• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.3 Pembahasan

5.3.1 Pengaruh Akses E-Commerce (X1) Terhadap Pendapatan UMKM (Y)

diri pada suatu jenis mekanisme bisnis elektonis dengan media pertukaran jasa dan barang menggunakan internet melewati kendala ruang dan waktu antara dua buah institusi (business to business) maupun antar institusi dan konsumen langsung (business-to-consumer).

Berdasarkan pengujian hipotesis pertama yang telah dilakukan sebelumnya didapatkan hasil bahwa thitung lebih besar dari ttabel maka, H1 diterima dan H0

ditolak yang bermakna bahwa variabel E-commerce secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan UMKM Kuliner pada masa pandemi covid-19. Terbatasnya akses untuk berkerumun pada saat pandemi covid-19 menyebabkan penurunan penjualan sehingga mau tidak mau pelaku UMKM harus berinovasi ke arah pemanfaatan teknologi untuk tetap melangsungkan usahanya.

Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar pelaku UMKM telah memanfaatkan e-commerce guna menjual maupun memasarkan produk agar konsumen dapat dengan mudah menemukan informasi produk yang ditawarkan. Pada penelitian ini, pelaku UMKM mengaku menggunakan e-commerce dikarenakan memperoleh berbagai manfaat seperti: fleksibilitas dalam penjualan dan promosi produk, menghemat waktu dan kemudahan dalam pembayaran. Selain itu, saat terjadinya pandemi Covid-19 dengan menggunakan e-commerce dinilai mampu membantu pelaku UMKM dalam hal pendistribusian produk sehingga usaha mereka cenderung stabil di tengah terjadinya pandemi Covid-19, bahkan sebagian besar pelaku UMKM mengatakan bahwa pendapatan mereka meningkat saat terjadinya pandemi Covid-19 lantaran konsumen cenderung membeli produk melalui aplikasi e-commerce. Namun, sebagian kecil dari pelaku UMKM mengatakan

menggunakan e-commerce tidak membantu mereka dalam hal meningkatkan penjualan dan pendapatan bahkan mereka cenderung jarang mengakses aplikasi e-commerce karena konsumen cenderung melakukan take away atau dibungkus saat pandemi covid-19 berlangsung.

Hasil dari penelitian ini selaras dengan beberapa hasil penelitian terdahulu, diantaranya penelitian yang dikerjakan oleh Martha Rianty dan Pipit Fitri Rahayu (2021), yang memaparkan bahwa variabel akses e-commerce berpengaruh terhadap pendapatan UMKM. Hasil dari penelitian ini menerangkan bahwa di masa pandemi Covid-19 pemanfaatan e-commerce mampu meningkatkan pendapatan. Dengan melakukan promosi dan penjualan produk dengan internet setiap orang dapat akan dengan mudah dapat melihat produk yang dimiliki sehingga mempermudah pengenalan produk kepada calon konsumen. Pemesanan lewat online memudahkan konsumen untuk mencari informasi tentang produk yang dimilikinya. Pemanfaatan e-commerce juga memberikan manfaat lainnya yaitu dapat meningkatkan efisiensi bisnis karena bisnis tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Di samping itu, e-commerce menyebabkan biaya-biaya menjadi biaya terkendali dan pada akhirnya dapat meningkatkan omzet perusahaan khususnya di Sumatera Selatan di masa pandemi covid-19. Namun pada penelitian yang dilakukan oleh Vionna Agnesia dan Agung Joni Saputra (2022) memaparkan hasil yang tidak selaras dengan hasil penelitian ini. Hasil dari penelitian tersebut menerangkan bahwa e-commerce tidak berpengaruh terhadap pendapatan UMKM. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pengetahuan, kemampuan dan keahlian yang dimilikipara pelaku usaha Kota Dumai sehingga tidak bisa memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada dalam menjalankan kegiatan usahanya (Agnesia & Saputra, 2022).

