BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Pengaruh Dukungan Sosial dengan Rasa Takut
Seseorang akan jauh dari takut akan kesuksesan kalau ia percaya diri dan kepercayaan diri timbul jika ia dipercaya dan mendapat dukungan dari orang lain di sekitarnya, khususnya oleh orang - orang yang terdekat (orangtua, kerabat, teman, guru, atasan).
Sarwono (2004) mengemukakan bahwa wanita karir yang mendapat dukungan sosial misalnya termasuk ayah dan suaminya, akan lebih maju ketimbang wanita yang tidak mendapat dukungan seperti itu. Fakta sehari - hari di masyarakat pun tidak jauh berbeda dari itu. Wanita - wanita karir yang sukses (dari artis, sampai dosen atau diplomat), mempunyai suami dan keluarga yang tidak saja mendukung tetapi juga mendorong karirnya. Pendapat di atas sejalan dengan hasil penelitian Hartanti (2002) menyatakan bahwa seseorang (dalam hal ini wanita karir) harus lebih banyak membutuhkan dukungan suami terutama kebutuhan psikis, karena dukungan suami menjadi sangat berharga dan akan menambah motivasi diri.
Pentingnya dukungan sosial bagi karyawati yang berkeluarga adalah karena seorang wanita yang mengalami rasa takut akan kesuksesan akan sulit untuk menjalani pekerjaannya. Walaupun sudah mengerjakan tugasnya dengan baik, dia tidak merasa telah meraih kesuksesan atau bahkan akan merasa takut untuk lebih sukses dari rekan kerja pria yang ada.
E. Pengaruh antara Kecerdasan Emosional dengan Rasa Takut akan Kesuksesan
Kecerdasan emosional tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia.
Setiap hari seseorang selalu berinteraksi dengan orang lain, suasana hati juga selalu mempengaruhi perilaku orang lain. Seorang wanita bekerja dan menjalani peran ganda dalam kehidupannya dituntut untuk dapat memahami kecerdasan emosional agar dapat mengelola emosinya dengan baik dan pada akhirnya dapat meningkatkan aktualisasi dirinya. Terlebih pada wanita yang bekerja pada bidang yang dituntut untuk selalu berhubungan dengan orang lain secara langsung, karena orang lain tersebut dapat merasakan emosi yang ada pada diri seseorang individu melalui sikap yang ditunjukkan.
Hal ini sejalan dengan pendapat Goleman (1995) yang menyatakan bahwa faktor kecerdasan emosional adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi ibu yang bekerja dituntut untuk dapat mengenali, mengontrol dan mengelola emosinya agar dapat mengaktualisasi dirinya dan tidak menimbulkan konflik untuk menjalani kedua tuntutan peran yang berbeda dalam waktu yang bersamaan yaitu sebagai ibu rumah tangga dan sebagai wanita karir atau bekerja.
Goleman sendiri mengartikan kecerdasan emosi itu sebagai kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih – lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa.
Dari uraian diatas jadi jelas bahwa orang yang emosinya cerdas dapat mengelola, memotivasi dan mengontrol emosi yang timbul, sehingga tidak merasa takut menghadapi kesuksesan. Sebaliknya orang yang emosinya tidak cerdas tentunya tidak mampu untuk memotivasi, mengelola dan mengontrol emosinya sehingga takut menghadapi persoalan apapun dan juga tidak mampu memprioritaskan peran yang disandangnya baik sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai wanita bekerja.
F. Pengaruh antara Dukungan Sosial dan Kecerdasan Emosional dengan Rasa Takut akan Kesuksesan
Menurut hasil penelitian Daniel Goleman (1996 dalam Segal, 2000) menunjukkan bahwa keberhasilan yang dicapai oleh orang-orang sukses lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional yang mereka miliki, yakni sekitar 80%, daripada kecerdasan intelektual yakni hanya berperan 20%.
