• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Konsentrasi Colchicine pada Pertumbuhan Eksplan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.7 Pengaruh Konsentrasi Colchicine pada Pertumbuhan Eksplan

Pengamatan tinggi, jumlah akar, panjang akar, jumlah daun, dan ruas baru eksplan biji jelutung dilakukan sebanyak 11 kali selama 11 minggu dengan intensitas pengamatan yang dilakukan seminggu sekali. Dari hasil pengamatan menunjukkan persentase hidup eksplan yang rendah, baik pada eksplan kontrol maupun yang diberikan perlakuan. Hal ini diduga disebabkan oleh pH media yang rendah, yaitu 4. tujuan awal dari penggunaan pH 4 ini adalah untuk menyesuaikan kondisi media dengan habitat alaminya. Akan tetapi setelah dicermati, penggunaan pH 4 ini menyebabkan ketersediaan N, P, K, dan S menjadi rendah serta bisa meningkatkan kegiatan Al sehingga berdaya meracun tanaman (Notohardiprawiro et al. 2006). Hal ini dikarenakan Fe dan Mn terlarutkan meningkat secara berlebihan, terbentuk asam butirat dari dekomposisi bahan organik yang tidak sempurna, dan terbentuk H2S yang bisa menghambat pernafasan akar dan mengganggu penyebaran hara (Notohardiprawiro et al. 2006). Selain itu, rendahnya persentase hidup eksplan juga diduga dikarenakan colchicine memberikan dampak negatif pada eksplan yang secara efektif menghentikan proses pembelahan sel sehingga eksplan mengalami kematian.

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Pada tinggi dan jumlah akar eksplan hasil analisis sidik ragamnya menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata. Pertumbuhan tinggi dan jumlah akar yang diberikan perlakuan colchicine mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan eksplan tanpa colchicine. Sedangkan pada panjang akar, jumlah daun, dan ruas baru eksplan hasil analisis sidik ragamnya menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata. Akan tetapi berdasarkan hasil rata-rata panjang akar, pertambahan jumlah daun, dan ruas baru eksplan yang diberikan perlakuan colchicine mempunyai hasil rata-rata yang dominan lebih besar untuk perlakuan yang diberikan colchicine dibandingkan yang tidak diberikan perlakuan. Pada kondisi lapangannya pun dapat dilihat adanya perbedaan antara perlakuan yang diberikan colchicine dengan perlakuan tanpa colchicine, baik tinggi, jumlah akar, panjang akar, jumlah daun, dan ruas baru eksplannya. Berdasarkan pengamatan ini dapat dikatakan bahwa secara keseluruhan eksplan jelutung yang diberikan perlakuan colchicine mengalami

perubahan sifat yang dikarenakan adanya mutasi kromosom sehingga mengakibatkan perubahan sifat pada tanaman (Poespodarsono 1988). Dapat dikatakan juga bahwa sifat-sifat fisiologi tanaman poliploid akan mengalami perubahan seiring dengan meningkatnya ukuran sel tanaman. Perubahan itu akan tampak pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara keseluruhan (Kuckuck et al. 1991 diacu dalam Wiendra et al. 2011).

Secara keseluruhan perlakuan konsentrasi colchicine memberikan pengaruh yang bervariasi terhadap pertumbuhan eksplan jelutung. Menurut Avery et al. (1947) diacu dalam Wiendra et al. (2011), adanya pengaruh yang bervariasi ini dikarenakan colchicine yang diberikan pada setiap individu tanaman tidak mempengaruhi semua sel tanaman, tetapi hanya sebagian sel-sel saja. Pengaruh yang berbeda pada sel-sel tanaman disebabkan colchicine hanya efektif pada sel yang sedang aktif membelah. Selain itu, metode pemberian colchicine pada tanaman juga berpengaruh pada besar kecilnya mutasi yang terjadi.

