• Tidak ada hasil yang ditemukan

VARIETAS PAPRIKA

B. Peubah Agronomi

Berdasarkan Tabel 7 terlihat bahwa adanya pengaruh beda nyata interaksi naungan dan varietas terhadap tinggi tanaman. Perlakuan naungan 27.5% pada umur 11 MST memberikan nilai tertinggi (83.16 cm) dibandingkan dengan tanpa naungan (79.56 cm) dan naungan 55%

57

(60.82 cm). Hasil tersebut sesuai dengan percobaan Subhan (1990) yang menyatakan bahwa paprika monokultur yang diberi perlakuan naungan memberikan hasil pertumbuhan vegetatif yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa naungan. Hasil ini didukung pula oleh penelitian yang dilakukan oleh El -Gizawy et al. (1993b) yang menyatakan bahwa pemberian naungan pada tanaman tomat hingga 35% berpengaruh terhadap meningkatnya tinggi tanaman, luas daun, jumlah daun, dan berat kering daun. Perbedaan tinggi tanaman akibat pemberian naungan berkait an dengan terjadinya proses pemanjangan sel tanaman yang disebabkan oleh meningkatnya aktifitas hormon auksin di dalam tubuh tanaman dan adanya sifat fotomorfogenetik yang banyak dipengaruhi oleh radiasi infra merah (Moelyohadi 1999).

Pemberian naungan terhadap tanaman uji dapat meningkatkan tinggi tanaman dibandingkan tanpa naungan, namun pemberian naungan yang berlebihan yaitu 55% menyebabkan terjadinya penurunan nilai tinggi tanaman. Hal tersebut menunjukkan adanya kondisi optimum intensitas radiasi matahari yang dibutuhkan oleh tanaman uji untuk pertumbuhannya yang maksimum yaitu pada naungan 27.5% yang setara dengan intensitas radiasi matahari sebesar 155 W/m2 .

Pada tanaman C3 (termasuk paprika) peningkatan intensitas radiasi matahari secara berangsur-angsur akan menyebabkan meningkatnya fotosintesis hingga tercapainya titik yang disebut tingkat cahaya jenuh yaitu tidak terjadi lagi peningkatan laju pertukaran karbondioksida (CER) dalam proses fotosintesis. Radiasi matahari yang diserap oleh tanaman budidaya, 75-80% digunakan untuk menguapkan air, 5-10 % untuk cadangan bahang di dalam tanah, 5-10% menjadi bahan pertukaran bahang dengan atmosfer bumi melalui proses konveksi dan 1-5% untuk proses fotosintesis (Gardner et al. 1985)

Berdasarkan Tabel 7 juga terlihat bahwa Spartacus mempunyai nilai tinggi tanaman rata-rata tertinggi pada 9, 10, dan 11 MST dan berturut-turut diikuti oleh New Zealand, Goldflame, Tropica, dan Bangkok. Hal tersebut menggambarkan adanya keragaman karakteristik morfologi

58

dari masing-masing varietas dan respon yang berbeda pada setiap varietas terhadap perlakuan yang diberikan.

Pengukuran kandungan total klorofil dan rasio klorofil a dan b pada tanaman percobaan bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan naungan terhadap kandungan total dan rasio klorofil a dan b. Berdasarkan Tabel 8 terlihat bahwa terdapat pengaruh beda nyata antar perlakuan naungan terhadap total kandungan klorofil dan rasio klorofil a/b. Pertambahan taraf naungan menyebabkan meningkatnya total kandungan klorofil dan menurunnya rasio klorofil a/b. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Lambers et al. (1998) bahwa pada kondisi ternaungi daun akan meningkat luasnya tetapi lebih tipis, kadar klorofil a dab b meningkat dan terjadinya penurunan rasio klorofil a/b. Berdasarkan analisis korelasi regresi diketahui bahwa perlakuan naungan pada percobaan ini yang merupakan fungsi pengurangan intensitas radiasi matahari berkorelasi negatif-signifikan dengan kandungan total klorofil (R2 = 0.9964) dengan persamaan regresi Y = -0.0139X + 4.5047 (Gambar 7). Hal tersebut berarti bahwa pengurangan intensitas radiasi matahari akan menyebabkan meningkatnya nilai kandungan klorofil per satuan berat.

