• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Pengaruh Pendidikan Akhlak dalam Pembentukan

Dalam Pendidikan akhlak, pendidikan dapat diartikan sebagai usaha sadar untuk mengembangkan intelektualitas dalam arti bukan hanya meningkatkan kecerdasan saja, melainkan juga mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia, yang mencakup aspek keimanan, moral atau mental, prilaku dan sebagainya.

Pembinaan kepribadian atau jiwa yang utuh hanya mungkin dibentuk melalui pengaruh lingkungan khususnya pendidikan. Sasaran yang ditempuh dalam pembentukan kepribadian adalah kepribadian yang memiliki akhlak yang mulia dan tingkat kemuliaan akhlak erat kaitannya dengan tingkat keimanan.

Dalam pembentukan akhlak siswa, hendaknya setiap guru menyadari bahwa dalam pembentukan akhlak sangat diperlukan

pembinaan dan latihan-latihan akhlak pada siswa bukan hanya diajarkan secara teoritis, tetapi harus diajarkan ke arah kehidupan praktis.

Pendidikan akhlak sebagai unsur esensi dalam kepribadian manusia dapat memberi peranan positif dalam perjalanan kehidupan manusia, selain kebenarannya masih dapat diyakini secara mutlak.

Dalam hal pembentukan keprinbadian siswa, pendidikan akhlak mempunyai fungsi dan peranan yang sangat penting dalam kehidupannya. Pendidikan Agama Islam berfungsi sebagai pengendali tingkah laku atau perbuatan yang terlahir dari sebuah keinginan yang berdarah emosi. Jika ajaran agama Islam sudah terbiasa dijadikannya sebagai pedoman dalam kehidupannya sehari-hari dan sudah ditanamkan sejak kecil, maka tingkah lakunya akan lebih terkendali dalam menghadapi segala keinginan-keinginannya yang timbul.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa betapa pentingnya pendidikan bagi kelangsungan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan begitu semua bisa tercerahkan serta bisa memberi pencerahan kepada generasi penerus sehingga dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena pendidikan tidak hanya menciptakan generasi yang cerdas secara intelektual saja, tapi juga generasi yang mempunyai akhlakul karimah serta santun dalam bersosialisasi dengan lingkungannya.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian ini bersifat penelitian lapangan dimana peneliti langsung ke lokasi penelitian untuk mendapatkan data akurat melalui observasi, dokumentasi, wawancara maupun angket mengenai hubungan antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru.

Adapun metode yang digunakan dalam penyusunan proposal ini adalah deskriptif analisis yaitu menggambarkan keadaan penelitian sebagaimana adanya, dengan menjadikan peneliti sebagai instrument penelitian. Cara ini digunakan agar mampu memahami dan memberikan gambaran yang jelas mengenai permasalahan yang terkait dengan isi proposal ini, sehingga memperoleh hasil penelitian yang akurat. Hadari Nawawi (2005 : 63) menjelaskan bahwa “metode deskriptif tidak terbatas sampai pada pengumpulan dan menyusun data, tetapi juga análisis dan interprestasi tentang arti data itu sendiri”.

Metode deskriptif merupakan langkah-langkah melakukan representasi obyektif tentang gejala-gejala yang terdapat dalam masalah yang diselidiki. Selanjutnya metode ini akan mendeskripsikan karakteristik yang terkandung dalam variabel penelitian ini.

B. Lokasi dan Obyek Penelitian

Penelitian akan dilakukan di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar karena pada sekolah ini ada hal yang menarik untuk diteliti dan jaraknya dekat dari dari rumah. Kemudian obyek penelitiannya adalah para guru dan siswa.

C. Variabel Penelitian

Variabel penelitian merupakan objek penelitian yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Variabel penelitian menurut Cholid Narbuko dan Abu Achmadi (2004 : 118) adalah segala sesuatu yang akan menjadi obyek pengamatan penelitian. Sedangkan Musthafa Edwin Nasution (2008 : 52) menjelaskan variabel adalah segala sesuatu yang mempunyai nilai yang berbeda atau bervariasi.

