BAB III METODE PENELITIAN
C. Variabel Penelitian
Variabel penelitian merupakan objek penelitian yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Variabel penelitian menurut Cholid Narbuko dan Abu Achmadi (2004 : 118) adalah segala sesuatu yang akan menjadi obyek pengamatan penelitian. Sedangkan Musthafa Edwin Nasution (2008 : 52) menjelaskan variabel adalah segala sesuatu yang mempunyai nilai yang berbeda atau bervariasi.
Sementara itu Setyosari (2010 : 109-110) menyebutkan macam-macam variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Menurutnya:
Variabel bebas adalah variabel yang menyebabkan atau mempengaruhi yaitu faktor-faktor yang diukur, dimanipulasi atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungan antara fenomena yang diobservasi atau diamati. Sedangkan variabel terikat atau tergantung adalah faktor-faktor yang diobservasi dan diukur untuk menentukan adanya pengaruh variabel bebas, yaitu faktor yang muncul atau berubah sesuai dengan yang diperkenalkan oleh peneliti ini.
Definisi lain dikemukakan oleh Agung (2010 : 46) menjelaskan bahwa:
Variabel adalah Karakteristik yang akan diobservasi dari satuan pengamatan dengan kata lain variabel adalah faktor yang apabila diukur akan memberikan nilai yang bervariasi dan menjadi sesuatu yang menjadi penentu.
Adapun yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini adalah pendidikan akhlak. Sedangkan yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini adalah kepribadian siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.
D. Definisi Operasional
1. Pendidikan akhlak adalah pendidikan yang mengajarkan tentang sikap, sifat yang tertanam kuat dalam jiwa yang nampak dalam perbuatan lahiriah yang dilakukan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran lagi dan sudah menjadi kebiasaan
2. Kepribadian siswa adalah serangkaian atau proses dengan seorang anak dalam mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya yang dianggap bernilai atau berguna bagi masyarakat.
E. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi merupakan keseluruhan yang menjadi sumber data dan informasi agar penelitian lebih terarah. mengenai sesuatu yang ada hubungannya dengan penelitian yang dibutuhkan.
Menurut Ronny Kountur (2004 : 137) populasi adalah suatu kumpulan menyeluruh dari suatu obyek yang merupakan perhatian peneliti. Obyek penelitian dapat berupa makhluk hidup, benda-benda, sistem dan prosedur, fenomena dan lain-lain.
Definisi lain dikemukakan oleh Sugiyono (2009 : 80) bahwa:
Populasi adalah generalisasi yang terdiri atas, objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpuannya.
Dari uraian tersebut di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan obyek yang akan diteliti yang dapat memberikan informasi baik itu mencakup benda, makhluk hidup manusia, kejadian, atau hal-hal yang ada kaitannya dengan pelaksanaan pendidikan akhlak dalam membentuk kepribadian siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar. Dalam kaitannya dengan penelitian ini yang menjadi populasi adalah kepala Madrasah, seluruh guru dan siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.
Untuk lebih jelasnya keadaan populasi guru dan siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 1
Keadaan sampel guru dan siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar No Guru dan siswa Jenis kelamin
Populasi Laki-laki Perempuan
1 Guru 6 19 25
2 Siswa kelas VII 46 35 81
3 Siswa kelas VIII 27 16 43
5 Siswa kelas IX 44 21 65
Jumlah 123 91 214
Sumber data: Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun ajaran 2012 / 2013
Tabel di atas menunjukkan bahwa populasi dari siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun ajaran 2012 / 2013 berjumlah 214 orang.
2. Sampel
Untuk menyederhanakan proses pengumpulan data dan pengolahan data, maka peneliti mengambil teknik sampel.
Menurut Dani. K (tth : 479) dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia
Sampel adalah sesuatu yang dipergunakan untuk menunjukkan sifat suatu kelompok yang lebih besar atau bagian dari populasi statistik yang cirinya dipelajari untuk memperoleh informasi tentang seluruhnya atau percontohan.
