• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. PENELITIAN BAGIAN KETIGA

1. Pengaruh Perlakuan terhadap Profil Biokimia Darah

Penelitian ini bertujuan untuk melihat keefektifan pemberian zat besi (Fe) yang difortifikasilan pada kecap dan saus cabe. Efektifitas pemberian Fe dari kecap dan saus cabe akan dibandingkan dengan pemberian Fe yang berasal dari mineral mix dalam ransum standar. Parameter yang yang digunakan dalam hal ini adalah kadar hemoglobin (Hb) serum darah tikus percobaan, didasarkan pada pendugaan fungsional

40 45 50 55 60 65 70 0 10 20 30 40 50 60

Lama penyimpanan (hari)

Kadar Fe (ppm)

secara langsung dari zat besi yang terabsorbsi. Hemoglobin merupakan bentuk komponen Fe terbesar dalam tubuh.

Zat besi dalam bahan pangan agar berfungsi bagi tubuh harus dapat diabsorbsi dengan baik dalam saluran pencernaan. Fortifikasi zat besi ke dalam bahan pangan harus memperhatikan hal tersebut. Zat besi dari makanan yang dapat diserap akan dibawa oleh plasma darah bersama- sama dengan zat besi dari simpanan dan dari pemecahan Hb ke bagian- bagian tubuh yang membutuhkan. Sebagian besar dari keseluruhan zat besi tersebut dimanfaatkan untuk pembentukan Hb, umumnya sebesar 20-25 mg/hari.

Hasil pengukuran kadar hemoglobin (Gambar 18) menunjukkan bahwa kelompok perlakuan yang mendapat asupan Fe dari mineral mix dalam ransum (normal) memiliki kadar hemoglobin rata-rata sebesar 12.1 mg/dl. Sedangkan kelompok perlakuan yang mendapat asupan Fe dari kecap dan saus cabe, masing- masing memiliki kadar Hb rata-rata sebesar 11.72 mg/dl dan 11.32 mg/dl.

Gambar 18 Kadar Hemoglobin (Hb) Tikus pada berbagai kelompok perlakuan

Dapat disimpulkan bahwa tikus dari ketiga kelompok perlakuan yang mendapatkan asupan Fe ternyata tidak menderita anemia. Berdasarkan nilai fisiologis tikus, tikus dinyatakan normal jika memilki kadar hemoglobin diantara 11-18 mg/dl (Malole dan Pramono, 1989). Sedangkan, tikus kelompok perlakuan yang tidak mendapat asupan Fe yaitu tikus kontrol (-) dan KIO3 dapat dikatakan menderita anemia, karena

9.68b 11.32a 11.72a 9.45b 12.1a 0 2 4 6 8 10 12 14

Normal Kontrol (-) Kecap Saus cabe KIO3

Perlakuan

hanya memiliki kadar Hb rata-rata sebesar 9.13 mg/dl dan 9.68 mg/dl. Anemia terjadi akibat kekurangan suplai zat besi.

Adapun hasil uji statistik menunjukkan bahwa perlakuan tanpa pemberian Fe dan pemberian Fe, baik dari ransum yang mengandung mineral mix maupun dari kecap dan saus cabe berpengaruh nyata terhadap kadar Hb (Lampiran 15). Kelompok perlakuan yang tidak mendapat asupan Fe (kontrol (-) dan KIO3) antar keduanya tidak berbeda nyata,

namun berbeda nyata dengan kelompok perlakuan yang mendapat asupan Fe dari mineral mix, serta berbeda nyata pula dengan kelompok perlakuan yang diberi Fe dari kecap maupun saus cabe. Sedangkan kelompok perlakuan yang diberi Fe dari kecap dan saus cabe ternyata juga tidak berbeda nyata dengan kelompok perlakuan yang mendapat asupan Fe dari mineral mix (Lampiran 16).

Sumber zat besi yang digunakan dalam mineral mix berbentuk ferro sulfat. Zat besi dalam bentuk ini telah diketahui memiliki ketersediaan yang sangat tinggi baik pada manusia maupun pada tikus. Hal ini disebabkan karena kelarutan ferro sulfat yang tinggi sehingga memudahkannya untuk diserap oleh tubuh. Dibandingkan dengan senyawa-senyawa yang mengandung besi lainnya, ferro sulfat mempunyai sifat mudah larut dalam air (Clydesdale, 1985).

Berdasarkan hasil penelitian ketersediaan zat besi yang difortifikasi, bentuk fortifikan zat besi pada kecap dan saus cabe yang diteliti ternyata memiliki ketersediaan biologis yang serupa dengan ferro sulfat. Fortifikan yang digunakan kemungkinan bisa berbentuk ferro sulfat itu sendiri ataupun bentuk senyawa besi yang lain, karena mengingat bahwa ferro sulfat memiliki beberapa kelemahan apabila akan digunakan sebagai fortifikan. Ferro sulfat mudah bereaksi dengan bahan pangan menghasilkan perubahan yang tidak diinginkan, diantaranya perubahan warna, bau dan rasa. Dengan alasan tersebut, terkadang beberapa industri pangan memilih alternatif untuk menggunakan senyawa besi lain yang lebih tidak reaktif walaupun ketersediaan biologisnya relatif lebih kecil dibandingkan ferro sulfat.

