• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh stresor dengan metode bising dan aktivitas fisik maksimal terhadap waktu pembekuan darah pada tikus putih jantan - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Pengaruh stresor dengan metode bising dan aktivitas fisik maksimal terhadap waktu pembekuan darah pada tikus putih jantan - USD Repository"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH STRESOR DENGAN METODE BISING DAN AKTIVITAS FISIK MAKSIMAL TERHADAP WAKTU PEMBEKUAN DARAH PADA

TIKUS PUTIH JANTAN

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm)

Program Studi Farmasi

Oleh:

Deni Utik Upriyati 088114069

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

ii

PENGARUH STRESOR DENGAN METODE BISING DAN AKTIVITAS FISIK MAKSIMAL TERHADAP WAKTU PEMBEKUAN DARAH PADA

TIKUS PUTIH JANTAN

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm)

Program Studi Farmasi

Oleh:

Deni Utik Upriyati 088114069

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)

iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

PENGARUH STRESOR DENGAN METODE BISING DAN AKTIVITAS FISIK MAKSIMAL TERHADAP WAKTU PEMBEKUAN DARAH PADA

TIKUS PUTIH JANTAN

Yang diajukan oleh :

Deni Utik Upriyati

NIM : 088114069

telah disetujui oleh :

(4)
(5)

v

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN,

yang menaruh harapannya pada TUHAN!”

(Yeremia 17:7)

Karya ini kupersembahkan kepada Tuhan Yesus Kristus

kepada Bapak, Ibuk dan Mbak Dinar tersayang

(6)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Apabila dikemudian hari ditemukan indikasi plagiarisme dalam naskah ini, maka saya bersedia menanggung segala sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Yogyakarta, 19 Juli 2012

Penulis

(7)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :

Nama : Deni Utik Upriyati

Nomor Mahasiswa : 088114069

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

Pengaruh Stresor dengan Metode Bising dan Aktivitas Fisik Maksimal terhadap Waktu Pembekuan Darah pada Tikus Putih Jantan

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal : 19 Juli 2012

Yang menyatakan

(8)

viii

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah

melimpahkan kasih dan berkat-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan

skripsi yang berjudul “Pengaruh Stresor dengan Metode Bising dan Aktivitas Fisik Maksimal terhadap Waktu Pembekuan Darah pada Tikus Putih Jantan”dengan baik.

Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis telah banyak menerima bantuan

dan dukungan dari berbagai pihak, pada kesempatan ini penulis ingin

mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Ipang Djunarko, M.Si., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi,

Universitas Sanata Dharma dan selaku dosen pembimbing yang telah

memberikan bimbingan, waktu, semangat, saran dan kririk serta dukungan

selama penyusunan skripsi ini.

2. Bapak Drs. Mulyono, Apt. (Alm) atas ide, masukan dan semangat yang telah

diberikan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.

3. Ibu Phebe Hendra, M.Si., Ph.D., Apt. selaku dosen penguji yang telah

memberikan bantuan, kritik dan saran kepada penulis dalam penyelesaian

skripsi ini.

4. Ibu dr. Fenty, M.Kes, Sp.PK. selaku dosen penguji yang telah memberikan

bantuan, kritik dan saran kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

5. Ibu Rini Dwiastuti M.Sc., Apt. selaku kepala penanggungjawab Laboratorium Fakultas Farmasi atas izin dalam penggunaan fasilitas Laboratorium

(9)

ix

6. Bapak Edy, selaku kepala laboratorium fisika Universitas Sanata Dharma atas

izin peminjaman alat “sound level meter” dalam pelaksanaan penelitian ini. 7. drh. Ari, Pak Heru, Pak Kayat, Pak Parjiman, dan Pak Satijo atas bantuannya

dalam melaksanakan penelitian ini.

8. Bapak, Ibuk dan mbak Dinar tercinta yang telah memberi doa, dukungan,

dorongan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Sahabat-sahabatku tersayang Nduty, Priki, Adis dan Arum atas semuanya

yang telah kalian beri untuk penulis. You’re my everything.

10. Teman-temanku Ellen, Paul, Palent, Rio, Wawan, Aldo untuk waktu,

dukungan dan semangat yang telah penulis terima selama ini. Juga Abek

untuk pinjaman akuariumnya

11. Teman-teman FKK A-08 untuk kebersamaan dan kerjasamanya selama

menempuh studi di Universitas Sanata Dharma.

12. Serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi

ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan

skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang

membangun agar skripsi ini menjadi lebih baik. Akhirnya penulis berharap

semoga skripsi ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi semua pihak

yang membutuhkan.

Yogyakarta, 19 Juli 2012

(10)

x

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii

HALAMAN PENGESAHAN... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA... vi

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI... vii

PRAKATA... viii

DAFTAR ISI... x

DAFTAR TABEL... xiii

DAFTAR GAMBAR... xv

DAFTAR LAMPIRAN... xvi

INTISARI... xvii

ABSTRACT... xviii

BAB I. PENGANTAR... 1

A. Latar Belakang... 1

1. Permasalahan... 3

2. Keaslian penelitian... 3

3. Manfaat penelitian... 5

B. Tujuan Penelitian... 5

BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA... 6

(11)

xi

B. Stresor... 6

C. Pendekatan-pendekatan Stres... 7

D. Tahapan Reaksi Stres... 8

E. Reaksi Fisiologis terhadap Stres... 11

F. Reaksi Psikologis terhadap Stres... 12

G. Hubungan Stres dengan Fisiologi Tubuh... 13

H. Bising... 15

I. Aktivitas Fisik Maksimal... 16

J. Metode Perilaku Stres... 16

K. Darah... 17

L. Hemostasis... 19

M. Faktor Pembekuan... 20

N. Mekanisme Pembekuan Darah... 22

O. Hubungan Stres dengan Pembekuan Darah... 24

P. Metode Pengukuran Waktu Pembekuan Darah... 26

Q. Landasan Teori... 27

R. Hipotesis ... 27

BAB III. METODE PENELITIAN... 28

A. Jenis dan Rancangan Penelitian... 28

B. Variabel Penelitian... 28

C. Definisi Operasional... 29

D. Subyek Penelitian... 29

(12)

xii

F. Tata Cara Penelitian... 30

G. Analisis Hasil... 32

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... 33

A. Pengaruh Metode Bising terhadap Waktu Pembekuan Darah Tikus Putih Jantan dengan Metode Bising... 33

B. Pengaruh Aktivitas Fisik Maksimal terhadap Waktu Pembekuan Darah Tikus Putih Jantan dengan Metode Aktivitas Fisik Maksimal... 40

C. Perbedaan Pengaruh Stresor dengan Metode Bising dan AFM terhadap Waktu Pembekuan Darah Tikus Putih Jantan dengan Metode Bising dan Aktivitas Fisik Maksimal... 45 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN... 48

A. Kesimpulan... 48

B. Saran ... 48

DAFTAR PUSTAKA... 49

LAMPIRAN... 52

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel I. Faktor-Faktor Pembekuan Plasma... 21

Tabel II. Rata-Rata Waktu Pembekuan Darah Sebelum dan

Sesudah pada Kelompok Kontrol dan Kelompok

Perlakuan Bising... 34

Tabel III. Uji Normalitas Kelompok Metode Bising... 35

Tabel IV. Uji T-Berpasangan Kelompok Metode Bising... 37

Tabel V. Hasil Uji Independent T-Test Kelompok Kontrol

dengan Kelompok Perlakuan Metode Bising... 38

Tabel VI. Rata-Rata Waktu Pembekuan Darah Sebelum dan

Sesudah pada Kelompok Kontrol dan Kelompok

Perlakuan Metode Aktivitas Fisik Maksimal... 40

Tabel VII. Hasil Uji Normalitas Kelompok Metode Aktivitas

Fisik Maksimal... 42

Tabel VIII. Uji T-Berpasangan Kelompok Metode Aktivitas

Fisik Maksimal... 42

Tabel IX. Hasil Uji Independent T-Test Kelompok Kontrol

dengan Kelompok Perlakuan Metode Aktivitas

Fisik Maksimal... 43

Tabel X. Rata-Rata Waktu Pembekuan Darah pada

Kelompok Perlakuan Metode Bising dan Aktivitas

(14)

xiv

Tabel XI. Hasil Uji Normalitas Kelompok Perlakuan Metode Bising

dan Aktivitas Fisik Maksimal... 45

Tabel XII. Hasil UjiIndependent T-Testpada Kelompok Perlakuan Metode Bising dan Aktivitas

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Stres sebagai Stimulus... 7

Gambar 2. Stres sebagai Respon... 8

Gambar 3. Adaptasi terhadap Stres... 10

Gambar 4. Efek Bising terhadap Penyakit Kardiovaskuler... 14

Gambar 5. Hubungan Stres dengan Fisiologi Tubuh... 15

Gambar 6. Jalan Pembekuan Intrinsik dan Ekstrinsik... 24

Gambar 7. Hubungan Stres dengan Pembekuan Darah... 25

Gambar 8. Diagram Batang Perubahan Waktu Pembekuan Darah Kelompok Kontrol Sebelum dan Sesudah Pemaparan Bising... 36

Gambar 9. Diagram Batang Perubahan Waktu Pembekuan Darah Kelompok Perlakuan Sebelum dan Sesudah Pemaparan Bising... 36

Gambar 10. Diagram Batang Perubahan Waktu Pembekuan Darah pada Kelompok Kontrol Sebelum dan Sesudah Aktivitas Fisik Maksimal... 41

Gambar 11. Diagram Batang Perubahan Waktu Pembekuan Darah pada Kelompok Perlakuan Sebelum dan Sesudah Aktivitas Fisik Maksimal... 41

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Foto pemaparan metode bising... 53

Lampiran 2. Foto pemaparan aktivitas fisik maksimal... 53

Lampiran 3. Data waktu pembekuan darah pada kelompok metode bising... 54

Lampiran 4. Data waktu pembekuan darah pada kelompok aktivitas fisik maksimal... 54

Lampiran 5. Data hasil uji statistik... 55

Lampiran 6. Data hasil uji normalitas... 58

Lampiran 7. Data hasil uji T-berpasangan... 58

Lampiran 8. Hasil uji independent t-test kelompok kontrol dan kelompok perlakuan metode bising... 59

Lampiran 9. Hasil uji independent t-test kelompok kontrol dan kelompok perlakuan aktivitas fisik maksimal... 60

Lampiran 10. Hasil uji normalitas untuk selisih tiap kelompok perlakuan... 60

(17)

xvii

INTISARI

Segala hal yang menyebabkan stres disebut sebagai stresor dimana dapat mempengaruhi kondisi fisiologis tubuh. Salah satunya yaitu mempercepat waktu pembekuan darah. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pengaruh stresor dengan metode bising dan aktivitas fisik maksimal (AFM) terhadap waktu pembekuan darah.

Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian eksperimental murni dengan rancangan penelitian randomized pre-post test group design. Subyek penelitian menggunakan tikus putih jantan galur Wistar sebanyak dua puluh ekor dengan berat badan 200-300 gram dan usia 2-3 bulan yang dibagi acak menjadi kelompok kontrol dan perlakuan. Pemaparan bising yang diberikan dengan intensitas bunyi 85-100 dB selama 2 jam/hari selama 3 hari, sedangkan AFM berupa renang 30 menit/hari selama 3 hari. Pengukuran waktu pembekuan darah dilakukan 30 menit sebelum pemaparan stresor dan segera setelah perlakuan dengan menggunakan metode tabung (modifikasi Lee dan White). Perubahan waktu pembekuan darah sebelum dan sesudah perlakuan diuji dengan pair t-test

dan untuk mengetahui perbedaan pengaruh metode stresor digunakanindependent t-testdengan taraf kepercayaan 95%.

Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan metode bising dengan kelompok perlakuan AFM, dimana AFM memberi pengaruh yang lebih besar terhadap waktu pembekuan darah.

(18)

xviii

ABSTRACT

All the things that cause stress are called stressors, which can affect the body's physiological condition. One of them is to accelerate blood clotting time. The purpose of this study is to find out how stressors influence on blood clotting time using the method of noise and maximum physical activity (AFM).

This research is purely experimental studies with study design of randomized pre-post test group design. The study subjects using a white male Wistar rats as much as twenty-tail with 200-300 gram weight and 2-3 months of age were divided randomly into control and treatment groups. Exposure to noise is given by the intensity of 85-100 dB sound for 2 hours / day for 3 days, while the AFM in the form of swimming 30 minutes / day for 3 days. Blood clotting time measurements carried out 30 minutes before exposure to stressors and immediately after treatment using the tube method (modified Lee and White). Changes in blood clotting time before and after treatment were tested by pair t-test and to determine the effect of different stressors method used independent t-test with 95% confidence level.

Based on the analysis, it is found that there are significant differences between treatment groups and the treatment method of noise AFM, in which the AFM gives a greater influence on blood clotting

(19)

1

BAB I PENGANTAR

A. Latar Belakang

Dewasa ini di tengah permasalahan kehidupan yang kompleks seperti

himpitan ekonomi, tekanan di bidang pekerjaan mau pun penyakit yang tak

kunjung pulih serta faktor psikis yang kurang mendukung dapat mempermudah

seseorang untuk terkena stres. Stres dapat dialami oleh semua individu kapan pun

dan dimana pun. Stres merupakan respon adaptasi seseorang terhadap rangsangan,

yang menimbulkan tuntutan fisik atau psikologis berlebihan.

Stres terjadi apabila terdapat ketidaksesuaian antara tuntutan yang harus

dipenuhi dengan kemampuan yang kita miliki untuk mengatasinya (Looker dan

Gregson, 2005). Stres dapat timbul akibat tekanan psikososial (emosi) maupun

tekanan fisik.

Dalam kondisi stres, bukanlah stres itu sendiri yang paling ditakutkan

sebab semua orang pernah mengalami stres namun lebih dititikberatkan pada

respon tubuh terhadap stres tersebut yang nantinya dapat berpengaruh terhadap

kondisi kesehatan seseorang.

Menurut Cannon, apabila organisme mengalami adanya ancaman maka

tubuh secara cepat akan merangsang sistem saraf simpatetik dan endokrin (Smet,

1994). Stres menyebabkan beberapa perubahan pada sistem kardiovaskuler. Pada

(20)

dan faktor pembekuan darah yang dapat menyebabkan terjadinya serangan

jantung (Safarino, 2007).

Pada konsep “General Adaptation Syndrome” dinyatakan bahwa adanya stres menyebabkan respon darurat adrenosimpatetik. Peningkatan respon

adrenosimpatetik akan menyebabkan aktivasi koagulasi (Atwitasari, 2007).

Aktivasi koagulasi dimaksudkan untuk mengatasi pendarahan selama individu

melakukan perlawanan terhadap stresor (Looker dan Gregson, 2005).

Stres dapat meningkatkan faktor hemostatis yang nantinya akan

meningkatkan respon fibrinogen, meningkatkan faktor hemostatik (faktor VII) dan

protein fase akut (fibrinogen) (Ho, Neo, Chua, Cheak dan Mak, 2010).

Bising dapat mempengaruhi sistem pendengaran yang akan dikirim ke

otak termasuk dalam sistem limbik. Sistem limbik ini berhubungan langsung

dengan sistem saraf otonom, sehingga jika terjadi efek yang buruk pada sistem

limbik maka saraf otonom akan teraktivasi untuk mengatasi stres yang muncul

(Babisch, 2006).

Adanya aktivitas fisik (AFM) dapat menginduksi terjadinya perubahan

hemostasis dalam darah dan dapat mengarah pada aktivasi koagulasi darah dan

fibrinolisis. AFM ini juga akan mengaktivasi sel darah (Rostami dan Farhadi,

2011).

Pada waktu stres, hipotalamus akan melepas hormon adrenalin dan

hormon kortisol secara berlebihan. Hipotalamus memberi sinyal kepada kelenjar

(21)

dilepaskan ke dalam pembuluh darah. Hormon-hormon ini mempersiapkan

seseorang untuk bereaksi cepat dan efektif (fight-flight response)(Watson, 2000). Menurut Kanel, subyek dengan kadar adrenalin yang tinggi memiliki kadar

plasma fibrinogen yang lebih tinggi (Kanel,et al, 2004).

Adanya peningkatan pembekuan darah dapat mengurangi risiko

kehilangan darah ketika mendapatkan luka selama serangan atau melarikan diri

(Looker dan Gregson, 2005). Namun adanya peningkatan pembekuan darah ini

akan membuat darah cepat membeku yang dapat menyebabkan terjadinya

penyumbatan pada pembuluh darah yang dapat meningkatkan risiko penyakit

kardiovaskuler (Olvera, 2009). Adanya gumpalan darah juga dapat menyebabkan

terjadinya stroke iskemik (Anonim 1a, 2012). Pada penelitian ini lebih ditekankan

pada risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler.

Berdasarkan hal tersebut, peniliti ingin mengetahui pengaruh stres

dengan metode bising dan aktivitas fisik maksimal terhadap waktu pembekuan

darah sehingga diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat

mengenai dampak stres terhadap waktu pembekuan darah yang nantinya dapat

memacu timbulnya penyakit kardiovaskuler yang berakibat pada kematian

mendadak.

1. Permasalahan

Dari latar belakang tersebut, maka penelitian ini diharapkan dapat

digunakan untuk mengetahui:

a. Bagaimana pengaruh stresor dengan metode bising dan aktivitas fisik

(22)

b. Metode stresor apakah yang memberikan pengaruh signifikan terhadap

penurunan waktu pembekuan darah?

2. Keaslian penelitian

Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya antara lain:

a. Pengaruh Latihan Fisik Jangka Pendek Menggunakan Metode Harvard Step

terhadap Waktu Pembekuan Darah (Atwitasari, 2007). Berdasarkan penelitian,

diperoleh hasil bahwa terdapat penurunan waktu pembekuan darah pada

subyek percobaan (manusia) pada saat sesudah latihan dibandingkan sebelum

latihan menggunakan metodeHarvard Step yang berbeda bermakna.

b. Pengaruh Waktu Aktifitas Fisik Ringan Terhadap Beda Rerata Waktu

Pembekuan dalam Sistem Koagulasi (Prihadi, 2007). Dari penelitian diperoleh

perbedaan waktu pembekuan darah yang bermakna antara latihan fisik

(denganergocycle) selama 6 menit dan 12 menit.

c. Pengaruh Kebisingan terhadap Jumlah Leukosit Mencit BALB/C (Inayah,

2008). Dari penelitian ini diperoleh hasil jumlah leukosit kelompok yang

diberi kebisingan akut lebih tinggi dibanding kelompok kontrol tetapi masih

dalam rentang yang normal.

d. Pengaruh Aktivitas Fisik Maksimal terhadap Jumlah Leukosit dan Hitung

Jenis Leukosit pada Mencit (Mus musculus L) Jantan (Harahap,2008). Berdasarkan penelitian diperoleh hasil bahwa aktivitas fisik maksimal dapat

meningkatkan jumlah leukosit dan hitung jenis limfosit secara signifikan dan

AFM dapat menurunkan hitung jenis neutrofil, eosinofil dan monosit secara

(23)

Sejauh pengamatan penulis, belum pernah dilakukan penelitian mengenai

pengaruh stresor terhadap waktu pembekuan darah pada tikus putih jantan dengan

metode bising dan aktivitas fisik maksimal.

