• Tidak ada hasil yang ditemukan

7. Variabel Penggunaan Piranti Statistik

5.8.2. Pengaruh Parsial

Hasil pengujian hipotesis kedua menunjukkan bahwa bahwa secara parsial

hanya variabel: fokus pada konsumen, komitmen manajemen, pelatihan,

pemberdayaan karyawan, dan penggunaan piranti statistik yang berpengaruh

signifikan terhadap budaya kualitas di PT Hari Terang Industry, sedangkan

variabel lainnya tidak berpengaruh signifikan terhadap budaya kualitas. Hasil

penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya, bahwa: filosofi TQM dan piranti

TQM secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja bisnis (Huarng

dan Yao, 2002); tidak semua variabel-variabel dalam implementasi TQM

mempu-nyai korelasi yang signifikan terhadap dimensi budaya organisasi (Jabnoun dan

Sedrani, 2005).

a. Fokus Pada Konsumen

Variabel fokus pada konsumen mempunyai pengaruh positif yang signifikan

terhadap variabel budaya kualitas. Hal ini membuktikan bahwa secara parsial

fokus pada konsumen adalah variabel yang mempengaruhi terbentuknya budaya

kualitas di PT. Hari Terang Industry.

Hasil penelitian ini mendukung pendapat bahwa fokus pada konsumen

merupakan salah satu elemen kunci keberhasilan implementasi TQM (Krajewski,

Lee, dan Ritzman 1999; Curkovic dan Landeros, 2000; Hashmi, 2004); Fokus

pada konsumen merupakan salah satu faktor mikro dari dalam perusahaan yang

mempengaruhi perubahan dan pengembangan budaya suatu organisasi

(Paskard, 1995); Fokus pada konsumen adalah salah satu variabel yang secara

signifikan mempengaruhi budaya kualitas (Litwin dan Stringer dalam Kelner,

1998 dan Lawson, 2004).

Hasil penelitian juga mendukung hasil penelitian terdahulu yang

kinerja individu (Boselie dan Wiele, 2001; Laily, 2003); fokus pada konsumen

adalah salah satu variabel dalam implementasi TQM yang mempunyai korelasi

secara signifikan terhadap dimensi budaya (Jabnoun dan Sedrani, 2005 dan

Srismith, 2005).

Salah satu falsafah yang ditanamkan oleh pendiriperusahaan adalah ‘Hanya memproduksi produk-produk bermutu’,juga terdapat dalam salah satu kebijakan mutu dan lingkungan perusahaan yaitu ‘Memberikan kepuasan kepada pelanggan dan pihak terkait lainnya baik dari segi mutu, harga, pengiriman, dan pelayanan’, telah menjadikan perhatian perusahaan tertuju pada konsumen sehingga mengutamakan kepuasan konsumen merupakan tujuan utama.

Beberapa indikasi adanya fokus pada konsumen oleh perusahaan adalah:

 Layanan bebas pulsa dicantumkan dalam blister dan kemasan bagi konsu-men untuk konsu-mengajukan komplain dan informasi konsu-mengenai batu baterai ABC.

 Pemanfaatan site web (www.abc-battery.com) sebagai sarana bagi konsu-men konsu-mengajukan komplain.

 Menetapkan bagian penanganan keluhan konsumen yang secara langsung bertanggung jawab kepada marketing manager.

 Survei kepuasan pelanggan oleh lembaga independen, dan survei internal untuk mengukur kepuasan pelanggan.

 Membina hubungan langsung dengan konsumen, antara lain dengan mensponsori program dan acara tertentu, setahun sekali melakukan

gathering dengan konsumen dan penjual produk batu baterai ABC; hubungan

yang dibina bukan bisnis semata, tetapi adanya keterikatan batin.

Aktivitas yang berorientasi pada konsumen tersebut terbukti telah efektif

Rata-rata tanggapan terhadap variabel fokus pada konsumen sebesar 4,32,

mengindikasikan bahwa fokus perusahaan pada konsumen sudah cukup tinggi.

Rata-rata tanggapan atas pernyataan‘Perusahaan selalu menyelesaikan per ma-salahan konsumen segera dengan tepat’ (X17)yang tertinggi (4,4) berarti perusahaan telah tanggap menyelesaikan permasalahan konsumen.

