• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Pengaruh Inokulum Mycofer ® terhadap Tanaman Pertanian

Tabel 2. Pengaruh Mycofer® terhadap Tanaman Pertanian

No Nama Spesies Perlakuan Respon

Pertumbuhan KTSP SH PKM 1 Padi Gogo (Oryza sativa L.) Mycofer®1 + td td + Mycofer® + P1 + td td + Mycofer® + Si1 + td td tn Mycofer® + P + Si1 + td td tn 2 Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.)* V. Johnie + Mycofer® 2 - td td + V. Johnie + Mycofer® + Asam Humik2 tn td td + V. Rommel + Mycofer® 2 tn td td + V. Rommel + Mycofer® + Asam Humik2 tn td td + V. TC + Mycofer® 2 + td td + V. TC + Mycofer® + Asam Humik2 + td td + V. Nemo Netta + Mycofer2 tn td td + V. Nemo Netta + Mycofer + Asam Humik2 - td td + V. Arthaloka + Mycofer2 + td td + V. Arthaloka + Mycofer + Asam Humik2 + td td + 3 Lidah buaya (Aloe vera (L.) Burm.f.) Mycofer3 + + td +

Mikoriza asal rhizosfer

nenas3 + + td + 4 Bawang Merah (Allium ascalonicum O. Fedtsch.) Mycofer4 + td + + Glomus manihotis (INDO-1)4 + td + + 5 Kedelai (Glycinemax (L.) Merr.) Mycofer5 + td + + Mycofer + BradyRhizobium japonicum5 + td + + Mycofer + biostimulan5 + td + + Mycofer + BradyRhizobium japonicum + biostimulan5 + td + +

Keterangan:

KTSP = ketahanan terhadap serangan penyakit SH = serapan hara N dan P

PKM = persen kolonisasi mikoriza + = respon positif terhadap kontrol - = respon negatif terhadap kontrol ∗ = sistem hidroponik

tn = tidak nyata td = tidak diamati

Sumber: 1Saragih 2005, 2Halid 2004, 3Sasli 2008, 4Shamdas 2002, 5Fitriatin 1999. 4.2.1 Padi Gogo (Oryza sativa L.)

Inokulasi Mycofer® dapat meningkatkan pertumbuhan dan persen kolonisasi mikoriza pada Padi Gogo dengan media tanah ultisol. Begitu pula kombinasinya dengan pupuk P (Pupuk SP-36). Sedangkan aplikasi Mycofer® yang dikombinasikan dengan pupuk Si (Waterglass (Na2SiO3) dan Pupuk P + pupuk Si hanya memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan semai, namun dengan nilai yang lebih tinggi dari aplikasi Mycofer® tunggal (Saragih 2005). Hal ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk cukup sinergis dengan aplikasi Mycofer®.

4.2.2 Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.)

Inokulasi Mycofer® dan kombinasinya dengan asam humik yang diberikan pada tomat dengan sistem hidroponik secara umum mampu meningkatkan persen kolonisasi mikoriza pada kelima varietas yang diujikan. Namun pada tomat varietas Johnie yang diinokulum Mycofer® dan Nemo Netta yang diinokulasi dengan Mycofer® yang dikombinasikan dengan asam humik menunjukkan respon pertumbuhan yang negatif. Respon pertumbuhan yang positif hanya ditunjukkan oleh tomat varietas TC dan Arthaloka, baik pada perlakuan Mycofer® tunggal maupun yang dikombinasikan dengan asam humik (Halid 2004). Meskipun persen kolonisasi mikoriza yang ditunjukkan memiliki nilai yang rendah, namun dengan nilai tersebut telah mampu menigkatkan pertumbuhan tanaman tomat, terutama pada variabel bobot buah. Hal yang diutamakan oleh produksi tanaman buah adalah bobot buah. Sehingga dapat dikatakan bahwa aplikasi Mycofer® tunggal dan kombinasinya dengan asam humik cukup efektif dalam meningkatkan produksi tomat pada sistem hidroponik.

4.2.3 Lidah buaya (Aloe vera (L.) Burm.f.)

Inokulasi Mycofer® pada lidah buaya dapat meningkatkan pertumbuhan, ketahanan terhadap serangan penyakit, dan persen kolonisasi mikoriza lidah buaya. Nilai RMD lidah buaya terhadap Mycofer®, yaitu sebesar 12%, hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan lidah buaya terhadap mikoriza rendah. Sedangkan lidah buaya yang diinokulasi mikoriza asal rhizosfer nenas (terdiri dari genus Glomus,

Acaulospora, dan Gigaspora) mengalami peningkatan pertumbuhan, ketahanan terhadap serangan penyakit, dan persen kolonisasi mikoriza dengan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan Mycofer®. Hal ini menunjukkan bahwa mikoriza asal rhizosfer nenas dapat berkembang lebih baik daripada Mycofer® pada inang lidah buaya yang ditanam pada lahan gambut. Nilai RMD yang ditunjukkan yaitu sebesar 26% (Sasli 2008). Hal ini menunjukkan bahwa lidah buaya cukup tergantung terhadap mikoriza asal rhizosfer nenas.

Lidah buaya yang terinokulasi mikoriza lebih tahan terhadap penyakit busuk lunak. Aplikasi Mycofer® pada lidah buaya dapat menurunkan penyakit busuk lunak sebesar 66% terhadap kontrol. Sedangkan aplikasi mikoriza asal rhizosfer nenas dapat menurunkan penyakit busuk lunak sebesar 76% terhadap kontrol. Penyakit busuk lunak yang menyerang lidah buaya ini berasal dari patogen tanah yang disebabkan oleh bakteri Erwinia chrysanthemi.

4.2.4 Bawang Merah (Allium ascalonicum O. Fedtsch.)

Aplikasi Mycofer® pada bawang merah memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan, serapan hara N dan P, serta persen kolonisasi mikoriza. Sedangkan aplikasi Glomus manihotis meskipun menunjukkan peningkatkan pertumbuhan, serapan hara N dan P, serta persen kolonisasi mikoriza, namun dengan nilai yang lebih rendah dari aplikasi Mycofer® (Shamdas 2002). Hal ini menunjukkan bahwa mikoriza Mycofer® dapat berkembang lebih baik dibandingkan G. manihotis pada inang bawang merah. Nilai RMD aplikasi Mycofer® juga lebih tinggi, yaitu sebesar 29% dibandingkan RMD aplikasi G. manihotis, yaitu sebesar 27%. Hal ini menjelaskan bahwa nilai ketergantungan bawang merah terhadap Mycofer® lebih tinggi dibandingkan terhadap G. manihotis.

Sehingga jelas bahwa aplikasi Mycofer® pada bawang merah memberikan dampak yang lebih baik dibandingkan dengan aplikasi G. manihotis.

4.2.5 Kedelai (Glycinemax (L.) Merr.)

Aplikasi Mycofer® pada tanaman kedelai dengan media tanah gambut mampu memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan, serapan hara N dan P, serta persen kolonisasi mikoriza, namun dengan nilai yang jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan kombinasinya dengan bahan lain. Aplikasi Mycofer® yang dikombinasikan dengan BradyRhizobium japonicum dan biostimulan pada kedelai menunjukkan hasil terbaik dari semua perlakuan yang diujikan. Biostimulan yang digunakan yaitu Bio-grow-3 (campuran dari 3 ml Nature’s Bio Concentrate dan 2 ml Nature’s Bio Calcium), dengan dosis 3 ml per pot. Nature’s Bio Concentrate merupakan biostimulan yang mengandung sejumlah bakteri, enzim, dan asam amino. Sedangkan Nature’s Bio Calcium merupakan biostimulan yang mengandung kalsium (BioFlora International Inc, USA, 1997 dalam Fitriatin 1999). B. japonicum yang digunakan berasal dari biakan murni yang diisolasi dari bintil akar kedelai kultivar Wilis yang mampu beradaptasi dengan tanah gambut, dengan dosis 10 ml per pot. Jumlah bintil akar efektif meningkat karena adanya kesesuaian inokulan dengan tanaman, sehingga dapat bersimbiosis pada tanah gambut. Sedangkan dosis Mycofer® yang diberikan yaitu sebanyak 20 gram per pot (Fitriatin 1999).

