Dari penelitian yang dilakukan terhdapa Mika, peneliti melihat adanya pengaplikasian dari
containment theory. Dimana dalam fakta di lapangan diperoleh fakta bahwa pada dasarnya Mika tidak melakukan pelanggaran status offences seperti yang dilakukan oleh teman-teman sepermainan lainnya adalah dikarenakan oleh ibunya. Ibunya yang melarangnya melakukan ini dan itu, membuatnya memiliki benteng yang cukup kuat untuk tidak melakukan pelanggaran terhadap status offences-nya. Pada dasasnya containment theory yang diungkapkan Walter C. Reckless ini sendiri tergoong dalam kelompok pemikiran Chicago. Teori ini sendiri tergolong dalam teori control sosial. Containment theory ini terbagi atas31:
Inner-containment, hal ini mengacu pada internalisasi nilai-nilai, perilaku konvensional dan perkembangan karakteristik kepribadian yang memungkinkan seseorang untuk menolak tekanan. Umumnya Inner-containment lebih efektif diterapkan di daerah perkotaan, dikarenakan integrasi masyarakat perkotaan yang lemah.
Outer-containment lebih diwakili oleh keluarga dan agen-agen sosialisasi lainnya dengan dukungan terhadap sistem yang efektif dan membantu serta memperkuat konvensionalitas serta isolasi individu dari serangan atau tekanan dari luar. Outer-containment ini lebih mudah diterapkan pada masyarakat pedesaan karena masyarakatnya masih memiliki kekerabatan yang kuat.
31 Hagan, E. Frank. (2011). Introduction to Criminology: Theories, Method and Criminal Behavior 7th Edition.Sage Publication.(hlm:164)
Mika berdasarkan data yang kami peroleh adalah seorang anak yang memiliki outer-containment yang kuat. Mengapa peneliti menggolongkannya kedalam outer-containment? Hal ini dikarenakan kelompok yang termasuk dalam outer-containment adalah agen-agen sosialisasi yaitu keluarga, sekolah, tempat peribadatan dan teman sepermainan. Dalam data yang kami peroleh dari Mika peran outer-containment yang cukup kuat dipegang oleh Mika adalah peran dari keluarga. Peran outer-containment dalam kehidupan Mika adalah berasal dari ibunya. Ibunya yang memberikan peraturan ketat baginya. Memberikan ekspektasi dan kewajiban-kewajiban tertentu untuknya, menjadikannya terikat dan dengan demikian menjadikan peran
outer-containment semakin kuat. Meskipun pada dasarnya dia berada di lingkungan teman sepermainan lainnya yang melakukan pelanggaran terhadap status offences-nya. Namun dikarenakan adanya outer-containment yang kuat, maka dia tidak terdorong untuk melakukan pelanggaran yang sama.
BAB VI PENUTUP
VI. 1 KESIMPULAN
Dalam analisis yang peneliti gunakan, yaitu dengan menggunakan asumsi dasar teori labeling, teori adolescence’s frustation serta dengan menggunakan containment theory, pada dasarnya sesuai dengan temuan lapangan yang diperoleh oleh peneliti. Pada penelitian ini, peneliti berusaha mencari tahu tanggapan remaja di sekitar Stasiun Depok Baru, Jalan Baru, Depok terhadap pendefinisian label “nakal” yang diberikan kepada mereka atas kebudayaan
madol, merokok dan meminum-minuman keras yang mereka terapkan dalam kelompok teman sepermainan mereka.
Seperti yang diketahui mereka sebagai anak hanya melakukan pelanggaran status offences, tapi reaksi yang diberikan pada mereka dengan dilabel sebagai anak “nakal”. Kansas adalah salah satu bentuk tanggapan mereka terhadap “label” tersebut. Tidah hanya Kansas, remaja lainnya mulai membangun kebudayaan mereka sendiri, budaya yang dimana ia diterima sebagai dirinya tanpa harus dipaksa oleh kebudayaan yang dianggap benar.
