• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

5.2 Pengaruh Peran Serta Masyarakat terhadap Pengelolaan Sanitasi Lingkungan

5.2.1 Pengaruh Keterlibatan terhadap Pengelolaan Sanitasi Lingkungan

Davis dalam Sastropoetro (1998) menyatakan bahwa peran serta adalah suatu keterlibatan mental dan emosional orang-orang dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk memberikan kontribusi kepada tujuan kelompok dan berbagi tanggungjawab terhadap pencapaian tujuan tersebut.

Salah satu indikator keberhasilan kesehatan lingkungan adalah keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar meliputi persediaan air bersih, kepemilikan jamban keluarga, tempat sampah dan pengelolaan air limbah keluarga. Peran serta responden atau keikusertaan dalam kegiatan pengelolaan sanitasi lingkungan di daerah aliran sungai Kota Subulussalam jarang terlibat (70%). Masyarakat sebagai pelaku pengelola sanitasi lingkungan dapat dilibatkan dalam berbagai peran mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Perencanaan partisipatif dapat diawali dengan kegiatan survai kampung sendiri oleh masyarakat itu sendiri, dimana kegiatan

ini untuk mengetahui permasalahan-permasalahan kondisi lingkungan yang dialami masyarakat DAS.

Keterlibatan responden dapat dilihat dari prilaku dengan tindakan tidak menjaga kebersihan lingkungan dalam tindakan tidak memberikan informasi/ masukan dan usulan terhadap permasalahan sanitasi lingkungan (66%) di DAS. Masyarakat DAS cenderung menjaga kebersihan pekarangan rumah saja.

Pengelolaan limbah rumah tangga yang tidak baik akan berdampak pada pencemaran lingkungan, lambat laun akan berpengaruh terhadap menurunnya kesehatan masyarakat. Pembuangan sampah-sampah plastik dan limbah ke sungai akan mengakibatkan terhambatnya proses air tanah, sungai tidak sanggup menahan tekanan air yang akhirnya meluap kepermukaan dan akan menyebabkan banjir melanda perkampungan (Yusniada, 2008).

Membuang limbah rumah tangga ke sungai sebelum diolah dapat mengganggu komunitas sungai. 68% masyarakat DAS Kota Subulussalam membuang sampah tanpa melakukan pengolahan terlebih dahulu dan tidak menjaga lingkungan supaya sungai tidak tercemar atau pembungan limbah rumah tangga (71%). Pengelolaan yang dilakukan masyarakat dengan membakar sisa-sisa sampah di TPS maupun lubang sampah dengan menghasilkan asap yang sebagian masyarakat menyakini bahwa asap tersebut dapat membunuh nyamuk sebagai penyebab malaria.

Jika dilihat kondisi sanitasi di Desa Kemangi kecamatan Sidayu Kabupten Gresik yang telah memiliki penampung air untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih dan begitu juga dengan kesadaran masyarakat akan lingkungan yang sehat hal

ini diwujudkan dengan melakukan kegiatan gotong royong bersih desa sering dilakukan untuk menjaga lingkungan desa dan sebagian besar penduduknya sudah memiliki sarana sanitasi (Dimsum, 2008).

Jika dibandingkan dengan masyarakat DAS kota Subulusalam sebagian kecil responden telah memiliki jamban di dalam rumah (31%), namun jamban tersebut belum memenuhi syarat sesuai dengan kementerian kesehatan (30%). Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan responden tentang jamban sehat. Syarat dalam membuat jamban sehat yaitu tidak mencemari air/tanah permukiman, bebas serangga, tidak menimbulkan bau, aman, dan tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan dan jauh dari rumah. Hasil observasi di lapangan ditemukan masih banyaknya masyarakat mendirikan jamban di atas permukaan sungai dengan kondisi dinding yang masih berlubang-lubang. Dengan penghasilan yang masih rendah masyarakat belum mampu untuk membangun WC sesuai dengan persyaratan kesehatan.

Banyak sekali permasalahan lingkungan yang harus dihadapi dan sangat mengganggu terhadap tercapainya kesehatan lingkungan. Sebagian masyarakat yang tidak memiliki tempat sampah (64%) membuang ke pekarangan dan sungai. Sampah merupakan sumber polusi dan pencemaran tanah, air dan udara. Sampah juga merupakan sumber dan tempat hidup kuman-kuman serta vektor-vektor yang membahayakan kesehatan (Kanaivasu, 2009). Hasil observasi diketahui bahwa pembuangan sampah masyarakat biasanya dilakukan di TPS sementara di lokasi terbuka dekat dengan pemukiman masyarakat yang berada di pinggir sungai yang

belum memenuhi persyaratan. Pemandangan seperti ini dapat menimbulkan bau dan sumber penyakit yang dibawa oleh vektor penyakit

Pada tabel 4.10 diatas menjelaskan bahwa 61 orang (61,0%) menyatakan sering mengikuti kegiatan pengelolaan sanitasi lingkungan di daerah aliran sungai, diantaranya 56 orang (56,0%) tidak melakukan tindakan pengelolaan air limbah, jamban keluarga, sampah dan penyediaan air bersih masyarakat dengan baik.