4.3 Pengaruh Inokulum Mycofer® terhadap Tanaman Perkebunan Tabel 3. Pengaruh Mycofer® terhadap Tanaman Perkebunan

No Nama Spesies Perlakuan

Respon Pertumbuhan Persen Kolonisasi Mikoriza 1 Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Glomus agregatum1 P / 1 hari + + P / 7 hari - + Mycofer®1 P / 1 hari + + P / 7 hari - m 2 Kakao (Theobroma cacao L.) Mycofer®2 + tn Mycofer® + FA2 tn + FMA indigenous Manokwari2 + tn FMA indigenous Manokwari + FA2 tn + Cekaman kekeringan + Mycofer®3 100% AT + + 85% AT + + 70% AT + + 55% AT + + Keterangan:

+ = respon positif terhadap kontrol - = respon negatif terhadap kontrol tn = tidak nyata

td = tidak diamati

m = mati

Sumber: 1Aini 2004, 2Suparno 2008, 3Sasli 1999. 4.3.1 Nilam(Pogostemon cablin Benth.)

Inokulasi Mycofer® hanya memberikan pengaruh lebih baik dibandingkan

Glomus agregatum pada beberapa variabel pertumbuhan dengan frekuensi penyiraman normal. Pada kondisi cekaman kekeringan, tanaman yang diinokulasi dengan Mycofer® cenderung memberikan hasil yang negatif dan lebih rendah (bahkan kematian lebih cepat) dibandingkan G. agregatum (Aini 2004). Sehingga dapat diketahui bahwa tanaman nilam lebih sesuai berasosiasi dengan G. agregatum

dibandingkan dengan Mycofer®. Inokulasi mikoriza tidak mampu meningkatkan kemampuan adaptasi tanaman nilam terhadap cekaman kekeringan, dengan iklim mikro pada rumah kaca bersuhu udara mencapai 42oC, sedangkan suhu optimal bagi perkembangan nilam adalah 24 - 28oC.

4.3.2 Kakao (Theobroma cacao L.)

Aplikasi mikoriza baik Mycofer® maupun FMA indigenous Manokwari dapat meningkatkan pertumbuhan semai kakao. Namun aplikasi Mycofer® lebih efektif meningkatkan pertumbuhan kakao dibandingkan dengan FMA indigenous Manokwari. Kedua mikoriza ini menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap kontrol pada persen kolonisasi mikoriza. Kombinasinya dengan pupuk fosfat alam (FA) asal Ayamaru tidak menunjukkan hasil yang berbeda nyata terhadap kontrol pada pertumbuhan semai. Namun menunjukkan hasil yang positif pada persen kolonisasi mikoriza (Suparno 2008). Pupuk FA asal Ayamaru dengan dosis 9,52 g per bibit dapat dijadikan pupuk alternatif sumber P pada bibit kakao karena menyebabkan persen kolonisasi mikoriza meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa dosis tersebut merupakan dosis yang sesuai.

Pada kondisi tercekam kekeringan aplikasi Mycofer® terbukti dapat meningkatkan adaptasi semai kakao terhadap cekaman kekeringan (Sasli 1999). Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya pertumbuhan dan persen kolonisasi mikoriza, meskipun jumlah air tersedia hanya 55% saja. Secara umum persen kolonisasi mikoriza cukup tinggi yang menunjukkan bahwa mikoriza dapat berkembang dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa Mycofer® cukup kompatibel terhadap kakao.

