• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

6. Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Rasa Takut

Hasil Uji Korelasi Kecerdasan Emosional terhadap Rasa Takut akan Kesuksesan

Correlations

rasatakut cerdasemosi

rasatakut Pearson Correlation 1 -,206*

Sig. (2-tailed) ,038

N 102 102

cerdasemosi Pearson Correlation -,206* 1

Sig. (2-tailed) ,038

N 102 102

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Berdasarkan tabel di atas diperoleh hubungan negatif dan signifikan antara kecerdasan emosional dan rasa takut akan kesuksesan (r = -0.206, p = 0.038 <

0.05). Hal ini berarti semakin kuat kecerdasan emosional maka semakin rendah pula rasa takut akan kesuksesan pada karyawati yang berkeluarga.

Tabel 4.30.

Hasil Uji Model Regresi Kecerdasan Emosional terhadap Rasa Takut akan Kesuksesan

Berdasarkan tabel di atas diperoleh signifikansi p = 0.038. Karena angka probabilitas 0.038 < 0.05, maka model regresi ini sudah layak digunakan dalam memprediksi rasa takut akan kesuksesan melalui kecerdasan emosional. Adapun besar pengaruh kecerdasan emosional terhadap rasa takut akan kesuksesan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.31.

Tabel Hasil Uji Regresi Kecerdasan Emosional terhadap Rasa Takut akan Kesuksesan

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 ,206a ,043 ,033 6,501

a. Predictors: (Constant), cerdasemosi

Pada tabel di atas diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.043 yang berarti bahwa rasa takut akan kesuksesan dipengaruhi oleh kecerdasan emosi hanya sebesar 4.3 % dan sisanya sebesar 95.7 % dipengaruhi oleh faktor lain. Selanjutnya pada tabel di bawah ini diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:

Tabel 4.32.

Uji Regresi Kecerdasan Emosional terhadap Rasa Takut akan Kesuksesan Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 84,022 9,456 8,885 ,000

cerdasemosi -,195 ,092 -,206 -2,108 ,038

a. Dependent Variable: rasatakut

Dari tabel di atas diperoleh persamaan regresi adalah Y = 84.022 - 0.195CE. Nilai konstanta sebesar 84.022 pada persamaan menunjukkan bahwa apabila variabel kecerdasan emosional bernilai 0 maka variabel rasa takut akan kesuksesan akan bernilai 84.022. Nilai koefisien regresi variable dukungan sosial sebesar 0.195 dan bernilai negatif, yang berarti bahwa setiap kecerdasan emosional meningkat satu kali maka rasa takut akan kesuksesan pada karyawati berkeluarga akan menurun 83.827 kali.

7. Pengaruh Dukungan Sosial dan Kecerdasan Emosional terhadap Rasa Takut akan Kesuksesan

Tabel 4.33.

Hasil Uji Pengaruh Simultan (Uji F) Dukungan Instrumental, Informasional, Emosional, Harga Diri, Kelompok Sosial dan Kecerdasan Emosional terhadap Rasa Takut akan Kesuksesan

ANOVAa

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 691,465 6 115,244 2,941 ,011b

Residual 3722,613 95 39,185

Total 4414,078 101

a. Dependent Variable: rasatakut

b. Predictors: (Constant), cerdasemosi, duksosemosi, duksosins, duksosks, duksosinf, duksoshd

Dari tabel di atas didapatkan bahwa nilai F hitung = 2.941 dan nilai probabilitas p = 0.011. Jika dibandingkan dengan F tabel = 3.09 (untuk N = 102, dan df = 101), F hitung (2.924) < Ftabel (3.09), dan p = 0.011 < α = 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan kata lain, terdapat pengaruh (p <0.05) dari aspek dukungan instrumental, informasional, emosional, harga diri, kelompok sosial dan kecerdasan emosional secara bersamaan terhadap rasa takut akan kesuksesan pada karyawati yang berkeluarga.

Tabel 4.34.

