BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
H. Pembahasan
1. Pengaruh Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan
Berdasarkan teori motivasi Herzberg (1950:124), ada hal penting yang harus diperhatikan dalam memotivasi bawahan yaitu: 1) pekerjaan yang menantang, yang mencakup perasaan berprestasi, bertanggung jawab, kemajuan, dapat menikmati pekerjaan itu sendiri, dan adanya pengakuan atas semuanya. 2) Hal-hal yang mengecewakan karyawan seperti faktor yang bersifat embel-embel saja pada pekerjaan, peraturan pekerjaan, penerangan, istirahat, sebutan jabatan, hak, gaji, tunjangan, dan lain-lain. 3) Karyawan akan kecewa apabila peluang untuk berprestasi
Motivasi
Kepuasaan
Masa Kerja
Kinerja Karyawan
terbatas. Mereka akan menjadi sensitif pada lingkungannya serta mulai mecari-cari kesalahan.
Robbins (2011:90) mengungkapkan bahwa kinerja karyawan merupakan fungsi dari interaksi antara kemampuan (ability) dan motivasi (motivation). Tetapi masih ada yang hilang dari bagian itu selain kemampuan dan motivasi yaitu kesempatan. Motivasi kerja adalah suatu proses dimana kebutuhan mendorong seseorang untuk melakukan serangkaian kegiatan yang mengarah tercapainya tujuan tertentu. Motivasi kerja karyawan yang tinggi akan membawa dampak yang positif bagi perusahaan dan akan mempengaruhi terciptanya komitmen organisasi (Suseno dan Sugiyanto, 2010:312).
Hal tersebut didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Sitepu, A.T., (2013) dan Afni Can (2013) yang menyatakan bahwa motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Perusahaan perlu menerapkan suatu hal agar karyawan termotivasi seperti pemberian kompensasi (fisiologis), memberikan rasa aman, perlakuan yang baik dari rekan-rekan, penghargaan yang diberikan, dan tantangan- tantangan baru yang dapat mengembangkan kemampuan karyawan. Karyawan yang termotivasi dengan baik dapat menunjang kinerja mereka ke arah yang lebih baik.
Dari uraian diatas maka hipotesis dirumuskan sebagai berikut: H1 : Motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja
2. Pengaruh Kepuasan terhadap Kinerja Karyawan
Kepuasan kerja dalam hal apapun sangat penting karena kecenderungan untuk meningkatkan kinerja karyawan dalam perusahaan tidak akan dapat tercapai tanpa adanya kepuasan kerja karyawan. Dimana pihak perusahaan memang harus selalu memperhatikan kepuasan kerja karyawannya karena kalau karyawannya merasa puas maka yang akan merasa untung adalah perusahaannya itu sendiri. Dan hal ini sangat berpengaruh pada tujuan dari perusahaan. Selain itu karyawan yang merasa puas dalam bekerja senantiasa akan selalu bersikap positif dan selalu mempunyai kreativitas yang tinggi.
Menurut Martoyo (2000:132) kepuasan kerja adalah keadaan emosional karyawan di mana terjadi ataupun tidak terjadi titik temu antara nilai balasyang memang di inginkan oleh karyawan yang bersangkutan. Balas jasa karyawan ini, baik berupa financial maupun nonfinancial. Kepuasan kerja yang diterima dan dirasakan oleh seseorang pegawai akan berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh dari pekerjaannya. Dengan diperolehnya kepuasan kerja oleh pegawai baik itu dengan pemberian gaji yang sesuai, pekerjaan yang diberikan sesuai dengan keahliannya, dan hubungan dengan atasan terjalin dengan baik, hal ini akan meningkatkan kinerja para pegawainya (Luthans, 2006:243).
Hal tersebut didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Rosita (2016) dan menyatakan bahwa kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikaan terhadap kinerja karyawan. Hal ini menunjukkan bahwa
semakin tinggi kepuasan kerja karyawan maka semakin tinggi pula kinerja karyawan. Begitu pula sebaliknya semakin rendah kepuasan kerja karyawan maka semakin rendah pula kinerja karyawan.