4.4 Pengaruh Inokulum Mycofer® terhadap Tanaman Bioremediasi Tabel 4. Pengaruh Mycofer® terhadap Tanaman Bioremediasi

No Nama Spesies Perlakuan Respon

Pertumbuhan SH DHT PKM 1 Lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam.) deWit.) Media tailing + Mycofer®1 + td td td

Media tailing + pupuk

kandang + Mycofer®1 + td td td

Media tailing + pupuk

kompos + Mycofer®1 + td td td 2 Akasia (Acacia auriculiformis A.Cunn. ex Benth.) Media tailing + Mycofer®1 - td td td

Media tailing + pupuk

kandang + Mycofer®1 + td td td

Media tailing + pupuk

kompos + Mycofer®1 tn td td td 3 Gamal (Gliricidia maculata H. B. K.) Media tailing + Mycofer®1 + td td td

Media tailing + pupuk

kandang + Mycofer®1 + td td td

Media tailing + pupuk

kompos + Mycofer®1 + td td td 4 Sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen.) Media tailing + Mycofer®1 - td td td

Media tailing + pupuk

kandang + Mycofer®1 - td td td

Media tailing + pupuk

kompos + Mycofer®1 - td td td 5 Beringin (Ficus sp.) Tanah tercemar minyak bumi 5% + Mycofer®2 + td + + Tanah tercemar minyak bumi 15% + Mycofer®2 + td + + Tanah tercemar minyak bumi 30% + Mycofer®2 + td + + Tanah tercemar minyak bumi 45% + Mycofer®2 + td + +

(Lanjutan 4.)

No Nama Spesies Perlakuan Respon

Pertumbuhan SH DHT PKM 6 Kudzu (Pueraria javanica Benth.) Tanah tercemar minyak bumi 5% + Mycofer®2 tn td + + Tanah tercemar minyak bumi 15% + Mycofer®2 tn td + + Tanah tercemar minyak bumi 30% + Mycofer®2 tn td + + Tanah tercemar minyak bumi 45% + Mycofer®2 tn td + + Mycofer®3 + + td + Mycofer® + Rhizobium3 + + td + Mycofer® + Rhizobium + asam humat3 tn tn td tn 7 Kalopogonium (Calopogonium mucunoides Desv.)

Media tanah tercemar minyak bumi + Mycofer®4 + td td td Mycofer®3 + + td + Mycofer® + Rhizobium3 + + td + Mycofer® + Rhizobium + asam humat3 tn tn td tn 8 Kalopo (Calopogonium caerelium (Benth.) Suav.) Mycofer®3 + + td + Mycofer® + Rhizobium3 + + td + Mycofer + Rhizobium + asam humat3 tn tn td tn 9 Sentro (Centrosema pubescens Benth.) Mycofer®3 + + td + Mycofer® + Rhizobium3 + + td + Mycofer® + Rhizobium + asam humat3 tn tn td tn Keterangan:

SH = serapan hara N dan P DHT = daya hidup tanaman PKM = persen kolonisasi mikoriza + = respon positif terhadap kontrol - = respon negatif terhadap kontrol tn = tidak nyata

td = tidak diamati

4.4.1 Lamtoro(Leucaena leucocephala (Lam.) deWit)

Inokulasi Mycofer® pada media tailing (materi sisa bahan galian dari pertambangan timah Dabo Singkep) mampu meningkatkan meningkatkan pertumbuhan. Kombinasinya dengan pupuk kompos (tailing : pupuk kompos = 9 : 1) jauh lebih efektif meningkatkan pertumbuhan tanaman ini bila dibandingkan dengan aplikasi Mycofer® tunggal dan kombinasinya dengan pupuk kandang (tailing : pupuk kandang = 9 : 1) (Badri 2004). Sehingga dapat diketahui bahwa Mycofer® cukup efektif bersimbiosis dengan lamtoro pada media tailing dengan pupuk kandang maupun dengan pupuk kompos.

4.4.2 Akasia (Acacia auriculiformis A. Cunn. ex Benth.)

Aplikasi Mycofer® pada media tanam berupa tailing (materi sisa bahan galian dari pertambangan timah Dabo Singkep) menunjukkan dampak negatif terhadap pertumbuhan A. auriculiformis. Aplikasi Mycofer® pada media tanam berupa campuran tailing dengan pupuk kandang (9 : 1) mampu meningkatkan pertumbuhan. Namun aplikasi Mycofer® pada media tailing dengan pupuk kompos (9 : 1) tidak menunjukkan hasil yang nyata (Badri 2004). Hal ini mengindikasikan bahwa Mycofer® tidak cukup efektif bersimbiosis dengan A. auriculiformis pada media tailing berupa materi sisa bahan galian dari pertambangan timah.

4.4.3 Gamal (Gliricidia maculata H. B. K.)

Inokulasi Mycofer® pada G. maculata dengan media tailing (materi sisa bahan galian dari pertambangan timah Dabo Singkep) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman. Kombinasinya dengan pupuk kandang maupun dengan pupuk kompos (tailing : pupuk kandang = tailing : pupuk kompos = 9 : 1) juga menunjukkan respon yang positif terhadap pertumbuhan, namun memberikan hasil yang lebih rendah bila dibandingkan dengan inokulasi Mycofer® tunggal, meskipun cukup baik bila dibandingkan dengan control (Badri 2004). Hal ini mengindikasikan bahwa Mycofer® tunggal cukup efektif bersimbiosis dengan G. maculata pada media tailing

4.4.4 Sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen.)

Secara umum inokulasi Mycofer® tunggal maupun kombinasinya dengan pupuk kandang atau pupuk kompos (tailing : pupuk kandang = tailing : pupuk kompos = 9 : 1) pada P. falcataria dengan media tailing (materi sisa bahan galian dari pertambangan timah Dabo Singkep) menunjukkan dampak negatif (Badri 2004). Hal ini mengindikasikan bahwa Mycofer® tidak cukup efektif bersimbiosis dengan

P. falcataria pada media tailing (materi sisa bahan galian dari pertambangan timah Dabo Singkep) berupa materi sisa bahan galian dari pertambangan timah.

4.4.5 Beringin (Ficus sp.)

Inokulum Mycofer® yang diberikan pada tanah tercemar minyak bumi 5% - 45% terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan semai Ficus sp. Minyak bumi yang digunakan berasal dari lapangan minyak Minas, dengan kandungan TPH (Total Petroleum Hydrocarbon) 96,71%. Kolonisasi mikoriza yang terbentuk pada akar

Ficus sp. menunjukkan peningkatan meskipun menunjukkan hasil yang rendah (dibawah 40%), namun telah mampu meningkatkan pertumbuhan Ficus sp. Selain itu dengan inokulasi Mycofer® dapat meningkatkan daya hidup Ficus sp. pada media tanam yang tercemar minyak bumi hingga konsentrasi 45%. Tanaman Ficus

sp. juga dapat tumbuh dan berkembang secara normal yang ditunjukkan oleh kemampuan tanaman untuk membentuk daun baru. Sedangkan kontrol hanya dapat bertahan pada pencemaran minyak bumi 5% saja (Ervayenri 2005). Hal ini menunjukkan bahwa Ficus sp. yang telah diinokulasi Mycofer® dapat digunakan untuk bioremediasi lahan tercemar minyak bumi.

4.4.6 Kudzu (Pueraria javanica Benth.)

Inokulum Mycofer® yang diberikan pada tanah tercemar minyak bumi yang berasal dari lapangan minyak Minas dengan kandungan TPH 96,71% dengan pencemaran sebesar 5% - 45% tidak dapat meningkatkan pertumbuhan P. javanica. Namun kolonisasi mikoriza yang terbentuk pada akar P. javanica menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi. Inokulasi Mycofer® juga dapat meningkatkan daya hidup P. javanica pada media tanam yang tercemar minyak bumi hingga 45% (Ervayenri 2005). Sedangkan P. javanica pada kontrol hanya dapat bertahan pada pencemaran minyak bumi 5% saja. Hal ini menunjukkan bahwa P. javanica yang

telah diinokulasi Mycofer® dapat digunakan untuk bioremediasi pada lahan tercemar minyak bumi.

Aplikasi Mycofer® tunggal mampu meningkatkan pertumbuhan dan serapan hara N dan P pada P. javanica dengan media tanam berupa tanah masam podsolik merah kuning (PMK) yang tinggi akan kandungan Al. Persen kolonisasi mikoriza akibat aplikasi Mycofer® ini juga mengalami peningkatan. Aplikasi Mycofer® yang dikombinasikan dengan Rhizobium juga menunjukkan respon pertumbuhan dan serapan hara N dan P yang positif. Sedangkan aplikasi Mycofer® dengan kombinasi

Rhizobium dan asam humat tidak menunjukkan pengaruh nyata. Dosis yang diberikan, yaitu asam humat 5% sebanyak 125 ml disemprotkan pada kotak tempat tumbuh P. javanica dengan ukuran kotak sebesar 90 cm x 60 cm x 30 cm (Utama 2004). Hal ini menunjukkan bahwa Mycofer® cukup sinergis bila dikombinasikan dengan Rhizobium, namun tidak sinergis bila dikombinasikan lagi dengan asam humat.

4.4.7 Kalopogonium (Calopogonium mucunoides Desv.)

Aplikasi Mycofer® dapat meningkatkan pertumbuhan C. mucunoides pada media tanah tercemar minyak bumi jauh di atas kontrol. Akan tetapi pada akar

C. mucunoides tidak ditemukan spora dan kolonisasi mikoriza. Peningkatan pertumbuhan yang jauh di atas kontrol tersebut diduga karena pengaruh media zeolit yang digunakan sebagai media pencampuran spora FMA pada Mycofer®. Sehingga zeolit ini membantu pertumbuhan C. mucunoides (Afrianty 2007).

Aplikasi Mycofer® mampu meningkatkan pertumbuhan C. mucunoides pada media tanam berupa tanah masam PMK dengan kandungan Al yang tinggi. Aplikasi Mycofer® ini juga dapat meningkatan serapan unsur hara N dan P oleh tanaman. Persen kolonisasi mikoriza akibat aplikasi Mycofer® juga menunjukkan respon yang positif. Aplikasi Mycofer® yang dikombinasikan dengan Rhizobium

memberikan hasil yang jauh lebih baik. Sedangkan aplikasi Mycofer® dengan kombinasi Rhizobium dan asam humat tidak menunjukkan pengaruh yang nyata (Utama 2004). Hal ini menunjukkan bahwa Mycofer® cukup sinergis bila dikombinasikan dengan Rhizobium, namun tidak sinergis bila dikombinasikan lagi dengan asam humat.

4.4.8 Kalopo (Calopogonium ceurelium (Benth.) Suav.)

Calopogonium ceurelium pada media tanam tanah masam PMK yang tinggi akan kandungan Al yang telah diinokulasi oleh Mycofer® pertumbuhannya menjadi lebih baik. Penyerapan unsur hara N dan P oleh C. ceurelium juga meningkat. Aplikasi Mycofer® dengan Rhizobium juga memberikan pengaruh yang positif pada pertumbuhan C. ceurelium. Sedangkan kombinasinya dengan Rhizobium dan asam humat tidak menunjukkan pengaruh nyata. Persen kolonisasi pada aplikasi Mycofer® secara tunggal dan kombinasinya dengan Rhizobium juga memberikan pengaruh yang positif. Namun pada aplikasi Mycofer® dengan Rhizobium dan asam humat persen kolonisasi mikoriza tidak berpengaruh nyata (Utama 2004). Hal ini menunjukkan bahwa Mycofer® cukup sinergis bila dikombinasikan dengan

Rhizobium, namun tidak sinergis bila dikombinasikan lagi dengan asam humat.

4.4.9 Sentro (Centrosema pubescens Benth.)

Centrosema pubescens pada media tanam tanah masam PMK yang tinggi akan kandungan Al yang telah diinokulasi oleh Mycofer® mengalami peningkatan pertumbuhan. Selain itu penyerapan unsur hara N dan P oleh C. pubescens juga meningkat. Aplikasi Mycofer® dengan Rhizobium juga memberikan pengaruh yang positif pada pertumbuhan C. pubescens. Sedangkan kombinasinya dengan

Rhizobium dan asam humat pada C. pubescens tidak menunjukkan pengaruh nyata. Persen kolonisasi pada aplikasi Mycofer® tunggal dan kombinasinya dengan Rhizobium juga memberikan pengaruh yang positif. Namun pada aplikasi Mycofer® dengan Rhizobium dan asam humat persen kolonisasi mikoriza tidak berpengaruh nyata (Utama 2004). Hal ini sama seperti pada tanaman P. javanica,

C. mucunoides, dan C. ceurelium.

Mycofer® dapat menjadi salah satu bahan bioremediasi pada lahan pasca tambang dan tercemar minyak bumi karena dapat membantu pertumbuhan tanaman pada media tailing dan tanah yang tercemar minyak bumi. Secara umum pada aplikasi Mycofer® baik secara tunggal atau kombinasinya dengan Rhizobium

pada tanaman Legum Cover Crop (LCC) menunjukkan respon pertumbuhan yang positif. Persen kolonisasi merupakan indikator penting untuk melihat kesesuaian tanaman inang dengan simbionnya. Berdasarkan data di atas dapat diketahui pula peranan nyata dari Rhizobium dalam meningkatkan kolonisasi mikoriza.

4.5 Pengaruh Inokulum Mycofer® terhadap Tanaman Pakan Hijau Ternak Tabel 5. Pengaruh Mycofer® terhadap Tanaman Pakan Hijau Ternak

No Nama Spesies Perlakuan Respon

Pertumbuhan PKM 1 Setaria (Setaria splendida Stapf.) Mycofer®1 + + Mycofer® + pupuk N-P 25% DS1 + + Mycofer® + pupuk N-P 50% DS1 + + Mycofer® + pupuk N-P 75% DS1 + + Mycofer® + pupuk N-P 100% DS1 + + Mycofer® + Azospirillum1 + + Mycofer® + Azospirillum + 50% DS1 + + Mycofer® + Pupuk NPK 0,7 g2 + + Mycofer® + Pupuk NPK 1,4 g2 - + Mycofer® + Pupuk NPK 2,1 g2 + + Mycofer® + Pupuk NPK 2,8 g2 - + Mycofer® + Pupuk NPK 4,5 g2 + + 2 Rhodes (Chloris gayana Kunth.) Mycofer®2 + + Mycofer® + Pupuk NPK 0,7 g2 + + Mycofe® + Pupuk NPK 1,4 g2 + + Mycofer® + Pupuk NPK 2,1 g2 + + Mycofer® + Pupuk NPK 2,8 g2 - + Mycofer® + Pupuk NPK 4,5 g2 - + Keterangan:

+ = respon positif terhadap kontrol - = respon negatif terhadap kontrol PKM = persen kolonisasi mikoriza DS = dosis standar

Sumber: 1Panjaitan 2004, 2Nania 2007. 4.5.1 Setaria (Setaria splendida Stapf.)

Inokulsi Mycofer® pada S. splendida dapat meningkatkan pertumbuhan dan persen kolonisasi mikoriza. Begitu pula untuk kombinasinya dengan pemberian pupuk N-P pada berbagai dosis. Secara umum hasil yang optimal ditunjukkan oleh aplikasi Mycofer® dengan pupuk N-P 25% dari dosis standar (Panjaitan 2004). Hal ini menunjukkan bahwa aplikasi Mycofer® dapat mengefisiensikan penggunan pupuk N-P hingga 75%.

Aplikasi Mycofer® dengan Azospirillum dan Azospirillum + 50% pupuk N-P dari dosis standar menunjukkan respon pertumbuhan dan persen kolonisasi mikoriza yang positif pula. Aplikasi Azospirillum + 50% pupuk N-P dari dosis standar menunjukkan persen kolonisasi mikoriza terbesar (Panjaitan 2004). Hal

ini menunjukkan bahwa aplikasi Azospirillum dengan penambahan 50% pupuk N-P dari dosis standar dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan mikoriza.

Aplikasi Mycofer® dengan pupuk NPK dengan berbagai dosis pada tanah salin menunjukkan hasil yang tidak konsisten pada pertumbuhan S. splendida.

