dapat menurunkan fungsi T Helper 1 (Th1) atau sekresi sitokin inflamasi dan meningkatkan respon imun T Helper 2 (Th2). Penggunaaan estrogen, progesteron atau kombinasi keduanya pada hormon kontrasepsi telah dibuktikan berhubungan dengan peningkatan potensi masuknya infeksi virus. Didapatkan juga hubungan yang signifikan antara penggunaan kontrasepsi hormonal dengan masuknya infeksi HIV
pada wanita. Selain itu, kehamilan juga berhubungan dengan peningkatan dua kali lipat risiko masuknya infeksi HIV pada pekerja seksual. Data tersebut menunjukkan bahwa kontrasepsi hormonal dapat mempengaruhi respon imun sistemik dan atau genitalia (Laura et al., 2007).
Informasi mengenai bagaimana mekanisme estrogen dan progesteron dalam memediasi regulasi sistem imun masih sangat terbatas. Respon terhadap estrogen pada tikus dan manusia tampaknya melibatkan reseptor α estrogen, yang diekspresikan pada banyak sel termasuk sel monosit dan sel T. Pada monosit, terapi estrogen exvivo dapat meningkatkan ekspresi reseptor sel apoptosis Fas (CD95) dan menurunkan marker aktivasi. Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa progesteron dapat menghambat cell-mediated immunity (CMI), namun bagaimana mekanismenya dan apakah sel targetnya masih belum diketahui. Estrogen dan progesteron memiliki struktur yang sama dengan kortikosteroid yang dapat meningkatkan efek immunosupresive (Laura et al., 2007).
Pada penelitian efek estrogen dan progesteron pada penderita HIV , data menunjukkan bahwa estrogen dan progesteron menurunkan produksi IL-6, yang baru baru ini terbukti berperan dalam peralihan imunitas innate menjadi imunitas adaptive.
Selain itu, progesteron juga menghambat IL-2, interferon γ, IL-12, IL-1β, sedangkan efek estrogen terhadap IL-2 dan IFN-γ terbatas. Maka dapat disimpulkan bahwa efek immunosupresive dari progesteron secara klinis cukup relevan dibandingkan dengan estrogen (Laura et al., 2007)
Efek inhibisi dari estrogen dan progesteron terhadap produksi sitokin inflamasi lebih menonjol pada penderita yang terinfeksi HIV dibandingkan dengan individu yang tidak terinfeksi. Pada penelitian eksperimental Peripheral Blood Mononuclear Cell (PBMC) murni menunjukkan bahwa progesteron dan
dexamethason memiliki efek langsung pada fungsi sel CD4+, CD8+, dan CD14+.
Efek progesteron pada sel T CD8+ cukup menarik, sebab pada penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sel tersebut berperan dalam efek tolerogenik progesteron selama kehamilan. Sedangkan efek estrogen terhadap perubahan produksi sel T CD4+ dan CD8+ masih perlu diteliti lebih lanjut. (Laura et al., 2007)
Keberhasilan kehamilan melibatkan perubahan mekanisme toleransi central (tymus) dan perifer. Infeksi HIV ditandai oleh penurunan sel T CD4+, aktivasi imun kronis dan perubahan limfosit. Pada penelitian yang membandingkan kadar limfosit, output tymus, dan profil sitokin saat hamil dan postpartum antara wanita yang terinfeksi HIV dengan yang tidak terinfeksi, didapatkan peningkatan yang signifikan pada sel T regulatory CD4+, CD25+, CD127lowFOXP3+ yang menunjukkan adanya perubahan toleransi perifer saat trimester kedua namun hanya pada wanita yang tidak terinfeksi. Sedangkan pada wanita yang terinfeksi HIV, memiliki CD4+ yang lebih rendah, output tymus dan sitokin Th2 yang lebih rendah serta aktivasi imun yang menurun. Dan pada saat postpartum didapatkan peningkatan CD4+ dan CD8+ yang signifikan baik pada kelompok wanita terinfeksi HIV maupun yang tidak terinfeksi HIV (Kolte et al, 2011)
