PAPARAN DATA DAN ANALISIS A. PAPARAN DATA
3. Pengaruh kajian kitabh Ihya’ Ulumuddin terhadap sikap Ta’dzim santri
71
kepada kyai di Pondok Pesantren Sunan Giri Salatiga.
sikap ta’dzim itu bukan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, akan tetapi harus di bentuk dan di pengaruhi oleh pendidikan dan lingkungan ke arah tujuan yang sesuai dan di inginkan, sesuai dengan yang di kemukan oleh (Al-Zamaji,t.th:21) bahwasanya dalam pembentukan sikapa ta’dzim itu ada 4 unsur di antaranya yaitu
e. ملعتملا (pelajar) f. داتسلاا(guru/pengajar) g. بلاا (orang tua)
h. كيرشلا (sekutu, rekan, teman/Masyarakat)
Jadi dalam pembentukan sikap itu santri bukan hanya rasa hormat terhadap orang yang lebih tua atau kyai, akan tetapi juga kepada guru, pengajar, dan orang tua juga masyarakat.
Namun tujuan pembentukan sikap ta’dzim di pondok pesantren Sunan Giri Salatiga dapat berhasil karena adanya beberapa factor pendukung, antara lain:
1) Santri dari awal masuk ke pondok pesantren sudah berada di lingkungan yang kental dengan pendidikan sikap akhlaqul karimah sehingga lebih bisa menarik minat santri untuk mempelajari dan ikut terjun dalam pembentukan sikap santri.
2) Adanya tokoh pesantren yang memiliki charisma yang kuat dan menjadi panutan bagi santri dan masyarakat sekitar.
3) Adanya rasa ketertarikan dengan pembentukan sikap yang akhlaqul karimah
72
4) Pendapat bahwa belajar tasawuf adalah sarana untuk memperbaiki akhlak menjadi lebih baik.
Seperti yang di kemukakan oleh (soetione,1982:54) tentang beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap ta’dzim santri terhadap kyai yaitu
1. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor dari siswa itu sendiri dimana setiap orang memiliki watak yang di bawa sejak lahir (faktor gen) sendiri-sendiri.
2. Faktor Eksternal
Faktor Eksternal merupakan faktor yang berada di luar diri siswa yaitu:
d. faktor guru dan tempat pendidikan e. faktor orang tua dan rumah tangga
f. faktor lingkungan teman dan Masyarakat.
Akan tetapi tidak hanya faktor saja yang bisa membentuk sikap ta’dzim santri akan tetapi dalam pembentukan sikap ta’dzim siswa tersebut melalui tiga proses, yaitu:
4. pengajaran dan pembiasaan
setelah ilmu-ilmu pengetahuan dan ilmu akhlak di sampaikan oleh seorang guru perlu di lakukan suatu pembiasaan membentuk aspek kerjasama dan kerohanian dari sikap atau kecakapan harus di lakukan secara kontiyu (terus-menerus),
73
dimana pembiasaan adalah salah satu alat pendidikan untuk membentuk sikap yang ingin dicapai. Al-Zamaji juga menggunakan teori pembiasaan pengulangan dalam belajar sebgai berikut: َّسلا َل اَط اَذِا اَّمَا َو ىَلِا ُمَّلَعَتُمْلا َج اَتْحا َو ِءاَدِتْب ِلإْا ىِف ُقْب َي اًضْيَأ ِءاَهِتْنِلإْا ىِف َوُهَف ٍتاَّرَم َرْشَع ِتَداَع ِلإْا ُن ْوُك َلا َو َكِلَذ ُد اَتْعَي ُهت َ ِل،َكِلَذَك دَق َو ًرْيِثَك ٍدُهُجِب َّلاِإًةَداًعلإْا َكْلِت َكُرْتَي ِو ٌفْرَح ُقْبَّسلا َلْيِق لا( ٌفْلَأ ُراَرْكَّتلا ): ىجونز Artinya
“Adapun pelajaran pertama yang di ajarkan panjaang dan
pelajaran membutuhkan pengulangan sepuluh kali, maka ia sampai akhirnya demikian, karena hal ini menjadi kebiasaan yang sulit di hilangkan kecuali dengan susah payah dan di katakan; pelajaran satu huruf pengulanganya seriu kali”. (As’ad:75).
5. Pembentukan kognitif
Pembentukan kognitif adalah proses yang berlaku pada seseorang dengan memberikan interprestasi pada milleu. Sehubungan dengan ini samoel mengatakan sebagai berikut:
“memperkenalkan sesuatu kepada anak yang beraneka ragam pengertianya melalui proses kognitif. Perkembangan sikap pada anak di pengaruhi oleh pengertian pengerian yang di kuasai anak”.
Menurut Samuel, pada proses ini perlu adanya perluasan pemikiran dan pengertian yang di miliki oleh anak, karena anak akan bersikap sesuai dengan apa yang di ketahuinya.