y = -0. 0139x + 4. 5047 R2 = 0. 9964 0 0. 5 1 1. 5 2 2. 5 3 3. 5 90 140 190 240 IRM (W/ M2 ) K a n d u n g a n K lo ro fi l (m g /g )

Gambar 7. Hubungan antara IRM dan Kandungan Klorofil

Pada Gambar 7 terlihat bahwa kandungan total klorofil dan rasio klorofil a/b pada daun berhubungan erat dengan intensitas radiasi matahari (IRM) yang masuk ke dalam rumah plastik dan diterima oleh

59

tanaman. Nilai IRM tanpa naungan yaitu 182 W/m2 (radiasi yang masuk 58%), naungan 27.5% yaitu 155 W/m2 (radiasi yang masuk 49%), dan naungan 55% yaitu 103 W/m2 (radiasi yang masuk 33%) berbanding terbalik dengan kandungan total klorofil dan berbanding lurus dengan rasio klorofil a/b. Peningkatan persentase naungan atau penurunan nilai IRM berakibat terhadap peningkatan total kandungan klorofil dan penurunan rasio klorofil a/b pada masing-masing varietas daun tanaman paprika seperti terlihat pada Gambar 8.

0 0 . 5 1 1 . 5 2 2 . 5 3 3 . 5 4 1 0 3 1 5 5 1 8 2 I R M ( W / m 2) Kandungan K lorofil (mg/g) B a n g k o k G o l d f l a m e N e w Z e a l a n d S p a r t a c u s T r o p i c a

Gambar 8. Total Kandungan Klorofil 5 Varietas Paprika pada 3 Taraf Intensitas Radiasi Matahari

Menurut Hale dan Orcutt (1987) bahwa tanaman yang ternaungi akan memiliki tumpukan grana yang lebih besar, sekitar 100 thylakoid per granum yang terletak tidak teratur dalam kloroplas. Terdapat proporsi lamella pembentuk grana yang lebih besar dan nisbah membran thylakoid terhadap stroma yang lebih tinggi sehingga menghasilkan kandungan klorofil per unit luas daun yang tinggi pula dan nisbah kloroplas per unit daun yang lebih rendah pada tanaman ternaungi.

Indeks luas daun (ILD) merupakan perbandingan total luas daun terhadap area yang ditutupi oleh tajuk tanaman. Hasil percobaan pada Tabel 9 menunjukkan bahwa semakin tinggi perlakuan naungan menyebabkan semakin menurunnya ILD. Pada 30 dan 90 HST perlakuan tanpa naungan memberikan hasil ILD lebih besar dibandingkan dengan perlakuan naungan (27.5% dan 55%), namun pada 60 HST nilai ILD tertinggi pada 27.5% yaitu 2.07.

60

Indeks luas daun mempunyai peranan yang penting dalam menentukan tingkat laju fotosintesis maupun besarnya asimilat dan produksi yang dihasilkan. Hingga batas tertentu, peningkatan nilai ILD akan menyebabkan semakin besarnya radiasi matahari yang dapat ditangkap tajuk dan lebih lanjut akan semakin tinggi laju fotosintesis yang menghasilkan asimilat untuk pertumbuhan dan produksi tanaman.

Pada masa pembentukan buah (60 HST), tanaman pada naungan 27.5% memiliki nilai ILD tertinggi yaitu 2.07 . Kondisi ini berpengaruh positif terhadap produksi yang dihasilkan. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil percobaan pada naungan 27.5% yang memiliki nilai yang relatif tinggi pada peubah tinggi tanaman, RGR, NAR, jumlah buah per tanaman, bobot buah per tanaman, ketebalan daging buah dan volume buah, meskipun pada peubah RGR tidak memberikan hasil beda nyata. Menurut Gardner et al. (1985) secara umum laju asimilasi dan produksi berat kering akan maksimum pada tanaman budidaya dengan nilai ILD 3-5 dan ILD diatas 5 tidak akan meningkatkan laju pertumbuhan tanaman maupun produksi asimilat karena peningkatan luas daun (ILD) lebih lanjut akan menaungi daun yang lebih bawah yang kemudian tidak dapat menghasilkan fotosintat bahkan sebaliknya justru menggunakan produk fotosintesis sehingga menurunkan laju pertumbuhan dan berat kering tanaman.