Pada penelitian yang dilakukan oleh Neratzoula et al tentang bagaimana efek progesteron pada sekresi kemokin yang diaktivasi oleh limfosit T pada wanita hamil terinfeksi HIV, didapatkan bahwa progesteron secara signifikan dapat menekan proliferasi sel CD8+ sehingga dapat menghambat sekresi kemokin oleh sel CD8+, akan tetapi kurang berpengaruh secara signifikan pada proliferasi sel T CD4+
sehingga tidak ada efek pada sekresi kemokin oleh CD4+. Telah banyak diketahui bahwa hormon adrenal steroid (glycocorticosteroid) dapat memicu infeksi HIV-1 lewat aktivasi respon elemen steroid pada area terminal panjang HIV berulang. Pada penelitian terbaru didapatkan bukti bahwa hormon steroid lain seperti estrogen dan progesteron juga dapat memodulasi infeksi HIV invitro, namun, interaksi antara sistem imun dan endokrin masih cukup kompleks dan terbatas untuk dimengerti pada level molekuler, dan peran hormon hormon tersebut pada infeksi HIV juga masih belum dapat dimengerti. Namun pada penelitian terbaru dengan menggunakan sistem invitro menunjukkan bahwa progesteron mempengaruhi mekanisme infeksi HIV lewat efek dari sistem reseptor kemokin kemokin. Progesteron dalam kadar tertentu dapat memberikan efek inhibisi terhadap ekspresi protein CCR5 pada sel mononuclear di darah tepi yang diaktivasi oleh virus. Efek inhibisi tersebut hanya bisa timbul jika didapatkan progesteron dalam kadar tertentu sebelum sel MN teraktivasi oleh virus, jika sudah teraktivasi maka progesteron dalam kadar tertentu tidak akan merubah ekspresi CCR5. Sebaliknya, ekspresi protein CXCR4 dapat teregulasi cepat dan dalam jumlah besar pada sel MN yang tidak teraktivasi oleh virus atau dengan kata lain progesteron memiliki efek regulator yang positif terhadap
kandungan CXCR4 di dalam sel MN di darah tepi. Progesteron dapat menghambat IL-2 yang menginduksi upregulasi protein CCR5 dan CXCR4 pada sel T CD4+ dan CD8+. Efek penekanan oleh progesteron tersebut pada ekspresi CCR5 dan CXCR4 hanya dilihat secara eksklusif pada sel T yang teraktivasi dan bukan pada sel T atau makrofag yang ada dalam kondisi dorman. Hal tersebut menandakan bahwa hormon dapat mengganggu kejadian awal aktivasi seluler (Edith et al., 2010; Neratzolula et al., 1999)
Efek progesteron pada ekspresi protein reseptor kemokin dapat melibatkan migrasi limfosit. Kemokin dapat secara langsung mengarahkan pergerakan leukosit, perkembangan, homeostasis dan inflamasi lewat interaksi reseptor-reseptornya.
Kemokin secara aktif diproduksi pada area terjadinya proses inflamasi, yang kemudian menarik sel T dan monosit sehingga menyebabkan berkembangnya kondisi inflamasi akut dan kronis. Penurunan ekspresi reseptor kemokin dapat menyebabkan perubahan pola migrasi sel dan sekresi sitokin serta mediator imun dan inflamasi (Neratzolula et al., 1999)
Kadar progesteron yang tinggi seperti dalam kehamilan akan menyebabkan penurunan konsentrasi RANTES, MIP-1α dan MIP-1β dalam supernatant dari kultur limfosit CD8+, akan tetapi tidak memberikan pengaruh pada konsentrasi kemokin-kemokin tersebut di kultur limfosit CD4+. Data penelitian yang sama menunjukkan bahwa progesteron dapat menghambat penarikan dan proliferasi limfosit CD8+ yang teraktivasi yang dimediasi oleh kemokin, sehingga dapat melemahkan fungsi pertahanan antimikroba di mukosa. Di sisi lain, dengan menurunkan sekresi kemokin
lewat aktivasi sel T CD8+ pada lokasi infeksi, progesteron dalam kadar tinggi dapat menurunkan jumlah sel CD4+ yang ditarik oleh kemokin ke epithel mukosa, sehingga dapat menurunkan sel host HIV-1 pada lokasi transmisi (Neratzolula et al, 1999)