• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Perputaran Modal kerja terhadap Profitabilitas

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 34-38)

Modal kerja adalah investasi perusahaan dalam bentuk aktiva lancar. Modal kerja ini sangat penting untuk melaksanakan kegiatan perusahaan.

Kegiatan-kegiatan yang dibiayai dengan modal kerja antara lain adalah pembelian bahan baku atau barang dagangan, dan hutang yang timbul dari pembelian secara kredit, pembayaran gaji karyawan dan biaya-biaya lain yang diharapkan dapat kembali melalui penjualan beserta laba yang dihasilkan. Uang yang diterima dari penjualan selanjutnya akan digunakan untuk membiayai kegiatan operasional berikutnya.

Siklus tersebut akan berlangsung secara terus menerus selama perusahaan menjalankan usahanya. Dengan kata lain modal kerja tersebut diharapkan dapat memperoleh laba.

Berapa kali modal kerja berputar dalam satu periode (umumnya satu tahun) disebut perputaran modal kerja. Menurut Bambang Riyanto (1995;57) dalam Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, tingkat perputaran modal kerja dalam hal ini aktiva lancar dapat dihitung dengan rumus :

Net sales Working capital turnover =

Average Working Capital

Tinggi rendahnya perputaran modal kerja akan dipengaruhi oleh tingkat perputaran masing-masing komponen modal kerja. Tingkat perputaran modal kerja pada perusahaan industri terutama dipengaruhi oleh tingkat perputaran kas, perputaran piutang dan perputaran persediaan.

Net Sales

Cash Turnover = Average Cash

Net Sales Account Receivable Turnover =

Average Receivable Turnover

Cost Of Goods Sold Inventory Turnover =

Average Inventory

Tinggi rendahnya tingkat perputaran modal kerja akan berdampak langsung terhadap besar kecilnya dana yang harus diinvestasikan dalam bentuk modal kerja. Makin rendah perputaran modal kerja, berarti makin lambat perputarannya, makin lama waktu terkaitnya dana pada modal kerja. Makin besar kebutuhan modal kerja dan semakin besar dana yang harus diinvestasikan dalam modal kerja. Biaya bunga yang digunakan untuk membiayai modal kerja akan

semakin besar seiring dengan kenaikan kebutuhan modal kerja. Kenaikan biaya tersebut dapat mengurangi laba, dan profitabilitas perusahaan dapat menurun.

Makin tinggi perputaran modal kerja, berarti makin cepat perputarannya, makin pendek waktu terkaitnya dana pada modal kerja , makin kecil kebutuhan modal kerja dan semakin kecil dana yang harus diinvestasikan dalam modal kerja. Dengan demikian dana yang tersedia dapat digunakan perusahaan untuk investasi lain yang lebih menguntungkan, misalnya untuk menambah aktiva tetap dalam rangka memperluas usaha, hal tersebut dapat meningkatkan laba dan profitabilitas perusahaan.

Jadi ditinjau dari sisi profitabilitas, semakin tinggi perputaran modal kerja adalah semakin baik, hal ini dikemukakan Nelson & Miller (2000;690) :

“ The working capital is the lifeblood of business enterprise and must be circulating in the business tobe profitable. Generally the faster the operating cycle occurs the better, because it indicates that working capital is being well managed. If company can shorten the cycle per year, while holding profit margins and expense constant. It will increase the profitability. For most merchandising companies the control and movement of working capital are the keys to profitability.”

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa apabila manajemen dapat memperpendek siklus operasinya, dengan kata lain meningkatkan perputaran modal kerja dan apabila fakta-fakta lain tetap, misalnya profit margin dan biaya-biaya konstan, maka profitabilitas perusahaan akan meningkat. Namun apabila modal bertambah, sedangkan tingkat perputaran tidak meningkat atau bahkan berkurang, maka profitnya akan berkurang. Hal ini menunjukkan hubungan yang berlawanan antara modal kerja dengan tingkat profitabilitas, sedangkan perputaran modal kerja dengan tingkat profitabilitas hubungannya searah.