Pembentukan sikap perlu di perhatikan bahwa manusia yang di bentuk adalah manusia secara keseluruhan melalui
tenaga-74
tenaga aspek kepribadian, dengan mempergunakan fikiran dapat di tanamkan pengertian sikap Ta’dzim sehingga akan menjadi kebiasaan.
6. Pembentukan rohani
Proses yang ketiga adalah membentuk rohani, dimana dalam proses ini di tanaman suatu keyakinan untuk melakukan hal-hal yang baik dan akan membawa kemanfaat hidup di dunia dan di akhirat.
Rohani (jiwa) merupakan inti atau atau suatu hal yang halus dan akan membentuk hakekat manusia. Dari sinilah akan muncul suatu kehendak untuk melakukan sesuatu, karena rohani (jiwa) merupakan pimpinan bagi anggota- anggota tubuh lainya. (Fanidin,2001:105).
Maka dari itu sikap Ta’dzim perlu tersentuh terlebih dahulu aspek rohani dari manusia (siswa) melalui pengkajian kitab Ihya’ Ulumuddin. Dengan mempengaruhi seluruh anggota tubuh dan dapat membawa siswa kepada sifat kebaikan dan adab sopana santun, untuk membentuk akhlaq yang baik, terutama sikap ta’dzim kepada gurunya.
Pada dasarnya dilaksanakannya pendidikan santri karena tujuan pembinaan tersebut untuk kebaikan santri sendiri di masa depan. Karena pondok memiliki sistem pembinaan yang berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan lain. Akhlak santri di pondok
75
pesantren Sunan Giri dibina dengan baik mlalui metode keseharian. Santri dididik hablun minnaalah dengan banyak cara. Namun dalam kenyataannya ada beberapa faktor penghambat dan pendukung dalam pelaksanaannya. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak ustad Nur Wahid, selasa, 13 Februari 2018, jam 19.00 yang menyatakan
“hambatan yang biasa dialami oleh para santri adalah sifat keduniawian yang masih ada pada diri santri, santri masih senang dengan hal-hal yang berbau dunia, memang tidak dipungkiri bahwa usia yang masih muda merupakan factor utama yang menghambat suksesnya pendidikan akhlakul karimah. Sikap malu atau tidak enak dengan temanpun juga merupakan faktor yang menghambat dan masih banyak yang lain.
Disaat remaja-remaja lain di luar sibuk dengan gadget dan barang-barang branded keluaran terbaru, santri pondok pesantren Sunan Giri sudah harus dituntut untuk belajar dan mengamalkan apa yang telah diajarkan di pondok, yaitu pendidikan akhlak . Tak ayal banyak diantara mereka yang juga masih menginginkan hal-hal duniawi tersebut. Dan tidak dipungkiri pula usia mereka yang masih muda pun menjadi faktor mengapa mereka belum bisa fokus denganpendidikan pembentukan sikap tersebut.
Perasaan segan, malu, dan perasaan-perasaan lain yang menyelimuti hati mereka ketika teman-teman mereka asik main dan pergi bersama pacar atau teman dekat kemudian mereka diajak, namun menolak ajakan teman-teman mereka tersebut dengan alasan yang menurut teman-teman mereka tidak logis dan
76
lebay. Karena menurut teman-teman mereka belum saatnya mereka ingat hal-hal yang berbau akhhirat, masa muda adalah masa untuk bermain, pergi dan senang-senang.
Akan tetapi Lingkungan pondok yang kental sekali dengan pendidikan akhlak merupakan salah satu faktor yang mendorong seorang santri tertarik dengan sikap akhlakul karimah dan akan mengikuti apa yang biasa dilakukan disana. Seperti halnya seseorang yang tinggal di lingkungan pedesaan maka orang tersebut pasti akan ikut dengan tradisi dan gaya hidup layaknya orang desa. Begitu pula seseorang yang hidup di lingkungan perkotaan maka pasti orang tersebut juga akan ikut memiliki gaya hidup layaknya seseorang yang tinggal di daerah perkotaan.
Selain lingkungan pondok yang kental sekali dengan pendidikan akhlak, kharisma bapak kyai pun ikut andil dalam menarik hati santri untuk bersikap sopan dan santun. Dan yang umum diketahui di masyarakat pada umumnya dan khususnya santri disini bahwa belajar kajian kitab dan mengamalkannya merupakan sarana untuk memperbaiki akhlak agar menjadu lebih baik.
