• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Kebijakan Dividen dalam memoderasi pengaruh Tax

BAB III................................................................................................................... 73

B. Hasil Uji Analisis Data Penelitian

2) Pengaruh Kebijakan Dividen dalam memoderasi pengaruh Tax

(a) Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R Square)

 Sebelum uji MRA

Tabel 4.13

Hasil Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R²) Model Summary

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .170a .029 .012 .37722

a. Predictors: (Constant), Tax Avoidance

Sumber: Output data sekunder diolah dengan SPSS 25

Tabel 4.13 menunjukkan interaksi antara tax avoidance dan nilai perusahaan sebelum adanya kebijakan dividen.

Hasilnya menunjukkan besar koefisien determinasi (adjusted R square) adalah 0,012 atau sebesar 1,2%.

122

 Sesudah uji MRA

Tabel 4.14

Hasil Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R²) Model Summary

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .310a .096 .047 .37041

a. Predictors: (Constant), X2*X5, Tax Avoidance, Kebijakan Dividen Sumber: Output data sekunder diolah dengan SPSS 25

Pada tabel 4.14 uji koefisien determinasi didapatkan hasil bahwa besarnya koefisien determinasi (adjusted R square) adalah 0,047 atau 4,7%. Hubungan memperkuat atau memperlemah dapat dilihat dari adanya kenaikan atau penurunan nilai adjusted R square antara sebelum dan sesudah uji MRA. Sebelum dilakukan uji MRA nilai adjusted R square adalah sebesar 0,012 atau sebesar 1,2%. Setelah dilakukan uji MRA nilai adjusted R square adalah sebesar 0,047 atau 4,7%.

Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya variabel kebijakan dividen dan interaksi antara tax avoidance dan kebijakan dividen akan dapat memperkuat hubungan tax avoidance dan nilai perusahaan. Tetapi masih harus dilihat dari uji t, apakah hasil yang didapat signifikan atau tidak untuk mengetahui apakah variabel kebijakan dividen merupakan variabel moderasi atau bukan.

123 Dengan kata lain, variabel X2, X5 dan variabel interaksi X2X5 mampu menjelaskan 4,7% variabel nilai perusahaan, sedangkan sisanya 95,3% (100%-4,7%) dijelaskan oleh variabel lain di luar model penelitian ini.

(b) Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)

Tabel 4.15 Hasil Uji Parsial (Uji t)

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 1.133 .197 5.747 .000

Tax Avoidance .004 .006 .130 .643 .523

Kebijakan Dividen .015 .008 .805 1.976 .053

X2*X5 .000 .000 -.964 -2.029 .047

a. Dependent Variable: Nilai Perusahaan

Sumber: Output data sekunder diolah dengan SPSS 25

Berdasarkan tabel 4.15 dapat diketahui bahwa terdapat 3 variabel independen dalam model regresi tersebut, yaitu variabel tax avoidance, kebijakan dividen, dan variabel interaksi antara tax avoidance dan kebijakan dividen. Nilai t tabel untuk model regresi di atas yaitu t (α/2; n-k-1 = (0,025; 56) = 2,00324. Area t hitung berpengaruh jika, t hitung < t tabel (negatif) dan t hitung > t tabel (positif) atau t hitung < -2,00324, t hitung > 2,00324.

124 Hasil tabel 4.15 menunjukkan bahwa nilai t hitung tax avoidance < dari t tabel (0,643 < 2,00324), t hitung kebijakan dividen < dari t tabel (1,976 < 2,00324), t hitung interaksi tax avoidance dan kebijakan dividen < dari t tabel (-2,029 < -2,00324).

Sedangkan, untuk tingkat signifikansi dapat dilihat bahwa tingkat signifikansi variabel tax avoidance > 0,05 atau (0,523 >

0,05), tingkat signifikansi variabel kebijakan dividen > 0,05 atau (0,053 > 0,05), dan tingkat signifikansi variabel interaksi tax avoidance dan kebijakan dividen < 0,05 atau (0,047 < 0,05).

Hipotesis diterima jika tingkat signifikansi kurang dari 0,05 atau 5%. Model regresi yang diperoleh dari pengujian persamaan regresi diatas adalah sebagai berikut.

