HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian
4.3.1 Pengaruh Pendapatan asli Daerah Terhadap Belanja Modal
Berdasarkan uji T yang telah dilakukan sebelumnya diperoleh hasil bahwa variabel Pendapatan Asli Daerah memiliki nilai signifikansi 0,000 < 0,05 yang berarti terdapat pengaruh signifikan terhadap Belanja Modal. Nilai t positif menunjukkan bahwa variabel Pendapatan Asli Daerah mempunyai hubungan yang searah dengan Belanja Modal, maka pengajuan hipotesis yang menyatakan bahwa Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif terhadap Belanja Modal dapat diterima.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Situngkir (2009), kusnandar dan Siswantoro (2012), dan Sumarmi (2012) yang menyimpulkan bahwa Pendapatan Asli Daerah berpengaruh signifikan positif terhadap Belanja Modal. Hal ini menunjukkan bahwa semakin meningkat Pendapatan Asli Daerah maka Belanja Modal semakin meningkat pula pada Kabupaten/Kota di provinsi Sumatera Utara.
Hal ini disebabkan karena PAD merupakan sumber pendapatan yang diperoleh dari daerah yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. PAD juga merupakan salah satu sumber pembelanjaan daerah, sehingga jika PAD meningkat maka dana yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah akan lebih tinggi dan tingkat kemandirian daerah akan meningkat pula.
4.3.2 Pengaruh Dana Bagi Hasil Terhadap Belanja Modal
Berdasarkan uji T yang telah dilakukan sebelumnya diperoleh hasil bahwa variabel Dana Bagi Hasil memiliki nilai signifikansi 0,000 < 0,05 yang berarti terdapat pengaruh signifikan terhadap Belanja Modal. Nilai t negatif menunjukkan bahwa variabel Dana Bagi Hasil mempunyai hubungan yang berlawanan arah dengan Belanja Modal, maka pengajuan hipotesis yang menyatakan bahwa Dana Bagi Hasil berpengaruh positif terhadap Belanja Modal ditolak.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Maryadi (2014) dan Wandira (2013) menyatakan bahwa Dana Bagi Hasil berpengaruh positif terhadap Belanja Modal. Hal ini menunjukkan bahwa semakin meningkat Dana Bagi Hasil maka Belanja Modal semakin menurun pada Kabupaten/Kota di provinsi Sumatera Utara. Hal ini disebabkan bahwa Pemerintah Daerah tidak mengalokasikan dengan baik penerimaan Dana Bagi Hasil terhadap Belanja Modal. Namun lebih memusatkan pada pengeluaran lain misalnya pengeluaran rutin.
4.3.3 Pengaruh Dana Alokasi Umum Terhadap Belanja Modal
Berdasarkan uji T yang telah dilakukan sebelumnya diperoleh hasil bahwa variabel Dana Alokasi Umum memiliki nilai signifikansi 0,000 < 0,05 yang berarti terdapat pengaruh signifikan terhadap Belanja Modal. Nilai t positif menunjukkan bahwa variabel Dana Alokasi Umum mempunyai hubungan yang searah dengan Belanja Modal, maka pengajuan hipotesis yang
menyatakan bahwa Dana Alokasi Umum berpengaruh positif terhadap Belanja Modal dapat diterima.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Situngkir dan Manurung (2009) dan Sianipar (2011) menyatakan bahwa Variabel Dana Alokasi Umum berpengaruh positif terhadap anggaran Belanja Modal. Hal ini menunjukkan bahwa semakin meningkat Pendapatan Asli Daerah maka Belanja Modal semakin meningkat pula pada Kabupaten/Kota di provinsi Sumatera Utara.
Hal ini disebabkan karena Dana Alokasi Umum merupakan transfer yang bersifat umum (block grant) yang diberikan kepada semua kabupaten dan kota untuk tujuan mengisi kesenjangan antara kapasitas dan kebutuhan fiskalnya. Dengan adanya transfer DAU dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah bisa mengalokasikan pendapatannya untuk membiayai Belanja Modal. Pemda tidak hanya mengalokasikan seluruh DAU hanya untuk membiayai pengeluaran rutin daerah saja, tapi juga mengalokasikan DAU untuk kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan pelayanan kepada masyarakat dalam bentuk Belanja Modal, sesuai dengan tujuan DAU yaitu untuk pemerataan kemampuan keuangan daerah.
