• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Tinjauan Tentang pendapatan

5. Pengaruh Pendapatan Terhadap Keputusan Pembelian

Menurut sadono sukirno dalam Skirpsi Eny yullaihak menyatakan bahwa pendapatan merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi permintaan, pada hakikatnya merupakan hipotesis yang menyatakan bahwa semakin tinggi pendapatan maka semakin banyak permimtaan barang tersebut. sebaliknya semakin rendah pendapatan maka semakin sedikit permintaan barang tersebut.36

Pada tingkat pendapatan masyarakat yang tinggi, permintaan barang dan jasa akan mengalami peningkatan. Transaksi akan berjalan dengan lancar, distribusi ekonomi lancar karena masyarakat mengalami kecukupan untuk membeli barang sesuai permintaannya. Sebaliknya pada tingkat pendapatan masyarakat yang rendah, permintaan barang dan jasa

36Eny Yullaihak “Pengaruh Motivasi,Persepsi Kualitas, Dan Pendapatan Terhadap Keputusan Pembelian Pada Sepeda Motor honda Dipulogadung Jakarta Timur Dan Tinjuan Dari Sudut Pandangan Islam” (Skripsi : Universitas Yarsi, 2017) h.26

akan mengalami penurunan. Distribusi ekonomi akan tersendat, bila pendapatan terus menurun pasar akan lesu karena kekurangan pembeli37

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pendapatan berpengaruh terhadap keputusan pembelian, hubungan yang wujud merupakan hubungan yang berbanding lurus, sehingga jika terdapat kenaikan pendapatan, maka hal ini mengakibatkan pembelian sepeda motor akan lebih baik bahkan meningkat. Besar kecilnya pendapatan seseorang berpengaruh kepada kemampuan daya beli seseorang, termasuk dalam membeli sepeda motor, Semakin tinggi pendapatan semakin beragam pula keinginan konsumen.

6. Pendapatan dalam Pandangan Islam

Dalam Al-Qur‟an Allat SWT menganjurkan kita agar memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan mencari penghasilan berupa pendapatan yang tertuang dalam Al-Qur‟an pada Surah Al-Jumuah ayat 10 sebagai berikut :











































































Artinya : “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah k amu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS.Al-Jummuah/62:10).

M. Quraish Syihab dalam kitab tafsir Al-Misbah menafsirkan ayat diatas: Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru yakni

37 Rudini A. J, Permintaan Barang, (Bandung : CV. Djadmika, 2012), h. 4

dikumandangkan adzan oleh siapa pun untuk shalat pada zhuhur hari Jum‟at, maka bersegeralah kuatkan tekad dan langkah, jangan bermalas-malas apalagi mengabaikannya, untuk menuju dzikrullah menghadiri shalat dan khutbah jum‟at, dan tinggalkanlah jual beli yakni segala macam interaksi dalam bentuk dan kepentingan apapun bahkan semua yang dapat mengurangi perhatian terhadap upacara jum‟at. Demikian itulah yakni menghadiri acara jum‟at,yang baik buat kamu, jika kamu mengetahui kebaikannya pastilah kamu mengindahkan perintah ini38

Dari ayat diatas, dapat disimpulkan bahwa umat islam jika telah selesai menunaikan shalatnya, diperintahkan Allah SWT untuk berusaha atau bekerja agar memperoleh karuniaNya berupa penghasilan ataupun pendapatan, Kemudian umat islam diperintahkan juga agar senantiasa mengingat Allat SWT didalam maupun diluar ibadah shalatnya dan selalu berikhtiar dengan giat berusaha untuk mencapai tujuan yang baik, mulia disisi Nya dan terhormat dipandang manusia dengan landasan nilai syariah islam.

Sehingga nantinya dapat menjadi orang-orang yang beruntung didunia dan diakhirat.