Y = 1,133 + 0,004X2 - 0,015X5 + 0,000X2X5

Berdasarkan tabel 4.15 dapat disimpulkan bahwa kebijakan dividen merupakan variabel pure moderator karena hanya variabel interaksi tax avoidance dan kebijakan dividen yang memiliki nilai t hitung pada area berpengaruh dan tingkat signifikansi dibawah 5%.

Sehingga, hipotesis ke-7 diterima, kebijakan dividen mampu memoderasi memperkuat pengaruh tax avoidance terhadap nilai perusahaan.

125 3) Pengaruh Kebijakan Dividen dalam memoderasi pengaruh

Financial Risk terhadap Nilai Perusahaan (a) Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R Square)

 Sebelum uji MRA

Tabel 4.16

Hasil Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R²) Model Summary

a. Predictors: (Constant), Risk Financial

Sumber: Output data sekunder diolah dengan SPSS 25

Tabel 4.16 menunjukkan interaksi antara financial risk dan nilai perusahaan sebelum adanya kebijakan dividen.

Hasilnya menunjukkan besar koefisien determinasi (adjusted R square) adalah 0,000 atau sebesar 0%.

 Sesudah uji MRA

Tabel 4.17

Hasil Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R²) Model Summary

a. Predictors: (Constant), X3*X5, Risk Financial, Kebijakan Dividen Sumber: Output data sekunder diolah dengan SPSS 25

126 Pada tabel 4.17 uji koefisien determinasi didapatkan hasil bahwa besarnya koefisien determinasi (adjusted R square) adalah 0,014 atau 1,4%. Hubungan memperkuat atau memperlemah dapat dilihat dari adanya kenaikan atau penurunan nilai adjusted R square antara sebelum dan sesudah uji MRA. Sebelum dilakukan uji MRA nilai adjusted R square adalah sebesar 0,000 atau sebesar 0%. Setelah dilakukan uji MRA nilai adjusted R square adalah sebesar 0,014 atau 1,4%.

Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya variabel kebijakan dividen dan interaksi antara financial risk dan kebijakan dividen akan dapat memperkuat hubungan financial risk dan nilai perusahaan. Tetapi masih harus dilihat dari uji t, apakah hasil yang didapat signifikan atau tidak untuk mengetahui apakah variabel kebijakan dividen merupakan variabel moderasi atau bukan.

Dengan kata lain, variabel X3, X5 dan variabel interaksi X3X5 mampu menjelaskan 1,4% variabel nilai perusahaan, sedangkan sisanya 98,6% (100%-1,4%) dijelaskan oleh variabel lain di luar model penelitian ini.

127 (b) Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)

Tabel 4.18 Hasil Uji Parsial (Uji t)

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 1.422 .158 9.010 .000

Risk Financial -.001 .001 -.283 -1.015 .315 Kebijakan Dividen -.008 .005 -.450 -1.603 .115

X3*X5 5.328E-5 .000 .624 1.668 .101

a. Dependent Variable: Nilai Perusahaan

Sumber: Output data sekunder diolah dengan SPSS 25

Berdasarkan tabel 4.18 dapat diketahui bahwa terdapat 3 variabel independen dalam model regresi tersebut, yaitu variabel financial risk, kebijakan dividen, dan variabel interaksi antara financial risk dan kebijakan dividen. Nilai t tabel untuk model regresi di atas yaitu t (α/2; n-k-1 = (0,025; 56) = 2,00324. Area t hitung berpengaruh jika, t hitung < t tabel (negatif) dan t hitung > t tabel (positif) atau t hitung < -2,00324, t hitung > 2,00324.

Hasil tabel 4.18 menunjukkan bahwa nilai t hitung financial risk > dari t tabel (-1,015 > -2,00324), t hitung kebijakan dividen >

dari t tabel (-1,603 > -2,00324), t hitung interaksi financial risk dan kebijakan dividen < dari t tabel (1,668 < 2,00324).

128 Sedangkan, untuk tingkat signifikansi dapat dilihat bahwa tingkat signifikansi variabel financial risk > 0,05 atau (0,315 >

0,05), tingkat signifikansi variabel kebijakan dividen > 0,05 atau (0,115 > 0,05), dan tingkat signifikansi variabel interaksi financial risk dan kebijakan dividen > 0,05 atau (0,101 > 0,05). Hipotesis diterima jika tingkat signifikansi kurang dari 0,05 atau 5%. Model regresi yang diperoleh dari pengujian persamaan regresi diiatas adalah sebagai berikut.