4.3.4 Pengaruh Dana Alokasi Khusus Terhadap Belanja Modal
Berdasarkan uji T yang telah dilakukan sebelumnya diperoleh hasil bahwa variabel Dana Alokasi Khusus memiliki nilai signifikansi 0,631 > 0,05 yang berarti tidak terdapat pengaruh signifikan terhadap Belanja Modal. Nilai
t negatif menunjukkan bahwa variabel Dana Alokasi Khusus mempunyai hubungan yang berlawanan arah dengan Belanja Modal. maka pengajuan hipotesis yang menyatakan bahwa Dana Alokasi Khusus berpengaruh positif terhadap Belanja Modal ditolak.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sumarmi (2012) dan Sianipar (2011) menyatakan bahwa variabel Dana Alokasi Khusus berpengaruh positif signifikan terhadap alokasi Belanja Modal. Hal ini menunjukkan bahwa semakin meningkat Dana Alokasi Khusus maka Belanja Modal semakin menurun pula pada Kabupaten/Kota di provinsi Sumatera Utara.
Hal ini mengindikasikan bahwa Dana Alokasi Khusus yang selama ini diterima daerah tidak digunakan untuk pembangunan daerah yang terlihat dalam alokasi Belanja Modal. Hal ini disebabkan karena DAK hanya dialokasikan untuk kepentingan khusus saja.
4.3.5 Pengaruh Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Terhadap Belanja Modal
Berdasarkan uji T yang telah dilakukan sebelumnya diperoleh hasil bahwa variabel Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran memiliki signifikansi 0,001 < 0,05 yang berarti terdapat pengaruh signifikan terhadap Belanja Modal. Nilai t positif menunjukkan bahwa variabel Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran mempunyai hubungan yang searah dengan Belanja Modal, maka pengajuan
hipotesis yang menyatakan bahwa Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran berpengaruh positif terhadap Belanja Modal dapat diterima.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kusnandar dan Siswantoro (2012) dan Aprizay et al (2014), menyatakan bahwa Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran berpengaruh signifikan positif terhadap Belanja Modal.
Hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah daerah telah berhasil menggunakan SiLPA untuk pelaksanaan program / kegiatan pemerintah daerah kabupaten/kota termasuk kepada pelayanan publik. Menurut Kusnandar dan Siswantoro (2012) SiLPA tahun sebelumnya yang merupakan penerimaan pembiayaan digunakan untuk menutupi defisit anggaran apabila realisasi pendapatan lebih kecil daripada realisasi belanja, mendanai pelaksanaan kegiatan lanjutan atas beban belanja langsung (belanja barang dan jasa, belanja modal, dan belanja pegawai) dan mendanai kewajiban lainnya yang sampai dengan akhir tahun anggaran belum diselesaikan. SiLPA tahun sebelumnya sangat berpengaruh pada alokasi Belanja Modal tahun berikutnya.
Sedangkan hasil penelitian secara simultan yang telah dilakukan sebelumnya diperoleh nilai F hitung sebesar 147,966 > dari F tabel 2,30 artinya signifikan, dengan signifikansi 0,000. Nilai signifikansi berada dibawah 0,05 hal ini berarti bahwa hipotesis diterima yaitu Pendapatan Asli Daerah, Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran berpengaruh secara simultan terhadap Belanja Modal pada Kabupaten / Kota
Provinsi Sumatera Utara periode tahun 2009 – 2013. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Aprizay, et al (2014) menyatakan bahwa Pendapatan Asli Daerah, komponen Dana Perimbangan yang terdiri dari Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus, Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran berpengaruh secara simultan terhadap Belanja Modal.
Nilai koefisien determinasi yang sudah disesuaikan (Adjusted R Square) sebesar 0,871, artinya 87,1% variabel dependen (Belanja Modal) dapat dijelaskan oleh variabel independen yaitu Pendapatan Asli Daerah, Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran, dan sisanya sebesar 12,9% (100% - 87,1%) dapat dijelaskan oleh variabel lain diluar variabel yang digunakan.
Berdasarkan hasil model Summary diatas angka R sebesar 0,936 menunjukkan bahwa hubungan antara variabel Y (Belanja Modal) dengan X1 (Pendapatan Asli Daerah), X2 (Dana Bagi Hasil), X3 (Dana Alokasi Umum), X4 (Dana Alokasi Khusus), dan X5 (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) sangat erat yaitu sebesar 0,936 (93,6%). Semakin besar R berarti hubungan semakin erat.
Angka R Square (Koefisien Determinasi) adalah sebesar 0,877, artinya angka ini mengindikasikan bahwa 87,7% variasi atau perubahan dalam Belanja Modal dapat dijelaskan oleh variasi variabel Pendapatan Asli Daerah, Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran, sedangkan sisanya dijelaskan oleh sebab – sebab lain yang tidak dimasukkan ke dalam model penelitian.
BAB V