Kebanyakan santri di pondok pesantren Sunan Giri selalu menurut dengan apa yang dikatakan bapak kyai. Mereka beranggapan bahwa ilmu mereka tidak akan manfaat jika mereka tidak patuh dengan bapak kyai. Dan mereka lebih mementingkan
77
kepentingan guru daripada diri sendiri. Seperti yang diajarkan dalam kitab Ihya’ Ulumudin bahwa santri yang lebih mementingkan kepentingan guru dan menuntut ilmu akan dekat dengan keanugrahan nikmat dari Allah, dan akan dimudahkan dalam segala hal. Hal ini menjadikan alasan para santri untuk selalu menuruti apa yang dikatakan oleh kyai. Sehingga pendidiakan akhlak dapat berhasil, namun memang untuk pendidikan akhlak tasawuf tidak ada pacuan atau tolak ukur untuk mengukur keberhasilan pendidikan ini. Karena yang tahu dan bisa merasakan adalah diri sendiri. Sebagaimana penuturan imam, pengurus pondok putra pada sabtu, 13 Februari, 20.00 Wib. .
Pembentukan sikap di pondok pesantren Sunan Giri tidak serta merta berjalan dengan mulus. Namun ada juga hal-hal yang menghambat pembentukan sikap santri. Berikut adalah faktor-faktor yang menghambat pembentukan sikap santri:
1) Ego santri yang masih mengutamakan masalah dunia. Tidak dipungkiri di usia mereka yang masih remaja, mereka disuguhkan pada godaan-godaan dunia yang sungguh manis. Disaat anak-anak seusia mereka sibuk dengan gadget dan gaya hidup yang mewah, mereka sudah harus bergelut dengan kajian-kajian kitab kuning yang mengharuskan mereka menjauhi gaya hidup seperti itu, dan fokus mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah.
78
2) Perasaan segan tatkala teman-teman seusia mereka tahu kalau mereka mempelajari kitab-kitab kuning. Perasaan malu ketika mereka diajak pergi teman-teman seusia mereka namun menolak dengan alasan yang menurut teman-teman mereka tidak logis. 3) Tuntutan dari orang tua mereka yang mengharuskan mereka giat
dalam bekerja sehingga sedikit menjadi penghambat mereka dalam mengamalkan apa yang telah didapat.
79 BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan observasi di atas, maka penulis dapat menyimpulkan hasil penelitian tentang pembentukan sikap ta’dzim santri kepada kyai studi kasus pondok pesantren Sunan Giri Slatiga tahun 2018 adalah sebagai berikut :
1. Kajian kitab Ihya Ulumuddin di pondok pesantren Sunan Giri Slatiga yaitu di lakukan setiap pagi setelah sholat subuh berjamaah, dengan menggunakan metode bandongan, yakni guru membaca dan menerangkan isi yang terkandung dalam kitab, kemudian para santri mendengarkan, mencerna, menyimpulkan apa yang telah disampaikan guru kemudian menulisnya.
2. Sikap Ta’dzim santri kepada kyai di pondok pesantren sunan giri yaitu memuliakan orang yang lebih tua atau kepada seorang kyai. Seperti mendengarkan nasehat beliau, selalu bersikap hormat kepada guru, senantiasa berpakaian rapi, mendengarkan saat guru menrangkan, menjawab saat guru bertanya, berbicara ketika sudah di beri izin, dan selalu melaksanakan tugas yang di berikan oleh guru.
3. Pengaruh kajian kitab Ihya Ulumuddin terhadap sikap ta’dzim santri kepada kyai yaitu mendidik santri menjadi santri yang
80
akhlakul karimah dan patuh terhadap orang yang lebih tua. Dan Penghambat dalam pembentukan sikap Ta’dzim santri yaitu Ego santri yang masih mengutamakan masalah dunia, Perasaan segan tatkala teman-teman seusia mereka tahu kalau mereka mempelajari kitab-kitab kuning, serta tuntutan dari orang tua mereka yang mengharuskan mereka giat dalam bekerja sehingga menjadi penghambat mereka dalam mengamalkan apa yang telah mereka dapatkan.
81 B. SARAN
Di harapkan penelitian tentang pembentukan sikap ta’dzim santri kepada kyai ini dapat di sempurnakan dengan tema penelitian yang lain yang masih erat kaitanya dengan pembentukan sikap ta’dzim santri kepada kyai sehingga dapat memberikan gambaran yang lengkap tentang pembentukan sikap santri kepada kyai atau orang yang lebih tua Dalam penulisan ini penulis juga memiliki pengaharapan antara lain :
1. Hendaknya pembentukan sikap ta’dzim santri ini lebih dioptimalkan agar hasilnya lebih baik dalam mencetak santri-santri yang berakhlakul karimah dan berbudi luhur.
2. Hendaknya santri lebih memaksimalkan dalm pembentukan sikap sopan santun dan saling menghormati yang telah diberikan agar dapat menjadi contoh santri-santri yang lain.
3. Hendaknya orang tua lebih memperhatikan anak dan bisa memberikan motivasi agar anak lebih giat dalam pembelajaran di pondok.
4. Saran kepada peneliti lain yang hendak meneliti obyek yang sama yaitu,pembentukan sikap ta’dzim santri kepada kyai supaya mengambil tema yang lain agar lebih inovatif sekaligus menambah khasanah wawasan dan pengetahuan bagi masyarakat.
82