DAFTAR GAMBAR
2.6. Pengaruh Pendapatan terhadap Perilaku Menabung
Keynes berpendapat bahwa tabungan adalah bagian dari pendapatan yang tidak dikonsumsi pada periode yang sama. Karenanya tabungan merupakan fungsi tingkat pendapatan [dapat ditulis dengan S = f (Y)] yang siap dibelanjakan (disposible income). Menurut Keynes tidak semua pendapatan yang diperoleh masyarakat dibelanjakan untuk barang dan jasa, tetapi sebagian akan ditabungkan. Tingginya tingkat tabungan bergantung kepada besar kecilnya pendapatan yang siap dibelanjakan. Oleh karena itu hasrat menabung akan meningkat sesuai dengan tingkat pendapatan. Sehingga besar kecilnya tabungan dipengaruhi secara positif oleh besar kecilnya pendapatan.
Jika diketahui fungsi konsumsi: C = f (Y); C = Co + cY, maka fungsi tabungannya adalah S = -Co + (1-c) Y, karena:
1. C = Co + cY (2.27)
C + S = 0 + Y atau C + S = Y (2.29) 2. Jika S = Y - C, maka S = Y - Co - cY
S = -Co + Y - cY
S = -Co + (1 - c) Y (2.30)
Secara umum fungsi tabungan dapat ditulis dengan persamaan:
S = So + sY (2.31)
Keterangan:
S = tabungan
So = autonomus saving atau tabungan yang tidak dipengaruhi oleh pendapatan
Y = pendapatan
s = marginal propensity to save (MPS), yakni perubahan
tabungan yang disebabkan oleh perubahan pendapatan.
Persentase dari pendapatan yang ditabung menunjukkan perilaku secara keseluruhan dalam mengalokasikan pendapatannya. Persentase ini disebut propensity to save. Sedang yang diperuntukan sebagai konsumsi disebut propensity to consume.
Menurut pandangan Crouch (1972) analisis konsumsi dan/atau tabungan tidak dapat dilepaskan dari faktor pendapatan. Sebab pendapatan akan digunakan untuk keperluan konsumsi dan tabungan dengan berbagai alternatif. Selain itu pendapatan juga merupakan pembatas/kendala bagi setiap orang untuk memaksimalkan kepuasan. Apabila diasumsikan harga dan pendapatan saat ini sama dengan masa yang akan datang (P1 = Pt + 1 dan Y1 =
Yt + 1), maka perubahan pendapatan akan mengakibatkan perubahan intersep pada persamaan konsumsi.
Pemahaman dasar tentang hubungan antara tabungan dengan pendapatan dimulai dari hipotesis Keynes yang menyatakan, bahwa rata-rata MPS (marginal propensity to save) meningkat dengan meningkatnya pendapatan. Hipotesis ini diturunkan dari dua hukum psikologi Keynes, yakni:
1. Hukum psikologi Keynes yang dinyatakan sebagai fungsi tabungan (Mikesell dan Zinser, 1973) :
S = α0 + a1Y (2.32)
a0 < 0 dan MPS adalah 0 < a1 < 1. Dengan spesifikasi persamaan 2.32. APS (average propensity to save) akan meningkat dengan meningkatnya pendapatan. Jika a0 ³ 0, maka APS £ MPS.
2. Hukum psikologi Keynes yang menyatakan bahwa MPS merupakan fungsi increasing dari tingkat pendapatan dan diformulasikan :
In S = b0 + b1 InY (2.33)
b0 dan b1 > 0, dan b1 merupakan koefisien elastisitas.
Bila dicermati secara saksama sesungguhnya teori Keynes sejalan dengan teori klasik, karena keduanya sama-sama berorientasi pada preferensi setiap orang untuk memaksimumkan utility, tetapi dengan sudut pandang yang berbeda. Teori klasik mendasarkan pada tingkat bunga. Apabila tingkat
bunga berubah akan mengakibatkan garis anggaran (budget line) bergeser secara berputar sehingga kurva indiferen bergeser. Teori Keynes mendasarkan pada pendapatan yang terjadi saat ini (current income). Apabila pendapatan berubah akan mengakibatkan garis anggaran bergeser sejajar, sehingga kurva indiferen bergeser.