Pada teknik ini peneliti mengambil sampel sebanyak lebih kurang 50% dari seluruh jumlah populasi. Pengambilan sampel penelitian ini berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto (2006 : 134), yaitu:
Apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitian menjadi penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil diantara 10-15 % atau 20-25
% atau lebih.
Berdasarkan uraian di atas, maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah guru akidah akhlak dan siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2
Keadaan sampel guru dan siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar
No. Guru / Kelas Jumlah Sampel 25%
1 Guru 25 6 orang
2 VII 81 20 orang
3 VIII 43 12 orang
4 IX 65 16 orang
J u m l a h 214 54 orang
Dari tabel tersebut maka jumlah sampel keseluruhan guru dan siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar tahun ajaran 2012 / 2013 berjumlah 54 orang.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam penelitian karena berfungsi sebagai alat atau sarana pengumpulan data. Karena itu dalam menentukan instrumen atau alat penelitiannya, harus relevan dengan masalah dan aspek yang diteliti agar dapat memperoleh data yang akurat. Adapun instrumen penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pedoman Wawancara
Panduan yang digunakan oleh peneliti berupa daftar pertanyaan yang diajukan kepada responden secara langsung.
Menurut Mardalis (2009 : 64)
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan pada si peneliti.
Dalam hal ini peneliti akan melakukan percakapan langsung dengan Kepala Madrasah untuk melengkapi data-data yang diperlukan dalam penelitian dan dialog dengan para guru mata pelajaran, khususnya guru pelajaran akidah akhlak untuk mengetahui kepribadian siswa untuk kemudian direkonstruksi menjadi data-data penelitian yang empiris dan akurat.
2. Pedoman Angket
Angket atau kuesioner adalah teknik pengumpulan data oleh peneliti dengan mengajukan sejumlah pertanyaan tertulis yang memiliki jawaban kepada responden baik secara langsung maupun tidak langsung.
Menurut Natsir (2006 : 246):
Angket adalah kuesioner atau tidak lain dari sebuah pertanyaan yang secara logis berhubungan dengan masaalah penelitian dan pertanyaannya merupakan jawaban-jawaban yang mempunyai makna dan menguji hipotesa.
Variabel penelitian ini adalah angket tertutup, dimana setiap item telah diberikan sejumlah jawaban sehingga subyek penelitian tinggal memilih mana yang paling tepat sesuai kondisi yang ada. Instrument ini berguna untuk mengukur besar pelaksanaan pendidikan akhlak dalam membentuk kepribadian siswa
G. Teknik Pengumpulan Data
Dalam membantu peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini, maka peneliti akan menggunakan metode Field research (penelitian lapangan) yaitu peneliti terjun langsung ke lapangan guna memperoleh data yang
akurat, yang mana dalam hal ini dapat dipakai beberapa metode sebagai berikut :
1. Observasi
Instrumen observasi dilakukan dengan mengamati langsung dan mencatat gejala-gejala yang diselidiki terhadap obyek penelitian utamanya mengamati pelaksanaan pendidikan akhlak dalam membentuk kepribadian siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar. Kemudian peneliti melakukan pencatatan terhadap hasil pengamatan untuk dijadikan data-data penelitian yang akurat.
2. Wawancara
Instrumen wawancara mengharuskan peneliti melakukan wawancara secara langsung dengan mengajukan beberapa pertanyaan secara lisan kepada informan yang ditetapkan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dengan responden yang dipilih yaitu guru Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.
3. Angket
Instrumen angket megharuskan peneliti melakukan pengumpulan data dengan cara memberikan sejumlah pertanyaan tertulis kepada responden terpilih untuk dijawab tentang pelaksanaan pendidikan akhlak dalam membentuk kepribadian siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.
4. Dokumentasi
Instrumen dokumentasi mengharuskan penulis mengumpulkan data melalui bahan tertulis berupa buku-buku, majalah-majalah, jurnal-jurnal penting yang terdapat di kantor atau di instansi pemerintah tentang pelaksanaan pendidikan akhlak dalam membentuk kepribadian siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.
H. Teknik Analisis Data
Setelah data-data seluruhnya terkumpul, penulis kemudian mengolah data-data tersebut dengan menggunakan teknik sebagai berikut:
1. Kuantitatif yakni, bentuk analisis dengan menggunakan angka-angka yang disajikan dalam bentuk tabel. Adapun data-data yang dianalisis secara kuantitatif adalah data-data tentang pelaksanaan pendidikan akhlak dalam membentuk kepribadian siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.
2. Kualitatif yakni, bentuk analisis yang menginterpretasi data-data yang diperoleh. Dalam kaitan ini peneliti akan menganalisis tentang pelaksanaan pendidikan akhlak dalam membentuk kepribadian siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.
3. Deduktif yaitu metode pengolahan data yang berangkat dari hal-hal yang bersifat umum kepada hal-hal-hal-hal yang bersifat khusus atau kesimpulan.
4. Metode komparatif yaitu membandingkan antara pendapat yang satu dengan pendapat yang lainnya, kemudian mengambil suatu kesimpulan dengan argumentasi penulis sendiri.
5. Metode induktif adalah metode pengolahan data yang berangkat dari hal-hal yang sifatnya khusus kepada hal-hal yang bersifat umum.
% 100 N x
p F
Keterangan:
P = Persentase (%)
F = Frekuensi atau jumlah responden N = Number (Jumlah Frekuensi/Individu)
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Selayang Pandang Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar
1. Profil Sekolah
Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah adalah satu sekolah dalam wilayah Kecamatan Benteng, dibangun oleh Pemerintah Daerah pada tahun 1951 dengan luas tanah 4.680 M2. Sekolah ini berdampingan dengan sekolah Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah dan disampingnya Muhammadiyah yang juga merupakan Kampus Universitas Muhammadiyah. Sekolah ini sepanjang perkembangannya telah mengalami beberapa pergantian pimpinan antara lain:
a. Abd. Kadir Kasim : Tahun 1951 sampai 1978 b. Abd. Rahman Mustapa : Tahun 1978 sampai 2002
c. M. Ansar A : Tahun 2002 sampai 2007
d. Drs. Ruknuddin : Tahun 2007 sampai sekarang 2. Visi, Misi dan Tujuan Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah
Kabupaten Kepulauan Selayar
a. Visi sekolah : Teladan dalam Iman dan taqwa, unggul dalam prestasi dan terampil, serta kompetitif dalam penguasaan IPTEK
b. Misi sekolah : 1. Meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan Ajaran Islam
2. Mengembangkan prestasi siswa dalam IPTEK
3. Mengembangkan bakat dan minat siswa serta penguasaan keterampilan
4. Meningkatkan pengelolaan administrasi sekolah
5. Melengkapi sarana dan prasarana pendidikan yang memadai
6. Membina partisipasi masyarakat dalam pendidikan
c. Tujuan sekolah : 1. Menciptakan peserta didik yang beriman, bertakwa dan memiliki ilmu pengetahuan sehingga mampu melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi
3. Keadaan guru, siswa dan sarana prasarana Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar
a. Keadaan guru
Keberhasilan proses belajar mengajar pada suatu sekolah didukung oleh tiga hal yaitu siswa sebagai peserta didik, guru sebagai pendidik serta bahan pelajaran. Proses belajar mengajar dapat
berlangsung dengan baik manakalah terjadi interaksi antara siswa dan guru. Demikian pula seorang guru harus mampu menyusun bahan pelajaran dan dapat mengelolah kelas dengan baik.
Semua lembaga pendidikan tentu menginginkan agar menghasilkan alumni yang bermutu, baik dari segi kualitas lebih-lebih dari segi kuantitas, salah satu kunci untuk mencapai tujuan itu adalah harus memiliki tenaga pengajar yang berkualitas, termasuk kepribadian guru.
Kemampuan guru dalam menguasai materi serta metode mengajar sangatlah penting untuk mewujudkan tercapainya tujuan. Dan untuk mengetahui keadaan guru Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3
Keadaan Guru Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun Ajaran 2012/2013
No Nama Status / Jabatan Bidang studi yang
diajarkan
1. Drs. Ruknuddin PNS Kepala
sekolah IPA
2. M. Ilyas PNS/Wakasek IPA
3. M. Ansar A PNS bahasa Indonesia
4. Dg. Sigowa PNS Bahasa Inggris
5. Syamsu Mardin PNS Bahasa Indonesia
6. Andi Hafsen, S.Pd PNS Bahasa Inggris
7. St. Masyitah PNS Penjaskes
8. St. Ruhana PNS Bahasa Indonesia
9. Raja Bau PNS IPS
10. Sitti Aisyah, DJ PNS Matematika
11 Hj. Najemiah PNS IPS
12 St. Madina PNS Ketramp. Kerajinan
13 Sitti Fatima PNS Bahasa Inggris
14 St. Marwiyah PNS Pendais
15 Darmawati PNS Matematika
16 Andi Hasna, S.Pd PNS PKN
17 Muliana, S.Pd PNS Penjaskes
18 Sitti Aisyah, S.Pd PNS IPA
19 Nikmawati, S.Ag Non PNS Pendais
20 Rajawang, A.Ma Non PNS SKI
21 Bau Manisi, SE Non PNS IPS
22 Ruana, S.Ag Non PNS PKN
23 Eny Erlina, S.Pd Non PNS Kesenian
24 Maslaida, S.Ag Non PNS IPA
25 A. Isyana, S.Pd Non PNS Bahasa Indonesia
Sumber Data: Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar
b. Keadaan Siswa.
Keadaan siswa yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah mengenai banyaknya siswa sebagai informan. Untuk lebih jelasnya keadaan siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayardapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4
Keadaan Siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun Ajaran 2012/2013
No Kelas Laki-lakiJenis KelaminPerempuan Jumlah 1
Sumber data: Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar
3. Keadaan sarana dan fasilitas belajar.
Kelangsungan pendidikan formal tidak hanya didukung oleh tenaga pengajar dan siswa, tetapi harus didukung pula oleh sarana dan prasarana, misalnya fasilitas gedung sekolah dan alat-alat pengajaran
yang digunakan dalam kegiatan proses belajar mengajar serta lingkungan yang dapat memberi suasana edukatif. Karena itu, masalah sarana dan fasilitas ini, tetap menjadi bagian dari objek penelitian dalam setiap kegiatan meneliti.
Keadaan sarana pendidikan dan fasilitas belajar Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar, dapat dilihat pada tabel di bawah:
Tabel 5
Sarana Fasilitas Belajar Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun Ajaran 2012/2013
No Sarana / Fasilitas Belajar Jumlah Keadaan Fisik
1. Ruang Kepala Sekolah 1 Buah Baik
2. Ruang Guru 1 Buah Baik
3. Ruang Kelas Belajar 6 Buah Baik
4. Perpustakaan 1 Buah Baik / Berfungsi
5. Laboratorium 1 buah Baik
6. Laboratorium Komputer 1 buah Baik
7. Lapangan Olah Raga 1 buah Berfungsi
8. Kursi Guru 28 buah Baik
9. Meja Guru 28 buah Baik
10. Kursi Siswa 190 buah Baik
11. Meja Siswa 190 buah Baik
12. Mesin Ketik 1 buah Baik
13. Komputer 2 buah Baik
15. Filling cabinet/lemari 5 buah baik
Sumber data : Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar
Berdasarkan data diatas, maka dapat disimpulkan bahwa keadaan sarana prasarana pendidikan yang ada di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayar sudah dapat menunjang proses pembelajaran, namun masih dirasakan berbagai kekurangan seperti alat dan media yang masih terbatas. Dengan keterbatasan pembelajaran maka kepala sekolah dan guru dituntut untuk lebih kreatif serta berusaha meningkatkan kualitas
kinerjanya sehingga mutu pendidikan Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Selayartetap meningkat setiap tahunnya.
B. Pelaksanaan Pendidikan Akhlak Dalam Membentuk Kepribadian Siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng
Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar adalah salah satu lembaga pendidikan formal Islam bergerak yang di bidang pendidikan agama Islam. Kurikulum Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar ini lebih menekankan pada penanaman nilai-nilai religius, berdasarkan Qur’an sebagai wahyu Allah dan sunnah Rasulullah saw. Hal ini dimaksudkan untuk membentuk kepribadian muslim menurut ukuran-ukuran Islam. Ini menunjukkan bahwa orientasi dari pendidikan Islam adalah mencakup fakta-fakta yang berhubungan dengan pertumbuhan dan pembentukan kepribadian Muslim.
Untuk mengetahui pelaksanaan pengajaran Aqidah Akhlak pada siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar selalu dititikberatkan pada pencapaian target kurikulum yang telah dirumuskan. Akan tetapi tidak dapat dihindari bahwa dalam pelaksanaannya kadang-kadang mengalami kesulitan dan hambatan sebagai akibat dari prasarana yang belum memadai, sementara dalam pelaksanaan proses belajar mengajar faktor terpenting yang harus diperhatikan adalah bagaimana para siswa Sekolah Menengah Pertama
Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar dapat menguasai materi pelajaran yang telah disampaikan kepada mereka.
Adapun peranan pengajaran Aqidah Akhlak dalam membentuk kepribadian siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar, seperti apa yang dikemukakan oleh Andi Hafsen guru Bhs. Inggris sebagai berikut:
Dalam pelaksanaan pengajaran Aqidah Akhlak guru dituntut untuk berusaha bagaimana supaya siswa dapat memahami dan mengetahui apa yang telah diajarkan oleh guru sehingga terkadang guru untuk mengaktifkan siswa belajar, maka dalam pelaksanaannya guru membuat pelajaran yang diajarkan itu menantang, merangsang dan menggugah daya cipta siswa untuk menemukan sesuatu dan mengesankan. (wawancara 3 Juli 2013) Berdasarkan keterangan di atas, dapat dipahami bahwa guru Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar memiliki prinsip yang sangat mendukung proses pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam mencapai tujuan dalam proses belajar mengajar yang efektif, juga harus dipilih prinsip yang memiliki ciri-ciri yang baik, seperti memobilisasi tujuan, memberi bentuk dan keseragaman pada belajar mengorganisasi belajar sebagai suatu proses eksplorasi.
Jadi untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam pelaksanaan pengajaran harus dapat membangkitkan semangat dan kemauan siswa untuk belajar. Sebab, belajar yang efektif itu mempunyai ciri yang penting dan perlu dipahami dan digunakan.
Sistim pengajaran dan pembinaan di satu pihak dituntut agar senantiasa sesuai dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. Di pihak lain dituntut agar senantiasa tetap bertahan dalam kesesuainnya dengan ajaran Islam.
Oleh karena itu, dalam pelaksanaan proses pengajaran Aqidah Akhlak, faktor terpenting yang harus diperhatikan adalah bagaimana para siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar dapat menguasai berbagai materi yang telah diajarkan oleh setiap guru bidang studi.
Pernyataan siswa terhadap guru dalam pelaksanaan pengajaran Aqidah Akhlakt pada Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 6
Pernyataan responden terhadap dalam Pelaksanaan Pendidikan akhlak dalam membentuk kepribadian siswa Sekolah Menengah Pertama
Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar
No Jawaban Responden Frekuensi persentase
1 Sangat dilaksanakan 13 orang 22,22 %
2 Dilaksanakan 36 orang 71.11 %
3 Kurang dilaksanakan 5 orang 6,67 %
4 Tidak dilaksanakan - 0 %
Jumlah 54 orang 100%
Sumber data : tabulasi angket No. 1
Tabulasi angket di atas, menggambarkan bahwa dari 54 siswa yang dijadikan responden terdapat 13 orang atau 22,22% yang menyatakan bahwa sangat baik ketika guru melaksanakan pengajaran, kemudian 36 orang atau 71,11% yang menyatakan baik dalam pelaksanaan pengajaran.
Selanjutnya 5 orang 6,67% dari tidak jawaban responden menyatakan kurang baik.
Selanjutnya pernyataan siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar terhadap guru mengenai rajin atau tidaknya guru dalam proses pembelajaran.
Tabel 7
Pernyataan responden tentang sikap dan prilaku siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar No Jawaban Responden Frekuensi persentase
1 Sangat baik 16 orang 35,56 %
2 Baik 34 orang 53,33 %
3 Kurang baik 4 orang 11,11 %
4 Tidak baik - 0 %
Jumlah 54 orang 100%
Sumber data : Tabulasi angket No. 2
Tabulasi angket di atas menggambarkan bahwa dari 54 orang responden yang dijadikan sebagai sampel penelitian terdapat 16 orang atau 35,56 % menyatakan sangat baik. Kemudian 34 orang dengan persentase 53,33% menyatakan bahwa sikap dan prilaku siswa baik. Selanjutnya responden yang menyatakan kurang baik adalah 4 atau 11,11% sedangkan tidak ada siswa yang menyatakan tidak baik 0%.
Selanjutnya tanggapan responden terhadap guru dalam penyajian materi pelajaran di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 8
Tanggapan Siswa tentang tutur kata yang terpuji siswa di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar
No Jawaban Responden Frekuensi persentase
1 Sangat terpuji 11 orang 20,37 %
2 Terpuji 39 orang 72,22 %
3 Kurang terpuji 4 orang 7,41 %
4 Tidak terpuji - 0 %
Jumlah 54 orang 100%
Sumber Data : Tabulasi Angket No. 3
Tabulasi angket di atas menggambarkan bahwa dari 54 siswa yang dijadikan responden terdapat 11 orang atau 20,37% yang menyatakan bahwa sangat terpuji. Kemudian 39 orang atau 72,22% yang menyatakan terpuji. Selanjutnya 4 orang atau 7,41% dari jawaban responden menyatakan kurang terpuji.
Dalam proses pendidikan Akhlak di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar, guru selalu menitikberatkan pada pencapaian target kurikulum yang telah dirumuskan.
Akan tetapi tidak dapat dihindari bahwa dalam pelaksanaannya kadang-kadang mengalami kesulitan dan hambatan sebagai berikut dari prasarana yang belum memadai.
Jika berbicara tentang penguasaan siswa terhadap proses pembelajaran, dapat dipastikan bahwa tingkat kemampuan mereka berbeda-beda, ada yang tinggi, sedang dan ada pula yang rendah. Kondisi demikian disebabkan karena setiap individu latar belakang sosial yang berbeda memiliki intelegensi yang berbeda-beda pula. Dengan demikian, dalam
menerima pelajaran ada yang cepat dan ada yang lamban dan ada pula yang tidak memahaminya.
Hasil yang dicapai oleh siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar, menunjukkan bahwa tingkat penguasaan materi dalam proses pembelajaran masih tergolong sedang. Sebab nilai yang diperoleh oleh siswa yang dijadikan sampel setelah mengerjakan tes berada pada skala 7 - 8. Dengan demikian hasil belajar yang dicapai siswa Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar masih tergolong baik.
Sehubungan dengan penjelasan di atas, penulis menggambarkan bagaimana hasil yang diperoleh siswa setelah guru mengajar dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 9
Pendapat responden tentang interaksi pegaulan siswa dengan sesamanya yang baik di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Benteng
Kabupaten Kepulauan Selayar setelah Guru Mengajar
No Jawaban Responden Frekuensi Persentase
1 Sangat baik 17 orang 15,55 %
2 Baik 30 orang 66,67 %
3 Kurang baik 7 orang 17,78 %
4 Tidak baik - 0 %
Jumlah 54 orang 100%
Sumber Data : Tabulasi Angket No. 4
Tabulasi angket di atas, menggambarkan bahwa dari 54 orang siswa yang dijadikan sebagai sampel penelitian terdapat 17 orang atau 15,55%
siswa yang memilih sagat baik. Pada saat guru mengajar, kemudian 30
orang dengan persentase 66,67% yang menyatakan baik sedangkan 7
orang dengan persentase 66,67% yang menyatakan baik sedangkan 7