BAB 5. PEMBAHASAN
5.3. Pengaruh Konsep Diri Perempuan Penderita Kanker
Konsep diri adalah cara seseorang melihat kepribadiannya dari sudut pandang diri sendiri, yang berpusat pada kesadaran diri yang penuh dalam mempersepsi dirinya sendiri, meskipun sangat subyektif sifatnya. Penderita kanker yang mendapat kemoterapi untuk kelangsungan hidupnya akan mengakibatkan dampak psikologis terus berlanjut. Reaksi psikologis yang berhubungan erat dengan pemberian kemoterapi adalah adanya respon takut dan cemas, depresi bunuh diri, tidak patuh pada ketentuan medis dan sejenis depresi seperti anoreksia, gangguan tidur, disfungsi sosial dan problem psikoseksual (Saraswati, 2009).
Berdasarkan hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara konsep diri perempuan penderita kanker payudara terhadap kecemasan menghadapi kemoterapi di RSUD Dr. Pirngadi Medan (p=0,021). Dari 16 responden yang mempunyai konsep diri positif sebagian besar
mengalami cemas ringan menghadapi kemoterapi yaitu 12 orang (80,0%). Dari 21 responden yang mempunyai konsep diri negatif sebagian besar mengalami cemas berat menghadapi kemoterapi yaitu 20 orang (90,9%).
Hasil penelitian yang telah dilaksanakan Saraswati (2009), diperoleh korelasi negatif antara kecemasan pada penderita kanker yang mendapat kemoterapi dengan konsep diri. Hal itu dapat dilihat dari hasil analisis data dengan rxy = -0,521 dengan p < 0,01. Dengan demikian hipotesis penelitian ini diterima. Dapat dikatakan bahwa ada hubungan signifikan antara kecemasan pada penderita kanker yang mendapat kemoterapi dengan konsep diri. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi konsep diri maka kecemasan pada penderita kanker yang mendapat kemoterapi akan semakin rendah, dan sebaliknya, semakin rendah konsep diri maka kecemasan pada penderita kanker yang mendapat kemoterapi akan semakin tinggi.
Menurut Pucckett (2007) bagi banyak perempuan yang didiagnosis kanker payudara bukan saja bberdampak pada fisiknya tetapi juga pada emosi, dan pada mentalnya yang kemudian dapat berpengaruh terhadap hubungannya dengan orang lain, mereka cenderung akan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang dialaminya dan berpandangan negatif terhadap dirinya.
Hal ini juga didukung oleh Elvira (2008) bahwa payudara merupakan organ yang sangat penting bagi wanita, seperti mahkota, setelah didiagnosa kanker payudara walaupun masih stadium dini, umumnya penderita akan memunculkan suatu reaksi emosi yang hebat, penderita mulai sering menyendiri serta respon penolakan terhadap kebenaran diagnosa yang ada. Bahkan membuat penderita enggan
berobat ke dokter. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Chris (2005) tentang konsep diri pada perempuan penderita kanker payudara pasca tindakan operatif, dimana didapat bahwa perempuan penderita kanker payudara menilai negative penampilan fisiknya dan merasa tidak puas dengan kondisi fisiknya tersebut. Penderita kanker payudara akan menampilkan kesan yang negatif seperti rasa malu dan rendah diri terhadap orang lain, perasaan malu dan rendah diri yang dirasakan oleh penderita kanker payudara berhubungan dengan keadaan fisik yang dirasakan tidak sempurna lagi dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Penderita kanker yang memiliki konsep diri positif berarti memiliki penerimaan diri dan harga diri yang positif. Penderita kanker menganggap dirinya berharga dan cenderung menerima diri sendiri sebagaimana adanya. Sebaliknya, orang yang memiliki konsep diri negatif, menunjukkan penerimaan diri yang negatif pula. Penderita kanker yang memiliki perasaan kurang berharga yang menyebabkan perasaan benci atau penolakan terhadap diri sendiri (Potter, 2005).