Dari uraian diatas maka hipotesis dirumuskan sebagai berikut: H2 : Kepuasan Kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kinerja karyawan
3. Pengaruh Motivasi terhadap Kinerja Karyawan dengan Dimoderasi
Masa Kerja
Menurut Rofi (2012:90) menyatakan bahwa kinerja karyawan yang dipengaruhi oleh motivasi berkaitan dengan pengalaman kerja dari masing-masing karyawan, karena dengan memperoleh pengalaman kerja, maka tugas yang dibebankan dapat dikerjakan dengan baik dan pengalaman kerja jelas sangat mempengaruhi kinerja karyawan, karena dengan mempunyai pengalaman kerja, maka prestasi kerja dan kinerja pun akan meningkat. Masa kerja juga merupakan variabel yang paling penting dalam menjelaskan tingkat pengunduran diri karyawan (Robbins, 2006:103). Semakin lama karyawan bekerja dalam suatu perusahaan semakin kecil kemungkinan karyawan tersebut akan mengundurkan diri. Bukti juga menunjukkan bahwa masa kerja pekerjaan terdahulu dari seorang karyawan merupakan perkiraan yang ampuh atas pengunduran diri karyawan dimasa mendatang (Robbins, 2006:145)
Hal tersebut didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Haryanti dan Ardana (2014) yang menyatakan bahwa Wu, Longzeng, dkk.
(2011) menyatakan bahwa masa bekerjannya atau pengalaman kerja berpengaruh secara positif terhadap kinerja. Zainullah, dkk. (2012) menyebutkan bahwa pengalaman kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja. Semakin masa kerja karyawan maka semakin tinggi pula motivasi serta kinerja karyawan tersebut. Hal tersebut menunjukan bahwa masa kerja memperkuat hubungan antara motivasi terhadap kinerja karyawan.
Dari uraian diatas maka hipotesis dirumuskan sebagai berikut: H3 : Masa Kerja memoderasi pengaruh motivasi terhadap kinerja
karyawan
4. Pengaruh Kepuasan kerja terhadap Kinerja Karyawan dengan
Dimoderasi Masa Kerja
Kepuasan kerja merupakan hal penting yang dimiliki individu di dalam bekerja. Setiap individu pekerja memiliki karakteristik yang berbeda-beda, maka tingkat kepuasan kerjanya pun berbeda-beda pula. Tinggi rendahnya kepuasan kerja tersebut dapat memberikan dampak yang tidak sama. Hal itu tergantung pada sikap mental individu yang ber- sangkutan sebagaimana Roe dan Byars dalam Donni Juan Priansa (2014: 291) mengatakan bahwa kepuasan kerja yang tinggi akan mendorong terwujudnya tujuan organisasi secara efektif. Sementara tingkat kepuasan kerja yang rendah merupakan ancaman yang akan membawa kehancuran atau kemunduran bagi organisasi, secara cepat maupun perlahan.
Kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang positif yang merupakan hasil dari evaluasi pengalaman kerja seseorang (Mathis dan Jackson, 2011: 121). Karyawan yang dengan sukarela melaksanakan tugasnya melebihi perannya adalah individu yang memiliki motivasi yang kuat dalam bekerja, memiliki kepuasan kerja dan adanya perasaan yang diakibatkan dari terpenuhinya kontrak psikologis karyawan, sehingga kinerja karyawan tercapai.
Masa kerja juga merupakan komponen yang paling penting dalam menjelaskan tingkat pengunduran diri karyawan (Stephen P. Robbins, 2006: 84). Semakin lama karyawan bekerja dalam suatu perusahaan semakin kecil kemungkinan karyawan tersebut akan mengundurkan diri. Bukti ini juga menunjukkan bahwa masa kerja pekerjaan terdahulu dari seorang karyawan merupakan indikator perkiraan yang ampuh atas pengunduran diri karyawan dimasa mendatang (Stephen P. Rob-bins, 2006: 84).
Masa kerja juga mempengaruhi kualitas kinerja karyawan. Kinerja karyawan yang belum memiliki masa kerja atau pengalaman akan berbeda dengan kinerja karyawan yang sudah memiliki masa kerja cukup banyak. Teori tersebut terbukti pada kenyataannya dilapangan yang menunjukkan bahwa semakin lama karyawan bekerja pada perusahaan tersebut mengindikasikan karyawan semakin cepat dalam menyelesaikan pekerjaan, sangat mampu menguasai pekerjaan, dan keterampilan yang dimiliki pun semakin meningkat pula.