Menurut Indriyo Gitosudarmo dan Basri (1999;37), ada 2 pendapat tentang pengaruh dari penyediaan modal kerja terhadap profitabilitas , yaitu :

1. Mengatakan bahwa modal kerja yang berlebihan mengurangi resiko tetapi juga akan mengurangi laba atau hasil. Pendapat ini didasarkan pada pengertian bahwa dengan berlebihan modal kerja akan memerlukan biaya

untuk penyimpanan / perawatan. Dengan demikian akan menurunkan profitabilitas.

2. Mengatakan bahwa modal kerja yang lebih dari cukup akan mengurangi resiko dan kenaikan laba/hasil. Pendapat ini didasarkan pada pandangan bahwa dengan tersedianya modal kerja maka kegiatan akan diarahkan pencarian yang lebih tinggi dengan ekspansi/perluasan. Dengan demikian akan meningkatkan profitabilitas.

Bila ditelaah secara mendalam ternyata modal kerja mempunyai peranan penting dalam pembentukan profitabilitas. Pada dasarnya modal kerja sangat menentukan besarnya tingkat profitabilitas. Perputaran modal kerja akan menciptakan penjualan, dari hasil penjualan ini akan diperoleh laba dan dari laba ini dapat diperoleh efisien perusahaan melalui perhitungan besarnya tingkat profitabilitas. Modal kerja suatu perusahaan selalu dalam keadaan berputar selama perusahaan bersangkutan dalam keadaan beroperasi. Periode perputaran modal kerja dimulai saat kas diinvestasikan dalam komponen modal kerja sampai kembali lagi menjadi kas.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam suatu perusahaan dimana manajer keuangan dituntut harus dapat memprediksi dan menentukan modal kerja yang optimal dalam membiayai kegiatan operasi perusahaannya. Dimana semakin efisien penggunaan modal kerja dan tentunya investasi pada modal kerja semakin kecil, sehingga profitabilitas yang diharapkan juga akan ikut meningkat. Modal kerja yang cukup akan membantu perusahaan dalam memperoleh keuntungan. Tanpa adanya keuntungan akan sangat sulit bagi perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, diperlukan metode penentuan kebutuhan modal kerja agar tercapai tingkat profitabilitas yang diharapkan.

Selain menurut pendapat Martono, SU dan D. Agus Harjito (2002;76) yang telah dijelaskan di atas ada salah satu konsep yang mendasari

manajemen modal keja yang sehat terdapat dua keputusan yang menyangkut persoalan dasar perusahaan, yaitu :

1. Tingkat investasi yang optimal dalam aktiva lancar.

2. Perpaduan yang sesuai antara pendanaan jangka pendek dan pendanaan jangka panjang yang digunakan untuk mendukung investasi dalam aktiva lancar. Keputusan-keputusan tersebut mempengaruhi hasil yang diharapkan yaitu profitabilitas dan resiko yang dihadapi.

Menurut Ridwan S.Sundjaja dan Inge Barlian (2002;112), dalam bukunya Manajemen Keuangan yang mengemukakan bahwa :

“aktiva lancar dalam jumlah besar akibatnya mengurangi laba”. Menurut Martono, SU dan D. Agus Harjito (2002;76):

“mengurangi tingkat aktiva lancar, asalkan masih mampu memenuhi penjualan akan mengarahkan pada peningkatan return on asset”. Berdasarkan keterangan di atas perlu menentukan investasi yang optimal pada akhir lancar atau modal kerja agar profitabilitas meningkat.

Jadi berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat pengaruh perputaran modal kerja terhadap profitabilitas, ini terbukti dengan banyaknya teori-teori yang telah menjelaskan mengenai hal tersebut di atas .

Gambar 2.5 Pengaruh Perputaran Modal Kerja terhadap Profitabilitas Modal kerja Profitabilitas

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 34-38)

Dokumen terkait