Penelitian yang dilakukan oleh Fidler et al. (2003) memberikan contoh bahwa fortifikasi produk condiment diantaranya kecap dengan menggunakan senyawa NaFeEDTA sangat menguntungkan. Selain karena senyawa ini cenderung tidak mengendap selama penyimpanan, ternyata juga senyawa ini memilki ketersediaaan yang tidak berbeda nyata dibandingkan dengan ferro sulfat.

b. Vitamin A Serum

Retinol merupakan salah satu bentuk vitamin A dalam serum atau plasma. Dalam keadaan normal, proporsi retinol dapat mencapai 90 %. Oleh karena itu, kadar vitamin A serum seringkali digambarkan sebagai kadar retinol serum yang sekaligus menggambarkan status vitamin A dalam tubuh seseorang.

Status vitamin A dapat dibagi menjadi empat kelompok, yaitu : 1) <10 µg/dl menunjukkan defisiensi; 2) 10 - 20 µg/dl me nunjukkan kadar pada tingkat marginal; 3) 20 - <30 µg/dl menunjukkan kadar cukup; dan 4) >30 µg/dl menunjukkan kadar yang baik (Underwood, 1990).

Pengukuran retinol serum seringkali juga digunakan di dalam menilai keberhasilan penelitian proyek fortifikasi. Fortifikasi yang berarti menambahkan zat gizi tertentu, dalam hal ini vitamin A ke dalam saus cabe dan kecap sehingga konsentrasi vitamin A-nya meningkat. Dengan meningkatnya konsentrasi vitamin A menyebabkan serum vitamin A meningkat dan vitamin A tersedia dalam jumlah yang cukup banyak untuk jaringan-jaringan tubuh yang membutuhkannya. Derajat keberhasilan fortifikasi dapat dilihat dari seberapa banyak serum vitamin A yang dapat dinaikkan.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian kecap dan saus cabe yang difortifikasi vitamin A terhadap status vitamin A tikus percobaan. Vitamin A yang dikonsumsi dari kecap dan saus cabe dalam hal ini dapat berfungsi sebagai tambahan asupan vitamin A dari yang sudah ada, yaitu yang berasal dari vitamin mix dalam ransum standar. Jadi, dalam hal ini semua tikus perlakuan mendapatkan asupan vitamin A yang

sama dari ransum standar. Hanya saja untuk perlakuan kecap dan saus cabe masing- masing mendapatkan tambahan intik vitamin A dari kecap dan saus cabe.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian tambahan asupan vitamin A dari kecap dan saus cabe tidak berpengaruh nyata terhadap kadar retinol serum (Lampiran 17). Gambar 19 menunjukkan hasil pengukuran kadar vitamin A serum. Meskipun secara kuantitatif kadar retinol serum kelompok perlakuan yang diberi saus cabe paling tinggi dibandingkan yang lain yaitu sebesar 36.10 µg/dl, namun sesungguhnya nilai tersebut tidak berbeda dengan kelompok perlakuan lainnya. Sedangkan kelompok perlakuan yang diberi kecap tidak menunjukkan peningkatan retinol serum, kadarnya hanya sebesar 29.54

µg/dl. Sedangkan kadar retinol serum untuk masing- masing kelompok yang hanya mendapatkan asupan vitamin A dari ransum yaitu kelompok perlakuan normal sebesar 33.16 µg/dl, kelompok perlakuan kontrol (-) sebesar 28.91 µg/dl dan kelompok perlakuan KIO3 sebesar 25.27 µg/dl.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kelompok perlakuan kontrol (-), kecap dan KIO3 memiliki kadar retinol serum pada tingkat yang cukup,

sedangkan kelompok perlakuan normal dan saus cabe dikategorikan baik.

Gambar 19 Kadar retinol serum pada berbagai kelompok perlakuan

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian kecap dan saus cabe tidak berpengaruh nyata terhadap kadar vitamin A serum, dalam

25.27a 36.1a 29.54a 28.91a 33.16a 0 10 20 30 40

Normal Kontrol (-) Kecap Saus cabe KIO3

Perlakuan

Kadar Retinol Serum

secara signifikan. Sebenarnya pemberian vitamin A saja dari ransum sudah mampu memberikan status vitamin A yang cukup (≥ 20 mg/dl). Dengan tercukupinya kadar retinol dalam serum berarti simpanan vitamin A di dalam hati cukup mampu untuk mengatur vitamin A yang disirkulasikan di dalam darah. Vitamin A dalam darah akan kurang dari normal, hanya apabila cadangan vitamin A di dalam hati sudah sangat menipis atau habis. Oleh karena itu, penambahan vitamin A yang diperoleh dari fortifikasi kemungkinan akan disimpan di dalam hati, sedangkan vitamin A di dalam darah akan tetap konstan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Husaini (1982) bahwa vitamin A yang difortifikasikan pada garam tidak menunjukkan kenaikan yang nyata pada anak dengan status vitamin A ≥ 20 mg/dl.

Tidak terjadinya peningkatan yang nyata pada serum vitamin A akibat fortifikasi diduga karena kadar vitamin A dalam produk belum cukup jumlahnya. Kadar vitamin A dalam saus cabe rata-rata sekitar 132.87 IU/g dan pada kecap rata-rata sekitar 51.58 IU/g. Adapun rata-rata konsumsi vitamin A dari saus cabe hanyalah sekitar 47.8 IU (14.3 RE) per hari, sedangkan untuk kecap hanyalah sekitar 18.6 IU (5.58 RE) per hari. Jumlah vitamin A yang dikonsumsi tersebut berdasarkan diet takaran saji sebesar 0.36 g/hari.

2. Pengaruh Perlakuan terhadap Jumlah Sel Neuron Otak Pada Induk

Dokumen terkait