G. Kualitas Air
2. Pengaruh Perlakuan Suhu Subletal Terhadap Molting, Total Hemosit dan Kadar Glukos Darah
Secara alami larva lobster air tawar akan mengalami siklus ganti kulit secara teratur jika kondisi lingkungan dan nutrisi tercukupi. Sebab potensi tumbuh larva sangat bergantung pada efisiensi penggunaan energi, yaitu ratio antara energi untuk tumbuh dan metabolisme termasuk energi yang dipergunakan untuk adaptasi. Perlakuan dengan waktu pemaparan yang berbeda, ternyata memberikan rata-rata persentase
molting yang berbeda pada tiap-tiap perlakuan. Persentase molting terbesar, pada perlakuan C (63,33%), indikasi ini menunjukkan bahwa respon fisiolgis yang memacu pascalarva untuk molting sangat baik pada perlakuan ini kemudian berturut-turut Perlakuan B, Perlakuan D, Perlakuan A dan Perlakuan E. Hal ini diduga berkaitan dengan kerja hormonal terutama hormon ekdisteroid yang dapat memacu proses molting pada Cherax. Menurut Fingerman et al. (1997), (ahli fisiologi mengetahui) bahwa stres pada hewan dapat merugikan atau menguntungkan. Konsep hormesis bisa relevan, organisme tumbuh secara normal dan berfungsi sedikit dibawah kapasitas maksimalnya, stres-stres yang sedikit kadang-kadang meningkatkan aktifitas fungsi fisiologi.
Akan tetapi jika dilihat lebih lanjut sebenarnya pertumbuhan merupakan proses biologis yang kompleks dimana banyak faktor mempengaruhinya. Menurut Effendie (2002), pertumbuhan dalam individu ialah pertambahan jaringan akibat dari pembelahan sel secara mitosis. Hal ini terjadi apabila ada kelebihan input energi dan asam amino (protein) yang berasal dari makanan. Bahan yang berasal dari makanan akan digunakan oleh tubuh untuk metabolisme dasar, pergerakan, produksi organ seksual, perawatan bagian-bagian tubuh atau mengganti sel-sel yang sudah tidak terpakai. Bahan-bahan tidak berguna akan dikeluarkan dari tubuh melalui eksresi. Apabila terdapat bahan berlebih dari keperluan tersebut akan dibuat sel baru sebagai penambahan unit atau penggantian sel dari bagian tubuh, secara keseluruhan resultantenya merupakan perubahan ukuran.
Akibat pengaruh stres suhu akan memacu organ Y untuk menghasilkan Molt Accelerating Hormone (MAH) yang dapat membantu kelancaran proses ganti kulit (Sullivan, 1982 dalam Anggoro, 1992). Sedangkan menurut Fingerman et al. (1997), dengan adanya rangsangan suhu, akan merangsang organ Y untuk lebih banyak memproduksi hormon ekdisteroid yang berfungsi mempercepat proses molting . Sejauh mana pengaruh perlakuan suhu subletal dengan waktu yang berbeda terhadap produksi hormon ekdisteroid dan zat pemercepat ganti kulit pada Cherax, masih perlu penelitian lanjutan.
Diduga ada kaitan antara jumlah total hemosit akibat perlakuan stres suhu dengan proses molting. Jika dihubungkan total hemosit pada masing-masing perlakuan (Gambar 13), dengan jumlah udang yang molting (Tabel 2), terlihat bahwa jumlah
Cherax yang molting terbanyak pada masing-masing perlakuan pada hari ketiga, sejalan dengan hasil pengamatan total hemosit yang menunjukkan konsentrasi yang tinggi pada hari kedua dan ketiga kecuali pada perlakuan A (Kontrol). Tetapi hubungan total hemosit terhadap molting akibat berbagai respon stres belum banyak diketahui.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa ada peningkatan jumlah total hemosit pada masing-masing perlakuan jika dibandingkan dengan kontrol. Selama 5 hari pengamatan setelah perlakuan suhu subletal dengan selang waktu pemaparan yang berbeda, menunjukkan bahwa pada hari pertama setelah perlakuan, terlihat sedikit kenaikan jumlah hemosit pada masing-masing perlakuan. Tetapi pada hari ketiga terjadi peningkatan total hemosit kecuali pada kontrol dan mulai turun kembali pada hari ke-4 dan ke-5 mendekati jumlah hemosit kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi pascalarva Cherax relatif mulai stabil pada hari ke-5 akibat pengaruh stres suhu. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Cheng et al. (2005), yang mengamati pengaruh suhu terhadap respon immun udang vannamei, menunjukkan bahwa perlakuan suhu 24, 28 dan 320C selama 24 sampai 96 jam akan menurunkan total hemosit sekitar 12%-16%. Menurut Anderson dan Siwicki (1995) dalam Djauhari (2005), bahwa secara deskriptif, jumlah total hemosit selama serangan infeksi cenderung meningkat. Adanya gejala stres sering ditandai peningkatan total hemosit. Sebagaimana diungkapkan Person et al. (1987) dalam Djauhari (2005), bahwa tingkat imunitas lobster air tawar terhadap serangan infeksi jamur Aphanomyces astaci dapat diindikasikan oleh jumlah hemosit yang bersirkulasi dalam hemolim. Lebih lanjut dikatakan bahwa menurunnya total hemolim berarti agen patogen mulai menerobos menginfeksi ketingkat jaringan yang berujung kematian inang. Kemungkinan lain peningkatan dan penurunan fluktuatif total hemosit diduga disebabkan oleh variasi metabolisme fisiologis antar individu. Menurut Jussila (1997), beberapa faktor yang mempengaruhi total hemosit antara lain intervensi patogen, mekanisme molting dan kondisi lingkungan. Lebih lanjut diungkapkan oleh Chang (2005), bahwa hemosit berperan dalam proses pembekuan darah, pengerasan eksoskeleton pasca molting dan pembersihan sistem haemocoal dari antigen. Nilai rata- rata total hemosit berbagai jenis udang penaeid bervariasi antara 20 x 106 hingga 40 x 106 sel/ml.