Teori tersebut juga didukung dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Haryanti dan Ardana (2014) yang berjudul “Pengaruh Kepemimpinan Islami, Motivasi Dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Dengan Lama Kerja Sebagai Variabel Moderating. Karyawan yang mempunyai masa kerja yang lama akan merasa puas dalam bekerja, begitu pula sebaliknya, karyawan yang masih baru akan menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja sehingga kepuasan karyawan terhadap pekerjaan belum tinggi.
Dari uraian diatas maka hipotesis dirumuskan sebagai berikut: H4 : Masa Kerja memoderasi pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja
48
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang digunakan peneliti adalah penelitian Kuantitatif. Metode kuatitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2011: 8).
B. Data yang digunakan
Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua sumber data yaitu : 1. Data primer
Menurut Hasan (2002:82) data primer ialah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung di lapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan yang memerlukannya. Adapun yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah angket yang disebarkan kepada karyawan Bank BTN Syariah Cabang Semarang.
2. Data skunder,
Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada (Hasan, 2002:58). Data sekunder dalam penelitian ini adalah profil Bank BTN
Syariah Cabang Semarang, Struktur Organisasi serta data pendukung lainnya yang berkaitan dengan penelitian.
C. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi (Obyek Penelitian)
Penelitian ini dilakukan di Bank BTN Syariah cabang Semarang yang memiliki kantor baik kantor cabang maupun kantor cabang pembantu di seluruh wilayah kota Semarang.
2. Waktu Penelitian
Waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah semasa bulan Juli-Agustus di mulai pada saat pengambilan data pertama mengenai analisis pengaruh motivasi dan kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan PT. BTN (Persero) Tbk. Kantor Cabang Syariah Semarang dengan masa kerja sebagai variabel moderating.
D. Populasi dan Sampel
Menurut Kuswana (2011:130) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek dan subjek, yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu, yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan disimpulkan. Populasi dalam penelitian ini yang akan menjadi populasi adalah karyawan Bank BTN Syariah Semarang yang berjumlah 90 orang.
Sampel merupakan bagian dari populasi yang ingin di teliti oleh peneliti. Menurut Sugiyono (2011:81) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sehingga sampel merupakan bagian dari populasi yang ada, sehingga untuk pengambilan
sampel harus menggunakan cara tertentu yang didasarkan oleh pertimbangan- pertimbangan yang ada.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini didapat dengan teknik pengambilan sampel (teknik sampling) Nonprobability Sampling dengan sampling jenuh. Peneliti menggunakan teknik sampling ini karena jumlah populasi sebanyak 90 orang. Menurut Riduwan (2012:64) sampling jenuh ialah teknik pengambilan sampel apabila semua populasi digunakan sebagai sampel dan dikenal juga dengan istilah sensus. Dalam penelitian ini, melihat jumlah populasi sebanyak 90 orang, oleh karena itu, semua anggota populasi dijadikan sampel penelitian.
E. Teknik Pengumpulan Data
1. Kuesioner
Teknik pengumpulan data dengan kuesioner merupakan satu teknik pengumpulan data dengan memberikan daftar pertanyaan kepada responden, dengan harapan responden akan memberikan respon terhadap pertanyaan yang ada di dalam kuesioner. (Sugiyono, 2014:45)
2. Dokumentasi
Menurut Hamidi (2004:72), Metode dokumentasi adalah informasi yang berasal dari catatan penting baik dari lembaga atau organisasi maupun dari perorangan. Dokumentasi penelitian ini merupakan pengambilan gambar oleh peneliti untuk memperkuat hasil penelitian. Dokumentasi merupakan pengumpulan data oleh peneliti dengan cara mengumpulkan dokumen- dokumen dari sumber terpercaya yang mengetahui tentang nara sumber.