Penelitian ini menemukan bahwa dengan konsep diri yang negatif maka responden akan mengalami kecemasan yang berat menghadapi kemoterapi, sedangkan responden dengan konsep diri positif cenderung mengalami kecemasan ringan. Banyaknya pasien yang mempunyai konsep diri negatif dalam penelitian ini disebabkan oleh gambaran diri, harga diri, ideal diri, peran diri dan identitas diri yang negatif (rendah). Jika dikaitkan dengan status pasien maka sebagian besar responden belum menikah walaupun sebagian besar responden sudah berumur >40 tahun (51,%) maupun berumur 31-40 tahun (35,1%). Dengan karakteristik tersebut maka
kemungkinan responden merasa bahwa dirinya tidak mempunyai gambaran diri (body image) karena akan kehilangan salah satu anggota bagian tubuh (payudara), bukan orang yang ideal karena tidak menjadi wanita seutuhnya, tidak mempunyai harga diri (tidak menikah) karena kemungkinan tidak laku serta mempunyai pandangan bahwa keluarga dan orang-orang terdekat kurang mempedulikan, kurang dapat menjalankan perannya sebagai seorang wanita baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat, merasa kehilangan identitas diri sebagai seorang wanita.
Dalam konsep diri terdapat lima komponen, yakni gambaran diri/citra tubuh (body image), ideal diri (self ideal), harga diri (self esteem), peran diri (self role), dan identitas diri (self identity). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa lebih banyak penderita kanker payudara dengan gambaran diri, ideal diri, harga diri, peran diri, dan identitas diri yang negatif.
5.3.1. Gambaran Diri
Dari hasil penelitian uji regresi logistik ganda bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara gambaran diri perempuan penderita kanker payudara terhadap kecemasan menghadapi kemoterapi (p)=0,870>0,05. Sebanyak 11 responden yang mempunyai gambaran diri positif sebagian besar mengalami cemas ringan menghadapi kemoterapi yaitu 7 orang (63,6%). Sebanyak 26 responden yang mempunyai gambaran diri negatif sebagian besar mengalami cemas berat menghadapi kemoterapi yaitu 19 orang (73,1%).
Gambaran diri (body image) adalah bagaimana cara individu mempersepsikan tubuhnya, baik secara sadar maupun tidak sadar, yang meliputi ukuran, fungsi,
penampilan, dan potensi tubuh berikut bagian-bagiannya. Dengan kata lain, citra tubuh adalah kumpulan sikap individu, baik yang disadari ataupun tidak, yang ditujukan terhadap dirinya (Sunaryo, 2004).
Menurut Hawari (2004) payudara adalah salah satu dari pada ciri-ciri seks sekunder yang memiliki arti penting bagi perempuan, tidak hanya sebagai salah satu identitas sebagai perempuan tetapi memiliki nilai tersendiri baik dari segi biologik. Psikologik, psikoseksual, maupun psikososial. Hal ini juga dikuatkan oleh Taylor (1995) bahwa kehilangan payudara akan mengubah penampilan fisik penderita dan dapat berpengaruh pada cara pandangnya terhadap gambaran tubuh. Perempuan merasa minder, terabaikan, merasa tidak sempurna lagi sebagai seorang perempuan. Oleh karenanya, pendekatan holistik kanker payudara bukan hanya ditunjukkan secara langsung terhadap aspek-aspek psikiatrik kanker payudara, tidak semata dari segi biopatologik, tetapi terhadap nilai payudara bagi perempuan. Bila hal tersebut dapat dipahami maka usaha-usaha pencegahan, diagnosa dini maupun tindakan operatif yang diambil disertai dengan pendekatan individual, maka komplikasi- komplikasi psikiatrik yang timbul dapat diusahakan seminimalnya (Hawari, 2004).
Sebanyak 24,33% responden menyatakan pasrah pada penyakit yang dideritanya dan tetap berusaha mencari pengobatan yang terbaik untuk bias menyembuhkan penyakit kanker payudara yang dideritanya, sebanyak 75,7% responden merasa tidak indah lagi setelah menderita kanker payudara sehingga merasa tidak dapat menjalankan fungsi sebagai perempuan karena memiliki anggota
tubuh (payudara) yang tidak sempurna lagi dan merasa daya tarik seksualnya hilang karena menderita kanker payudara.
5.3.2. Ideal Diri
Berdasarkan hasil penelitian uji regresi logistik ganda bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara ideal diri perempuan penderita kanker payudara terhadap kecemasan menghadapi kemoterapi (p)=0,190>0,05. Sebanyak 28 responden yang mempunyai ideal diri positif sebagian besar mengalami cemas berat menghadapi kemoterapi yaitu 15 orang (53,6%). Dari 9 responden yang mempunyai ideal diri negatif sebagian besar mengalami cemas berat menghadapi kemoterapi yaitu 8 orang (88,9%).