Secara prinsip, Keynes menggambarkan bahwa tabungan dipengaruhi secara positif oleh pendapatan dan dipengaruhi secara negatif oleh tingkat konsumsi. Pandangan Keynes tentang tabungan terus dikembangkan oleh berbagai pihak. Di antaranya adalah Franco Modigliani dengan teori “daur hidup (life cycle)” dan Milton Friedman dengan teori “pendapatan permanen (permanent income)”.
Konsep teori konsumsi/tabungan Keynes yang kemudian disebut dengan hipotesis pendapatan absolut mempunyai implikasi pada nilai APC dan APS. Nilai APC akan semakin menurun jika pendapatan semakin tinggi. Pada saat bersamaan nilai APS akan semakin tinggi jika pendapatan semakin tinggi. Secara lugas teori tabungan Keynes meramalkan, bahwa dalam suatu perekonomian yang berkembang persentase konsumsi terhadap pendapatan menjadi semakin menurun. Sedangkan persentase tabungan dibandingkan dengan pendapatan akan semakin meningkat.
Dari sisi teoritis, hipoteis Keynes tidak mencermati dan mempedulikan antara pendapatan jangka pendek dan jangka panjang. Padahal pendapatan setiap orang akan mengalami pasang surut. Karena pasang surut inilah
kemampuan setiap orang untuk menikmati konsumsi dan menyisihkan untuk tabungan sangat tergantung pada sifat pendapatannya. Beberapa penemuan empiris -- di Amerika Serikat, dan di Indonesia -- menunjukkan APC adalah tetap, yaitu konsumsi adalah proporsional dengan pendapatan (Sadono Sukirno, 2000).
Teori Keynes tentang tabungan juga tidak menganalisis secara mendalam terhadap karakter perilaku tabungan di negara-negara maju dan negara-negara berkembang. Keduanya memiliki cukup banyak perbedaan pada sistem perekonomiannya. Keduanya memiliki budaya dan sosial ekonomi yang berlainan. Proses pembangunan ekonomi yang diterapkan juga digerakkan oleh model-model lokal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perilaku masyarakat untuk menabung bukan karena faktor kelebihan konsumsi, tetapi perilaku konsumsi masyarakat dilakukan setelah menabung.
Secara empirik banyak penelitian yang menghasilkan kesimpulan sebagai mana pandangan Keynes. Wai (1972) menyatakan, bahwa keputusan setiap unit ekonomi untuk menabung ternyata ditentukan oleh kemampuan (ability to save = A), kemauan (willingness to save = W), dan kesempatan (opportunity to save = O). Sedangkan kemampuan (ability) menabung ditentukan oleh pendapatan (Y), struktur penduduk/tingkat ketergantungan (N), dan kekayaan (K).
Rossi (1988) melakukan studi empiris mengenai dampak pendapatan terhadap tabungan dengan menggunakan data time series untuk 49 negara
dengan periode waktu 1973-1983. Hasilnya adalah adanya dampak positif dari tingkat pendapatan sekarang (current income level) terhadap tingkat tabungan. Di Indonesia menunjukkan bahwa pengaruh pendapatan perkapita terhadap tingkat tabungan sangat positif dan signifikan, baik jangka pendek dan panjang. Hal ini dilakukan oleh Sri Isnowati (2005).
Kwack (2003) meneliti tentang perlaku tingkat tabungan rumah tangga, dengan menguji hipotesis siklus hidup, menggunakan data pooled di Korea pada periode waktu
1977-2002, Model persamaan yang digunakan untuk analisis adalah
(2.34)
Sj adalah tabungan per unit pendapatan riil yang siap dibelanjakan rumah tangga untuk kelompok umur j; Tj merupakan rata-rata harapan hidup penduduk dikurangi umur tengah dari kelompok umur j; gj = pertumbuhan dari pendapatan riil yang siap dibelanjakan rumah tangga; Yj = pendapatan riil yang siap diblanjakan rumah tangga; W = harga riil dari individu; LB = pinjaman riil individu pada bank komersial; D24 = variabel dummy untuk umur 24 tahun dan kelompok umur dibawahnya; dan D55 = variabel dummy untuk umur 55 tahun dan kelompok umur di atasnya. Dalam penelitian ini umur dikelompokkan menjadi 8 kelompok yang berbeda, yaitu 24 tahun dan dibawahnya, 25-29 tahun; 30-34 tahun; 35-39 tahun, 40-44 tahun; 45-49 tahun; 50-54 tahun serta 55 tahun dan diatasnya. Hasil estimasi regresi menemukan bahwa rasio dari pinjaman bank terhadap GDP tidak signifikan,
t t jt t t t t jt jt Y D D GDP LB GDP W g T 24 55 Sj t=β1+β2 +β3 +β4 +β5 +β6 +β7 +β8
sedang variabel yang lainnya signifikan. Hasil empiris penelitian ini menyatakan bahwa pola tabungan rumah tangga Korea konsisten dengan hipotesis siklup hidup. Disamping itu tingkat pertumbuhan pendapatan riil berpengaruh secara negatif terhadap tabungan rumah tangga.
Kofi Q. Dadzie, et al.(2003) melakukan penelitian Pengaruh Sistem Keyakinan Sosial Normatif dan Kepuasan Nasabah terhadap Program Tabungan Pedesaan di Ghana (The Effects of Normative Social Belief Systems and Customer Satisfaction on Rural Savings Programs in Ghana).Variabel dependen adalah tabungan pedesaan, dan variabel independen terdiri dari keyakinan sosial, pendapatan, kualitas layanan, dan variabel demografi (tanggungan anak, jarak tempuh, umur, pendidikan). Model yang digunakan adalah SOR (respon organis stimulus). Model ini diterapkan untuk memodelkan respon konsumen terhadap jenis layanan lembaga baru, Bank Pedesaan. Penelitian ini dilakukan di Ghana, dengan serangkaian metodologi yang terdiri dari data penelitian cross section, instrumen adalah angket, dan alat analisis menggunakan regresi OLS. Salah satu hasil penelitian ini menunjukan, bahwa pendapatan pertanian berpengaruh positif terhadap perilaku menabung.
Kenyataan berbeda ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Efriaty Sumastuti(2008). Menurutnya, tabungan merupakan selisih antara pendapatan dan pengeluaran rumah tangga. Salah satu kesimpulan yang dianggap mengejutkan adalah apabila dilihat dari jumlah pendapatan per
jenis pekerjaan (buruh & angkutan, petani & nelayan, pengusaha & pedagang, PNS, TNI/POLRI, pensiunan dan lainnya) harusnya ada yang tidak menabung. Kenyataannya semua responden menabung dalam jumlah yang bervariasi. Berarti ada kemungkinan bahwa responden tidak menabung dari sisa pendapatannya, tetapi menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditabung dan sisanya digunakan keperluan pengeluaran konsumsi.
Pada tahun 2000 Harif Amadi Rivai, et al., melakukan penelitian di wilayah Sumatera Barat. Tema yang ditelti adalah “Identifikasi Faktor Penentu Keputusan Konsumen dalam Memilih Jasa Perbankan: Bank Syariah VS Bank Konvensional”. Responden yang diteliti adalah 1060 (seribu enam puluh) orang dengan analaisis logit. Kesimpulan yang diperoleh adalah pendapatan berpengaruh negatif. Artinya responden potensial adalah yang berpendapatan menengah ke bawah, serta yang kurang mengenal
sistem bagi hasil.
Berpijak dari kerangka teori dan didukung oleh berbagai hasil penelitian terdahulu dapatlah dimunculkan premis, bahwa tingkat pendapatan berpengaruh posiitif ( + ) dan signifikan terhadap tabungan bank syariah. Di sisi lain ada yang menunjukkan bahwa tingkat pendapatan berpengaruh tetapi tidak signifikan. Secara matematis premis tersebut dapat ditulis sebagai berikut:
S = f (Inc.) (2.35) Dimana:
S = Tabungan