Hasil dari penelitian ini diperkuat oleh adanya teori akuntansi konsep pendapatan yang berisi bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pendapatan adalah tingkat teknologi yang digunakan, maksudnya semakin canggih tingkat

teknologi yang digunakan, maka usaha tersebut mampu memproduksi barang atau jasa dalam jumlah yang besar, sehingga apabila hal sebaliknya terjadi, seperti tingkat teknologi yang dimiliki suatu usaha masih tergolong sederhana tentunya jumlah barang atau jasa yang dihasilkan usaha tersebut relatif kecil. Selain itu, hasil penelitian ini juga diperkuat oleh teori produksi yang menjelaskan bahwa keuntungan (pendapatan) dapat tercapai apabila suatu usaha memiliki faktor produksi yang menjadi komponen utama dalam kegiatan usaha yaitu faktor produksi turunan, faktor produksi turunan merupakan faktor produksi yang tidak berhubungan secara langsung dan merupakan karya yang berasal dari pemikiran dan kemajuan budaya manusia. Di antara yang termasuk faktor produksi turunan adalah modal, kewirausahaan atau entrepreneur, dan teknologi. Produksi dalam skala besar memerlukan modal agar dapat mencapai output yang telah ditargetkan.

Berikut beberapa hal yang termasuk ke dalam modal usaha yaitu dana, mesin, gedung bangunan, dan peralatan lainnya yang berperan dalam proses produksi.

Sedangkan yang dimaksud dengan entrepreneurship adalah kemampuan seseorang untuk melakukan manajemen tim hingga bisnis sehingga usaha yang dijalankan menghasilkan keuntungan. Pemanfaatn teknologi yang tepat guna juga merupakan faktor penting dalam produksi sehingga kegiatan produksi dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Oleh karena itu, kedua teori tersebut konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa akses e-commerce memiliki pengaruh positif terhadap pendapatan.

Pemasaran semakin mudah dalam dunia bisnis karena adanya e-commerce, sehingga para wirausahawan dalam mempromosikan produknya semakin mudah karena menggunakan e-commerce. Kegiatan bisnis yang sebegitu banyak menjadikan pemasaran sebagai ujung tombak dalam hubungannya dengan penjualan barang maupun jasa. Apakah bisnis berjalan menguntungkan atau tidak sangat bergantung pada pemasaran. E-commerce dimaksudkan sebagai media pemasaran di internet yang sangat bermanfaat. Peningkatan pemasaran dan

penjualan produk memanfaatkan e-commerce ini akan memicu peningkatan pendapatan bagi produsen.

Oleh karena itu, pemanfaatan e-commerce pada UMKM kuliner di Kota Jambi berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan bagi setiap produsen.

Hal ini berdampak signifikan terhadap kinerja UMKM kuliner di Kota Jambi sehingga memungkinkan wirausahawan untuk menjual produk tidak hanya di daerahnya akan tetapi juga di luar kecamatan lokasi UMKM. Dengan demikian, peningkatan penjualan produk berdampak positif terhadap pendapatan diperoleh dari penggunaan e-commerce.

5.3.2 Pengaruh Modal Usaha (X2) Terhadap Pendapatan UMKM (Y)

Menurut James C Van Harne dalam Nase Saipudin Zuhri (2017) modal usaha adalah dana yang diperlukan untuk menjalankan usaha dan digunakan baik untuk pengeluaran tetap maupun tidak tetap setiap bulannya.

Berdasarkan pengujian hipotesis kedua yang telah dilakukan sebelumnya diperoleh hasil bahwa thitung lebih besar dari ttabel maka, H2 diterima dan Ho ditolak yang bermakna bahwa variabel modal usaha secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan UMKM Kuliner di Kota Jambi pada masa pandemi Covid-19. Berdasarkan hasil penelitian pandemi covid-19 berdampak pada modal usaha para pelaku UMKM Kuliner yang ada di Kota Jambi, pelaku UMKM mengaku bahwa pandemi mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk sekedar mengembalikkan modal karena terjadi penurunan penjualan yang cukup signifikan dan pelaku UMKM juga mengaku kesulitan untuk membeli bahan baku karena ketatnya PSBB. Kondisi ini mengindikasikan bahwa modal adalah faktor yang mempengaruhi pendapatan pelaku UMKM dikarenakan semakin tinggi modal yang dikeluarkan maka semakin tinggi pendapatan yang akan diperoleh. Pada penelitian ini modal usaha berasal dari modal sendiri dan modal pinjaman. Modal usaha paling tinggi berasal dari modal sendiri, akan tetapi beberapa pelaku UMKM juga mengaku mendapat modal dari pinjaman baik dari

bank maupun koperasi, beberapa bank yang menawarkan pinjaman untuk membantu kesulitan modal para pelaku UMKM Kuliner Kota Jambi pada masa pandemi Covid-19 adalah Bank Jambi dan Bank Syariah Indonesia.