Hasil penelitian ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Anggraini (2006) bahwa kebutuhan dukungan sosial pada perempuan penderita kanker payudara tinggi, sebanyak 54,1% responden tidak berharap hubungan dengan orang yang disayangi, harmonis dan tetap diperhatikan setelah menderita kanker payudara karena merasa diri tidak lagi bias maksimal dalam menjalankan fungsinya sebagai ibu dalam keluarga. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Herawati (2005) terungkap bahwa perempuan yang mengalami kanker payudara akan mengalami gangguan ideal diri yang tidak realistis yaitu merasa menjadi perempuan yang kurang sempurna karena secara fungsi sebagai seorang ibu. Kecenderungan timbulnya negatif (penolakan) pada perempuan yang menderita kanker payudara seperti keputusasaan, menunda- nunda mencari pertolongan medis sehingga perlu suatu pendekatan secara kemanusiaan pada penderita kanker payudara.
5.3.1. Harga Diri
Berdasarkan hasil penelitian uji regresi logistik ganda bahwa ada pengaruh yang signifikan antara harga diri perempuan penderita kanker payudara terhadap kecemasan menghadapi kemoterapi (p)=0,006<0,05. Sebanyak 13 responden yang mempunyai harga diri positif sebagian besar mengalami cemas ringan menghadapi kemoterapi yaitu 9 orang (69,2%). Sebanyak 24 responden yang mempunyai harga diri negatif sebagian besar mengalami cemas berat menghadapi kemoterapi yaitu 19 orang (79,2%).
Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisis seberapa baik prilaku seseorang sesuai dengan ideal dirinya. Harga diri yang tinggi adalah perasaan yang berakar pada penerimaan diri sendiri tanpa syarat. Walaupun orang tersebut melakukan kesalahan, kekalahan, dan kegagalan, ia tetap merasa sebagai seseorang yang penting dan berharga. Harga diri ini dapat menjadi rendah saat seseorang kehilangan kasih sayang atau cinta kasih dari orang lain, kehilangan penghargaan dari orang lain, atau saat ia menjalani hubungan interpersonal yang buruk (Stuart & Sundeen, 2005).
Menurut Elvira (2008) sebagian penderita kanker berkata, ketika vonis itu datang mereka akan patah semangat karena memikirkan biaya yang mahal serta hal- hal negatif akibat dari efek samping operasi atau kemoterapi bahkan terbayang kematian yang seakan sudah di ambang pintu ataupun rasa nyeri dan sakit yang berkepanjangan selama menjalani pengobatan dan perawatan.
Sebanyak 29,7% responden menyatakan ingin berusaha tampil maksimal, menarik dalam melakukan aktifitasnya termasuk menjalani segala sesuatu yang nantinya akan dianjurkan demi kesembuhannya dari kanker payudara, sebanyak 70,3% responden menyatakan merasa diacuhkan, dan tidak bisa menerima penyakit kanker payudara dengan ikhlas sehingga merasa menjadi penghalang dalam beraktifitas seperti biasanya.
Kanker payudara bagi sebagian besar wanita merupakan momok yang menakutkan, sehingga ketika wanita tersebut menderita kanker payudara maka dia akan kehilangan harga diri, merasa tidak berguna, merasa disisihkan, merasa tidak dipedulikan, dan merasa rendah diri baik di hadapan suami, keluarga, maupun masyarakat. Ketika penderita dirawat di rumah sakit untuk menjalani kemoterapi, maka wanita dengan harga diri yang rendah merasa cemas akan keberhasilan kemoterapi yang dijalaninya dan kecemasan tersebut akan bertambah berat jika menurunnya harga diri pasien. Banyak penderita yang negatif harga dirinya karena mempunyai persepsi yang keliru terhadap pandangan orang-orang sekitar. Penderita kehilangan harga diri karena menganggap orang lain merendahkan dirinya, sementara hal tersebut lebih banyak disebabkan pola pikir penderita sendiri. Dukungan sosial dari suami, keluarga, masyarakat sekitar, petugas kesehatan sangat dibutuhkan bagi penderita kanker payudara untuk menumbuhkan dan meningkatkan harga diri agar mampu dan tidak cemas ketika menghadapi kemoterapi.
