• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Statistik Deskriptif

5.5. Pembahasan Hasil Penelitian

5.5.3. Pengaruh Pertumbuhan Penjualan terhadap Profitabilitas

Hasil pengujian hipotesis secara parsial (uji t) menunjukan Pertumbuhan penjualan dengan proksi penjualant – penjualant-1/ penjualant-1 berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas. Pertumbuhan penjualan dapat menunjukan sejauh mana perusahaan dapat meningkatkan penjualannya dibandingkan dengan total penjualan secara keseluruhan. Chotimah dan Susilowibowo (2014) mengatakan pertumbuhan penjualan adalah merupakan parameter utama yang penting dari hasil penerimaan pasar atas produk/jasa yang dipasarkan suatu perusahaan, dimana pendapatan yang dihasilkan dari penjualan akan dapat digunakan untuk menghitung dan menilai tingkat pertumbuhan

penjualan sejauhmnana keberhasilan persuahaan tercapai. Perusahaan yang mendapatkan pertumbuhan penjualan nilai positif berarti perusahaan menunjukan kemampuan perusahaan dalam memasarkan hasil produksinya. Pada penelitian ini nilai Pertumbuhan penjualan tertinggi diperoleh oleh PT. Surya Toto Indonesia Tbk (TOTO) yang bergerak pada sektor keramik, porselen dan kaca yaitu sebesar 53,39%, dapat dikatakan perusahaan ini berhasil memasarkan hasil produksinya secara maksimal.

Dapat dikatakan dengan meningkatnya pertumbuhan penjualan maka pertumbuhan profitabilitas sangat erat meningkat pula. Hal ini dapat dikarenakan untuk menghasilkan laba yang tinggi maka aktivitas penjualan yang menjadi aktivitas utama dari perusahaan harus tinggi juga, sehingga penghasilan yang didapatkan dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan.

Hasil ini berbeda dengan Putra dan Badjra (2015), menyatakan variabel pertumbuhan penjualan terhadap profitabilitas berpengaruh negatif signifikan, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Meidiyustiani (2016), Ibrahim dan Widyarti (2015) variabel pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas.

5.5.4. Pengaruh Perputaran Modal Kerja terhadap profitabilitas

Hasil pengujian hipotesis secara parsial (uji t) menunjukan Perputaran modal kerja dengan proksi penjualan/(aset lancar - hutang lancar) berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap profitabilitas. Agar perusahaan dapat menjalankan aktivitas operasional, perusahaan membutuhkan modal kerja. Modal kerja dapat pula dalam bentuk asset jangka pendek seperti kas, bank, surat

berharga, piutang, persediaan dan aktiva lancar lainnya. Periode perputaran modal kerja dimulai pada saat kas diinvestasikan dalam komponen-komponen modal kerja sampai pada saat kembali lagi menjadi kas. Modal kerja selalu dalam keadaan operasi atau berputar dalam perusahaan selama perusahaan yang bersangkutan dalam keadaan usaha. Semakin pendek periode tersebut berarti semakin cepat perputaran modal kerja dan efisiensi penggunaan modal kerja perusahaan tinggi. Sebaliknya semakin panjang periode perputaran modal kerja berarti semakin lambat perputaran modal kerja dan efisiensi penggunaan modal kerja perusahaan rendah.

Pada penelitian ini Perputaran modal terendah diperoleh oleh PT. Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) tahun 2010 yaitu sebesar -484,8070, maka perusahaan ini memiliki perputaran modal kerja yang tinggi dan semakin efisien penggunaan modal kerjanya. Nilai Perputaran modal kerja tertinggi diperoleh PT.

Budi Strarch and Sweetener Tbk (BUDI) tahun 2014 yaitu sebesar 1893.953, maka perusahaan ini memiliki perputaran modal kerja yang lama dan kurang efisien penggunaan modal kerjanya.

