BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pengaruh Metode Bising terhadap Waktu Pembekuan Darah
Sebelum penelitian, hewan uji diadaptasikan di dalam laboratorium
selama dua minggu. Hal ini dilakukan agar hewan uji mampu menyesuaikan diri
dengan lingkungan laboratorium sehingga dapat dipastikan bahwa stres yang
terjadi bukan karena faktor luar melainkan karena stresor yang dipaparkan pada
hewan uji. Pemaparan metode bising dengan intensitas bunyi 85-100 dB diukur
dengan alat sound level meter yang diberikan dalam waktu 2 jam selama 3 hari berturut-turut. Sebelum pemaparan bising dilakukan pengambilan darah pada
kelompok kontrol mau pun pada kelompok perlakuan. Darah diambil melalui
mata mengingat jumlah darah yang diambil cukup banyak sehingga jika darah
diambil dari ekor, dikhawatirkan proses keluarnya darah membutuhkan waktu
cukup lama sehingga darah akan segera membeku.
Pada kelompok perlakuan, pengambilan darah dilakukan 30 menit
sebelum hewan uji dipapari bising agar nantinya stres yang timbul benar-benar
akibat dari pemaparan bising. Bising yang diberikan berupa suara helikopter dan
mesin rotor, hewan uji menunjukkan tanda-tanda stres berupa gelisah serta
mengeluarkan banyak urin dan feses dengan konsistensi yang lebih lunak. Setelah
pemaparan stresor selama 2 jam pada hari ke 3, darah kembali diambil untuk
melihat perbedaan yang terjadi sebelum dan sesudah pemberian bising.
dikarenakan agar perubahan waktu pembekuan darah yang terjadi adalah akibat
dari paparan bising. Dalam penelitian ini digunakan metode Lee-White untuk
mengukur waktu pembekuan darah sehingga dengan metode ini tidak dapat
melihat kadar fibrinogen, trombin dan protrombin.
Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh data waktu pembekuan darah
dari perlakuan metode bising sebagai berikut:
Tabel II. Rata-Rata Waktu Pembekuan Darah Sebelum dan Sesudah Pemaparan Bising pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan
Kelompok Rata-Rata Waktu Pembekuan Darah (detik) ± SE
Sebelum Perlakuan Sesudah Perlakuan
Kontrol 143 ± 5,1 149 ± 9,7
Perlakuan 148,6 ± 9,3 119,2 ± 11,1
Dari data di atas tampak bahwa pada kelompok kontrol didapatkan
perbedaan yang tidak bermakna sebelum dan setelah 120 menit sedangkan pada
kelompok perlakuan tampak adanya perbedaan yang cukup bermakna sebelum
dan sesudah dipapari bising selama 120 menit. Rata-rata selisih lamanya waktu
pembekuan pada kelompok kontrol adalah 6 detik, sedangkan pada kelompok
perlakuan 29,4 detik. Untuk mengetahui sebaran distribusi data maka dilakukan
uji normalitas. Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan uji Saphiro-Wilk
karena jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini kurang dari 50 sampel.
Berdasarkan uji normalitas diperoleh hasil bahwa sampel terdistribusi normal
Tabel III. Uji normalitas metode bising Shapiro - Wilk Statistik Df Sig. Sebelum Bising (K) 0,956 5 0,782 Sesudah Bising (K) 0,910 5 0,469 Sebelum Bising (P) 0,978 5 0,924 Sesudah Bising (P) 0,884 5 0,327
Dari data diperoleh hasil untuk kelompok kontrol sebelum 120 menit
adalah p = 0,782 dan untuk kelompok kontrol setelah 120 menit adalah p = 0,469.
Sedangkan dari kelompok perlakuan sebelum pemaparan bising menunjukkan p =
0,924 dan pada kelompok perlakuan setelah pemaparan bising diperoleh p =
0,327. Dengan demikian menunjukkan bahwa data terdistribusi normal.
Untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antara sebelum dan
sesudah perlakuan maka dilakukan uji t berpasangan karena data sebelum dan
setelah perlakuan merupakan dua data yang berpasangan dan terdistribusi normal.
Dinyatakan berbeda bermakna jika p < 0,05. Dari data kelompok kontrol
diperoleh selisih rata-rata kelompok kontrol adalah 6 ± 8,2 dengan p = 0,503 (p >
0,05). Hal ini menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada
kelompok kontrol karena pada kelompok kontrol tidak diberi perlakuan apa pun
sehingga pada kelompok kontrol diharapkan tidak terjadi perubahan waktu
pembekuan darah yang bermakna. Sedangkan pada kelompok perlakuan diperoleh
selisih rata-rata sebelum dan sesudah perlakuan adalah 29,4 ± 4,0 dengan p =
terdapat perbedaan yang bermakna sebelum dan sesudah pemaparan bising, yang
ditunjukkan dengan menurunnya waktu pembekuan darah.
Berikut diagram batang yang menunjukkan perbedaan waktu pembekuan
darah sebelum dan sesudah 120 menit pemaparan bising:
Gambar 8. Diagram perubahan waktu pembekuan darah sebelum dan sesudah pemaparan bising pada kelompok kontrol
Gambar 9. Diagram perubahan waktu pembekuan darah sebelum dan sesudah pemaparan bising pada kelompok perlakuan
143 149 0 20 40 60 80 100 120 140 160 Sebelum Sesudah W ak tu P e m b e k u an D ar ah (d e ti k ) Kontrol 148,6 119,2 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 Sebelum Setelah W ak tu P e m b e k u an D ar ah (d e ti k ) Perlakuan
Tabel IV. Uji T-Berpasangan kelompok metode bising Paired Differences Mean Std. Deviation Std. Error Mean t df Sig. (2-tailed) K_sblm_BSG -K_ssdh_BSG -6, 18,23458 8,15475 -,736 4 ,503 P_sblm_BSG -P_ssdh_BSG 29,4 8,93308 3,99500 7,359 4 ,002
Kemudian dilakukan analisis independent t-test yang merupakan suatu sampel tidak berpasangan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang
bermakna antara kelompok kontrol dengan kelompok pemaparan bising. Pada uji
ini akan dianalisis selisih waktu pembekuan darah dari kelompok kontrol dengan
kelompok perlakuan. Sebelum dilakukan uji statistik 2 sampel tidak berpasangan
maka terlebih dulu dilakukan uji normalitas untuk masing-masing selisih pada
kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Berdasarkan uji normalitas diperoleh
nilai p kelompok kontrol adalah 0,162 dan kelompok perlakuan p = 0,906.
Keduanya menunjukkan bahwa distribusi data normal sehingga selanjutnya dapat
Tabel V. Hasil uji independent t-test kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan metode bising
Levene's Test for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
F Sig. t df Sig. (2-tailed) Mean Differen ce Std. Error Difference
Equal variances assumed 7,402 ,026 -3,898 8 ,005 -35,4 9,08075
Equal variances not assumed -3,898 5,815 ,009 -35,4 9,08075
Hasil uji menyatakan terdapat perbedaan yang bermakna (H0 ditolak )
jika diperoleh nilai p < 0,05. Pada tabel di atas diperoleh p = 0,005 sehingga dapat
disimpulkan bahwa kelompok kontrol berbeda bermakna dengan kelompok
perlakuan metode bising. Dengan demikian dapat diketahui bahwa adanya stresor
yang berupa bising dapat mempersingkat waktu pembekuan darah.
Bising dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi seorang individu
dimana dapat menyebabkan perasaan gelisah, kurangnya konsentrasi dan juga
depresi yang dapat bermanifestasi pada terjadinya stres. Menurut Babisch, adanya
bising dapat menyebabkan stres secara langsung mau pun tak langsung.
Pemaparan bising secara langsung dapat menyebabkan gangguan pendengaran
dan secara tak langsung dapat berakibat pada gangguan kognitif dan respon emosi
atau psikososial yang dapat bermanifestasi pada terjadinya stres. Reaksi stres ini
akan membangkitkan respon sistem saraf otonom dan juga sistem endokrin yang
dapat meningkatkan faktor risiko terjadinya kenaikan tekanan darah, curah
yang semuanya itu dapat menyebabkan penyakit kardiovaskuler berupa hipertensi,
aterosklerosis, dan penyakit jantung iskemik (Babisch, 2006).
Bising dapat mempengaruhi sistem pendengaran yang akan dikirim ke
otak termasuk dalam sistem limbik. Sistem limbik berfungsi mengendalikan
emosi, mengendalikan hormon, memelihara homeostasis, rasa haus, rasa lapar,
dan juga metabolisme. Sistem limbik ini berhubungan langsung dengan sistem
saraf otonom, sehingga jika terjadi efek yang buruk pada sistem limbik maka saraf
otonom akan teraktivasi untuk mengatasi stres yang muncul (Babisch, 2006).
Stres yang ditimbulkan oleh bising ini merupakan stres psikososial yang
dapat menstimulasi hipotalamus untuk melepaskan hormon katekolamin seperti
epinefrin dan norepinefrin (Babisch, 2006). Adanya hormon alami stres akan
mempengaruhi fungsi hemostatik dalam peningkatan TAT (trombin/antitrombin
III). Perubahan epinefrin dan norepinefrin akibat aktivasi sistem saraf simpatetik
berkaitan dengan pembentukan trombin. Melalui stimulasi reseptor endotel β2 -adrenergik, hormon stres akan melepas faktor pembekuan VIII, faktor von Willebrand dari tempat penyimpanan ke dalam sirkulasi. Stres berhubungan
dengan reseptor β2-adrenergik yang akan berpengaruh terhadap koagulasi dan fibrinolisis yang dapat menyebabkan perubahan TAT (Kanel dan Dimsdale,
2003).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa adanya pemaparan bising
dengan intensitas bunyi 85-100 dB dapat meningkatkan proses pembekuan darah
B. Pengaruh Aktivitas Fisik Maksimal terhadap Waktu Pembekuan