Dengan demikian dapat kami simpulkan bahwa pengaruh label “nakal” oleh orang tua pada dasarnya menjadikan remaja ini melampiaskannya kedalam kebudayaan remaja mereka, seperti, madol, merokok dan mengkonsumsi minum-minuman keras. Kebudayaan ini kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadikan mereka berbeda dari masyarakat yang memiliki kebudayaan dominan.
VI. 2 SARAN
Beberapa saran yang dapat direkomendasikan terhadap permasalahan ini, yaitu: 1). Harus adanya pendefinisian yang lebih sempit terhadap kenakalan itu sendiri.
2). Melakukan sosialisasi bahwa kebudayaan yang telah mereka lakukan seperti madol, merokok dan mengkonsumsi minuman keras sebenarnya merupakan tindakan yang akan membahayakan kesehatan mereka sendiri.
3). Harus adanya ruang publik yang menfasilitasi mereka sebagai remaja, seperti ruang yang menampung minat dan bakat mereka, sehingga mereka tidak menerapkan kebudayaan yang diterapkan sebelumnya.
4). Dibutuhkan peran aktif orang tua dalam pengasuhan dan perawatan yang lebih baik terhadap mereka, agar mereka memiliki benteng dari kebudayaan yang mereka peroleh dari teman sepermainan merek.
Daftar Pustaka Buku:
Bynum, Jack E., & William E. Thomson (2007). Juvenile Delinquency : A Sociological Approach Sevent Edition ----Pearson Education Inc, USA. Chapter 12
Hagan, E. Frank. (2011). Introduction to Criminology: Theories, Method and Criminal Behavior 7th Edition.Sage Publication.
Huq, Rupa. (2006).Beyond Subculture: Pop, Youth and Identity in A Postcolonial World.
Routledge.
Muncie, John. (2004). Youth and Crime. Sage Publication. Chapter 5
Raco, JR. (2001). Metode Penelitian kualitatif, Jenis Karakteristik dan Keunggulannya. Jakarta: Grasindo.
Shoemaker, Donald J. 2010. Theories of Delinquency:Sixth Edition.Oxford University Press. (hlm:260-26
Shoemaker, Donald, J. (2009). Juvenile Delinquency. UK: Rowman & Littlefield Publishers, Inc.hal: 299
Poerwandari, E. Kristi. (2007). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia. Jakarta: LPSP3 Fakultas Psikologi UI. Hal 17
Raco, JR. (2001). Metode Penelitian kualitatif, Jenis Karakteristik dan Keunggulannya. Jakarta: Grasindo. Hal: 81
Strauss, Anslem & Juliet Corbin. (2007). Dasar-dasar Penelitian Kualitatif: Tatalangkah dan Teknik-teknik Teorisasi Data. Diterjemahkan oleh M. Shodiq & Imam Muttaqien. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal 5
Journal:
Agan Y. Amanda. (2011). Sex Offender Registries: Fear Without Function. Chicago Journals. Hal 213
Baron, Stephen. (1999). Street Youths and Substance Use: The Role of Background, Street Lifestyle, and Economic Factors. Sage Publications. Hlm 3- 4
Berman, Laine. (2007). Surviving on the Streets of Java: Homeless Children's Narratives of Violence. Sage Publications. Hal 149
Schroeder, Ryan D. (2010). Family Transition and Juvenile Delinquency. Sociological Inquiry.579-604
Web:
http://www2.warwick.ac.uk/fac/soc/sociology/staff/academicstaff/chughes/hughesc_index/ teachingresearchprocess/quantitativequalitative/quantitativequalitative/ diakses pada Minggu, 17-11-2013 pukul 16:53 WIB
LAMPIRAN
Catatan Perjalanan
Pencarian data pertama kali kami lakukan pada Selasa, tanggal 3 Desember 2013. Kami turun lapangan setelah kelas Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Kriminologi sekitar pukul 17.00 WIB. Kami menggunakan transportasi kereta dari Stasiun UI menuju Stasiun Depok Baru. Bersama dengan teman yang melakukan penelitian untuk matakuliah yang sama. Kami diperkenalkan dengan Mila, seorang remaja perempuan yang menjadi guide keeper dalam penelitian kami. Dari dialah kami mengenal Mira dan Mika pada hari pertama penelitian.