Sedangkan pada persen kolonisasi mikoriza menunjukkan respon yang positif dengan konsisten (Nania 2007). Secara umum aplikasi Mycofer® dengan pupuk NPK dengan dosis 2,1 gram per tanaman merupakan aplikasi terbaik dibandingkan dengan perlakuan dosis lain.

4.5.2 Rhodes (Chloris gayana Kunth.)

Aplikasi Mycofer® pada Chloris gayana pada media tanah salin dapat meningkatkan pertumbuhan dan persen kolonisasi mikoriza. Kombinasinya dengan pemberian pupuk NPK pada beberapa dosis juga menunjukkan peningkatan pertumbuhan dan persen kolonisasi mikoriza. Namun dengan bertambahnya dosis pupuk menunjukkan dampak yang negatif terhadap pertumbuhan (Nania 2007). Secara umum aplikasi Mycofer® dengan pupuk NPK pada dosis 2,1 gram per tanaman merupakan aplikasi terbaik dibandingkan dengan perlakuan dosis lainnya.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil studi terhadap serangkaian penelitian aplikasi Mycofer® dapat disimpulkan bahwa Mycofer® cukup efektif berasosiasi dengan berbagai tanaman: 1. Kehutanan. Pada jati dengan perlakuan Mycofer® tunggal dan kombinasinya

dengan tepung tulang; jambu-jambuan dengan perlakuan Mycofer® tunggal; beringin dengan perlakuan Mycofer® tunggal dan kombinasinya dengan Bio-organik; mahoni daun besar dengan perlakuan Mycofer® tunggal dan kombinasinya dengan pupuk Suburin; dan gmelina dengan perlakuan Mycofer® tunggal, kombinasinya dengan 100% Omega, 50% Omega + 50% NPK Plus, dan 100% NPK.

2. Pertanian. Pada Padi Gogo dengan perlakuan Mycofer® tunggal dan kombinasinya dengan pupuk P, pupuk Si, dan pupuk P + Si; tomat varietas TC dan varietas Arthaloka dengan perlakuan Mycofer® tunggal dan kombinasinya dengan asam humik; lidah buaya dan bawang merah dengan perlakuan Mycofer® tunggal; dan kedelai dengan perlakuan Mycofer® tunggal, kombinasinya dengan Bradyrhizobium japonicum, biostimulan, dan Bradyrhizobium japonicum+ biostimulan.

3. Perkebunan. Pada nilam dengan perlakuan Mycofer® tunggal; dan kakao dengan perlakuan Mycofer® tunggal serta kombinasinya dengan FA.

4. Bioremediasi. Pada media tailing dengan tanaman lamtoro dengan perlakuan Mycofer® tunggal dan kombinasinya dengan pupuk kandang dan pupuk kompos; akasia yang dikombinasikan dengan pupuk kandang; dan gamal dengan perlakuan Mycofer® tunggal dan kombinasinya dengan pupuk kandang dan pupuk kompos. Pada media tanah tercemar minyak bumi hingga 45% dengan tanaman beringin. Pada media tanah gambut yang tercemar minyak bumi dengan tanaman kalopogonium. Pada media tanah masam PMK dengan kandungan Al tinggi dengan perlakuan Mycofer® tunggal dan kombinasinya dengan Rhizobium pada tanaman kudzu, kalopogonium, kalopo, dan Sentro.

5. Pakan Hijau Ternak. Pada setaria dengan perlakuan Mycofer® tunggal dan kombinasinya dengan pupuk N-P 25% DS, 50% DS, 100% DS, Azospirillum,

Azospirillum + pupuk N-P 50% DS, pupuk NPK dosis 0,7 g, 2,1 g, dan 4,5 g per tanaman. Pada rhodes dengan perlakuan Mycofer® tunggal dan kombinasinya dengan pupuk NPK dosis 0,7 g, 1,4 g, dan 2,1 g per tanaman.

5.2 Saran

Perlu adanya pengembangan penelitian pada tanaman spesies lain yang belum diteliti serta aplikasi bahan lain sebagai kombinasi perlakuan. Selanjutnya perlu

Dokumen terkait