Sementara itu Setyosari (2010 : 109-110) menyebutkan macam-macam variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Menurutnya:

Variabel bebas adalah variabel yang menyebabkan atau mempengaruhi yaitu faktor-faktor yang diukur, dimanipulasi atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungan antara fenomena yang diobservasi atau diamati. Sedangkan variabel terikat atau tergantung adalah faktor-faktor yang diobservasi dan diukur untuk menentukan adanya pengaruh variabel bebas, yaitu faktor yang muncul atau berubah sesuai dengan yang diperkenalkan oleh peneliti ini.

Definisi lain dikemukakan oleh Agung (2010 : 46) menjelaskan bahwa:

Variabel adalah Karakteristik yang akan diobservasi dari satuan pengamatan dengan kata lain variabel adalah faktor yang apabila diukur akan memberikan nilai yang bervariasi dan menjadi sesuatu yang menjadi penentu.

Adapun yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini adalah pendidikan akhlak. Sedangkan yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini adalah kepribadian siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.

D. Definisi Operasional

1. Pendidikan akhlak adalah pendidikan yang mengajarkan tentang sikap, sifat yang tertanam kuat dalam jiwa yang nampak dalam perbuatan lahiriah yang dilakukan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran lagi dan sudah menjadi kebiasaan

2. Kepribadian siswa adalah serangkaian atau proses dengan seorang anak dalam mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya yang dianggap bernilai atau berguna bagi masyarakat.

E. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi merupakan keseluruhan yang menjadi sumber data dan informasi agar penelitian lebih terarah. mengenai sesuatu yang ada hubungannya dengan penelitian yang dibutuhkan.

Menurut Ronny Kountur (2004 : 137) populasi adalah suatu kumpulan menyeluruh dari suatu obyek yang merupakan perhatian peneliti. Obyek penelitian dapat berupa makhluk hidup, benda-benda, sistem dan prosedur, fenomena dan lain-lain.

Definisi lain dikemukakan oleh Sugiyono (2009 : 80) bahwa:

Populasi adalah generalisasi yang terdiri atas, objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpuannya.

Dari uraian tersebut di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan obyek yang akan diteliti yang dapat memberikan informasi baik itu mencakup benda, makhluk hidup manusia, kejadian, atau hal-hal yang ada kaitannya dengan pelaksanaan pendidikan akhlak dalam membentuk kepribadian siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar. Dalam kaitannya dengan penelitian ini yang menjadi populasi adalah kepala Madrasah, seluruh guru dan siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.

Untuk lebih jelasnya keadaan populasi guru dan siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 1

Keadaan sampel guru dan siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar No Guru dan siswa Jenis kelamin

Populasi Laki-laki Perempuan

1 Guru 6 19 25

2 Siswa kelas VII 46 35 81

3 Siswa kelas VIII 27 16 43

5 Siswa kelas IX 44 21 65

Jumlah 123 91 214

Sumber data: Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun ajaran 2012 / 2013

Tabel di atas menunjukkan bahwa populasi dari siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun ajaran 2012 / 2013 berjumlah 214 orang.

2. Sampel

Untuk menyederhanakan proses pengumpulan data dan pengolahan data, maka peneliti mengambil teknik sampel.

Menurut Dani. K (tth : 479) dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia

Sampel adalah sesuatu yang dipergunakan untuk menunjukkan sifat suatu kelompok yang lebih besar atau bagian dari populasi statistik yang cirinya dipelajari untuk memperoleh informasi tentang seluruhnya atau percontohan.

Pada teknik ini peneliti mengambil sampel sebanyak lebih kurang 50% dari seluruh jumlah populasi. Pengambilan sampel penelitian ini berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto (2006 : 134), yaitu:

Apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitian menjadi penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil diantara 10-15 % atau 20-25

% atau lebih.