3. Manfaat penelitian

Dengan adanya penelitian mengenai pengaruh stresor dengan metode

bising dan aktivitas fisik maksimal terhadap waktu pembekuan darah pada tikus

putih jantan, diharapkan memberikan beberapa manfaat antara lain:

a. Manfaat teoritis: penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi

mengenai perbedaan pengaruh stresor dengan metode bising dan aktivitas fisik

maksimal terhadap waktu pembekuan darah.

b. Manfaat praktis: penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu

pengetahuan mengenai pengaruh stres terhadap waktu pembekuan darah bagi

farmasis, tenaga kesehatan lain dan masyarakat.

B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh stres terhadap waktu

pembekuan darah.

2. Tujuan khusus:

Bertujuan mengetahui perbedaan pengaruh stresor dengan metode bising

dan aktivitas fisik maksimal terhadap waktu pembekuan darah serta mengetahui

metode yang memberikan pengaruh signifikan dalam menurunkan waktu

(24)

6

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Stres

Stres didefinisikan sebagai sebuah keadaan yang kita alami ketika ada

ketidaksesuaian antara tuntutan-tuntutan yang diterima dan kemampuan untuk

mengatasinya. Stres adalah keseimbangan antara bagaimana kita memandang

tuntutan-tuntutan dan bagaimana kita berpikir bahwa kita dapat mengatasi semua

tuntutan yang menentukan apakah kita tidak merasakan stres, merasakan distres

atau eustres (Looker dan Gregson, 2005). Stres merupakan respon adaptasi

seseorang terhadap rangsangan, yang menimbulkan tuntutan fisik atau psikologis

berlebihan.

Menurut Atkinson et al, stres terjadi jika orang dihadapkan dengan peristiwa yang mereka rasakan sebagai ancaman kesehatan fisik atau

psikologisnya (Atkinson, Atkinson, Smith, Bem, 2010).

B. Stresor

Stres merupakan bagian yang tak terhindarkan dari kehidupan kita.

Segala hal yang menyebabkan aktivasi respon stres disebut sebagai stresor

(Looker dan Gregson, 2005). Kondisi stres memiliki dua komponen, yakni secara

psikologis dan secara fisik. Secara psikologis meliputi bagaimana individu

menanggapi keadaan di sekitarnya sedangkan secara fisik meliputi tantangan yang

(25)

psikologis dan fisik ini disebut sebagai stresor. Respon fisiologis dan psikologis

terhadap stresor disebut sebagaistrain(Sarafino, 2008).

C. Pendekatan-Pendekatan Stres 1. Stres sebagai ‘stimulus’

Pendekatan ini menitikberatkan pada lingkungan dan menggambarkan

stres sebagai suatu stimulus. Contoh: kejadian pada orang-orang yang mempunyai

pekerjaan dengan tingkatan stres yang tinggi. Menurut model ini, seorang individu

bertemu secara terus sumber-sumber stresor yang potensial. Kelemahan model ini

ditunjukkan oleh perbedaan individual, tingkat toleransi seseorang dan

harapan-harapannya (Smet, 1994). Berikut adalah skema mengenai stres sebagai stimulus:

Gambar 1. Stres sebagai stimulus (Smet, 1994).

2. Stres sebagai ‘respon’

Pendekatan ini memfokuskan pada reaksi seseorang terhadap stresor dan

menggambarkan stres sebagai suatu respon. Contoh: seseorang akan merasa stres

Enviroment

R Strain Person Stres

Stres

Stres

Stres

(26)

bila disuruh memberikan pidato di depan suatu pertemuan. Respon yang dialami

itu mengandung dua komponen, yaitu: komponen psikologis, yang meliputi:

perilaku, pola pikir, emosi dan perasaan stres; dan komponen fisiologis, berupa

rangsangan fisik yang meningkat, seperti: jantung berdebar-debar, mulut menjadi

kering, perut mules, badan berkeringat. Stres sebagai suatu respon tidak selalu

bisa dilihat. Hanya akibatnya saja yang bisa dilihat (Smet, 1994). Berikut adalah

skema tentang stres sebagai respon:

Gambar 2. Stres sebagai respon

Gambar 2. Stres sebagai respon (Smet, 1994)

3. Stress sebagai interaksi antara individu dengan lingkungan

Pendekatan ketiga menggambarkan stress sebagai suatu proses yang

meliputi stresor dan strain dengan menambahkan dimensi hubungan antara individu dengan lingkungan. Di dalam proses hubungan ini termasuk juga proses

penyesuaian. Individu akan memberikan reaksi stres yang berbeda pada stresor

yang sama (Smet, 1994).

Enviroment Person

Stresor

agents

Stress

respon Physiological

Behavioral Psychological

(27)

D. Tahapan Reaksi Stres

Selye mengemukakan bahwa terdapat tiga tahap reaksi oleh organisme

terhadap stress yang disebut sebagai General Adaptation Syndrome (GAS) (Bishop, 1994). Tahapan reaksi stres tersebut meliputi:

1. Fase alarm

Dikenal sebagai reaksi “fight or flight”. Pada tahap ini individu mulai mengenali adanya ancaman dari stresor sehingga akan mempersiapkan diri untuk

melawan atau menghindar. Fase alarm adalah fase saat tubuh menggerakkan

sistem saraf simpatetik untuk menghadapi ancaman langsung dan terjadi

pelepasan hormon adrenal, epinefrin dan norepinefrin (Wade dan Travis, 2007).

Tahap alarm ini berlangsung singkat, yaitu antara satu menit hingga 24 jam

(Watson, 2000).

2. Fase pertahanan (resistance)

Pada tahap ini organisme melakukan upaya perlawanan untuk mengatasi

bahaya yang ada. Tubuh mulai berusaha untuk mengatasi stresor dan membatasi

berkembangnya stresor sehingga tubuh dapat menanggulanginya (Watson, 2000).

Selama fase ini, respon fisiologis yang terjadi pada fase alarm terus berlangsung,

namun respon-respon tersebut membuat tubuh menjadi lebih rentan terhadap

stresor lain (Wade dan Travis, 2007).

3. Faseexhausted

Pada tahap ini organisme sudah mengalami kelelahan untuk mengatasi

stresor dari lingkungan dengan kemampuan yang dimilikinya karena individu

(28)

Pada tahap ini organisme berusaha untuku melarikan diri dari situasi yang

mengancamnya (Bishop, 1994). Di bawah ini merupakan tahapan reaksi tubuh

oleh adanya stress:

Gambar 3. Adaptasi terhadap Stress (Watson, 2000)

STRESOR

REAKSI ALARM

Shock phase

EPINEPHRINE Takikardia ↑Myocardial contractility

↑Dilatasi bronkus ↑Pembekuan darah

↑ Metabolisme

NOREPINEFRIN Darah ke ginjal

↑ Renin

KORTISON Protein Katabolisme Glukogenesis

COUNTERSHOCK PHASE

STAGE OF RESISTANCE

ADAPTASI STAGE OF

EXHAUSTION

(29)

E. Reaksi Fisiologis terhadap Stres

Apa pun jenis stresor yang dihadapi, tubuh secara otomatis

mempersiapkan diri untuk menangani keadaan darurat tersebut (fight-or-flight response). Diperlukan energi yang cepat, sehingga hati melepaskan lebih banyak gula untuk menjadi bahan bakar otot. Metabolisme tubuh meningkat sebagai

persiapan untuk pemakaian energi pada tindakan fisik. Kecepatan jantung,

tekanan darah dan pernapasan meningkat. Saliva dan mukus mengering, dengan

demikian meningkatkan ukuran saluran udara ke paru-paru. Pembuluh darah di

permukaan kulit mengalami konstriksi untuk mengurangi perdarahan saat terjadi

cedera, darah membeku lebih cepat sebagai persiapan jika terjadi luka. Limpa

melepaskan lebih banyak sel darah merah untuk membawa oksigen dan sumsum

tulang menghasilkan lebih banyak sel darah putih untuk melawan infeksi.

Perubahan fisiologis tersebut terjadi akibat aktivasi sistem simpatetik dan sistem

korteks adrenal yang dikendalikan oleh hipotalamus. Hipotalamus juga disebut

sebagai pusat stres otak karena memiliki fungsi ganda dalam keadaan darurat.

Fungsi pertamanya adalah mengaktivasi cabang simpatis dari sistem saraf

otonomik. Hipotalamus menghantarkan impuls saraf ke nukleus-nukleus di batang

otak yang mengendalikan fungsi sistem saraf otonomik. Cabang simpatis dari

sistem saraf otonomik bereaksi langsung pada otot polos dan organ internal untuk

menghasilkan perubahan tubuh. Sistem simpatis juga menstimulasi medula

adrenal (bagian dalam kelenjar adrenal) untuk melepaskan epinefrin (adrenalin)

dan norepinefrin ke dalam pembuluh darah. Epinefrin memiliki efek yang sama

(30)

pada kelenjar hipofisis, bertanggung jawab secara tidak langsung untuk pelepasan

gula dari hati (Atkinson,et al,2010).