Berdasarkan Tabel 9 terlihat bahwa perlakuan naungan memberikan pengaruh terhadap nilai ILD pada 30, 60, dan 90 HST. Selain itu masing-masing varietas menunjukkan nilai ILD yang berbeda-beda, namun memberikan pola yang sama pada masing -masing perlakuan naungan yaitu mencapai nilai rata-rata tertinggi pada 60 HST yaitu 1.85, kemudian menurun pada 90 HST yaitu 1.59. Penurunan ILD disebabkan oleh berkurangnya daun pada tanaman seiring dengan bertambahnya umur tanaman. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Moelyohadi (1999) terhadap tanaman padi gogo .

Nilai ILD tanaman dipengaruhi oleh jumlah bahan tanaman atau asimilat yang dialokasikan ke bagian daun. Daun tua yang sudah tidak

61

produktif diganti oleh daun yang baru untuk menghasilkan karbohidrat. Alokasi bahan kering ke daun pada awal pertumbuhan relatif tinggi kemudian berkurang dengan bertambahnya umur tanaman. Asupan asimilat untuk pertumbuhan vegetatif sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh intensitas cahaya. Hasil penelitian Heuvelink dan Marcelis (1996) menunjukkan bahwa asupan asimilat yang tinggi berperan penting untuk meningkatkan bobot kering organ vegetatif mencapai 82% pada tanaman paprika. Oleh sebab itu laju pertumbuhan daun sangat dipengaruhi oleh asupan asimilat dari proses fotosintesis.

Berdasarkan Tabel 11 terlihat bahwa perlakuan naungan tidak memberikan pengaruh beda nyata terhadap nilai RGR. Meskipun demikian dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa perlakuan naungan 27.5% menghasilkan nilai RGR tertinggi yaitu 0.028 g/g/hari diikuti oleh perlakuan tanpa naungan 0.025 g/g/hari, sedangkan perlakuan naungan 55% meng hasilkan ni lai RGR terendah 0.021 g/g/hari. Menurut Gardner et al. (1985) bahwa faktor utama yang mempengaruhi berat kering total tanaman yang dapat diukur diantaranya dengan indikator laju pertumbuhan relatif (RGR) adalah kondisi optimum radiasi matahari yang diabsorbsi dan efisiensi tanaman dalam memanfaatkan energi tersebut untuk fiksasi CO2 . Sinclair dan Torie (1989) menambahkan bahwa dalam kondisi tanpa stres intensitas radiasi matahari merupakan faktor lingkungan terpenting yang menyebabkan perbedaan laju fotosintesis. Selain itu dalam kaitannya dengan laju pertumbuhan tanaman, keberadaan pigmen terutama klorofil adalah sangat penting dalam proses fotosintesis. Dalam hal tersebut molekul pigmen klorofil berperan dalam penyerapan dan penyeleksi foton yang diterima oleh tajuk tanaman.

Berdasarkan hasil analisis korelasi regresi diketahui bahwa nilai RGR yang diperoleh erat kaitannya dengan kandungan klorofil yang ditunjukkan dengan persamaan regresi linier Y = 0.3046X + 0.494 (R2 = 0.4206) seperti yang terlihat pada Gambar 9.

62 y = 0. 3046x + 0. 494 R2 = 0. 4206 0 0. 5 1 1. 5 2 0 1 2 3 4 Kandungan Klorofil (mg/ g) R G R ( g /g /h a ri )

Gambar 9. Hubungan antara Kandungan Klorofil dengan RGR

Berdasarkan Tabel 11 dapat dilihat bahwa perlakuan naungan memberikan pengaruh beda nyata terhadap peubah Net Assimilation Rate

(NAR). Perlakuan naungan 27.5% memberikan nilai rata-rata NAR tertinggi yaitu 0.0012 g/cm2/hari dan terendah adalah naungan 55% yaitu 0.0007 g/cm2/hari. Spartacus merupakan varietas yang memiliki nilai NAR rata-rata tertinggi dibandingkan varietas lainnya yaitu mencapai nilai 0.0012 g/cm2/hari. NAR merupakan ukuran rata-rata efisiensi fotosintesis daun dalam suatu komunitas tanaman budidaya yang juga merupakan laju penimbunan berat kering per satuan luas daun. Hal ters ebut mengindikasikan adanya perbedaan kemampuan tanaman dalam menghasilkan asimilat pada masing-masing varietas dan perlakuan naungan. Varietas tanaman uji berpengaruh nyata terhadap nilai NAR. Hal tersebut menunjukkan bahwa masing-masing varietas memperlihatkan tanggap yang berbeda ketika diberikan perlakuan naungan. Selain itu dari hasil analisis korelasi regresi diketahui bahwa tingginya nilai NAR juga dipengaruhi oleh kandungan klorofil dengan persamaan regresi linier Y = 0.0099X + 0.0234 (R2 = 0.2678) dan koefisien pemadaman dengan persamaan Y = - 0.257X + 0.1053 (R2 = 0.6691) seperti yang terlihat pada Gambar 10 dan 11.

63 y = 0. 0099x + 0. 0234 R2 = 0. 2678 0 0. 02 0. 04 0. 06 0. 08 0. 1 0 1 2 3 4 Kandungan Klorofil (mg/ g) N A R ( g /c m 2 /h a ri )

Gambar 10. Hubungan antara Kandungan Klorofil dengan NAR

y = -0. 0257x + 0. 1053 R2 = 0. 6691 0 0. 02 0. 04 0. 06 0. 08 0. 1 1. 5 2 2. 5 3 3. 5 Koefisien Pemadaman N A R ( g /c m 2 /h a ri )

Gambar 11. Hubungan antara Koefisien Pemadaman dengan NAR

Data hasil percobaan peubah jumlah buah per tanaman pada Tabel 13 menunjukkan bahwa perlakuan naungan dan varietas memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah buah pertanaman. Pemberian naungan 55% ternyata menyebabkan penurunan jumlah buah per tanaman. Perlakuan tanpa naungan dan naungan 27.5% memberikan hasil yang lebih baik meskipun diantara keduanya tidak berbeda nyata dengan jumlah buah pertanaman masing-masing yaitu 7.72 dan 8.44. Hasil tersebut lebih besar dibandingkan perlakuan naungan 55% dengan jumlah buah per tanaman 3.32.

64

Jika dikaitkan dengan peubah lingkungan, maka peubah jumlah buah pertanaman berkolerasi positif dengan intersepsi tajuk. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil analisis korelasi regresi dengan persamaan regresi linier Y = 0.5417X - 25.054 (R2=0.4031) (Gambar 12). Dari uraian diatas terlihat adanya pengaruh intersepsi tajuk terhadap peubah jumlah buah per tanaman. y = 0. 5417x - 25. 054 R2 = 0. 4031 0 2 4 6 8 10 12 50 55 60 65

Int ersepsi Taj uk (%)

J u m la h B u a h P e r T a n a m a n

Gambar 12. Hubungan antara Intersepsi Tajuk dengan Jumlah Buah per Tanaman

Menurut Heuvelink dan Marcelis (1996) hasil sayuran buah pada tanaman paprika sangat ditentukan oleh produksi dan distribusi asimilat yang dihasilkan oleh fotosintesis dan dipengaruhi oleh cahaya yang diterima. Hasil percobaan menunjukkan bahwa varietas Goldflame memiliki jumlah buah per tanaman yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas lainnya. Hal tersebut diduga erat kaitannya dengan kondisi lingkungan yang mendukung varietas tersebut seperti nilai koefisien pemadaman dan yang paling rendah (pada 60-90 HST) yang memungkinkan tanaman uji mendapatkan cahaya yang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhannya.

Data hasil percobaan peubah bobot buah pertanaman pada Tabel 13 menunjukkan adanya pengaruh beda nyata pada interaksi naungan dan varietas terhadap peubah bobot buah pertanaman. Secara umum varietas tanaman uji mengalami peningkatan bobot buah pertanaman

65

pada naungan 27.5%, dan menurun pada naungan 55%, namun tidak berbeda nyata terhadap perlakuan tanpa naungan.

