HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Persentase Hidup
4.5. Pengaruh konsentrasi colchicine pada Pertumbuhan Jelutung
Pengamatan tinggi tunas, diameter, dan jumlah daun dilakukan sebanyak 8 kali selama 8 minggu (2 bulan) dengan intensitas pengamatan dilakukan seminggu sekali. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada pertumbuhan tinggi tunas dan diameter. Pertumbuhan tinggi tunas dan
1.300 1.800 2.100 1.400 2.100 0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 A B C D E Rata -r ata Per tam b ahan J u m lah D aun (Da u n ) Perlakuan
18
diameter yang diberikan perlakuan colchicine mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat dibandingakan dengan pertumbuhan tanpa perlakuan colchicine. Pertumbuhan yang tidak berbeda nyata terhadap pengaruh colchicine secara statistik ditunjukkan pada pertumbuhan jumlah daun. Namun berdasarkan hasil rata-rata pertambahan jumlah daun, untuk perlakuan yang diberikan colchicine
mempunyai hasil rata-rata pertambahan jumlah daun yang lebih besar dibandingkan dengan perlakuan tanpa colchicine/kontrol. Berdasarkan keadaan morfologi yang ada di lapangan, ada kecenderungan perbedaan yang tampak antara perlakuan yang diberikan colchicine dengan perlakuan tanpa colchicine, baik tinggi maupun besarnya daun. Hal tersebut disebabkan karena adanya aktifitas colchicine, sehingga secara keseluruhan tumbuhan jelutung yang diberi perlakuan colchicine mengalami perubahan sifat. Menurut Poespodarsono (1988) mutasi kromosom dapat mengakibatkan perubahan sifat pada tanaman. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4 Pada Perlakuan Colchicine Terlihat Pertambahan Tinggi yang Lebih Besar Dibandingkan Perlakuan tanpa Colchicine/Kontrol.
Penggunaan colchicine pada titik tumbuh dari tanaman akan mencegah pembentukkan serabut-serabut gelondong dan pemisahan kromosom pada anafase dari mitosis menyebabkan penggandaan kromosom tanpa pembentukan dinding sel. Perlakuan ini dapat menyebabkan peningkatan jumlah kromosom sebelum terjadi penggandaan kromosom dapat terlihat jelas selama tahap-tahap tertentu dari pembelahan inti (Crowder, 1997).
19
Dalam keadaan normal sel akan menggunakan benang-benang spindel untuk mengatur kromosom, membuat duplikat kromosom dan membaginya menjadi dua sel baru yang masing-masing akan memiliki satu set tunggal kromosom. Proses poliploidisasi pada tanaman yang sudah dipengaruhi colchicine
dimulai dengan terhambatnya pembentukkan benang-benang spindel pada tahap profase, menghambat pembelahan inti, pemisahan kromosom, pembentukkan anak sel dan secara efektif menghentikan proses pembelahan, karena itu keberadaan colchicine menyebabkan kromosom tidak dapat terbagi menjadi dua anak sel yang baru sehingga mengakibatkan jumlah kromosom dalam sel tersebut menjadi dua kali lipat (Eigsti dan Dustin, 1957). Menurut Poespodarsono (1988) dengan bertambahnya jumlah kromosom dapat mengakibatkan meningkatnya ukuran sel dan produksi.
Efektifitas kerja colchicine dalam menginduksi penggandaan kromosom Menurut Eigsti dan Dustin (1957) dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Konsentrasi colchicine yang diberikan. 2. Lama kontak sel dengan colchicine.
3. Tahap mitosis tertentu saat colchicine kontak dengan nukleus.
4. Tipe sel (sel embrio atau dewasa, sel normal atau neoplastik, sel lambat tumbuh atau jaringan yang distimulasi menggunakan hormon, dan sebagainya).
5. Lingkungan yang mendukung mitosis.
Pengaruh colchicine memberikan sifat tanaman menjadi tampak lebih kekar, daun-daun mempunyai ukuran lebih besar dan berwarna lebih hijau dengan bunga dan buah juga mempunyai ukuran lebih besar (Suryo, 1995). Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Poespodarsono (1988) bahwa salah satu ciri tumbuhan poliploid adalah daun dan bunga yang bertambah besar. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 5.