Dari Stasiun, kami melakukan wawancara di trotoar Jalan Baru, Depok. Subjek penelitian kami pada penelitian yang pertama adalah teman sepermainan Mila, mereka merupakan kelompok sepermainan yang tergabung dalam suatu geng bernama KANSAS. Dari kedua subjek penelitian kami, yaitu Mira dan Mika, mereka mengaku pada dasarnya mereka tidak mengerti mengapa mereka tergabung di dalam geng KANSAS tersebut, namun saat ditanya akronim dari KANSAS mereka menjawab bahwa KANSAS merupakan kepanjangan dari Anak Nakal Suatu
Hari akan Sadar. Saat ditanya mengapa mereka memberikan nama itu, mereka menjawab bahwa mereka diberikan label nakal oleh masyarakat.
Mika sendiri merupakan seorang remaja perempuan berusia 11 tahun yang sedang duduk di kelas VII Sekolah Menengah Pertama. Mira merupakan remaja permpuan yang berusia 13 tahun yang sedang duduk di kelas 6 Sekolah Dasar. Pertanyaan yang kami ajukan pada Mira umumnya dijawab dengan sangat singkat dan Mira sangat mudah tersdistraksi oleh pesan singkat dan aktivitas komunikasi yang dilakukannya dengan Mila. Saat peneliti mencoba bertanya mengenai fenomena madol, Mira cukup aktif dan menyarankan untuk menanyakan secara langsung kepada salah seorang temannya bernama Laras.
Dari wawancara yang juga dilakukan kepada Mika, menurut Mika mengungkapkan bahwa biasanya mereka cenderung menggunakan obat tremadol, panadol dan beberapa obat lainnya. Cara mengkonsumsinya sama seperti mengkosumsi obat biasa, tetapi tidak dipungkiri juga bisa dikonsumsi dengan minuman soda.Mika kami menemukan bahwa ternyata konsumsi madol
tidak hanya sebatas penghilang stress, atau untuk gaya-gaya-an, tetapi juga agar tidak malu saat sedang ngamen
Fakta yang selanjutnya yang kami peroleh dari Mika adalah bahwa Robi mengkonsumsi
madol diperbolehkan oleh orang tuanya dikarenakan Robi bekerja sebagai pengamen, sehingga mereka bebas melakukan apapun, asalkan menghasilkan uang, karena peran Robi dirumah adalah sebagai tulang punggung keluarga. Mika juga mengungkapkan bahwa madol pada dasarnya sudah diterapkan oleh banyak remaja laki-laki disana. Bahkan Mika juga mengetahui bagaimana bentuk obat yang biasa digunakan untuk madol itu melalui saudara-saudara dari Robi. Namun dia mengaku tidak pernah diminta untuk mencoba obat tersebut. Kemudian saat peneliti menanyakan apakah Mika sudah pernah madol atau merokok, dia menjawab belum pernah, dikarenakan takut kepada ibunya. Sekitar pukul 20.00 WIB, kami menyelesaikan wawancara yang kami lakukan. Namun, sebelum pulang kami sepakat untuk bertemu kembali dengan Mila esok hari di Mesji Terminal.
Hari kedua, Rabu, tanggal 4 Desember 2013, kami berangkat dari kampus menuju master pada pukul 12.00 WIB. Ternyata sesampainya di sana, Mila sudah pulang dan sayangnya, dia tidak dapat dihubungi. Dalam perjalanan pulang Mila menghubungi kami, hingga akhirnya kami harus kembali lagi ke Master. Pada penelitian tahap dua yang dibantu juga oleh Mila
laki-laki berusia 12 tahun yang bersekolah di Sekolah Master. Selain bersekolah Romi juga bekerja sebagai penggamen sama seperti Mila. Dia mengungkapkan bahwa dia merokok, madol
dan juga minum-minuman keras. Pada saat wawancara berlangsung juga Romi bersama dengan teman-temannya menggunakan beberapa istilah-istilah yang tidak diketahui oleh orang lain.