Berdasarkan hasil penelitian uji regresi logistik ganda bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara peran diri perempuan penderita kanker payudara terhadap kecemasan menghadapi kemoterapi (p)=0,065>0,05. Sebanyak 19 responden yang mempunyai peran diri positif sebagian besar mengalami cemas ringan menghadapi kemoterapi yaitu 11 orang (57,9%). Sebanyak 18 responden yang mempunyai peran diri negatif sebagian besar mengalami cemas berat menghadapi kemoterapi yaitu 15 orang (83,3%).
Peran diri adalah serangkaian harapan tentang bagaimana seseorang bersikap atau berprilaku sesuai dengan posisinya. Sedangkan penampilan peran adalah serangkaian pola prilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial, yang terkait dengan fungsi individu di kelompok sosial. Dalam hal ini, peran yang ditetapkan adalah peran yang dijalani individu ketika ia tidak mempunyai pilihan. Sedangkan peran yang diterima adalah peran yang dipilih sendiri oleh individu. Konflik peran muncul ketika peran yang dijalani berlawanan atau tidak sesuai dengan harapan (Mubarak, 2007).
Sebanyak 37,8% responden merasa biasa saja karena masih bisa berinteraksi dan melakukan pekerjaan seperti biasa dan tetap menjadi ibu yang baik dalam keluarganya, sebanyak 63,2% responden merasa tidak mampu melakukan kegiatan nya dengan baik dan merawat keluarganya seperti biasanya dan merasa minder jika harus berada di lingkungan sosialnya. Hal ini didukung oleh Elvira (2008) bahwa penderita kanker payudara mengalami gangguan keseimbangan hidup dan depresi berat akibat penyakit tersebut dan sejalan dengan pernyataan Keliat (1998) factor
psikologis yang dialami penderita kanker sering mengalami gangguan citra diri dan memengaruhi harga dirinya yang mengakibatkan perasaan tidak adekuat. Identifikasi dan memperbaiki kekurangan harga diri, gangguan citra diri perlu menjadi perhatian bagi pemberi asuhan pada perempuan penderita kanker payudara.
5.3.5. Identitas Diri
Berdasarkan hasil penelitian uji regresi logistik ganda bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara identitas diri perempuan penderita kanker payudara terhadap kecemasan menghadapi kemoterapi (p)=0,148>0,05. Sebanyak 24 responden yang mempunyai identitas diri positif mengalami cemas ringan dan berat menghadapi kemoterapi masing-masing 12 orang (50,0%). Dari 13 responden yang mempunyai identitas diri negatif sebagian besar mengalami cemas berat menghadapi kemoterapi yaitu 8 orang (88,9%).
Identitas diri adalah kesadaran akan diri pribadi yang bersumber dari pengamatan dan penilaian, sebagai sintetis semua aspek konsep diri sebagai suatu kesatuan yang utuh (Stuart & Sundeen, 2005). Identitas mencakup konsistensi seseorang sepanjang waktu dan dalam berbagai keadaan serta menyiratkan perbedaan atau keunikan dibandingkan dengan orang lain. Pembentukan identitas sangat diperlukan demi hubungan yang intim karena identitas seseorang dinyatakan dalam hubungan dengan orang lain (Hidayat, 2006).
Sebanyak 43,2% responden menyatakan tetap sebagai perempuan yang utuh dan tidak menjadi penghalang dalam berinteraksi dengan keluarga dan tetap merasa menjadi ibu yang baik bagi mereka, sebanyak 56,8% responden menyatakan bahwa
mereka minder dengan bentuk payudara mereka yang tidak indah lagi apabila dilakukan tindakan operatif dan keadaan fisik yang dirasakan tidak sempurna lagi dan menghalangi dalam menjadi ibu yang baik untuk keluarganya. Hal ini sejalan dengan penelitian Chris (2005) di dapat bahwa perasaan malu dan rendah diri yang dirasakan oleh penderita kanker payudara karena merasa tidak sempurna dan tidak sesuai apa yang diharapkannya.
5.4. Pengaruh Pengetahuan dan Konsep Diri Perempuan Penderita Kanker