Rata-rata tanggapan atas item pernyataan ‘Perusahaan selalu menyebar -luaskan kebutuhan konsumen kepada seluruh karyawan’ (X12)yang terendah (3,85) menunjukkan perusahaan masih kurang mengkomunikasikan kebutuhan

konsumen kepada seluruh karyawan. Oleh karena itu perlu diberikan perhatian

lebih pada item ini agar budaya kualitas semakin meningkat. Dokumentasi

komplain, tuntutan, kebutuhan dan harapan konsumen internal maupun eksternal

hendaknya disebarluaskan secara berkala kepada seluruh karyawan, misalnya

melalui pertemuan rutin, media pengumuman pada tempat yang strategis, dsb.

b. Perbaikan Berkelanjutan

Variabel perbaikan berkelanjutan tidak berpengaruh secara signifikan

terha-dap variabel budaya kualitas. Hal ini membuktikan bahwa secara parsial

perba-ikan berkelanjutan yang merupakan salah satu pilar implementasi TQM, ternyata

bukan variabel yang secara signifikan mempengaruhi terbentuknya budaya

kualitas di PT. Hari Terang Industry.

Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Paskard (1995) yang tidak

menyertakan perbaikan berkelanjutan ke dalam faktor-faktor mikro perusahaan

yang mempengaruhi perubahan dan pengembangan budaya suatu organisasi,

karena obyeknya tidak terfokus pada sumberdaya manusia.

Tetapi hasil penelitian tersebut bertentangan atau menolak pendapat pakar

kualitas bahwa perbaikan berkelanjutan merupakan salah satu elemen kunci

keberhasilan implementasi TQM (Krajewski, Lee, dan Ritzman, 1999; Curkovic

Kelner (1998) dan Lawson (2004) juga berpendapat bahwa perbaikan

berkelanjutan adalah salah satu variabel dalam implementasi TQM yang secara

signifikan mempengaruhi budaya kualitas.

Hasil penelitian tersebut juga bertentangan atau menolak studi empiris yang

telah dilakukan oleh Jabnoun dan Sedrani (2005) dan Srismith (2005) yang

menyimpulkan bahwa perbaikan berkelanjutan adalah salah satu variabel dalam

implementasi TQM yang mempunyai korelasi secara signifikan terhadap dimensi

budaya.

Upaya-upaya perbaikan berkelanjutan sebenarnya telah dilakukan oleh PT.

Hari Terang Industry, sebagaimana tertuang dalam salah satu falsafah

perusahaan adalah ‘Menerapkan program meningkatkan perbaikan secara berkelanjutan untuk memenuhi kepuasan pelanggan’ yang juga tertera pada kebijakan mutu dan lingkungan PT. Hari Terang Industry Surabaya yaitu

‘Melakukan peningkatan secara terus menerus melalui sasaran mutu dan program lingkungan yang terukur di setiap departemen’, telah mendorong perusahaan selalu melakukan aktivitas perbaikan berkelanjutan.

Indikasi adanya aktivitas perbaikan berkelanjutan yang telah dilakukan oleh

perusahaan adalah:

 Selalu melakukan penelitian atas bahan baku agar dapat menghasilkan batu baterai berkualitas tinggi dan tahan lama.

 Secara berkesinambungan selalu memperbaiki dan mengembangkan peralatan testing yang dikontrol melalui komputer, misalnya alat uji baterai

untuk mengetahui performance batu baterai.

 Selalu memperhatikan perkembangan dan kemajuan teknologi untuk keperluan perusahaan.

 Setiap saat selalu meremajakan semua peralatan yang telah usang dan men-ciptakan peralatan baru untuk memperbaiki dan memproduksi komponen

secara mandiri.

 Pengembangan produk diawali dari batu baterai tipe pasta, batu baterai yang menggunakan ‘paper line’,batu bateraiyang ramah lingkungan:batu baterai bebas kadmium dan air raksa.

 Melakukan riset diversifikasi produk batu baterai nickel metal hydrides (batu baterai isi ulang), dan batu baterai lithium.

