BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2. Pembahasan
5.2.2. Pengaruh Jumlah Paritas Terhadap
Penelitian ini merupakan sebuah penelitian analitik yang bertujuan untuk mencari tahu adakah hubungan antara jumlah paritas dengan usia menopause pada wanita Indonesia secara umum, yang merupakan populasi target generalisasi dari data sampel penelitian ini, yaitu wanita di Kelurahan Tanjung Selamat, Kota Medan. Penelitian ini dilakukan karena sampai saat ini, belum ada data penelitian sejenis yang dilaksanakan pada wanita Indonesia. Data penelitian yang ada saat ini kebanyakan hanya menggambarkan pola hubungan jumlah paritas dengan usia menopause pada wanita Eropa dan Amerika, padahal siklus reproduksi sangat dipengaruhi oleh faktor ras dan genetik.
Dalam penelitian ini didapati bahwa ada hubungan antara jumlah paritas dengan usia menopause, yang ditunjukkan dengan nilai p < 0,001.
penelitian terdahulu yang telah dilaksanakan oleh Thomas et al (2001), Gold et al (2001) dan Henderson et al (2008) yang melaksanakan penelitian sejenis pada wanita di Amerika.
Dalam sebuah penelitian yang dilaksanakan pada wanita Eropa, Kevenaar (2007) menjelaskan bahwa adanya hubungan antara jumlah paritas dan usia menopause ini dimungkinkan oleh karena keterlibatan gen polimorfisme yang mengatur reseptor Anti Mullerian Hormone (AMH) yang dikenal sebagai AMHR2 – 482 A>G polymorphism.
Anti Mullerian Hormone sendiri pada dasarnya adalah suatu hormon yang berfungsi untuk menginhibisi proses initial recruitment, yaitu suatu proses aktivasi folikel primordial menjadi growing follicle pool yang akan mengalami degradasi (peluruhan) di setiap siklus menstruasi jika tidak terjadi proses fertilisasi.
Seiring dengan peningkatan jumlah paritas, gen AMHR2 – 482 A>G polymorphism tersebut akan mengalami aktivasi akibat pengaruh fluktuasi hormon progesterone selama kehamilan. Aktivasi gen ini akan mengakibatkan terjadinya up regulation reseptor AMH sehingga meningkatkan efek AMH terhadap folikel dalam ovarium wanita. Dengan terjadinya peningkatan efek AMH tersebut, maka proses initial recruitment akan diinhibisi sehingga jumlah folikel dalam ovarium yang mengalami degradasi juga akan lebih sedikit. Keseluruhan proses ini pada akhirnya akan memperlambat habisnya persediaan folikel dalam ovarium wanita yang dengan demikian juga akan memperlambat usia menopause wanita tersebut (Kevenaar, 2007).
Selain itu, sebuah studi hewan coba yang dilaksanakan pada mencit menemukan bahwa tingginya sensitivitas terhadap AMH juga akan meningkatkan sensitivitas folikel terhadap kehadiran hormon FSH di jaringan ovarium mencit. Hal ini akan menunda proses atresia apparatus folikular mencit, terutama sel granulosa folikel, yang dengan demikian akan memperlambat habisnya persediaan folikel di dalam ovarium mencit. Jika diasumsikan hal yang sama juga dijumpai pada manusia, maka
kehadiran hormon AMH akan memperlambat usia menopause seorang wanita (Broekmans, 2009; Wu, 2005).
Adapun hubungan antara jumlah paritas dengan usia menopause tersebut dapat digambarkan melalui skema berikut:
Gambar 5.2 Pengaruh Jumlah Paritas Terhadap Usia Menopause
Sungguhpun demikian, hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian Kalichman et al (2007) yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara jumlah paritas dengan usia menopause pada wanita ras Chuvasian di Amerika Utara. Perbedaan ini dapat dijelaskan oleh adanya pengaruh faktor ras dan genetik sampel penelitian yang turut mempengaruhi penentuan usia menopause seorang wanita (Henderson, 2008). Selain itu, pada beberapa wanita dijumpai single nucleotide
Paritas
Perubahan hormonal
(Peningkatan progesterone dan prolaktin)
Aktivasi gen AMHR2 – 482 A>G
Up regulation reseptor Anti Mullerian Hormone di sel granulosa folikel
Inhibisi proses initial recruitment
Peningkatan sensitivitas folikel terhadap hormon FSH
Perlambatan penurunan persediaan folikel primordial
Perlambatan proses atresia folikel di masa ovarian ageing
polymorphism (SNP) yang terletak pada kromosom 19 dan 20 yang telah terbukti berkaitan dengan usia menopause yang lebih awal (Stolk, 2009).
Penelitian ini menggunakan analisis uji Korelasi Pearson untuk mengetahui seberapa kuat hubungan antara jumlah paritas dengan usia menopause. Kekuatan hubungan antara kedua variabel tersebut dinyatakan dengan notasi r (koefisien korelasi). Dalam penelitian ini didapati nilai r = 0,54 yang berarti kekuatan hubungan antara jumlah paritas dengan usia menopause adalah sedang. Hal ini berbeda dengan penelitian Thomas et al (2001) yang mendapatkan nilai r = 0,664 (p value = 0,0054) atau dengan kata lain hubungan antara kedua variabel adalah kuat.
Beberapa hal yang dapat menimbulkan perbedaan nilai koefisien korelasi (r) dalam penelitian ini diantaranya:
a. Penelitian ini hanya melibatkan wanita Indonesia, khususnya yang bertempat tinggal di Kelurahan Tanjung Selamat saja sebagai sampel penelitian. Semua sampel dalam penelitian ini tergolong ke dalam ras Mongoloid. Sedangkan penelitian yang dilaksanakan oleh Thomas et al (2001) melibatkan sampel dari seluruh belahan dunia dan oleh karena itu melibatkan wanita dari berbagai ras yang ada. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, faktor ras dan genetik turut mempengaruhi usia menopause seorang wanita terkait dengan peranan gen pengatur usia menopause yang terletak pada kromosom 9 quantitative-trait loci.
b. Beberapa penelitian terdahulu, seperti yang dilaksanakan oleh Gold et al (2001), menggunakan desain penelitian cohort dimana tiap-tiap sampel penelitian diikuti hingga mengalami menopause. Dengan metode ini, akan didapat data usia menopause yang lebih akurat, yaitu dalam satuan tahun dan bulan. Sementara penelitian ini merupakan sebuah penelitian cross sectional yang mengumpulkan data penelitian hanya dalam satu kali pengamatan. Hal ini turut mempengaruhi pengumpulan data usia menopause, di mana tiap-tiap
responden penelitian melaporkan usia menopause hanya dalam satuan tahun.
Dalam penelitian ini didapati data bahwa ada hubungan antara jumlah paritas dengan usia menopause dengan kekuatan hubungan sedang. Namun demikian, perlu dipahami bahwa jumlah paritas bukanlah merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi usia menopause. Beberapa faktor yang turut dapat mempengaruhi usia menopause seorang wanita selain jumlah paritas diantaranya adalah pengaruh faktor ras dan genetik, indeks massa tubuh (IMT), usia menarche, kebiasaan merokok, dan lain-lain. Kesemua faktor-faktor tersebut perlu dipertimbangkan oleh praktisi medis dalam melakukan upaya-upaya prevensi penyakit-penyakit pada wanita yang berkaitan dengan menopause, seperti osteoporosis, PJK, penyakit Alzheimer, kanker payudara, dan lain sebagainya dalam rangka meningkatkan kualitas hidup wanita pada umumnya.