Dalam menghadapi peristiwa - peristiwa yang menekan, individu membutuhkan dukungan sosial. Individu yang memperoleh dukungan sosial yang tinggi tidak hanya mengalami stres yang rendah, tetapi juga dapat mengatasi stres secara lebih berhasil dibanding dengan mereka yang kurang memperoleh dukungan sosial (Taylor,1999).
G. Hipotesis
Berdasarkan uraian diatas, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
1. Ada pengaruh antara dukungan sosial terhadap takut akan kesuksesan pada karyawati yang bekerja.
2. Ada pengaruh antara kecerdasan emosional (EQ) terhadap takut akan kesuksesan pada karyawati yang bekerja.
3. Ada pengaruh antara dukungan sosial dan kecerdasan emosional (EQ) secara bersama - sama terhadap takut akan kesuksesan pada karyawati yang bekerja.
Bab ini menguraikan hal-hal yang berhubungan dengan metode penilitian. Metode penelitian sangat menentukan suatu penelitian karena menyangkut cara yang benar dalam pengumpulan data, analisa data dan pengambilan keputusan hasil penelitian. Pembahasan dalam metode penelitian meliputi identifikasi variabel penelitian, definisi operasional, subyek penelitian, prosedur penelitian, dan metode analisis (Hadi, 2000). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif yang bersifat korelasional. Tujuan metode penelitian korelasional adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi (Suryabrata, 2003).
A. Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah objek dalam penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian dari suatu penelitian (Arikunto, 2002). Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel, yaitu:
1. Variabel tergantung (dependent variabel) : Rasa Takut akan Kesuksesan 2. Variabel bebas (independent variabel) : a. Dukungan Sosial
b. Kecerdasan Emosional (EQ)
B. Definisi Operasional Variabel Penelitian
Definisi operasional variabel – variabel dalam penelitian ini adalah : 1. Rasa takut akan kesuksesan
Rasa takut akan kesuksesan merupakan suatu situasi/ keadaan yang akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi negatif, seperti penolakan sosial dan hilangnya sifat-sifat feminin (Horner, 1978). Takut akan kesuksesan diukur dengan menggunakan skala yang terbagi dalam beberapa aspek yang dikembangkan oleh Horner, yaitu ketakutan akan kehilangan feminimitas, ketakutan akan kehilangan penghargaan sosial, ketakutan akan penolakan sosial.
Tabel 3.1.
Defenisi Operasional Aspek Rasa Takut Akan Kesuksesan Dimensi Defenisi Operasional
1. Loss of Social Self Esteem
Kecemasan akan kesuksesan merupakan keadaan suasana perasaan (mood) yang ditandai oleh gejala-gejala jasmaniah seperti ketegangan fisik dan kekhawatiran tentang masa depan. Adapun indikator kecemasan yaitu: reaksi fisik, pemikiran, perilaku, suasana hati.
2. Loss of Feminity Hilangnya sifat kewanitaan dalam bentuk kurang dapatnya seorang wanita tampil sebagai seorang wanita yang menunjukkan sifat-sifat feminin, kekurangan mampuan untuk menjadi istri dan ibu yang baik dan kurang dapat menjalankan peran sebagai wanita dalam rumah tangga.
3. Social Rejection Kurang atau tidak diikutsertanya wanita yang sukses dalam kegiatan kelompok, kurang disengani oleh teman - temannya baik pria maupun wanita, yang secara keseluruhan berarti wanita tersebut ditolak oleh lingkungannya.
Skor takut akan kesuksesan diperoleh dari total skor skala takut akan kesuksesan. Semakin tinggi skor total yang diperoleh, maka semakin tinggi juga tingkat takut akan kesuksesan subjek. Sebaliknya, semakin rendah skor total yang diperoleh, maka semakin rendah juga takut akan kesuksesan subjek.
2. Dukungan Sosial
Dukungan sosial adalah yaitu mengacu pada kenyamanan, perhatian, penghargaan atau bantuan yang diberikan orang lain atau kelompok kepada individu terutama keluarga (Sarafino,1998). Aspek – aspek dukungan sosial menurut Sarafino terbagi ke dalam lima aspek, yaitu : dukungan instrumental, dukungan informasional, dukungan emosional, dukungan pada harga diri, dukungan dari kelompok sosial.