Rata-rata tanggapan terhadap variabel perbaikan berkelanjutan sebenarnya

juga sangat tinggi (4,45), menunjukkan perusahaan selalu melakukan aktifitas

perbaikan berkelanjutan. Demikian pula tanggapan atas pernyataan‘Perusahaan selalu melakukan perbaikan terus menerus pada semua bagian tanpa menunggu permasalahan muncul’ (X24)yang tertinggi (4,63), maupun tanggapan atas

pernyataan ‘Perusahaan selalu berkomunikasi dengan pemasok untuk

meningkatkan semua aspek kualitas’ (X23) yang terendah (4,26) relatif kecenderungan keduanya juga tinggi. Aktivitas perbaikan berkelanjutan yang

tinggi ternyata tidak atau belum seiring dengan peningkatan budaya kualitas.

Perbedaan hasil penelitian dengan pendapat dan penelitian terdahulu

menunjukkan bahwa aktivitas perbaikan berkelanjutan yang dilakukan oleh PT.

Hari Terang Industry masih dipahami sebagai hard side of quality, artinya hanya

menyangkut perbaikan praktek-praktek manajemen nyata dan bersifat inovatif

(sebagaimana terlihat pada indikasi aktivitas perbaikan berkelanjutan di atas).

Aktivitas perbaikan berkelanjutan belum melibatkan soft side of quality dan tidak

bersifat inkremental sehingga perbaikan berkelanjutan tidak atau belum efektif

berkelan-jutan diterapkan pada proses (hard side of quality) maupun sumberdaya manusia

(soft side of quality) yang melaksanakannya (Wilkonson, 1992; Tjiptono, 2003).

Sumberdaya manusia merupakan subyek dan obyek utama pembentuk

budaya kualitas. Oleh karena itu, perusahaan hendaknya juga memperhatikan

perbaikan aspek soft side of quality sehingga diharapkan dapat meningkatkan

budaya kualitas. Membangun budaya kualitas sampai level Basic Assumption

tidak semudah membalik tangan, adalah tugas manajemen membangun

kesadaran dan menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga karyawan

termotivasi secara spontan menerapkan perbaikan berkelanjutan dengan

sendirinya. Beberapa aktivitas perbaikan berkelanjutan yang bersifat inkremental

dan diyakini dapat membangun proses kesadaran karyawan antara lain melalui:

penerapan siklus Plan-Do-Ceck-Action, pendekatan inkremental (Kaizen), dan

pembenahan tata graha melalui five S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan

Shitsuke).

c. Komitmen Manajemen

Variabel komitmen manajemen mempunyai pengaruh positif yang signifikan

terhadap variabel budaya kualitas. Hal ini membuktikan bahwa secara parsial

komitmen manajemen adalah variabel yang mempengaruhi terbentuknya budaya

kualitas di PT. Hari Terang Industry.

Hasil penelitian tersebut mendukung pendapat bahwa komitmen dan

dukungan manajemen merupakan salah satu elemen kunci keberhasilan

implementasi TQM (Curkovic dan Landeros, 2000; Hashmi 2004; dan Padhi,

2004); sedangkan menurut Paskard (1995) dan Boan (2004), dukungan

manajemen puncak merupakan salah satu faktor mikro dari dalam perusahaan

yang mempengaruhi perubahan dan pengembangan budaya organisasi. Menurut

Lawson (2004), komitmen manajemen pada kualitas adalah salah satu variabel

Hasil penelitian ini juga mendukung hasil penelitian terdahulu yang

menyimpulkan bahwa: komitmen manajemen merupakan salah satu elemen

kunci keberhasilan implementasi TQM (Baidoun, 2003; Munizu, 2003; Wahyudi,

2004; dan Metri, 2005); komitmen manajemen mempunyai pengaruh signifikan

terhadap kinerja organisasi (Huarng dan Yao, 2002); komitmen manajemen

adalah salah satu variabel dalam implementasi TQM yang mempunyai korelasi

secara signifikan terhadap dimensi budaya (Jabnoun dan Sedrani, 2005 dan

Srismith, 2005).