Rendahnya nilai rata-rata bobot buah per tanaman pada perlakuan naungan 55% diduga terkait dengan menurunnya aktivitas metabolisme yang dalam prosesnya membutuhkan intensitas radiasi matahari yang cukup seperti fotosintesis. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Callan dan Kennedy (1995) bahwa kondisi cekaman radiasi matahari yang melebihi batas toleransi tanaman akan menimbulkan pengaruh terhadap sifat morfologi tanaman seperti jumlah daun yang lebih sedikit, daun lebih tipis tapi lebar, bobot kering daun lebih rendah, akar lebih sedikit dan rasio pucuk akar lebih besar, yang lebih lanjut menyebabkan rendahnya produksi asimilat yang dihasilkan dan didistribusikan. Menurut Koesmaryono et al. (1998) cahaya yang rendah menyebabkan meningkatnya spesifik leaf area (SLA) dan menurunnya fotosintesis netto pada tanaman kedelai. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan struktur daun, kloroplas, dan kandungan klorofil serta perbedaan efisiensi kuantum dalam fotosintesis.

Menurut Sato et al. (2003) bahwa keragaman toleransi terhadap cekaman cahaya pada masing-masing varietas paprika disebabkan oleh perbedaan kondisi fisiologis dan morfologis seperti ukuran dan bentuk daun, struktur sel daun, dan kemampuan regulasi potensi yang dimiliki tanaman. Hasil percobaan menunjukkan adanya perbedaan respon masing-masing varietas tanaman uji terhadap perlakuan naungan yang diberikan. Perlakuan tanpa naungan (setara dengan IRM 182 W/m2) dan naungan 27.5% (setara dengan IRM 155 W/m2) tidak memberikan pengaruh beda nyata terhadap Goldflame, New Zealand, Spartacus, dan Tropica pada peubah bobot buah per tanaman, namun memberikan pengaruh beda nyata dengan perlakuan 55% yang setara dengan IRM 103 W/m2 (hasil lebih rendah). Hal tersebut menunjukkan bahwa kisaran intensitas radiasi matahari antara 155-182 W/m2 merupakan batas toleransi cekaman cahaya yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman.

66

Hasil percobaan Wada et al. (2006) menunjukkan bahwa pengurangan cahaya hingga 80% menyebabkan menurunnya produksi dan hasil panen tanaman tomat. Jika memperhatikan keragaman varietas dengan perlakuan naungan 55%, maka terlihat bahwa New Zealand merupakan varietas yang paling rentan terhadap cahaya rendah dibandingkan dengan varietas yang lain, sebaliknya Goldflame merupakan varietas yang paling adaptif .

Hasil analisis korelasi regresi menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara bobot buah per tanaman dengan intersepsi tajuk dengan persamaan regresi Y = 51.32X -2369.4 (R2 = 0.3789) seperti yang terlihat pada Gambar 13.

y = 51. 032x - 2369. 4 R2 = 0. 3789 0 200 400 600 800 1 0 0 0 5 0 5 5 6 0 6 5 Int e r se psi T aj uk ( %) B o b o t B u a h P e r T a n a m a n ( g )

Gambar 13. Hubungan antara Intersepsi Tajuk dengan Bobot Buah per Tanaman

Tahap pembentukan buah dan pengisian buah erat kaitannya dengan bahan baku seperti karbondioksida, air, nutrisi, penggunaan berbagai pigmen dan energi radiasi matahari. Bahan-bahan tersebut melalui proses fotosintesis kemudian dibentuk menjadi karbohidrat. Dalam hal tersebut Golflame diduga memiliki nilai efisiensi yang tinggi terutama dalam memanfaatkan energi matahari. Hal tersebut terlihat dari nilai koefisien pemadaman yang relatif kecil dibandingkan dengan yang lainnya yaitu 1.7 (tanpa naungan), 1.65 (naungan 27.5%), dan 1.85 (naungan 55%). Kondisi tersebut diduga merupakan faktor yang mendukung terhadap tingginya laju fotosintesis pada Goldflame sehingga pembentukan asimilat yang dibutuhkan untuk pembentukan buah relatif

67

lebih besar dibandingkan dengan varietas lainnya. Selain itu tingginya nilai bobot per buah Goldflame dan Spartacus dipengaruhi oleh tingginya rata-rata volume buah dan ketebalan daging buah pada kedua varietas tersebut.