Tabel 3.2.
Defenisi Operasional Aspek Dukungan Sosial
Dimensi Defenisi Operasional
1. Dukungan Instrumental (Tangible or Instrumental Support)
Pemberian sesuatu berupa bantuan nyata (tangible aid) atau memberikan saran secara langsung atau umpan balik tentang kondisi individu dan apa yang harus ia lakukan.
3. Dukungan Emosional (Emotional Support)
Keadaan peduli terhadap orang yang bersangkutan misalnya, penegasan, rasa empati, ada yang selalu mendampingi, adanya suasana kehangatan dan rasa diperhatikan akan membuat individu memiliki perasaan nyaman.
4. Dukungan pada Harga Diri (Esteem Support)
Terjadi lewat ungkapan hormat (penghargaan) positif untuk orang itu, dorongan maju atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan positif orang itu dengan orang lain.
5. Dukungan dari Kelompok Sosial (Network Support)
Dukungan ini akan membuat individu merasa menjadi anggota dari suatu kelompok yang memiliki kesamaan minat dan aktivitas sosial dengan kelompok.
Dengan begitu individu akan memilki perasaan senasib dengan melakukan kegiatan berupa menghabiskan waktu bersama dengan orang lain dalam aktivitas rekreasional di waktu senggang.
3. Kecerdasan Emosional (EQ)
Goleman (1995) menyatakan kecerdasan emosional merupakan kemampuan emosi yang meliputi kemampuan untuk mengendalikan diri, memiliki daya tahan ketika menghadapi suatu masalah, mampu mengendalikan impuls, memotivasi diri, mampu mengatur suasana hati, kemampuan berempati dan membina hubungan dengan orang lain. Goleman
membagi kecerdasan emosi atas lima aspek, yaitu : kesadaran diri (self awareness), pengendalian diri (self management), motivasi (motivation), empati (social awareness), hubungan yang baik antar sesama (relationship management).
Tabel 3.3.
Defenisi Operasional Aspek Kecerdasan Emosional
Dimensi Defenisi Operasional
1. Kesadaran diri (self awareness)
Kemampuan mengetahui perasaan dalam dirinya dan efeknya serta menggunakannya untuk membuat keputusan bagi diri sendiri, memiliki tolak ukur yang realistis atau kemampuan diri dan mempunyai kepercayaan diri yang kuat lalu mengkaitkannya dengan sumber penyebabnya.
2. Pengendalian diri (self management)
Kemampuan menangani emosinya sendiri, mengekspresikan serta mengendalikan emosi, memiliki kepekaan terhadap kata hati untuk digunakan dalam hubungan dan tindakan sehari - hari.
3. Motivasi (motivation)
Kemampuan yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun diri menuju sasaran, membantu pengambilan inisiatif serta bertindak sangat efektif, dan mampu untuk bertahan dan bangkit dari kegagalan dan frustasi.
4. Empati (social awareness)
Kemampuan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, mampu memahami perspektif orang lain, dan menimbulkan hubungan saling percaya serta mampu menyelaraskan diri dengan berbagai tipe individu.
5. Hubungan yang baik antar sesama (relationship management)
Kemampuan menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan menciptakan serta mempertahankan hubungan dengan orang lain, bisa mempengaruhi,memimpin,bermusyawarah, menyelesaikan perselisihan dan bekerja sama dalam tim.
C. Populasi dan Metode Pengambilan Data 1. Populasi
Dalam penelitian ini, peneliti hanya menggunakan sejumlah orang dari populasi untuk dijadikan subjek penelitian yang disebut sebagai sampel. Populasi adalah keseluruhan individu yang akan diselidiki dan mempunyai minimal satu sifat yang sama atau ciri–ciri yang sama. Sampel merupakan sebagian dari populasi atau sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari jumlah populasi dan harus mempunyai sifat yang sama (Hadi, 2000). Karakteristik populasi penelitian diperlukan untuk menjamin homogenitas dari sampel penelitian.