Salah satu kebijakan mutu dan lingkungan PT. Hari Terang Surabaya adalah

‘Melaksanakan Sistem Manajemen Mutu sesuai Standar ISO 9001:2000 dan Sistem Manajemen Lingkungan sesuai Standar ISO 14001:2004 secara efektif

dan efisien’, klausul 5.1. dalam ISO 9001:2000 berkaitan dengan komitmen manajemen.

Beberapa indikasi yang menunjukkan adanya komitmen manajemen

terhadap kualitas, antara lain:

 Melalui suatu sistem manajemen yang terpadu dari pimpinan puncak sampai karyawan yang paling bawah, perusahaan berhasil memperoleh kemajuan

secara konsisten dalam mencapai sasaran perusahaan yang telah ditetapkan

bersama secara berkala.

 Kesamaan visi dan misi, dipadu dengan strategi dan taktik bisnis, telah menghantarkan perusahaan kepada kemajuan yang diakui oleh semua pihak

di dalam negeri maupun luar negeri.

 Struktur organisasi perusahaan yang dulu sederhana dan kekeluargaan, kini telah dikembangkan sedemikian rupa secara profesional. Manajer baru

dilibatkan untuk mengisi berbagai posisi sesuai dengan keahlian dan

Adanya komitmen dan dukungan manajemen terhadap kualitas tersebut

ternyata telah efektif membentuk budaya kualitas di PT. Hari Terang Industry.

Nilai rata-rata variabel komitmen manajemen juga relatif tertinggi dan

cenderung sangat tinggi (4,49) jika dibandingkan dengan variabel bebas lain,

berarti responden memandang komimen manajemen terhadap kualitas sudah

sangat tingggi. Tanggapan atas pernyataan ‘Manajemen menyebar luaskan visi dan kebijakan mutu perusahaan ke seluruh karyawan’(X31)yang tertinggi (4,75) menunjukkan visi dan kebijakan mutu perusahaan telah tersebar luas.

Sedangkan tanggapan atas pernyataan ‘Manajemen mengakui dan menghargai prestasi atas peningkatan semua aspek kualitas’ (X36) yang terendah (4,34) berarti karyawan merasa pengakuan dan penghargaan atas prestasi karyawan

oleh manajemen masih rendah dibanding item yang lain. Oleh karena itu

manajemen perlu mengembangkan berbagai bentuk program pengakuan dan

penghargaan (recognitions and rewards) atas kontribusi dan prestasi karyawan

dalam peningkatan kualitas, misalnya melalui: patroli manajemen secara rutin,

memberi penghargaan bagi karyawan berprestasi, dan berbagai jenis kompetisi,

sehingga karyawan merasa termotivasi dan bangga karena dihargai jerih

payahnya.

d. Pelatihan

Variabel pelatihan mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap

variabel budaya kualitas. Hal ini membuktikan bahwa secara parsial pelatihan

merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi terbentuknya budaya

kualitas di PT. Hari Terang Industry.

Hasil penelitian tersebut mendukung teori bahwa pelatihan dapat merubah

budaya perusahaan (Tjiptono dan Diana, 2003); pelatihan merupakan salah satu

elemen kunci keberhasilan implementasi TQM (Hashmi ,2004 dan Padhi, 2004);

signifikan mempengaruhi budaya kualitas. Pelatihan, pendidikan, dan

pengembangan individual akan mempengaruhi budaya kualitas dan pada

dasarnya dipahami sebagai investasi (Lawson, 2004); pengakuan terhadap

karyawan dan pelatihan merupakan salah satu faktor mikro dari dalam

perusahaan yang mempengaruhi perubahan dan pengembangan budaya

organisasi. Karyawan atau kelompok kerjanya harus dilibatkan sejak awal

melalui program pelatihan. Perhatian pada program-program tersebut penting

dalam perubahan budaya organisasi (Paskard, 1995).

Hasil penelitian tersebut juga mendukung hasil penelitian terdahulu yang

menyimpulkan bahwa: pelatihan merupakan salah satu elemen kunci

keberhasilan implementasi TQM (Baidoun, 2003; Munizu, 2003; dan Metri,

2005); pelatihan dalam TQM mempunyai pengaruh signifikan terhadap kinerja

organisasi maupun individu (Huarng dan Yao, 2002 dan Laily, 2003); pelatihan

adalah salah satu variabel dalam implementasi TQM yang mempunyai korelasi

secara signifikan terhadap dimensi budaya (Jabnoun dan Sedrani, 2005).