Berdasarkan uraian di atas, maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah guru akidah akhlak dan siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2

Keadaan sampel guru dan siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar

No. Guru / Kelas Jumlah Sampel 25%

1 Guru 25 6 orang

2 VII 81 20 orang

3 VIII 43 12 orang

4 IX 65 16 orang

J u m l a h 214 54 orang

Dari tabel tersebut maka jumlah sampel keseluruhan guru dan siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar tahun ajaran 2012 / 2013 berjumlah 54 orang.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam penelitian karena berfungsi sebagai alat atau sarana pengumpulan data. Karena itu dalam menentukan instrumen atau alat penelitiannya, harus relevan dengan masalah dan aspek yang diteliti agar dapat memperoleh data yang akurat. Adapun instrumen penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pedoman Wawancara

Panduan yang digunakan oleh peneliti berupa daftar pertanyaan yang diajukan kepada responden secara langsung.

Menurut Mardalis (2009 : 64)

Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan pada si peneliti.

Dalam hal ini peneliti akan melakukan percakapan langsung dengan Kepala Madrasah untuk melengkapi data-data yang diperlukan dalam penelitian dan dialog dengan para guru mata pelajaran, khususnya guru pelajaran akidah akhlak untuk mengetahui kepribadian siswa untuk kemudian direkonstruksi menjadi data-data penelitian yang empiris dan akurat.

2. Pedoman Angket

Angket atau kuesioner adalah teknik pengumpulan data oleh peneliti dengan mengajukan sejumlah pertanyaan tertulis yang memiliki jawaban kepada responden baik secara langsung maupun tidak langsung.

Menurut Natsir (2006 : 246):

Angket adalah kuesioner atau tidak lain dari sebuah pertanyaan yang secara logis berhubungan dengan masaalah penelitian dan pertanyaannya merupakan jawaban-jawaban yang mempunyai makna dan menguji hipotesa.

Variabel penelitian ini adalah angket tertutup, dimana setiap item telah diberikan sejumlah jawaban sehingga subyek penelitian tinggal memilih mana yang paling tepat sesuai kondisi yang ada. Instrument ini berguna untuk mengukur besar pelaksanaan pendidikan akhlak dalam membentuk kepribadian siswa

G. Teknik Pengumpulan Data

Dalam membantu peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini, maka peneliti akan menggunakan metode Field research (penelitian lapangan) yaitu peneliti terjun langsung ke lapangan guna memperoleh data yang

akurat, yang mana dalam hal ini dapat dipakai beberapa metode sebagai berikut :

1. Observasi

Instrumen observasi dilakukan dengan mengamati langsung dan mencatat gejala-gejala yang diselidiki terhadap obyek penelitian utamanya mengamati pelaksanaan pendidikan akhlak dalam membentuk kepribadian siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar. Kemudian peneliti melakukan pencatatan terhadap hasil pengamatan untuk dijadikan data-data penelitian yang akurat.

2. Wawancara

Instrumen wawancara mengharuskan peneliti melakukan wawancara secara langsung dengan mengajukan beberapa pertanyaan secara lisan kepada informan yang ditetapkan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dengan responden yang dipilih yaitu guru Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.

3. Angket

Instrumen angket megharuskan peneliti melakukan pengumpulan data dengan cara memberikan sejumlah pertanyaan tertulis kepada responden terpilih untuk dijawab tentang pelaksanaan pendidikan akhlak dalam membentuk kepribadian siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.

4. Dokumentasi

Instrumen dokumentasi mengharuskan penulis mengumpulkan data melalui bahan tertulis berupa buku-buku, majalah-majalah, jurnal-jurnal penting yang terdapat di kantor atau di instansi pemerintah tentang pelaksanaan pendidikan akhlak dalam membentuk kepribadian siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.

H. Teknik Analisis Data

Setelah data-data seluruhnya terkumpul, penulis kemudian mengolah data-data tersebut dengan menggunakan teknik sebagai berikut:

1. Kuantitatif yakni, bentuk analisis dengan menggunakan angka-angka yang disajikan dalam bentuk tabel. Adapun data-data yang dianalisis secara kuantitatif adalah data-data tentang pelaksanaan pendidikan akhlak dalam membentuk kepribadian siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.

2. Kualitatif yakni, bentuk analisis yang menginterpretasi data-data yang diperoleh. Dalam kaitan ini peneliti akan menganalisis tentang pelaksanaan pendidikan akhlak dalam membentuk kepribadian siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.

3. Deduktif yaitu metode pengolahan data yang berangkat dari hal-hal yang bersifat umum kepada hal-hal-hal-hal yang bersifat khusus atau kesimpulan.

4. Metode komparatif yaitu membandingkan antara pendapat yang satu dengan pendapat yang lainnya, kemudian mengambil suatu kesimpulan dengan argumentasi penulis sendiri.

5. Metode induktif adalah metode pengolahan data yang berangkat dari hal-hal yang sifatnya khusus kepada hal-hal yang bersifat umum.

% 100 N x

pF

Keterangan:

P = Persentase (%)

F = Frekuensi atau jumlah responden N = Number (Jumlah Frekuensi/Individu)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Selayang Pandang Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar

1. Profil Sekolah

Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah adalah satu sekolah dalam wilayah Kecamatan Benteng, dibangun oleh Pemerintah Daerah pada tahun 1951 dengan luas tanah 4.680 M2. Sekolah ini berdampingan dengan sekolah Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah dan disampingnya Muhammadiyah yang juga merupakan Kampus Universitas Muhammadiyah. Sekolah ini sepanjang perkembangannya telah mengalami beberapa pergantian pimpinan antara lain:

a. Abd. Kadir Kasim : Tahun 1951 sampai 1978 b. Abd. Rahman Mustapa : Tahun 1978 sampai 2002

c. M. Ansar A : Tahun 2002 sampai 2007

d. Drs. Ruknuddin : Tahun 2007 sampai sekarang 2. Visi, Misi dan Tujuan Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah

Kabupaten Kepulauan Selayar

a. Visi sekolah : Teladan dalam Iman dan taqwa, unggul dalam prestasi dan terampil, serta kompetitif dalam penguasaan IPTEK

b. Misi sekolah : 1. Meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan Ajaran Islam

2. Mengembangkan prestasi siswa dalam IPTEK

3. Mengembangkan bakat dan minat siswa serta penguasaan keterampilan

4. Meningkatkan pengelolaan administrasi sekolah

5. Melengkapi sarana dan prasarana pendidikan yang memadai

6. Membina partisipasi masyarakat dalam pendidikan

c. Tujuan sekolah : 1. Menciptakan peserta didik yang beriman, bertakwa dan memiliki ilmu pengetahuan sehingga mampu melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi

3. Keadaan guru, siswa dan sarana prasarana Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar

a. Keadaan guru

Keberhasilan proses belajar mengajar pada suatu sekolah didukung oleh tiga hal yaitu siswa sebagai peserta didik, guru sebagai pendidik serta bahan pelajaran. Proses belajar mengajar dapat

berlangsung dengan baik manakalah terjadi interaksi antara siswa dan guru. Demikian pula seorang guru harus mampu menyusun bahan pelajaran dan dapat mengelolah kelas dengan baik.

Semua lembaga pendidikan tentu menginginkan agar menghasilkan alumni yang bermutu, baik dari segi kualitas lebih-lebih dari segi kuantitas, salah satu kunci untuk mencapai tujuan itu adalah harus memiliki tenaga pengajar yang berkualitas, termasuk kepribadian guru.

Kemampuan guru dalam menguasai materi serta metode mengajar sangatlah penting untuk mewujudkan tercapainya tujuan. Dan untuk mengetahui keadaan guru Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3

Keadaan Guru Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun Ajaran 2012/2013

No Nama Status / Jabatan Bidang studi yang

diajarkan

1. Drs. Ruknuddin PNS Kepala

sekolah IPA

2. M. Ilyas PNS/Wakasek IPA

3. M. Ansar A PNS bahasa Indonesia

4. Dg. Sigowa PNS Bahasa Inggris

5. Syamsu Mardin PNS Bahasa Indonesia

6. Andi Hafsen, S.Pd PNS Bahasa Inggris

7. St. Masyitah PNS Penjaskes

8. St. Ruhana PNS Bahasa Indonesia

9. Raja Bau PNS IPS

10. Sitti Aisyah, DJ PNS Matematika

11 Hj. Najemiah PNS IPS

12 St. Madina PNS Ketramp. Kerajinan

13 Sitti Fatima PNS Bahasa Inggris

14 St. Marwiyah PNS Pendais

15 Darmawati PNS Matematika

16 Andi Hasna, S.Pd PNS PKN

17 Muliana, S.Pd PNS Penjaskes

18 Sitti Aisyah, S.Pd PNS IPA

19 Nikmawati, S.Ag Non PNS Pendais

20 Rajawang, A.Ma Non PNS SKI

21 Bau Manisi, SE Non PNS IPS

22 Ruana, S.Ag Non PNS PKN

23 Eny Erlina, S.Pd Non PNS Kesenian

24 Maslaida, S.Ag Non PNS IPA

25 A. Isyana, S.Pd Non PNS Bahasa Indonesia

Sumber Data: Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar

b. Keadaan Siswa.

Keadaan siswa yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah mengenai banyaknya siswa sebagai informan. Untuk lebih jelasnya keadaan siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayardapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4

Keadaan Siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun Ajaran 2012/2013

No Kelas Laki-lakiJenis KelaminPerempuan Jumlah 1

Sumber data: Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar

3. Keadaan sarana dan fasilitas belajar.

Kelangsungan pendidikan formal tidak hanya didukung oleh tenaga pengajar dan siswa, tetapi harus didukung pula oleh sarana dan prasarana, misalnya fasilitas gedung sekolah dan alat-alat pengajaran

yang digunakan dalam kegiatan proses belajar mengajar serta lingkungan yang dapat memberi suasana edukatif. Karena itu, masalah sarana dan fasilitas ini, tetap menjadi bagian dari objek penelitian dalam setiap kegiatan meneliti.

Keadaan sarana pendidikan dan fasilitas belajar Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar, dapat dilihat pada tabel di bawah:

Tabel 5

Sarana Fasilitas Belajar Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun Ajaran 2012/2013

No Sarana / Fasilitas Belajar Jumlah Keadaan Fisik

1. Ruang Kepala Sekolah 1 Buah Baik

2. Ruang Guru 1 Buah Baik

3. Ruang Kelas Belajar 6 Buah Baik

4. Perpustakaan 1 Buah Baik / Berfungsi

5. Laboratorium 1 buah Baik

6. Laboratorium Komputer 1 buah Baik

7. Lapangan Olah Raga 1 buah Berfungsi

8. Kursi Guru 28 buah Baik

9. Meja Guru 28 buah Baik

10. Kursi Siswa 190 buah Baik

11. Meja Siswa 190 buah Baik

12. Mesin Ketik 1 buah Baik

13. Komputer 2 buah Baik

15. Filling cabinet/lemari 5 buah baik

Sumber data : Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar

Berdasarkan data diatas, maka dapat disimpulkan bahwa keadaan sarana prasarana pendidikan yang ada di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar sudah dapat menunjang proses pembelajaran, namun masih dirasakan berbagai kekurangan seperti alat dan media yang masih terbatas. Dengan keterbatasan pembelajaran maka kepala sekolah dan guru dituntut untuk lebih kreatif serta berusaha meningkatkan kualitas

kinerjanya sehingga mutu pendidikan Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayartetap meningkat setiap tahunnya.

B. Pelaksanaan Pendidikan Akhlak Dalam Membentuk Kepribadian Siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng

Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar adalah salah satu lembaga pendidikan formal Islam bergerak yang di bidang pendidikan agama Islam. Kurikulum Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar ini lebih menekankan pada penanaman nilai-nilai religius, berdasarkan Qur’an sebagai wahyu Allah dan sunnah Rasulullah saw. Hal ini dimaksudkan untuk membentuk kepribadian muslim menurut ukuran-ukuran Islam. Ini menunjukkan bahwa orientasi dari pendidikan Islam adalah mencakup fakta-fakta yang berhubungan dengan pertumbuhan dan pembentukan kepribadian Muslim.

Untuk mengetahui pelaksanaan pengajaran Aqidah Akhlak pada siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar selalu dititikberatkan pada pencapaian target kurikulum yang telah dirumuskan. Akan tetapi tidak dapat dihindari bahwa dalam pelaksanaannya kadang-kadang mengalami kesulitan dan hambatan sebagai akibat dari prasarana yang belum memadai, sementara dalam pelaksanaan proses belajar mengajar faktor terpenting yang harus diperhatikan adalah bagaimana para siswa Sekolah Menengah Pertama

Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar dapat menguasai materi pelajaran yang telah disampaikan kepada mereka.

Adapun peranan pengajaran Aqidah Akhlak dalam membentuk kepribadian siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar, seperti apa yang dikemukakan oleh Andi Hafsen guru Bhs. Inggris sebagai berikut:

Dalam pelaksanaan pengajaran Aqidah Akhlak guru dituntut untuk berusaha bagaimana supaya siswa dapat memahami dan mengetahui apa yang telah diajarkan oleh guru sehingga terkadang guru untuk mengaktifkan siswa belajar, maka dalam pelaksanaannya guru membuat pelajaran yang diajarkan itu menantang, merangsang dan menggugah daya cipta siswa untuk menemukan sesuatu dan mengesankan. (wawancara 3 Juli 2013) Berdasarkan keterangan di atas, dapat dipahami bahwa guru Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar memiliki prinsip yang sangat mendukung proses pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dalam mencapai tujuan dalam proses belajar mengajar yang efektif, juga harus dipilih prinsip yang memiliki ciri-ciri yang baik, seperti memobilisasi tujuan, memberi bentuk dan keseragaman pada belajar mengorganisasi belajar sebagai suatu proses eksplorasi.

Jadi untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam pelaksanaan pengajaran harus dapat membangkitkan semangat dan kemauan siswa untuk belajar. Sebab, belajar yang efektif itu mempunyai ciri yang penting dan perlu dipahami dan digunakan.

Sistim pengajaran dan pembinaan di satu pihak dituntut agar senantiasa sesuai dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. Di pihak lain dituntut agar senantiasa tetap bertahan dalam kesesuainnya dengan ajaran Islam.

Oleh karena itu, dalam pelaksanaan proses pengajaran Aqidah Akhlak, faktor terpenting yang harus diperhatikan adalah bagaimana para siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar dapat menguasai berbagai materi yang telah diajarkan oleh setiap guru bidang studi.

Pernyataan siswa terhadap guru dalam pelaksanaan pengajaran Aqidah Akhlakt pada Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 6

Pernyataan responden terhadap dalam Pelaksanaan Pendidikan akhlak dalam membentuk kepribadian siswa Sekolah Menengah Pertama

Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar

No Jawaban Responden Frekuensi persentase

1 Sangat dilaksanakan 13 orang 22,22 %

2 Dilaksanakan 36 orang 71.11 %

3 Kurang dilaksanakan 5 orang 6,67 %

4 Tidak dilaksanakan - 0 %

Jumlah 54 orang 100%

Sumber data : tabulasi angket No. 1

Tabulasi angket di atas, menggambarkan bahwa dari 54 siswa yang dijadikan responden terdapat 13 orang atau 22,22% yang menyatakan bahwa sangat baik ketika guru melaksanakan pengajaran, kemudian 36 orang atau 71,11% yang menyatakan baik dalam pelaksanaan pengajaran.

Selanjutnya 5 orang 6,67% dari tidak jawaban responden menyatakan kurang baik.

Selanjutnya pernyataan siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar terhadap guru mengenai rajin atau tidaknya guru dalam proses pembelajaran.

Tabel 7

Tabel 7

Dokumen terkait