Adapun karakteristik subjek penelitian adalah sebagai berikut :
a. Karyawati yang bekerja di beberapa perkantoran dari berbagai industri selama minimal 1 tahun.
b. Karyawati perempuan yang sudah menikah atau berkeluarga.
Adapun alasan dipilih karyawan tersebut karena diasumsikan bahwa karyawan yang telah bekerja minimal satu tahun telah mengetahui tujuan dan nilai organisasi, sudah memiliki pengalaman kerja serta tanggungjawab terhadap pekerjaan (Seniati, 2002). Selain itu, karyawan yang sudah bekerja minimal satu
tahun telah mengetahui dan merasakan pergantian sistem manajemen seperti mutasi dan rotasi kepegawaian.
2. Teknik Pengambilan Sampel
Penelitian sampel dilakukan untuk menggeneralisasikan sampel dan menarik kesimpulan penelitian sampel sebagai sesuatu yang berlaku bagi populasi (Azwar,2000). Menurut Hadi (2000), sampel adalah sebagian dari populasi yang digunakan untuk menentukan sifat-sifat serta ciri-ciri yang dikendalikan dari populasi. Dalam penelitian ini, teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Dalam purposive sampling pemilihan sekelompok subjek didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Hadi, 2000).
D. Metode Pengambilan Data
Metode pengambilan data adalah cara yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data (Arikunto, 2002). Metode pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode skala. Skala merupakan mekanisme pengumpulan data melalui tulisan-tulisan tentang pertanyaan atau pernyataan untuk mengukur variabel tertentu. Menurut Azwar (2000), karakteristik dari skala psikologi yaitu stimulus berupa pernyataan ataupun pertanyaan yang dapat mengungkapkan indikator perilaku responden, indikator perilaku diungkapkan melalui aitem-aitem, respon jawaban subjek dapat diterima selama diberikan
secara jujur dan sungguh-sungguh. Hadi (2000) mengungkapkan skala psikologis dapat mengungkapkan laporan diri (self report). Azwar (2011), juga mengemukakan bahwa metode skala dapat menggambarkan aspek kepribadian individu, dapat merefleksikan diri yang biasanya tidak disadari responden yang bersangkutan, responden tidak menyadari arah jawaban ataupun kesimpulan yang diungkapkan pernyataan atau pertanyaan.
Penelitian ini menggunakan penskalaan model skala likert. Pada model penskalaan ini terdapat dua jenis pernyataan, yaitu favorable dan unfavorable.
Pernyataan favorable merupakan pernyataan positif yang mendukung objek sikap yang diungkap, sedangkan pernyataan unfavorable merupakan pernyataan negatif yang tidak mendukung objek sikap yang hendak diungkap (Azwar, 2000). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tiga skala psikologi, yaitu skala takut akan kesuksesan karyawati yang berkeluarga, skala dukungan organisasi dan skala kecerdasan emosional.
1. Skala Rasa Takut akan Kesuksesan Karyawati yang Berkeluarga
Metode skala yang digunakan adalah metode likert (Azwar, 2012). Setiap aitem meliputi lima pilihan jawaban yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Netral (N), Tidak Sesuai (TS) dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Nilai skala setiap pernyataan diperoleh dari jawaban subjek yang menyatakan mendukung (Favorable) atau tidak mendukung (Unfavorable).
Tabel 3.4.
Skor Alternatif Jawaban Skala Rasa Takut akan Kesuksesan
Favorable Unfavorable
Alternatif jawaban Skor Alternatif jawaban Skor
Sangat sesuai 5 Sangat sesuai 1
Sesuai 4 Sesuai 2
Netral 3 Netral 3
Tidak sesuai 2 Tidak sesuai 4
Sangat tidak sesuai 1 Sangat tidak sesuai 5
Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala takut akan kesuksesan karyawati yang berkeluarga yang dibuat berdasarkan konsep Horner (1978) yaitu loss of social self esteem, loss of feminity dan social rejection.