Salah satu falsafah perusahaan adalah ‘Memberikan kesempatan yang sama bagi semua karyawan untuk mengembangkan karir mereka sesuai dengan

kemampuan dan kecakapannya’, dijabarkan lebih lanjut dalam ISO 9001:2000 klausul 6 khususnya berkaitan dengan pelatihan, telah mendorong perusahaan

untuk mengembangkan berbagai jenis program pelatihan. Beberapa indikasi

yang menunjukkan adanya program pelatihan di perusahaan adalah:

 Untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan sumberdaya manusia, perusahaan telah melaksanakan berbagai program pelatihan internal maupun

di lembaga-lembaga pelatihan lainnya di luar perusahaan.

 Program pelatihan diselenggarakan selama satu bulan bagi karyawan harian dan tiga bulan bagi karyawan tingkat operator dan mekanik.

 Karyawan staf dan tingkat manajerial, diberikan program pelatihan baik di dalam negeri maupun luar negeri.

 Setiap karyawan mempunyai competency report, sehingga dapat dipantau kompetensinya berdasarkan pelatihan yang telah maupun yang perlu

ditempuh. Catatan tersebut diperlukan untuk lebih memberdayakan karyawan

yang mengarah ke multiskill sehingga lebih fleksibel.

Adanya aktivitas pelatihan yang berorientasi pada kualitas tersebut ternyata

telah efektif membentuk budaya kualitas di PT. Hari Terang Industry.

Rata-rata tanggapan terhadap variabel pelatihan sebesar 4.02, menunjukkan

perusahaan cukup tinggi dalam melakukan aktivitas pelatihan. Tanggapan atas

pernyataan ‘Perusahaan mengelola program pelatihan dan pengembangan berdasarkan prinsip-prinsip kualitas’(X41) yang tertinggi (4,31) menunjukkan bahwa perusahaan telah mengelola program pelatihan dan pengembangan

dengan baik. Sedangkan tanggapan atas pernyataan ‘Semua karyawan dilatih lintas bagian sehingga dapat saling melengkapi’(X45), yang terendah (3,75) menunjukkan bahwa belum semua karyawan dilatih lintas bagian yang mengarah

ke multiskill (baru 10%). Oleh karena itu, competency report yang ada

hendaknya lebih diberdayakan dengan menyelenggarakan berbagai program

pelatihan, sehingga semakin bertambah lagi karyawan yang multiskill dan dapat

meningkatkan budaya kualitas.

e. Pemberdayaan Karyawan

Variabel pemberdayaan karyawan mempunyai pengaruh positif yang

signifikan terhadap variabel budaya kualitas. Hal ini membuktikan bahwa secara

parsial pemberdayaan karyawan merupakan salah satu variabel yang

men-dorong terbentuknya budaya kualitas di PT. Hari Terang Industry.

Hasil penelitian tersebut mendukung pendapat pakar kualitas, bahwa

keberhasilan implementasi TQM (Krajewski, Lee, dan Ritzman, 1999; Curkovic

dan Landeros, 2000; Hashmi, 2004). Litwin dan Stringer dalam Kelner (1998)

dan Lawson (2004) juga berpendapat bahwa pemberdayaan karyawan adalah

salah satu variabel dalam implementasi TQM yang secara signifikan

mempengaruhi budaya kualitas.

Pemberdayaan karyawan dan kelompok kerja merupakan salah satu faktor

mikro dari dalam perusahaan yang mempengaruhi perubahan dan

pengem-bangan budaya organisasi. Karyawan atau serikatnya harus dilibatkan sejak

awal, khususnya dalam bentuk pemberdayaan karyawan dan kelompok kerja.

Perhatian pada isu-isu tersebut penting dalam perubahan budaya organisasi

yang mengarah pada konsumen dan kualitas (Paskard, 1995).