Pengelolaan sampah di sekitar sungai hanya dilakukan pada pekarangan/ halaman rumah masing-masing saja atau menjaga kebersihan lingkungan pekarangan. Kegiatan gotong royong yang dilakukan masyarakat yang didampingi aparat terkait belum pernah dilakukan. Masyarakat cenderung meniru dan melihat keadaan rumah tetangga untuk berprilaku hidup sehat. Hal ini merupakan salah satu motivasi masyarakat untuk berprilaku hidup bersih sehat. Berdasarkan hasil observasi, 69% responden jarang mengikuti kegiatan pengelolaan sanitasi lingkungan seperti gotong royong untuk membersihkan lingkungan di sekitar sungai (69%).

Uji statistik Chi-Square menjelaskan keterlibatan masyarakat berpengaruh terhadap pengelolaan sanitasi lingkungan dengan nilai value 0,000<0,05. Koefisien regresi 3,886 menjelaskan bahwa semakin sering masyarakat ikutserta dalam kegiatan pengelolaan sanitasi lingkungan maka tindakan masyarakat untuk melaksanakan pengelolaan air limbah, jamban keluarga sampah, penyediaan air bersih akan semakin baik

Partisipasi masyarakat DAS belum terlibat secara nyata mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan pemanfaatan hasil pengelolaan sanitasi lingkungan

tersebut. Kurangnya keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaan sanitasi lingkungan membuat masyarakat merasa kurang memiliki (tidak adanya rasa sense of belonging) untuk pengelolaan sanitasi lingkungan. Kurangnya kesadaran akan pentingnya pengelolaan daerah aliran sungai, membuat masyarakat cenderung untuk tidak berpartisipasi dalam pengelolaan lingkungan hidup di sekitarnya.

Demi berhasilnya keikutsertaan masyarakat Kota Subulussalam untuk pengelolaan sanitasi lingkungan dibutuhkan kerjasama dengan instansi terkait (sponsor) sebagai motivator untuk menggerakkan warga masyarakat agar timbul kepedulian terhadap lingkungan di daerah aliran sungai.

5.2.2 Pengaruh Kontribusi terhadap Pengelolaan Sanitasi Lingkungan

Kontribusi merupakan gagasan-gagasan, ide-ide dan aspirasi dalam pengelolaan sanitasi lingkungan di daerah aliran sungai yang meliputi pemberian gagasan dan sumbangsih terhadap pemeliharaan kebersihan.

Proses pengorganisasian masyarakat dalam pengelolaan sanitasi lingkungan mengarah pada terbentuknya kader masyarakat sanitasi lingkungan yang kemudian bersama fasilitator dapat mendorong peran aktif masyarakat untuk melaksanakan pengelolaan sanitasi lingkungan.

Informasi yang diberikan antar masyarakat untuk hidup bersih sehat kepada masyarakat lainnya (tetangga) belum dapat terwujud karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat di DAS. Penyampaian informasi diperoleh dari aparat kesehatan seperti sewaktu mengikuti Desa Siaga dan penyuluhan yang dilaksanakan Pusat Kesehatan Masyarakat setempat dengan intensitas yang masih rendah.

Pelaksanaan musyawarah biasanya dilaksanakan di Kantor Kepala Desa, dimana kehadiran anggota masyarakat biasanya hanya diwakili oleh tokoh-tokoh masyarakat, kader kesehatan dan perangkat desa. Hal ini merupakan salah satu faktor masyarakat tidak dapat memberikan gagasan-gagasan untuk menentukan arah dan tujuan pengelolaan kesehatan yang mereka inginkan dan rasa ketidakpedulian untuk mengusulkan musyawarah tentang menjaga kebersihan sungai.

Sebagai upaya mendorong masyarakat untuk bersama-sama membahas persoalan sanitasi lingkungan di DAS Kota Subulussalam seperti bagaimana menyelesaikannya, serta apa yang dibutuhkan untuk menanggulangi masalah air bersih dan sanitasi secara efektif dalam bentuk antara lain; komitmen (individu dan kelompok), keahlian, sumberdaya, kelembagaan, organisasi dan lain-lainnya diperlukan gagasan-gagasan atau masukan masyarakat setempat. Namun kenyataannya intensitas kegiatan musyawarah jarang dilakukan, sehingga masyarakat DAS kurang aktif memberikan dorongan dan semangat untuk melaksanakan gotong royong seperti membersihkan aliran sungai dan memiliki inisiatif untuk bergotong royong membanguan tempat pembuangan sampah sementara dan memiliki tempat sampah berupa lubang di masing-masing pekarangan.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat cenderung membuang sampah di pekarangan rumah dan sungai. Keterlibatan masyarakat sebagai motivator bagi kader kesehatan dan aparat desa untuk ikut serta dalam menjaga sanitasi lingkungan dengan membuat tanda-tanda larangan pembungan sampah di sungai dan pekarangan dapat mengganggu kesehatan. Tanda-tanda larangan seperti pamflet atau spanduk (poster)

tidak ditemukan di daerah aliran sungai. Hal ini juga disebabkan kader belum optimal melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai mediator dalam pengelolaan sanitasi lingkungan.