Tabel 3.5.
Blue print Skala Rasa Takut akan Kesuksesan Karyawati yang Berkeluarga
Dimensi Indikator Perilaku Aitem Jlh
Favorable Unfavorable
2. Skala Dukungan Sosial
Aitem-aitem skala dukungan sosial dalam penelitian ini disusun berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Sarafino (1998) terbagi ke dalam lima aspek, yaitu : dukungan instrumental (tangible or instrumental support), dukungan informasional (informational support), dukungan emosional (emotional support), dukungan pada harga diri (esteem support), dukungan dari kelompok sosial (network support.)
Skala dari dukungan sosial ini menggunakan lima pilihan jawaban, yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Netral (N), Tidak Sesuai (TS) dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Nilai skala setiap pernyataan diperoleh dari jawaban subjek yang menyatakan mendukung (Favorable) atau tidak mendukung (Unfavorable).
Tabel 3.6.
Skor Alternatif Jawaban Dukungan Sosial
Favorable Unfavorable
Alternatif jawaban Skor Alternatif jawaban Skor
Sangat sesuai 5 Sangat sesuai 1
Sesuai 4 Sesuai 2
Netral 3 Netral 3
Tidak sesuai 2 Tidak sesuai 4
Sangat tidak sesuai 1 Sangat tidak sesuai 5
Tabel 3.7.
Blue print Aspek Dukungan Sosial
Dimensi Indikator Perilaku Aitem
Jlh Favorable Unfavorable Dukungan
Sosial
Dukungan Instrumental 5 5 10
Dukungan Informasional 3 3 6
Dukungan Emosional 3 3 6
Dukungan pada Harga
Diri 4 2 6
Dukungan dari
Kelompok Sosial 1 1 2
Total 30
3. Skala Kecerdasan Emosional
Aitem-aitem skala kecerdasan emosional dalam penelitian ini disusun berdasarkan aspek-aspek dari dimensi kecerdasan emosional menurut Goleman (2001) membagi kecerdasan emosi atas lima aspek, yaitu : kesadaran diri (self awareness), pengendalian diri (self management), motivasi (motivation), empati (social awareness), hubungan yang baik antar sesama (relationship management).
Skala kecerdasan emosional ini menggunakan lima pilihan jawaban, yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Netral (N), Tidak Sesuai (TS) dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Nilai skala setiap pernyataan diperoleh dari jawaban subjek yang menyatakan mendukung (Favorable) atau tidak mendukung (Unfavorable).
Tabel 3.8.
Skor Alternatif Jawaban Skala Kecerdasan Emosional
Favorable Unfavorable
Alternatif jawaban Skor Alternatif jawaban Skor
Sangat sesuai 5 Sangat sesuai 1
Sesuai 4 Sesuai 2
Netral 3 Netral 3
Tidak sesuai 2 Tidak sesuai 4
Sangat tidak sesuai 1 Sangat tidak sesuai 5
Tabel 3.9.
Blue print Skala Kecerdasan Emosional
Dimensi Indikator Perilaku Aitem
Jlh
E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur
Menurut Azwar (2000) tujuan dilakukan uji coba alat ukur adalah untuk melihat seberapa jauh alat ukur dapat mengukur dengan tepat apa yang hendak diukur dan seberapa jauh alat ukur menunjukkan kecermatan pengukuran.
1. Validitas Alat Ukur
Menurut Shaughnessy, Zeichmeister dan Zeichmeister (2012) validitas merupakan kebenaran suatu pengukuran, apakah aitem mengukur apa yang hendak diukur. Sedangkan Azwar (2000) mendefinisikan uji validitas alat ukur sebagai sejauh mana tes itu mengukur apa yang dimaksudnya untuk diukur, artinya mengukur derajat fungsi suatu tes atau derajat kecermatan suatu tes.