D. Tinjauan Tentang Leasing 1. Pengertian Tentang Leasing

Istilah leasing memiliki pengertian yang beranekaragam dan bervariasi, namun secara umum leasing berarti equipment funding, yaitu pembiayaan peralatan/barang modal untuk digunakan pada proses

38M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah : Kesan, Pesan dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 230.

produksi suatu perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Leasing juga berarti pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang modal dengan pembayaran secara berkala oleh perusahaan yang menggunakan barang modal tersebut, dan dapat membeli atau memperpanjang jangka waktu berdasarkan nilai sisa. Perjanjian leasing tidak hanya sebatas suatu kontrak atau persetujuan sewa yang obyeknya berupa barang modal, dan pihak leasing memiliki hak opsi dengan harga berdasarkan nilai sisa, namun lebih kompleks, karena dalam leasing dapat timbul hak beli, dan hal ini sangat mendekati transaksi jual beli aktiva angsuran dan dapat pula seperti sewa menyewa biasa.39

Sedangkan Equipment Leasing Association, seperti yang dikutip Komar Andasasmita dalam bukunya serba-serbi leasing mendefinisikan bahwa leasing merupakan perjanjian antara lessor dan lessee untuk menyewa suatu jenis barang modal tertentu yang dipilih atau ditentukan oleh lesse. Hak kepemilikan atas barang modal tersebut adalah lessor sedangkan lesse hanya menggunakan barang modal tersebut berdasarkan pembayaran uang oleh lesse yang telah ditentukan jangka waktunya.40

Di Indonesia, kehadiran industri pembiayaan (multi finance), khususnya leasing baru dikenal sejak tahun 1974. Kelahirannya berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Perindustrian dan menteri Perdagangan No. 122/MK/IV/2/74, No. 32/M/SK/2/74, No. 30/ Kpb/I/74 tentang perizinan usaha leasing. Setahun setelah dikeluarkannya SKB

39 Ainun Naim, Akuntansi Keuangan 2. (Yogyakarta : BPFE, 1992), h. 150.

40 Amin Widjaja Tunggal dan Arif Djohan Tunggal, Akutansi Leasing Sewa Guna Usaha (Jakarta: Rineka Cipta, 1994 ), h. 3

tersebut, berdirilah PT. Pembangunan Armada Niaga Nasional. Kemudian melalui Keputusan Presiden No. 61/1988, yang ditindaklanjuti dengan SK.

Menteri Keuangan No. 1251/KMK.013/1998, pemerintah membuka luas lagi bagi bisnis pembiayaan sehingga perusahaan leasing semakin bertambah jumlahnya yang ditandai dengan bertambahnya volume transaksinya. Disamping itu, hadirnya perusahaan asing dalam bentuk usaha patungan dengan perusahaan-perusahaan nasional atau dengan pemodal individu telah semakin mempopulerkan kegiatan bisnis leasing sebagai sumber pembiayaan di samping cara-cara pembiayaan konvensional yang umum dikenal melalui perbankan.41

Bagi sebagian masyarakat Indonesia berpandangan bahwa pembiayaan leasing identik dengan jual beli angsuran dalam bentuk sewa beli. Hal ini dapat dimengerti, karena dalam perjanjian „leasing‟ memuat klausula “hak opsi”. Bentuk hak opsi adalah “opsi jual beli” atau opsi perpanjangan waktu. Pada klausula opsi beli, memberi hak kepada lessee untuk membeli barang-barang modal yang menjadi obyek leasing setelah sampai pada waktu yang dijanjikan. Sedang pada opsi perpanjangan waktu, memberi hak kepada lessee untuk memperpanjang waktu leasing dari batas jangka waktu perjanjian. Dengan mengaitkan leasing dengan opsi beli, perjanjian leasing memiliki aspek hukum ganda. Pada satu segi seolah-olah sebagai pejanjian sewa menyewa, pada segi yang lain mirip

41 Dahlan Siamat, Manajemen Lembaga, (Jakarta: Intermedia, 1995), h. 142.

dengan perjanjian jual beli sewa atau jual beli angsuran, apabila dalam perjanjian tercantum.42

Sebagian masyarakat yang menganggap leasing sebagai pembiayaan peralatan/barang modal untuk digunakan pada proses produksi suatu perusahaan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dengan demikian pada hakekatnya leasing merupakan salah satu cara pembiayaan yang mirip dengan kredit bank. Perbedaan antara keduanya hanya terletak pada bentuk barang yang diberikan, leasing memberikan bantuan dalam bentuk barang modal sedangkan bank memberikan bantuan berupa permodalan43.

2. Macam - Macam Leasing

Dokumen terkait