F. Skala Pengukuran
Skala pengukuran yang digunakan adalah skala likert, yaitu skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan presepsi seseorang atau kelompok tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2012:93). Dalam penyusunan skala pengukuran digunakan metode skala likert, dimana setiap responden diminta pendapatnya mengenai suatu pernyataan, dengan skala penilaian dari 1 sampai dengan 7. Tanggapan positif (maksimal) diberi nilai paling besar (7) dan tanggapan negatif (minimal) diberi nilai paling kecil (1) (Sugiyono, 2012:93).
Sangat Tidak Setuju Sangat Setuju
1 2 3 4 5 6 7
Keterangan :
1. Jawabn STS (Sangat Tidak Setuju) selanjutnya diberi bobot skor 1. 2. Jawaban TS (Tidak Setuju) selanjutnya diberi bobot skor 2.
3. Jawaban ATS (Agak Tidak Setuju) selanjutnya diberi bobot skor 3. 4. Jawaban N (Netral) selanjutnya diberi bobot skor 4.
5. Jawaban AS (Agak Setuju) selanjutnya diberi bobot skor 5. 6. Jawaban S (Setuju) selanjutnya diberi bobot skor 6,
G. Definisi Konsep dan Operasional
No Variabel Definisi Indikator
1 Motivasi Daya pendorong untuk
berbuat semaksimal mungkin dalam melaksanakan tugasnya karena menyakini bahwa dengan keberhasilan organisasi mencapai tujuan dan berbagai sasarannya, kepentingan-
kepentingan pribadi para anggota organisasi tersebut akan terpelihara pula. (Sondang, 2013:287)
1.Kebutuhan fisiologikal, seperti sandang, pangan, dan papan.
2.Kebutuhan kemanan, tidak hanya dalam arti fisik, akan tetapi juga mental,
psikologikal dan
intelektual. 3.Kebutuhan social
4.Kebutuhan prestise yang pada umumnya tercermin dalam berbagai symbol- simbol status.
5.Aktualisasi diri dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata. (Maslow dalam Sondang (2013:287))
2 Kepuasan Kerja Sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. (Hasibuan, 2009: 202)
a. Balas jasa yang adil dan layak
b. Penempatan yang tepat sesuai dengan keahlian c. Berat-ringanna pekerjaan d. Suasana dan lingkungan
pekerjaan
e. Peralatan yang menunjang pelaksanaan pekerjaan
f. Sikap pimpinan dalam kepemimpinannya
g. Sifat pekerjaan menonton atau tidak
(Hasibuan, 2009: 203) 3 Kinerja Karyawan Kinerja merupakan
catatan hasil yang diproduksi (dihasilkan) atas fungsi pekerjaan tertentu atau aktivitas- aktivitas selama
1) Kualitas, yaitu tingkat kesalahan, kerusakan, kecermatan.
2) Kuanititas, yaitu jumlah
pekerjaan yang
periode waktu tertentu. (Bernadin, (2001:143) dalam Sudarmanto (2015:8))
3) Penggunaan waktu dalam kerja, yaitu tingkat ketidakhadiran,
keterlambatan, waktu kerja eektif/jam kerja hilang.
4) Kerja sama dengan orang lain dalam bekerja.
(Sudarmanto, 2015: 12)
4 Masa Kerja Masa kerja adalah
lamanya seseorang da- lam mengabdikan dirinya pada organisasi atau perusahaan yang menaunginya. (Hafidha, 2016:181)
1) Masa kerja, Ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh seseorang dapat memahami tugas – tugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakan dengan baik.
2) Tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki
Pengetahuan merujuk pada konsep, prinsip, prosedur, kebijakan atau informasi lain yang dibutuhkan oleh karyawan. Pengetahuan juga mencakup kemampuan untuk memahami dan menerapkan informasi pada tanggung jawab pekerjaan. Sedangkan keterampilan merujuk pada kemampuan fisik yang dibutuhkan untuk
mencapai atau
menjalankan suatu tugas atau pekerjaan
3) Penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan. Tingkat penguasaan seseorang dalam pelaksanaan aspek – aspek tehnik peralatan dan tehnik pekerjaan. (Hafidha, 2016:181)
H. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitian agar pekerjaannya menjadi lebih mudah dan baik, dalam arti lebih cermat, lengkap sistematis sehingga lebih mudah untuk diolah (Arikunto, 2002:152).
