BAB II. TINJAUAN TEORI
E. Dinamika Perkawinan Kurang dari Lima Tahun
3. Pengaruh Perkawinan Kurang dari Lima Tahun terhadap
Dalam kehidupan perkawinan, kebutuhan emosi setiap istri berbeda, tergantung dengan usia kronologis istri saat menikah (Walgito, 2010) dan juga pada usia perkawinan dimana keduanya sangat mempengaruhi peran regulasi emosi masing-masing. Karena regulasi emosi merupakan suatu cara serta upaya pengendalian emosi dan perilaku sebagai usaha pengungkapan dan penerimaan diri oleh seseorang dengan baik, maka dalam perkawinan yang sarat akan konflik, setiap pasangan baik suami
maupun istri dituntut untuk memiliki regulasi emosi yang tentunya disesuaikan dengan tingkat perkembangan emosi serta kebutuhan emosi masing-masing.
Proses penyesuaian dalam perkawinan seringkali menimbulkan konflik yang berpotensi pula memunculkan emosi-emosi negatif. Pengaruh emosi negatif yang tidak segera ditangani dengan baik dapat berdampak pada hilangnya keharmonisan dalam kehidupan perkawinan. Masa lima tahun perkawinan terutamanya menjadi masa yang paling krusial dalam proses penyesuaian perkawinan. Oleh sebab itu, usia perkawinan kurang dari lima tahun menjadi suatu masa dimana setiap pasangan suami-istri melatih kemampuan regulasi emosi masing-masing. Dalam hal ini, kemampuan regulasi emosi setiap pasangan suami-istri dalam konteks penyesuaian perkawinan benar-benar dibutuhkan, terutama untuk dapat melalui masa-masa awal perkawinan yang sangat menentukan keutuhan perkawinan pada masa-masa berikutnya.
Dalam hal ini, setiap pasangan suami-istri yang mampu melewati masa-masa penyesuaian pada tahap awal perkawinan dapat dianggap telah memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik dibandingkan dengan pasangan suami-istri yang mengalami kegagalan perkawinan, tertama pada usia perkawinan kurang dari lima tahun.
Dengan demikian dalam konteks kehidupan perkawinan, usia perkawinan kurang dari lima tahun turut mempengaruhi kemampuan regulasi emosi pasangan-suami istri. Hal ini sejalan dengan Masters (dalam
Thompson, 1994), yang dikemukakan sebelumnya bahwa keadaan dari suatu lingkungan tertentu juga turut mempengaruhi kemampuan regulasi emosi seseorang, terutama untuk mengurangi kemunculan emosi negatif.
Kemampuan regulasi emosi dalam kehidupan perkawinan menjadi salah satu kunci dalam mempertahankan serta memelihara keutuhan rumah tangga. Dalam usaha penyelesaian masalah dalam rumah tangga, setiap pasangan dituntut untuk mampu meregulasi emosi, terlebih karena adanya tanggung jawab terhadap keluarga maupun status sosial yang telah disandangnya.
F. PERBEDAAN REGULASI EMOSI ISTRI USIA REMAJA DAN ISTRI USIA DEWASA AWAL PADA USIA PERKAWINAN KURANG DARI LIMA TAHUN
Dalam kehidupan berumahtangga, kematangan emosi menjadi hal yang penting sekaligus sebagai kebutuhan bagi seorang istri, khususnya untuk menghadapi dinamika perkawinan yang kompleks. Sementara itu menurut Walgito (2010), salah satu faktor penentu kematangan emosi adalah perkembangan emosi sesuai dengan usia kronologis. Usia kronologis yang dalam hal ini adalah usia remaja dan dewasa awal, berpengaruh pula pada proses kematangan emosi seseorang. Selanjutnya, kematangan emosi menentukan karakteristik istri untuk menjalankan berbagai perannya dalam kehidupan berumahtangga. Dengan kata lain, karakteristik istri dalam suatu
perkawinan bergantung pada kematangan emosi masing-masing istri sesuai dengan perkembangan emosi yang dipengaruhi oleh usia kronologis.