Y = 1,422 - 0,001X3 - 0,008X5 + 5,328X3X5

Sehingga, berdasarkan tabel 4.15 dapat disimpulkan bahwa kebijakan dividen bukanlah variabel moderasi dalam model regresi tersebut. Karena semua variabel memiliki nilai t hitung diantara nilai t tabel positif dan negatif, serta memiliki nilai signifikansi di atas 0,05. Jadi hipotesis ke-8 ditolak, kebijakan dividen tidak mampu memoderasi (memperkuat atau memperlemah) pengaruh financial risk terhadap nilai perusahaan.

129 4) Pengaruh Kebijakan Dividen dalam memoderasi pengaruh

Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan

(a) Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R Square)

 Sebelum uji MRA

Tabel 4.19

Hasil Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R²) Model Summary

a. Predictors: (Constant), Profitabilitas

Sumber: Output data sekunder diolah dengan SPSS 25

Tabel 4.19 menunjukkan interaksi antara financial risk dan nilai perusahaan sebelum adanya kebijakan dividen.

Hasilnya menunjukkan besar koefisien determinasi (adjusted R square) adalah 0,063 atau sebesar 6,3%.

 Sesudah uji MRA

Tabel 4.20

Hasil Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R²) Model Summary

a. Predictors: (Constant), X4*X5, Profitabilitas, Kebijakan Dividen Sumber: Output data sekunder diolah dengan SPSS 25

130 Pada tabel 4.20 uji koefisien determinasi didapatkan hasil bahwa besarnya koefisien determinasi (adjusted R square) adalah 0,113 atau 11,3%. Hubungan memperkuat atau memperlemah dapat dilihat dari adanya kenaikan atau penurunan nilai adjusted R square antara sebelum dan sesudah uji MRA. Sebelum dilakukan uji MRA nilai adjusted R square adalah sebesar 0,063 atau sebesar 6,3%. Setelah dilakukan uji MRA nilai adjusted R square adalah sebesar 0,113 atau 11,3%.

Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya variabel kebijakan dividen dan interaksi antara financial risk dan kebijakan dividen akan dapat memperkuat hubungan financial risk dan nilai perusahaan. Tetapi masih harus dilihat dari uji t, apakah hasil yang didapat signifikan atau tidak untuk mengetahui apakah variabel kebijakan dividen merupakan variabel moderasi atau bukan.

Hal ini menunjukkan bahwa X4, X5 dan variabel interaksi X4X5 mampu menjelaskan 11,3% variabel nilai perusahaan, sedangkan sisanya 88,7% (100%-11,3%) dijelaskan oleh variabel lain di luar model penelitian ini.

131 (b) Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)

Tabel 4.21 Hasil Uji Parsial (Uji t)

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 1.323 .147 9.015 .000

Profitabilitas -.007 .022 -.065 -.332 .741

Kebijakan Dividen -.009 .005 -.492 -1.962 .055

X4*X5 .002 .001 .630 2.293 .026

a. Dependent Variable: Nilai Perusahaan

Sumber: Output data sekunder diolah dengan SPSS 25

Berdasarkan tabel 4.21 dapat diketahui bahwa terdapat 3 variabel independen dalam model regresi tersebut, yaitu variabel profitabilitas, kebijakan dividen, dan variabel interaksi antara profitabilitas dan kebijakan dividen. Nilai t tabel untuk model regresi di atas yaitu t (α/2; n-k-1 = (0,025; 56) = 2,00324. Area t hitung berpengaruh jika, t hitung < t tabel (negatif) dan t hitung > t tabel (positif) atau t hitung < -2,00324, t hitung > 2,00324.

Hasil tabel 4.21 menunjukkan bahwa nilai t hitung profitabilitas > dari t tabel (-0,332 > -2,00324), t hitung kebijakan dividen > dari t tabel (-1,962 > -2,00324), t hitung interaksi profitabilitas dan kebijakan dividen < dari t tabel (2,293 > 2,00324).