Data hasil percobaan pada peubah bobot per buah pada Tabel 13 menunjukkan bahwa perlakuan naungan tidak memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap peubah bobot perbuah, sedangkan perlakuan varietas memberikan pengaruh beda nyata. Hasil percobaan ini relatif lebih baik jika dibandingkan dengan hasil percobaan pendahuluan yang dilakukan Noor dan Wahyudi (2000) dengan kom posisi nutrisi dan varietas yang sama, namun hanya memperoleh bobot perbuah yang lebih kecil yaitu 50-75 gram. Selain itu hasil penelitian El-Gizawy (1993b) menunjukkan bahwa pemberian naungan pada tanaman tomat hingga 35% memberikan pengaruh yang nyata terhadap peningkatan bobot per buah, diameter buah, dan menurunkan persentase buah yang terbakar matahari, sedangkan pemberian naungan hingga 63% dan tanpa naungan menyebabkan tingginya jumlah buah yang mengalami puffy dan blotchy ripening .

Berdasarkan Tabel 15 terlihat bahwa terdapat pengaruh beda nyata perlakuan naungan dan varietas terhadap ketebalan daging buah. Selain itu terlihat pula adanya keragaman ketebalan daging buah pada masing-masing varietas yang dibawa secara genetik. Pemberian perlakuan tanpa naungan dan naungan 27.5% ternyata memberikan hasil ketebalan daging buah yang relatif lebih baik dibandingkan dengan perlakuan naungan 55% meskipun diantara keduanya tidak memberikan pengaruh beda nyata. Hal tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara intensitas radiasi matahari yang diterima dengan hasil panen. IRM yang berkisar antara 155 -182 W/m2 diduga merupakan kondisi yang memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman uji berdasarkan peubah ketebalan daging buah.

Dari keragaman varietas terlihat bahwa varietas Goldflame memiliki nilai ketebalan daging buah tertinggi (5.82 mm) dibandingkan dengan

68

varietas -varietas lain. Daging buah atau buah yang merupakan sink yang kuat sangat dipengaruhi oleh asupan asimilat (karbohidrat) yang dihasilkan dari proses fotosintesis, sedangkan laju fotosintesis sangat ditentukan oleh tingkat cahaya dan kemampuan adaptasi tanaman terhadap lingkungan yang kurang mendukung. Oleh karena itu tingginya nilai ketebalan daging buah pada Goldflame diduga erat kaitannya dengan kemampuan adaptasi varietas tersebut terhadap lingkungan yang ada.

Berdasarkan Tabel 16 terlihat varietas yang memiliki volume buah tertinggi untuk semua perlakuan yaitu Goldflame dengan nilai volume buah berturut-turut untuk masing-masing perlakuan tanpa naungan, naungan 27.5%, dan naungan 55% yaitu 180.07 ml, 215.46 ml. dan 187.87 ml. Seperti halnya peubah bobot per buah dan ketebalan daging buah, volume buah atau ukuran buah juga sangat dipengaruhi oleh asupan asimilat hasil proses fotosintesis terutama dalam periode generatif.

Menurut Heuvelink dan Marcelis (1996) distribusi asimilat ke buah pada tanaman sayuran sangat ditentukan oleh intensitas radiasi matahari, produksi asimilat, dan laju pertumbuhan daun. Intensitas radiasi matahari yang optimum akan memberikan pengaruh pada tingginya laju fotosintesis. Laju fotosintesis yang tinggi akan memberikan hasil asimilat yang tinggi pula namun agar hasil asimilat lebih banyak didistribusikan ke buah sebagai yield maka jumlah daun perlu dibatasi.

Berdasarkan uraian diatas diketahui bahwa perlakuan naungan 27.5% memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan yang lebih baik pada tanaman paprika Spartacus dan Golflame dibandingkan dengan perlakuan tanpa naungan dan naungan 55%, sedangkan hasil percobaan El-Gizawy (1993b) menunjukkan perlakuan naungan 35% memberikan hasil tertinggi pada volume buah tanaman tomat.

69

SIMPULAN

1. Spartacus dan Goldflame merupakan varietas paprika yang adaptif untuk dataran rendah.

2. Tingkat naungan 27.5% setara dengan intensitas radiasi matahari sebesar 155 W/m2 menghasilkan pertumbuhan tanaman yang terbaik.

Dokumen terkait