Fungsi kedua dari hipotalamus adalah aktivasi sistem korteks adrenal

dengan mengirim sinyal ke kelenjar hipofisis agar mensekresikan hormon

adrenokortikotropik (ACTH) yang meregulasi kadar glukosa dan mineral di dalam

darah (Atkinson,et al,2010).

F. Reaksi Psikologis terhadap Stress

Situasi stres menghasilkan reaksi emosional mulai dari kegembiraan

sampai emosi umum kecemasan, kemarahan, kekecewaan, dan depresi.

1. Kecemasan

Kecemasan merupakan respon yang paling umum terhadap stresor.

Kecemasan adalah emosi tidak menyenangkan yang ditandai oleh istilah

“khawatir”, “prihatin”, “tegang”, dan “takut” yang dialami oleh semua individu

dengan tingkatan yang berbeda-beda (Atkinson,et al,2010).

2. Kemarahan dan agresi

Reaksi umum lain terhadap situasi stress adalah kemarahan yang dapat

menyebabkan agresi (Atkinson,et al,2010).

3. Apati dan depresi

Walaupun respon umum terhadap frustasi adalah agresi aktif, respon

kebalikannya menarik diri dan apati juga sering terjadi. Jika kondisi stres terus

berjalan dan individu tidak berhasil mengatasinya, apati dapat memberat menjadi

(31)

ketidakacuhan yang merupakan salah satu konsekuensi frustasi (Atkinson, et al,

2010).

4. Gangguan kognitif

Seseorang dapat menunjukkan gangguan kognitif yang cukup berat jika

berhadapan dengan stresor yang serius. Mereka merasa sulit berkonsentrasi dan

mengorganisasikan pikiran secara logis. Akibatnya, kemampuan dalam

melakukan pekerjaan, terutama pekerjaan yang kompleks cenderung memburuk

(Atkinson,et al,2010).

G. Hubungan Stres dengan Fisiologi Tubuh

Sebagian besar perubahan fisiologis yang terjadi sebagai respon stres

terjadi akibat aktivasi cabang simpatik dari sistem saraf otonomik untuk

mempersiapkan tubuh melakukan tindakan darurat. Sistem saraf simpatik

mempersiapkan organisme untuk mengeluarkan energi. Aktivitas sistem saraf

otonomik tersebut dipicu oleh aktivitas di daerah otak, termasuk hipotalamus dan

sistem limbik. Impuls dari area-area tersebut ditransmisikan ke nuklei di batang

otak yang mengendalikan fungsi sistem saraf oronomik. Sistem saraf otonomik

kemudian bekerja langsung pada otot dan organ internal untuk menimbulkan

perubahan tubuh dan bekerja secara tidak langsung dengan menstimulasi hormon

(32)

Berikut ini merupakan skema tentang dampak bising terhadap penyakit

kardiovaskuler:

(33)

Dibawah ini merupakan respon tubuh terhadap stress:

Gambar 5. Hubungan stres dengan fisiologi tubuh (Sarafino, 2007)

H. Bising

Kebisingan merupakan suara yang tidak dikehendaki (Babba, 2007).

Bising merupakan peningkatan suara dengan gelombang kompleks yang tidak

beraturan, sehingga bising merupakan salah satu stresor bagi individu. Apabila

kebisingan terjadi terus menerus maka akan melampaui daya adaptasi yang dapat

menyebabkan terjadinya stres yang nantinya akan mempengaruhi kondisi

fisiologis dan psikologis seseorang (Inayah, 2008). Kebisingan adalah suatu bunyi

intensitas tinggi, merupakan pencemaran yang mengganggu dan tidak disukai, dan

dapat mengganggu percakapan (Marpaung, 2006).

Bising merupakan suatu stresor yang dapat membangkitkan sistem saraf

otonom dan sistem endokrin. Menurut Henry dalam psycho-physiological concept

bahwa bising dapat menginduksi terjadinya reaksi stres yang kemudian akan

Stres

diet buah dan sayuran latihan/aktivitas

aktivasi platelet dalam darah faktor pembekuan darah

sekresi hormon stres (katekolamin, kortikosteroid))

(34)

mempengaruhi fungsi biologis tubuh sebagai kompensasi untuk mengatasi stres

yang terjadi meliputi perubahan metabolisme, tekanan darah, curah jantung, faktor

koagulasi darah, kolesterol dan sebagainya (Berry, 2008).

I. Aktivitas Fisik Maksimal

Aktivitas fisik adalah kerja fisik yang menyangkut sistem lokomotor

tubuh yang ditujukan dalam menjalankan aktivitas hidup sehari-hari. Aktivitas

fisik merupakan setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang

memerlukan pengeluaran energi (Harahap, 2008).

Menurut Hairrudin, pada keadaan tertentu, aktifitas fisik berat dapat

memberikan pengaruh negatif yaitu menghambat atau mengganggu proses

fisiologis di dalam tubuh (Hairrudin dan Helianti, 2009).

J. Metode Perilaku Stres

Dalam penelitian ini metode stresor yang digunakan dengan metode

bising. Paparan suara yang diberikan intensitasnya >90 dB karena berdasarkan

skala intensitas kebisingan, intensitas tersebut merupakan wujud batas dengar

tertinggi dari kondisi jalan raya yang hiruk pikuk, perusahaan yang gaduh, dan

pluit polisi, dimana hal tersebut merupakan fenomena yang sering terjadi di

negara-negara berkembang. Paparan suara diberikan selama 2 jam/hari pada siang

hari dalam waktu 3 hari (Inayah, 2008).

Aktivitas fisik maksimal berupa renang sekuat-kuatnya sampai hampir

(35)

semua badan kecuali hidung dan melemahnya anggota gerak. Lamanya renang

berkisar 25-45 menit (Harahap, 2008).

K. Darah

Darah adalah cairan yang sangat kompleks, yang terdiri atas elemen

berbentuk dan plasma. Elemen berbentuk terdiri dari sel darah merah, sel darah

putih, dan trombosit (Phee, Ganong, 2010). Komponen cair darah dinamakan

plasma. Fungsi utama dari darah yaitu respirasi, nutrisi, ekskresi, memelihara

keseimbangan asam-basa normal dalam tubuh, mengatur keseimbangan air,

mengatur suhu tubunh, membentuk pertahanan terhadap infeksi melalui sel darah

putih, mengangkut hormone dan mengatur metabolisme, mengangkut metabolit

dan fungsi koagulasi (Murray, Granner, Rodwell, 2009).

Elemen-elemen berbentuk pada darah normal yang berbeda-beda

berkembang dari populasi sel progenitor atau sel punca (stem cell) yang sama yang terletak di sumsum tulang. Proses perkembangan tersebut dinamai

hematopoiesis. Hormon utama yang merangsang pembentukan eritrosit

(eritropoiesis) adalah eritropoietin. Peptida ini dihasilkan oleh ginjal dan

mengendalikan produksi sel darah merah melalui sistem umpan balik. Saat kadar

hemoglobin darah menurun, penyaluran oksigen ke ginjal berkurang sehingga

ginjal lebih banyak menghasilkan eritropoietin yang menyebabkan sumsum tulang

menghasilkan lebih banyak sel darah merah dan sebaliknya (Phee dan Ganong,

(36)

1. Eritrosit

Sel darah merah matang adalah bikonkaf berbentuk cakram yang terisi

oleh hemoglobin, yang berfungsi sebagai komponen pengangkut oksigen darah

(Phee dan Ganong, 2010).

2. Granulosit: neutrofil, eosinofil dan basofil

Granulosit adalah sel darah putih yang paling banyak ditemukan; dari

golongan sel ini, neutrofil adalah yang paling banyak. Basofil berfungsi dalam

reaksi hipersensitivitas. Eosinofil berfungsi sebagai bagian dari respons

peradangan terhadap parasit yang terlalu besar untuk ditelan oleh sel imun. Sel ini

juga terlibat dalam beberapa reaksi alergik. Neutrofil adalah “pertahanan lini

pertama” terhadap bakteri pathogen, dan jumlahnya yang rendah secara langsung

meningkatkan terjadinya infeksi bakteri (Phee dan Ganong, 2010).

3. Sel darah putih lain: monosit dan limfosit

Monosit lebih besar dari neutrofil dan memiliki satu inti. Monosit

meninggalkan sirkulasi dan menjadi makrofag jaringan serta merupakan sebagian

dari sistem retikuloendotel (Phee dan Ganong, 2010).

Limfosit adalah leukosit berinti satu dalam darah perifer. Terdapat dua

jenis limfosit, yakni limfosit-T dan limfosit-B. Limfosit-T bertanggung jawab atas

respon kekebalan selular melalui pembentukan sel yang reaktif-antigen.

Limfosit-B, jika dirangsang akan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang menghasilkan

(37)

4. Trombosit

Trombosit bukan sel, melainkan pecahan granular sel, berbentuk piringan

dan tidak berinti (Price dan Wilson, 1984). Trombosit adalah komponen integral

sistem koagulasi. Membran elemen ini merupakan sumber penting fosfolipid,

yang diperlukan untuk fungsi protein-protein sistem koagulasi dan mengandung

reseptor-reseptor penting yang memungkinkan trombosit melekat pada sel endotel

sehingga dapat terbentukplatelet plug sebagai respons terhadap cedera pembuluh darah. Trombosit disebut juga sebagai platelet yang berperan dalam transport

zat-zat kimia penting dalam proses pembekuan darah dan perlindungan sementara

dari kebocoran pembuluh darah (Phee dan Ganong, 2010).

L. Hemostasis

Hemostasis adalah suatu proses penghentian perdarahan yang bersifat

fisiologis pada pembuluh darah yang cedera untuk mencegah hilangnya darah.