132 Sedangkan, untuk tingkat signifikansi dapat dilihat bahwa tingkat signifikansi variabel profitabilitas > 0,05 atau (0,741 > 0,05), tingkat signifikansi variabel kebijakan dividen > 0,05 atau (0,055 >

0,05), dan tingkat signifikansi variabel interaksi profitabilitas dan kebijakan dividen < 0,05 atau (0,026 > 0,05). Hipotesis diterima jika tingkat signifikansi kurang dari 0,05 atau 5%. Model regresi yang diperoleh dari pengujian persamaan regresi diiatas adalah sebagai berikut.

Y = 1,323 - 0,007X4 - 0,009X5 + 0,002X4X5

Berdasarkan tabel 4.21 dapat disimpulkan bahwa kebijakan dividen merupakan variabel pure moderator karena hanya variabel interaksi profitabilitas dan kebijakan dividen yang memiliki nilai t pada area berpengaruh dan tingkat signifikansi dibawah 5%.

Sehingga, hipotesis ke-9 diterima, kebijakan dividen mampu memoderasi (memperkuat) pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan.

C. Pembahasan

Penelitian ini menguji pengaruh inflasi, tax avoidance, financial risk, dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan serta moderasi kebijakan dividen untuk memperkuat hubungan antara inflasi dengan nilai perusahaan, moderasi kebijakan dividen untuk memperkuat hubungan antara tax avoidance dengan nilai

133 perusahaan, moderasi kebijakan dividen untuk memperkuat hubungan antara financial risk dengan nilai perusahaan, serta moderasi kebijakan dividen untuk memperkuat hubungan antara profitabilitas dengan nilai perusahaan.

1. Pengaruh Inflasi terhadap Nilai Perusahaan

Berdasarkan hasil uji statistik t yang telah dilakukan pada tabel 4.9, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 atas variabel inflasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai signifikansi variabel inflasi kurang dari 0,05 (0,000

< 0,05), yang berarti variabel inflasi berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Dengan demikian hasil penelitian menerima hipotesis pertama (H1) yang telah dirumuskan. Nilai koefisien untuk variabel inflasi adalah sebesar 0,117 dan bertanda positif, yang artinya apabila inflasi meningkat maka akan berpengaruh pada meningkatnya nilai perusahaan.

Secara teori, seharusnya inflasi berpengaruh negatif. Jadi ketika inflasi tinggi, maka akan menurunkan nilai perusahaan karena investor akan menghindari untuk melakukan investasi ketika risiko sedang tinggi. Tetapi pada penelitian ini hasilnya menyatakan bahwa inflasi berpengaruh positif. Hal ini disebabkan karena sampel penelitian adalah perusahaan sektor properti, dimana sektor ini erat kaitannya dengan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dan sistem kredit ini erat kaitannya dengan suku bunga, suku bunga erat kaitannya dengan inflasi.

134 Jadi ketika inflasi naik maka suku bunga akan naik, ketika suku bunga naik maka bunga cicilan KPR juga akan naik. Ketika bunga cicilan KPR naik, otomatis akan meningkatkan pendapatan perusahaan, ketika pendapatan naik maka kinerja perusahaan juga meningkat. Kinerja perusahaan yang meningkat, otomatis akan dapat meningkatkan minat investor untuk berinvestasi.

Hubungan positif antara inflasi dan nilai perusahaan dapat dilihat dari salah satu sampel penelitian yaitu perusahaan ACST.

Tingkat inflasi berturut-turut dari tahun 2014-2018 yaitu sebesar 6.42%, 6.38%, 3.53%, 3.81%, 3.20%. Tingkat inflasi cenderung menunjukkan penurunan dari tahun 2014-2018. Nilai perusahaan PT. Acset Indonusa Tbk (ACST) berturut-turut dari tahun 2014-2018 juga mengalami penurunan seiring dengan penurunan inflasi, yaitu sebesar 1,7698; 1,4380; 1,2688; 1,0537;

0,9621. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang positif antara inflasi dan nilai perusahaan, dimana ketika tingkat inflasi menurun juga akan menyebabkan penurunan pada nilai perusahaan.

Hal ini sesuai dengan teori yang digunakan yaitu teori sinyal. Dalam signaling theory dijelaskan bahwa inflasi dapat menjadi salah satu sinyal atau informasi yang dapat dipertimbangkan oleh investor ketika akan berinvestasi.