Salah satu falsafah perusahaan adalah ‘menjadikan karyawan sebagai asset utama perusahaan’, yang secara khusus dalam ISO 9001:2000 klausul 6.2.2.d dijelaskan bahwa ‘Organisasi menjamin karyawannya menyadari keterlibatan dan arti penting aktivitasnya dan bagaimana kontribusi mereka dalam mencapai

sasaran kualitas’, telah mendorong perusahaan untuk selalu memberdayakan karyawan dalam setiap aktivitasnya.

Beberapa bentuk upaya pemberdayaan karyawan oleh perusahaan,

diantaranya adalah: dibentuknya kelompok kerja (Small Group Activity) atau

Gugus kendali Mutu (GKM), pertemuan berkala, aktivitas sumbang saran (brain

storming), pengakuan dan penghargaan atas prestasi karyawan di bidang

perbaikan dan peningkatan kualitas. Pemberdayaan dan pengakuan atas

eksistensi karyawan oleh perusahan tersebut terbukti telah efektif membangun

budaya kualitas di PT. Hari Terang Industry.

Nilai rata-rata tanggapan terhadap variabel pemberdayaan karyawan relatif

yang paling rendah (3,73) jika dibandingkan dengan variabel bebas yang lain

Oleh karena itu pemberdayaan karyawan perlu dibenahi dan ditingkatkan,

terutama pada item-item yang mempunyai nilai rata-rata rendah, karena variabel

pemberdayaan karyawan tersebut berpengaruh positif dan signifikan terhadap

budaya kualitas.

Tanggapan atas pernyataan ‘Semua karyawan mempunyai kewenangan dalam pengambilan keputusan secara proporsional’(X53) yang terendah (2,82) menunjukkan belum atau tidak semua karyawan diberi kewenangan mengambil

keputusan secara proposional. Oleh karena itu perlu dikembangkan mekanisme

pendelegasian kewenangan bagi setiap karyawan secara proporsional, sehingga

karyawan dapat memutuskan secara mandiri jika ditemui permasalahan yang

menyangkut tanggung jawabnya, misalnya: kewenangan menghentikan jalur

produksi jika ditemui gejala penyimpangan kualitas, kewenangan memperbaiki

gangguan mesin, dsb, karena pada dasarnya orang yang paling dekat dengan

masalah yang terjadi adalah orang yang paling tepat dan terbaik untuk membuat

keputusan.

Sedangkan tanggapan atas pernyataan‘Perusahaan selalu mengembangkan keterlibatan karyawan pada semua bagian untuk mengelola semua aspek

kualitas’(X52)yang tertinggi (4,19), berarti perusahaan telah mengembangkan keterlibatan karyawan pada semua bagian.

f. Perbandingan Kinerja

Variabel perbandingan kinerja (benchmarking) mempunyai pengaruh negatif

yang tidak signifikan terhadap variabel budaya kualitas. Hal ini membuktikan

bahwa perbandingan kinerja ternyata bukan merupakan variabel yang

mempengaruhi terbentuknya budaya kualitas di PT. Hari Terang Industry bahkan

berkorelasi negatif.

Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Paskard (1995) dan Lawson

mikro perusahaan yang mempengaruhi perubahan dan pengembangan budaya

suatu organisasi, karena obyeknya tidak terfokus pada sumberdaya manusia.

Tetapi hasil penelitian menolak atau tidak mendukung pendapat pakar

kualitas bahwa: perbandingan kerja merupakan salah satu elemen kunci

keberhasilan implementasi TQM (Krajewski, Lee, dan Ritzman, 1999; Curkovic

dan Landeros, 2000); perbandingan kinerja (benchmarking) secara umum dapat

memberikan tiga manfaat, yaitu: perubahan budaya, perbaikan kinerja, dan

meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (Ross dalam Tjiptono dan

Diana, 2003). Konsep perbandingan kinerja mengarah pada reorientasi budaya

menuju usaha belajar (learning), peningkatan ketrampilan dan efisiensi, yang

mengarah pada proses pengembangan berkelanjutan (Karlof dalam Tjiptono dan

Diana, 2003)

Hasil penelitian juga menolak atau tidak mendukung hasil penelitian

terdahulu yang menyimpulkan bahwa: perbandingan kinerja merupakan salah

satu elemen kunci keberhasilan implementasi TQM (Metri, 2005); perbandingan

kinerja dalam TQM mempunyai pengaruh signifikan terhadap kinerja organisasi

(Huarng dan Yao, 2002); perbandingan kinerja adalah salah satu variabel dalam

implementasi TQM yang mempunyai korelasi secara signifikan terhadap dimensi

budaya (Jabnoun dan Sedrani, 2005).

Aktivitas perbandingan kinerja yang relatif tinggi (4,15) ternyata tidak atau

belum seiring dengan peningkatan budaya kualitas, bahkan berkorelasi negatif.

Perbedaan hasil penelitian dengan pendapat dan penelitian terdahulu

mem-buktikan bahwa aktivitas perbandingan kinerja yang dilakukan oleh perusahaan

selama ini ternyata tidak atau belum secara efektif membentuk budaya kualitas.

Indikasi tidak efektifnya aktivitas perbandingan kinerja diantaranya: terbatasnya

pemahaman manajemen dan karyawan tentang arti pentingnya perbandingan

sistematis; serta kurang ada tindak lanjutnya; sehingga belum memberikan

manfaat bagi perusahaan, terutama dalam membentuk budaya kualitas.

Oleh karena itu, aktivitas perbandingan kinerja hendaknya dikelola lebih

efektif dan sistematis. Menurut Karlof dalam Tjiptono dan Diana (2003), pada

hakekatnya proses perbandingan kinerja (benchmarking) secara sistematis terdiri

atas lima tahap, yaitu: tahap pengambilan keputusan obyek yang akan

diperban-dingkan, identifikasi obyek, pengumpulan informasi, analisis, dan implementasi.

g. Penggunaan Piranti Statistik

Variabel penggunaan piranti statistik mempunyai pengaruh positif yang

signifikan terhadap variabel budaya kualitas. Hal ini membuktikan bahwa

penggunaan piranti statistik merupakan variabel yang mempengaruhi

terbentuk-nya budaya kualitas di PT. Hari Terang Industry.

Hasil penelitian tersebut mendukung pendapat pakar kualitas, bahwa

peng-gunaan piranti statistik merupakan salah satu elemen kunci keberhasilan

implementasi TQM (Krajewski, Lee, dan Ritzman, 1999; Hashmi, 2004). Menurut

Dale (2003), penggunaan piranti statistik sangat berarti dalam membantu proses

perbaikan berkelanjutan, karyawan memanfaatkan piranti statistik sebagai

bentuk keterlibatan dan kontribusinya, menjadikan kesadaran karyawan terhadap

kualitas meningkat, prilaku dan sikap karyawanpun berubah. Selanjutnya Lawson

(2004) berpendapat: apa yang diukur, seberapa sering, dan bagaimana informasi

tersebut digunakan dan dikomunikasikan, semuanya akan mempengaruhi

terbentuknya budaya kualitas.

Salah satu klausul ISO 9001:2000, yaitu klausul 8.1 menyatakan bahwa

organisasi merencanakan proses pengukuran, analisis, dan peningkatan.

Perencanaan harus dituangkan dalam sejumlah kebijakan, misi, visi, dan

penting untuk dipantau dan ditinjau ulang. Klausul tersebut telah mendorong

perusahaan untuk menggunakan piranti statistik dalam setiap aktivitasnya.

Beberapa piranti statistik yang banyak digunakan oleh perusahaan dalam

mengendalikan dan memperbaiki aktivitas perusahaan yang berkaitan dengan

semua aspek kualitas diantaranya adalah: sumbang saran (brainstorming),

checklists, diagram pareto , diagram tulang ikan (fishbone diagram), flow chart, control chart, scatter diagram, dan histogram.

Penggunaan piranti statistik oleh perusahan terbukti telah mampu menekan

tingkat kerusakan produk hingga 0,5 % dan meningkatkan efisiensi produksi

secara keseluruhan hingga 96 %. Penggunaan piranti statistik tersebut juga

efektif membangun budaya kualitas di PT. Hari Terang Industry.

Tanggapan terhadap variabel penggunaan piranti statistik sebesar 4,15,

menunjukkan perusahaan telah menggunakan atau memanfaatkan piranti

Dokumen terkait