DAFTAR GAMBAR
2.5. Pengaruh Suku Bunga terhadap Perilaku Menabung
Teori bunga muncul sejak manusia mulai melakukan pemikiran ekonomi. Para filosof Yunani Kuno telah melakukan pembahasan tentang bunga. Diantara para filosof tersebut adalah Plato, dan Aristoteles (Karim, 2001). Secara umum, perkembangan teori bunga dapat dikelompokkan menjadi dua aliran. Aliran pertama adalah teori bunga murni dan aliran kedua adalah teori bunga moneter. Di antara pakar yang mendukung kelompok teori pertama adalah Adam Smith dan David Ricardo. Keduanya adalah penganut teori bunga klasik; N.W. Senior pelopor teori bunga obstines; Marshall sebagai pelopor teori bunga produktivitas dan Bohm Bawerk pelopor teori bunga Austria atau time preference theory. Sedangkan
aliran kedua adalah teori bunga moneter. Teori bunga yang termasuk kelompok ini adalah the loanable funds theory of interest dengan pelopornya adalah A.Lerner dan teori bunga keseimbangan kas dengan J.M.Keynes sebagai pelopornya (Muhammad Akram Khan, 1981). Substansi berbagai pandangan di atas bermuara pada ajaran bahwa bunga merupakan harga dari uang. Bahkan menurut pandangan Adam Smith dan David Ricardo, ekonomi tanpa bunga tidak mungkin bisa berjalan (Muhammad, 2001).
Menurut teori klasik, tabungan (S) adalah fungi dari tingkat suku bunga (r) (Horvitz, 1974; Karim, 2001) dengan hubungan positif. Dengan demikian persamaan tabungan dalam teori klasik adalah S = f(r). Persamaan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat bunga, akan mendorong semakin tinggi tingkat tabungan. Dengan lain perkataan, peningkatan tingkat bunga berarti peningkatan imbalan atas dana yang ditabungkan. Kondisi ini akan lebih mendorong masyarakat untuk mengurangi konsumsi.
Salah satu tokoh kaum klasik yang mengembangkan teori ini adalah Wicksell Vieneris (1977). Vineris menyatakan bahwa tingginya minat masyarakat untuk menabung dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tingkat suku bunga. Tingkat bunga yang tinggi mengakibatkan jumlah tabungan semakin meningkat. Jika suku bunga tinggi, masyarakat cenderung akan mengurangi konsumsi sekarang untuk dialihkan ke tabungan.
Menurut U Tun Wai (1972) keputusan setiap unit ekonomi untuk menabung ternyata ditentukan oleh kemampuan (ability to save = A),
kemauan (willingness to save = W), dan kesempatan (opportunity to save = O). Sehingga fungsi tabungannya:
S = f (A, W, O) (2.22)
Kemauan menabung ditentukan oleh faktor tingkat bunga (i), tahapan hidup seseorang dalam siklus hidupnya (the stage of life that one individual is the life cycle = L), dan jenjang atau tingkat sosial/status sosial (C). Karenanya alur pikir tersebut dapat ditulis dalam bentuk fungsionalnya sebagai berikut:
W = f (i, L, C) (2.23)
Secara mikro keyakinan kaum Klasik terhadap suku bunga sebagai tenaga mekanik (mechanism) utama terhadap tabungan masyarakar tanpa memperhatikan peran variabel lain merupakan titik lemah. Pendapatan dan faktor psikologi sistem kepercayaan setiap kelompok masyarakat merupakan variabel pengaruh yang tidak dapat diabaikan. Faktor terakhir merupakan aspek non ekonomi yang tidak dapat diabaikan pengaruhnya bagi perilaku ekonomi termasuk perilaku menabung masyarakat.
Munculnya suku bunga berawal dari perbedaan dalam memandang terhadap fungsi uang. Kelompok konvensional memandang bahwa keinginan untuk mengatur uang atau asetnya dipengaruhi oleh tiga hal, yakni money demand for transaction, money demand for precaution, dan money demand for speculation. Permintaan uang untuk transaksi dan berjaga-jaga
merupakan fungsi dari tingkat pendapatan. Sedangkan permintaan uang untuk spekulasi adalah fungsi dari tingkat suku bunga.
Menurut ekonomi syariah permintaan uang -- termasuk perilaku tabungan -- hanya dipengaruhi oleh motif transaksi dan berjaga-jaga yang merupakan fungsi tingkat pendapatan. Dengan demikian, ditiadakannya motif spikulasi membawa konsekuensi tidak diakuinya suku bunga dalam sistem ekonomi syariah. Secara empiris terdapat beberapa penelitian yang menghasilkan kesimpulan, bahwa tingkat suku bunga -- berapapun besarannya -- tidak menjadi perhatian utama bagi masyarakat (Mansoer dan Suyanto, 1998). Kekuatan visi keislaman (relijiusitas) mendorong persepsi masyarakat, bahwa tingkat bunga tabungan tidak menjadi persoalan bagi sebagian besar umat muslim. Mereka lebih memilih return investasi yang sah atau dibolehkan, tidak menjadi soal bagaimana tinggi rendahnya return ini jika dibandingkan dengan tingkat bunga atau inflasi dari bank konvensional (Mehboob ul Hassan, 2007). Analisis ekonomi syariah melihat, bahwa kelemahan mainstream klasik muncul pada penerapan “bunga” sebagai sebuah kewajaran.
Pandangan klasik tentang hubungan yang positif dan signifikan antara tabungan dan tingkat bunga ini diragukan oleh ahli ekonomi setelah klasik. Menurut kaum klasik, apabila seorang menabung untuk mendapatkan sejumlah pendapatan pada waktu yang akan datang dengan tingkat bunga yang tinggi, maka tabungan saat ini dapat dikurangi dan tetap memperoleh
pendapatan yang tinggi pada waktu yang akan datang. Tingkat bunga yang tinggi akan menghasilkan penerimaan yang tinggi, sehingga jumlah konsumsi menjadi lebih tinggi. Apabila masyarakat mengutamakan pendapatan yang akan diterima dari tabungan dengan naiknya tingkat bunga maka akan mengurangi tabungan dan meningkatkan konsumsi.
Suku bunga dapat dimaknai sebagai harga dari penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu (Boediono, 1999). Bunga merupakan harga dari uang (price of capital). Dalam literatur-literatur ekonomi moneter sering disebutkan bahwa tinggi rendahnya permintaan dan penawaran uang akan tergantung pada tingkat bunga. Mekanisme ini menunjukkan, bahwa bunga memiliki perilaku persis seperti harga sebagai mana pada pasar barang (Hendrie Anto, 2003). Konsep time value of money melihat, bahwa nilai uang masa kini lebih berharga dibanding dengan masa mendatang. Dengan kata lain terdapat sebuah positive time preference. Secara matematis konsep ini sering diformulasikan:
FV = PV (1+r) n (2.24) Dimana:
FV = future value of money PV = present value of money r = tingkat bunga
n = periode waktu
Bunga merupakan sebuah tambahan yang ditentukan di muka (pre determined) yang berarti mengacu pada konsep positive time preference.
Norma syariah sangat menghargai nilai waktu, karena yang menentukan waktu bukanlah manusia, melainkan Tuhan. Nilai atas penghargaan waktu (economic value of time) ditentukan oleh pemanfaatannya untuk berbagai aktivitas (Al-Ghazali, 1963). Ajaran syariah memandang, bahwa uang tidak dapat dipastikan akan menghasilkan keuntungan di masa depan. Hal ini karena tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui, memastikan apa yang akan terjadi di masa depan (Chapra, 2001).
Mengingat ketidakpastian masa depan, maka pemanfaatan uang dapat saja memberikan hasil untung, impas, atau bahkan rugi. Dengan kata lain kemungkinan bisa terjadi positive, zero atau negative time preference (Al Zarqa, 1992). Di sinilah letak latar belakang pelarangan bunga dalam prinsip ekonomi syariah. Menurut Sadeq (1992) bunga merupakan suatu bentuk ketidakadilan (injustice/dzalim) karena memberikan diskriminasi terhadap pembagian resiko maupun untung. Sistem bunga, juga akan membatasi investasi, karena tingkat bunga berhubungan negatif dengan investasi. Dalam faktor produksi bunga dimasukkan ke dalam unsur biaya sehingga akan meningkatkan biaya produksi secara keseluruhan, dan berakhir pada pembebanan tingkat harga barang yang tinggi. Kondisi ini akan memberatkan pihak konsumen. Berbagai studi empiris telah menunjukkan tentang ketidaksignifikannya bunga sebagai faktor penentu tabungan. Mankiw (2004) menyatakan, bahwa efek suku bunga secara riil terhadap tabungan tidak dapat dipastikan.
Kajian-kajian empiris telah banyak dilakukan. Palar (2000) menganalisis tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tabungan masyarakat di Sulawesi Utara pada periode waktu 1990-1997. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat bunga dan pendapatan per kapita berhubungan secara positif dengan tabungan. Penelitian empiris lain telah dilakukan oleh Rotinsulu (1997) dengan temuan bahwa tingkat bunga dan tabungan berhubungan secara positif dan signifikan.
Sedangkan penelitian di luar negeri dilakukan antara lain oleh Vieneris (1977), dan Arrieta (1988). Vieneris (1977) menyatakan bahwa tingginya minat masyarakat untuk menabung dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tingkat bunga. Tingkat bunga yang semakin tinggi mengakibatkan jumlah tabungan semakin meningkat. Apabila tingkat bunga tinggi, maka masyarakat akan mengurangi konsumsi sekarang untuk menambah tabungan. Sedangkan Arrieta (1988) dalam penelitiannya menyimpulkan, bahwa tingkat bunga berpengaruh positif terhadap tabungan nasional.
Muradoglu dan Taskin (1996) dalam penelitiannya menemukan bahwa efek tingkat bunga dapat dijelaskan dari keputusan konsumsi intertemporer. Peningkatan tingkat pengembalian tabungan akan meningkatkan tabungan, tetapi efek pendapatan riil dari lebih tingginya tingkat pengembalian mengakibatkan tabungan menurun. Sri Isnowati (2005) meneliti tentang faktor-faktor penentu tabungan di Indonesia dengan berlandaskan pada teori klasik, teori Keynes, teori siklus hidup (life cycle), dan teori pendapatan
permanen. Sedangkan model yang dipakai dalam penelitian ini adalah model Muradoglu dan Taskin (1996) dengan rumus S/Y = f (Yp, R, I, W/Y), dengan alat analisis Eror Coreection Modle (ECM). Penelitiannya menyimpulkan, bahwa pendapatan perkapita berpengaruh positif dan signifikan pada tabungan baik jangka pendek dan panjang, dan tingkat suku bunga berpengaruh positif dalam jangka pendek tetapi tidak signifikan dan berpengaruh posisif dalam jangka panjang dan signifikan;
Studi empirik yang menghasilkan kesimpulan berbeda dilakukan oleh Mansoer dan Suyanto (1998). Menurut keduanya terdapat perbedaan perilaku tabungan antara negara berkembang dan negara industri maju. Hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan lingkungan ekonomi. Kebijakan tabungan yang dilakukan negara berkembang hendaknya disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi yang melingkupinya. Dalam penelitiannya, keduanya menggunakan model :
S / Y = f (YP, R, I, W / Y, Sƒ / Y,) (2.25) S merupakan tabungan, Y adalah pendapatan nasional (PDB), YP adalah pendapatan per kapita, R = tingkat bunga riil, I = inflasi, W/Y = rasio kesejahteraan – pendapatan yang diproxi dengan M1 + uang kuasi dan S0 / Y = rasio tabungan asing terhadap pendapatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara keseluruhan perilaku tabungan negara Asean dan Amerika Serikat berbeda. Untuk Amerika Serikat, semua variabel memberikan pengaruh yang signifikan kepada tabungan. Di Indonesia, tingkat bunga dan
tabungan asing tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Untuk Malaysia tingkat bunga, inflasi dan kesejahteraan tidak berpengaruh secara signifikan. Di Filipina tingkat kesejahteraan tidak berpengaruh secara signifikan. Di Thailand tingkat bunga dan inflasi tidak berpengaruh secara signifikan. Sedangkan di Singapura variabel independen inflasi tidak berpengaruh secara signifikan. Jalaluddin (1999a) melakukan riset terhadap 80 lembaga keuangan di Sydney Australia. Teknik analisis data penelitian menggunakan analisis faktor dan diskriminan berganda. Hasil penelitian menunjukkan para responden menyatakan bahwa pembayaran bunga kadang-kadang menciptakan kesulitan bagi bisnis. 41,2% lembaga keuangan mengindikasikan kesiapan mereka memberikan kredit berdasarkan bagi hasil. Dukungan bisnis merupakan motivasi utama kepada lembaga keuangan untuk menerapkan metode pembiayaan bagi hasil.
Kadom Shubber dan Alzafiri (2008) meneliti nasabah Kuwait Finance House(KFH), Dubai Islamic Bank (DIB), Qatar Islamic Bank (QIB), Bahrain Islamic Bank (BIB) dengan analisis multivariat. Penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan, bahwa penabung memilih bank Islam karena larangan Islam terhadap bunga tetap
(fix), dimana bunga tetap ini dianggap sebagai “usury”.
Deskripsi analisis teori dan didukung berbagai hasil penelitian terdahulu di atas dapatlah dimunculkan premis, bahwa tingkat bunga bank konvensional berpengaruh negatif ( - ) dan signifikan terhadap tabungan
bank syariah. Namun terdapat juga penelitian yang menghasilkan, bahwa tingkat bunga bank konvensional berpengaruh tetapi tidak signifikan. Secara matematis premis tersebut dapat ditulis sebagai berikut:
S = f (R) (2.26) Dimana:
S = Tabungan R = Bunga