Sebagian besar eksplan yang diberi perlakuan colchicine mempunyai ukuran vegetatif yang relatif lebih besar dibanding eksplan kontrol, karena pada proses peningkatan poliploid yang berhasil diakibatkan oleh gagalnya proses mitosis menjelang terbentuknya dua anak sel, sedangkan kromosom sudah mengalami duplikasi maka isi sel tersebut mengandung jumlah kromosom dua kali lipat atau terjadi peningkatan ploidi. Tanaman yang telah meningkat ploidinya biasanya pertumbuhan awalnya akan lambat, tetapi pertumbuhan selanjutnya akan lebih besar ukurannya. Variasi ukuran vegetatif tanaman akibat perlakuan colchicine menunjukkan bahwa proses duplikasi kromosom atau peningkatan ploidi tidak seutuhnya berhasil 100%. Pengembangan tanaman melalui poliploidisasi dapat meningkatkan laju pertumbuhan 30-40% per musim diikuti dengan peningkatan hasil tanaman yang diperoleh (Biopact 2007 diacu dalam Zainudin 2010). Berdasarkan penjelasan tersebut diharapkan keberhasilan terbentuknya tetraploid pada tanaman jelutung nantinya akan diperoleh jenis jelutung tetraploid yang unggul karena secara kuantitas dan kualitas produksinya akan meningkat. Jenis tetraploid yang diperoleh memiliki vigor yang lebih baik, perakaran lebih panjang, dan lebih tebal.

Produksi panen yang dihasilkan dari tanaman tetraploid juga lebih unggul dibandingkan dengan jenis tetua diploidnya dan tanaman kontrol (pembanding). Menurut Zainudin (2010) dalam penelitiannya terhadap jarak pagar, secara ekonomis hasil tanaman tetraploid mempunyai potensi produksi minyak 62,5% lebih tinggi dibanding tetua diploidnya dan 39,2% lebih tinggi dibanding kontrol. Hal ini dikarenakan banyaknya kromosom sudah menjadi dua kali lipatnya, maka sel mempunyai kromosom dua kali lebih banyak dari sebelumnya (Sastrosumarjo dkk 2006).

Pada parameter jumlah daun dan ruas baru eksplan jelutung antara kontrol dengan perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang berarti. Hal ini kemungkinan dikarenakan oleh konsentrasi colchicine yang diberikan maupun cara perlakuan kurang optimal sehingga tidak berpengaruh pada pertumbuhan daun dan ruas baru eksplan. Hal ini juga dapat dikarenakan oleh respon setiap tanaman terhadap pemberian colchicine yang berbeda-beda. Selain itu, bisa juga dikarenakan perlakuan colchicine yang diberikan belum secara efektif mengganggu pembentukan benang pembelahan karena konsentrasi colchicine yang terlarut di dalam sel masih terlalu sedikit, sehingga proses polimerisasi protofilamen pada miktotubula masih tetap berlangsung (Anggraito 2004). Menurut Mansyurdin et al. (2002) diacu dalam Ritonga dan Wulansari (2010). Menyatakan bahwa pemberian colchicine pada konsentrasi rendah belum bisa menghambat pembentukan benang-benang gelendong, sehingga proses pemisahan kromosom pada stadium anafase tetap berlangsung dan pada akhirnya sel tersebut akan tetap diploid. Hal ini sejalan dengan pernyataan Suryo (2007) diacu dalam Sejati (2008) yang menyatakan bahwa bila konsentrasi larutan masih terlalu rendah atau lamanya waktu perlakuan belum cukup, maka sifat tetraploid tanaman belum akan tercapai. Akan tetapi tidak dapat dikatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi colchicine maka makin tinggi persentase sel yang tetraploid, karena tingginya konsentrasi colchicine akan mempertinggi persentase kematian kecambah pada tanaman (Mansyurdin et al. 2002, diacu dalam Ritonga & Wulansari).

Dalam melakukan perlakuan colchicine diperlukan kehati-hatian untuk menentukan konsentrasi dan lama perendaman yang tepat (Anggraito 2004). Hal

ini dikarenakan colchicine adalah senyawa antimitotik yang memiliki batas konsentrasi penggunaannya. Bila konsetrasi colchicine melampaui ambang batas, maka akan menjadi bahan yang bersifat racun bagi tanaman. Nasir (2002) diacu dalam Anggraito (2004) menyatakan bahwa dalam menggunakan colchicine, hal yang sering menjadi hambatan adalah sering kali tidak diketahui saat sel-sel tanaman secara simultan mengalami mitosis pada waktu yang sama karena sedang aktif membelah. Bila saat mitosis pada setiap jenis tanaman diketahui, maka perlakuan dengan colchicine akan lebih efektif.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait