• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Ritme Normal Kedipan Mata

2.3. Air Mata

2.5.3. Pengaruh pada Mata Secara Internal

Selain berdampak pada mata secara eksternal, asap rokok mainstream yang diinhalasi perokok juga berdampak buruk pada mata. Menurut Optometrists Association Australia (2005) dan Action on Smoking and Health (2005), beberapa zat yang terkandung dalam rokok bersifat toksik terhadap jaringan mata. Beberapa zat didalamnya dapat menyebabkan penurunan kemampuan darah membawa oksigen dan menurunkan aliran darah ke mata (iskemia). Selain itu, kerusakan dapat terjadi akibat stres oksidatif, reaksi kimia yang merusak protein dan lipid dan menurunkan antioksidan dalam darah. Mata merupakan organ yang sangat rentan terhadap stres oksidatif. Kaitan merokok dengan peningkatan resiko terjadinya penyakit mata telah dibuktikan. Katarak nuklear, degenerasi makular terkait usia (Fujihara, 2008) dan Graves’ Ophthalmopathy memiliki bukti yang kuat. Adapun bukti yang bersifat sugestif berupa katarak subkapsular posterior (Tobacco Control Resource Centre, 2006). Selain itu, Action on Smoking and Health (2005) juga melampirkan gangguan lainnya seperti oklusi vena retina, peningkatan tekanan intraokular dan neuropati optik (penurunan aliran darah ateri ke mata).

BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep

Pada penelitian ini, kerangka konsep mengenai dampak paparan asap rokok terhadap frekuensi mengedip dan keluhan yang dirasakan pada mata akan diuraikan. Variabel dependen pada penelitian ini adalah frekuensi mengedip dan keluhan yang dirasakan sedangkan variabel independennya adalah paparan asap rokok.

Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian

3.2. Definisi Operasional

a. Paparan Asap Rokok

Paparan asap rokok yang dimaksudkan adalah masyarakat yang secara aktif terpapar dengan asap rokok yaitu perokok aktif. Pada penelitian ini, paparan asap rokok yang diinginkan adalah paparan kronis (paparan lebih dari 1 tahun).

b. Frekuensi Mengedip

Aktivitas mata secara reguler untuk mempertahankan kontinuitas film prekorneal. Frekuensi mengedip yang normal tergantung pada aktivitas yang dilakukan. Cara mengukur frekuensi mengedip tersebut adalah dengan menghitung rata-rata jumlah kedipan mata dalam satu menit pada saat membaca. Hasil ukur variabel berupa jumlah kedipan permenit. Skala ukur variabel ini berupa skala numerik.

c. Keluhan Yang Dirasakan

Keluhan yang dirasakan adalah keluhan akibat paparan asap rokok secara kronis. Keluhan yang ditanyakan berupa mata terasa cepat lelah, gatal, berpasir, nyeri menusuk atau terbakar, kering, lakrimasi berlebihan dan kemerahan. Jumlah keluhan yang dirasakan dan frekuensinya dinilai dalam penelitian ini. Cara mengukur variabel ini adalah dengan metode wawancara. Hasil ukur variabel dalam bentuk derajat angka sesuai dengan metode yang digunakan Yoon (2005) dan Satici (2003) . Skala ukur variabel ini berupa skala kategorikal.

3.3. Hipotesis

Adanya perbedaan frekuensi mengedip dan jumlah keluhan serta frekuensinya yang dirasakan pada mata yang sering terpapar dengan asap rokok daripada mata yang jarang terpapar.

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional dimana penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara faktor resiko dengan efek dengan cara pendekatan, observasi, dan pengumpulan data sekaligus suatu saat (point time approach) (Notoatmodjo, 2005). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan frekuensi mengedip dan keluhan-keluhan yang dirasakan pada mata yang sering terpapar dengan asap rokok.

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Kesawan, Medan. Penelitian dilakukan pada orang-orang yang memenuhi kriteria peneliti yang datang ke lokasi penelitian untuk melakukan aktivitas perdagangan atau reparasi kendaraan bermotor.

Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2009 dan berakhir pada bulan Juli 2009

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pria berumur antara 20 tahun dan 40 tahun baik yang merokok maupun tidak merokok di Kelurahan Kesawan, Medan.

4.3.2. Sampel Penelitian

Sampel pada penelitian ini adalah sebagian dari pria berumur 20 tahun sampai 40 tahun. Sampel kemudian digolongkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok kasus dan kelompok kontrol.

Pada kelompok kasus, sampel dibagi menjadi 3 subkelompok berdasarkan jumlah rokok yang dikonsumsi setiap hari menurut African American Smokers (Okuyemi, 2005), yaitu:

a. Perokok ringan: jumlah rokok yang dikonsumsi perhari adalah 1 sampai 9 batang rokok.

b. Perokok sedang: jumlah rokok yang dikonsumsi perhari adalah 10 sampai 19 batang rokok.

c. Perokok berat: jumlah rokok yang dikonsumsi perhari adalah 20 batang rokok atau lebih.

Teknik pengambilan sampel pada penelitan ini dilakukan dengan metode consecutive sampling. Teknik ini dilakukan dengan mengambil sampel yang melewati ataupun datang ke lokasi penelitian dan sesuai dengan kriteria peneliti serta bersedia terlibat dalam penelitian tersebut. Pengumpulan sampel akan dihentikan jika jumlah sampel yang diperlukan telah terpenuhi sesuai dengan perhitungan jumlah sampel.

4.3.3. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

Berikut adalah kriteria inklusi dan eksklusi pada sampel yang akan diteliti (Satici, 2003 dan Yoon, 2005):

a. Kriteria inklusi pada kelompok kasus adalah perokok dengan lama merokok lebih dari 1 tahun (menurut ATSDR (2009), paparan dikatakan kronik jika lebih dari 1 tahun).

b. Kriteria inklusi pada kelompok kontrol adalah:

1. Sampel bukan perokok serta tidak ada perokok dalam anggota keluarga ataupun teman dekatnya untuk mencegah kemungkinan efek paparan asap tembakau pasif.

2. Tidak ada gangguan oftalmologis pada sampel selain gangguan refraksi ringan

c. Kriteria eksklusi pada kelompok kasus dan kontrol adalah: 1. Adanya riwayat penyalahgunaan obat.

3. Sampel merupakan pengguna lensa kontak. 4. Sampel pernah menjalani operasi mata.

5. Pengguna obat lokal untuk mata

maupun sistemik seperti obat hipertensi, diuretik, tiroid, alergi dan sebagainya.

6. Sampel pernah mengalami kelainan kornea ataupun konjungtiva. 7. Sampel yang memiliki riwayat atopi ataupun alergi.

8. Sampel menderita gangguan psikiatri dan gangguan pergerakan. 9. Sampel memiliki kebiasaan sering mengedip.

10.Sampel menderita penyakit mata baik primer maupun sekunder akibat penyakit sistemik yang dapat mempengaruhi sekresi dan distribusi dari air mata.

4.3.4. Besar Sampel

Perhitungan nilai varian pada penelitian ini dengan menggunakan rumus (Wahyuni, 2007):

Dengan jumlah sampel dan standar deviasi yang didasari dari penelitian sebelumnya (Yoon, 2005) dengan n1 bernilai 58 dengan standar deviasi 2,26 dan

n2 bernilai 52 dengan standar deviasi 3,14. Maka varian yang dihasilkan (σ2)

adalah 7,35. Maka perhitungan jumlah sampel pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rumus (Madiyono, 2008):

Dengan tingkat kepercayaan yang dikehendaki sebesar 95 % dengan nilai

α sebesar 5% ( = 1.96), β seb esar 2 0 % ( = 0,842), dan perbedaan klinis yang diinginkan (X1–X2) adalah 1,5, maka hasil yang didapatkan adalah 51.29.

Jumlah sampel yang diperoleh dengan memakai rumus tersebut adalah dibulatkan menjadi 52 orang pada masing-masing grup. Namun pada kelompok kasus,

jumlah sampel akan dibagi menjadi 3 subgrup. Agar pembagian merata, jumlah sampel pada kelompok kasus dijadikan 54 sampel sehingga setiap subgrup terdiri dari 18 sampel. Maka total sampel yang diambil pada penelitian ini berjumlah 106 sampel.

4.4. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini dibagi menjadi dua tahap yaitu pengumpulan informasi mengenai gejala-gejala yang dialami pasien dan frekuensi mengedip.

a. Tahap wawancara gejala.

Keluhan-keluhan yang dialami pasien – mata terasa cepat lelah, gatal, berpasir, nyeri menusuk atau terbakar, kering, lakrimasi berlebihan dan kemerahan – akan diperoleh melalui teknik wawancara. Kemudian dari keluhan tersebut, frekuensi dari keluhan ditanyakan dan digolongan ke tiga grup menurut Franck and Skov (1989) yang dikutip dari Satici (2003):

1. Frekuensi keluhan yang dialami terjadi kurang dari sekali dalam sebulan. 2. Frekuensi keluhan yang dialami terjadi sekali dalam seminggu sampai

sekali dalam sebulan.

3. Frekuensi Frekuensi yang dialami terjadi beberapa kali seminggu.

b. Tahap penilaian frekuensi mengedip

Pada tahap kedua, frekuensi mengedip akan dinilai didalam ruangan dengan mempersilahkan sampel membaca suatu cerita yang diletakkan dengan tinggi sejajar dengan mata sampel dengan jarak kira-kira 60 cm. Bahan bacaan berupa dongeng anak-anak yang mudah dimengerti. Sebelum pemeriksaan ini, sampel kasus diminta untuk tidak merokok selama 45 menit.

Pada saat membaca, sampel diposisikan dalam duduk. Suasana saat membaca dilakukan pada suhu ruangan. Pencahayaan dipertahankan agar yang cukup melalui ventilasi yang memadai. Untuk sampel yang ingin memakai kacamata dipersilahkan jika pemakaian tersebut merupakan kebiasaan. Aktivitas mengenyitkan mata tidak diperbolehkan. Penilaian ini dilakukan mulai dari pagi

hari sampai sore hari dan tidak dilakukan pada malam hari karena menurut Babarto (2000) dalam Dreisbach (2005), frekuensi mengedip meningkat saat malam hari.

Aktivitas mengedip sampel direkam dengan menggunakan kamera perekam Nikon Coolpix P4VR selama 2 menit 20 detik. Perhitungan jumlah mengedip dilakukan dengan menggunakan program Windows Media Player Classic. Penilaian tidak dilakukan pada 20 detik pertama dengan tujuan adaptasi dan mengurangi canggung didepan video perekam. Penilaian frekuensi mengedip hanya dilakukan pada 2 menit terakhir dan jumlah kedipan dirata-ratakan dalam 1 menit.

4.5. Instrumen Peneltian

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. a. Jam tangan

b. Peralatan tulis dan kertas c. Kamera Nikon Coolpix P4 VR d. Komputer

4.6. Metode Analisis Data

Data yang diperoleh dari setiap sampel dimasukkan ke dalam komputer oleh peneliti. Data yang diperoleh berupa jumlah dan frekuensi keluhan yang dirasakan dan frekuensi mengedip akan dianalisis dengan menggunakan program Statistic Package for Social Science (SPSS) for Windows 17.0. Untuk jumlah dan frekuensi keluhan yang dirasakan pada mata akan dianalisis dengan menggunakan uji statistik Chi Square. Untuk frekuensi mengedip, perbandingan antara grup perokok dan bukan perokok dianalisis dengan uji statistik Mann Whitney U dan antar subgrup perokok dilakukan dengan uji statistik Kruskal Wallis.

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dokumen terkait