Salah satu mekanismenya adalah dengan terjadinya proses pembekuan darah.

Pembekuan darah sendiri terjadi dengan melibatkan berbagai komponen di dalam

darah. Pembekuan darah ini timbul bila setelah terjadi konstriksi pembuluh darah

dan pembentukan sumbat trombosit tidak berhasil menghentikan perdarahan yang

terjadi (Prihadi, 2007).

Hemostasis dan pembekuan menyatakan serangkaian kompleks reaksi

yang mengakibatkan pengawasan perdarahan melalui pembentukan bekuan

trombosit dan fibrin di tempat cedera. Pembentukan disusul oleh resolusi atau lisis

(38)

pembekuan melindungi individu dari perdarahan masif sekunder akibat trauma

(Price dan Wilson, 1984).

M. Faktor Pembekuan

Sistem koagulasi bersifat sangat kompleks. Banyak protein terlibat baik

dalam bentuk inaktif maupun aktif yang keseimbangannya diatur secara ketat.

Terdapat dua komponen utama sistem koagulasi: trombosit dan faktor koagulasi,

yaitu protein-protein plasma. Hasil akhir aktivitas faktor koagulasi cukup

sederhana: pembentukan suatu kompleks ikatan-silang molekul-molekul fibrin

dan trombosit yang menghentikan perdarahan. Faktor koagulasi umumnya tidak

beredar dalam bentuk aktif. Sebagian besar merupakan enzim (protease serin) dan

tetap inaktif sampai dibutuhkan. Hal ini akan terlaksana jika terdapat enzim lain

yang dapat menguraikan faktor inaktif menjadi faktor aktif (Phee dan Ganong,

2010).

Faktor-faktor pembekuan, dengan kekecualian faktor III (tromboplastin

jaringan) dan faktor IV (ion kalsium), merupakan protein plasma yang bersikulasi

dalam darah sebagai molekul-molekul nonaktif (Price dan Wilson, 1984). Hasil

akhir aktivitas faktor koagulasi adalah pembentukan suatu kompleks ikatan-silang

molekul-molekul fibrin dan trombosit yang menghentikan perdarahan (Phee dan

(39)

Berikut faktor-faktor pembekuan darah yang terlibat dalam proses pembekuan darah:

Tabel I. Faktor-faktor pembekuan plasma

I Fibrinogen: prekursor fibrin (protein polimer)

II Protrombin: prekursor enzim proteolitik trombin dan mungkin aselerator konversi protrombin lain

III Tromboplastin: suatu lipoprotein jaringan aktivator protrombin

IV Kalsium: diperlukan untuk pengaktifan protrombin dan pembentukan fibrin

V Plasma aselerator globulin suatu faktor plasma yang mempercepat perubahan protrombin menjadi thrombin

VII Aselerator konversi protrombin serum: suatu faktor serum yang mempercepat perubahan protrombin

VIII Antihemofilik globulin (AHG): suatu faktor plasma yang berkaitan dengan faktor III trombosit dan faktor Christmas (IX); mengaktifkan protrombin

IX Faktor christmas: faktor serum yang berkaitan dengan faktor III trombosit dan VII; mengaktifkan protrombin

X Faktor Stuart-Prower: suatu faktor plasma dan serum; aselerator konversi protrombin

XI Plasma tromboplastin antecedent (PTA): suatu faktor plasma yang diaktifkan oleh faktor Hageman (XII): aselerator pembentukan thrombin XII Faktor Hageman: suatu faktor plasma; mengaktifkan PTA (XI)

XIII Faktor penstabil fibrin: faktor plasma; menimbulkan bekuan fibrin yang lebih kuat yang tidak larut dalam urea

- Faktor Fletcher (prekalikrein): “Contact-Activating” factor

- Faktor Fitzgerald (kininogen berat molekul besar): Contact activating factor

(Prince dan Wilson, 1984)

Fibrinogen berupa glikoprotein adhesif tak larut yang mengandung 3

sampai 5% karbohidrat yang akan diubah menjadi fibrin pada rantai pembekuan.

Fibrin merupakan substansi dasar dalam pembentukan bekuan darah. Vitamin K

diperlukan untuk biosintesis 4 jenis faktor pembekuan yaitu protrombin, faktor

VII, IX dan X. Protrombin merupakan proenzim precursor dari trombin yang

(40)

merupakan proenzim yang esensil untuk pembentukan protrombinase dalam rantai

umum dari proses pembekuan. Faktor ini diaktifkan oleh hasil dari rantai intrinsik

dan ekstrinsik. Faktor V disintesa di hati dan penting dalam pembentukan

protrombin dalam rantai umum proses pembekuan. Faktor XI merupakan

proenzim yang penting dalam rantai intrinsik proses pembekuan. Faktor XII

berperanan memulai rantai intrinsik dalam proses pembekuan. Faktor ini

teraktifkan bila bersentuhan dengan permukaan asing, juga berperan dalam proses

fibrinolisis dan sistem plasma kinin. Faktor XIII berperan dalam rantai umum

proses pembekuan dimana akan membentuk ikatan kovalen yang stabil dalam

benang-benang fibrin. Faktor jaringan (tissue factor) juga dikenal sebagai faktor III / tromboplastin yang bergabung dengan faktor VII berperan dalam rantai

ekstrinsik (Chandramin, 1997).

N. Mekanisme Pembekuan Darah

Sistem koagulasi sangat kompleks baik dalam struktur maupun

fungsinya. Sistem koagulasi dapat segera diaktifkan jika terjadi kehilangan darah

yang perlu dihentikan (Phee dan Ganong, 2007).

Pembekuan diawali pada stadium homeostasis oleh cedera pembuluh.

Vasokonstriksi adalah respon cepat terhadap cedera, diikuti oleh adesi trombosit

pada kolagen dinding pembuluh yang terbuka karena cedera. Trombosit akan

melepaskan ADP (adenosin trifosfat) yang akan membentuk gumpalan-gumpalan

trombosit yang nantinya akan menyumbat luka. Adanya trombin akan merangsang

(41)

dipengaruhi oleh faktor III trombosit yang diperkuat oleh protein filamentosa

(fibrin). Pembekuan fibrin dimulai dengan perubahan faktor X menjadi Xa. Faktor

X dapat diaktifkan melalui dua reaksi, yaitu reaksi intrinsik dan reaksi ekstrinsik

(Price dan Wilson, 1984).

Jalur intrinsik terjadi jika plasma kontak dengan kulit atau kolagen dalam

pembuluh yang rusak. Kemudian terjadi aktivasi faktor XII, XI, dan IX. Disini

juga diperlukan zat prekalikrein dan kininogen. Selanjutnya pembekuan berjalan

pada jalur bersama, dimana pada jalur ekstrinsik diaktifkan oleh faktor VII dan

Ca2+ sedangkan pada jalur intrinsik diaktifkan oleh faktor IXa, VIIIa dan Ca2+.

Kemudian faktor Xa dibantu oleh fosfolipid dari trombosit akan memecah

protrombin menjadi trombin. Trombin kemudian akan mengubah fibrinogen

menjadi fibrin. Fibrin akan distabilkan oleh faktor XIIIa menjadi jalinan fibrin

yang kuat. Fibrin-fibrin tersebut akan membentuk cross-linked yang nantinya akan menutup daerah yang cedera. Agar pembuluh darah yang rusak akibat

trauma atau cedera dapat diperbaiki sesudah perdarahan berhenti dan luka

membaik maka bekuan perlu dilarutkan melalui proses fibrinolisis. Tissue type plasminogen activator (tPA) yang ada pada jaringan vaskular akan mengikat bekuan fibrin. Kemudian tPA akan mengaktivasi plasminogen (juga berikatan

dengan bekuan fibrin) menjadi plasmin, suatu protease serin yang akan melisis

bekuan fibrin dan melarutkan bekuan. Proses diakhiri dengan inaktivasi tPA dan

(42)

Di bawah ini adalah mekanisme pembekuan darah:

Jalan intrinsik Jalan ekstrinsik

Activating surface (kolagen, kulit) Jaringan yang rusak mengeluarkan tromboplastin

XII XIIa

Lipoprotein trombosit, Ca2+

X Xa X

protrombin trombin

Ca2+, V

fibrinogen fibrin (longgar) jalan bersama

XIIIa

fibrin longgar fibrin kuat

Gambar 6. Jalan pembekuan intrinsik dan ekstrinsik (Price dan Wilson, 1984)

O. Hubungan Stres dengan Pembekuan Darah

Saat terjadi stres, tubuh akan berusaha mempertahankan fungsi

biologisnya sebagai suatu kompensasi untuk mengatasi stres.

Rangkaian lain dari respons alarm ditujukan untuk mengurangi

kehilangan darah ketika mendapatkan luka-luka selama serangan atau melarikan

diri. Epinefrin meningkatkan kecepatan pembekuan darah. Hal ini, disertai dengan

penyempitan pembuluh darah dalam proses redistribusi darah (Looker dan

Gregson, 2005). Adanya stres dapat meningkatkan faktor hemostatis seperti faktor

(43)

dapat memicu aterosklerosis dengan peningkatan agregasi platelet, peningkatan

pelepasan endothelial-derived growth factor, merangsang proliferasi sel otot polos dan peningkatan viskositas darah (Ho,et al, 2010).

Dalam konsep “General Adaptation Syndrome” disebutkan bahwa adanya stres menyebabkan respon darurat adrenosimpatetik. Peningkatan respon

adrenosimpatetik akan menyebabkan aktivasi koagulasi (Atwitasari, 2007).

Adanya AFM berhubungan dengan peningkatan faktor VIII yang ada dalam darah

(Prihadi, 2007).

Skema di bawah adalah tentang hubungan stres dengan pembekuan

darah:

Gambar 7. Hubungan stres dengan pembekuan darah (Ho,et al,2010)

Stres dapat mensimulasi sistem biologis melalui aktivasi sistem saraf

(44)

darah. Stres dapat mempengaruhi hemostasis diantaranya meningkatkan

konsentrasi fibrinogen, faktorvon Willebrand dan viskositas plasma (Steptoe dan Marmot, 2005).

Adanya aktivitas fisik dapat menginduksi terjadinya perubahan

hemostasis dalam darah dan dapat mengarah pada aktivasi koagulasi darah dan

fibrinolisis. AFM ini juga akan mengaktivasi sel darah (Rostami dan Farhadi,

2011).

P. Metode Pengukuran Waktu Pembekuan Darah

Pengukuran waktu pembekuan darah menggunakan metode Lee White.

Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan tabung plastik berdiameter 7-8 mm.

Kemudian darah dialirkan ke dalam dua tabung plastik masing-masing sebanyak

1 ml, pada saat darah kelihatan masuk ke dalam tabung plastik jalankan

stopwatch. Tabung plastik tersebut ditempatkan pada water bath dengan suhu

37oC. Tiap 30 detik tabung diangkat dari rak dan dimiringkan untuk melihat

apakah telah terjadi pembekuan. Lamanya waktu pembekuan darah dinyatakan

mulai darah mengalir ke tabung plastik hingga darah menjendal dan tidak dapat

(45)

Q. Landasan Teori

Stres dapat terjadi akibat ketidaksesuaian antara tuntutan yang dialami

dengan kemampuan untuk mengatasinya. Stres merupakan respon adaptasi

seseorang terhadap rangsangan. Adanya stres ini dapat mempengaruhi kondisi

fisiologis tubuh yang dapat memicu timbulnya suatu penyakit atau memperburuk

kondisi seseorang.

Saat terjadi stres, tubuh akan berusaha mempertahankan fungsi

biologisnya sebagai suatu kompensasi untuk mengatasi stress dengan

menstimulasi sistem saraf simpatetik untuk melepas epinefrin yang dapat

meningkatkan pembekuan darah untuk mengurangi risiko terjadinya perdarahan

jika terjadi luka saat menghadapi stresor.

Menurut penelitian Prihadi (2007), pembekuan darah yang terjadi

melibatkan proses koagulasi dan fibrinolisis. Terjadi peningkatan faktor VIII

dalam darah dan pelepasan katekolamin sebagai akibat latihan fisik. Penelitian

Atwitasari (2007) menyatakan bahwa peningkatan koagulasi adalah seperti yang

diungkapkan oleh konsep “General Adaptation Syndome”. Disebutkan bahwa aktivitas fisik sebagai salah satu bentuk stres menyebabkan respon darurat

adrenosimpatetik. Peningkatan respon adrenosimpatetik akan menyebabkan

aktivasi koagulasi.

R. Hipotesis

Stres yang disebabkan oleh bising dan aktivitas fisik maksimal akan

meningkatkan pembekuan darah pada tikus putih jantan, yang akan

(46)

28

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan

rancangan penelitian pre test dan post test group design. Pemilihan sampel dilakukan secara acak sederhana. Penelitian yang dilakukan bersifat eksploratif

dimana akan diteliti mengenai pengaruh stresor dengan metode bising dan

aktivitas fisik maksimal terhadap waktu pembekuan darah pada tikus putih jantan.

B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. Variabel penelitian

Variabel-variabel yang ada dalam penelitian ini, antara lain:

a. Variabel bebas yaitu metode stresor yang digunakan berupa metode bising dan

aktivitas fisik maksimal.

b. Variabel tergantung yaitu lamanya waktu pembekuan darah pada hewan uji.

c. Variabel pengacau terkendali yaitu jenis kelamin hewan uji yakni tikus putih

jantan galurWistar, berat badan hewan uji ±200-300 gram, usia hewan uji 2-3 bulan.

d. Variabel pengacau tak terkendali yaitu kondisi patologis hewan uji yang

(47)

2. Definisi Operasional

a. Stres yang dialami hewan uji dalam penelitian adalah saat hewan uji diberi

paparan stresor sesuai dengan metode yang ditentukan.

b. Metode bising dengan intensitas bunyi 85 sampai 100 dB yang diukur dengan

alat sound level meter dalam 2 jam/hari selama 3 hari. Tikus ditempatkan dalam suatu kotak kaca dengan ukuran 20cm x 20cm x 35cm dengan penutup

berupa kardus yang dilapisi dengan karpet sebagai peredam suara.

c. Metode aktivitas fisik maksimal berupa renang dimana tikus dibiarkan

berenang hingga hampir tenggelam di dalam akuarium kaca dengan ukuran

50cm x 30cm x 34cm dengan kedalaman air 24cm selama 30 menit/hari dalam

3 hari.

d. Pengukuran waktu pembekuan darah dilakukan 30 menit sebelum pemaparan

stresor dan segera setelah pemaparan stresor sesuai metode yang digunakan.

e. Waktu pembekuan darah adalah waktu yang diperlukan darah untuk

membeku. Penghitungan waktu pembekuan darah dimulai saat darah mengalir

pertama kali mengenai tabung plastik hingga darah berhenti mengalir saat

tabung dimiringkan karena darah menjendal.

C. Subyek Penelitian

Subyek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dua puluh

ekor tikus putih jantan galur Wistar dengan berat badan ±200-300 gram, umur 2-3

bulan yang diperoleh dari Laboratorium Imonologi, Fakultas Farmasi, Universitas

(48)

D. Alat Penelitian

Dalam penelitian alat yang digunakan adalah akuarium kaca dengan

ukuran 50cm x 30cm x 34cm dengan kedalaman air 24cm, kotak kaca dengan

tutup yang terbuat dari kardus berlapis karpet dengan ukuran 20cm x 20cm x

20cm, kandang, timbangan, tabung darah, stopwatch, mikrokapiler hematokrit,

speaker dansound level meter(alat pengukur intensitas bunyi).

E. Tata Cara Penelitian 1. Pemilihan hewan uji

Penelitian menggunakan tikus putih jantan galur Wistar sehat umur 2-3

bulan dengan berat badan ±200-300 gram sebanyak dua puluh ekor yang

diperoleh dari Laboratorium Imonologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Hewan uji dibagi dalam empat kelompok perlakuan yang masing-masing terdiri

dari lima ekor hewan uji diantaranya kelompok kontrol metode bising, kelompok

kontrol aktivitas fisik maksimal, kelompok perlakuan dengan metode bising dan

kelompok perlakuan dengan aktivitas fisik maksimal.

2. Perlakuan pada hewan uji sebelum pengujian

Sebelum digunakan dalam penelitian, hewan uji diadaptasikan terlebih

dahulu dengan lingkungan laboratorium selama 2 minggu agar hewan uji dapat

menyesuaikan dengan lingkungan laboratorium. Pada kelompok kontrol tidak

diberi perlakuan apa pun sedagkan pada kelompok perlakuan diberi perlakuan

(49)

darah tikus pada kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan. Pengambilan

darah dilakukan melalui mata agar proses keluarnya darah lebih cepat dank arena

volume dara yang diperlukan sebanyak 2 ml.

3. Metode perlakuan stres

a. Pelakuan metode bising

Pada metode ini tikus diletakkan ke dalam sebuah kandang yang kedap

suara. Kemudian diberi suara bising berupa suara kendaraan bermotor dengan

intensitas 85 sampai 100 dB yang dipaparkan selama 2 jam/hari dalam waktu 3

hari (Inayah, 2008).

b. Perlakuan metode aktivitas fisik maksimal.

Aktivitas fisik maksimal berupa renang sekuat-kuatnya sampai hampir

tenggelam atau nampak tanda-tanda kelelahan berupa tenggelamnya hampir

semua badan kecuali hidung dan melemahnya anggota gerak. Lamanya renang 30

menit/hari dalam 3 hari (Harahap, 2008).

4. Pengukuran waktu pembekuan darah

Setelah pemaparan stresor dilakukan pengukuran terhadap waktu

pembekuan darah pada kelompok perlakuan. Demikian juga pada kelompok

kontrol. Pengukuran waktu pembekuan darah menggunakan metode Lee White.

Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan tabung darah berdiameter 7-8 mm.

Kemudian darah diambil dari mata dan dialirkan dalam dua tabung

(50)

stopwatch. Tabung tersebut ditempatkan pada water bath dengan suhu 37oC. Tiap

30 detik tabung diangkat dan dimiringkan untuk melihat apakah telah terjadi

pembekuan.

F. Analisis Hasil

Data yang diperoleh berupa lamanya waktu pembekuan darah yang

dinyatakan dalam detik pada setiap kelompok. Kemudian hasil pengukuran

sebelum dan sesudah perlakuan dalam satu stresor diuji denganpaired t-test untuk melihat perubahan yang terjadi pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan.

Signifikansi antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dalam satu

(51)

33

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pengaruh Metode Bising terhadap Waktu Pembekuan Darah pada Tikus Putih Jantan

Sebelum penelitian, hewan uji diadaptasikan di dalam laboratorium

selama dua minggu. Hal ini dilakukan agar hewan uji mampu menyesuaikan diri

dengan lingkungan laboratorium sehingga dapat dipastikan bahwa stres yang

terjadi bukan karena faktor luar melainkan karena stresor yang dipaparkan pada

hewan uji. Pemaparan metode bising dengan intensitas bunyi 85-100 dB diukur

dengan alat sound level meter yang diberikan dalam waktu 2 jam selama 3 hari berturut-turut. Sebelum pemaparan bising dilakukan pengambilan darah pada

kelompok kontrol mau pun pada kelompok perlakuan. Darah diambil melalui

mata mengingat jumlah darah yang diambil cukup banyak sehingga jika darah

diambil dari ekor, dikhawatirkan proses keluarnya darah membutuhkan waktu

cukup lama sehingga darah akan segera membeku.

Pada kelompok perlakuan, pengambilan darah dilakukan 30 menit

sebelum hewan uji dipapari bising agar nantinya stres yang timbul benar-benar

akibat dari pemaparan bising. Bising yang diberikan berupa suara helikopter dan

mesin rotor, hewan uji menunjukkan tanda-tanda stres berupa gelisah serta

mengeluarkan banyak urin dan feses dengan konsistensi yang lebih lunak. Setelah

pemaparan stresor selama 2 jam pada hari ke 3, darah kembali diambil untuk

melihat perbedaan yang terjadi sebelum dan sesudah pemberian bising.

(52)

dikarenakan agar perubahan waktu pembekuan darah yang terjadi adalah akibat

dari paparan bising. Dalam penelitian ini digunakan metode Lee-White untuk

mengukur waktu pembekuan darah sehingga dengan metode ini tidak dapat

melihat kadar fibrinogen, trombin dan protrombin.

Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh data waktu pembekuan darah

dari perlakuan metode bising sebagai berikut:

Tabel II. Rata-Rata Waktu Pembekuan Darah Sebelum dan Sesudah Pemaparan Bising pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan

Kelompok Rata-Rata Waktu Pembekuan Darah (detik) ± SE

Sebelum Perlakuan Sesudah Perlakuan

Kontrol 143 ± 5,1 149 ± 9,7

Perlakuan 148,6 ± 9,3 119,2 ± 11,1

Dari data di atas tampak bahwa pada kelompok kontrol didapatkan

perbedaan yang tidak bermakna sebelum dan setelah 120 menit sedangkan pada

kelompok perlakuan tampak adanya perbedaan yang cukup bermakna sebelum

dan sesudah dipapari bising selama 120 menit. Rata-rata selisih lamanya waktu

pembekuan pada kelompok kontrol adalah 6 detik, sedangkan pada kelompok

perlakuan 29,4 detik. Untuk mengetahui sebaran distribusi data maka dilakukan

uji normalitas. Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan uji Saphiro-Wilk

karena jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini kurang dari 50 sampel.

Berdasarkan uji normalitas diperoleh hasil bahwa sampel terdistribusi normal

(53)

Tabel III. Uji normalitas metode bising

Shapiro - Wilk Statistik Df Sig.

Sebelum Bising (K) 0,956 5 0,782 Sesudah Bising (K) 0,910 5 0,469 Sebelum Bising (P) 0,978 5 0,924 Sesudah Bising (P) 0,884 5 0,327

Dari data diperoleh hasil untuk kelompok kontrol sebelum 120 menit

adalah p = 0,782 dan untuk kelompok kontrol setelah 120 menit adalah p = 0,469.

Sedangkan dari kelompok perlakuan sebelum pemaparan bising menunjukkan p =

0,924 dan pada kelompok perlakuan setelah pemaparan bising diperoleh p =

0,327. Dengan demikian menunjukkan bahwa data terdistribusi normal.

Untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antara sebelum dan

sesudah perlakuan maka dilakukan uji t berpasangan karena data sebelum dan

setelah perlakuan merupakan dua data yang berpasangan dan terdistribusi normal.

Dinyatakan berbeda bermakna jika p < 0,05. Dari data kelompok kontrol

diperoleh selisih rata-rata kelompok kontrol adalah 6 ± 8,2 dengan p = 0,503 (p >

0,05). Hal ini menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada

kelompok kontrol karena pada kelompok kontrol tidak diberi perlakuan apa pun

sehingga pada kelompok kontrol diharapkan tidak terjadi perubahan waktu

pembekuan darah yang bermakna. Sedangkan pada kelompok perlakuan diperoleh

selisih rata-rata sebelum dan sesudah perlakuan adalah 29,4 ± 4,0 dengan p =

(54)

terdapat perbedaan yang bermakna sebelum dan sesudah pemaparan bising, yang

ditunjukkan dengan menurunnya waktu pembekuan darah.

Berikut diagram batang yang menunjukkan perbedaan waktu pembekuan

darah sebelum dan sesudah 120 menit pemaparan bising:

Gambar 8. Diagram perubahan waktu pembekuan darah sebelum dan sesudah pemaparan bising pada kelompok kontrol

Gambar 9. Diagram perubahan waktu pembekuan darah sebelum dan sesudah pemaparan bising pada kelompok perlakuan

(55)

Tabel IV. Uji T-Berpasangan kelompok metode bising

-6, 18,23458 8,15475 -,736 4 ,503

P_sblm_BSG -P_ssdh_BSG

29,4 8,93308 3,99500 7,359 4 ,002

Kemudian dilakukan analisis independent t-test yang merupakan suatu sampel tidak berpasangan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang

bermakna antara kelompok kontrol dengan kelompok pemaparan bising. Pada uji

ini akan dianalisis selisih waktu pembekuan darah dari kelompok kontrol dengan

kelompok perlakuan. Sebelum dilakukan uji statistik 2 sampel tidak berpasangan

maka terlebih dulu dilakukan uji normalitas untuk masing-masing selisih pada

kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Berdasarkan uji normalitas diperoleh

nilai p kelompok kontrol adalah 0,162 dan kelompok perlakuan p = 0,906.

Keduanya menunjukkan bahwa distribusi data normal sehingga selanjutnya dapat

(56)

Tabel V. Hasil uji independent t-test kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan metode bising

Levene's Test for Equality of

Variances t-test for Equality of Means

F Sig. t df

Equal variances assumed 7,402 ,026 -3,898 8 ,005 -35,4 9,08075

Equal variances not assumed -3,898 5,815 ,009 -35,4 9,08075

Hasil uji menyatakan terdapat perbedaan yang bermakna (H0 ditolak )

jika diperoleh nilai p < 0,05. Pada tabel di atas diperoleh p = 0,005 sehingga dapat

disimpulkan bahwa kelompok kontrol berbeda bermakna dengan kelompok

perlakuan metode bising. Dengan demikian dapat diketahui bahwa adanya stresor

yang berupa bising dapat mempersingkat waktu pembekuan darah.

Bising dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi seorang individu

dimana dapat menyebabkan perasaan gelisah, kurangnya konsentrasi dan juga

depresi yang dapat bermanifestasi pada terjadinya stres. Menurut Babisch, adanya

bising dapat menyebabkan stres secara langsung mau pun tak langsung.

Pemaparan bising secara langsung dapat menyebabkan gangguan pendengaran

dan secara tak langsung dapat berakibat pada gangguan kognitif dan respon emosi

atau psikososial yang dapat bermanifestasi pada terjadinya stres. Reaksi stres ini

akan membangkitkan respon sistem saraf otonom dan juga sistem endokrin yang

dapat meningkatkan faktor risiko terjadinya kenaikan tekanan darah, curah

(57)

yang semuanya itu dapat menyebabkan penyakit kardiovaskuler berupa hipertensi,

aterosklerosis, dan penyakit jantung iskemik (Babisch, 2006).

Bising dapat mempengaruhi sistem pendengaran yang akan dikirim ke

otak termasuk dalam sistem limbik. Sistem limbik berfungsi mengendalikan

emosi, mengendalikan hormon, memelihara homeostasis, rasa haus, rasa lapar,

dan juga metabolisme. Sistem limbik ini berhubungan langsung dengan sistem

saraf otonom, sehingga jika terjadi efek yang buruk pada sistem limbik maka saraf

otonom akan teraktivasi untuk mengatasi stres yang muncul (Babisch, 2006).

Stres yang ditimbulkan oleh bising ini merupakan stres psikososial yang

dapat menstimulasi hipotalamus untuk melepaskan hormon katekolamin seperti

epinefrin dan norepinefrin (Babisch, 2006). Adanya hormon alami stres akan

mempengaruhi fungsi hemostatik dalam peningkatan TAT (trombin/antitrombin

III). Perubahan epinefrin dan norepinefrin akibat aktivasi sistem saraf simpatetik

berkaitan dengan pembentukan trombin. Melalui stimulasi reseptor endotel β2

-adrenergik, hormon stres akan melepas faktor pembekuan VIII, faktor von Willebrand dari tempat penyimpanan ke dalam sirkulasi. Stres berhubungan

dengan reseptor β2-adrenergik yang akan berpengaruh terhadap koagulasi dan

fibrinolisis yang dapat menyebabkan perubahan TAT (Kanel dan Dimsdale,

2003).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa adanya pemaparan bising

dengan intensitas bunyi 85-100 dB dapat meningkatkan proses pembekuan darah

(58)

B. Pengaruh Aktivitas Fisik Maksimal terhadap Waktu Pembekuan Darah pada Tikus Putih Jantan

Pada penelitian ini aktivitas fisik maksimal yang diberikan berupa

renang. Dimana hewan uji dibiarkan berenang sampai hampir tenggelam dalam

sebuah akuarium kaca. Hewan uji diberi stimulus agar tetap berenang untuk

mempertahankan dirinya sehingga aktivitas fisiknya akan maksimal. Renang yang

dilakukan dalam waktu 30 menit selama 3 hari berturut-turut. Dalam waktu 30

menit tersebut hewan uji menunjukkan tanda-tanda kelelahan berupa mencicit dan

terus aktif bergerak untuk mempertahankan diri agar tidak tenggelam.