Glukoneogenesis merupakan istilah yang digunakan untuk mencakup semua mekanisme dan lintasan yang bertanggung jawab untuk mengubah senyawa nonkarbohidrat menjadi glukosa atau glikogen. Substrat utama bagi glukoneogenesis adalah asam amino glukogenik, laktat, gliserol dan propionat. Hati dan ginjal merupakan jaringan utama yang terlibat, karena kedua organ tersebut mengandung komplemen lengkap enzim-enzim yang diperlukan (Murray, et al. 2003).
Kadar glukosa darah pada masing-masing perlakuan berfluktatif. Pada hari pertama setelah perlakuan kadar glukosa menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan kontrol. Rata-rata peningkatan kadar glukosa darah terjadi pada hari ke-3 dan terjadi penurunan kembali pada hari ke-4 dan ke-5 mendekati kadar glukosa darah kontrol. Dengan demikian penurunan kadar glukosa darah pada hari ke-5 mengindikasikan bahwa kondisi pascalarva Cherax setelah 5 hari perlakuan relatif mulai stabil. Menurut Piliang dan Al Haj (2006), homeostasis gula dalam darah diatur melalui mekanisme hormonal, untuk mempertahankan kadar gula darah agar tetap stabil, memberi arti amat penting untuk kesehatan dan bahkan untuk kehidupan, karena setiap sel dalam tubuh membutuhkan suplai energi agar fungsi dan kehidupan sel dapat berlangsung. Setiap gangguan yang terjadi pada suplai glukosa akibat tidak berfungsinya mekanisme-mekanisme homeostasis glukosa, seperti kekurangan makan dan stres akan membawa dampak serius yang mungkin dapat mengancam kehidupan organisme tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Hall dan Ham (1998), tentang pengaruh berbagai penyebab stres terhadap kadar glukosa darah udang windu, menyimpulkan bahwa pemeliharaan udang dengan kepadatan 9 – 50 ekor/m2 tanpa pemberian oksigen akan menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah dari 1 mmol/l menjadi 2,1 mmol/l setelah 1 jam tanpa aerasi. Tetapi kadar glukosa darah akan turun kembali pada kadar 1 mmol/l setelah 7 – 10 jam pemberian aerasi. Penelitian dengan ikan Gasterosteus aculeatus yang dilakukan oleh Pottinger et al. (2002), melaporkan bahwa stres lingkungan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar glukosa darah selama 24 jam tetapi pengaruh stres lingkungan selama 10 hari akan menurunkan kadar glukosa darah dari 2,4 mg/gram menjadi 0,72 mg/gram pada hari ke-10. Sedangkan penelitian pada kepiting Cancer pagurus yang dilakukan oleh Webster (1996), menjelaskan bahwa
kadar glukosa dalam hemolim selama perlakuan stres hypoxia meningkat dari 15 menjadi 65 µg/100 µl hemolim setelah 4 jam.
Menurut Murray, et al. (2003), bahwa Glukoneogenesis memenuhi kebutuhan tubuh akan glukosa pada saat karbohidrat tidak tersedia dalam jumlah yang cukup di dalam makanan. Pasokan yang terus menerus diperlukan sebagai sumber energi khususnya bagi sistem syaraf dan eritrosit, akan mengakibatkan kegagalan pada glukoneogenesis yang biasanya berakibat fatal.