Penggunaan madol menurut mereka selain agar tidak malu saat mengamen penggunaannya juga sebelum mereka tawuran dengan musuh agar mereka cepat marah dan membuat ia tidak merasa sakit ketika mendapat serangan. Namun efek samping dari penggunaan madol ini menurut Romi adalah saat mereka sedang mengamen dan ada orang-orang yang menghinan mereka, mereka akan cepat sekali marah. Romi juga mengunmgkapkan mengenai minuman yang sering mereka konsumsi dan minuman yang seringkali mereka konsumsi adalah ciu. Dengan harga Rp. 8.000/liter.
Transkrip Wawancara terhadap Subjek Mika dan Mira
L: namanya siapa aja tadi? Mika yang mana tadi, kalo Mira mana? Mika, Mira, Mika, Mira, maaf ya aku suka lupa.
L: Tadi sekolahmya dimana aja? Mika: di Arrahman
L: Arrahman itu di? Mika: di Citayem
L: Aku gak tau itu dimana?
Amel: Citayem, itu dua stasiun setelah ini. L: Kalo kamu di? Master?
Mira: Bukan. Beda disono. Di Jalan Baru Amel: Dimana?
Laili: Jalan baru. Amel: ya, ini jalan baru
Mira: (tertawa) iya tapi bukan disini disono L: kalian satu geng ya?
Mika: iya, bisa jadi
Mira: Ama ini kan Mila kan? L: Lah kok bisa jadi? (tertawa)
A: itu kenapa bisa bikin geng gituan? (tersenyum) Mika: Gatau Mila,
A: temen-temen ngumpul itu. L: Kepanjangannya apa itu?
Mika: Kami Anak Nakal Suatu Hari Akan Sadar.
L dan A: (tertawa) wah bisa jadi, bisa jadi. Keren banget! A: emang yang bilang kalian nakal siapa?
L: emm jahat banget orang-orang
Mika: (tersenyum) ya gatau kata orang-orang (tertawa). Iya, kadang mamah suka aku bilang anak nakal karena kalo dibilangin gak boleh main masih aja aku main.
L: iya sama tau enakkan kalo main, aku dulu pas SD juga ga boleh main, dikurung aja dipager, mana aku ga punya adik, jadi ngapain gitu kan ya dirumah.
Mika: (emm) iya. A: Sok Asik
L: Iya, gue emang sok asik.
A: Terus yang bikin nama itu siapa? Rembukan atau ada usul dulu? Terus sebelum Kansas ada nama sebelumnya gitu?
Mika: Ada nama lainnya, apaan yak? (tersenyum), malu, (tersenyum) L: kenapa malu?
Mika: ada gitu gabocei L: apatu?
Mika: (tersenyum) Gabungan Bocah Cantik dan Imut.
L: waaah bisa jadi. Mendingan itu kan daripada kansas namanya. Mika: gatau kan Mila yang nyebutin.
L: Apa ya? Kalian tiap malem nongkrong disini? Mira: ya, kadang-kadang sih
Mika: kadang-kadang sih, pindah-pindah deh. yah semaunya Mila aja. Amel: ohh Jadi Mila ketua gengnya?
Mika: ya engga juga, semaunya ni bocah-bocah ini, kalo dia maunya kesana ya kita-kita ikutin kesana juga. Kadang-kadang mau kesono yaudah kita pada kesono semua.
L: oh, jadi kalian selalu bareng-bareng ya? Mika: iya.
L: keren banget. Enak ya, kalian kelas berapa sih? Mika: aku kelas 2 SMP
A: Mira kelas berapa? Mira: kelas 6 SD
L: kalian umurnya berapa aja? Mika: aku 11 tahun
L: kamu?
Mira: 13 kurang sih
A: Kalian sehari-hari ngapain aja?
Mika: kalo aku beresin rumah kalo pagi, nyapu, ngepel, nyuci, ngegosok. Pokoknya beresin rumah gitu.
Mira: kadang-kadang
L: (tertawa) iya kalo dirumah sih mending nonton tv yak? Abis itu ngapain lagi Mika: selesai itu mah Sekolah pulangnya baru main
A: Emang Sekolahnya jam berapa? Mika: jam 12
A: kalo Mira? Mira: pagi
A: biasa mainnya ngapain aja?
Mira: ke rawa kadang-kadang mainnya. Mila: kadang jalan-jalan ke rawa gitu, A: ngapain?
Mika: ya main-main aja.
A: terus kalian ngapain aja disitu? Berenang? Mika: ya enggaklah emangnya mau kelelep gitu Mira: mancing, buat mancing
Mira: adalah orang-orang disitu. L: kalian?
Mira: enggaklah, bapak-bapak gitu, iya bapak-bapak. A: kan kalo main itu, duduk-duduk aja, nongkrong gitu? Mika: iya.
A: ngga ngapa-ngapain?
Mika: yah, mau ngapain? Yang tadi doang, yang namanya Laras, itu ngobat, kaya madol. L: hah? Madol apaan?
Mika: gatau juga. Tapi pernah dikasihtau sih, bentuknya bulat, warna putih kaya jadi, kaya jadi paramex.
A: panadol?
Mika: bukan panadol, namanya tu tramadol.
Mira: tanya Laras noh. (diam) Eh Laras tadi kemana sih?
A: Laras tadi sama (berfikir) sama Kak, kak Dina. L: Oh, Laras masih suka gitu?
Mika: iya.
A: kalian pernah nyoba?
Mika: engga. (berfikir) emm aku takut diomelin mamah. A: oooh... Kalo Mira?
L: Kamu pernah? Mira: Enggaklah.
A: Emang Laras gak dimarahin mamahnya? Mika: Kan mamahnya udah meninggal. A: Ayahnya?
Mika: Ayahnya ada, dia kan udah diapain gitu, tapi tu orang gak pernah kapok. A: Dia sekolah di Master ya?
(bunyi knalpot motor cukup keras) L: Wah, Ayu
(Mira berbicara dengan Mila, dikarenakan adanya pesan singkat dari pacar Mila). A: Kalian tinggalnya deketan?
Mika: Engga, aku sana (menunjuk kearah belakang) di sana ( menunjuk kearah depan) A: Jauh juga dong mainnya.
Mika: engga disono no, yang kalo ada gang langsung belok. L: Berani malem-malem? (berpikir) sendirian gitu?
Mika: Dirumah?
L: Engga kalo pulang dari main gitu?
Mika: Engga, suka ada adek, adek suka ngintilin. L: ooh...
(bunyi knalpot motor)
L: serem yaa sepi. Sepi disini, di situnya (menunjuk kearah stasiun) rame loh. A: itu dia cuma ini doang, apa, apa tadi namanya madol doang?
Mika: taunya madol doang, soalnya pernah ditunjukkin. L: madol, namanya lucu. (melihat) itu siapa ya?
Mika: Siapa?
L: gatau tadi ada yang lewat, terus dia liatnya gitu banget loh. A: engga itu yang dangdutan apaan?
L: apa? Itu biasanya orang yang keliling kan? Mika: iya yang kelilingan.
L: yang keliling ngamen itu.
(Mira kembali terdistraksi oleh Mila, terkait dengan pesan singkat). (bunyi knalpot motor)
A: Eh tadi yang sama Mila satu lagi siapa? Mira: Ayu.
A: engga itu? (menunjuk kearah depan)
Mira: Mirsya.
L: Kalian kalo malem ngapain sih?