Pengambilan darah dilakukan 30 menit sebelum hewan uji melakukan aktivitas

fisik maksimal, hal ini bertujuan agar stres yang timbul adalah karena adanya

aktivitas fisik maksimal dari hewan uji. Setelah 3 hari, darah kembali diambil

untuk melihat perubahan yang terjadi pada waktu pembekuan darah sebelum dan

sesudah aktivitas fisik maksimal. Darah diambil melalui mata karena jumlah darah

yang diambil cukup banyak dan diperlukan proses pengambilan darah yang cepat.

Berdasarkan hasil penelitian pada kelompok aktivitas fisik maksimal

diperoleh data sebagai berikut:

Tabel VI. Rata-Rata Waktu Pembekuan Darah Sebelum dan Sesudah Aktivitas Fisik Maksimal pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan

Kelompok Rata-Rata Waktu Pembekuan Darah (detik) ± SE

Sebelum Perlakuan Sesudah Perlakuan

Kontrol 147,8 ± 9,9 142 ± 8,4

(59)

Berdasarkan data diatas dapat diketahui selisih rata-rata pada kelompok

kontrol adalah 0,6 detik sedangkan pada kelompok perlakuan AFM adalah 65,2

detik. Tampak bahwa pada perlakuan terdapat perbedaan yang bermakna sebelum

dan sesudah aktivitas fisik maksimal.

Berikut diagram rata-rata perubahan waktu pembekuan darah sebelum

dan sesudah perlakuan:

Gambar 10. Diagram perubahan waktu pembekuan darah sebelum dan sesudah aktivitas fisik maksimal pada kelompok kontrol

(60)

Gambar 11. Diagram perubahan waktu pembekuan darah sebelum dan sesudah aktivitas fisik maksimal pada kelompok perlakuan

Kemudian untuk mengetahui sebaran distribusi sampel dilakukan uji

normalitas.

Tabel VII. Hasil uji normalitas kelompok aktivitas fisik maksimal

Shapiro - Wilk Statistik Df Sig.

Sebelum Renang (K) 0,959 5 0,803 Sesudah Renang (K) 0,955 5 0,776 Sebelum Renang (P) 0,944 5 0,694 Sesudah Renang (P) 0,983 5 0,948

Dari data diatas diperoleh nilai probabilitas dari kelompok perlakuan

sebelum aktivitas fisik maksimal sebesar 0,694 dimana p > 0,05 dan pada

kelompok perlakuan sesudah aktivitas fisik maksimal sebesar 0,948 dengan p >

0,05. Pada kelompok kontrol juga memperlihatkan hasil bahwa probabilitas yang

diperoleh lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data pada

kelompok aktivitas fisik maksimal ini terdistribusi normal yang selanjutnya dapat

diuji menggunakan uji t berpasangan untuk mengetahui perbedaan sebelum dan

sesudah perlakuan.

Tabel VIII. Hasil ujipair t testkelompok aktivitas fisik maksimal

Paired Differences

Mean Std. Deviation Std. Error Mean t df Sig. (2-tailed)

K_sblm_AFM -K_ssdh_AFM

5,8 12,83355 5,73934 1,011 4 ,369

P_sblm_AFM -P_ssdh_AFM

(61)

Dari data diatas diketahui bahwa pada kelompok kontrol diperoleh nilai p

= 0,369 sehingga pada kelompok kontrol dinyatakan tidak terdapat perbedaan

yang bermakna pada waktu pembekuan darah karena p > 0,05. Sedangkan pada

kelompok perlakuan didapat probabilitas senilai 0,000 dimana nilai p < 0,05. Hal

ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna sebelum dan sesudah

adanya aktivitas fisik maksimal. Uji normalitas untuk selisih menunjukkan p =

0,139 untuk kontrol dan p = 0,996 untuk perlakuan.

Selanjutnya akan dilakukan uji independent t-test untuk melihat perbedaan antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan. Berdasarkan

hasil statistik diperoleh data sebagai berikut:

Tabel IX. Hasil uji independent t-test kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan aktivitas fisik maksimal

Independent Samples Test

Levene's Test for Equality of Variances

t-test for Equality of Means

F Sig. t df

,000 ,987 -7,689 8 ,000 -59,4 7,72528

Equal variances not assumed

-7,689 7,915 ,000 -59,4 7,72528

Dari data di atas nilai probabilitas yang diperoleh dari uji selisih rata-rata

adalah 0,000 (p < 0,05) yang berarti H0 ditolak dan terdapat perbedaan yang

bermakna antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan aktivitas fisik

(62)

peningkatan proses pembekuan darah yang ditunjukkan dengan cepatnya waktu

pembekuan darah.

Aktivitas fisik maksimal dapat mengganggu kondisi homeostasis tubuh

(Bawono, 2011). Untuk mengatasi hal tersebut, tubuh akan menstimulasi sistem

saraf simpatetik untuk melepas epinefrin dan norepinefrin dari kelenjar adrenal

untuk mengembalikan kondisi homeostasis. Salah satunya dengan meningkatkan

pembekuan darah untuk mengurangi risiko perdarahan jika terjadi luka (Watson,

2000). Pada individu yang mengalami kelelahan maka akan terjadi peningkatan

faktor VIII (Smith, 2002) dan fibrinogen (Kop, et al,1998). Menurut Atwitasari, peningkatan faktor VIII yang terjadi berhubungan langsung dengan aktivitas fisik.

Aktivitas fisik dapat menyebabkan respon darurat adrenosimpatetik. Peningkatan

respon adrenosimpatetik akan menyebabkan aktivasi koagulasi (Atwitasari, 2007).

Stresor yang berupa aktivitas fisik maksimal dapat menyebabkan terjadinya stres,

sehingga akan mempercepat koagulasi untuk menghindari terjadinya perdarahan

selama perlawanan terhadap stresor. Menurut Radahmadi (2005), aktivitas fisik

maksimal dapat menyebabkan hewan uji mengalami stres psikologis dimana

hewan uji merasa takut jika tenggelam dan juga stres fisik akibat kerja fisik yang

kuat.

Dengan demikian tampak bahwa adanya aktivitas fisik maksimal dapat

mempercepat proses pembekuan darah yang dapat mengakibatkan penurunan

(63)

C. Perbedaan Pengaruh Stresor dengan Metode Bising dan Aktivitas Fisik Maksimal terhadap Waktu Pembekuan Darah

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode mana yang lebih

berpotensi dalam menurunkan waktu pembekuan darah. Berdasarkan penelitian

diperoleh data sebagai berikut:

Tabel X. Rata-Rata Selisih Waktu Pembekuan Darah pada Kelompok Perlakuan Bising dan Aktivitas Fisik Maksimal

Perlakuan Metode Bising (detik)

Perlakuan Metode AFM (detik) Rata-rata 29,4 ± 4,0 65,2 ± 5,2

Kemudian untuk mengetahui sebaran distribusi data dilakukan uji

normalitasSaphiro-Wilk.

Berdasarkan hasil analisis diperoleh normalitas sebagai berikut:

Tabel XI. Hasil uji normalitas kelompok bising dan aktivitas fisik maksimal

Shapiro - Wilk Statistik Df Sig.

Bising 0,975 5 0,906 AFM 0,996 5 0,996

Dari data diatas menunjukkan bahwa nilai probabilitas dari metode bising

adalah 0,906 dan AFM adalah 0,996 dimana p > 0,05 sehingga dengan demikian

Gambar

Tabel XII.Hasil Uji Independent T-Test pada Kelompok Perlakuan
Gambar 1. Stres sebagai stimulus (Smet, 1994).
Gambar 2. Stres sebagai respon
Gambar 3. Adaptasi terhadap Stress (Watson, 2000)
+7

Referensi

Dokumen terkait

: Produ ksi Pektin dart Kulit Jeruk Lemon. (Citrus

Sahabat MQ/ uang sebagai alat tukar telah dikenal oleh manusia dan terus berkembang selama ribuan tahun// Dalam bidang perekonomian/ uang memiliki arti yang

YOGYAKARTA / HARUS RELA TIDAK LAGI MENDAPATKAN BANTUAN SOSIAL DARI PEMERINTAH // KARENA PROGRAM BLT ADALAH PROGRAM PEMERINTAH PUSAT. DAN PEMERINTAH DAERAH HANYA SEBAGAI

Deep Ecology memusatkan perhatian pada semua spesies termasuk spesies bukan manusia, demikian pula Deep Ecology tidak hanya memusatkan perhatian jangka pendek,

 Pada kotak ‘ Link’, Anda bisa memilih ‘ Parent’ untuk membuat sub menu pada kanal, klik ‘Add URL’ untuk menghubungkan menu dengan halaman atau website tertentu..

Penulis berharap dengan hasil penelitian ini dapat membantu para akademisi untuk dapat mempelajari bagaimana menganalisis secara langsung mengenai pengaruh image,

• Untuk setiap pembukaan secara kolektif, selain surat rekomendasi keanggotaan NU agar PC NU juga dapat menyampaikan surat pengantar dokumen kolektif/ bast ke Cabang Bank Mandiri

Perilaku Karet Remah dalam Kuat Tekan Lapis Tipis Campuran Aspal Panas yang menunjukkan nilai paling bagus dan efektif adalah pada kadar 0.1% dibandingkan dengan kadar lain