Dalam perkawinan, seorang istri memiliki peran khas, yakni dalam usaha pembangunan kepuasan emosional anggota keluarga dan pengasuhan anak. Pengaruh kematangan emosi dalam karakterisistik istri akan tampak ketika seorang istri menjalankan peran khasnya, terlebih ketika berhadapan dengan konflik dalam rumah tangga, terutama yang terjadi pada usia perkawinan kurang dari lima tahun. Sebagaimana usia perkawinan kurang dari lima tahun merupakan masa-masa krusial yang sangat menentukan kehidupan perkawinan selanjutnya, seorang istri dituntut untuk dapat mengatasi munculnya emosi-emosi negatif yang dapat merusak keutuhan rumah tangganya.
Karakteristik istri dalam perkawinan selanjutnya terbentuk sesuai dengan karakteristik pasangan dan pemenuhan kebutuhan emosi pada setiap rentang usianya. Istri usia remaja memiliki karakteristik pasangan yang lebih didasari oleh kebutuhan akan tuntutan sosial. Sementara itu, seorang istri usia dewasa awal umumnya lebih memiliki kesadaran akan kriteria karakter pasangan hidup yang benar-benar dinilai mampu memenuhi kebutuhan emosional berupa jaminan akan rasa aman maupun jaminan akan terpenuhinya berbagai kebutuhan hidup lainnya.
Selain karakteristik pasangan, pemenuhan kebutuhan emosi juga menentukan karakteristik istri sesuai usianya. Seorang istri idealnya memiliki kebutuhan emosi berupa jaminan akan rasa aman dari pasangannya. Bila kebutuhan emosi berupa rasa aman dari pasangannya tersebut tidak terpenuhi,
maka hal tersebut akan meningkatkan ketegangan emosi yang memunculkan ekspresi emosi negatif. Dalam hal ini, sesuai dengan tingkatan usia kronologisnya, ekspresi ketegangan emosi istri usia remaja akan cenderung didominasi oleh kemarahan, sementara istri usia dewasa awal lebih didominasi oleh ekspresi ketegangan emosi berupa kekhawatiran.
Sebagaimana usia awal perkawinan diwarnai oleh adanya berbagai macam penyesuaian, maka konflik menjadi sesuatu yang mutlak harus dihadapi oleh setiap pasangan suami istri. Dalam menghadapi konflik-konflik yang rentan memunculkan emosi-emosi negatif, regulasi emosi dibutuhkan bagi seorang istri untuk mengendalikan responnya terhadap konflik. Kemampuan regulasi emosi dalam hal ini sangat penting, sebab tanpa kemampuan tersebut seorang istri tidak dapat mengekspresikan emosinya dengan baik dan terarah, sehingga dapat dengan mudah dikuasai oleh pengaruh emosi-emosi negatifnya. Oleh sebab itu, seorang istri dituntut untuk memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik guna mengontrol respon negatif yang mungkin muncul ketika dihadapkan oleh berbagai macam konflik dalam kehidupan rumah tangganya. Regulasi emosi dalam hal ini didasarkan pada pemikiran Gross (Gross & Thompson, 2006) dimana terdapat dapat lima aspek yang mengacu pada proses, yakni pemilihan situasi, modifikasi situasi, pengarahan perhatian, perubahan kognitif dan modulasi respon.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa peran khas dan konflik yang mewarnai kehidupan perkawinan khususnya pada usia perkawinan kurang dari lima tahun turut mempengaruhi bagaimana seorang
istri dapat meregulasi emosinya. Kemampuan regulasi emosi dari setiap kelompok usia kronologis istri dalam hal ini juga dipengaruhi oleh adanya perbedaan tingkat kematangan emosi serta karakteristik istri. Oleh karena itu kemampuan regulasi emosi dari masing-masing kelompok usia istri juga berbeda. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya mengenai aspek-aspek yang mengacu pada upaya regulasi emosi, maka istri usia remaja lebih cenderung menemui kesulitan untuk dapat meregulasikan emosinya dibandingkan dengan istri usia dewasa awal. Dengan kata lain, perbedaan diantara kedua kelompok usia kronologis istri dalam hal kemampuan regulasi emosi menentukan bagaimana respon seseorang terhadap situasi serta konflik yang terjadi.