Daya pikir dan kemampuan masyarakat sangat berpengaruh terhadap prilaku untuk menerima dan melaksanakan informasi sanitasi lingkungan dengan menyediakan sarana kebersihan lingkungan seperti pembuatan jamban dan sumur sebagai penyediaan air besih. Inisitaif masyarakat untuk membangun sarana kebersihan belum terealisasi sesuai yang diharapkan. Masyarakat di DAS, (71%) belum memiliki inisatif untuk membangun dan memiliki sumur sebagai penyediaan air bersih (69%). Masyarakat kebanyakan menggunakan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada juga yang mengambil air dengan memakai ember dan mengendapkannya Penyediaan air bersih sebagian hanya melakukan metode pengendapan. Hasil pengendapan tersebut, jika dilihat sekilas kotoran yang ada di permukaan air pengedapan akan lebih jernih dibandingkan dengan di dalam air pengendapan. Air tersebut biasanya dibuang dan air bersih yang berada di atasnya dipergunakan untuk keperluan sehari-hari seperti memasak, mandi dan mencuci pakaian.

Perberdayaan masyarakat sebagai pelaku dalam kebersihan lingkungan sangat memerlukan kerjasama antara masyarakat itu sendiri. Dorongan untuk memberikan informasi atau saran dan berbagai aktivitas gorong-royong serta usulan mengadakan musyawarah mengenai permasalahan lingkungan, seperti sampah yang berserakan di pinggir sungai, pembuatan lubang untuk TPS sementara dan mengajak perangkat

desa untuk terlibat dalam menjaga kebersihan belum terealisasi dengan baik. Masyarakat cendrung bertingkah laku pasif (diam) dalam hal pengelolaan sanitasi lingkungan. Hal ini sangat berhubungan dengan tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki masyarakat yang pada umumnya berpendidikan rendah dengan pekerjaan sebagai petani.

Pelaksanaan pengelolaan sanitasi lingkungan di DAS kota Subulussalam belum melipatkan berbagai instansi terkait dan wahana seperti LSM, organisasi tokoh masyarakat dan organisasi lain. Akses sarana kesehatan belum dirasakan oleh masyarakat di DAS. Masyarakat cenderung berpersepsi bahwa pemerintahlah yang harus menyediakan fasilitas kesehatan lingkungan seperti pembanguan TPS, TPA dan sarana lainnya.

Seperti halnya pelaksanaan program Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) di Indonesia sudah banyak dilakukan di berbagai daerah, seperti di daerah Mojokerto teknologi yang telah diterapkan toilet dengan sepsi tank. Begitu juga perusahaan Indonesian Business Lingk (ILB) yang bekerjasama dengan pemerintah dan mencari sektor-sektor swasta untuk mendanai berbagai program sanitasi lingkungan (Uma, 2008).

Uji Chi-Square menjelaskan kontribusi yang diberikan masyarakat berpengaruh terhadap pengelolaan sanitasi lingkungan dengan nilai value 0,000<0,05. Koefisien regresi 8,045 menjelaskan bahwa semakin sering masyarakat memberikan masukan/gagasan terhadap permasalahan sanitasi lingkungan daerahnya maka

tindakan masyarakat untuk melaksanakan pengelolaan air limbah, jamban keluarga sampah, penyediaan air bersih semakin baik.

Untuk memberdayakan partisipasi masyarakat dengan meningkatkan wawasan dan pengetahuannya diperlukan berbagai penyuluhan-penyuluhan langsung ke tempat-tempat masyarakat dengan pelaksanaannya secara kontinyu. Pemberdayaan orgnasasi-organisasi sebagai wadah motivator dapat mengubah peran serta dan prilaku masyarakat untuk secara sadar dan peduli bahwa lingkungan yang mereka tempati saat ini sangat memerlukan perubahan dan prilaku ke arah yang positif dengan melaksanakan kerjasama antara masyarakat itu sendiri karena masyarakatlah sebagai pelaku dan penghasil pencemaran lingkungan. Dengan bertambahnya wawasan masyarakat maka masyarakat akan dapat berkontribusi memberikan gagasan-gagasan/ide-ide untuk mengidentifkasi masalah, solusi dan keinginan masyarakat mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dalam pengelolaan sanitasi di daerah aliran sungai DAS kota Subulussalam.

5.2.3 Pengaruh Tanggungjawab terhadap Pengelolaan Sanitasi Lingkungan

Dokumen terkait