Ketika terjadi inflasi, maka otomatis tingkat suku bunga akan naik. Investor perlu melihat apakah inflasi tersebut berdampak terhadap perusahaan, ditinjau dari peningkatan risiko likuiditas, penurunan atau kenaikan kinerja perusahaan yang dapat dihitung melalui analisis rasio keuangan, dan lain-lain.

135 Hasil penelitian ini menyatakan bahwa inflasi mampu memberikan pengaruh terhadap nilai perusahaan, hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Santi Suryantini & Edi Arsawan (2015), Purnama Sari (2015), Ifeanyi C. & Chuskwuma C. (2016), dan Dewi Sartika dkk. (2019).

Tetapi hasil penelitian ini tidak konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Siswanti dkk., (2015), Putra dkk. (2016) dan Fuad & Wandari (2018), yang menyatakan bahwa inflasi tidak berpengaruh signifikan dan negatif terhadap nilai perusahaan. Hal tersebut disebabkan karena perbedaan sampel penelitian. Kemudian m enurut Putra dkk. (2016), inflasi yang terjadi selama periode penelitian masih dalam tahap ringan, sehingga investor lebih mempertimbangkan faktor lainnya seperti bagaimana cara perusahaan menghasilkan laba yang tinggi sehingga akan menghasilkan return yang tinggi bagi para investor.

2. Pengaruh Tax Avoidance terhadap Nilai Perusahaan

Berdasarkan tabel 4.9 mengenai hasil uji statistik t yang telah dilakukan, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,442 atas variabel tax avoidance. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai signifikansi variabel tax avoidance lebih dari 0,05 (0,442 > 0,05), yang berarti variabel tax avoidance tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan. Dengan demikian hasil penelitian menolak hipotesis kedua (H2) yang telah dirumuskan. Nilai koefisien untuk

136 variabel tax avoidance adalah sebesar 0,775 dan bertanda negatif, yang artinya apabila tax avoidance meningkat maka akan menurunkan nilai perusahaan.

Maka diketahui bahwa hasil dari penelitian ini menyatakan tax avoidance tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hal ini disebabkan karena para investor mungkin beranggapan bahwa tax avoidance dilakukan dengan cara yang legal atau tidak melanggar hukum, sehingga tidak begitu mempengaruhi penilaian investor terhadap nilai perusahaan. Artinya, investor lebih mempertimbangkan faktor-faktor lain ketika akan menanamkan modalnya di perusahaan tertentu. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Simarmata (2013), Tarihoran (2016), Tandean & Jonathan (2016), Verawaty dkk. (2017), Wardani & Juliani (2018), dan Novarianto &

Dwimulyani (2019).

Hal sebaliknya ditunjukkan dalam penelitian Ilmiani & Sutrisno (2014), Herdiyanto & Ardiyanto (2015), Sibarani (2016), Herawati & Ekawati (2016), dan Apsari & Setiawan (2018) yang menyatakan bahwa tax avoidance memberikan pengaruh signifikan dan negatif pada nilai perusahaan. Hal ini disebabkan karena masih adanya kecenderungan tindakan non compliance ketika dilakukan tax avoidance. Tindakan tersebut dapat menurunkan nilai perusahaan di mata investor karena melihat bahwa adanya kecendrungan kepentingan manajer dalam memanipulasi laba dan hal tersebut dapat menurunkan kualitas laporan keuangan karena menyajikan informasi yang kurang akurat (Sibarani, 2016).

137 Secara teori, tax avoidance akan berpengaruh negatif apabila dilakukan terlalu tinggi karena tax avoidance yang terlalu tinggi dapat menurunkan kualitas informasi yang tersedia dalam laporan keuangan. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang ada dan sesuai dengan beberapa penelitian sebelumnya.

Dan hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori sinyal, dimana dalam teori sinyal dikatakan bahwa tax avoidance dapat menjadi sinyal bagi investor ketika akan berinvestasi. Sedangkan arah pengaruh penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yaitu dengan arah negatif. Dikatakan jika nilai ETR tinggi maka nilai perusahaan akan rendah. Nilai ETR yang tinggi menandakan tingkat penghindaran pajak yang rendah, karena rasio pengukuran ETR adalah beban pajak dibagi dengan pendapatan sebelum pajak. Semakin kecil beban pajak, berarti semakin tinggi penghindaran pajaknya. Sebaliknya, semakin besar beban pajak, berarti semakin rendah tingkat penghindaran pajaknya.

Ketika beban pajak kecil maka nilai ETR akan rendah, ketika beban pajak besar maka nilai ETR juga akan tinggi.

3. Pengaruh Financial Risk terhadap Nilai Perusahaan

Berdasarkan tabel 4.9 hasil uji statistik t yang telah dilakukan, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,035 atas variabel financial risk. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai signifikansi variabel financial risk kurang dari 0,05 (0,035 < 0,05), yang berarti variabel financial risk berpengaruh secara

138 signifikan terhadap nilai perusahaan. Dengan demikian hasil penelitian menerima hipotesis ketiga (H3) yang telah dirumuskan. Nilai koefisien untuk variabel financial risk adalah sebesar 2,160 dan bertanda positif, yang artinya apabila financial risk meningkat maka akan berpengaruh pada meningkatnya nilai perusahaan.

Hasil penelitian ini menyatakan bahwa financial risk berpengaruh signifikan dan positif terhadap nilai perusahaan. Jadi penelitian ini membuktikan bahwa utang itu tidak selalu berdampak negatif terhadap nilai perusahaan. Hal ini disebabkan karena sifat utang itu sendiri. Utang sebenarnya digunakan perusahaan untuk memaksimalkan pendapatan, terlebih pada perusahaan sektor properti utang sangat diperlukan sebagai tambahan modal ketika akan membangun suatu proyek yang membutuhkan dana besar.

Secara teori dan logika umum dinyatakan bahwa bahwa financial risk akan berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan, karena pada dasarnya investor tidak menyukai risiko dan akan cenderung menghindari risko untuk mendapatkan keuntungan yang pasti. Jadi hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori dan logika umum karena hasil penelitian ini menyatakan bahwa financial risk berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

Hubungan positif ini disebabkan karena investor memandang bahwa utang dapat memaksimalkan pendapatan perusahaan yang pada akhirnya akan menguntungkan investor itu sendiri. Jadi hubungan positif ini didasarkan pada pandangan high risk high return.

139 Kemudian, hasil penelitian ini membuktikan tentang teori sinyal bahwa memang benar financial risk dapat menjadi sinyal bagi investor ketika akan mengambil keputusan investasi. Pada dasarnya financial risk ini adalah risiko atas pendanaan yang berasal dari utang. Jadi ketika utang perusahaan tinggi maka financial risk perusahaan juga akan tinggi.

Hasil penelitian ini senada dengan penelitian Dimisyqiyani dkk. (2015), Hamidah dkk. (2015), Tarihoran (2016), Oktarina (2018), dan Novarianto &

Dwimulyani (2019) yang menyebutkan bahwa financial risk berpengaruh signifikan positif terhadap nilai perusahaan.

Tetapi, hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian Dramawan (2015), Sunandes (2015), dan Sahin dkk. (2016) yang menyatakan bahwa financial risk berpengaruh signifikan dan secara negatif. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor menghindari adanya risiko keuangan, karena menganggap risiko tersebut akan mengurangi keuntungan yang akan didapat.

Investor cenderung menghindari risiko keuangan untuk mendapatkan keuntungan yang besar (Dramawan, 2015).

Dan hasil penelitian ini juga bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mery (2017) dan Riny (2018) yang menyatakan bahwa risiko keuangan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Menurut Mery (2017), hal tersebut disebabkan karena investor tidak terlalu melihat besar kecilnya jumlah utang perusahaan, tetapi lebih kepada bagaimana cara perusahaan

140 mengelola utang tersebut dengan efektif dan efisien untuk menghasilkan keuntungan bagi perusahaan dan para pemegang saham.

4. Pengaruh Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan

Berdasarkan hasil uji statistik t yang telah dilakukan, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,120 atas variabel profitabilitas. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai signifikansi variabel profitabilitas lebih dari 0,05 (0,120 > 0,05), yang berarti variabel profitabilitas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan. Dengan demikian hasil penelitian menolak hipotesis keempat (H4) yang telah dirumuskan. Nilai koefisien untuk variabel profitabilitas adalah sebesar 1,580 dan bertanda positif, yang artinya apabila profitabilitas meningkat maka akan mengakibatkan kenaikan pada nilai perusahaan.

Hasil penelitian ini bertentangan dengan teori sinyal dan pandangan pada umumnya yang menyatakan bahwa profitabilitas mampu mempengaruhi investor ketika akan mengambil keputusan investasi. Dalam penelitian ini, profitabilitas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan karena profit pada perusahaan sektor properti sangat tidak stabil yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya disebabkan karena daya beli masyarakat terhadap properti.

Hal ini disebabkan karena kenaikan harga properti setiap tahunnya tidak diiringi oleh kenaikan daya beli masyarakat terhadap properti. Sehingga

141 investor akan menganggap bahwa investasi pada sektor ini kurang aman dan kebanyakan investor yang berinvestasi pada sektor ini akan melihat faktor pendukung lain selain profitabilitas, contohnya dividen.

Jadi dalam penelitian ini dinyatakan bahwa profitabilitas tidak mampu menjadi sinyal bagi investor ketika akan berinvestasi pada perusahaan sektor properti. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Tarima dkk. (2016), Thaib & Dewantoro (2017), Ukhriyawati & Malia (2018), Rahayu & Sari (2018), Kadim & Sunardi (2019), dan Novarianto &

Dwimulyani (2019).

Dan penelitian ini bertolakbelakang dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Wahyuni dkk. (2013), Aditya & Supriyono (2015), Hamidah dkk. (2015), Dramawan (2015), Sabrin dkk. (2016), Tandean &

Jonathan (2016), Puspitaningtyas (2017), Kusumawati & Rosady (2018), Setyawati (2019), Zuhroh (2019), dan Ruslim & Michael (2019) yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap nilai perusahaan. Artinya bahwa ketika profitabilitas naik maka nilai perusahaan juga akan naik seiring dengan kenaikan profitabilitas.

142 5. Pengaruh Inflasi, Tax Avoidance, Financial Risk, Profitabilitas Secara

Simultan terhadap Nilai Perusahaan

Berdasarkan hasil uji statistik F pada tabel 4.8 diketahui bahwa nilai signifikansi F sebesar 0,000. Hasil tersebut menunjukkan nilai signifikansi di bawah 0,05, yang artinya variabel inflasi, tax avoidance, financial risk, dan profitabilitas dinilai mampu secara simultan berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Sehingga, hasil ini menerima hipotesis kelima (H5) bahwa variabel inflasi, tax avoidance, financial risk, dan profitabilitas secara simultan berpengaruh signifikan dan positif terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hamidah dkk.

(2015).

Dalam penelitian Hamidah dkk. (2015) terdapat variabel inflasi, suku bunga BI, profitabilitas, dan risiko finansial. Dijelaskan bahwa variabel-variabel tersebut secara simultan berpengaruh signifikan dan positif terhadap nilai perusahaan. Jika dikaitkan dengan teori yang digunakan dalam penelitian ini, dalam teori sinyal (signaling theory) dijelaskan bahwa inflasi, tax avoidance, financial risk, dan profitabilitas dapat menjadi sinyal bagi investor ketika akan berinvestasi pada suatu perusahaan.

Jadi hasil penelitian ini mendukung teori yang digunakan yaitu teori sinyal, dimana keempat variabel independen penelitian ini yaitu inflasi, tax avoidance, financial risk, dan profitabilitas dapat menjadi sinyal bagi investor ketika akan berinvestasi pada suatu perusahaan. Kenapa? Karena inflasi, inflasi

143 dapat menjadi sinyal atau tanda bagi perusahaan mengenai kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi. Sedangkan, tax avoidance, financial risk, dan profitabilitas dapat menjadi sinyal bagi investor mengenai seberapa baik kualitas perusahaan yang akan diinvestasikan. Penelitian. Hasil penelitian ini

143 dapat menjadi sinyal atau tanda bagi perusahaan mengenai kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi. Sedangkan, tax avoidance, financial risk, dan profitabilitas dapat menjadi sinyal bagi investor mengenai seberapa baik kualitas perusahaan yang akan diinvestasikan. Penelitian. Hasil penelitian ini