Instrumen penelitian menurut Arikunto (2002:153) adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa instrumen merupakan suatu alat bantu yang digunakan oleh peneliti dalam menggunakan metode pengumpulan data secara sistematis dan lebih mudah. Instrumen penelitian menempati posisi teramat penting dalam hal bagaimana dan apa yang harus dilakukan untuk memperoleh data di lapangan. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian gunakan adalah pedoman angket.
Alat bantu berupa pernyataan yang harus dijawab oleh responden yang digunakan untuk mengetahui skor pada variabel motivasi, kepuasan kerja, kinerja karyawan dan masa kerja. Pada penyusunan angket peneliti membuat kisi-kisi dan pedoman penskoran. Angket motivasi, kepuasan kerja, kinerja karyawan dan masa kerja dituliskan dalam lampiran. Instrumen angket merupakan instrumen utama dalam penelitian ini. Mengingat data penelitian merupakan aspek yang penting dalam penelitian, maka instrumen atau alat yang digunakan mengukur harus terpercaya.
I. Uji Instrumen Penelitian 1. Analisis Deskripsi Variabel
Statistik deskriptif lebih berhubungan dengan pengumpulan, peringkasan serta penyajian hasil peringkasan data (Santoso, 2002:75). Lebih lanjut dikatakan bahwa, data-data statistik yang dikumpulkan umumnya masih acak, mentah dan tidak terorganisir dengan baik (raw data). Data-data tersebut harus diringkas dengan baik dan teratur, baik dalam bentuk tabel atau persentasi grafis sebagai dasar untuk berbagai pengambilan keputusan. Statistik deskriptif digunakan untuk analisis bagi variabel-variabel yang dinyatakan dengan sebaran frekuensi, baik secara angka-angka mutlak maupun secara persentasi. Tabel frekuensi yang dibuat berguna untuk mengelompokkan data dalam tabel silang. Tabel silang sebagai metode yang sederhana digunakan untuk menyoroti dan menganalisis hubungan antara dua variabel atau lebih.
2. Pengujian Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen (Arikunto, 2002:144). Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas yang dimaksud.
Cara yang dipakai dalam menguji tingkat validitas adalah dengan variabel internal, yaitu menguji apakah terdapat kesesuaian antara bagian instrumen secara keseluruhan. Untuk mengukurnya menggunakan analisis butir. Pengukuran pada analisis butir yaitu dengan cara skor-skor yang ada kemudian dikorelasikan dengan menggunakan Rumus korelasi product moment yang dikemukakan oleh Pearson (Arikunto, 2002:146) sebagai berikut:
Rxy =
dengan pengertian
rxy : koefisien korelasi antara x dan y rxy N : Jumlah Subyek
X : Skor item Y : Skor total
∑X : Jumlah skor items
∑Y : Jumlah skor total
∑X2 :
Jumlah kuadrat skor item
∑Y2 :
Jumlah kuadrat skor total (Suharsimi Arikunto, 2002:146)
Kesesuaian harga rxy diperoleh dari perhitungan dengan menggunakan rumus diatas dikonsultasikan dengan tabel harga regresi moment dengan korelasi harga rxy lebih besar atau sama dengan regresi
tabel, maka butir instrumen tersebut valid dan jika rxy lebih kecil dari regresi tabel maka butir instrumen tersebut tidak valid.
3. Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Arikunto, 2002:154). Pada penelitian ini untuk mencari reliabilitas instrumen menggunakan rumus alpha α, karena instrumen dalam penelitian ini berbentuk angket atau daftar pertanyaan yang skornya merupakan rentangan antara 1-5 dan uji validitas menggunakan item total, dimana untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya bukan 1 dan 0, misalnya angket atau soal bentuk uraian maka menggunakan rumus alpha(α):
Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya, maksudnya apabila dalam beberapa pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok yang sama diperoleh hasil yang relatif sama (Azwar, 2000:3). Dalam penelitian ini, uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan tekhnik Formula Alpha Cronbach dan dengan menggunakan program SPSS 19.0 for windows.