Pengelolaan modal usaha mencakup upaya untuk menghimpun dan mengalokasikan dana yang diperlukan serta menggunakan dana tersebut secara efisien dan efektif. Sehingga setiap penanganan modal usaha memerlukan pengawasan yang tepat. Pada dasarnya UMKM kuliner Kota Jambi harus memperhatikan ketersediaan modal usaha karena modal usaha itu sendiri menentukan tingkat pendapatan. Semua pelaku UMKM Kuliner khususnya di Kota Jambi harus senantiasa waspada dan siap untuk meningkatkan modal usaha yang digunakan dalam berwirausaha agar pendapatan yang dihasilkan meningkat, serta guna mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan karena adanya permasalahan eksternal contohnya seperti pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Hasil dari penelitian ini selaras dengan hasil dari beberapa penelitian terdahulu, diantaranya penelitian yang dikerjakan oleh Andri Waskita Aji dan Sela Putri Listyaningrum (2021), variabel modal usaha berpengaruh positif terhadap pendapatan UMKM. Pada penelitian ini dipaparkan bahwa apabila pendapatan yang diperoleh semakin tinggi maka semakin tinggi pula modal yang harus dikeluarkan. Sehingga dengan modal usaha tersebut pelaku usaha dapat membeli peralatan dan bahan baku yang baru guna kegiatan produksi selanjutnya. Namun pada penelitian yang dilakukan oleh Andrean Syahputra, Ervina, dan Melisa (2022) memaparkan hasil yang tidak selaras dengan hasil pada penelitian ini. Pada penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa modal usaha berpengaruh negatif terhadap pendapatan UMKM. Hal tersebut dikarenakan tingginya persaingan diantara seluruh pedagang mampu mempengaruhi pendapatan yang diperoleh pelaku usaha. Ketika total keseluruhan pelaku usaha menjadikan harga semakin bersaing dan alternatif bagi konsumen bertambah banyak, hal ini menyebabkan besarnya pendapatan usaha juga akan semakin terbatas (Syahputra Andrean, Ervina, 2022).

Hasil dari penelitian ini diperkuat oleh teori akuntansi konsep pendapatan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pendapatan adalah modal usaha.

Kecil besarnya pendapatan yang akan diterima suatu usaha ditentukan oleh bagaimana modal dimanfaatkan dalam aktivitas produksi. Modal yang cukup atau memadai sangat menentukan tingkat kelancaran suatu usaha. (Octavia, 2019).

Oleh karena itu teori ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa modal usaha memiliki pengaruh positif terhadap pendapatan.

Selain itu, hasil penelitian ini juga diperkuat oleh teori produksi yang menjelaskan bahwa keuntungan (pendapatan) dapat tercapai apabila suatu usaha memiliki faktor produksi yang menjadi komponen utama dalam kegiatan usaha yaitu faktor produksi turunan, faktor produksi turunan merupakan faktor produksi yang tidak berhubungan secara langsung dan merupakan karya yang berasal dari pemikiran dan kemajuan budaya manusia. Di antara yang termasuk faktor produksi turunan adalah modal, kewirausahaan atau entrepreneur, dan teknologi. Produksi dalam skala besar memerlukan modal agar dapat mencapai output yang telah ditargetkan.

Berikut beberapa hal yang termasuk ke dalam modal usaha yaitu dana, mesin, gedung bangunan, dan peralatan lainnya yang berperan dalam proses produksi.

Sedangkan yang dimaksud dengan entrepreneurship adalah kemampuan seseorang untuk melakukan manajemen tim hingga bisnis sehingga usaha yang dijalankan menghasilkan keuntungan. Pemanfaatn teknologi yang tepat guna juga merupakan faktor penting dalam produksi sehingga kegiatan produksi dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Oleh karena itu, kedua teori tersebut konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa modal usaha memiliki pengaruh positif terhadap pendapatan.

5.3.3 Pengaruh Tenaga Kerja (X3) Terhadap Pendapatan UMKM (Y)

Definisi tenaga kerja menurut Undang-Undang Pokok Ketenagakerjaan No.