Mika: nongkrong aja gitu, duduk-duduk, cari angin. Kadang main, main kaya anak kecil gitu, bocah. Kaya main PM gitu, polisi Maling.
L: oh.. iya, iya aku tahu.
(suara dangdutan semakin mendekat).
L: Kansas, kansas. Lucu sih namanya. Tapi kenapa anak nakal sih? Sedih dengernya.
L: itu bentar lagi kesini, iya kan biasanya gitu kan ya? (berpikir). Anak nakal, emang kalian suka ngapain aja?
Mika: Engga, engga ngapa-ngapain. Ya gitu, di kadang mamanya Rani itu kalo orang tuanya ngoceh dia dengerin lagu kadang nyampe kenceng gitu. Jadi gak didengerin itu orang tuanya ngomong apa aja. Kalo ga boleh main kadang suka kabur main. Itu ya nakalnya disitu.
L: itu sebenernya ga nakal tau. (melihat kebelakang) eh dia disini (mengarah kepada para pemusik dangdut). Serem deh.
(musik semakin keras. Sehingga wawancara dihentikan beberapa detik). L: Kalian gak serem tuh tiap malem ada orang kaya gitu?
Mika: tiap hari. Mira: tiap malem. L: Tiap malem dia?
(Suara knalpot motor yang cukup keras)
L: Kalian geng tu, masuknya biasa aja, Mira: biasa aja, emang mau gimana?
L: Engga ada apa-apanya gitu atau Mila doang yang tau kalo kalian itu geng?
Mika: (tersenyum) kayanya Mila doang dah. Kalo aku gengnya banyak ada disana, sini.
L: (bercerita) Dulu aku waktu SD juga punya geng, namanya apa ya (berpikir) emm... Pelangi deh kalo engga salah. SMP juga ada, sering, sering buat geng. Apa A mau tanya apa?
A: emm (berpikir) itu tadi apa, emm nggak jadi deh. L: Apa A?
A: Itu tadi yang dibilang cowok banyak itu apaan? Mira: Apaan?
A: itu tadi yang dibilang, oh itu paling cowok kak. Mira: oh itu merokok doang,
Mika: itu kalo merokok suka madol juga.
Mira: Kalo cowok emang kebiasaan madol gitu.
A: itu kalo anak-anak cowok yang di daerah ini, itu pada kerja gitu. Mika: engga masih ada pada sekolah. Ada juga yang kerja.
A: Ohh... Kaya sekolah habis itu ngamen gitu? L: Rata-rata seumuran kalian ya?
A: tu mereka suka madol gitu,
Mira: Suka, di sekolahan tu. Temennya Mila tu. A: Apaan? Di sekolahan gitu madolnya?
Mika: yah gatau.
Mira: Mila tu yak, temen lu yakan (berbicara ke arah Mila) di sekolahan minum-minum yak?
A: di Master? L: Di Master waaw.
Mira: Di Master mah emang pada begitu.
L: Oh iya, tadi aku ke Master loh, terus anaknya gitu, sombong, yaah. (melihat kearah jembatan). Eh disini keren ya kalo malem-malem. Berpikir) A mau tanya apa lagi? Aku bingung mau tanya apa?
(Mira terdistraksi kembali dengan pesan singkat) L: ciiee (menyindir Mira) emm... yang baru jadian. A: ciiiee yang lagi pdkt
Mira: Temen. Temen. Orang ga kenal. (melanjutkan) Mila katanya udah putus tadi malem, balikan lagi. Dasar!
L: Katanya belum jadian tadi. Mira: udah. Orang udah ada sebulan. L: Waah... Katanya baru.
Mira: udah. Putusnya bareng lagi. Eh dia balikan lagi L: ciiee...
Mira: Balikan lagi, masa putus balikan lagi. Mau aja dia mah yak. A: Emang kenapa?
L: Iya gak enak kan? Aku juga sih prinsipnya kalo udah putus gakmau balikan lagi. Mira: Katanya males ngeliat muka dia, tapi diterima lagi.