Hal ini berbeda dengan penelitian Meidiyustiani (2016), Ambarwati, Yuniarta, dkk (2015) menyatakan hasil penelitian yang diperoleh bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas, sedangkan penelitian oleh Putra dan Badjra (2015), Ratnasari dan Budiyanto (2016), hasil penelitiannya menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas.

5.5.5. Pengaruh Arus kas operasi, Leverage, Pertumbuhan penjualan dan Perputaran modal kerja terhadap Profitabilitas dengan Ukuran Perusahaan sebagai variabel moderating.

Untuk pengaruh variabel ukuran perusahaan dengan proksi ln (Total aset) sebagai variabel moderasi secara parsial, hal ini dapat dilihat dari uji t variabel interaksi antara ukuran perusahaan dan arus kas operasi, ukuran perusahaan dan leverage, ukuran perusahaan dan pertumbuhan penjualan, ukuran perusahaan dan perputaran modal kerja.

Dari hasil uji t diperoleh ukuran perusahaan tidak mampu dalam memodersi pengaruh arus kas operasi, leverage, dan perputaran modal kerja terhadap profitabilitas sehingga hipotesis. Sedangkan dari hasil uji t juga menunjukan ukuran perusahaan dapat memoderasi pengaruh pertumbuhan penjualan terhadap Profitabilitas.

Hasil penelitian ini mengidentifikasi bahwa besar kecilnya perusahaan hanya dapat memoderasi pertumbuhan penjualan, di mana dengan ukuran perusahaan semakin besar atau semakin banyak cabang atau semakin banyak cakupan wilayah daerah perusahaan akan mendapatkan peningkatan yang baik pula.

Sedangkan ukuran perusahaan tidak mampu memoderasi arus kas operasi, leverage dan perputaran modal kerja terhadap profitabilitas. Rasio leverage merupakan rasio penting pendanaan bagi perusahaan dengan menunjukan presentase aset perusahaan yang di dukung dengan pendanaan utang. Semakin besar ukuran perusahaan maka semakin besar pula aset yang dimiliki suatu

perusahaan hal ini menunjukan bahwa sebahagian besar perusahaan, namun perusahaan yang memiliki aset yang tinggi mugkin saja pendanaannya bukan hanya dari aset lancar namun dari hutang sehingga ukuran perusahaan tidak mampu memoderasinya walaupun profitabilitasnya sudah meningkat namun harus menutupi hutang yang ada. Arus kas operasi semakin tinggi umumnya menunjukan bahwa penerimaan kas atau setara kas meningkat sehingga dana kas perusahaan yang tersedia untuk digunakan aktivitas perusahaan dapat terpenuhi dan akan meningkatkan keuntungan perusahaan. Namun, ada beberapa hal yang harus di tinjau sumber pendanaan perusahaan mungkin saja dari pihak ke 3, sehingga walaupun pendapatan yang di peroleh tinggi namun perusahaan harus membayar kembali kepada pihak ke 3.

Ukuran perusahaan semakin besar mengakibatkan operasional perusahaan juga meningkat sehingga perputaran modal kerja juga semangkin kompleks atau kurang efisien sehingga keutungan yang didapatkan akan menurun pula. Oleh karena itu ukuran perusahaan tidak mampu memoderasi perputaran modal kerja terhadap profitabilitas.

Penelitian yang dilakukan oleh Oktapiani dan Wiksuana (2018) menyatakan ukuran perusahaan mampu memoderasi pengaruh struktur modal terhadap Profitabilitas, yang mana pengukurannya mengunakan rasio ROA. Hasil penelitian untuk variabel ukuran perusahaan yang dilakukan oleh Meidiyustiani (2016), Ambarwati, Yuniarta, dkk (2015) menyatakan hasil penelitian yang diperoleh bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas, sedangkan penelitian oleh Putra dan Badjra (2015), Ratnasari dan

Budiyanto (2016), hasil penelitiannya menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait