BAB 5 PEMBAHASAN
5.1 Pengaruh Faktor Predisposisi terhadap Pemanfaatan Posyandu
5.1.1 Pengaruh Pengetahuan terhadap Pemanfaatan Posyandu
Hasil penelitian tentang variabel pengetahuan ditemukan 50,8% (Tabel 4.5) pada kategori kurang baik, dengan persentase tertinggi yang diketahui responden adalah kegunaan balita ditimbang di Posyandu melalui timbangan dacin, yaitu sebanyak 71,7% responden (Tabel 4.4). Uji statistik menunjukkan variabel pengetahuan berpengaruh terhadap pemanfaatan posyandu oleh ibu yang mempunyai balita (p=0,009<0,05). Mengacu kepada hasil uji tersebut dapat dijelaskan semakin baik pengetahuan ibu yang mempunyai balita tentang posyandu maka akan meningkat pemanfaatan posyandu.
Persentase ibu balita di wilayah kerja Puskesmas Alue Bilie Kecamatan Darul Makmur yang mayoritas hanya mengetahui kegunaan balita ditimbang di Posyandu sebesar 71,7% (Tabel 4.4), hal ini menunjukkan posyandu sebagai sarana pelayanan kesehatan untuk pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita serta sarana untuk mendeteksi secara dini gangguan kesehatan belum diketahui ibu balita sepenuhnya.
Salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan ibu balita tentang posyandu dapat dilakukan melalui kegiatan penyuluhan tentang posyandu melalui pembuatan brosur atau leaflet. Penyuluhan tentang posyandu dengan materi yang mencakup keseluruhan prosedur dan sistem pelayanan posyandu menjadi sangat penting dilakukan sebagai upaya meningkatkan pemanfaatan posyandu. Metode penyuluhan yang digunakan juga harus disesuaikan dengan kemampuan masyarakat, sehingga apa yang menjadi tujuan penyuluhan dapat tercapai.
Hasil penelitian masih ada ditemukan sebanyak 30,3% bayi yang BBLR (< 2.500 gram) dan pemanfaatannya sebanyak 63,4% pada kelompok usia ≤ 1 tahun tahun (Tabel 4.3). Angka BBLR sebanyak 30,3% terkait dengan tingkat pendapatan responden sebanyak 66,1% < UM Kabupaten Nagan Raya. Ketika pendapatan keluarga tidak cukup maka mengurangi kemampuan ibu hamil mengurus dirinya sendiri dan bayi yang dilahirkan serta ibu hamil seperti ini merupakan kelompok yang cukup rawan gizi. Kekurangan gizi pada ibu hamil mempunyai dampak yang cukup besar terhadap proses pertumbuhan janin dan anak yang akan dilahirkan. Bila ibu hamil mengalami kurang gizi maka salah satu akibat yang akan timbul adalah bayi lahir dengan BBLR.
Menurut Soetjiningsih (2001) pertumbuhan adalah bertambahnya jumlah dan besarnya sel di seluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif dapat diukur. Sehubungan dengan pertumbuhan, maka dapat dilakukan dengan pengukuran berat badan menurut umur balita dengan menggunalan Kartu Menuju Sehat (KMS). Pemantauan pertumbuhan dapat dilakukan dengan menimbang berat badan dan
mengukur tinggi badan secara teratur pada waktu tertentu sehingga normal tidaknya pertumbuhan anak dapat diketahui (Sulistijani, 2001).
Terpenuhinya kebutuhan gizi anak akan menentukan laju tumbuh kembang tubuh anak. Manifestasi dan adanya hambatan pertumbuhan adalah menjadi tidak sesuainya berat badan anak dengan usianya. Dengan membandingkan berat badan yang sama pada waktu mendapat KMS dapat dketahui ada tidaknya hambatan pertumbuhan (Moehji, 2003).
Menurut Depkes RI (2002) pertumbuhan balita dapat juga diketahui apabila setiap bulan ditimbang, hasil penimbangan dicatat di KMS (Kartu Menuju Sehat), dan dihubungkan antara titik berat badan pada KMS dari hasil penimbangan bulan lalu dan hasil penimbangan bulan ini. Rangkaian garis-garis pertumbuhan anak tersebut membentuk grafik pertumbuhan balita. Pada balita yang sehat, berat badannya akan selalu naik, mengikuti pita pertumbuhan sesuai dengan umurnya.
Kartu Menuju Sehat (KMS) adalah suatu kartu/alat sederhana dan murah, penting digunakan untuk memantau pertumbuhan badan balita. KMS yang ada untuk saat ini yaitu kartu yang memuat grafik pertumbuhan serta indikator perkembangan yang bermanfaat untuk mencatat dan memantau tumbuh kembang balita setiap bulannya dari sejak lahir sampai berusia 5 (lima) tahun (Soediaoetama, 1991).
Pada kartu KMS terdapat grafik dengan latar belakang berwarna yang dimulai dari warna hijau, hijau muda, kekuningan, kuning, jingga dan merah. Apabila hasil penimbangan balita dibandingkan dengan umur berada dalam grafik dengan latar belakang kuning, maka area warna merah atau berada di Bawah garis Merah (BGM) maka termasuk gizi buruk
Pengetahuan tentang manfaat posyandu, sasaran pelayanan posyandu, jenis kegiatan posyandu serta sistem pelayanan 5 meja di posyandu di wilayah kerja Puskesmas Alue Bilie Kecamatan Darul Makmur lebih banyak yang tidak mengetahui. Persentase tertinggi yang tidak diketahui adalah tentang sistem pelayanan 5 meja di posyandu yaitu 68,5%, hal ini menunjukkan pemahaman ibu balita tentang posyandu serta kegiatan yang dilakukan di posyandu masih rendah, sehingga pemanfaatan posyandu juga mayoritas rendah sampai dengan sedang, yaitu 51,2% dengan frekuensi 1-8 kali setahun.
Pengetahuan responden kategori rendah sebesar 50,8%, hal ini sesuai dengan hasil survei pendahuluan bahwa sebagian besar tidak mengetahui pengertian posyandu dan manfaat balita ditimbang ke posyandu. Ibu balita juga menganggap posyandu hanya sebagai tempat melakukan imunisasi, sehingga pada saat balitanya sudah mendapatkan imunisasi dasar tidak lagi dibawa ke posyandu.
Pengetahuan tentang posyandu sebagai faktor yang memengaruhi pemanfaatan posyandu konsisten dengan penelitian Pamungkas (2009) menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu balita dengan perilaku kunjungan ibu ke posyandu di Kelurahan Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang. Pengetahuan ibu balita tentang posyandu meningkatkan tingkat kepercayaan ibu balita terhadap posyandu sehingga meningkatkan perilaku kunjungan ibu ke posyandu.
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifkan antara tingkat pengetahuan ibu balita tentang posyandu dengan
pemanfaatan posyandu. Perilaku seseorang dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan dilatarbelakangi oleh 3 faktor yang salah sat diantaranya adalah faktor predisposisi yang memuat tentang pengetahuan (Green dalam Notoatmodjo, 2005). Pada penelitian ini secara keseluruhan ibu yang mempunyai tingkat pengetahuan baik rata- rata mempunyai tingkat perilaku pemanfaatan ke posyandu yang baik, tapi ada beberapa responden yang mempunyai tingkat pengetahuan yang baik tetapi mempunyai tingkat perilaku pemanfaatan yang kurang.
Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang dikemukakan Andersen (1995) yang mengungkapkan bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan memiliki tiga faktor yang berperan, yaitu faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor kebutuhan. Pemanfaatan pelayananan kesehatan bergantung pada faktor-faktor sosiodemografis, tingkat pendidikan, kepercayaan dan praktek kultural, diskriminasi jender, status perempuan, kondisi lingkungan, sistem politik dan ekonomi, pola penyakit serta sistem pelayanan kesehatan (Shaikh, 2004)
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh Susanti (2006) jumlah balita yang terdapat di dalam keluarga, memengaruhi kunjungan ibu ke posyandu, dimana keluarga yang memiliki jumlah balita sedikit maka ibu akan lebih sering datang ke posyandu serta jarak dari rumah ke posyandu sangat memengaruhi kunjungan ibu ke posyandu. Perilaku keluarga yang membawa balitanya setiap bulan juga berhubungan dengan pengetahuan keluarga, dimana keluarga yang memiliki pengetahuan tentang kesehatan, tanda, dan gejala sehubungan dengan pertumbuhan anggota keluarganya, maka keluarga tersebut akan segera melakukan tindakan untuk
meminimalkan dampak yang lebih buruk lagi terhadap kondisi anggota keluarganya. Hal ini, sesuai dengan hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh Anggraeni (2006) mengungkapkan bahwa pengetahuan ibu berhubungan signifikan bersifat positif dengan keteraturan menimbangkan balitanya ke posyandu..
Hasil penelitian yang dilakukan bahwa keaktifan posyandu dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut terbagi menjadi faktor dari dalam maupun dari luar posyandu. Faktor dari dalam posyandu berupa kader, dana dan sarana prasarana. Faktor dari luar posyandu berupa tingkat pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat serta jumlah balita. Tingkat perkembangan posyandu sangat dipengaruhi oleh tingkat partisipasi masyarakat (ibu balita, tokoh masyarakat atau kepala desa) serta aspek manajemen pengelolaan posyandu oleh petugas puskesmas.
Menurut Notoatmodjo (2005), rendahnya tingkat keaktifan ibu ke Posyandu kemungkinan disebabkan beberapa hal antara lain ibu tidak sempat/terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah tangga, kurangnya penyebaran informasi tentang manfaat penimbangan sehingga ibu kurang/tidak mengerti tentang arti dan manfaat penimbangan, kurangnya dukungan dari pihak keluarga serta keadaan ekonomi keluarga yang kurang mendukung..