Rumus :
Keterangan :
α = koefisien reliabilitas alpha
Sj = varians responden untuk item I Sx = jumlah varians skor total
Indikator pengukuran reliabilitas menurut Sekaran (2000:134) yang membagi tingkatan reliabilitas dengan kriteria sebagai berikut: Jika alpha atau r hitung:
a. 0,8-1,0 = Reliabilitas baik b. 0,6-0,799 = Reliabilitas diterima c. kurang dari 0,6 = Reliabilitas kurang baik
J. Alat Analisis
1. Uji Asumsi Klasik
Sebelum melakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu akan dilakukan pengujian terjadinya penyimpangan terhadap asumsi klasik. Dalam asumsi klasik terdapat beberapa pengujian yang harus dilakukan, yakni Uji Normalitas, Uji Multikolonieritas, dan Uji Heteroskedastisitas. a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki disribusi normal. Metode yang lebih handal adalah dengan melihat normal probality plot yang membandingkan ditribusi kumulatif dari distribusi normal. Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal. Jika distribusi normal data adalah normal maka garis menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya atau dengan kata lain media Grafik histogram dan Grafik Normal plot (Ghozali, 2011:161).
Pada prinsipnya normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik atau dengan melihat histogram dari residualnya. Dasar pengambilan keputusan : (1) Jika data menyebar garis diagonal dan mengikuti arah garis
diagonal atau grafik histogram menunjukkan pola distribusi normal maka model regresi memenuhi asumsi Normalitas.
(2) Jika data menyebar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal maka model regresi tidak memenuhi asumsi Normalitas. (Ghozali, 2011:163)
b. Uji Multikolonieritas
Uji multikolineritas bertujuan menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas jika variabel bebas berkorelasi maka variable - variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variabel bebas = 0. Multikolineritas dapat dilihat dari nilai
Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF) (Ghozali, 2011:105) cara mendeteksi terhadap adanya multikolineritas dalam model regresi adalah sebagai berikut :
(1) Besarnya Variabel Inflation Factor (VIF), pedoman suatu model regresi yang bebas Multikolineritas yaitu nilai VIF ≤ 10
(2) Besarnya Tolerance pedoman suatu model regresi yang bebas Multikoneritas yaitu nilai Tolerance ≥ 0,1.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan apakah dalam model regresi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan kepengamatan yang lain. Jika variance dari residual pengamatan yang lain tetap, disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Cara untuk mendeteksi dengan cara melihat grafik scatter plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residual (SRESID). Dasar analisis :
(1) Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
(2) Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebut diatas dan dibawah adalah angka nol pada sumbu Y, maka tidak ada heteroskedastisitas (Ghozali, 2011:139).
2. Analisis Regresi Linier
Hasil pengumpulan data akan dihimpun setiap variabel sebagai suatu nilai dari setiap responden dan dapat dihitung melalui program SPSS. Untuk menguji Hipotesis yaitu pengaruh motivasi, dan kepuasan
kerja, interaksi antara motivasi kerja dengan masa kerja, dan interaksi kepuasan kerja dengan masa kerja terhadap kinerja karyawan dengan persamaan regresi melalui uji interaksi atau sering disebut dengan
Moderated Regresion Analysis (MRA) (Ghozali, 2011:229) :
Persamaan Regresi I Y= α + β1 X1 + β2 X2+ β3 X1* Z + e1 Persamaan Regresi 2 Y= α + β1 X2 + β2 X1 + β3 X2* Z + e2 Keterangan : Y : Kinerja Karyawan Z : Masa Kerja X1 : Motivasi X2 : Kepuasan Kerja α : Konstanta β1, β2,…βi : koefisien variabel X1 , X2 e1,e2 : residual (error)
3. Uji Hipotesis
Digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, maka dilakukan pengujian terhadap hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini.
a. Uji t
Pengujian ini digunakan untuk menentukan apakah dua sampel tidak berhubungan, memiliki rata-rata yang berbeda. (Ghozali, 2011;98).
Menurut (Malhotra, 2006:149) uji t merupakan sebuah uji untuk menguji hipotesis rata-rata, uji t dapat dilakukan atas dua rata-rata satu