BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3. Analisis Data dan Pengujian Hipotesis
4.3.4. Pembahasan
4.3.4.1. Pengaruh Pertumbuhan Aktiva Terhadap Struktur Modal
69
memperbesar kebutuhan dananya dengan hutang, karena dengan pergerakan aktiva yang lambat akan mengakibatkan pemenuhan kebutuhan pendanaan perusahaan yang berasal dari hutang akan semakin susah diperoleh, Jika komposisi hutang yang dimiliki oleh perusahaan semakin besar maka dapat terdeteksi pertumbuhan aktiva yang dimiliki oleh perusahaan akan semakin tinggi pula, dalam arti bahwa semakin besar hutang yang dimiliki oleh perusahaan maka pertumbuhan aktiva yang dimiliki oleh perusahaan akan semakin tinggi, Jadi dapat disimpulkan antara pertumbuhan aktiva dengan struktur modal menunjukkan hubungan yang positif.
4.3.4.2. Pengaruh resiko bisnis terhadap struktur modal
Dari faktor resiko bisnis mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel struktur modal, sehingga resiko bisnis dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan hutang yang akan diambil, Resiko yang makin tinggi akibat membesarnya hutang cenderung menurunkan harga saham, tetapi meningkatnya pengembalian yang diharapkan akan menaikkan harga saham tersebut. Menurut Weston dan Brigham (1994:150). Sehingga penelitian ini tidak sesuai dengan teori Lukas (2003:273) yang menyatakan bahwa, perusahaan yang memiliki resiko bisnis tinggi cenderung kurang dapat menggunakan hutang yang besar (karena kreditor akan meminta biaya hutang yang tinggi), Sehingga ini tidak baik bagi kelangsungan hidup perusahaan dan ini pula akan berakibat pada penurunan komposisi kombinasi penggunaan jumlah pendanaan yang dibutuhkan oleh
Lang (1988) yang mengemukakan jika pendanaan diperoleh melalui hutang berarti rasio hutang terhadap modal akan semakin meningkat sehingga akhirnya akan meningkatkan resiko bisnis yaitu berupa kemungkinan timbulnya kerugian atau bahaya itu dapat diperkirakan sebelumnya, dan juga menurut Syukriy (2001) mengemukakan bahwa semakin besar resiko bisnis, maka perusahaan akan memiliki rasio hutang yang semakin besar pula. Santika dan Ratnawati (2002) juga sependapat dengan Syukriy (2001) seperti yang telah dijelaskan dalam Trade off theory bahwa semakin banyak hutang yang dimiliki perusahaan maka semakin tinggi pula beban atau resiko bisnis yang akan ditanggung perusahaan tsb. Jadi dapat disimpulkan dalam penelitian ini bahwa, komposisi penggunaan hutang yang berlebih yang dimiliki oleh perusahaan akan berdampak positif terhadap keputusan pendanaan ini akan mengakibatkan resiko bisnis menjadi semakin tinggi dan akan berakibat pada resiko kebangkrutan, dalam arti bahwa perusahaan yang memiliki komposisi hutang yang semakin besar maka perusahaan memiliki resiko bisnis atau besarnya beban perusahaan terhadap pihak luar yang akan ditanggung oleh perusahaan akan semakin tinggi, karena tingginya tingkat hutang yang digunakan oleh perusahaan dalam keputusan pendanaan maka akan mengakibatkan tingginya pula tingkat resiko bisnis yang dihadapi oleh perusahaan. Jadi dapat disimpulkan dalam penelitian ini antara resiko bisnis dengan struktur modal menunjukkan hubungan yang positif.
71
4.3.4.3. Pengaruh struktur aktiva terhadap struktrur modal
Dari faktor struktur aktiva mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap struktur modal, sehingga struktur aktiva dapat dijadikan bahan pertimbangan guna mengambil hutang. Sehingga penelitian ini sesuai dengan teori Krishnan (1996), Semakin besar struktur aktiva perusahaan maka akan semakin besar pula hutang yang akan digunakan untuk mendukung jalannya operasional perusahaan. Dalam penelitian Moh’d larry dan james (1998), menunjukkan bahwa struktur aktiva mempunyai pengaruh terhadap keputusan struktur modal yang dilakukan oleh manajer, dan dalam Agustina (2001:32) struktur aktiva juga mempengaruhi hutang hal ini di karenakan dalam memberikan pinjaman kreditor atau investor lebih memperhatikan struktur aktiva suatu perusahaan yang dapat di jadikan jaminan bagi perusahaan dalam mendapatkan pinjaman, Jadi dapat disimpulkan dalam penelitian ini bahwa, perusahaan yang sebagian besar modalnya terdiri dari aktiva tetap (fixed assets) akan mengutamakan pemenuhan kebutuhan modal daripada modal yang permanen, yaitu berupa modal sendiri sedangkan modal asing sifatnya adalah hanya sebagai pelengkap. Sehingga perusahaan yang memiliki struktur aktiva yang tinggi dalam menjalankan kegiatan operasionalnya cenderung lebih menyukai pendanaan internal dalam bentuk modal sendiri, dan dapat di simpulkan pendanaan external sifatnya hanya sebagai pelengkap dalam arti bahwa semakin besar hutang yang dimiliki oleh perusahaan maka struktur aktiva
antara struktur aktiva dengan struktur modal menunjukkan hubungan yang negatife.
4.3.4.4. Pengaruh struktur kepemilikan terhadap struktur modal
Dari faktor struktur kepemilikan mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap struktur modal, sehingga struktur kepemilikan tidak dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil utang. Melalui pengendalian eksternal (external control) atau mekanisme motivasional. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penelitian ini sesuai dengan penelitian saidi (2004) dalam Titik Indrawati dan Suhendro (2006) mengemukakan bahwa semakin banyak manajer (dewan komisaris atau direksi perusahaan) yang mempunyai saham dalam perusahaan, maka semakin tinggi hutang perusahaan. Dan struktur kepemilikan akan mengurangi Agency problem (perbedaan tujuan dan kepentingan antara pemilik dengan manajer ini menjadi dalam menentukan strategi bisnis, stretegi operasional sampai kebijakan pendanaan perusahaan), apabila pihak manajemen perusahaan yang memiliki pemegang saham mayoritas maka agency problem akan rendah. Biaya agensi yang tinggi adalah kewajiban yang harus di keluarkan bagi investor institusional dalam menyelesaikan agency problem tsb. Hal ini dilakukan dan di tujukan untuk menyelaraskan kepentingan manajemen dengan pemegang saham dengan meningkatkan pennggunaan pendanaan melalui hutang (Jensen dan Meckling 1976).
73
Jadi dapat disimpulkan dalam penelitian ini bahwa, semakin besar komposisi kepemilikan saham yang dimiliki oleh pihak manajer perusahaan tidak akan berdampak pada keputusan pendanaan yang akan mengakibatkan rasio hutang yang semakin tinggi ataupun semakin rendah, dalam arti bahwa besar kecilnya hutang yang dimiliki oleh perusahaan maka tidak akan dipengaruhi oleh struktur kepemilikan suatu perusahaan tetapi dipengaruhi oleh RUPS sebagai pemegang kekuasaan penuh dalam hal keputusan keuangan yaitu berupa kebijakan keputusan pendanaan perusahaan. sehingga pihak manajemen tidak mempertimbangkan variabel kepemilikan saham tersebut dalam mengambil keputusan pendanaan perusahaan.
74