Hasil Uji Regresi Dukungan Instrumental, Informasional, Emosional, Harga Diri, Kelompok Sosial dan Kecerdasan Emosional terhadap Rasa Takut akan Kesuksesan

Model Summary

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 ,396a ,157 ,103 6,260

a. Predictors: (Constant), cerdasemosi, duksosemosi, duksosins, duksosks, duksosinf, duksoshd

Dari tabel di atas diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0.396 yang berarti adanya hubungan antara dukungan instrumental, informasional, emosional, harga diri, kelompok sosial dan kecerdasan emosional dengan rasa takut akan kesuksesan. Selanjutnya, dapat dilihat bahwa koefisien determinasi (R2) sebesar 0.157 yang berarti bahwa rasa takut akan kesuksesan dipengaruhi oleh bentuk dukungan instrumental dan kecerdasan emosional sebesar 15.7 % dan sisanya sebesar 84.3 % dipengaruhi oleh faktor lain. selanjutnya, terdapat nilai adjusted R square sebesar 0.103 yang menunjukkan bahwa jika model regresi ini diterapkan pada populasi, maka kontribusi dukungan instrumental dan kecerdasan emosional hanya 10.3 %. Adapun, persamaan regresinya adalah sebagai berikut:

Tabel 4.35.

Uji Regresi Dukungan Instrumental, Informasional, Emosional, Harga Diri, Kelompok Sosial dan Kecerdasan Emosional terhadap Rasa Takut akan Kesuksesan 0.170CE. Nilai konstanta sebesar 99.875 pada persamaan menunjukkan bahwa apabila variabel dukungan sosial tipe instrumental, informasional, emosional, harga diri, kelompok sosial dan kecerdasan emosional bernilai 0 maka variabel rasa takut akan kesuksesan akan menurun sebesar 99.875.

Nilai koefisien regresi variabel kecerdasan emosional dan dukungan sosial tipe instrumental, harga diri dan kelompok sosial bernilai negatif sebesar 0.170, 0.378, 0.504 dan 0.312, yang berarti bawa setiap kecerdasan emosional meningkat satu kali maka rasa takut akan kesuksesan pada karyawati berkeluarga akan menurun 99.705, setiap dukungan sosial tipe instrumental meningkat satu kali maka rasa takut akan kesuksesan pada karyawati yang berkeluarga akan menurun

99.497 kali, setiap dukungan sosial tipe harga diri meningkat satu kali maka rasa takut akan kesuksesan pada karyawati yang berkeluarga akan menurun 99.371 kali, setiap dukungan sosial tipe kelompok sosial meningkat satu kali maka rasa takut akan kesuksesan pada karyawati yang berkeluarga akan menurun 99.563 kali.

8. Gambaran Aspek Rasa Takut akan Kesuksesan

Gambaran rasa takut akan kesuksesan berdasarkan nilai empirik dari subjek penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.36.

Gambaran Skor Aspek Rasa Takut akan Kesuksesan Berdasarkan Nilai Empirik

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Statistic Statistic Statistic Statistic Std. Error Statistic

Rasatakut 102 34 80 64,14 ,655 6,611

Valid N (listwise) 102

Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai mean empirik sebesar 64.14 dengan nilai minimum 34 dan nilai maksimum 80. Selanjutnya untuk nilai berdasarkan hipotetik dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.37.

Gambaran Skor Aspek Rasa Takut akan Kesuksesan berdasarkan Nilai Hipotetik

Variabel N Minimum Maximum Mean Std. Devation

Rasa takut 102 16 80 48 10.667

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa nilai mean hipotetik sebesar 48 dengan nilai minimum 16 dan nilai maksimum 80. Nilai ini kemudian akan digunakan untuk melakukan kategorisasi tingkat rasa takut akan kesuksesan berdasarkan model distribusi normal. Perbandingan nilai mean empirik dan mean hipotetik dari skala rasa takut akan kesuksesan adalah 64.14 berbanding 48.

Dengan demikian, mean empirik lebih tinggi dibandingkan dengan mean hipotetik. Hal ini berarti rata-rata subyek penelitian memiliki rasa takut akan kesuksesan yang tinggi. Selanjutnya akan dilakukan pengelompokan skor rasa takut akan kesuksesan sesuai dengan model distribusi normal untuk 2 jenjang (Azwar, 2010) dengan kategori sebagai berikut:

Tabel 4.38.