13, Tahun 2003 adalah setiap orang yang sanggup melaksanakan pekerjaan untuk mencukupi kepentingan sendiri maupun untuk masyarakat guna menghasilkan

jasa atau barang baik di dalam maupun diluar ikatan kerja disebut dengan tenaga kerja.

Berdasarkan pengujian hipotesis ketiga yang telah dilakukan sebelumnya diperoleh hasil bahwa bahwa thitung lebih besar dari ttabel maka, H3 diterima dan Ho ditolak yang bermakna bahwa variabel tenaga kerja secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan UMKM Kuliner di Kota Jambi pada masa Pandemi Covid-19. Berdasarkan hasil penelitian, pandemi Covid-19 mengakibatkan sebagian kecil pelaku UMKM yang menjadi responden pada penelitian ini untuk melakukan pengurangan tenaga kerja karena kesulitan untuk membayar gaji karena terjadi penurunan penjualan. Namun, sebagian besar pelaku UMKM mengatakan bahwa mereka merasa usaha mereka semakin produktif karena adanya tenaga kerja yang mereka miliki. Hal tersebut juga dibuktikan dengan sedikitnya pelaku UMKM yang melakukan pemberhentian tenaga kerja dan juga pemotongan gaji para tenaga kerja saat terjadinya pandemi Covid-19.

Tenaga kerja yang dimiliki pelaku UMKM mampu menunjang produktivitas usaha pada masa pandemi covid-19, dikarenakan muncul banyak inovasi yang dilakukan oleh tenaga kerja seperti melakukan pesan antar dan take away untuk mencegah menyebaran Covid-19. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi jumlah tenaga kerja yang dimiliki, maka semakin tinggi tingkat pendapatan yang diperoleh pelaku usaha kuliner yang ada di Kota Jambi.

Hasil dari penelitian ini sesuai dengan beberapa hasil penelitian terdahulu diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Daroji dan Dra Tri Siwi Nugrahani (2021), variabel tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan UMKM. Hasil dari penelitian tersebut menerangkan bahwa semakin banyak tenaga kerja yang dimiliki maka semakin banyak pendapatan UMKM. Hal tersebut karena peningkatkan pendapatan UMKM dapat terjadi apabila dibarengi peningkatan produktivitas yang hanya dapat dilakukan apabila usaha memiliki tenaga kerja yang cukup. Namun pada penelitian yang dilakukan oleh Lestari Wuryanti, Erna Listyaningsih, dan Eka Fitriani (2021) memaparkan hasil yang

tidak selaras dengan hasil penelitian ini. Pada penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa tenaga kerja berpengaruh negatif terhadap pendapatan UMKM. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya tenaga kerja memiliki keahlian dan kurang mampu mengoptimalkan penjualan sehingga tidak mampu untuk menunjang pendapatan (Wuryanti et al., 2021).

Hasil penelitian ini diperkuat dengan adanya teori akuntansi konsep pendapatan yang berisi uraian mengenai cara mengolah dan mengorganisir secara aktif faktor-faktor produksi menjadi tugas yang harus dilaksanakan oleh tenaga kerja, sehingga suatu pendapatan dapat dipengaruhi oleh sedikit banyaknya tenaga kerja. (Rosyid, 2009). Oleh karena itu teori ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa tenaga kerja memiliki pengaruh positif terhadap pendapatan UMKM. Selain itu, hasil penelitian ini juga diperkuat oleh teori produksi yang menjelaskan bahwa keuntungan (pendapatan) dapat tercapai apabila suatu usaha memiliki faktor produksi yang menjadi komponen utama dalam kegiatan usaha yaitu faktor produksi asli, faktor produksi asli meliputi sumber daya alam dan tenaga kerja. Karena hanya dengan dua faktor tersebut, manusia sudah dapat memproduksi barang. Sumber daya alam yang dimaksud di sini meliputi udara, hewan, tumbuhan, panen hasil alam, dan lain-lain. Dengan bahan-bahan tersebut manusia dapat mengolahnya menjadi bahan mentah, setengah jadi, atau bahkan barang jadi. Sementara untuk tenaga kerja adalah manusia yang mengolah sumber daya alam tersebut menjadi barang yang siap dikonsumsi. Oleh karena itu, kedua teori tersebut konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa tenaga kerja memiliki pengaruh positif terhadap pendapatan.

95 BAB VI PENUTUP

Dokumen terkait