L: Kalo lagi marahan gitu tu.
Mira: Emang kalo ketemuan dia kabur. Eh cowoknya minta balikan diterima lagi. Dasar!
A: Kalo si Ika itu sekolahnya dimana? Master juga? Mika: Udah engga sekolah.
L: Ohh...
(Mira terdisktraksi kembali oleh Mila dan pesa singkat di handphonennya)
L: yaah... kikuk gak sih kita ngomongnya? (berpikir) Aku bingung mau tanya apa? Mika: (tersenyum)
A: Eh, itu yang suka balap-balapan disana? Mira: Bisa jadi sih Kak, bisa juga disini.
L: iya, disini kan sepu juga kan?
A: Di jalanan ini. (berpikir) itu jam? Malem banget? Mika: Malem banget.
Mira: Kan suka sepi yak?
Mika: noh sampe jam 12 malem masih ada noh. A: itu cowok-cowok tapi?
Mika: iya.
L: Kalian pernah nonton gak?
Mika: Nonton? Kaga pernah, nontonin apa? L: Nontonin itu, nontonin balapan gitu. Mika: enggak.
A: Jam 12 udah pulang ya?
Mika: Engga, aku pulangnya jam sembilan.
L: gak boleh yak.
Mika: iya. Kalo lewat dikit dikunciin. A: Terus nanti gimana?
Mika: Kalo dikunciin yah pergi main lagi (tersenyum) L: (tertawa) yaaah... Jadi gimana itu?
Mika: Ya diomelin lagi, terus pergi main lagi.
L: (bercerita) Aku juga dulu sering, tapi aku dikunciinnya jam 6 sore. Udah gak boleh main lagi kalo jam 6.
A: Itu di ujung jalan itu buntu atau ada jalan lagi. Mira: Ada jalan lagi.
A: Tapi, itu udah beda, udah bukan jalan JB lagi? Jalanan ini emang sepi ya? Mika: Ya tergantung. Misalnya lagi rame ya rame, kalo lagi sepi ya sepi. L: Modo, modol, madol, apa sih
A: Madol.
Mira: Emang enak apa ya? Coba tanya sih Ayu no, kan dia suka noh.
Mika: katanya sih pernah nanya sama orang-orang yang pernah katanya rasanya ya gitu kaya obat, pahit. Terus katanya buat ngilangin stress katanya, karena banyak pikiran.
L: Kenapa gk ngerokok aja gitu? Mika: enggak tahu. (tersenyum).
Mira: pernah aku yak, cuma megang doang gitu aja diomelin apalagi ampe ngerokok beneran. L: Iya sih, kan kasihan nanti gedenya. Ngga nyampe gede dong, paru-parunya rusak duluan nanti.
Mira: iya noh yang ono no Mirsya paru-parunya pan bocor noh. Mika: Aku aja yang engga ngerokok udah kena.
A: Kena apaan? Mika: Paru-paru. A: maksudnya?
Mika: Iya, kena paru-paru basah. L: Paru-paru basah? Kok bisa? Mika: cuma flek sih.
L: Ya Allah kasian. A: itu udah berobat?
Mika: Udah. Aturan kan 9 bulan, ini 4 bulan langsung kurus. L: itu gejalanya apa tu?
Mika: emmm suka batuk, meriang, terus batuk langsung keluar darah. L: Hah? Darah? Serem banget.
Mika: Darahnya engga kaya TBC, kan kalo TBC kecil tu yak. Nah kalo aku banyak, kaya muntah.
L: Ya Allah, ih gak sakit?
Mika: Sakit banget dadanya, langsung dilariin
L: (bercerita) Kalo aku dulu paru-paru kotor. Itu beda kan yak? Paru-paru basah serem yak, kamu suka tidur dilantai?
Mika: iya, udah tidur di lantai, kipas nyala.
L: hemm pantesan.
Mika: emm tapi kata mamah sih emang keturunan. Kakek sama mamah emang sakit paru-paru