pedoman hidup. Seperti yang diungkapkannya:

“Orang hidup itu perlu pegangan, kalau nggak punya pegangan ia akan mudah jatuh. Nah, seperti itulah agama. Kalau kita nggak berpegang pada agama, hidup akan berantakan.”57

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, agama mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan ini, baik itu menyangkut pekerjaan, maupuan kehidupan sehari-hari.

57

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari analisa hasil penelitian, penulis dapat menyimpulkan bahwa:

1. Keberadaan Suku Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Jakarta Barat adalah sebagai upaya pemerintah untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat mengenai pendidikan yang meliputi pendidikan formal, non formal dan informal.

2. Suku Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Jakarta Barat adalah merupakan kelanjutan dari bergulirnya era reformasi pada tahun 1998/1999 dengan lebih berkonsentrasi pada pelayanan pendidikan bagi masyarakat.

3. Pelayanan yang diberikan oleh para pejabat di lingkungan Suku Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Jakarta bagi masyarakat sangat baik karena ditunjang oleh berbagai pembekalan baik yang berasal dari program Walikota maupun undangan dari pusat. Selain itu juga pemahaman keagamaan yang baik di kalangan pejabat Suku Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Jakarta Barat ikut memberikan pengaruh dalam menjalankan pekerjaan melayani masyarakat. Bentuk pengaruh tersebut berupa sikap profesional di kalangan para pegawai yang lebih mendahulukan kepentingan umum dibandingkan dengan kepentingan pribadi. Selain itu juga para pegawai lebih amanah dalam menjalankan

tugas mereka sebagai pelayan masyarakat. Hal ini dipengaruhi oleh pemahaman keberagamaan mereka yang menjelaskan mengenai pentingnya melaksanakan amanat yang diterima.

B. Saran-saran

Adapun saran-saran yang dapat penulis berikan dalam rangka meningkatkan kinerja dan pengetahuan keagamaan adalah sebagai berikut:

1. Adanya pusbinroh hendaknya lebih ditingkatkan lagi keberadaan dan program kerjanya untuk meningkatkan pemahaman keagamaan bagi para pejabat yang ada di lingkungan Suku Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Jakarta Barat.

2. Meskipun sudah diadakan berbagai pelatihan dan pendidikan di tingkat Suku Dinas maupun Dinas, perlu diadakan pelatihan SQ (Spiritual Quotient) untuk lebih meningkatkan lagi etos kerja para pejabat berdasarkan pemahaman keagamaan.

Dokumen terkait