Validitas yang digunakan adalah content validity dan construct validity. Content validity merupakan validitas yang menggunakan langkah telaah dan revisi aitem pertanyaan berdasarkan dari pendapat professional (menggunakan professional judgement) dan lima orang karyawan yang bekerja di perbankan syariah.
Construct validity merupakan validitas yang menggunakan dasar pikiran penerapan teori (Suryabrata, 2011). Analisa construct validity menggunakan analisis faktor.
Tahap pertama dalam uji analisis faktor dimulai dengan melihat nilai Kaiser Meyers-Olkin (KMO) yaitu mengukur apakah sampel sudah cukup memadai. Menurut Field (2009), statistik KMO memiliki variasi nilai antara 0 hingga 1. Nilai 0 mengindikasikan jumlah korelasi parsial yang relatif besar untuk jumlah korelasi dan pola korelasi yang menyebar. Sementara itu, nilai yang mendekati 1 mengindikasikan adanya pola korelasi yang relatif kompak sehingga analisis faktor menghasilkan faktor yang reliabel. Nilai KMO > 0.5 merupakan nilai acuan bahwa sampel sudah cukup memadai. Kriteria untuk nilai KMO yaitu sebagai berikut (Field, 2009):
1. Nilai KMO antara 0.5 - 0.7 berarti cukup baik.
2. Nilai KMO antara 0.7 - 0.8 berarti baik.
3. Nilai KMO antara 0.8 - 0.9 berarti memuaskan.
4. Nilai KMO diatas 0.9 berarti sangat memuaskan.
Tahap kedua yakni melihat nilai Measure of Sampling Adequency (MSA) dengan cara membandingkan nilai koefisien korelasi yang diamati dengan nilai koefisien korelasi parsialnya. Menurut Santoso (2002), nilai MSA berkisar antara 0 hingga 1 dengan kriteria yang digunakan untuk interpretasi sebagai berikut:
1. Nilai MSA = 1 berarti variabel tersebut dapat diprediksi tanpa kesalahan oleh variabel yang lainnya.
2. Nilai MSA > 0.5 berarti variabel tersebut masih dapat diprediksi dan dianalisis lebih lanjut.
3. Nilai MSA < 0.5 atau mendekati 0 berarti variabel tersebut tidak dapat dianalisis lebih lanjut atau dikeluarkan dari variabel lainnya.
Tahap selanjutnya adalah melihat nilai bobot faktor (loading factor) yang menunjukkan besarnya korelasi antara variabel awal dengan faktor yang terbentuk. Korelasi dengan validitas yang baik memiliki nilai loading factor lebih besar dari 0.5 (Santoso, 2002).
2. Uji Daya Beda Aitem
Uji daya beda aitem dilakukan untuk melihat sejauh mana aitem mampu membedakan antara individu atau kelompok yang memiliki atau yang tidak
memiliki atribut yang diukur. Dasar kerja yang digunakan dalam analisis aitem ini adalah dengan memilih aitem yang mengukur hal yang sama dengan yang diukur oleh tes sebagai keseluruhan (Azwar, 2000). Pengujian daya beda aitem ini dilakukan dengan komputasi koefisien korelasi antara distribusi skor pada setiap aitem dengan suatu kriteria yang relevan, yaitu skor total tes itu sendiri dengan menggunakan koefisien korelasi Pearson Product Moment. Prosedur pengujian ini akan menghasilkan koefisien korelasi aitem total yang dikenal dengan indeks daya beda aitem (Azwar, 2000). Kriteria pemilihan aitem berdasarkan korelasi aitem total menggunakan batasan rix ≥ 0.30. Semua aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0.30, daya pembedanya dianggap memuaskan (Azwar, 2011). Penghitungan daya beda aitem dalam penelitian ini menggunakan indeks daya beda aitem sama dengan atau lebih besar daripada 0.30 dengan menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment dan dilakukan dengan menggunakan program SPSS version 16 For Windows
3. Reliabilitas Alat Ukur
Konsep reliabilitas mengacu pada apakah suatu instrumen dapat diinterpretasi secara konsisten dalam suatu pengukuran dan dalam situasi yang berbeda-beda (Shaughnessy, Zeichmeister, & Zeichmeister, 2012). Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya, maksudnya apabila dalam beberapa pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok yang sama diperoleh hasil yang relatif sama (Azwar, 2000).
Uji reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan konsistensi internal (Cronbach’s alpha coeffecient), yaitu suatu bentuk tes yang hanya memerlukan satu kali pengenaan tes tunggal pada sekelompok individu sebagai subjek dengan tujuan untuk melihat konsistensi antar aitem atau antar bagian dalam skala. Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas (rxx’) yang angkanya berada dalam rentang 0 sampai 1,00. Koefisien reliabilitas yang mendekati 1,0 maka semakin tinggi reliabilitasnya, sebaliknya koefisien reliabilitas yang mendekati 0, maka semakin rendah tingkat reliabilitasnya.
Penghitungan koefisien reliabilitas dalam uji coba dilakukan dengan menggunakan program SPSS version 16 for windows.
F. HASIL UJI COBA ALAT UKUR 1. Skala Rasa Takut akan Kesuksesan
Uji daya beda aitem untuk skala rasa takut akan kesuksesan menunjukkan bahwa dari 20 aitem dengan nilai koefisiensi korelasi diatas 0.30. Dengan demikian, tidak terdapat aitem yang gugur. Koefisien korelasi berkisar antara 0.562 hingga 0.710. Selanjutnya dilakukan analisis faktor terhadap setiap aspek rasa takut akan kesuksesan.
Aspek pertama yaitu loss of social self esteem, dengan 10 buah aitem.
Analisis menunjukkan bahwa yang tidak ada aitem yang gugur. Nilai KMO yang diperoleh sebesar 0.812, nilai MSA berkisar antara 0.719 hingga 0.913, serta nilai factor loading sebesar 0.619 hingga 0.742 untuk aitem nomor 1 sampai 10.
Aspek kedua adalah loss of feminity , dengan 5 buah aitem. Hasil analisis menunjukkan terdapat 2 aitem yang gugur, yakni nomor 12 dan 14. Dari analisis diperoleh nilai KMO sebesar 0.632, nilai MSA berkisar 0.622 hingga 0.838, dan nilai factor loading sebesar 0.928 hingga 0.975 untuk item 11, 13, 15.
Aspek ketiga adalah social rejection, dengan 5 buah aitem. Hasil analisis menunjukkan terdapat 2 buah aitem yang gugur yaitu nomor 17 dan 19. Nilai KMO yang diperoleh sebesar 0.646, nilai MSA berkisar antara 0.504 hingga 0.841, dan nilai factor loading sebesar 0.913 hingga 0.965 untuk aitem 16, 18 dan 20.
Dari hasil analisis faktor diperoleh 16 item yang dinilai layak untuk mengukur rasa takut akan kesuksesan dengan koefisien reliabilitas 0.925.
Distribusi aitemnya adalah sebagai berikut:
Tabel 3.10.
Distribusi Aitem Skala Rasa Takut akan Kesuksesan Setelah Uji Coba
Aspek Item
Favorable Unfavorable Jlh Loss of Social Self Esteem 1,2,3,4,5 6,7,8,9,10 10
Loss of Feminity 11,13 15 3
Social Rejection 16,18 20 3
Jumlah Aitem 9 7 16
2. Skala Dukungan Sosial
Uji daya beda aitem untuk skala dukungan sosial menunjukkan bahwa dari 30 aitem terdapat 29 aitem dengan nilai koefisiensi korelasi diatas 0.30. Dengan demikian, terdapat 1 aitem yang gugur yakni nomor 17. Koefisien korelasi
berkisar antara 0.362 hingga 0.737. Selanjutnya dilakukan analisis faktor terhadap
berkisar antara 0.362 hingga 0.737. Selanjutnya dilakukan analisis faktor terhadap