20
Gambar 5 Pada Perlakuan Colchicine (B, C, D, dan E) Umumnya Terlihat Ukuran Daun yang Lebih Besar dan Berwarna Lebih Hijau Dibanding Perlakuan Kontrol (A).
Tunas ujung mempunyai meristem massa (pertumbuhan dengan cara pembelahan dan pembesaran sel terjadi di dalam jaringan khusus) dengan aktifitas sel yang giat dan mempunyai sumber hormon yang dihasilkan sendiri (Gardner, Pearce, dan Mitchell, 1991). Menurut Salisbury dan Ross (1995) meristem apikal pada tajuk merupakan tempat tumbuhnya bagian daun, cabang, dan bunga. Karena itu bagian tumbuhan yang diberi perlakuan adalah tunas. Eigsti dan Dustin (1957) juga menegaskan bahwa colchicine bekerja pada sel yang aktif membelah. Maka dalam penelitian ini dilakukan pengukuran tinggi tunas, jumlah daun, dan diameter sebagai indikator pertumbuhan tumbuhan jelutung.
Semua bibit tumbuhan jelutung ditempatkan di pelataran laboratorium. Sehingga pengaruh kondisi lingkungan terhadap semua bibit tersebut dapat dianggap sama (faktor luar diasumsikan sama). Dengan demikian faktor yang mempengaruhi efektifitas kerja colchicine dapat dipersempit menjadi tiga faktor, yaitu :
21
1. Konsentrasi colchicine yang diberikan
Menurut Poespodarsono (1988), kepekaan terhadap perlakuan colchicine amat berbeda diantara spesies tanaman. Oleh karena itu, baik konsentrasi maupun perlakuan akan berbeda pula, bahkan untuk bagian tanaman yang berbeda akan lain pula dosis dan waktunya.
2. Lama kontak sel dengan colchicine
Karena kepekaan terhadap perlakuan colchicine berbeda diantara spesies, maka lamanya kontak sel dengan colchicine pun akan berbeda pula pada setiap spesies. Disamping itu, pada pemberian colchicine yang dilakukan dengan cara penetesan pada ujung tunas (drop method), larutan colchicine yang diteteskan menggunakan pipet jatuhnya tidak sempurna (tetesan larutan colchicine
langsung turun dan hanya sedikit yang tersisa pada tunas). Sehingga akan mempengaruhi lamanya kontak sel dengan colchicine dan akan mempengaruhi pula efektifitas kerja dari colchicine tersebut.
3. Tahap mitosis tertentu saat colchicine kontak dengan nukleus
Inti sel yang mengalami pemulihan setelah diberikan perlakuan colchicine atau disebut dengan inti restitusi (restituted nucleus) terbentuk saat kromosom bertransformasi menuju interfase tanpa membentuk anak inti. Transformasi menuju interfase ini mungkin dimulai saat metafase atau profase yang terhambat oleh colchicine tanpa melalui anafase. Atau setelah kromosom dari setiap pasangan kromosom yang telah dipengaruhi oleh colchicine terpisah pada c-anafase (suatu transisi yang melibatkan kromosom yang terpisah). Apabila jumlah sentromer telah mengganda, maka jumlah kromosom dalam inti restitusi akan menjadi dua kali jumlahnya sebelum c-mitosis dimulai (hal ini terlihat jelas pada c-anafase). C menandakan bahwa tahapan mitosis tersebut dipengaruhi oleh colchicine. Satu konsekuensi yang penting dari c-mitosis dibandingkan dengan c-mitosis inti yang normal adalah induksi poliploidi. Tetapi tidak semua inti restitusi menjadi poliploidi, karena transformasinya menuju interfase mungkin dimulai dari profase atau metafase. Transformasi yang dimulai dari metafase atau profase tidak menyebabkan inti sel poliploidi, karena transformasi terjadi sebelum kromosom mengganda. (Eigsti dan Dustin, 1957).