Norma Kategorisasi Aspek Rasa Takut akan Kesuksesan

Rentang Nilai Kategori

X < [μ- 1,0 σ] Rendah

[μ+1,0 σ] < X Tinggi

Berdasarkan tabel di atas dapat diperoleh kategorisasi subyek penelitian adalah sebagai berikut:

Tabel 4.39.

Kategorisasi Skor Aspek Rasa Takut akan Kesuksesan

Aspek Rentang Nilai Kategori Frekuensi Persentase Rasa Takut

akan Kesuksesan

X < 37 Rendah 1 1

X> 60 Tinggi 80 78

Total 81 79

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa sebagian besar subyek penelitian memiliki rasa takut akan kesuksesan yang tinggi sebanyak 80 orang (78 %), subyek penelitian yang memiliki rasa takut akan kesuksesan rendah sebanyak 1 orang (1 %).

9. Gambaran Aspek Dukungan Sosial

Gambaran aspek dukungan sosial berdasarkan nilai empirik dari subjek penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.40.

Gambaran Skor Aspek Dukungan Instrumental Berdasarkan Nilai Empirik Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Statistic Statistic Statistic Statistic Std. Error Statistic

dukinstrumen 102 19 50 39,53 ,426 4,307

Valid N (listwise) 102

Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai mean empirik sebesar 39,53 dengan nilai minimum 19 dan nilai maksimum 50. Selanjutnya untuk nilai hipotetik dari bentuk dukungan instrumental dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.41.

Gambaran Skor Aspek Dukungan Instrumental Berdasarkan Nilai Hipotetik Aspek N Minimum Maximum Mean Std. Devation Dukungan

Instrumental 102 10 50 30 6.67

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa nilai mean hipotetik sebesar 30 dengan nilai minimum 10 dan nilai maksimum 50. Nilai ini kemudian akan digunakan untuk melakukan kategorisasi tingkat dukungan instrumental berdasarkan model distribusi normal. Perbandingan nilai mean empirik dan mean hipotetik dari dukungan instrumental adalah 39.53 berbanding 30. Dengan demikian, mean empirik lebih tinggi dibandingkan dengan mean hipotetik.

Tabel 4.42.

Gambaran Skor Aspek Dukungan Informasional Berdasarkan Nilai Empirik

Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai mean empirik sebesar 23.06 dengan nilai minimum 11 dan nilai maksimum 30. Selanjutnya untuk nilai hipotetik dari dukungan informasional dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Statistic Statistic Statistic Statistic Std. Error Statistic

dukinformasi 102 11 30 23,06 ,364 3,677

Valid N (listwise) 102

Tabel 4.43.

Gambaran Skor Aspek Dukungan Informasional Berdasarkan Nilai Hipotetik

Aspek N Minimum Maximum Mean Std. Devation Dukungan

Informasional 102 6 30 18 4

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa nilai mean hipotetik sebesar 18 dengan nilai minimum 6 dan nilai maksimum 30. Nilai ini kemudian akan digunakan untuk melakukan kategorisasi tingkat bentuk dukungan informasional berdasarkan model distribusi normal. Perbandingan nilai mean empirik dan mean hipotetik dari dukungan informasional adalah 23.06 berbanding 18. Dengan demikian, mean empirik lebih tinggi dibandingkan dengan mean hipotetik.

Tabel 4.44.

Gambaran Skor Aspek Dukungan Emosional Berdasarkan Nilai Empirik

Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai mean empirik sebesar 11.95 dengan nilai minimum 5 dan nilai maksimum 15. Selanjutnya untuk nilai hipotetik dari dukungan emosional dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean

Std.

Deviation Statistic Statistic Statistic Statistic Std. Error Statistic

dukemosional 102 5 15 11,95 ,240 2,423

Valid N (listwise) 102

Tabel 4.45.

Gambaran Skor Aspek Dukungan Emosional Berdasarkan Nilai Hipotetik Aspek N Minimum Maximum Mean Std. Devation Dukungan

Emosional 102 3 15 9 2

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa nilai mean hipotetik sebesar 9 dengan nilai minimum 3 dan nilai maksimum 15. Nilai ini kemudian akan digunakan untuk melakukan kategorisasi tingkat dukungan emosional berdasarkan model distribusi normal. Perbandingan nilai mean empirik dan mean hipotetik dari dukungan emosional adalah 11.95 berbanding 9. Dengan demikian, mean empirik lebih tinggi dibandingkan dengan mean hipotetik.

Tabel 4.46.

Gambaran Skor Aspek Dukungan Pada Harga Diri Berdasarkan Nilai Empirik

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Statistic Statistic Statistic Statistic Std. Error Statistic

dukhargadiri 102 4 15 11,35 ,213 2,156

Valid N (listwise) 102

Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai mean empirik sebesar 11.35 dengan nilai minimum 4 dan nilai maksimum 15. Selanjutnya untuk nilai hipotetik dari dukungan pada harga diri dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.47. digunakan untuk melakukan kategorisasi tingkat dukungan pada harga diri berdasarkan model distribusi normal. Perbandingan nilai mean empirik dan mean hipotetik dari dukungan pada harga diri adalah 11.35 berbanding 9.

Dengan demikian, mean empirik lebih tinggi dibandingkan dengan mean hipotetik.

Tabel 4.48.

Gambaran Skor Aspek Dukungan Dari Kelompok Sosial Berdasarkan Nilai Empirik

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Statistic Statistic Statistic Statistic Std. Error Statistic

Dukkelsos 102 6 20 15,24 ,295 2,982

Valid N (listwise) 102

Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai mean empirik sebesar 15.24 dengan nilai minimum 6 dan nilai maksimum 20. Selanjutnya untuk nilai hipotetik dari dukungan dari kelompok sosial dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.49.

Gambaran Skor Aspek Dukungan Pada Kelompok Sosial Berdasarkan Nilai Hipotetik

Aspek N Minimum Maximum Mean Std. Devation Dukungan

Pada Kelompok Sosial

102 4 20 12 2.67

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa nilai mean hipotetik sebesar 12 dengan nilai minimum 4 dan nilai maksimum 20. Nilai ini kemudian akan digunakan untuk melakukan kategorisasi tingkat dukungan pada kelompok sosial berdasarkan model distribusi normal. Perbandingan nilai mean empirik dan mean hipotetik dari dukungan pada kelompok sosial adalah 15.24 berbanding 12.

Dengan demikian, mean empirik lebih tinggi dibandingkan dengan mean hipotetik.

Tabel 4.50.

Norma Kategorisasi Aspek Dukungan Instrumental

Rentang Nilai Kategori

X < [μ- 1,0 σ] Rendah

[μ+1,0 σ] < X Tinggi

Berdasarkan tabel di atas dapat diperoleh kategorisasi dukungan instrumental sebagai berikut:

Tabel 4.51.

Kategorisasi Aspek Dukungan Instrumental

Aspek Rentang Nilai Kategori Frekuensi Persentase Dukungan

Instrumental

X < 30 Rendah 1 1

X> 40 Tinggi 63 62

Total 64 63

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa sebagian besar subyek penelitian mendapatkan dukungan instrumental yang tinggi sebanyak 63 orang (62%) dan rendah sebanyak 1 orang (1%).

Tabel 4.52.

Norma Kategorisasi Aspek Dukungan Informasional

Rentang Nilai Kategori

X < [μ- 1,0 σ] Rendah

[μ+1,0 σ] < X Tinggi

Berdasarkan tabel di atas dapat diperoleh kategorisasi dukungan informasional sebagai berikut:

Tabel 4.53.

Kategorisasi Aspek Dukungan Informasional

Aspek Rentang Nilai Kategori Frekuensi Persentase Dukungan

Informasional

X < 17 Rendah 9 9

X> 24 Tinggi 59 58

Total 68 67

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa sebagian besar subyek penelitian mendapatkan dukungan informasional yang tinggi sebanyak 59 orang (58%) dan rendah sebanyak 9 orang (9%).

Tabel 4.54.

Norma Kategorisasi Aspek Dukungan Emosional

Rentang Nilai Kategori

X < [μ- 1,0 σ] Rendah

[μ+1,0 σ] < X Tinggi

Berdasarkan tabel di atas dapat diperoleh kategorisasi dukungan emosional sebagai berikut:

Tabel 4.55.

Kategorisasi Aspek Dukungan Emosional

Aspek Rentang Nilai Kategori Frekuensi Persentase Dukungan penelitian mendapatkan dukungan emosional yang tinggi sebanyak 73 orang (72%) dan rendah sebanyak 11 orang (11%).

Tabel 4.56.

Norma Kategorisasi Aspek Dukungan Pada Harga Diri

Rentang Nilai Kategori

X < [μ- 1,0 σ] Rendah

[μ+1,0 σ] < X Tinggi

Berdasarkan tabel di atas dapat diperoleh kategorisasi dukungan pada harga diri sebagai berikut:

Tabel 4.57.

Kategorisasi Aspek Dukungan Pada Harga Diri

Aspek Rentang Nilai Kategori Frekuensi Persentase Dukungan Pada

Harga Diri

X < 8 Rendah 10 10

X> 11 Tinggi 72 71

Total 82 81

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa sebagian besar subyek penelitian mendapatkan dukungan pada harga diri yang tinggi sebanyak 72 orang (71%) dan rendah sebanyak 10 orang (10%).

Tabel 4.58.

Norma Kategorisasi Aspek Dukungan Dari Kelompok Sosial

Rentang Nilai Kategori

X < [μ- 1,0 σ] Rendah

[μ+1,0 σ] < X Tinggi

Berdasarkan tabel di atas dapat diperoleh kategorisasi dukungan dari kelompok sosial sebagai berikut:

Tabel 4.59.

Kategorisasi Aspek Dukungan Dari Kelompok Sosial

Aspek Rentang Nilai Kategori Frekuensi Persentase Dukungan Dari

Kelompok Sosial

X < 11 Rendah 12 12

X> 15 Tinggi 65 64

Total 77 76

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa sebagian besar subyek penelitian mendapatkan dukungan dari kelompok sosial yang tinggi sebanyak 65 orang (64%) dan rendah sebanyak 12 orang (12%).

10. Gambaran Kecerdasan Emosional

Gambaran kecerdasan emosional subjek penelitian berdasarkan nilai empirik dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.60.

Gambaran Skor Kecerdasan Emosional Berdasarkan Nilai Empirik Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

cerdasemosi 102 85 128 102,01 6,994

Valid N (listwise) 102

Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai mean empirik sebesar 102.01 dengan nilai minimum 85 dan nilai maksimum 128. Selanjutnya untuk nilai hipotetik dari aspek kesadaran diri dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.61.

Gambaran Skor Kecerdasan Emosional Berdasarkan Nilai Hipotetik Aspek N Minimum Maximum Mean Std. Devation Kecerdasan

Emosional 102 28 140 84 18.76

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa nilai mean hipotetik sebesar 84 dengan nilai minimum 28 dan nilai maksimum 140. Nilai ini kemudian akan digunakan untuk melakukan kategorisasi tingkat aspek kesadaran diri berdasarkan model distribusi normal. Perbandingan nilai mean empirik dan

mean hipotetik dari aspek kecerdasan emosional adalah 102.01 berbanding 84.

Dengan demikian, mean empirik lebih tinggi dibandingkan dengan mean hipotetik.

Tabel 4.62.

Norma Kategorisasi Aspek Kecerdasan Emosional

Rentang Nilai Kategori

X < [μ- 1,0 σ] Rendah

[μ+1,0 σ] < X Tinggi

Berdasarkan tabel di atas dapat diperoleh kategorisasi aspek kesadaran diri sebagai berikut:

Tabel 4.63.

Kategorisasi Aspek Kecerdasan Emosional

Aspek Rentang Nilai Kategori Frekuensi Persentase Kecerdasan

Emosional

X<66 Rendah - -

X>103 Tinggi 50 49

Total 50 49

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa sebanyak 50 orang (49 %) subyek penelitian memiliki aspek kecerdasan emosional yang tinggi sedangkan tidak ada (0%) subyek penelitian yang memiliki aspek kecerdasan emosional rendah.

D. Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan aspek dukungan sosial instrumental, harga diri dan kelompok sosial berpengaruh terhadap rasa takut akan kesuksesan

karyawati yang berkeluarga. Hal ini berarti semakin kuat dukungan sosial yang dirasakan oleh karyawati berkeluarga maka akan semakin menurun pula rasa takut akan kesuksesannya. Ada beberapa alasan yang dapat menjelaskan pengaruh tersebut; Pertama manfaat dukungan sosial, jika dihubungkan dengan pekerjaan akan meningkatkan produktivitas, kemudian meningkatkan kesejahteraan psikologi dan penyesuaian diri dengan memberikan rasa memiliki, memperjelas identitas diri, menambah harga diri serta mengurangi stres. Manfaat yang disampaikan oleh Johnson dan Johnson (1991) sejalan dengan hasil penelitian ini bahwa dampak yang dirasakan responden dari dukungan sosial yang diberikan keluarga akan merasakan kenyaman, beban yang dihadapi berkurang dan lebih bersemangat untuk bekerja. Kedua, dukungan sosial terutama dari keluarga dapat mengurangi beban rasa takut untuk kesuksesan. Hal ini dapat terjadi karena kekhawatiran akan aktifitas kerja yang akan menyita sebagian besar waktu sehingga dimungkinkan terjadinya kesenjangan hubungan antara pekerjaan dengan keluarga. Ketiga, dukungan sosial membantu individu dalam menyesuaikan diri, melakukan peran sosial seperti membina hubungan dengan teman, mencapai kemandirian secara emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya, mengurangi tekanan emosional, sehingga dapat merubah suasana hati ke arah yang lebih positif, untuk dapat meningkatkan kesejahteraan subjektif (Demaray dan Malecki, 2002).

Berdasarkan hasil penelitian bahwa karyawati yang berkeluarga dengan kecerdasan emosional yang tinggi lebih memiliki kemampuan dibandingkan yang memiliki kecerdasan emosional yang kurang untuk mencapai tingkat keberhasilan

yang tinggi di tempat kerja mereka. Kecerdasan emosional menjadi hal yang penting dalam kesuksesan pribadi, fungsi keluarga, dan keberhasilan dalam tempat kerja (Salovey , Mayer & Causo , 2002). Ini berarti kecerdasan emosional dapat membalancekan antara kehidupan pekerjaan dan keluarga, sehingga rasa takut akan kesuksesanpun akan berkurang dan untuk selanjutnya perencanaan karir akan lebih mudah tersusun dan karir akan cepat menanjak.

Emmerling dan Cherniss (2003) berpendapat bahwa emosi memainkan peranan penting dalam karir dan proses pengambilan keputusan dan kecerdasan emosional individu yang berkembang dapat menyebabkan keputusan yang lebih lengkap untuk mendapat hasil yang lebih memuaskan dalam berkarir, nilai-nilai pribadi serta aspirasi-aspirasinya.

Hal ini didasari karena beberapa alasan; Pertama, kecerdasan emosional berperan penting di tempat kerja, dalam keluarga, masyarakat, bahkan kehidupan spiritual; kesadaran emosi membuat keadaan jiwa karyawati tersebut diperhatikan.

Kecerdasan emosional memungkinkan karyawati yang berkeluarga tersebut menentukan pilihan - pilihan yang lain tentang pekerjaan yang dipilih dan bagaimana menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadi karyawan tersebut dan kebutuhan orang lain. Kedua, kecerdasan emosional memampukan untuk memotivasi diri dan bertahan terhadap frustrasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih - lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa (Goleman, 2004).

Menurut hasil penelitian Goleman (1995) menunjukkan bahwa keberhasilan yang dicapai oleh orang-orang sukses lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional yang mereka miliki, yakni sekitar 80%, daripada kecerdasan intelektual yakni hanya berperan 20%. Begitu juga dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang menekan, individu membutuhkan dukungan sosial.

Individu yang memperoleh dukungan sosial yang tinggi tidak hanya mengalami stres yang rendah, tetapi juga dapat mengatasi stres secara lebih berhasil dibanding dengan mereka yang kurang memperoleh dukungan sosial (Taylor,1999).

Pada pengkategorisasian dapat dilihat bahwa dukungan sosial yang ditemima karyawati berkelurarga yang terdiri dari tipe dukungan instrumental, informasional, emosional, harga diri dan kelompok sosial adalah tinggi. Hal yang sama juga terjadi pada pengkategorisasian kecerdasan emosional juga tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh kesimpulan bahwa ada hubungan negatif antara dukungan sosial tipe instrumental, harga diri, kelompok sosial dan kecerdasan emosional terhadap rasa takut akan kesuksesan pada karyawati berkeluarga. Artinya, semakin tinggi bentuk dukungan sosial dan kecerdasan emosional, maka semakin rendah pula rasa takut akan kesuksesan. Sebaliknya, semakin rendah bentuk dukungan sosial tersebut dan kecerdasan emosional, maka semakin tinggi juga rasa takut akan kesuksesan tersebut Hal ini bermakna bahwa dukungan sosial tipe instrumental, harga diri, kelompok sosial dan kecerdasan emosional memiliki pengaruh terhadap rasa takut akan kesuksesan pada karyawati berkeluarga.

Pada bab ini peneliti akan menguraikan tentang kesimpulan dan saran penelitian. Kesimpulan merupakan hasil penelitian secara umum. Sementara itu, saran terdiri dari saran praktis, metodologis dan teoritis terhadap penelitian.

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisa data dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Aspek dukungan instrumental, harga diri, kelompok sosial berpengaruh negatif terhadap rasa takut akan kesuksesan pada karyawati yang berkeluarga, artinya semakin banyak dukungan diberikan oleh lingkungan sosial dapat menurunkan rasa takut akan kesuksesan pada karyawati yang berkeluarga.

2. Kecerdasan emosional berpengaruh negatif terhadap rasa takut akan kesuksesan pada karyawati yang berkeluarga, artinya semakin tinggi kecerdasan emosional yang ada pada diri karyawati tersebut, maka semakin rendah pula rasa takut akan kesuksesan karyawati yang berkeluarga.

3. Aspek dukungan instrumental, harga diri, kelompok sosial dan kecerdasan emosional secara bersama-sama berpengaruh negatif terhadap rasa takut akan kesuksesan. Hal ini berarti semakin sering dukungan yang diberikan dan semakin tinggi kecerdasan emosional yang dimiliki, maka rasa takut akan kesuksesan yang dimiliki karyawati yang berkeluarga akan semakin rendah.

4. Bentuk dukungan informasional dan emosional tidak berpengaruh terhadap rasa takut akan kesuksesan.

5. Sumbangan efektif variabel aspek dukungan sosial tipe instrumental, informasional, emosional, harga diri, kelompok sosial dan kecerdasan emosional secara bersama - sama terhadap rasa takut akan kesuksesan sebesar 15.7 %.

6. Sumbangan efektif variabel dukungan sosial tipe instrumental, informasional, emosional, harga diri, kelompok sosial terhadap rasa takut akan kesuksesan masing- masing sebesar 3.7%, 1%, 5%, 6% ,4.5%.

7. Sumbangan efektif variabel kecerdasan emosional terhadap rasa takut akan kesuksesan sebesar 4.3%.

8. Rata-rata karyawati yang berkeluarga memiliki rasa takut akan kesuksesan yang tinggi.

9. Sebagian besar karyawati yang berkeluarga telah mendapatkan bentuk dukungan instrumental, informasional, emosional, harga diri dan kelompok sosial yang tinggi.

10. Sebagian besar karyawati yang berkeluarga memiliki tingkat kecerdasan emosional yang tinggi.

B. SARAN

Saran dalam penelitian ini terdiri dari saran metodologis dan saran praktis, yaitu :

1. Saran Metodologis

Berdasarkan hasil penelitian terdapat beberapa saran teoritis yang bisa menjadi bahan pertimbangan bagi penelitian berikutnya yaitu peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian ini dengan meneliti faktor lain

Berdasarkan hasil penelitian terdapat beberapa saran teoritis yang bisa menjadi bahan pertimbangan bagi penelitian berikutnya yaitu peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian ini dengan meneliti faktor lain

Dokumen terkait